Beranda
|
Selasa, 22 Mei 2012 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
Kapolda Sulteng: Wartawan Harus Jaga Keutuhan Bangsa
Jumat, 19 Desember 2008

Palu (ANTARA News) - Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Suparni Parto, mengimbau kepada wartawan untuk lebih mampu menjaga keutuhan bangsa dan negara melaui karya jurnalistiknya.

 

"Jadi, wartawan tidak hanya mengejar keuntungan semata melalui berita yang bombastis, tapi juga mengutamakan keutuhan bangsa," katanya dalam temu wicara dengan sejumlah wartawan di Palu, Senin (15/12).

 

Menurut dia, wartawan dalam menulis berita harus bertujuan untuk kepentingan masyarakat umum yang tidak menimbulkan dampak buruk sehingga berbuntut negatif pada sisi kehidupan soial atau ekonomi.

 

Parto juga mengatakan jurnalis sangat diperbolehkan mengkritik pemerintah atau instansi lainnya. "Yang penting hal itu berdasarkan bukti dan kenyataan yang benar," katanya.

 

Dia mengemukakan, polisi adalah mitra wartawan atau sebaliknya sehingga perlu adanya sinergi atau kerjasama antarkeduanya.

 

"Kerjasama positif tersebut akan menghasilkan sesuatu yang baik untuk kepentingan bangsa dan negara," kata Parto.

 

Dalam acara yang juga dihadiri belasan perwira polisi dari Polda Sulteng itu, ia menilai, cara kerja wartawan dan polisi memiliki kemiripan, yakni dalam hal mencari informasi.

 

Tapi, lanjutnya, polisi mempunyai peraturan yang mengikat sehingga harus hati-hati dan cermat terutama bila menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM) atau nama baik seseorang.

 

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulteng, Kamil Badrun, yang juga hadir dalam kesempatan itu mengatakan, saat ini banyak wartawan yang statusnya tidak jelas sehingga menciptakan citra buruk terhadap pekerja pers yang sesungguhnya.

 

Untuk menghadapi situasi tersebut, Kamil menyerahkan sepenuhnya kepada pejabat atau narasumber yang sering ditemui wartawan. "Terserah mau diapakan, mau ditolak atau diterima," katanya.

 

Namun demikian, dia memberikan solusi jitu untuk menghadapi wartawan "nakal" tersebut, yakni dengan menanyakan hasil karya jurnalistiknya. Kemudian, tanyakan apakah terdapat nama wartawan tersebut di dalam boks surat kabar tersebut.

 

Dengan demikian, katanya, pejabat atau narasumber tidak mudah tertipu dengan wartawan gadungan tersebut. (*)