|

Jakarta (PWI News) - Prof. Jeffrey Winters PhD, pengamat masalah Indonesia, menilai bahwa utang yang masih ditanggung Republik Indonesia (RI) sangat mengurangi kedaulatan bangsa maupun negara, dan sayangnya sejauh ini belum memperlihatkan penanganan yang tepat. "Indonesia selama 40 tahun terakhir ini Indonesia ibarat pasien yang sakit demam hingga 41 derajat celcius, namun hanya diobati dengan plester luka. Apa perlu 40 tahun lagi untuk membuktikan bahwa pasien yang bernama Indonesia ini tetap sakit dan sulit berdaulat sepenuhnya?," kataWinters dalam dialog interaktif Suara Demokrasi di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Jakarta, Kamis.
Namun demikian, Winters berpendapat, sangat tidak tepat kalau berbagai persoalan di Indonesia harus dicari siapa yang salah. "Hal yang paling penting adalah mencari jalan keluarnya secara bersama-sama," ujarnya. Guru besar Yale University di Amerika Serikat (AS) itu mengemukakan, Indonesia dengan ideologi Pancasila-nya adalah contoh baik bagi masyarakat duia untuk membuktikan bahwa keberagaman suku bangsa dan agama dapat hidup secara berdampingan. "Oleh karena itu, Indonesia tidak boleh menjadi negara yang gagal," demikian Jeffrey Winters. Sementara itu, Rizal Ramli yang juga menjadi nara sumber dalam diskusi dengan panduan Drh. Erwanda Erna dari Radio Republik Indonesia (RRI) menyatakan, masalah utang RI dalam empat tahun terakhir ini secara jelas memperlihatkan kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah sangat pro-neo liberalisme. "Neo liberal adalah wujud keterbukaan pasar secara ugal-ugalan. Dalam hal ini negara sangat terlihat membiarkan ekonomi pasar menggerus perekonomian rakyat tingkat bawah. Indonesia memerlukan sejumlah cara kreatif untuk lebih mandiri secara ekonomi," kata mantan Menteri Koordinator Ekonomi tersebut.. Berkaitan dengan kemandirian ekonomi guna menciptakan Indonesia yang lebih berdaulat, Hendry Saparini PhD selaku nara sumber Suara Demokrasi mencontohkan, hasil bumi berupa coklat seharusnya tidak langsung diekspor sebagai bahan baku mentah. "Seharusnya coklat diekspor setelah menjadi bahan makanan olahan yang bernilai jual tinggi dan memberikan lapangan kerja di dalam negeri," ujarnya. Dalam kesempatan itu, Saparini menguraikan, saat ini utang Indonesia mencapai nlai sekira Rp1.700 triliun, termasuk utang senilai Rp400 triliun yang dibuat pemerintah selama empat tahun terakhir ini. "Dari utang sebesar ini saja sudah menunjukkan bahwa kita tidak berdaulat secara ekonomi, dan kita harus ciptakan serangkaian cara untuk lebih mandiri," kata Saparini menambahkan. Suara Demokrasi merupakan acara rutin PWI Pusat berjasama dengan RRI Pro-4 pada gelombang 92,8 FM yang didukung oleh masyarakat pers, antara lain Dewan Pers, Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), Ikatan jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Serikat Grafika Pers (SGP), dan Kantor Berita ANTARA. (*) |