Minggu, 26 Mei 2019

Jitet Kompas Raih Anugerah Karikatur Adinegoro dan Rp50 Juta

Jakarta (PWI News) - Karikatur jurnalistik berjudul ASING karya Jitet Kustana dari harian Kompas terpilih mendapat Anugerah Adinegoro 2011, yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2012.

Dewan juri Anugerah Adinegoro untuk kategori jurnalistik karikatur, Pramono R. Pramoedjo (karikaturis), Dolorosa Sinaga (pekerja seni, pematung) dan Yusuf Susilo Hartono (Ketua Seksi Kebudayaan PWI Pusat, Pemimpin Redaksi Majalah Visual Arts) dalam sidang di Jakarta, Kamis 19 Januari 2012 menetapkan karikatur tersebut sebagai pemenang, menyisihkan 44 karya karikatur lain yang masuk ke meja panitia.

Sejumlah karya karikatur yang diseleksi itu berasal dari kiriman para peserta atas seluruh karya yang disiarkan media massa di Indonesia sejak Januari hingga 31 Desember 2011.

 

Panitia Anugerah Adinegoro 2011 menyediakan hadiah sebesar Rp50.000.000,- bagi peraih Anugerah Adinegoro serta trofi yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2012 pada tanggal 9 Februari di Jambi.

Terdapat tiga karya yang diunggulkan oleh para juri yaitu Asing karya Jitet Kustana – Kompas, Pengadilan Tipikor karya Mugi Suryana – Solo Pos dan The Singer President karya Tommy Thomdean – The Jakarta Post. Karya tersebut memiliki perspektif yang berbeda yaitu, mengingatkan tentang nasionalisme, humanisme serta hukum dan keadilan.

Pemenang kategori karikatur ini menampilkan gambar ikan di atas piring yang tersisa berupa serpih-serpih daging yang menyiratkan situasi Indonesia yang sudah tidak memiliki apa-apa dan gambar ini mengingatkan pembaca akan situasi yang kritis dan agar tidak mati rasa terhadap Keindonesiaan.

Ketua dewan juri, Pramono menyebutkan, kualitas karya yang masuk tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya meskipun dari sisi jumlah lebih sedikit dan yang lebih menggembirakan ada beberapa pendatang baru.

Pramono mengharapkan akan ada pembinaan lebih lanjut untuk menumbuhkan karikaturis muda antara lain dengan memberikan penghargaan seperti ini.

Astrid B. Soerjo, pengurus PWI dan juga putri Adinegoro memberi komentar bahwa hampir semua karya karikatur menampilkan suasana yang muram, kurang menyajikan suasana humor. Tahun lalu meskipun banyak tema karikatur bencana alam tetapi bisa membuat ”tertawa”.

Anugerah Adinegoro pada tahun ini menilai karya jurnalistik dalam lima kategori yaitu jurnalistik tulis untuk karya jurnalistik berkedalaman (Depth News), Tajuk Rencana/Opini, Foto Jurnalistik, Karikatur Opini dan Jurnalistik Televisi, masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah masing-masing kategori Rp50 juta.

Selain itu juga akan diberikan penghargaan khusus berupa jurnalistik inovasi untuk kategori siaran berita melalui media on line (cyber journalism) untuk satu pemenang dengan hadiah Rp10.000.000,-

Penilaian atas seluruh kategori saat ini sedang berlangsung secara bertahap dan dijadualkan selesai pada tanggal 1 Februari 2012.

Untuk kategori jurnalistik tulis terkumpul 33 karya, tajuk rencana 33 karya, jurnalistik foto 175 karya, jurnalistik televisi 33 karya, cyber journalism 13 karya.
 
Persatuan Wartawan Indonesia
 Adinegoro

Penghargaan Anugerah Jurnalistik Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional, pada tahun ini ditetapkan untuk tema bebas.

Anugerah Adinegoro mengabadikan nama tokoh pers nasional Adi Negoro alias Adinegoro, yang bernama lahir Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sultan (14 Agustus 1904 – 8 Januari 1967), yang semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun 1931 serta menjadi pemimpin redaksi Pandji Poestaka dan kemudian pemimpin redaksi Pewarta Deli.

Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda, Aneta yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA). Ia juga ahli membuat peta (kartografer).

Nama Adinegoro atas izin keluarga juga diabadikan untuk Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro (YPMA), yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS). (*)