|
Jayapura (ANTARA News) - Komunitas Wartawan Papua (KWP) menggelar acara Temu Kangen Lintas Generasi Wartawan Papua yang dihadiri lebih dari 50 wartawan media cetak dan elektronik yang selama ini bertugas di Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Temu kangen yang berlangsung Sabtu (4/1) bertujuan mempertemukan para wartawan,baik dari media cetak maupun elektronik, baik yang senior maupun junior untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung dalam berkarya.
Para wartawan senior adalah mereka yang telah menjadi jurnalis di Papua sejak 1960-an, sedangkan wartawan junior adalah para jurnalis yang merintis pekerjaannya pada 2000-an. Menurut pemrakarsa cara tersebut, Leo D. Siahaan, yang juga Pemimpin Redaksi Harian Papua Pos, temu kangen bertujuan menjalin persahabatan di antara para wartawan. "Kegiatan seperti ini merupakan langkah awal agar para wartawan dapat saling mengenal dan saling mendukung dalam melakukan pekerjaan di dunia jurnalistik," ujarnya. Sementara itu, Koordinator KWP, Steve Dumbon, mengemukakan KWP bukan merupakan organisasi tandingan bagi organisasi jurnalis yang telah ada sebelumnya, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). "KWP itu sebuah komunitas, semacam paguyuban, dimana para wartawan dapat berkumpul, saling kenal dan bekerja sama. KWP tidak puny aAD/ART seperti PWI dan AJI sehingga KWP itu bukanlah organisasi tandingan bagi PWI dan AJI," kata Steve. Dengan demikian, ia menilai keberadaan KWP tidak perlu diperdebatkan, malahan diharapkan memberikan dukungan positif demi kebaikan bersama. Perkembangan pers di Papua, baik dalam hal jumlah media dan jurnalis semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan banyak jumlah media cetak dan elektronik di Papua, sekaligus menambah jumlah para pekerja pers. Saat ini di Papua telah terbit delapan media cetak baik harian maupun mingguan dan tiga televisi swasta lokal. Namun demikian, mantan Ketua Persatuan Wartawam Indonesia (PWI) Papua, Usman Fakaubun, mengingatkan agar wartawan senantiasa melakukan evaluasi internal berkaitan dengan idealisme pekerjaan sebagai seorang jurnalis. "Idealisme jurnalitik para wartawan tempo dulu luar biasa. Walaupun sekarang ini pemberitaan semakin bagus karena didukung dengan teknologi, namun belakangan ini saya melihat para wartawan lebih mengejar kecepatan dari pada ketepatan dan keseimbangan berita," ujarnya. Bahkan, ia menilai, ada kalanya fakta yang ditulis tidak sesuai dengan keadaan di lapangan," kata Usman. Untuk itu, Usman meminta agar para jurnalis terus belajar dan mengasah kemampuan jurnalistik. Selain itu dianjurkan bagi semua wartawan untuk bergabung dalam salah satu organisasi profesi wartawan yang sudah ada yaitu PWI dan AJI, serta Ikatan Jurnais Televisi Indonesia (IJTI). "Dengan bergabung dalam organisasi ini, para wartawan akan sangat dibantu, terutama dalam hal kesejahteraan dan masalah advokasi," katanya. Pada kesempatan yang sama, mantan Kepala ANTARA Biro Jayapura, Bob Pattipawae, menegaskan bahwa pekerjaan jurnalistik membutuhkan tenaga fisik dan pikiran yang tidak sedikit. Ia pun meminta, agar para wartawan tetap menjaga kesehatan sehingga dapat menyelesaikan setiap pekerjaannya dengan baik. Selain itu, para wartawan harus mencintai pekerjaan pers dengan sepenuh hati. "Agar wartawan dapat tetap survive, kita harus betul-betul mencintai pekerjaan kita sendiri," katanya menambahkan. Pada acara ini juga diberi kesempatan kepada setiap pemimpin redaksi atau perusahaan media memperkenalkan media masing-masing dan para wartawannya di hadapan insan pers lainnya. (*) |