Minggu, 26 Mei 2019

Mat Kodak tiada lagi

Jenazah Ed "Mat Kodak" Zoelverdi dalam keranda

di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kemiri, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu.

Jenazah penerima Pers Card Number One (PCNO) itu diiringi sejumlah tokoh pers,

antara lain Atmakusumah Astraatmadja (kanan, baju coklat),

dan Abdullah Alamudi (kiri, berpeci dan kacamata hitam).

 

Oleh: Oscar Motuloh, fotografer ANTARA 

Jakarta (ANTARA News) - Mantan redaktur foto majalah Tempo Ed Zoelverdi, alias Bang Ed yang dikenal juga dengan sebutan Mat Kodak, akhirnya tutup usia pada Rabu dinihari (4/1) sekitar pukul 02.00 WIB setelah beberapa bulan lalu menderita sakit kronis.

Ed yang dilahirkan di Banda Aceh wafat dalam usia 67 tahun di rumah sahabatnya, ibu Fatimah, di Jalan Mirah Delima 2 Nomor 5, kawasan Komplek Kodam Sumur Batu, Sunter, Jakarta.

Kabar duka disampaikan melalui layanan pesan singkat (SMS) oleh tetangga dan sahabat almarhum, Boy Mangan beberapa saat setelah pewarta foto kawakan yang memulai karir di harian KAMI pada medio 1960-an menutup mata untuk selama-selamanya dengan tenang di tempat tidurnya, setelah sempat dirawat di Griya Puspa RS Persahabatan Rawamangun hampir sebulan lamanya.

 

Pria jangkung kelahiran 12 Maret 1943 yang kerap mengenakan safari berwarna gelap dengan kantong ballpen khusus di lengan kirinya yang khas itu, awalnya adalah seorang desainer grafis otodidak.

Ia juga sangat berminat pada dunia seni visual, bahkan sempat belajar melukis pada Nashar dan Oesman Effendi di Balai Budaya Jakarta sebelum mulai menulis dan menjadi fotografer di harian KAMI.

Dalam suatu percakapan dengan penulis di Galeri Foto Jurnalistik ANTARA ketika Ed Zoelverdi hadir untuk suatu diskusi sehubungan dengan pameran World Press Photo 2006, dia menyatakan bahwa yang melatihnya menulis, hingga dia fasih berakrobat kata-kata, adalah Goenawan Mohamad yang kemudian menjadi bosnya di majalah Tempo saat berkantor di kawasan Senen.

Sebelum bergabung dengan Tempo, Ed juga ikutan mendirikan majalah berita mingguan bernama Ekspres.

Setelah berkarir cukup panjang sebagai pewarta foto dan redaktur foto Tempo (1971-1994), Ed bergabung sekitar lima tahun dengan majalah Gatra sebagai editor dan kerap menulis kolom fotografi.

Ia belajar fotografi secara otodidak dari kamera pinjaman, pada akhir dekade 1960-an.

Namanya kemudian akrab disebut sebagai Mat Kodak karena buku fotografi jurnalistik pertama yang ditulisnya menggunakan judul "Mat Kodak, Melihat Untuk Sejuta Mata" diterbitkan PT Grafitipers pada 1985 ternyata sangat diminati penggemar fotografi.

Buku tersebut adalah kitab fotografi jurnalistik pertama dalam era pers modern Indonesia yang membahas cukup lengkap persoalan jurnalisme visual yang disajikan secara popular dan terkadang jenaka.

Mat Kodak kemudian menjadi bacaan popular anak-anak muda yang berminat mempelajari dunia fotografi jurnalistik yang pada saat itu sangat langka kepustakaannya.

Mat Kodak, kemudian dilanjutkan penerbitannya dengan sejumlah buku terbatas yang ditulisnya, termasuk "Berselancar dengan Cahaya".

Berisi bunga rampai tulisan perihal pegalamannya perihal fotografi yang telah digelutinya nyaris sepanjang nyawa masih dikandung badan.

Karakter Ed yang keras menjadikannya terkesan arogan. Pada pewarta foto muda Tempo pada suatu ketika, dia tak segan melempar cetakan foto seenaknya ke angkasa sembari mencibir, karena dia tak merasa tak berkenan dengan karya foto tersebut.

Namun, Ed sesungguhnya adalah personal yang terbuka jika diajak berdiskusi perihal fotografi atau seputar dunia visual lainnya.

Berdebat dengan sedikit mengerenyitkan dahi adalah hal yang biasa dengan dia, apalagi jika ditemani dengan secawan muk kopi hitam panas.

Dalam melakukan penjurian fotografi misalnya, Ed juga kadang-kadang "menguji" anggota juri lainnya, apalagi jika berusia jauh lebih muda ketimbang dirinya.

Jika intimidasinya sukses, maka bersiaplah sang juri pemula itu menjadi inferior dan menjadi seperti kerbau dicocok hidungnya. Sementara Ed tertawa tertahan di belakang ruangan, menikmati "hasil" ujiannya, sambil menyedot kretek kesayangannya dalam-dalam.

Semasa Ed aktif di Kelompok Kerja (Pokja) Foto Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dia berhasil memamerkan koleksi pemenang kontes "World Press Photo" (WPP) untuk pertama kalinya di Indonesia pada 1990.

Bekerjasama dengan Kedubes Belanda dan beberapa sponsor lain, Pokja Foto PWI masih sempat menggelar dua kali pameran WPP di tahun-tahun berikutnya.

Dia juga mengajar fotografi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), dan menjadi juri serta pembicara disejumlah arena fotografi.

Sebelum perokok berat dan penggemar berat kopi hitam ini mulai menderita sakit, Bang Ed sempat mendiskusikan keinginannya untuk mendirikan museum fotografi di kampung halamannya, Bukittinggi, Sumatera Barat, sambil menulis perihal fotografi dan menikmati hari tuanya di kota indah nan sejuk itu.

Sayang sebelum semua cita-cita di hari tuanya tercapai, Tuhan berkehendak lain. Jenasah Mat Kodak dimakamkan pada Rabu, 4 Januari 2012, di kawasan TPU Kemiri Rawamangun. Jasad nya akan kembali ke tanah, namun karya-karya tetap abadi.

Selamat Jalan Bang Ed. Ars Longa Vita Brevis. (*)