Minggu, 26 Mei 2019

Langgar KEJ, Sertifikat SJI Dicabut

Jambi  (ANTARA News) - Ketua Umum Yayasan Sekolah Jurnalistik Indonesia Marah Sakti Siregar menyatakan akan mencabut sertifikat kelulusan, bahkan bagi lulusan terbaik sekalipun bila alumnus sekolah itu terbukti melanggar kode etik jurnalis.

"Tidak perduli dia lulusan terbaik atau tidak. Melanggar kode etik, sertifikatnya kita cabut," kata Marah Sakti Siregar usai penutupan resmi pendidikan dan latihan SJI di gedung Aula SMK N 4 Kota Jambi.
Pernyataan itu disampaikannya guna mengingatkan seluruh peserta didik Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) Cabang Jambi yang telah tuntas mengikuti pendidikan dan latihan yang digelar beberapa waktu lalu, dan kini ditutup secara resmi oleh Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar.

Ia juga mengingatkan, agar peserta memegang teguh etika jurnalis sebagai integritas dan citra diri insan pers. selain itu, mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan dalam melakukan aktivitas jurnalis secara baik dengan penuh dedikasi, berwawasan dan profesional.

Sebab, menurut dia, tujuan diadakannya sekolah jurnalistik bagi insan pers untuk membentuk kepribadian wartawan yang menghargai dan menghormati profesinya sendiri dengan tidak melakukan perbuatan tercela, terutama pelanggaran kode etik sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Pers.

Selain itu juga, kegiatan SJI untuk meningkatkan kualifikasi wartawan.  Para kuli disket diberi bekal pendidikan terkait ilmu jurnalis dan ilmu umum lainnya sehingga diyakini, setelah mengikuti pendidikan dan menyandang sertifikat SJI, memiliki kemampuan yang handal untuk menjalankan tugas dan fungsinya di lapangan.

Mereka yang dididik, diharapkan dapat memahami dan menjalankan amanah dengan menjunjung tinggi etika jurnalis. Selain itu, memiliki kemampuan menjalani tugas dan tanggung jawabnya sebagain insan pers yang berkualitas dan profesional serta senantiasa mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan kelompok, golongan dan bahkan kepentingannya sendiri.

"Wartawan yang mau belajar, media yang mengirimkan wartawannya untuk belajar kita didik melalui SJI, kita didik wartawan sehingga memiliki integritas, berkualitas dan profesional," kata Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat itu.

Usai pendidikan, mereka diberi sertifikat SJI yang diakui oleh Dewan Pers.

Ke depan, menurut dia, hanya wartawan yang memiliki kompetensi yang akan muncul ke permukaan. Mereka diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk kepentingan orang banyak.

Ia pun menyakini, sesuai tujuan diselenggarakannya SJI, para alumnus nantinya akan mampu menjaga nilai-nilai etika yang sudah ada dan memiliki kemampuan dan profesional dalam menjalankan tugas jurnalisnya di lapangan.

Selain itu juga mampu menghasilkan karya tulisan yang berkualitas sehingga dapat mendorong terciptanya pencerdasan kehidupan bangsa, terutama bagi masyarakat Jambi.

"Untuk pengawasan prilaku alumnus SJI, masing-masing kepala sekolah diberikan wewenang untuk melakukan penilaian dan tindakan dan prosedurnya sudah kita tetapkan," katanya.

Saat ini SJI sudah menyebar di delapan provinsi di Indonesia, yaitu Jambi, Palembang, Bandung, Semarang, Samarinda, Lampung, Makassar dan Kalimantan Selatan. (*)