|
Nairobi (ANTARA News/AFP) - Dua wartawan, dari Inggris dan Spanyol, dibebaskan Minggu setelah hampir enam pekan ditahan di negara bagian Puntland yang memisahkan diri di Somalia, polisi dan pemerintah Spanyol mengatakan. "Kedua wartawan itu bebas setelah cobaan berat mereka," kata kepala polisi Puntland, Abdullahi Said Samatar. "Mereka beristirahat sekarang dan mereka akan ada nanti. Saya senang melihat mereka menemukan kembali kebebasan mereka."
Pembebasan itu telah dipastikan oleh pemerintah Spanyol di Madrid, yang duta besarnya untuk Kenya telah melakukan perjalanan ke Puntland dari Nairobi untuk menemui penulis Inggris Colin Freeman dan jurufoto Spanyol Jose Cendon Minggu (4/1) siang. Menlu Spanyol, Miguel Angel Moratinos, mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan Cendon melalui telpon. "Ia sangat senang," menteri itu mengatakan pada radio publik Spanyol RNE. Ibu Cendon, Maria Carmen Docampo, mengatakan saudara perempuannya Julia sedang dalam perjalanannya ke Kenya untuk menemui fotografer itu dan akan menyertainya pulang ke Spanyol. Freeman dan Cendon di negara itu untuk melaporkan perompakan dalam penugasan untuk surat kabar Daily Telegraph Inggris. Cendon bekerja untuk berbagai media di Afrika timur. Mereka ditangkap pada 26 November dalam perjalanan mereka ke bandara Bosasso, bersama dengan dua wartawan Somalia yang membantu mereka. Wilayah semi-otonomi Puntland di Somalia utara melayani sebagai pangkalan bagi perompak yang dipersalahkan karena 100 serangan lebih terhadap kapal di perairan lepas pantai Somalia pada 2008. Gubernur daerah itu, Musa Gueleh Yusuf, mengatakan pada akhir November bahwa polisi telah menduga keterlibatan dua warga Somalia itu. Tidak ada berita Minggu mengenai tempat keberadaan mereka. Sejauh ini tidak ada pengakuan bertanggungjawab atas penculikan itu. Wakil menteri untuk pelabuhan laut Puntland, Abdulkebir Musa, mengatakan bahwa dalam beberapa hari menyusul penculikan mereka bahwa wartawan itu telah ditahan di wilayah yang dikuasai oleh para tokoh suku yang punya hubungan dekat dengan perompak. Inggris dan Spanyol telah membentuk sel krisis untuk membantu polisi dalam perundingan, yang dimulai dengan sesepuh setempat dalam beberapa hari hilangnya mereka. Ketika ditanya apakah uang tebusan telah dibayarkan bagi pembebasan kedua orang itu, Moratinos hanya mengatakan bahwa peran pemerintah Spanyol terbatas pada penggunaan saluran diplomatik untuk berupaya menjamin pembebasan mereka. "Peran kami terbatas pada mengatur diplomasi," katanya pada RNE. Somalia yang tak patuh pada hukum -- yang presidennya mundur pekan lalu -- digolongkan sebagai negara paling mematikan kedua di dunia pada 2007 oleh Komite untuk Melindungi Wartawan yang bermarkas di New York. Pada Agustus 2008, dua wartawan freelans, satu Australia dan satu Kanada, diculik di dekat ibukota Somalia, Mogadishu, dan sekarang masih ditawan. Pada Desember 2007, kamerawan Prancis Gwen Le Gouil diculik dan ditahan selama delapan hari oleh milisi setempat. (*) |