Kamis, 24 Agustus 2017

Sambutan dan Pendahuluan Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

                    Sambutan Ketua Umum PWI Pusat Periode 2004-2008

Karya Monumental PWI

Alhamdulillah, akhirnya buku yang sangat monumental bagi Pers Nasional yakni Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI) dapat dirampungkan Pengurus Pusat PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), sehingga dapat diluncurkan pada saat Kongres XXII PWI di Banda Aceh, 28-29 Juli 2008 ini.

Sebagai fungsionaris yang terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum PWI pada Kongres XXI PWI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah Oktober 2003, saya bertekad melaksanakan program penerbitan EPI, suatu karya kepustakaan penting dan strategis demi memperkaya khazanah pers di Indonesia. Karena itu saya menunjuk Sdr. Widodo Asmowiyoto, Pemimpin Redaksi II Pikiran Rakyat, Bandung, menjadi Direktur Program EPI PWI Pusat 2003-2008, yang khusus bertanggung jawab memproses kelahiran EPI selama 5 (lima) tahun periode kedua kepengurusan PWI Pusat yang saya pimpin. Selanjutnya, Sdr. Widodo membentuk Tim Khusus EPI.

Saya faham betapa tidak mudahnya menyusun EPI, sehingga belum semua materi penting mengenai segala hal yang terkait dengan masalah Pers Indonesia dapat termuat dalam buku ini. Namun, menjadi tekad kita semua untuk terus menerus melengkapi dan menyempurnakan materi EPI sehingga mampu memenuhi kebutuhan publik, terutama komunitas pers.

Kepada Tim EPI, khususnya Sdr. Widodo, serta para partisipan, terutama dukungan Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan (pada masa itu), dan sebagainya, bagi terbitnya buku EPI ini, secara khusus saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tidak terhingga. Semoga segala jerih payah dalam melahirkan EPI akan menjadi bagian dari amal ibadah kita, dan sebagai darma bakti PWI kepada Bangsa dan Negara Indonesia.

Dirgahayu PWI, Dirgahayu Pers Indonesia, dan Dirgahayu Republik Indonesia.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan taufiq dan hidayah kepada kita semua, sehingga Indonesia mampu menjadi negara yang maju, makmur dan bermartabat Amin.

Jakarta, Selasa, 24 Juni 2008

Persatuan Wartawan Indonesia
Pengurus Pusat,


Drs. Tarman Azzam
Ketua Umum

 

                                                                                   **********************

 

                                                                                            Pengantar

Upaya Mengawetkan Ingatan Bangsa

Pers Indonesia sudah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Dihitung sejak Tirto Adhi Soerjo menerbitkan Medan Prijaji, satu abad sudah dijalani. Kendati koran tersebut umurnya tidak terlalu lama (karena kesulitan yang harus dihadapinya tentulah sangat berat) tapi itulah pers pertama di Hindia Belanda yang dikelola oleh orang-orang pribumi. Bukan hanya modal dan tenaga manusianya, yang lebih penting lagi adalah semangatnya. Lewat koran tersebut benih-benih semangat kebangsaan ditularkan ke seluruh warga yang sedang dalam cengkeraman tangan-tangan penjajah.

Dalam masa seratus tahun perjalanannya itu tentulah akan sangat banyak nama, peristiwa maupun hal-hal lainnya yang perlu dicatat. Yang pertama-tama tentu saja adalah bagaimana orang-orang pribumi (saat itu dikenal dengan sebutan bumiputera), menuliskan pikiran-pikirannya tentang hak-hak bangsanya sebagai manusia merdeka di samping kejamnya penjajahan sehingga tidak ada pilihan lain kecuali harus dilenyapkan.

Orang-orang bumiputera terpelajar, yang dikemudian hari menjadi founding fathers bangsa Indonesia, sejak usia mereka yang masih duapuluhan, dengan tekun, penuh semangat dan tidak takut menghadapi ancaman, memanfaatkan pers secara optimal. Soekarno, seperti tak pernah kekurangan ilham, terus menulis, meskipun kemudian harus ditebusnya dengan hukuman pengasingan berkali-kali.

Mohammad Hatta, sejak saat masih kuliah di Negeri Belanda, sudah aktif dalam Perhimpunan Indonesia yang mereka bentuk di tengah bangsa yang menjajah bangsanya sendiri itu. Dalam perhimpunan itu pula Iwa Kusumasumantri tak ketinggalan menyumbangkan pikiran serta tenaganya. Tulisan-tulisan Muhammad Hatta yang mulai dikembangkan pada kurun waktu tersebut, dikemudian hari menjadi saripati konsepnya tentang Indonesia yang merdeka, khususnya tentang konsep ekonomi seperti apa yang menurutnya paling ideal merealisasikan sebuah masyarakat Indonesia yang dicita-citakannya.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan dinyatakan oleh Soekarno dan Hatta, pers Indonesia memasuki gelombang perjalanan berikutnya. Pemberitaan dipenuhi peristiwa-peristiwa yang di satu sisi mengobarkan semangat kemerdekaan, pada sisi lainnya juga tak lupa mengingatkan bermacam ancaman yang setiap saat bisa menggagalkan kemerdekaan yang baru saja lahir.

Ketika para pemimpin nasional diharuskan untuk hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, pers nasional pun (termasuk para jurnalisnya) ikut ke sana. Bahkan dalam kondisi yang sangat terjepit seperti itu pun para jurnalis nasional yang umumnya masih muda-muda itu tidak pernah berkurang semangatnya. Fasilitas boleh sangat terbatas (bahkan sangat minim) tapi pers dengan sepenuh hati menempatkan dirinya sebagai alat atau bagian dari semangat perjuangan yang tidak bisa ditawar.

Dari periode tersebut itulah di kemudian hari kita mengenal sebutan atau penamaan Pers Perjuangan. Salah satu cirinya yang paling menonjol, pers pada masa itu hampir tidak memikirkan aspek bisnis atau usaha. Tidak ada cerita menerbitkan pers dengan hitungan untung-rugi.

Peristiwa-peristiwa penting seperti itu tentu saja akan hilang begitu saja kalau tidak didukung oleh usaha pendokumentasian yang baik. Banyak sekali kejadian-kejadian penting yang tercecer, tidak masuk dalam buku sejarah resmi. Padahal maknanya sangat berharga. Masih untung kita memiliki tokoh-tokoh wartawan sekelas Rosihan Anwar, Mochtar Lubis dll., yang dengan sangat baik menyimpan catatan yang dibuatnya sebagai saksi sejarah di masa lalu. Lewat catatan-catatan merekalah generasi bangsa Indonesia di kemudian hari disambungkan ingatannya dengan sejarah bangsanya, khususnya di bidang pers.

Penerbitan Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI) yang ada di tangan pembaca ini, merupakan salah satu upaya untuk mengawetkan ingatan bangsa ini terhadap sejarah persnya yang andilnya tidak kecil dalam mengembangkan kesadaran akan makna kemerdekaan yang harus ditebus dengan darah dan nyawa itu.
Bagi generasi pers Indonesia sekarang, mungkin tidak akan terbayangkan bagaimana sebuah koran yang harus terbit setiap hari, penyusunan beritanya harus dikerjakan huruf demi huruf! Untuk ukuran pers Indonesia sekarang yang sudah serba terkomputerisasi, “teknologi” pencetakan koran serba tangan pasti akan mencengangkan.

Pers Indonesia adalah saksi dan pelaku perjalanan bangsa ini. Tentu di dalamnya akan cukup banyak yang tidak kita setujui atau tidak kita sukai. Tapi memang begitulah apa yang dialami dan kemudian dicatat oleh pers kita.

Penulisan EPI ini sejak awal dimodali oleh semangat seperti itu. Kehendak hati para penyusunnya pastilah ingin mengumpulkan bahan sebanyak mungkin kemudian menuliskannya selengkap mungkin. Dan sudah sangat saya maklumi kalau keinginan besar seperti itu tidak terlalu mudah untuk dicapai. Selama proses penyusunannya, meskipun tidak bersifat resmi, tapi dari rekan-rekan yang menyusunnya, saya sempat mendengar betapa mereka harus sedapat mungkin mengatasi berbagai kendala.

Sebagai seorang wartawan yang cukup lama berkecimpung di lapangan, pada akhirnya saya merasa ikut bahagia dengan terbitnya EPI ini. Edisi pertama sebagaimana yang terbit sekarang ini, tentulah masih sangat jauh dari sempurna. Tapi bagi saya pribadi, bahwa EPI ini akhirnya bisa juga terbit, merupakan satu peristiwa yang harus kita syukuri bersama. Satu langkah sudah diayunkan, dan harus diikuti langkah-langkah berikutnya. Dengan harapan akan ada kesempatan untuk merevisi serta melengkapinya di kemudian hari.

Tidak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ketua Umum PWI Pusat Drs. H. Tarman Azzam selaku penasihat, dan rekan-rekan pengurus PWI Pusat/Cabang  yang tiada henti memberi dukungan bagi keberhasilan penyusunan dan penerbitan EPI ini.

Ucapan terima kasih layak kami sampaikan kepada para penyumbang tulisan yaitu Tok Soewarto, H. Soebagijo I. N., Septiawan Santana K., Tribuana Said, Henry Ch. Bangun, H. Baidhowi Adnan, H. Naungan Harahap, Dadi A. Ruswandi, Ed Zoelverdi, Bob Iskandar, dan pimpinan Harian Jurnal Nasional yang telah mengizinkan kepada tim EPI untuk mengambil banyak tulisan tentang profil pers nasional dari suratkabar tersebut.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional, Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Jawa Barat, dan PT Sido Muncul, yang telah membantu dana bagi penyusunan dan penerbitan EPI ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi pahala yang berlimpah kepada para pimpinan instansi, organisasi atau perusahaan penyumbang dana tersebut.

 

Amin.

Bandung, 1 Juni 2008

Penanggung Jawab/
Ketua Bidang Media Cetak PWI Pusat

 


Drs . HAM Ruslan

 

                                                                                ****************************

 

                                                                                           Pendahuluan

PENERBITAN Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI) ini, seperti sejak awal diniatkan oleh Ketua Umum PWI, Drs. H. Tarman Azzam, dimaksudkan ingin memperkaya literatur pers Indonesia sehingga dapat dijadikan referensi baik bagi masyarakat pers sendiri maupun masyarakat luas. Seiring dengan itu maka istilah pers di dalam EPI bukanlah dalam pengertian sempit atau hanya media cetak, melainkan pers dalam pengertian luas yang mencakup media cetak, elektronik, dan media baru atau media maya.

Lebih dari itu, lingkup materi EPI ini cukup luas, terdiri atas peristilahan pers, jurnalistik, komunikasi, periklanan, percetakan, teknologi informasi, profil perusahaan penerbitan dan penyiaran, profil tokoh pers/wartawan, profil organisasi pers/wartawan, pendidikan di bidang komunikasi/jurnalistik, sejarah pers, regulasi di bidang pers, dan materi lain yang relevan.

Perdebatan kecil muncul di antara anggota tim penyusun ketika kami harus menetapkan kriteria “layak muat” bagi profil perusahaan penerbitan dan penyiaran serta profil tokoh pers/wartawan. Pada akhirnya kami sepakati bahwa pers atau media massa yang minimal sudah berumur lima tahun dan keberadaannya relatif berpengaruh bagi kehidupan masyarakat layak diprofilkan. Sedangkan bagi pers yang sudah mati namun namanya pernah cukup dikenal masyarakat dan berpengaruh dalam perkembangan sejarah pers maupun bangsa Indonesia, juga layak diprofilkan.

Tim penyusun –yang dibentuk berdasarkan SK Ketua Umum PWI-- juga menyepakati untuk memprofilkan tokoh pers/wartawan yang sudah meninggal dunia dan semasa hidupnya sangat berjasa bagi kehidupan pers khususnya maupun bangsa Indonesia pada umumnya. Hal ini tercermin dari profil mereka yang relatif sudah banyak ditulis dalam linteratur pers di tanah air. Sedangkan bagi tokoh pers/wartawan yang masih hidup, penulisan profilnya agak selektif baik dilihat dari kiprahnya di lingkungan perusahaan pers maupun organisasi pers/wartawan. Bahwa akhirnya sebetulnya banyak figur yang layak ditulis namun belum tercantum di dalam EPI ini, semata-mata karena keterbatasan waktu atau bahan yang masuk relatif sedikit meskipun kami sudah berusaha mengirimkan surat permohonan.

Khusus penulisan lema peristilahan, kami banyak mengutip dari buku-buku atau publikasi mengenai pers, jurnalistik, komunikasi, periklanan, dan bahan bacaan lain yang relevan. Sebagian di antaranya memang ada yang kami rangkum dengan perkembangan terakhir yang ada dalam praktik kehidupan pers dewasa ini di tanah air.

Sebenarnya kami sudah mencoba bekerja maksimal tetapi hasilnya terasa sangat belum optimal. Mungkin hal ini berkaitan dengan keterbatasan tenaga, waktu dan dana baik yang dialami oleh PWI Pusat maupun tim penyusun. Oleh karena itu mohon dapat dimaklumi apabila tampilan EPI ini masih jauh dari sempurna, dan sebagaimana kelaziman dalam penerbitan sebuah ensiklopedi, pastilah diperlukan penyempurnaan terus menerus atau dari waktu ke waktu. Hal ini tidak terlepas dari kritik, saran, masukan, dan bantuan dari seluruh jajaran pers di tanah air, khususnya jajaran pengurus PWI di seluruh Indonesia.

Akhirnya kami rela seandainya EPI PWI yang berisi sekitar  800 lema ini dinilai hanya merupakan “embrio” dari sebuah ensiklopedi pers yang kita cita-citakan bersama: lengkap, berbobot, penting, menarik dan perlu dibaca serta dijadikan referensi bagi masyarakat pers khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Sekali lagi, semua itu tidak akan lepas dari bantuan Anda semua, kini maupun di kemudian hari.


Tim Penyusun