Sabtu, 20 Oktober 2018

Jelang Kongres PWI, HCB: PWI Harus Kembali Ke Khittah

 

 

 

 

 

Kongres XXIV PWI sudah di ambang pintu. Siapakah kelak Ketua Umum PWI Periode 2018 - 2023, melanjutkan tongkat estafet Margiono, yang telah dua periode memimpin organisasi wartawan terbesar di Tanah Air ini. Kongres PWI akan dilangsungkan di Solo, 27-30 September 2018 mendatang.

Nama-nama pegiat jurnalistik pun mulai muncul sebagai bakal calon Ketua Umum PWI Pusat untuk dipilih dalam Kongres di Solo nanti. Nama yang muncul tentunya bukan nama yang asing dalam dunia jurnalis. Hendry CH Bangun yang merupakan salah satu jurnalis senior Kompas menjadi salah satu nama yang akan bertarung merebut kursi Ketua Umum PWI.

 

Baca juga: Jelang Kongres PWI, Teguh Santosa: Saatnya Yang Muda Unjuk Karya

 

Hendry Ch Bangun menjadi anggota biasa PWI pada tahun 1987,  setelah beberapa tahun menjadi calon anggota dan anggota muda sebagaimana lazimnya pada era itu. Dia langsung aktif menjadi pengurus SIWO PWI Jaya terus berlanjut ke SIWO Pusat, lalu Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat dan Sekjen PWI Pusat (2008-2018).

 

Sebagian besar liputannya di bidang olahraga dan meliput berbagai event besar seperti Olimpiade  Seoul 1988 dan Olimpiade Sydney 2000, Tenis Grand Slam AS Terbuka 1991 dan Australia Terbuka 1992, Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di Kopenhagen (1991), Birmingham (1993), Lausanne (1995), Asian Games Seoul (1986), Beijing (1990), Hiroshima (1994), Bangkok (1998), Busan (2002). Karena bertugas banyak di bulutangkis ia meliput kejuaraan All England berkali-kali.

 

Wartawan Kompas kelahiran Medan tahun 26 November 1958 ini sudah menghasilkan tiga buku terkait olahraga: “Wajah Bangsa Dalam Olahraga” (2007), “Meliput dan Menulis Olahraga” (2007), Kumpulan Esei Olahraga (2011). Serta berkontribusi dalam “Apa Siapa Sejumlah Orang Bulutangkis Indonesia: (1994), “Sejarah Bulutangkis Indonesia” (2004). Di samping itu menulis buku puisi “Elegi Bagi Cinta” (2011), dan “ Sunyi Yang Bernyanyi” (2013) serta ikut berkontribusi dalam buku kumpulan cerpen wartawan yang diterbitkan bersamaan dengan Hari Pers Nasional.

 

Bergabung Kompas pada tahun 1984, Hendry sempat menjadi Redaktur Olahraga dan Wakil Redaktur Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1998 bersama sejumlah wartawan senior Kompas dan Grup Majalah Kompas Gramedia dia mendirikan Harian Warta Kota dan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi di sana sampai tahun 2012, untuk kemudian kembali ke Harian Kompas sampai sekarang. Kedudukannya saat ini adalah Wakil Manajer Produksi.

 

Untuk jabatannya itu HCB, begitu inisialnya kala menulis, pernah mengikuti pendidikan manajemen surat kabar lokal yang diadakan Institut Jurnalismus Berlin di Thailand, selama dua pekan, pada Mei tahun 2000. Selanjutnya pada November tahun yang sama melakukan studi banding selama 10 hari untuk melihat kantor penerbitan dan serikat pekerja pers, di Berlin, Frankfurt, dan Bonn.

 

Terus Belajar Agar Profesionalisme Terjaga

 

Pada tahun 1986 Hendry Ch Bangun terpilih menjadi anggota Dewan Pers dan akan berakhir pada tahun 2019. Saat ini dia menjadi Ketua Komisi Pendidikan dan Peningkatan Kompetensi serta Wakil Ketua Komisi Pengaduan. Dalam terkait kegiatan memediasi pengaduan dan komplain terhadap karya jurnalistik atau sebaliknya pengaduan dari media terhadap masyarakat. Pada tahun 2017 Hendry mengikuti pelatihan di Pusat Mediasi Nasional dan saat ini menjadi Mediator Bersertifikat PMN.

 

SEMPAT menjadi asisten dosen di Fakultas Sastra UI (1982) dan mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia di STIE Perbanas dan Universitas Jayabaya, Hendry memiliki obsesi di bidang pendidikan. Di sela bekerja di Kompas dan aktif di Dewan Pers dan PWI, Hendry berhasil meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Prof Dr Moestopo (B). Dia bercita-cita akan terus kuliah karena bagi Hendry wartawan harus terus belajar agar profesionalismenya terjaga walaupun usia semakin lanjut.

 

Itu sebabnya bagi dia program pendidikan dan pelatihan yang dicanangkan Ketua Umum PWI Margiono (2008-2018) sangat tepat bagi PWI yang merupakan organisasi terbesar dan berperan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Peningkatan kapasitas merupakan tanggung jawab PWI agar kapasitas anggota-anggotanya semakin meningkat, dan profesionalisme semakin menyentuh para anggota yang belum mendapat sentuhan pelatihan dari media tempat mereka bekerja.  Dan PWI dapat melukan peran itu karena PWI sudah terbukti kredibel sehingga dapat mengajak kerja sama berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintahan setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

 

Apabila wartawan anggota PWI profesional, akan lebih mudah bagi mereka untuk  bekerja dengan baik, baik di dalam perusahaan maupun ketika coba mendirikan media sendiri dengan bantuan teman atau pemilik modal. Posisi tawar mereka juga akan lebih tinggi karena mereka lah yang sebenarnya menjadi jantung dari media itu, wartawanlah yang menentukan hidup mati sebuah media.

 

PWI Harus Kembali ke Khittah

 

Dalam pandangan Hendry, PWI juga harus kembali ke khittah saat pendiriannya di Solo pada 9 Februari 1946, yang menyatakan bahwa “tiap wartawan Indonesia berkewajiban bekerja bagi kepentingan Tanah Air dan Bangsa serta selalu mengingat akan Persatuan Bangsa dan Kedaulatan Negara”. Kondisi mutakhir bangsa kita saat ini membutuhkan wartawan yang harus faham bahwa pertama-tama dia adalah orang Indonesia yang harus mengedepankan rasa cinta tanah air, baru kemudian dia seorang wartawan yang bertugas untuk membantu bangsanya melalui pemberitaan yang inspiratif, solutif, memikirkan kemajuan bangsa dan negara.

 

Tentu saja ini tidak mudah karena sudah bukan lagi zamannya dilakukan indroktrinasi seperti di era Orde Baru. Yang perlu dilakukan adalah mencapai platform berpikir yang sama melalui diskusi, dialog, belajar, dan terjun ke lapangan agar melihat realita yang dialami masyarakat.

 

Sebagai organisasi yang sudah berhasil melewati masa-masa sulit baik karena pengaruh eksternal maupun di internal sendiri, PWI yang masih “dirawat” senior-seniornya akan dapat secara pelahan tapi pasti menjadi organisasi seperti yang dicita-citakan para pendirinya. [Humas]