|
Bengkulu (ANTARA News) - Penembak kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bengkulu diduga bersenjata jenis revolver yang biasa digunakan orang sipil dan resmi dilengkapi izin lengkap. Berdasarkan hasil uji balistik labfor Polda Palembang, menyebutkan, proyektil yang digunakan untuk menembak kantor PWI (Balai wartawan) Cabang Bengkulu itu adalah jenis senjata revolver yang digunakan orang-orang sipil, kata Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol. Sukirno melalui Kabid Humas Polda Bengkulu, AKBP Y Suyatmo, Sabtu (10/1).
Sampai sekarang, pihaknya masih menyelidiki pelaku penembakan misterius itu, kasus tersebut tetap ditangani pihak Polresta Bengkulu, karena berada dalam wilayah hukumnya, namun Polda hanya mem-back-up saja. Pihaknya penyidik, katanya, sudah memeriksa beberapa saksi namun belum mengarah ke tersangka, untuk itu, dia memohon bantuan kepada berbagai pihak termasuk wartawan, mencari sumber dan informasi secara intelijen untuk menemukan pelaku penembakan tersebut, katanya. Sebelumnya, Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol. Sukirno memerintahkan kepada Kapolres Bengkulu untuk mencari pelaku penembakan kantor Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) balai wartawan Bengkulu, Minggu(29/12) malam. "Kita sangat prihatin akan pristiwa itu, karena kondisi Bengkulu dalam menghadapi Tahun Baru 2009 waktu itu, kondisi Kota Bengkulu sangat aman, tapi peristiwa itu bisa terjadi," tegasnya. Dia menghimbau kepada para wartawan Bengkulu, agar dalam menjalan tugas jurnalistiknya selalu waspada dan berhati-hati terlebih akhir-akhir ini marak pemberitaan berbagai kasus yang menimpa pejabat di daerah itu. Kapolres Bengkulu, AKBP Budi Dermawan memperkirakan, penembakan itu diperkirakan dilakukan dalam jarak dekat, karena sasarannya cukup jelas yakni menembus bingkai kaca langsung ke kusen pintu dan terjadi lobangan kecil. Ketua PWI Cabang Bengkulu, Drs Riuslan, mengatakan, penembakan itu sampai sekarang belum bisa dideteksi akar permasalahannya, karena sebagai wartawan dalam menjalankan tugas sehari-harinya sangat identik dengan ancaman bahaya. "Permasalahan ini sudah kita serahkan sepenuhnya kepada penyidik dan kami akan menunggu hasilnya," ujar Riuslan sembari mengingatkan kepada seluruh wartawan di daerah itu, agar selalu waspada, terutama dalam menjalankan tugas jurnalistik, karena tidak semua orang suka akan hasil pemberitaan wartawan, ujarnya. Beberapa tokoh masyarakt di Bengkulu mengaku sangat prihatin, karena gedung kantor PWI (Balai wartawan) hanya sebagai wadah orang-orang independen dan setiap hari mengedepankan berita berimbang. Kepada pihak yang merasa tidak puas akan hasil pemberitaan wartawan, hendaknya menempuh jalur hukum saja, jangan mengedepankan rasa emosional dan anarkis, karena akan berdampak panjang dan berimbas pada perbuatan tidak terpuji, ujar H Basri Muhammad. (*) |