|
"Syarat menulis berita itu hanya tiga. Satu akurat, dua akurat dan tiga akurat". Kalimat itulah yang disampaikan wartawan senior Surabaya, Anshari Thayib kepada wartawan yunior, Dhimam Abror Djuraid puluhan tahun lalu. "Sampai sekarang, kata-kata beliau itu masih saya ingat dan saya jadikan pegangan," kata Abror yang kini menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jawa Timur mengenang kepergian Anshari Thayib. Anshari yang juga mantan anggota Komnas HAM meninggal dunia di Rumah Sakit Graha Amerta, Surabaya, Rabu (10/9) sekitar pukul 13.05 WIB setelah dirawat beberapa hari.
Anshari yang ikut mendirikan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI) Cabang Kediri itu pernah bergabung dengan Harian Sinar Harapan, Jakarta dan mengikuti diklat kerja wartawan di LP3ES Jakarta selama empat bulan. Setelah itu ia mengikuti studi banding pers daerah di Amerika Serikat selama sebulan (1981). Dari Sinar Harapan ia kemudian bergabung dengan Majalah Tempo di Surabaya (1974-1977) dan pernah menjadi koresponden lepas sejumlah media di Jakarta. Semasa hidupnya, pria berpembawaan murah senyum ini pernah melakukan tugas jurnalitik ke Arab Saudi, RRC, Hongkong, Macao, Taiwan, Singapura dan Amerika Serikat. Meskipun kiprah kewartawanannya sangat menonjol hingga terpilih menjadi Ketua PWI Jatim periode 1999-2003, namun Anshari memiliki banyak predikat. Ia dikenal sebagai kiai, karena pengetahuan agamanya yang mumpuni. Meskipun ia bukan sarjana agama, namun ia sangat lincah menulis artikel populer mengenai kusufian dengan tokoh imajiner, Mbah Ghafur. Anshari mengaku belajar agama dari bapaknya yang bekerja sebagai naib atau penghulu urusan agama Islam di kantor Departemen Agama (Depag). Selain itu, ia juga ternyata masih ada keturunan ulama dari kakek buyutnya yang bernama Mbah Ghafur. Mbah Ghafur memiliki pesantren kecil di Dukuh Gondang, Desa Purworejo, Kecamatan Kandat, Kediri. Bahkan, tulisan setiap Jumat dalam rubrik Siasat di Harian Surya itu sudah dibukukan dengan judul, "Siasat Kiai Pinggiran". Lewat tulisan rutin itulah, ilmu keagamaan Anshari terus diasah. Pengamat politik, Fachry Ali dalam pengantar buku, "Siasat Kiai Pinggiran" mengatakan lewat Mbah Ghafur, Anshari menampilkan sosok kiai dan tokoh pesantren yang tetap terpesona dengan dunia politik. "Seluruh percakapan yang berlangsung di dalam buku ini adalah masalah politik," katanya. Sementara sebagai intelektual, Anshari telah menghasilkan 15 judul buku, antara lain mengenai profil tokoh Muhammadiyah, Malik Fadjar yang juga mantan Mendiknas dengan judul, "Darah Guru Darah Muhammadiyah" bersama wartawan Anwar Hudiyono. Hasil perjalanan jurnalistiknya ke RRC ia bukukan dengan judul, "Islam di Cina" terbit tahun 1991. Selain itu, Anshari bukan hanya tokoh lokal di Jawa Timur. Ia ternyata juga mampu menampilkan diri di pentas yang lebih besar dengan menjadi anggota Komnas HAM. Lewat lembaga itulah pria kelahiran Kediri 1974 itu banyak berkiprah di berbagai pelosok tanah air. Dhimam Abror menilai bahwa Anshari yang lulus dari Fakultas Ketatanegaraan Ketataniagaan (FKK) Unibraw Malang Cabang Kediri itu adalah wartawan yang komplet. "Selain wartawan beliau juga dikenal sebagai intelektual, kiai, penulis dan seorang pemimpin yang mengelola organisasi, khususnya PWI secara menyejukkan," katanya. Menurut dia Anshari yang juga mantan wartawan Harian Surya itu saat memimpin PWI Jatim periode 2004-2007 dikenal sebagai pemimpin yang mengayomi terhadap wartawan yunior. Karena itu banyak wartawan yang menganggapnya sebagai kawan sekaligus guru. "Wartawan muda seangkatan saya rata-rata pernah mendapatkan ilmu dari beliau. Satu pelajaran beliau yang sampai sekarang saya masih ingat, yakni syarat menulis berita ada tiga. Satu akurat, dua akurat dan tiga akurat," katanya. Mantan Pemred Harian Surya yang kini Pemred Surabaya Post itu mengemukakan bahwa ketika masa kepengurusannya di PWI berakhir, Anshori tidak mau dipilih lagi menjadi ketua. Namun kemudian ia mendapat tugas baru di Komnas HAM. "Sejak menjadi anggota Komnas HAM itulah kemungkinan kesehatannya mulai menurun karena banyak berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia dan kesehatannya tidak terkontrol, termasuk dalam hal makanan," ujarnya. Di dunia jurnalistik, katanya, Anshori dikenal sebagai penulis karangan khas (feature) yang handal, baik saat bekerja di Surya maupun saat menulis di media lain. Abror menjelaskan, Anshori yang menerbitkan buku, "Siasat Kiai Pinggiran" itu menderita sakit stroke sehingga syaraf di wajahnya terganggu. (Oleh Masuki M. Astro) |