Jumat, 23 Agustus 2019

Polisi Tahan Empat Tersangka Pembakar Rumah Wartawan

Kupang (ANTARA News) - Kepolisian Resor (Polres) Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menahan empat tersangka pelaku pembakaran rumah wartawan Rote Ndao News dan Erende Pos, Dance Henuk, yang terjadi pada Senin (12/12).

"Kami sudah tetapkan empat orang sebagai tersangka dan telah ditahan," kata Kapolres Rote Ndao,  AKBP Widi Atmono, yang dihubungi dari Kupang, Selasa.

Dia mengatakan, empat tersangka pembakaran yang sudah ditahan aparat itu, masing-masing Yonas Nalle (50), Simon Zakharias (21), Paulus Nalle (22) dan Josi Tine (19).

"Saat ini keempat tersangka itu sudah kita tahan dan mendekam di sel Mapolres Rote Ndao," kata Widi Atmono.

Penetapan empat tersangka tersebut, berdasarkan hasil pemeriksaan sejumlah saksi dan pengumpulan alat-alat bukti yang digali aparat Polres Rote Ndao di tempat kejadian perkara sebelumnya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap empat tersangka tersebut, terbukti salah seorang tersangka Yonas Nalle yang menyuruh tersangka lainnya untuk membakar rumah wartawan itu, karena telah dituduh sebagai pelaku santet yang mengakibatkan anak korban pembakaran Dance Henuk atas nama Gino Novitri Henukh meninggal.

"Pengakuan mereka karena dendam, karena dituduh sebagai pelaku santet," kata Kapolres.

Menurut Kapolres hasil pemeriksaan tersangka, aksi pembakaran rumah itu tidak tersangkut dengan kasus pemberitaan Tabloid Rote Ndao News dan Erende Pos tentang dugaan korupsi dana translok bantuan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebesar Rp3,1 miliar.

"Tidak ada keterkaitan dengan pemberitaan di media masa," katanya.

Dance Henuk yang dihubungi terpisah dari Kupang membenarkan empat tersangka yang telah ditetapkan oleh penyidik Polres Rote Ndao itu sebagai pelaku utama pembakaran rumahnya.

Dia mengatakan, Yonas Nalle dan Paulus Nalle yang menyuruh Josi Tine dan Simon Zakharias untuk membakar rumahnya. "Mereka itu yang membakar rumah saya," katanya.

Menurut Dance, api berasal dari kamarnya saat sedang terlelap tidur bersama istrinya yang membuat panik istrinya sesaat setelah api menjalar dan masuk ke dalam kamar tidur korban.        

"Istri saya kaget dan bangun saat api sudah membakar kamar kami," katanya.

Terhadap alasan para tersangka yang diutarakan kepada penyidik sebagai alasan aksi pembakaran rumah tersebut, Dance membantahnya.

"Tidak pernah terjadi tuduhan santet dari saya sebagaimana yang dijadikan alasan oleh para tersangka. Murni ini karena pemberitaan saya tentang korupsi," kata Dance tegas.

Kapolda NTT Brigjen Polisi Riky HP Sitohang, terpisah di Mapolda NTT kepada wartawan mengatakan, telah mendapatkan laporan tentang penangkapan dan penahanan empat tersangka pelaku pembakaran tersebut.

Mantan Kapolres Alor itu mengatakan, aparat penyidik akan terus melakukan pengembangan penyidikan untuk mempertegas alasan serta motif yang berada di balik aksi pembakaran tersebut demi penegakan hukum.

Dia mengatakan, dengan pengembangan penyidikan tersebut, tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan tersangka lain serta motif di balik aksi pembakaran rumah wartawan itu.

Tentang alasan tersangka bahwa aksi tersebut dilakukan sebagai balas dendam atas tuduhan korban soal santet, mantan Direktur Reserse dan Kriminal Polda NTT itu mengatakan, itu hak tersangka untuk memberikan alasan sebagai alibi dalam pemeriksaan.

Namun demikian, aparat kepolisian akan tetap terus melakukan upaya penyidikan untuk mengungkap kasus tersebut secara terang benderang, demi penegakan hukum di negeri dan daerah ini.

Aksi kekerasan terhadap Dance Henukh wartawan Rote Ndao News yang disertai dengan aksi pembakaran kediaman korban itu terjadi pada Minggu (11/12) dan Senin (12/12) dini hari di Desa Kuli, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao, Pulau Rote, sekitar 40 mil dari Kupang, oleh orang-orang tidak dikenal.

Kasus ini baru diketahui dua hari sesudahnya, karena tidak adanya jaringan komunikasi di lokasi tempat kejadian perkara (TKP) dengan Ba'a, ibu kota Kabupaten Rote Ndao.

Massa juga sempat menyerang dengan lemparan batu dan kayu, hingga Dance dan istrinya harus kehilangan anaknya yang masih bayi bernama Gino Novitri Henukh karena shock. (*)