Beranda
|
Selasa, 22 Mei 2012 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
Saur Hutabarat: Pers Perlu Industrikan Idealisme
Rabu, 28 Oktober 2009

  Sample Image  Sample Image

 

Cisarua (PWI News) - Pers yang ingin terus hidup menghadapi tantangan zaman perlu mengindustrikan idealisme, yakni menjalankan bisnis pers yang sarat dengan kreativitas dan misi maupun visinya demi kepentingan publik, kata wartawan senior dari Media Group dan Metro TV, Saur Hutabarat

 

"Dalam hal ini bukan berarti wartawan dan pers menggadaikan idealismenya. Namun, wartawan dan pers harus sadar bahwa mereka juga berada di tengah dunia bisnis yang berkembang pesat. Idealisme pers harus tetap di depan, tapi sekaligus bisa menjadi potensi bisnis," kata mantan wartawan majalah Tempo itu.

 

Saur pun berpendapat, pers senantiasa harus mampu menjembatani kepentingan di mana ada ruang privat dan ruang publik. "Dalam hal ini idealisme wartawan di tengah industri pers senantiasa diuji, karena pers yang hanya mencari keuntungan besar saja justru akan ditinggalkan publik yang semakin cerdas," katanya.

 

Hal senada sempat dikemukakan pula oleh anggota Dewan Pers dan CEO Tempo Grup, Bambang Harymurti, yang menilai bahwa yang menentukan pers sehat secara bisnis justru adanya unsur menjaga idealisme, independensi dan kredibilitas pemberitaannya.

 

"Sejumlah referensi yang membahas bisnis modern semakin menunjukkan bahwa bisnis yang sukses harus punya kredibilitas. Jadi, kalau ada media yang hanya mementingkan keuntungan besar semata, maka nafasnya jangka pendek karena publik hanya melihatnya sesaat. Tapi, kalau pers punya kredibilitas tinggi nafasnya jauh lebih panjang, bahkan dibela publik," ujarnya.

 

Dalam forum yang sama, Daniel Dhakidae selaku Pemimpin Redaksi Majalah Prisma dan mantan Kepala Penelitian dan Pengembangan Kompas Grup mengemukakan, pers saat ini bukan lagi kuli tinta, namun banyak yang beralih menjadi kuli partai.

 

"Bagaimana tidak? Pers belakangan ini semakin banyak yang terlihat menyuarakan hampir semua pekerjaan partai politik, dan beritanya lebih dominan seputar kegiatan partai, dan lupa kepentingan publik. Di mana posisi pers yang seharusnya ibarat menjadi padi yang berada di depan kuda, agar padati yang dinaiki rakyat bisa berlari kencang?," ujar doktor lulusan Universitas Cornel di Amerika Serikat (AS) itu, mengambil tamsil ala penulis Pavlov.

 

Oleh karena itu, Daniel pun menambahkan, wartawan senantiasa harus disegarkan pola pikirnya. "Paling tidak, wartawan harus saling mengingatkan bahwa publik selalu menanti peran pers. Kalau pers kehilangan arah dan gagal menjadi padi di depan kuda, maka gerobak bisa berjalan tanpa arah atau bahkan terjerebab entah ke mana," ujarnya. (*)