Beranda
|
Selasa, 07 Pebruari 2012 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
Wartawan Nyaris Bentrok dengan Preman Tambang Batubara
Selasa, 13 Januari 2009

Samarinda (ANTARA News) - Beberapa wartawan di Samarinda, Kalimantan Timur, nyaris bakuhantam dengan sekelompok preman dari sebuah perusahaan tambang batubara di Kelurahan Lampake, Samarinda Utara, Kaltim, Sabtu (10/1).

 

Keributan terjadi saat beberapa wartawan media nasional di Samarinda tengah mengambil gambar di lokasi tambang batubara karungan di kompleks pembangunan Perumahan Korem 091 Aji Suryanata Kesuma, Kelurahan Lampake, Samarinda Utara.

 

Namun, saat mewawancarai seorang ibu rumahtangga (IRT) yang tengah menjahit karung batubara, sekelompok orang mendatangi wartawan.

 

"Saat itu kami sedang mewawancarai ibu-ibu yang tengah menjahit karung, tiba-tiba datang orang-orang perusahaan tambang batubara tersebut. Mereka kemudian melarang kami mengambil gambar, padahal areal itu merupakan kawasan umum yakni perumahan Korem," ungkap wartawan TVRI, Haryoto.

 

Para pekerja tambang batubara tersebut sempat menunjuk kamera salah seorang wartawan televisi nasional sehingga ketegangan tidak bisa terelakkan.

 

"Mereka sempat menujuk kamera saya dan melarang kami mengambil gambar pada areal tersebut. Kami lalu meminta penjelasan alasan mereka melarang kami mengambil gambar, namun mereka tetap ngotot bahkan mengeluarkan kata-kata kasar," kata salah seorang wartawan televisi swasta nasional, Anas.

 

Ketegangan memuncak hingga terjadi aksi dorong-dorongan saat karyawan tambang batubara tersebut tetap bersikukuh melarang wartawan mengambil gambar.

 

Namun, bentrokan fisik dapat dihindarkan setelah salah seorang pemilik tambang batubara karungan memberi penjelasan kepada karyawan tambang batubara itu. 

 

"Kami hanya mencoba membuat berita secara berimbang terkait tudingan warga mengenai kerusakan jalan oleh aktifitas tambang batubara karungan tersebut.

 

Beberapa orang dari perusahaan itu malah melarang kami dan mengeluarkan kata-kata kasar sehingga kami mencoba mengklalrifikasinya. Tapi, mereka justru bersikeras sehingga kami juga sempat emosi," ujar koresponden radio nasional,Saud Rosadi.

 

Sekretaris IJTI (Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia) Kaltim, Fitriansyah yang juga berada di lokasi saat kejadian mengaku sangat menyayangkan sikap karyawan tambang batubara tersebut yang dinilai berprilaku preman.

 

Dia menilai, pelarangan itu tidak berasasan sebab wartawan hanya mencoba mengklarifikasi tudingan warga terkait kerusakan jalan, namun dibalas dengan kata-kata kasar.

 

"Sikap mereka (karyawan perusahaan batubara) sangat berlebih dan arogan. Jika mereka menegur dengan baik, saya yakin teman-teman wartawan akan menerimanya, sepanjang alasan pelarangan itu masuk akal. Namun, areal itu kan bukan kawasan tertutup, sehingga tidak ada dasar mereka melarang wartawan mengambil gambar," kata Fitriansyah.

 

Sementara itu, pemilik tambang batubara karungan Riyadi, mengakui, ketegangan antara wartawan dan karyawan perusahaan tambang batubara itu akibat kesalahfahaman.

 

"Kami minta maaf jika sikap teman-teman menghadapi wartawan sangat berlebihan. Saya yang mengundang wartawan ke areal ini untuk mengklarifikasi tudingan warga itu," ungkap Riyadi. (*)