Beranda
|
Jumat, 10 September 2010 |
Dewan Kehormatan | CAJ | SIWO | LKBH | Presspedia | Adinegoro
PWI Cabang
Wartawan Peras Kasek di Kabupaten Seram Bagian Barat
Senin, 17 November 2008
Dapat Rp 10,5 Juta untuk Konferensi Pers di Surabaya

AMBON
- ( Jawa pos, 17 Novembwe 2008 ),-Pers Indonesia tercoreng ulah dua wartawan media lokal Ambon, yang mengaku sebagai anggota KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Wilayah Timur Indonesia. Dengan pengakuannya itu, MD dan K -inisial kedua wartawan tersebut- memeras sejumlah kepala sekolah di Kabupaten SBB (Seram Bagian Barat), Provinsi Maluku.

Total uang yang mereka keruk dengan cara seperti itu Rp 10,5 juta. Seorang korban bahkan harus menjual sapi untuk memberi uang kepada kedua wartawan tadi. Merasa tertipu, dia langsung melapor ke polisi
Kedok kedua wartawan itu terbongkar ketika sejumlah guru dan kepala sekolah mengonfirmasi identitas mereka kepada wartawan lain. Mengetahui identitas keduanya, beberapa korban pun memutuskan melapor ke polisi. ''Keduanya mengaku wartawan sekaligus anggota KPK Indonesia Timur,'' kata salah seorang korban.

Keduanya mendatangi kepala sekolah dan mempersoalkan dana BOS (bantuan operasional sekolah) yang diterimanya. Ujung-ujungnya, mereka meminta sejumlah uang kepada para korban. ''Katanya uang itu untuk fasilitas mereka mengikuti konferensi pers di Jakarta dan Surabaya,'' ungkap bendahara dana BOS SD Inpres Pohon Batu, Any Sitania.

Dalam aksinya, keduanya mengaku memiliki nomor telepon seluler anggota KPK Pusat. Dengan membentak-bentak keduanya memaksa korban memberikan sejumlah uang. ''Katanya, kasek di Maluku Tenggara sudah masuk penjara. Mereka mengancam melaporkan saya ke KPK agar dipenjarakan,'' tutur Sitania.

Lantas keduanya minta uang Rp 5 juta. Ketika dijelaskan bahwa uang BOS sudah habis, keduanya tidak mau tahu. Mereka memberi batas waktu sampai 28 Oktober.

Selanjutnya, salah satu oknum wartawan menulis di atas kertas kalau mereka berdua akan mengikuti konferensi pers di Surabaya dan membutuhkan dana Rp 5 juta. Kasek kemudian mengaku bahwa dana BOS satu triwulan Rp 6,850 juta dan sudah terpakai.

Pihak sekolah pun membahas masalah itu dan memutuskan menjual sapi kepala sekolah untuk memberi orang tadi. ''Saya kemudian ke Piru (ibu kota SBB), menyerahkan uang Rp 3 juta kepada keduanya. Sisanya, Rp 2 juta akan ditambahkan setelah sapi lain laku. Tapi, belakangan saya sadar bahwa itu penipuan, saya tidak jadi menjual sapi saya yang satunya,'' papar kepala sekolah. (OPE/jpnn/ruk)