|
Bengkulu (ANTARA News) - Kantor Persatuan Wartawan Indoneia(PWI) Cabang Bengkulu dan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Bengkulu (Balai Wartawan) sekitar pukul 23.30 WIB, Minggu(28/12), ditembak orang tak dikenal, sehingga kaca di atas pintu depan hancur berantakan. Pada pecahan kaca pintu itu, terdapat satu buah timah diduga peluru senjata yang ditembakkan tersebut, kata Jaja, wartawan yang tengah berjaga di kantor PWI dan Kantor Berita ANTARA di Bengkulu.
"Saya sangat terkejut saat nonton televisi ada suara tembakan dua kali dari arah depan kantor, namun tidak berani turun maupun keluar," ujarnya. Suara letusan itu, kata Jaja, sering terdengar namun hanya sekedar ban pecah dan suara knalpot kendaraan lewat, namun yang malam tadi suaranya agak beda. Awalnya, dia tidak menghiraukan suara itu, karena tidur di lantai atas kantor ANTARA, namun setelah bangun pagi dan ingin membersihkan ruang di lantai bawah terlihat pecahan kaca dan ditemukan satu butir timah yang diduga bekas peluru tersebut. Timah itu terjatuh ke lantai, setelah menembus kayu kusen pintu atas dan terlihat bekasnya robek dan pecahan kacanya masih berserakan di kusen tersebut, katanya. Kaca yang berantakan di lantai dasar gedung PWI itu sudah terlanjur disapu Jaja dengan tujuan untuk dibersihkan, namun pecahannya sekarang masih di tumpuk di luar pintu. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah (Kabid Humas Polda) Bengkulu, AKBP Y. Suyatmo, ketika dihubungi menganjurkan, agar secepatnya melaporkan kejadian itu ke Polres Bengkulu, sehingga prosesnya ditindaklanjuti. "Tadi, saya sudah langsung lapor dengan Pak Kapolda Brigjen Pol Sukirno, dan beliau memerintahkan kapolres untu mengusut penembakan tersebut," kata Suyatmo. Ketua PWI Bengkulu, Drs. Riuslan, mengatakan bahwa pihaknya sangat terkejut atas peristiwa itu dan akan secepatnya melaporkan masalah tersebut kepada polisi. Secara terpisah, Komandan Korem 041 Garuda Emas (Gamas) Bengkulu, Letkol Inf Tarwin, mengaku sangat prihatin atas kejadian itu, dan harus segera laporkan ke polisi. (*) |