|
Bengkulu (ANTARA News) - Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK PWI) Pusat, Tarman Azzam, menilai bahwa di zaman keterbukaan sekarang ini masih ada sebagian besar para kepala daerah yang takut dikritik dan terkesan alergi terhadap wartawan. "Seharusnya pada era sekarang ini, kepala daerah dengan wartawan itu sudah saling batu dan bermitra dalam pembangunan, demi keutuhan untuk membangun negara ini lebih utuh lagi," kata Tarman Azzam di Bengkulu, Jumat (23/1).
Menurut mantan Ketua Umum PWI Pusat itu, pada saat ini masih banyak kepala daerah yang "menjaga jarak" dan kurang tulus menjalin hubungan dengan wartawan, tapi bila kepala daerah itu ada persoalan, maka barulah minta tolong dan mencoba akrab dengan wartawan. Ia menegaskan, pola yang demikian itu hendaknya perlu diubah dengan wawasan baru yang sifatnya bermitra saling menguntungkan. "Kerja wartawan selama ini selain mengontrol jalannya pembangunan pemerintah, juga mendidik masyarakat melalui pemberitaan yang akurat, transparan dan berwawasan masa depan," katanya. Ia mengakui, sampai sekarang masih ada oknum wartawan yang tugasnya meresahkan pejabat dan pengusaha, namun perjalanan wartawan seperti itu akan lenyap oleh seleksi alam. Bagi wartawan yang betul-betul berkarya dan masih bertahan, hendaknya menjadi perhatian para pejabat maupun pengusaha, terutama dalam bermitra yang saling menguntungkan. "Kalau pejabat atau pengusaha memberikan rezeki kepada wartawan yang betul-betul berkarya, nilainya belum seberapa bila dibadingkan dengan dana penghasilan yang didapat," katanya. Untuk itu, dia mengharapkan, alokasi dana bagi wartawan (media massa) di setiap instansi maupun kelompok, hendaknya betul-betul disampaikan kepada bersangkutan dan jangan disunat. Ia mengemukakan, ada indikasi salah satu instansi selama ini setiap tahun menganggarkan dana untuk media massa, namun kenyataannya dana itu digunakan untuk keperluan lainnya. Oleh karena itu, ia mengharapkan, kepada para kepala daerah maupun pejabat lainnya di tanah air, agar bermitra dengan wartawan itu jangan hanya seremonial belaka, tapi diwujudkan secara nyata. "Berteman dengan wartawan itu sebetulnya tidak rugi, karena kaum jurnalistik yang profesional biasanya memiliki hati nurani dan jiwa persahabatan lebih tinggi," katanya. Sebagai contoh, misalnya pejabat A sedang dilanda salah satu kasus, namun kesehariannya sangat akrab dengan wartawan profesioanl, biasanya penyakit yang diderita pejabat itu akan kabur, bahkan sembuh oleh "polesan" persahabatan itu. Tarman Azzam berada di Bengkulu guna memenuhi undangan pemerintah daerah Kota Bengkulu, untuk memberikan ceramah di hadapan ratusan walikota dan anggota legiislatif se- Indonesia. (*) |