Minggu, 8 Desember 2019

Pembunuh Wartawan Filipina Akui Dibayar

Manila (ANTARA News/AFP) - Polisi Filipina, Selasa mengatakan seorang pria bersenjata yang membunuh wartawan mengaku melaksanakan tindakan itu dengan mendapat upah 150.000 peso (3,370 dolar Amerika Serikat).

Polisi mengatakan pembunuh itu mengemukakan kepada mereka setelah ia ditahan  bahwa ia dan seorang temannya, yang belum tertangkap telah dikontrak untuk membunuh penyiar radio Gerardo Ortega, Senin untuk menghentikan kecamannya terhadap orang yang memiliki pengaruh yang tidak disebutkan namanya.

"Dua orang yang membayar mereka mengatakan bos mereka ingin membungkamkan Ortega," kata Inspektur kepala polisi Roland Amurao  kepada AFP. Ia menambahkan, mereka mungkin bekerja untuk kepentingan-kepentingan pertambangan.

 

Mereka pertama kali memberikan uang masing-masing 10.000 peso dan sejumlah dana operasi, dan sisanya dibayar setelah pembunuhan itu dilaksanakan."

Dia mengatakan jumlah uang yang diberikan kepada para pembunuh itu  150.000 peso, satu jumlah yang cukup besar di Filipina di mana sepertiga penduduknya hidup dengan pendapatan 45 peso (satu dolar) sehari.

Ortega ditembak d kepala ketika sedang berada di sebuah toko busana di Puerto Prncesa, ibu kota pulau Palawan, Senin pagi segera setelah ia menyelesaikan siaran hariannya.

Pria bersenjata itu, Marlon de Camata, ditahan ketika sedang berusaha melarikan diri dari lokasi itu, kata polisi.

Identitas dari orang yang berada dekat de Camata serta mereka  yang diduga adalah "bos" masih diverifikasi dan tidak bisa diumumkan karena masih dalam penyelidikan, kata Amurao.

Akan tetapi, ia mengatakan kepemilikan senjata yang digunakan dalam penembakan itu sedang dilacak pada seorang pengacara yang diketahui mewakili kepentingan-kepentingan pertambangan di masa lalu.

"Kami sedang mengarah pada itu sebagai satu motif yang mungkin.  Komentar-komentar keras Ortega ditujukan terhadap  perusahaan-perusahaan pertambangan  yang ia tuduh  merusak lingkungan Palawan," kata Amurao.

Ia menyebut wartawan yang dibunuh itu sebagai satu pecinta lingkungan yang kuat.

Kelompok -kelompok media dan hak asasi manusia mengatakan  Filipina adalah salah satu dari tempat-tempat paling berbahaya bagi wartawan. Mereka mengatakan satu budaya kebebasan dari hukuman di negara itu , di mana tokoh-tokoh yang berpengaruh sering menggunakan tindakan melawan hukum dan penyebaran senjata-senjata api.

Ortega adalah wartawan yang ke 142 yang tewas sejak jatuhnya  diktator Ferdinand Marcos dan pemulihan demokrasi tahun 1986, kata pehimpunan wartawan Filipina.

Kejadian paling buruk, 30 wartawan  termasuk di antara 57 orang  yang dibunuh di Filipina tahun 2009, agaknya oleh para anggota satu marga yang berpengaruh yang ingin menyingkirkan pesaing politiknya. (*)