Beranda
|
Selasa, 22 Mei 2012 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
PWI Jateng Minta Wartawan Independen Liput Pemilu
Rabu, 31 Desember 2008

Semarang (ANTARA News) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah (Jateng) meminta seluruh wartawan dalam peliputan pemilihan umum (Pemilu) 2009 bersikap independen.

 

"Wartawan harus bersikap independen dan tidak boleh terombang-ambing oleh kepentingan salah satu pihak," kata Ketua PWI Jateng, Sriyanto Saputro, di sela-sela Konferensi Kerja Cabang (Konkercab) PWI Jateng di Semarang, Selasa.

 

Sriyanto mengatakan, wartawan harus profesional sesuai dengan koridor aturan yang berlaku serta memahami liputan pemilu. Sebagai salah satu upaya menciptakan wartawan yang profesional tersebut, PWI berencana memberikan pendidikan terkait peliputan pemilu.

 

Apalagi, lanjut Sriyanto, tahun 2009 merupakan tahun pemilu maka dalam Konkercab PWI juga akan dirumuskan sejumlah program di antaranya di bidang organisasi dan bidang pendidikan.

 

"Di bidang organisasi kita akan fokus pada kinerja PWI Jateng seperti dalam hal pengurusan kartu anggota yang sebelumnya terkesan berbelit-belit," katanya.

 

Untuk bidang pendidikan, tambah Sriyanto, fokusnya adalah mencerdaskan anggota dalam menjalankan tugasnya termasuk menghadapi penerapan UU Kebebesan Memperoleh Informasi Publik.

 

"Menyejahterakan anggota tentu menjadi target kita. Tentu bukan dengan memberi uang, tetapi menjembatani seperti pembuatan kartu anggota," katanya.

 

Sampai saat ini anggota PWI Jateng ada sekitar 400 wartawan. Untuk menjaring anggota, Sriyanto menambahkan, pihaknya akan melakukan karya latihan wartawan yang merupakan syarat untuk menjadi anggota PWI.

 

"Kita berharap kesan bahwa PWI merupakan organisasi wartawan senior bisa hilang, sehingga wartawan-wartawan muda bisa bergabung dengan kami," katanya.

 

Terkait Konkercab PWI Jateng kali ini, ia menambahkan, akan merumuskan sejumlah program untuk tahun-tahun mendatang, konsolidasi, termasuk membahas mengenai kode etik jurnalistik, dan advokasi wartawan. (*)