Sabtu, 20 Oktober 2018

Media Sosial Adalah Cerminan Jati Diri

Pengguna media sosial (medsos) seperti Twitter, Facebook, dan Instagram, dituntut sadar, bijak, santun, anggun, dan hati-hati ketika menulis  status atau cerita-cerita di dalamnya.

Semua deretan isi, termasuk foto yang diunggah penggunanya  bisa menentukan baik buruknya  masa depan, termasuk karier.

Isi media sosial adalah cerminan jati diri masing-masing pengguna. Dan semua  orang bisa membacanya banyak hal, mulai masalah kantor sampai urusan pribadi, mulai  yang sangat sepele sampai yang berat. Dengan demikian, dapat diketahui orang lain  dengan mudah siapa jati diri pengguna sebenarnya.

Sebaiknya medsos diisi dengan pengetahuan yang menjadi keahlian pengguna dan berkawan dengan orang-orang yang mempunyai minat yang sama supaya lebih bermanfaat.

Demikian poin-poin penting yang diungkapkan dalam seminar nasional dalam rangkaian acara Kongres XXIV Persatuan Wartawan (PWI) di Solo, Kamis, 27 September 2018 di Auditorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Seminar bertema “Yang Muda Yang Berkarya, Generasi Milenial Optimis Menatap Perubahan” itu menghadirkan pembicara Agung Yudha, Kepala Perwakilan Twitter Indonesia, Agus Sudibyo (Direktur Media Watch), Fikar R Mohammad (CEO Ceknricek), dan Meidyatama Suryadiningrat (Direktur Utama LKBN Antara).

Seminar dibuka oleh Rektor UMS Dr Sofyan Anif, M.Si, dengan dihadiri ratusan mahasiswa, wartawan, dan sejumlah tokoh pers.

Agung Yudha, menyebut media sosial, seperti Twitter, merupakan daftar riwayat hidup, curriculum vitae (CV) yang terbuka, bisa dibaca semua orang. Bahkan isinya secara keseluruhan bisa dilihat sebagai portfolio— rangkaian pengalaman dan bidang — yang dikuasai pemilik akun media sosial itu.

Oleh karena itu, media sosial bisa menjatuhkan diri pemiliknya sendiri apabila diisi dengan postingan-postingan yang tidak bermutu. “Bisa-bisa diberhentikan dari pekerjaannya atau sulit mendapat pekerjaan karena media sosialnya,” tutur Agung yang menegaskan, media sosial adalah daftar riwayat hidup terbuka bagi penggunanya.

Sementara Meidyatama Suryadiningrat  mengingatkan, para pemain media sosial dan wartawan tidak mengutip informasi di internet karena banyak informasi yang tidak akurat. “Verifikasi, verifikasi, dan verifikasi fakta dan data adalah tugas utama wartawan. Bukan mengutip informasi sana-sini yang belum jelas kebenarannya,” kata Meidyatama yang berharap kita selalu menulis di media sosial dengan santun dan anggun.
                 
Homo Digitalis

Pembicara lainnya, Agus Sudibyo menandai zaman sekarang manusia Indonesia bisa dikatakan sebagai homo digitalis, manusia menjalani hidupnya serba digital. “Jumlah smartphone di Indonesia sekitar 310 juta, lebih besar dari jumlah penduduk Indonesia,” kata Agus.

Zaman sekarang segala kegiatan ditandai dengan penggunaan digital. Cara bekerja, cara berinteraksi, cara berpolitik semua pakai digital. “Pokoknya internet of everything,” ujar Agus.

Agus berharap internet juga digunakan hal-hal yang produktif, seperti untuk berwirausana. [Humas]