|
TUBAN-( Radar Bojonegoro, 27 Oktober 2008 ),Wartawan legendaris Tuban Hasyim Afwan, 58, kemarin (26/10) sekitar pukul 12.15 tutup usia di RSUD dr R. Koesma Tuban. Sebelum dilarikan ke rumah sakit, mantan wartawan Memorandum tersebut terjatuh dan sempat tak sadarkan diri saat mengikuti acara halal bi halal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di gedung PWRI Jalan Pramuka. Diperkirakan, pingsannya Hasyim tersebut akibat penyakit jantung yang dideritanya kambuh.
Hasyim adalah wartawan legendaris. Dia memulai karir di dunia jurnalistik pada Mingguan Mahasiwa (MM) yang kemudian beralih nama menjadi Memorandum sejak 1970-an. Setelah Memorandum diakuisisi Jawa Pos sekitar tiga tahun lalu, pria asal Desa Blimbing, Kecamatan Paciran ini pensiun. Meski telah pensiun, Hasyim tetap berkarya jurnalistik di majalah Akbar. Jabatan terakhir di majalah milik Pemkab Tuban ini adalah staf redaksi. Di hari tua, wartawan yang akrab disapa Abah Hasyim ini banyak menulis tentang keagamaan dan berkiprah di HTI. Kegiatan lain adalah aktif sebagai kotib dan imam masjid.
Abdul Barry, redaksi Akbar menyatakan, tulisan terakhir Hasyim adalah tentang Haji Mabrur. Tulisan tersebut berisi pandangannya tentang haji yang sesuai tuntunan kaidah dan syariah Islam. ''Dia adalah teman sekaligus guru kami. Kami merasa kehilangan,'' kata dia.
Teman jurnalis lain yang merasa kehilangannya adalah Suprayitno, wartawan Bhirawa. Dia mengaku memiliki sejumlah kenangan pahit dan tak terlupakan saat liputan berita dengan Hasyim. Sosok Hasyim menurutnya adalah wartawan tangguh dan tak pantang menyerah.
Sementara itu, Son Haji Zainudin mantan wartawan Surabaya Post menyatakan, Hasyim adalah sosok wartawan yang konsisten mengabdi pada sebuah media massa. Sepengetahuannya, sejak menjadi wartawan hingga pensiun Hasyim tetap bertahan di Memorandum. Keteladanan Hasyim lainnya, tambah Son Haji, adalah kemurahan hatinya
menularkan pengetahuan dan pengalaman jurnalistiknya kepada wartawan junior.
Wartawan koran ini yang beberapa kali liputan bersama dengan Hasyim, terkesan dengan semangatnya. Di usianya yang sudah udzur, Hasyim tetap meliput tugas-tugas berat jurnalistik. Saat banjir di Widang awal 2008 lalu, Hasyim yang saat itu sudah mengidap jatung tetap energik menerjang luapan bah. Jenazah Hasyim dimakamkan di kampung halamannya Desa Blimbing Paciran, kemarin sore. Selamat jalan Abah Hasyim. Karyamu tetap kami kenal.(ds) |