Minggu, 8 Desember 2019

200 Wartawan Tuntut Pembebasan Wartawan Yaman

Sanaa (ANTARA News/AFP) - Sekitar 200 wartawan berpawai di Sanaa, Minggu, untuk menuntut pembebasan wartawan dan aktivis kebebasan pers Tawakel Karman dan tahanan lain, sementara beberapa saksi mengatakan mahasiswa pemrotes di ibukota Yaman itu bentrok dengan polisi.

Kelompok wartawan itu bergerak dari kantor serikat mereka menuju kantor kejaksaan untuk menuntut pembebasan para tahanan itu, namun mereka kemudian pergi tanpa memperoleh keterangan mengenai tahanan-tahanan itu, kata peserta yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Karman, yang diketahui mengambil bagian dalam protes pro-pemberontakan Tunisia yang juga mendengarkan seruan-seruan perubahan politik di Yaman, memimpin kelompok hak asasi Wartawati Tanpa Borgol.

 

Polisi Yaman menangkap Karman di sebuah jalan utama ketika wanita itu pulang bersama suaminya pada Sabtu malam, kata beberapa aktivis hak asasi yang menolak disebutkan namanya.

Alasan penangkapannya tidak jelas, namun ia ditahan di sebuah penjara utama di Sanaa, kata keluarganya.

Seorang pejabat keamanan mengatakan, penangkapan itu dilakukan setelah ada surat perintah penangkapan dari pengadilan, namun tidak jelas alasannya.

Karman, anggota komite pusat partai oposisi Islamis Al-Islah, mengambil bagian dalam demonstrasi di Sanaa untuk mendukung pemberontakan rakyat di Tunisia yang akhirya menjatuhkan Presiden Zine El Abidine Ben Ali setelah berkuasa selama 23 tahun.

Sementara itu, Minggu, bentrokan meletus di luar Universitas Sanaa ketika pasukan keamanan berusaha membubarkan puluhan mahasiswa dan aktivis yang menyerukan perubahan politik, kata beberapa saksi. Protes itu akhirnya dibubarkan.

Sabtu, ratusan mahasiswa Universitas Sanaa mengadakan pawai di kampus dan beberapa orang menyerukan pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh, sementara yang lain memintanya tetap bertugas.

Saleh, yang telah berkuasa selama puluhan tahun, terpilih lagi pada September 2006 untuk mandat tujuh tahun.

Yaman hingga kini juga masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mendesak rakyat Yaman tidak mendengarkan seruan-seruan pemisahan diri, yang katanya sama dengan pengkhianatan.

Yaman adalah negara leluhur pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden dan menjadi pangkalan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) dan tempat peluncuran bagi serangan-serangan dengan sasaran AS.

Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut.

Yaman menjadi sorotan dunia ketika sayap regional Al-Qaeda AQAP menyatakan mendalangi serangan bom gagal terhadap pesawat penumpang AS pada Hari Natal. (*)