Rabu, 20 September 2017

14 Wartawan Somalia di Pengasingan Diancam Bunuh

Nairobi (ANTARA News/AFP) - Empatbelas wartawan Somalia yang mengungsi ke Kenya menyatakan, Kamis, mereka berulang kali diancam dibunuh oleh kelompok garis keras Somalia Al-Shabaab.

Kelompok wartawan itu berkemah Rabu malam di luar markas badan pengungsi PBB UNHCR di Nairobi untuk menunjukkan penderitaan mereka.

Ancaman-ancaman itu disampaikan melalui telepon, email dan pesan teks, kata beberapa dari wartawan-wartawan itu.

Daud Abdi Daud menceritakan bagaimana seorang pejabat Al-Shabaab mengancamnya di telefon dengan kata-kata, "Kami memegang pisau yang akan membunuh anda. Kami belum mengasahnya karena kami menunggu anda."

Ubah Abdi Nur, seorang wartawati Somalia, mengatakan, ia merasa tidak aman di Nairobi.

"Saya menerima telefon dari seorang pejabat Shabaab. Saya tidak bisa memberikan namanya. Saya masih tidak aman. Saya dituduh berbaur dengan orang-orang di Nairobi yang mengutuk hal yang dilakukan Shabaab di Somalia," katanya.

Ibrahim Mohamed Hussein, mantan kepala stasiun televisi Somalia Universal, mengatakan, ia juga telah menerima ancaman mati.

"Telepon yang datang dari Somalia mengatakan, saya tidak jauh dari Shabaab dan menambahkan 'Anda akan dihukum berat'," katanya.

Al-Shabaab, yang berjanji menggulingkan pemerintah sementara Somalia, menguasai wilayah luas di negara itu, dimana sembilan wartawan tewas pada 2009 saja.

"Kami meninggalkan Somalia karena takut dibunuh dan sayangnya ketakutan ini berlanjut meski kami telah mengungsi ke negara tetangga," kata seorang wartawan lain yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Seorang wartawati lain mengatakan, keluarganya telah menerima pesan-pesan "mengkhawatirkan" dan sejak ada pesan itu ia terus berpindah tidur di berbagai tempat.

Selasa, seorang wartawan yang bekerja untuk Radio Mogadishu, Sheikh Nur Abkey, ditembak mati dan mayatnya dibuang di sebuah jalan di ibukota Somalia tersebut.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya, Hezb al-Islam, berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Penculikan, kekerasan mematikan dan perompakan melanda negara tersebut.

Sejak awal 2007, gerilyawan menggunakan taktik bergaya Irak, termasuk serangan-serangan bom dan pembunuhan pejabat, pekerja bantuan, intelektual dan prajurit Ethiopia.

Ribuan orang tewas dan sekitar satu juta orang hidup di tempat-tempat pengungsian di dalam negeri akibat konflik tersebut.

Pemerintah sementara telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan sejumlah tokoh oposisi, namun kesepakatan itu ditolak oleh Al-Shabaab dan kelompok-kelompok lain oposisi yang berhaluan keras.

Gerilyawan muslim garis keras, yang meluncurkan ofensif sejak 7 Mei 2009 untuk menggulingkan pemerintah sementara dukungan PBB yang dipimpin oleh tokoh moderat Sharif Ahmed, meningkatkan serangan-serangan mereka.

Tiga pejabat penting tewas dalam beberapa hari sejak itu, yang mencakup seorang anggota parlemen, seorang komandan kepolisian Mogadishu dan seorang menteri yang terbunuh dalam serangan bom bunuh diri.

Selain pemberontakan berdarah, pemerintah Somalia juga menghadapi rangkaian perompakan di lepas pantai negara Tanduk Afrika itu.