Sabtu, 20 Oktober 2018

Jelang Kongres PWI, Sasongko Tedjo: Ibarat Mendaki Gunung, Saya Menuju Puncak

Kongres XXIV PWI sudah di ambang pintu. Siapakah kelak Ketua Umum PWI Periode 2018 - 2023, melanjutkan tongkat estafet Margiono, yang telah dua periode memimpin organisasi wartawan terbesar di Tanah Air ini. Kongres PWI akan dilangsungkan di Solo, 27-30 September 2018 mendatang.

Nama-nama pegiat jurnalistik pun mulai muncul sebagai bakal calon Ketua Umum PWI Pusat untuk dipilih dalam Kongres di Solo nanti. Nama yang muncul tentunya bukan nama yang asing dalam dunia jurnalis. Diantaranya adalah Sasongko Tedjo yang kini menjadi Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat.

Menuju Puncak Karier di PWI

"Kalau sekarang saya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PWI, maka ibarat mendaki gunung maka akan menuju puncak", kata Sasongko Tedjo, Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat periode 2008-2013 dan 2013-2018. Kariernya sebagai wartawan dan juga aktivis organisasi wartawan yang tertua dan terbesar ini sudah lebih 30 tahun sejak 1984.

Sejak menjadi wartawan sudah bergabung ke PWI dan kemudian menjadi seksi wartawan Ekuin PWI Jateng tahun 1986. Setelah itu menjadi bendahara, wakil ketua bidang organisasi sebelum memimpin PWI Jateng selama dua periode mulai tahun 2000 hingga 2008.

Dia tak penuh di periode kedua karena setelah sukses menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional 2008 di Semarang, pada Kongres XXII di Banda Aceh masuk dalam jajaran "kabinet" Margiono yang terpilih sebagai ketua umum baru menggantikan Tarman Azzam. Sasongko menjadi Ketua Bidang Organisasi dua periode sampai sekarang.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika menjadi ketua panpelda Kongres XX PWI yang bersejarah di Semarang.  Ketika itu kongres diadakan di tengah gelombang reformasi dan berhasil menyelamatkan organisasi ini dari tuntutan pembubaran karena dianggap "antek" Orde Baru. Lewat perumusan di Pasal 20 Peraturan Dasar PWI yang menegaskan pengurus PWI tak boleh merangkap pengurus partai politik atau organisasi yang berafiliasi ke parpol, maka selamatlah organisasi ini.

Kariernya sebagai wartawan juga tergolong mulus. Sebagai wartawan muda di Harian Suara Merdeka, dia termasuk yang beruntung karena pada usia 30 tahun sudah menjadi wakil pemimpin redaksi pada media yang lahir 11 Februari 1950 dan termasuk sembilan koran perintis di Indonesia. Dia kemudian memimpin korannya wong Jawa Tengah itu selama 20 tahun sebagai pemimpin redaksi dan Direktur Pemberitaan Suara Merdeka Network sebelum akhirnya menjadi redaktur senior.

"Sekarang waktu saya bisa lebih banyak untuk PWI" , kata salah seorang penerima Press Card Number One itu. Ditegaskan, kalau dipercaya dirinya masih siap melanjutkan dan menuntaskan "pengabdian" ini. Meminjam istilah Wapres Jusuf Kalla, dia mengatakan akan "mewakafkan" tenaga dan pengalamannya selama ini untuk terus berada di PWI. " Tentu kalau diberikan amanah", ujarnya.

Bagi Sasongko yang menyelesaikan pendidikan formalnya S1 dan S2 di Fakultas Ekonomi Undip dan pendidikan manajemen di IPPM Jakarta itu, berorganisasi seperi hobi atau menjadi passion nya. " Jangan jangan itu DNA saya", katanya berseloroh. Maklumlah selain PWI dia juga banyak aktif di organisasi lain. "Tapi kalau politik kok belum pernah tertarik" katanya.

Saat ini dia juga menjadi Ketua Bidang Organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat dan Dewan Pakar di DPP IKA Undip. Sebelumnya  menjadi Wakil Ketua Kadin Jateng, Wasekjen Press Foundation of Indonesia, Wakil Ketua ISEI Semarang, anggota Dewan Evaluasi Kota Provinsi Jateng dan Pertimbangan Pembangunan Kota Semarang. Selain itu juga mengajar di Pascasarjana Undip. " Pekerjaan menulis dan mengajar itu kan senafas. Juga menguji kompetensi.wartawan", katanya.

Ketika ditanyakan tentang PWI ke depan dia terdiam sejenak dan mimik mukanya berubah serius. " Ini organisasi besar dan bersejarah yang sedang mengalami tantangan tidak ringan" katanya. Lanskap media berubah, baik platform maupun perilaku media dan audiensnya pun berubah. "Kalau  terpilih maka yang pertama akan saya lakukan membentuk dan mengaktifkan seksi wartawan online agar mereka tak perlu membentuk organisasi sendiri" tegasnya.

Menurutnya, dari tahun ke tahun jumlah anggota PWI menurun walaupun tetap jauh lebih banyak dibanding organisasi wartawan lain. Namun ini perlu segera disikapi. Sebagai organisasi wartawan idealnya juga bisa menjangkau mayoritas wartawan. "Perlu ada crash program untuk rekrutmen " ujarnya. Untuk itu, kata Sasongko, tak boleh ada ketimpangan antarprovinsi yang terlampau besar.

Harus dibuat platform program nasional yang didasarkan pemetaan kapasitas organisasi sampai provinsi. Harus maju bersama. " "Baik juga kalau ketua umum PWI yang pernah jadi ketua provinsi sehingga lebih paham kondisi daerah" katanya "berkampanye"

Namun dia juga mengingatkan pentingnya menjaga kiprah dan eksistensi di level nasional maupun internasional. Peran PWI dalam mengatur kehidupan pers nasional haruslah tetap menonjol. Baik melalui Dewan Pers, revisi Undang Undang Pers dan lain lain. Harus diakui 10 tahun terakhir kita sudah on the right track seperti keberhasilan UKW dan berbagai program pendidikan. "Semua menjadi modal untuk lebih hebat ke depan", katanya.