Rabu, 13 Desember 2017

Adinegoro

Persatuan Wartawan Indonesia

Adinegoro (Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan) lahir di Tawali, Sawahlunto, Sumatra Barat, pada 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta pada 8 Januari 1968. Ia adalah wartawan terkemuka dan salah seorang perintis pers Indonesia. Dia termasuk orang Indonesia pertama, selain M. Tabrani dan Jahja Jakub, yang secara formal mempelajari ilmu publisistik di Jerman. Di Eropa ia juga mempelajari geografi, geopolitik, dan kartografi.

 Sebagai seorang putra Demang, Djamaluddin memperoleh hak untuk masuk sekolah Belanda. Pada usia 15 tahun Djamaluddin masuk Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah yang dikhususkan untuk anak-anak Belanda.

Ayahnya, Tuanku Laras Bagindo Chatib, sering berpindah tempat pekerjaan. Oleh karena itu, saat memasuki usia remaja, Djamaluddin diikutkan kepada saudaranya yang tertua, yakni Muhammad Yaman Gelar Raja Endah, guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Palembang.

Muhammad Yaman beserta istri berusaha agar anak-anak maupun adik serta kemenakan yang ikut bersama mereka sekalian mendapat pendidikan modern. Selain Adinegoro, keluarga Muhammad Yaman juga menyekolahkan Muhammad Yamin (kelak menjadi ahli hukum/meester, sastrawan, dan sempat diangkat menjadi menteri oleh Presiden Soekarno) dan Muhammad Amir (kemudian menjadi dokter ahli jiwa terkemuka).

Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS Palembang, Djamaluddin masuk ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, karena ayahnya mengharapkan ia menjadi dokter. Sebagai anak Minangkabau, Djamaluddin lebih dulu membekali dirinya dengan empat kepandaian yakni pandai mengaji, pandai menjahit, pandai memasak dan pandai bersilat untuk membela diri. Rekannya di STOVIA antara lain Bahder Djohan, Ahmad Ramali, dan Mohammad Hanafiah.

Dari kegemarannya membaca, Djamaluddin tertarik ingin mengemukakan pendapat dan buah pikirannya di suratkabar. Tulisannya untuk pertama kali dimuat di Tjahaja Hindia, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Landjumin Datuk Tumenggung. Tulisannya terus mengalir dan selalu mencantumkan Dj, sebagai kependekan dari Djamaluddin.

Selain menerbitkan majalah Tjahja Hindia Landjumin Datuk Tumenggung juga menerbitkan Harian Neratja. Harian itu menurut ukuran zamannya cukup modern karena merupakan suratkabar milik bangsa Indonesia asli yang memuat foto, sesuatu yang sangat langka pada masa itu. Yang menulis di koran tersebut sebagian besar anak muda asal Sumatera antara lain Bahder Djohan, Siti Danilah, Agus Salim, Abdul Muis, dan Kasuma Sutan Pamuntjak. Sedangkan Muhammad Yamin menerjemahkan Saidjah dan Adinda sebagai kisah bersambung.

Dalam berbagai kesempatan, sebagai orang yang lebih tua, Landjumin selalu memberi dorongan kepada anak muda yang ada di hadapannya. Jika membuat tulisan Landjumin selalu mencantumkan nama Notonegoro dengan alasan “untuk menarik pembaca dari kalangan orang Jawa”. Djamaluddin pun disarankan agar melakukan hal yang sama, dan setelah itu setiap kali mengirimkan artikel ia selalu mencantumkan nama Adinegoro.

Adinegoro akhirnya keluar dari STOVIA dan melanjutkan sekolah ke Jerman untuk belajar ilmu publisistik. Ia ingin mengikuti jejak Abdul Rivai, seorang dokter bangsa Indonesia, yang selama belajar di Eropa banyak menulis di harian Bintang Timoer pimpinan Parada Harahap.

Selama melakukan lawatan ke beberapa negara Eropa, Adinegoro secara teratur mengirimkan artikel ke majalah Pandji Poestaka, dan karangannya kemudian dibukukan dengan judul Melawat ke Barat oleh Balai Poestaka. Ia juga secara teratur mengirimkan karangan ke Pewarta Deli (Medan) dan Bintang Timoer (Jakarta).

Adinegoro pernah bekerja selama enam bulan di Utrecht. Selain menekuni bidang jurnalistik, perhatian Adinegoro juga tertuju terhadap bidang kartografi yang dipelajarinya di Wuerzburg. Sedangkan ketika menetap di Muenchen ia mempelajari geopolitik.

Tahun 1930 Adinegoro kembali ke Indonesia. Setibanya di tanah air, dia segera menerima tawaran untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Panji Poestaka. Akan tetapi, ketika Pewarta Deli mencari tenaga muda terpelajar untuk memimpin harian itu, Adinegoro pun pindah ke Medan dan mengemudikan harian tersebut dari tahun 1932 hingga Jepang masuk ke Indonesia.

Di bawah asuhannya Pewarta Deli mengalami kemajuan pesat. Tulisan Adinegoro dikenal karena analisisnya yang tepat. Rubrik “Pandangan Luar Negeri”-nya sangat disukai pembaca. Terlebih-lebih saat pecah Perang Dunia II. Saat itu Pewarta Deli menerbitkan peta perang sendiri, hal yang tidak dilakukan oleh koran-koran lain. Di samping memimpin Pewarta Deli, Adinegoro juga mengemudikan majalah Abad XX, sebuah majalah umum populer yang isinya beraneka ragam.

Menjelang pecahnya Perang Pasifik, Adinegoro sudah mempunyai nama harum di kalangan kaum cerdik pandai di Medan. Atas prakarsanya, pada waktu-waktu tertentu kaum intelektual Indonesia menghadiri pertemuan untuk mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh terkenal saat itu.

Sesudah Proklamasi 1945, Adinegoro diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Sumatera. Organisasi ini bergerak memelopori rakyat di Sumatera melaksanakan komando Presiden guna mengambil alih pemerintahan administratif dari tangan Jepang. Selain itu, bersama-sama para pemimpin lainnya, Adinegoro melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Sumatera.

Pada masa revolusi, Adinegoro diangkat menjadi Komisaris Besar RI di Bukittinggi. Di rumah kediamannya waktu itu berpancangan tiang-tiang bambu yang tinggi, sebagai alat penangkap siaran berita yang dipancarkan kantor berita Antara di Jawa. Ketika Clash I, kantor Antara di Bukittinggi dibom oleh Belanda. Pengeboman itu untungnya terjadi pada hari libur (Minggu) sehingga tidak ada korban manusia. Namun, kantor Antara rusak berantakan. Di Bukittinggi, dengan bantuan tenaga-tenaga muda, Adinegoo juga mendirikan harian perjuangan Kedaulatan Rakyat. Namun usianya tidak begitu lama karena penerbitannya terhenti setelah datang serangan Belanda. Adinegoro juga ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1946.

Setelah pindah ke Jakarta, yang sudah sepenuhnya dikuasai Belanda, bersama Prof. Dr. Soepomo, Pangeran Mohammad Noor, Soekardjo Wirjopranoto, dan Mr. Jusuf Wibisono, Adinegoro ikut mendirikan majalah perjuangan Mimbar Indonesia. Mingguan ini mendapat sambutan hangat terutama dari kaum Republik, karena isinya menyuarakan semangat perjuangan serta bernafaskan republieken. Di samping mengemudikan Mimbar Indonesia, Adinegoro juga membantu harian Waspada di Medan.

Bersama beberapa wartawan Indonesia, Adinegoro melawat ke Nederland untuk meliput Konferensi Meja Bundar (KMB). Tahun 1949 ia kembali ke Nederland untuk membuat atlas dunia. Inilah atlas pertama dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Djambatan. Dua tahun lamanya dia berada di negeri Belanda untuk menyelesaikan tugasnya itu.

Bersama tokoh-tokoh masyarakat lainnya, Adinegoro mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta yang berkembang menjadi IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Publisistik). Adinegoro pula yang mengambil prakarsa (bersama PWI Cabang Bandung) mendirikan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran Bandung. Beberapa waktu sebelum Adinegoro meninggal dunia, universitas tersebut menganugerahkan gelar Doktor H.C., dalam ilmu publisistik.

Bung Karno pernah menawari jabatan duta besar, tetapi Adinegoro menolaknya. Ia sempat menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Pada akhir hayatnya, Adinegoro bekerja di kantor berita Antara setelah cukup lama bekerja di kantor berita PIA. Djamaluddin Adinegoro, yang pada tahun 1972 dianugerahi penghargaan sebagai Perintis Pers, meninggal dunia pada hari Minggu, 8 Januari 1968 dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan  di Pekuburan Karet. Pada batu nisannya tertulis, “Djamaluddin Adinegoro Gelar Datuk Maradjo Sutan”.

Sejak tahun 1974 PWI Jaya mengabadikan namanya untuk menamai penghargaan bagi karya jurnalistik terbaik yang diselenggarakan setiap tahun. Pada awalnya penghargaan tersebut diberi nama Hadiah Adinegoro, tetapi diubah menjadi Anugerah Adinegoro.

Setelah kurang lebih 20 tahun  menjadi program PWI Jaya, sejak tahun 1994 Anugerah Adinegoro dialihkan menjadi program PWI Pusat, atas kesepakatan antara PWI Pusat, Yayasan Adinegoro dan PWI Jaya.

Medio 2008, namanya juga diabadikan untuk Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro (YPMA) yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS).

(Tim EPI/SIN. Sumber: Soebagijo I.N. 1987. Adinegoro Pelopor Jurnalistik Indonesia, Cet.I, Jakarta: CV Haji Masagung. Soebagijo I.N. Jagat Wartawan Indonesia. Yosar Anwar. 1978.  5 Tahun Hadiah Adinegoro, Cet.I, Jakarta: PWI Jaya, E. Soebekti. 1998. Setengah Windu Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin, Cet.I, PWI Jaya).