|
Jakarta (PWI News) - Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora), Adhyaksa Dault, merasa sangat prihatin terhadap sikap para pengusaha muda yang lebih suka mengikuti tender proyek dibiayai pemerintah dan juga mencari komisi bisnis (fee) dibanding kegiatan proyek di bidang kelautan , padahal Indonesia negara maritim yang memiliki kekayaan berlimpah. "Pengusaha-pengusaha muda lebih suka ikut tender terhadap proyek-proyek yang dibiayai APBN atau APBD," ujar Adhyaksa Dault di Bogor, Sabtu (31/1), ketika menjadi pembicara pada rembug nasional yang diselenggarakan mahasiswa Pasca-sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).
Adhyaksa yang meraih doktor dari IPB mengatakan pula bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki belasan ribuan pulau. Di tanah air terdapat 1.724 pelabuhan besar dan kecil, namun praktis tidak ada pengusaha muda yang mau menggarap sektor ini. Acara yang dihadiri pula Kepala Staf Angkatan laut (Kasal), Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno, Adhyaksa menyebutkan, tidak banyak pengusaha muda yang mau menggarap sektor kelautan seperti bergerqak dibidang menyediakan berbagai kapal angkut penumpang. Ia pun memberi contoh, di salah satu perairan di Provinsi Sulawesi Selatan, hanya terdapat dua kapal yang setiap kali berlayar harus mengangkut ratusan penumpang. Menyyingkap kembali pembicaraan dengan Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang baru-baru ini, Adhyaksa memperoleh keterangan bahwa keterbatasan kapal laut pada jalur tersebut adalah karena tidak adanya pengusaha yang mau menekuni sektor bisnis ini yang sebenarnya amat prospektif. "Tidak banyak pengusaha muda yang mau menggarap proyek-proyek kelautan itu," kata Menpora lagi. Pada bagian lain, ia mengutip data tentang pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing yang setiap tahunnya bisa mencapai nilai tidak kurang dari Rp40 trilun, sementara bisnis sektor kelautan dunia setiap tahunnya mencapai 16 miliar dolar AS dan nilai ekspor Indonesia hanya berkisar tiga miliar dolar. Oleh karena itu, ia mengatakan, pemerintah harus membuat kebijaksanaan di bidang kelautan atau ocean policy yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk membuat dan kemudian melaksanakan berbagai proyek proyek sehingga pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tanah air terutama para nelayan dan keluarganya. Secara khusus, Adhyaksa sangat mendukung keinginan TNI-AL, agar kekuatan atau jumlah kapal perangnya ditambah. "Kita hanya punya dua kapal selam. Kalau satu kapal menyelam maka tidak bisa timbul lagi," kata Menpora secara berseloroh, untuk menggambarkan betapa sedikitnya kapal perang TNI-AL yang sebagian besar sudah berusia tua. "Tidak banyak pengusaha muda yang mau menggarap proyek-proyek kelautan itu," ujarnya. Ia mengutip data tentang pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing yang setiap tahunnya bisa mencapai nilai tidak kurang dari Rp40 trilun, sementara bisnis sektor kelautan dunia setiap tahunnya mencapai 16 miliar dolar AS dan nilai ekspor Indonesia hanya berkisar tiga miliar dolar. Oleh karena itu, ia mengatakan, pemerintah harus membuat kebijaksanaan di bidang kelautan atau ocean policy yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk membuat dan kemudian melaksanakan berbagai proyek proyek sehingga pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tanah air terutama para nelayan dan keluarganya. Secara khusus, Menpora Adhyaksa sangat mendukung keinginan TNI-AL agar kekuatan atau jumlah kapal perangnya ditambah. "Kita hanya punya dua kapal selam. Kalau satu kapal menyelam maka tidak bisa timbul lagi," kata Menpora dengan nada berseloroh untuk menggambarkan betapa sedikitnya kapal perang TNI-AL yang sebagian besar sudah berusia tua. (*) |