Beranda
|
Selasa, 07 Pebruari 2012 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
Delegasi Wartawan Iran Kunjungi PWI
Senin, 11 Mei 2009

Sample Image  Sample Image  Sample Image

 

Jakarta (PWI News) - Delegasi wartawan Republik Islam Iran yang didampingi Wakil Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohannad Kh. H. Azad, berkunjung ke Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang diterima langsung oleh Ketua PWI Pusat, H. Margiono, bersama Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, H. Tarman Azzam.

 

Mohammad Azad pada kesempatan itu mengemukakan bahwa Iran dan Indonesia memiliki hubungan sejarah yang panjang, terutama di sisi sosial dan kebudayaan. "Ada sekira 400 kata-kata dalam bahasa Indonesia merupakan kata asli dari Persia atau bahasa Iran," ujarnya.

 

Ia mengemukakan pula, sejarah kedua negara mencatat bahwa banyak kerajaan di Nusantara pada tempo dulu memiliki penasehat dari Persia. "Bahkan, salah seorang ulama dan sastrawan besar Melayu yang bernama Hamzah Fansuri tercatat mampu berbahasa Persia," ujar Azad yang mahir berbahasa Indonesia.

 

Sementara itu, Morteza Hakimi dari surat kabar harian Abrar mengemukakan, pers di Iran pasca-revolusi Islam di negerinya memiliki keterbukaan yang mengutamakan keseimbangan keberpihakan kepada wartawan maupun publiknya. "Kami memiliki mahkamah atau pengadilan khusus kasus pers. Wartawan yang diajukan ke pengadilan khusus pers dapat pula melakukan banding dan kasasi sesuai undang-undang yang berlaku," ujarnya.

 

Ia mengemukakan, pengadilan khusus kasus pers semacam itu dapat memicu wartawan bekerja secara profesional, dan masyarakat maupun pejabat negara, serta kalangan swasta juga merasa terlindungi secara hukum. "Sejauh ini jumlah wartawan yang dijatuhi hukuman di pengadilan ini jumlahnya kurang dari jumlah jarri jemari di kedua tangan," katanya sambil menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya.

 

Walaupun demikian, wartawan Iran dapat dikatakan sangat sensitif mempublikasikan berita menyangkut kebijakan pemerintahnya lantaran mereka memahami bahwa Iran adalah negara yang berada di bawah ancaman dan target politik dari negara tertentu, terutama menyangkut pengayaan nuklirnya.

 

Delegasi wartawan Iran yang beranggotakan tujuh orang itu sempat berdiskusi aktif dengan penggurus PWI Pusat dan sejumlah wartawan media massa nasional, antara lain menyangkut masalah kesenjangan ekonomi, kebebasan pers dan upaya meningkatkan kerja sama kedua negara.

 

"Pertemuan semacam ini tentunya sangat bermanfaat bagi wartawan maupun bangsa di kedua negara, karena wartawan termasuk duta bangsa. Kita harus meneruskan, bahkan meningkatkan kerjasama ini," demikian pendapat Ketua PWI Pusat, Margiono. (*)