Jumat, 23 Agustus 2019

Jambi harus telaah kualitas pertumbuhan ekonomi

JAMBI (Jambi Independent) - Pemerintah Provinsi Jambi perlu menelaah lebih jauh terhadap tingginya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi yang  mencapai 8,5 persen. Meski angka ini secara makro positif, namun harus diilihat apakah pertumbuhan ini berkualitas atau tidak. Hal ini terungkap dalam Konvensi Media sesi II  dalam rangka Hari pers Nasional (HPN) yang berlangsung Abadi Convention Center (ACC), kemarin (8/2).

“DIlihat dari pertumbuhan ekonomi Jambis aat ini, perekonomian Jambi memang terlihat bagus. Tapi ini perlu dianalisi lebih lanjut,”kata Prof Aulia Tasman, Pengamat Ekonomi yang juga Rektor Universitas Jambi saat menjadi narasumber dalam acara tersebut.

Makanya, angka-angka dalam indicator makro ini harus dilihat dampaknya terhadap indikator ekonomi lain. Karena pertumbuhan ekonomi 8,5 persen, inflasi  2,78 persen seharusnya bisa memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengurangan angka kemiskinan secara signifikan.

Ia menjelaskan,  perlu dilihat jumlah penduduk yang berada sedikit diatas garis kemiskinan. Karena jika ada kebijakan pemerintah yang berdampak melonjaknya inflasi, maka penduduk yang berada di atas garis kemiskinan akan langsung turun status.

Selain itu, kontribusi  pertambangan sebagai penyumbang pertumbuhan eskonomi juga sangat tinggi. Itu menunjukkan ketergantungan terhadap sektor ini . Sementara penyerapan tenaga kerjanya sangat rendah. Tidak hanya itu, hasil pertambangan bisa dikatakan 80 persen tidak dibelanjakan di Jambi.

 

Kondisi lain, nilai tukar petani terus turun setiap bulannya. Padahal, ini menjadi salah satu indikator kesejahtraan petani. Makanya, ada kemungkinan, sektor pertanian, perekebunan yang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dinikmati oleh pengusaha besar buka petani kebanyakan.  “Jika kontribusi lebih banyak oleh perekbunanbesar, ini berbahaya,”jelas Aulia.

Selain itu, pergeseran struktur ekonomi bukan dari sektor primer ke sekunder. Yang berkembang malah sector tersiernya. Padahal,  jika yang tumbuh sektor sekunder ini lebih mampu menyerap tenaga kerja.

Sementara itu, Kepala Bappeda Provinsi Jambi Fauzi Anshori mengatakan secara makro, perekonomian Jambi menunjukkan angka positif.  Namun, ia mengakui jika  hampir 50 persen dari kontribusi PDRB oleh dua sektor yakni pertambangan dan sector pertanian secara umum. “Pertambangan 24,3 persen dan pertanian 26 persen. Jadi hamper 50 persen,”jelasnya.

Dalam upaya kedepan, pihaknya akan menggenjot pergesera sector primer ke sekunder melalui hilirasasi sector primer ini.  Makanya, ada beberapa program utama untuk meningkatkan kualitas perekonomian yakni dengan meningkatkan infrastruktur, peningkatan kualitas Sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, meningkatkan ketahanan pangan, optimalisasi pemanfaatan sumber daya alama dan tata pemerintahan yang lebih baik (good governance).
 
Selain itu juga ada beberapa kebijakan lain yakni mengembangkan sector unggulan di masing-masing kabupaten. Termasuk pengembangan kawasan budidaya baik perikanan, pertanian.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menghadiri puncak Hari Pers Nasioanl (HPN) di Provinsi Jambi. Dalam rangkaian acara itu, dirinya melakukan berbagai kegiatan. Salah satu diantarnya kemarin adalah menjadi pembicara dalam Seminar Prospek dan Potensi  Ekonomi Jambi. Selain dirinya, juga ada Menko Perekonomian, Hatta Rajasa dan Ketau Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung.

Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam kesempatan itu menyampaikan materinya dengan tegas. Dirinya langsung meminta Gubenur Jambi memilih pembangunan jalan atau pengerukan sungai batanghari untuk pembanguna perekonomia Provinsi Jambi.
 
Pendiri Jawa Pos Group ini mengatakan bila pemprov  memilih pengerukan sungai maka biaya yang dibutuhkan hanya sekitar 6 triliun. Bila itu jadi dilaksanakan maka pengerjaannya bisa selesai dalam setengah tahun.

Ia mengemukakan hal berbeda dengan pembangunan jalan khusus yang fungsinya hampir sama. Namun, hal itu harus memikirkan pembebasan lahan dan kontruksi jalan bila melewati rawa. Waktu yang dibutuhkan juga lebih lama yaitu maksimal sekitar 8 tahun.
 
“Tinggal pilih keduanya pengerukan sungai atau pembuatan jalan. Semuanya mungkin dan merupakan pekerjaan besar. Yang penting segara bikin keputusan,” tandasnya. Selain itu direncanakan Dahlan Iskan akan menghadiri berbagai acar dan melakukan peninjauan. (*)