Beranda
|
Rabu, 08 Pebruari 2012 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
Pak Datuak, Jurnalis yang Berpulang Bersama Berita Besar
Senin, 12 Oktober 2009

 

                            Sample Image

 

Oleh Hendra Agusta

Padang (ANTARA News) - Saat ratusan jurnalis dalam dan luar negeri berdatangan untuk mengabarkan duka nestapa rakyat Sumatra Barat yang diguncang gempa 7,9 skala richter (SR) diikuti tanah longsor, dunia pers Sumbar ikut berduka menyusul berpulangnya seorang wartawan terbaik, Aswanil Asmara Datuak Rajo Johan (53).

Ia dikenal sebagai sang jurnalis enerjik dan pemimpin umum Mingguan Publik dipanggil Yang Kuasa dalam bencana susulan pasca gempa dan tanah longsor yang terjadi Rabu (30/9) itu.


Pak Datuak, panggilan akrab Aswanil ditemukan tewas dalam mobilnya yang tertimbun tanah longsor di ruas Jalan Padang-Solok di kawasan Sitinjau Laut, sekitar 18 kilometer dari kota Padang.

Butuh waktu lima jam dari tim SAR untuk mengeluarkan tubuh almarhum dari mobil minibus nomor polisi BA 2182 TO yang ditumpanginya untuk pulang kampung ke Solok, Minggu (4/10).

Saat mobil Aswanil yang dikemudikan Nono (38) melaju di lintas Padang-Solok yang di beberapa titik terjadi longsor pasca gempa dan berada di sisi perbukitan rawan longsor lalu laju kendaraan kemudian terhadang kemacetan.

Kemacetan memang banyak dijumpai di jalur tersebut karena tanah yang menutupi jalan pasca gempa harus disingkirkan alat berat, sehingga laju kendaraan tersendat dan kemacetan panjang juga tak terhindarkan.

Saat antri dan terjebak dalam macet itu, tiba-tiba tanah dari arah perbukitan di sisi jalan kembali longsor dan menimbun beberapa kendaraan termasuk mobil Datuak Rajo Johan.

Supir mobil itu berhasil keluar dan menyelamatkan diri sebelum tanah longsor menerjang, namun naas sang jurnalis kawakan Sumbar itu terjebak dalam mobil dan tak bisa menyelamatkan diri hingga ikut tertimbun tanah.

Tim SAR butuh kerja keras dan waktu lima jam lebih untuk mengeluarkan sang Datuak, namun jiwanya tak tertolong karena mengalami cidera berat di bagian kepala.

Korban tewas lainnya juga ada pada kendaraan lain yang ikut diterjang tanah longsor di lokasi itu.

Jasad Asnawil yang kini juga menjabat anggota DPRD Sumbar periode 2009-2014 sempat disemayamkan sejenak untuk penghormatan terakhir dari sejawatnya sesama wakil rakyat dan pejabat serta rekan lainnya di gedung DPRD Sumbar yang kondisinya juga rusak akibat gempa.

Datuak selanjutnya dibawa ke tanah kelahirannya Nagari talang Kabupaten Solok untuk dimakamkan di pekuburan keluarga di Koto Gaek Talang, Solok.

    
Ide cemerlang

Menurut rekan sesama wartawan senior, Syaharman Zamhar, Datuak Rajo Johan adalah sosok jurnalis yang memiliki banyak ide cemerlang untuk acuan pembuatan kebijakan pembangunan daerah Sumbar.

Ide-ide itu dituangkan dengan bernas dalam berita-berita yang ditulis almarhum di media, tambahnya.

Ia mengatakan, ide-ide yang disampaikan melalui media sangat konstruktif dan sering menjadi acuan bagi pemerintah daerah membuat kebijakan pembangunan.

Datuak juga banyak menulis dalam bidang sosial dan hukum menyuarakan aspirasi rakyat kepada publik untuk mendapat perhatian dari kebijakan pemerintah buat masyarakat, tambah Syaharman.

Sementara itu, Ketua PWI Sumbar, Basril Basyar menilai, Aswanil dalam pengabdiannya sebagai jurnalis terkenal ulet dan gigih dan mengelola media yang dipimpinnya.

"Ia pandai bergaul dan berkomunikasi serta ramah sehingga banyak memiliki relasi dan teman," tambahnya.

Ide-idenya dalam tulisan media juga sering menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam membuat kebijakan pembangunan, tambahnya.

Pergaulannya yang baik terlihat dari hadirnya semua kepala daerah baik tingkat provinsi, kabupaten dan kota di Sumbar dan pejabat serta rekan pers dan pimpinan media saat pesemayaman almarhum yang sejenak di Padang.

"Itu tanda betapa beliau adalah teman yang baik dan banyak yang merasa kehilangan atas kepergian almarhum yang justru di tengah suasana Sumbar berkabung pasca gempa," kata Basril.

Kepergian Almarhum membuat terhenti sudah kiprahnya sebagai sang jurnalis justru saat berita besar gempa dan tanah longsor dikabarkan dunia dari Sumbar.

Pak Datuak tak sempat menulis kabar duka ini di media, dan ia justru ikut menjadi bagian dari bencana yang hingga Jumat telah tercatat 787 orang tewas itu. (*)