Jumat, 23 Agustus 2019

Dunia Islam Gagas Pusat Pembangunan Media

Jakarta (ANTARA News) -  Gagasan  pembangunan Pusat Pengembangan Media Islam (Islamic Media Development Center/IMDC) di Indonesia  guna meningkatkan profesionalisme wartawan dan media massa di negara-negara dengan mayoritas penduduk  beragama Islam muncul di tengah Konferensi Internasional mengenai Media Islam ke-2 yang berlangsung di Jakarta, Rabu.

"Kehadiran Pusat Pengembangan  Media Islam akan menguntungkan semua pihak," kata man Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Parni Hadi, selaku salah seorang pembicara dalam pertemuan akbar yang diikuti sekitar 400 wartawan, akademisi dan pengamat dari 40 negara  tersebut.
IMDC, lanjutnya, diharapkan mampu menggalang dana dari sponsor atau kalangan industri pers di negara-negara yang mayoritasnya beragama Islam untuk membiayai  program pelatihan bagi  wartawan atau mendidik agar masyarakat melek jurnalistik (journalistic literacy).

Parni  berpendapat, hanya dengan kemampuan teknologi dan sumber daya manusia yang berkualitas, maka media di negara-negara yang mayoritas warganya pemeluk Islam, akan mampu mengatasi ketidakseimbangan arus informasi khususnya dari pihak-pihak yang memusuhi  atau berupaya membangun citra buruk tentang Islam.

Menurut dia, pencitraan Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) harus dibangun melalui media yang terpercaya, misalnya TV Al Jazeera yang dinilai cukup berhasil  dan diakui kredibilitasnya.

"Memang belum banyak media  milik dunia Islam yang mampu melakukannya,"  tutur mantan pemimpin  Kantor Berita ANTARA, Harian Republika dan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI)   tersebut.

Gagasan Parni itu mendapat dukungan dari berbagai pembicara yang berasal antara lain dari Arab Saudi, Sudan dan Malaysia.

Dr. Malik I. Alahmad, pimpinan Media Consultation and Research dari Arab Saudi, mengatakan bahwa Dunia Islam memerlukan suatu pusat seperti yang digagas Parni Hadi.

"Mari kita mulai sesuatu dari yang dasar untuk membentuk pusat seperti itu yang dapat melatih jurnalis dari berbagai negara berpenduduk Islam," kata Malik.

Dia mengatakan, dirinya bersama sejumlah rekannya telah membahas pembangunan suatu pusat media Islam dua tahun lalu untuk melatih jurnalis dari media online, cetak atau televisi.

Menurut dia, Indonesia dapat menjadi pusat pengembangan media Islam karena memiliki berbagai fasilitas yang memadai.

Malik mengatakan, dirinya siap memberi donasi  awal sebesar 10.000 dolar AS bagi pembentukan pusat media Islam itu dan dana lainnya bisa berasal dari berbagai organisasi seperti Liga Islam Sedunia yang menyelenggarakan konferensi itu bersama Kementerian Agama RI.

Ketua Dewan Nasional bagi Pers dan Publikasi Jurnalistik, Prof. Ali M. Shummo, dari Sudan, juga menyatakan dukungannya bagi pembentukan suatu pusat  Media Islam.

"Ini gagasan bagus yang muncul dalam konferensi ini  untuk memberikan ilmu pengetahuan dan teknologi  jurnalisme," kata mantan menteri penerangan Sudan itu.

Dalam jumpa pers Prof. Ali menyatakan media asing seperti BBC dengan laporan-laporannya  telah membentuk opini publik di negaranya sehingga memecah Sudan menjadi Sudan Utara dan Sudan Selatan.

Dia juga mengatakan bahwa media baru tidak hanya membawa hal positif tetapi juga hal negatif.

Dekan Fakultas Komunikasi dan Media Universitas Selangor, Malaysia, Prof. Azmuddin Ibrahim PhD mendukung Indonesia   untuk menjadi pusat pengembangan media Islam. (*)