Kamis, 24 Agustus 2017

A dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Abadi - suratkabar harian. Terbit tahun 1947  dengan tujuan menyuarakan aspirasi umat Islam Indonesia yang mayoritas berhimpun di dalam Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai yang dibentuk pada tahun 1945 berdasarkan Muktamar Islam Ala Indonesia (MIAI).
Sebagaimana penerbitan lain ketika itu, Abadi juga tampil sangat sederhana, hanya empat halaman dengan teknologi cetak intertype dan handpress. Tintanya kerap mblobor dan bisa menempel ke tangan pembaca.
Karena semua partai dan organisasi Islam masuk ke dalam Masyumi, Abadi dibaca secara luas khususnya oleh anggota partai. Jaringan distribusinya cukup baik Abadi mendapat dukungan dari pemasangan iklan yang hampir seluruhnya berasal dari para pengiklan muslim.
Setelah 13 tahun terbit secara teratur pada tahun 1960 Abadi berhenti beredar, bersamaan dengan dibubarkannya Partai Masyumi dan PSI oleh Bung Karno, menyusul terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta.
Sebelum dibubarkan, NU dan Syarikat Islam sudah lebih dahulu keluar dari Masyumi, karena perbedaan pandangan politik. NU kemudian mendirikan koran Duta Masyarakat dan Syarikat Islam mendirikan koran Nusa Putera.
Pada tahun 1968 Abadi terbit kembali. Namun pada tahun 1974, dibredel bersama tujuh suratkabar lainnya akibat pemberitaan peristiwa Malari. Akibat pembredelan itu sebagian wartawan Abadi ditampung di koran Pelita.
Ketika berhenti beredar (1960), Abadi dipimpin  antara lain oleh Burhanuddin Harahap dan Suardi Tasrif, sedangkan ketika terbit kembali koran ini dipimpin antara lain oleh Sumarso Sumarsono, Hutasuhut, dan Yusuf Abdullah Puar. (Tim EPI/Bai)


Abdul Azis (1922 - 5 Juni 1984) - Pendiri dan pemimpin redaksi harian Surabaya Post, koran sore yang beredar di Jawa Timur, sejak 1 April 1953. Sebelumnya Abdul Azis pernah memimpin koran Suara Rakjat.
Selama lebih dari 30 tahun memimpin Surabaya Post, Abdul Azis konsisten menerapkan konsep “jurnalisme putih”, yakni menghindari pemberitaan yang sensasional, menyudutkan, dan memihak kepentingan politik atau kelompok bisnis tertentu. Dengan konsep tersebut, Surabaya Post dapat masuk ke semua segmen masyarakat, bahkan selalu terhindar dari tindakan pembredelan.
Abdul Azis menempuh pendidikan dasar di Middelbare Technische School (sekolah teknik menengah). Namun sejak pendudukan Jepang ia menekuni bidang jurnalistik, menjadi wartawan Suara Asia (Surabaya).
Setelah Jepang kalah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, di beberapa kota, terutama di Pulau Jawa, pecah pertempuran untuk merebut persenjataan dari tangan bala tentara Jepang. Pada saat itulah, atas prakarsa Abdul Azis, nama Suara Asia segera diubah menjadi Suara Rakjat.
Pada masa pendudukan Belanda yang keduakalinya Suara Rakjat dihentikan peredarannya. Namun Abdul Azis kemudian menerbitkan Merah-Putih. Kehadiran koran ini juga hanya sesaat karena para wartawannya meninggalkan Surabaya, dan menetap di daerah yang masih dikuasai Republik. Meski demikian, pada saat pengungsian besar-besaran dari Surabaya tersebut, karyawan pers Surabaya berhasil menyelamatkan ratusan rol kertas yang kemudian disimpan di sebuah pabrik gula di daerah Sidoarjo.
Abdul Azis pun pindah ke Malang dan di kota itu menerbitkan kembali Suara Rakjat. Pada saat bersamaan di Mojokerto pun terbit Suara Rakjat yang diasuh Ronggo Danukusumo dan Dermawan Lubis, yang juga wartawan Suara Rakjat, yang mengungsi ke kota tersebut. Beberapa saat setelah penandatanganan Perjanjian Linggarjati, Belanda menduduki Mojokerto dan Suara Rakjat Mojokerto pindah ke Kediri.
Pada Clash I (1947) Malang diduduki Belanda. Abdul Azis mengungsi ke Kediri dan bergabung dengan Suara Rakjat pindahan dari Mojokerto. Kemudian timbul sengketa, dan Ronggo Danukusumo memisahkan diri, dan  kemudian  menerbitkan Hariwarta. Sedangkan Abdul Azis tetap mengelola Suara Rakjat, di samping  mengelola koran dwimingguan Tinjauan. Pada Konferensi Antar-Asia di New Delhi, India (1947) Abdul Azis menyertai delegasi pemerintah RI, hal yang pada waktu itu dapat dianggap luar biasa.
Setelah penyerahan kedaulatan, Abdul Azis kembali ke Surabaya dan menerbitkan suratkabar harian Berita. Bersamaan dengan itu koran terbitan RVD (Regerings Voorlichtingen Dienst - Jawatan Penerangan Pemerintah Belanda), Pelita Rakjat, dilikuidasi oleh Gubernur Militer Jawa Timur, dan namanya diganti menjadi Utusan Indonesia. Berita kemudian digabung dengan Utusan Indonesia. Sofwan Hadi (pemimpin redaksi Utusan Indonesia) ditunjuk sebagai pemimpin umum dan Abdul Azis sebagai pemimpin redaksinya.
Tahun 1953 Abdul Azis memisahkan diri dari Suara Rakyat. Didampingi istrinya, Toety Amisutin Agusdina, Abdul Azis menerbitkan Surabaya Post, harian berbentuk tabloid, hal baru di jagat pers Indonesia saat itu.
Surabaya Post yang semula berjalan terseok-seok kemudian berkembang dan bahkan mampu memiliki percetakan sendiri. Percetakan tersebut pernah terbakar, tetapi dalam waktu singkat berhasil dibangun kembali.
Dalam organisasi kewartawanan Abdul Azis pernah menduduki jabatan sebagai anggota Presidium Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, bersama Syarif Sulaeman (Bandung) dan Tengku Syahril (Jakarta). Di samping itu, dia juga duduk sebagai anggota Dewan Pers, sejak lembaga tersebut didirikan hingga akhir hayatnya.
Sepeninggal Abdul Azis Surabaya Post kemudian dikelola oleh istrinya. Tetapi tidak lama kemudian jabatan pemimpin umum dan wakil pemimpin umum diserahkan kepada kedua putranya, Didi Indriani Azis dan Indra Jaya Azis. Dalam perkembangannya Surabaya Post jatuh ke tangan orang lain. (Tim EPI/SIN)
Abdul Hakim (meninggal 16 Maret 1992) - wartawan, dan salah seorang pendiri Kantor Berita Antara. Abdul Hakim bergabung dengan sejumlah wartawan dan mendirikan sebuah lembaga pers perjuangan, pada saat ia masih bekerja di suratkabar Keng Po. Pada awalnya Abdul Hakim masih berusaha untuk bekerja rangkap namun akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya ikut berjuang demi tanah air melalui Antara.
Ketika Belanda menangkapi orang-orang yang dianggap tokoh dan penggerak massa yang menentang Belanda, Abdul  Hakim menjadi salah seorang di antara sejumlah wartawan dan pimpinan Antara yang ditangkap.
Sesudah Jepang berkuasa, Abdul Hakim dan kawan-kawan kembali ditangkap karena lagi-lagi turut mengobarkan perlawanan kepada penguasa baru tersebut.
Beberapa saat setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan Soekarno dan Hatta, Abdul  Hakim dan kawan-kawan mencetak berita proklamasi kemerdekaan pada kertas stensil dan menyebarkannya ke seluruh kota. Jepang bertindak dan Abdul Hakim mencoba lari, namun tertabrak mobil sehingga harus dirawat di rumah sakit.
Wartawan pejuang ini sempat pindah ke Yogyakarta ketika Antara juga pindah ke kota ini, seiring dengan harus pindahnya ibu kota Republik Indonesia ke Yogyakarta. Ketika di Yogya inilah, keluarga Abdul Hakim dianugerahi seorang putra, Chappy Hakim, yang tahun 2001, dengan pangkat Marsekal TNI, dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Udara. Abdul Hakim sendiri selama revolusi juga selalu membawa pistol, meski tak sekalipun  mempergunakannya.
Abdul Hakim mulai turut berjuang ketika usianya masih 16 tahun meskipun hal itu dilakukannya melalui dunia jurnalistik. Ia sempat bergabung dengan suratkabar Pertja Selatan, sebuah suratkabar yang terbit dan beredar di kawasan Sumatera.
Jiwa juangnya yang menggelora membuatnya memutuskan untuk pindah ke Pulau Jawa agar dapat berjuang lebih leluasa dan dalam forum yang lebih luas.
Di Pulau Jawa ia kembali bekerja di lingkungan pers, sambil terus mengikuti berbagai kursus. Dalam karier jurnalistiknya, Abdul Hakim antara lain pernah mengadakan perjalanan empat bulan ke Eropa, termasuk ke ibu kota Uni Sovyet, Moskow.
Abdul Hakim meninggal dunia tanggal 16 Maret 1992. Untuk menghormati jasa-jasanya ia diakui pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan Indonesia. (Tim EPI/SSWJ)
       

Abdul Karim Daeng Patombong (Ampala Poso, Sulawesi Tengah, 29 Mei 1926). Ketua umum PWI Pusat tahun 1963-1965 yang lebih dikenal dengan nama Karim DP ini, menjadi wartawan lebih karena bakat. Sejak kecil Karim DP memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap berbagai masalah. Ia selalu mencari tahu latar belakang suatu peristiwa atau masalah, di samping senang membaca, menulis, dan melakukan perjalanan.
Pendapatnya tentang profesi wartawan, pertama, profesi ini memberikan kesempatan untuk banyak mengenal pejabat, tokoh masyarakat dan politisi, serta dikenal banyak orang.
Kedua, profesi wartawan merupakan salah satu pekerjaan yang penuh tantangan dan paling efektif untuk memperkaya pengetahuan, karena setiap hari terlibat dalam hal-hal baru, guna disebarkan sebagai informasi kepada masyarakat luas.
Ketiga, setiap hari wartawan dituntut banyak membaca dan belajar guna memperdalam wawasan, bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat, profesi, dan kedudukan, sehingga mampu menyerap dan mengolah informasi guna disampaikan kepada masyarakat.
Karim DP menempuh pendidikan di Sekolah Mubaligh Muhammadiyah, Yogyakarta. Semasa sekolah ia sudah mulai mengirim karangan ke berbagai suratkabar.
Ia mulai memasuki dunia kewartawanan pada masa pendudukan Jepang dengan bekerja di Kantor Berita Domei. Sesudah proklamasi ia menjadi wartawan perang di Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta (1945-1950), kemudian pindah ke Sin Po, Jakarta, yang belakangan berganti nama menjadi Panca Warta, dan kemudian berganti lagi menjadi Warta Bhakti. Di media ini Karim sempat menduduki jabatan puncak sebagai pemimpin redaksi karena, Presiden Soekarno menghendaki koran ini dipimpin oleh orang Indonesia asli.
Semasa memimpin Warta Bhakti, ia juga aktif dalam kepengurusan PWI. Mulai dari Penulis II Pengurus PWI Jaya (1960-1961) hingga menjadi Ketua Umum PWI Pusat (1963-1965), menggantikan Djawoto yang terpilih sebagai Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA) dan kemudian menjadi Duta Besar di RRC. Sebagai pengurus PWI Pusat, Karim berkesempatan menjadi anggota MPRS (1960-1963), dan anggota DPA (1963-1965). Di bidang politik, ia pernah menjadi anggota Badan Pekerja Kongres PNI (1963-1965).
Pada masa itu, PWI yang memang sudah banyak dipengaruhi komunis, banyak bergerak di dalam aksi politik, misalnya, menghadapi BPS dan suratkabar atau wartawan yang tidak sefaham, ataupun menghantam kekuatan-kekuatan lain yang tidak sefaham seperti Angkatan Darat dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
 Tidak lama sesudah peristiwa G30S/PKI, posisinya sebagai Ketua Umum PWI Pusat diganti. Ia tak diizinkan lagi menjalani profesi wartawan, dan ditahan selama 14 tahun. Setelah Orde Baru tumbang ia dapat aktif  kembali dengan bekerja di Jurnal Solidaritas. Sesudah angin reformasi berhembus di Indonesia, Karim DP, sejak 2002, menjadi Ketua Umum Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Azasi Manusia.
Pengalaman paling berkesan yang dirasakan Karim selama menjadi wartawan adalah ketika ditugaskan meliput langsung pertempuran di Ambarawa. Pada masa revolusi Karim memang menjadi wartawan perang.
Pada hari tuanya, Karim meluncurkan dua buku yakni Dari Revolusi Agustus 1945 sampai Kudeta 1966 (2002) dan Apa Sebab Bung Karno Bisa Digulingkan? (2003).  Ia pernah kuliah di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia, tapi tidak tamat. (Tim EPI/ES/SSWJ)

   
Abdullah Alamudi. Tokoh pers nasional ini terakhir menjadi anggota Dewan Pers dari unsur pimpinan perusahaan pers. Ia ikut mendirikan Institut Pengembangan Media Lokal (IPML) dan diangkat menjadi pemimpin umum pada lembaga tersebut sejak Maret 2006.
Lebih dari 40 tahun karir Alamudi dihabiskan di bidang jurnalistik, setidak-tidaknya sejak kembali dari kuliahnya di Faculty of Commerce, University of Tasmania Australia tahun 1964. Ia pernah bekerja di kantor berita, suratkabar, majalah, radio, dan televisi.
Karirnya dimulai sebagai wartawan junior di Associated Press Biro Jakarta, berlanjut sebagai staf Redaksi Harian Pedoman, Produser BBC, koresponden Tempo, koordinator koresponden Harian The Jakarta Post hingga Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia. Alamudi telah menerjemahkan dan menyunting berbagai buku selain menjadi kontributor beberapa buku lainnya.  (Tim EPI)


Abdul Madjid Ibrahim, Prof.,(Seulimum, Aceh Besar 19 November 1926 - Jakarta, 15 Maret 1981), wartawan, Gubernur Daerah Istimewa Aceh, dan pencetus gagasan Aceh Development Board (Ing., Badan Pembangunan Daerah Aceh), suatu badan yang merancang pola pembangunan daerah, yang kemudian dikembangkan di daerah-daerah lain.
Karir kewartawanannya dimulai sejak tahun 1945, ketika menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Api Merdeka di Yogya dan anggota Tentara Pelajar di Jawa Timur. Tahun 1957 ia lulus dari Fakultas Ekonomi UI dan bertugas sebagai dosen pada fakultas tersebut.
Tahun 1963 ia kembali ke Banda Aceh menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Syah Kuala, dan tahun 1965 diangkat menjadi rektor di universitas tersebut. Tahun 1973 ia diangkat sebagai Deputi Ketua Bappenas Bidang Regional dan Daerah, dan 27 Juli 1978 dilantik menjadi Gubernur Daerah Istimewa Aceh.(Tim EPI)
      
 
Abdul Razak. Abdul Razak, mulai berprofesi sebagai wartawan di harian Waspada, Medan tahun 1960-1962. Kemudian bergabung di LKBN Antara Biro Medan (1962-1967), dan tahun 1967 pindah ke Jakarta bergabung  dengan Antara Pusat.
Sekitar 20 tahun di Antara (Juli 1962-1982), Abdul Razak bertugas di berbagai fungsi redaktur. Terlama bertugas di meja sunting (desk editor) ekonomi, dan terakhir sebagai redaktur senior di desk internasional.
Pada tahun 1971 usahanya memperoleh Jefferson Fellowship berhasil, dan ia pun belajar selama empat bulan di East-West Center, Universitas Hawai, Honolulu.
Tahun 1977 ia mengikuti pelatihan jurusan Public Relations di Universitas Indonesia, Jakarta. Tahun 1982 ia memenangkan beasiswa Fulbright (1982-1984) untuk pendidikan akademis di bidang Mass Communication, Journalism and Public Relations di Ohio University (Athens), dan tahun 1984 meraih Master of  Science (MSc).
Sepulang dari Amerika Serikat Abdul Razak tidak kembali ke Antara. Ia diterima sebagai staf editor di The Jakarta Post (Agustus 1984-Januari 1985), kemudian pindah  ke harian ekonomi Necara (Januari 1985-1987) sebagai redaktur pelaksana dan wakil pemimpin redaksi. Selepas itu ia menjadi koresponden kantor berita Inter Press Service (IPS) yang berkantor pusat di Roma, Italia selama 1989-1994.
Selain menjadi anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat, Abdul Razak mengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta, menjadi anggota Komite Penasehat East-West Center Media Program Honolulu, dan International Director pada Advisory Council, Asian Institute for Development Communication, Kuala Lumpur.
Keterkaitannya dengan Confederation of Asean Journalists (CAJ) - organisasi profesi kewartawanan di Asia Tenggara - dimulai setahun setelah CAJ didirikan (11 Maret 1975), untuk membantu pekerjaan sekretaris tetap (sektap) yang dipegang Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Sunardi DM. Dua tahun kemudian (Desember 1978), ia diangkat sebagai Permanent Assistant Secretary berdasarkan keputusan pengurus CAJ. Afiliasinya dengan CAJ ternyata berlarut hingga akhirnya diangkat jadi Wakil Sektap dan kemudian Sekretaris Tetap sejak Sidang Umum CAJ ke 10 (Januari 1994).
 Kegiatannya yang menyibukkan itu memberinya kesempatan sering bepergian untuk mengikuti konferensi, seminar dan berbagai urusan organisasi, antara lain ke negara-negara ASEAN, Asia dan Eropa. “You see the world, meet people of various professions, and reward yourself with lots of headaches for caring other people's headaches”, begitu katanya ketika ditanya manfaat segala aktivitasnya tersebut. (Tim EPI)
       

Abdul Rivai (Palembayan 1887 - Bandung 16 Oktober 1937) - wartawan yang berlatar belakang pendidikan dokter ini menjadikan profesi kewartawanannya sebagai alat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan bangsanya. “Engku dokter” ini bahkan dikatakan sebagai wartawan pertama Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan dengan mengirim artikel-artikelnya ke berbagai suratkabar di luar negeri (Eropa), termasuk ke Belanda, negeri yang menjajah negerinya.
Dokter Abdul Rivai lahir di Palembayan, dekat Bukittinggi sekitar tahun 1887. Ayahnya seorang guru. Abdul Rivai yang dikenal berwatak keras dan ulet ini menamatkan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) di Jakarta pada 1899. Namun, setelah lulus, dia belum ingin langsung praktik dan malah ingin melanjutkan studi ke Belanda.
Dalam masa penantian, sebelum mendapat kesempatan melanjutkan sekolah di Belanda, ia mempergunakan waktu senggangnya untuk menulis dan mengirim berbagai artikel ke sejumlah suratkabar di Indonesia maupun di Eropa. Suratkabar yang dibantunya antara lain Bintang Hindia, Bendera Welanda, Pewaris Welanda, Oost en West, dan Algemeen Handelsblad di Amsterdam. Bahkan setelah bersekolah di negeri Belanda pun, Rivai malah sempat menjadi redaktur mingguan Bintang Hindia. Di koran ini, ia konsisten mengarahkan penanya, memperjuangkan kadaulatan tanah air dan menyerang kaum kolonial yang menjajah bangsanya.
Pada tahun 1910 Rivai berhasil menyelesaikan pendidikannya sehingga berhak memakai gelar “Arts”, sederajat dengan dokter-dokter Eropa. Abdul Rivai adalah orang Sumatera Barat kedua, yang meraih gelar sarjana, setelah Bagindo Zainuddin, yang menamatkan Sekolah Tinggi Pertanian di Wageningen, Belanda. Setelah lulus Abdul Rivai pulang ke tanah air dan menjadi dokter di Jakarta.
Sambil menjalankan tugas sebagai dokter spesialis di daerah Tanah Abang, Rivai tetap bersikap kukuh dalam kegiatan kewartawanannya, antara lain di suratkabar Bintang Timur. Belanda mencoba “melunakkan” dokter-wartawan ini dengan mengangkatnya sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Jakarta. Tapi, Rivai tetap konsisten dan keras dalam garis perjuangan. Indonesia harus merdeka.
Panasnya udara Jakarta, tak sesuai dengan kesehatan Abdul Rivai sehingga ia pindah ke Bandung. Wartawan pejuang itu pun meninggal dunia di Kota Kembang ini pada 16 Oktober 1937, dalam usia 50 tahun.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, nama dr. Abdul Rivai dijadikan nama salah satu jalan utama diKota Bukit Tinggi maupun di kota-kota lain di tanah air. Tahun 1974 Pemerintah mengangkatnya sebagai salah seorang Perintis Pers Indonesia. (Tim EPI/SSWJ)

      
Abdullah Idrus, (Padang, 21 September 1921- Padang, 18 Mei 1979) - Wartawan yang semula berprofesi sebagai sastrawan ini mulai menulis pada zaman Jepang. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas pria yang kemudian lebih dikenal dengan panggilan Idrus ini bekerja di bagian sidang pengarang Balai Pustaka.
Karya-karyanya dianggap sebagai pembawa udara baru bagi penulisan prosa Indonesia. Para penelaah sastra menganggap Idrus sebagai pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, walaupun ia sendiri menyangkal masuk suatu angkatan.
Pada tahun 1948 Idrus memasuki dunia jurnalistik dan hingga tahun 1949 menjadi redaktur majalah kebudayaan Indonesia dan majalah umum Daya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Tahun 1950 ia keluar dari Balai Pustaka, dan bekerja di beberapa perusahaan lain termasuk perusahaan penerbangan. Tahun 1953 hingga tahun 1956 Idrus menjadi redaktur majalah Kisah bersama M. Balfas dan H.B. Jassin. Setelah Malaysia merdeka, ia pindah ke Kuala Lumpur dan bekerja di bidang penerbitan. Di kota ini ia menerbitkan majalah Gema Suasana dan Gema Dunia, tahun 1963. Selanjutnya ia pindah ke Australia dan mengajar di Monash University.
Pada zaman Jepang Idrus aktif di Pusat Organisasi Sandiwara Djawa (POSD) bersama Armijn Pane dan Kotot Sukardi. Pada waktu itu ia banyak menulis bentuk lakon, antara lain Kejahatan Membalas Dendam (1943) dan Dr. Bisma (1944).
Kecuali karya kreatif Idrus banyak menulis kritik dan telaah tentang  karya sastra, baik karya sastra dunia maupun Indonesia. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan antara lain Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Aki (1950), Hati Nurani Manusia (1963), Dengan Mata Terbuka (1963), dan Hikayat Puteri Penelope (1973). Idrus juga banyak menerjemahkan karya sastra dunia antara lain Perkenalan dari kumpulan  karya Anton Chekhov, Luigi Pirandello, dan Jaroslav Hasek (1950), Keju karya  Willem Elsschot (1950), dan lain-lain. Ia juga banyak menulis cerita untuk  anak-anak, baik asli maupun terjemahan, seperti Gorda dan Pesawat Terbang (1950). Idrus meninggal, pada saat sedang mengumpulkan bahan tentang cerita rakyat Minangkabau, yang ia lakukan untuk meraih gelar doktor .(Tim EPI)


Abdullah Muchammad Ruslan (Manonjaya, 30 Agustus 1948) - menyelesaikan kuliah di Fakultas Publisistik (sekarang Fakultas Ilmu Komunikasi) Universitas Padjadjaran tahun 1973. Setahun kemudian ia mengawali karirnya di dunia jurnalistik sebagai wartawan HU Pikiran Rakyat yang ditugaskan meliput kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dan pemerintahan. Sebelum menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi/Pemimpin Harian Redaksi Ruslan sempat menjadi redaktur kota, redaktur nasional, dan redaktur pelaksana.  
Selama menjalani profesinya sebagai wartawan Ruslan juga aktif di berbagai organisasi. Di organisasi kewartawanan Ruslan sempat menjadi Ketua PWI Jabar selama dua periode. Kemudian menjadi Ketua PWI Pusat Bidang Organisasi dan Daerah (1998-2003) dan Ketua PWI Bidang Media cetak (2003-2008).
Alumnus KRA XXV Lemhannas Tahun 1992 ini juga aktif di organisasi politik sebagai kader Partai Golkar. Aktivitasnya inilah yang membawa Ruslan menjadi anggota DPRD Jabar selama tiga periode berturut-turut, dan terakhir terpilih menjadi Ketua DPRD Jabar periode 2002 - 2007, merangkap sebagai Ketua KONI Jabar.
Semasa kuliah pun kecenderungan Ruslan untuk berorganisasi sangat kuat. Penggemar olahraga sepakbola dan bulutangkis yang pernah menjadi Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dan pengurus Ikatan Alumni Unpad ini pada awal perkuliahannya sempat menjadi ketua senat mahasiswa selama dua tahun.
Menjelang akhir tugasnya di Pikiran Rakyat Ruslan sempat menyusun tiga buah buku yang merupakan dokumentasi hasil karyanya selama 25 tahun berkiprah sebagai wartawan. Buku pertama berisi hasil-hasil wawancaranya dengan sejumlah tokoh terkenal. Buku kedua tentang tulisan-tulisan yang pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, dan buku ketiga memuat laporan perjalanan yang pernah dialaminya selama bergelut sebagai wartawan. Tahun 1975 Ruslan menikahi Hettie Dhianawaty dan dikaruniai tiga orang anak serta dua cucu. (Tim EPI/KG. Sumber: buku Dari Hari ke Hari, percakapan dengan sejumlah tokoh; buku Bunga Rampai, catatan seorang wartawan; dan buku Perjalanan, dari Manonjaya ke Haratul Lisan).


Aceh TV - studio siaran televisi ini merupakan lembaga penyiaran swasta lokal satu-satunya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang lahir dari sebuah ketekunan dan kearifan generasi muda yang mempunyai komitmen tinggi terhadap kemajuan daerahnya, khususnya bidang broadcasting. Televisi ini dikelola secara profesional serta didukung perangkat siaran produk generasi baru yang sudah teruji.
Aceh TV mulai mengudara pada tanggal 15 Agustus 2006, untuk memberikan spirit, apresiasi, dan menumbuhkembangkan serta mendorong masyarakat untuk lebih memajukan seluruh potensi budaya lokal, ekonomi serta potensi lainnya untuk tujuan kemajuan pembangunan.
Melalui Channel 48 UHF dan frekuensi 687.25 MHz, Aceh TV hadir dengan semangat untuk menjadi media perekat persatuan dan kesatuan bagi masyarakat Aceh. Lebih dari itu, keberadaan Aceh TV juga bisa menjadi stimulan pertumbuhan ekonomi pembangunan dan perkembangan demokratisasi melalui lembaga penyiaran televisi. Saat ini siaran Aceh TV telah menjangkau Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh serta Kota Sabang.
Aceh TV menitikberatkan program acaranya terhadap dimensi seni dan budaya. Titik berat ini dipilih dengan asumsi bahwa seni dan budaya merupakan proses kehidupan yang menggerakkan dimensi sosial dan ekonomi masyarakat Aceh.
Aceh TV mempunyai visi sebagai televisi lokal terbaik yang menyajikan program informasi dan program budaya di Nanggroe Aceh Darussalam. Visi tersebut berakar dari misi sebagai berikut:
1. Memberi ruang bagi upaya penggalian   nilai-nilai budaya warisan leluhur berciri  khas Syariat Islam yang relevan untuk  menjawab tantangan globalisasi.
2. Media pendidikan dan alat kontrol   sosial dalam proses demokratisasi,   sosial pilitik, ekonomi dan pertahanan  keamanan.
3. Revitalisasi semua aspek kehidupan   sosial ekonomi, pendidikan, dan aga-  ma dalam kerangka Bhinneka Tunggal  Ika, dalam wadah Negara Kesatuan   Republik Indonesia.
 
Stasiun televisi yang beroperasi di bawah naungan Media Televisi Indonesia  ini beralamat di Jalan Mata Ie No. 1, 2, 3, Gua Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar 23352, Telepon (0651) 40185 – 40171, Faximile (0651) 40185. (Tim EPI)
       

Achmad Faried (Pandeglang, 8 Februari 1950) - saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Pusat. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Biro Pendidikan PWI Jaya dan Wakil Sekretaris PWI Aceh. Profesi kewartawanannya terakhir di LKBN ANTARA Jakarta.
Achmad Faried yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di kota Serang hijrah ke kota Bandung dan menjalani pendidikan formal di Akademi Penerangan di kota tersebut. Ia juga sempat menjalani kuliah untuk bidang yang sama di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Setelah bergelut di dunia kewartawanan, Achmad Faried masih terus menambah pengetahuannya dengan menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan, baik yang berkait langsung dengan profesinya seperti kursus bahasa Inggris dan kursus kewartawanan, maupun di bidang manajemen, antara lain kursus manajemen sumber daya manusia (SDM) dan manajemen keuangan di Lembaga Pendidikan Pengembangan Manajemen (LPPM).
Dalam karir kewartawanannya Achmad Faried pernah bertugas sebagai reporter di berbagai bidang garapan, di antaranya bidang sosial, ekonomi, serta politik dan keamanan. Bahkan Achmad Faried pernah ditugasi sebagai wartawan peliput kegiatan di Istana Kepresidenan. Dari catatan riwayat hidupnya Achmad Faried tidak pernah mengabdi di luar LKBN ANTARA.
Pengalamannya di lapangan membuahkan kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Koordinator Liputan Bidang Politik, kemudian sebagai Wakil Kepala Mejasunting Nasional. Di kemudian hari Faried mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Kepala Mejasunting Nasional setelah sebelumnya ditugasi sebagai Kepala Kepala Biro di Daerah Istimewa Aceh. Selama bertugas di LKBN ANTARA Faried banyak melakukan perjalanan jurnalistik baik di dalam maupun di luar negeri.
Puncak karirnya di bagian redaksi adalah ketika ia mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Wakil Pemimpin Pelaksana Redaksi, setelah sempat menjabat sebagai Wakil Kepala Redaksi Nasional dan Kepala Biro Bandung (Jawa Barat). Di bidang administrasi Faried beroleh pengalaman ketika menjabat sebagai sekretaris redaksi. Sedangkan puncak karirnya di LKBN ANTARA ketika Faried  menjabat sebagai Wakil Direktur Usaha & Pemasaran, sebelum menduduki posisinya yang terakhir sebagai Direktur Keuangan.
Mengimbangi kesibukannya sebagai petinggi di LKBN ANTARA Achmad Faried memilih tempat di pinggiran Jakarta.  Bersama keluarganya ia tinggal di Perumahan Antara II No.23, Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat. Telepon (021) 8643839. (Tim EPI/KG/Istimewa)
 

A
cta Diurna - suratkabar pertama di dunia ini diterbitkan pada tahun 59 SM oleh Julius Caesar. Acta Diurna berarti kejadian sehari-hari. Kata journalist --  yang di Indonesia diterjemahkan menjadi jurnalis atau wartawan -- berasal dari kata diurna dan diurnarii.
Acta Diurna terutama berisi berita tentang pemerintahan. Segala hal yang penting untuk diketahui rakyat seperti keputusan dan perintah kaisar, pengangkatan pejabat, dan sebagainya, disampaikan melalui pemberitahuan harian ini.
Pengumuman tersebut dituliskan pada batu atau lempengan besi dan ditampilkan di atas meja atau pada papan-papan pengumuman yang diletakkan di tempat-tempat publik seperti Forum Romawi. Media penyampaian informasi ini juga disebut Simply Acta atau Diurna atau terkadang Acta Popidi.
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari Roma, tetap dapat membaca pengumuman-pengumuman tersebut dengan cara menyuruh seseorang untuk datang ke Roma dan mencatat serta menyampaikan berita-berita di dalam Acta Diurna kepada mereka. Orang-orang seperti itu disebut actuarii.
Selain berita resmi, actuarii juga menyampaikan berita tidak resmi. Karena makin banyak actuarii, isi Acta Diurna dibacakan tiap pagi selama dua jam. Isinya terdiri dari berita resmi mengenai mutasi pegawai, kunjungan pemimpin politik atau undangan Kaisar untuk minta keterangan, berita keluarga mengenai kelahiran, perkawinan, kematian, pesta atau kegiatan sosial seperti upacara persembahan, permainan sirkus, hingga berita dalam negeri yang diterima dari berbagai daerah.
Jumlah lembaran atau oplahnya mencapai 3.000 eksemplar. Dua jurnalis terkenal saat itu ialah Chrestus dan Caelius Rufus. Acta Diurna terbit sampai abad ke-4 setelah Masehi, dan menjadi pengawal Romawi Raya yang megah dan jaya selama lebih kurang 5 abad.
Setelah Romawi diruntuhkan oleh penyerang dari Timur, suku Goth, yang dipimpin Alarik, suku Vandal di bawah Genserik, dan Odoacer, Acta Diurna pun tidak terbit lagi. (Tim EPI/Wid/NH; Sumber: buku Suratkabar di Indonesia pada Tiga Zaman, Penerbit Proyek Pusat Publikasi Pemerintah Departemen Penerangan RI, tanpa tahun)


Adam Malik (Pematang Siantar, 22 Juli 1917 - Bandung, 5 Desember 1984) - pejuang, diplomat, politisi, dan wartawan. Pria berpostur kecil yang dijuluki si Kancil ini suka menonton film, membaca, dan fotografi.
Setelah lulus HIS, ayahnya menyuruh Adam Malik mengelola  toko. Di sela-sela kesibukannya ia banyak membaca berbagai buku yang memperkaya pengetahuan dan wawasannya. Keinginan untuk maju itulah yang mendorong Adam Malik merantau ke Jakarta.
Ketika berusia belasan tahun, di kampung halamannya Adam aktif di dalam berbagai perjuangan. Ketika itu ia sudah merasakan pentingnya media massa sebagai pendukung perjuangan. Pada masa itu pendapat umum dikuasai oleh media massa yang berorientasi kepada kepentingan penjajah. Karena itulah, banyak pemuda tokoh perjuangan segera mengusahakan adanya media massa tandingan, termasuk sebuah kantor berita. Pada masa-masa itulah Adam Malik pernah ditahan polisi Dinas Intel Politik di Sipirok dan dihukum 2 bulan penjara karena melanggar larangan berkumpul.
Pada usia 17 tahun Adam Malik menjadi Ketua Partindo Pematang Siantar (1934-1935) untuk ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan.
Pada zaman Jepang, Adam Malik juga aktif bergerilya dalam gerakan pemuda. Menjelang 17 Agustus 1945 bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, Adam Malik ikut melarikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok untuk memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Adam yang juga aktif dalam gerakan pemuda bawah tanah sudah mempunyai catatan isi naskah Proklamasi Kemerdekaaan yang akan dibacakan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Begitu proklamasi dibacakan, ia segera menghubungi Panglu Lubis di kantor Domei (Antara), dan mendiktekan naskah proklamasi untuk disiarkan secepat mungkin, dengan segala cara, agar lolos dari pengawasan Jepang. Panglu berhasil menyiarkan berita proklamasi ke seluruh tanah air dan bahkan ke seluruh dunia. Jepang merasa kecolongan dan memerintahkan pencabutan berita itu. Tapi sudah tak ada artinya.
Bagi Adam Malik profesi kewartawanan ibarat darah dagingnya. Ketika menjadi Wakil Presiden RI Adam Malik sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang membuat Panglima Kopkamtib saat itu, Laksamana Sudomo merasa kewalahan. “Rakyat boleh memaki. Kritik terhadap pemerintah bukan merupakan pemberontakan,” katanya suatu kali.
Adam Malik juga sempat memberi contoh luar biasa terhadap media massa yang dinilai telah memfitnahnya. Untuk menuntaskan sebuah permasalahan semacam itu Adam Malik tidak menggunakan pendekatan kekuasaan, tetapi mengadukan media tersebut ke pengadilan. Sebagai wartawan sejati, jiwa Adam Malik sangat demokratis, sehingga ia pulalah yang membiasakan panggilan “bung” kepada sesama wartawan dan karyawan Antara. “Semua bisa diatur” adalah salah satu ucapan khasnya.
Adam Malik juga sangat dekat dengan wartawan, sekaligus piawai “memanfaatkan” mereka. Misalnya, untuk kepentingan diplomasi atau untuk memancing reaksi masyarakat Adam melempar sebuah isu untuk memancing sikap pihak lain. 
Pada usia 20 tahun (1937), bersama Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, Adam Malik memelopori berdirinya kantor berita Antara  yang berkantor di Jalan Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan bermodal satu meja tulis, satu mesin tulis tua, dan satu alat cetak kuno (roneo) mereka menyuplai berita ke berbagai suratkabar nasional. Sebelumnya Adam Malik sering menulis antara lain di koran Pelita Andalas dan majalah Partindo.
Adam Malik menulis dalam memoirnya, “Dengan menghadapi lawan atau tantangan yang tak terhitung banyaknya, akhirnya dengan semangat yang tak kenal menyerah untuk maju terus dalam memperkokoh perjuangan nasional, kami berhasil mendirikan Kantor Berita Antara pada tanggal 13 Desember 1937.”
Gedung Antara di kawasan Pasar Baru, tempat berita proklamasi disebarluaskan, oleh pemerintah dinyatakan sebagai Gedung Bersejarah dan Cagar Budaya. Gubernur Jakarta Ali Sadikin juga mengganti nama jalan tempat gedung itu dari Jalan Pos Utara menjadi Jalan Antara.
Adam Malik juga banyak mendorong para pemuda untuk berjuang dengan pena. Kepada Mochtar Lubis yang pernah berniat menjadi tentara Adam pernah berucap, “Sudahlah, terus saja dengan Antara. Untuk berjuang dengan senjata, sudah banyak pemuda Indonesia yang bersedia. Tetapi masih amat kurang yang berjuang dengan pena.” Maka Mochtar pun tetap menjadi wartawan, dan bahkan bukan sembarang wartawan.
Akhir tahun 1950-an, Adam Malik menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Uni Sovyet dan Polandia. Tahun 1966 ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri ad interim dan  Menteri Luar Negeri (Menlu). Sebagai Menlu, Adam Malik memelopori terbentuknya ASEAN (1967). Pada tahun 1977 ia terpilih sebagai Ketua DPR/MPR, kemudian Maret 1978 menjadi Wakil Presiden ketiga RI. Beberapa tahun setelah menjadi wakil presiden, Adam Malik mundur karena kegalauannya menyaksikan feodalisme yang dianut para pemimpin nasional.
Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negara, H. Adam Malik meninggal dunia di Bandung pada 5 September 1984, akibat kanker lever. (Tim EPI/ES/SSWJ)


Adinegoro (Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan; Tawali, Sawahlunto, Sumatra Barat, 14 Agustus 1904 - Jakarta, 8 Januari 1968), adalah wartawan terkemuka dan salah seorang perintis pers Indonesia. Dia termasuk orang Indonesia pertama, selain M. Tabrani dan Jahja Jakub, yang secara formal mempelajari ilmu publisistik di Jerman. Di Eropa ia juga mempelajari geografi, geopolitik, dan kartografi.
Sebagai seorang putra Demang, Djamaluddin memperoleh hak untuk masuk sekolah Belanda. Pada usia 15 tahun Djamaluddin masuk Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah yang dikhususkan untuk anak-anak Belanda.
Ayahnya, Tuanku Laras Bagindo Chatib, sering berpindah tempat pekerjaan. Oleh karena itu, saat memasuki usia remaja, Djamaluddin diikutkan kepada saudaranya yang tertua yakni Muhammad Yaman Gelar Raja Endah, guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Palembang.
Muhammad Yaman beserta istri berusaha agar anak-anak maupun adik serta kemenakan yang ikut bersama mereka sekalian mendapat pendidikan modern. Selain Adinegoro, keluarga Muhammad Yaman juga menyekolahkan Muhammad Yamin (kelak menjadi ahli hukum/meester, sastrawan, dan sempat diangkat menjadi menteri oleh Presiden Soekarno) dan Muhammad Amir (kemudian menjadi dokter ahli jiwa terkemuka).
Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS Palembang, Djamaluddin masuk ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, karena ayahnya mengharapkan ia menjadi dokter. Sebagai anak Minangkabau, Djamaluddin lebih dulu membekali dirinya dengan empat kepandaian yakni pandai mengaji, pandai menjahit, pandai memasak dan pandai bersilat untuk membela diri. Rekannya di STOVIA antara lain Bahder Djohan, Ahmad Ramali, dan Mohammad Hanafiah.
Dari kegemarannya membaca, Djamaluddin tertarik ingin mengemukakan pendapat dan buah pikirannya di suratkabar. Tulisannya untuk pertama kali dimuat di Tjahaja Hindia, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Landjumin Datuk Tumenggung. Tulisannya terus mengalir dan selalu mencantumkan Dj, sebagai kependekan dari Djamaluddin.
Selain menerbitkan majalah Tjahja Hindia Landjumin Datuk Tumenggung juga menerbitkan Harian Neratja. Harian itu menurut ukuran zamannya cukup modern karena merupakan suratkabar milik bangsa Indonesia asli yang memuat foto, sesuatu yang sangat langka pada masa itu. Yang menulis di koran tersebut sebagian besar anak muda asal Sumatera antara lain Bahder Djohan, Siti Danilah, Agus Salim, Abdul Muis, dan Kasuma Sutan Pamuntjak. Sedangkan Muhammad Yamin menerjemahkan Saidjah dan Adinda sebagai kisah bersambung.
Dalam berbagai kesempatan, sebagai orang yang lebih tua, Landjumin selalu memberi dorongan kepada anak muda yang ada di hadapannya. Jika membuat tulisan Landjumin selalu mencantumkan nama Notonegoro dengan alasan “untuk menarik pembaca dari kalangan orang Jawa”. Djamaluddin pun disarankan agar melakukan hal yang sama, dan setelah itu setiap kali mengirimkan artikel ia selalu mencantumkan nama Adinegoro.
Adinegoro akhirnya keluar dari STOVIA dan melanjutkan sekolah ke Jerman untuk belajar ilmu publisistik. Ia ingin mengikuti jejak Abdul Rivai, seorang dokter bangsa Indonesia, yang selama belajar di Eropa banyak menulis di harian Bintang Timoer pimpinan Parada Harahap.
Selama melakukan lawatan ke beberapa negara Eropa, Adinegoro secara teratur mengirimkan artikel ke majalah Pandji Poestaka, dan karangannya kemudian dibukukan dengan judul Melawat ke Barat oleh Balai Poestaka. Ia juga secara teratur mengirimkan karangan ke Pewarta Deli (Medan) dan Bintang Timoer (Jakarta).
Adinegoro pernah bekerja selama enam bulan di Utrecht. Selain menekuni bidang jurnalistik, perhatian Adinegoro juga tertuju terhadap bidang kartografi yang dipelajarinya di Wuerzburg. Sedangkan ketika menetap di Muenchen ia mempelajari geopolitik.
Tahun 1930 Adinegoro kembali ke Indonesia. Setibanya di tanah air, dia segera menerima tawaran untuk menjadi pemimpin redaksi majalah Panji Poestaka. Akan tetapi, ketika Pewarta Deli mencari tenaga muda terpelajar untuk memimpin harian itu, Adinegoro pun pindah ke Medan dan mengemudikan harian tersebut dari tahun 1932 hingga Jepang masuk ke Indonesia.
Di bawah asuhannya Pewarta Deli mengalami kemajuan pesat. Tulisan Adinegoro dikenal karena analisisnya yang tepat. Rubrik “Pandangan Luar Negeri”-nya sangat disukai pembaca. Terlebih-lebih saat pecah Perang Dunia II. Saat itu Pewarta Deli menerbitkan peta perang sendiri, hal yang tidak dilakukan oleh koran-koran lain. Di samping memimpin Pewarta Deli, Adinegoro juga mengemudikan majalah Abad XX, sebuah majalah umum populer yang isinya beraneka ragam.
Menjelang pecahnya Perang Pasifik, Adinegoro sudah mempunyai nama harum di kalangan kaum cerdik pandai di Medan. Atas prakarsanya, pada waktu-waktu tertentu kaum intelektual Indonesia menghadiri pertemuan untuk mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh terkenal saat itu.
Sesudah Proklamasi 1945, Adinegoro diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Sumatera. Organisasi ini bergerak memelopori rakyat di Sumatera melaksanakan komando Presiden guna mengambil alih pemerintahan administratif dari tangan Jepang. Selain itu, bersama-sama para pemimpin lainnya, Adinegoro melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Sumatera.
Pada masa revolusi, Adinegoro diangkat menjadi Komisaris Besar RI di Bukittinggi. Di rumah kediamannya waktu itu berpancangan tiang-tiang bambu yang tinggi, sebagai alat penangkap siaran berita yang dipancarkan kantor berita Antara di Jawa. Ketika Clash I, kantor Antara di Bukittinggi dibom oleh Belanda. Pengeboman itu untungnya terjadi pada hari libur (Minggu) sehingga tidak ada korban manusia. Namun, kantor Antara rusak berantakan. Di Bukittinggi, dengan bantuan tenaga-tenaga muda, Adinegoo juga mendirikan harian perjuangan Kedaulatan Rakyat. Namun usianya tidak begitu lama karena penerbitannya terhenti setelah datang serangan Belanda. Adinegoro juga ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1946.  
Setelah pindah ke Jakarta, yang sudah sepenuhnya dikuasai Belanda, bersama Prof. Dr. Soepomo, Pangeran Mohammad Noor, Soekardjo Wirjopranoto, dan Mr. Jusuf Wibisono, Adinegoro ikut mendirikan majalah perjuangan Mimbar Indonesia. Mingguan ini mendapat sambutan hangat terutama dari kaum Republik, karena isinya menyuarakan semangat perjuangan serta bernafaskan republieken. Di samping mengemudikan Mimbar Indonesia, Adinegoro juga membantu harian Waspada di Medan.
Bersama beberapa wartawan Indonesia, Adinegoro melawat ke Nederland untuk meliput Konferensi Meja Bundar (KMB). Tahun 1949 ia kembali ke Nederland untuk membuat atlas dunia. Inilah atlas pertama dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Djambatan. Dua tahun lamanya dia berada di negeri Belanda untuk menyelesaikan tugasnya itu.
Bersama tokoh-tokoh masyarakat lainnya, Adinegoro mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta yang berkembang menjadi IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Publisistik). Adinegoro pula yang mengambil prakarsa (bersama PWI Cabang Bandung) mendirikan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran Bandung. Beberapa waktu sebelum Adinegoro meninggal dunia, universitas tersebut menganugerahkan gelar Doktor H.C., dalam ilmu publisistik.
Bung Karno pernah menawari jabatan duta besar, tetapi Adinegoro menolaknya. Ia sempat menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).
Pada akhir hayatnya, Adinegoro bekerja di kantor berita Antara setelah sebelumnya cukup lama bekerja di kantor berita PIA. Djamaluddin Adinegoro, yang pada tahun 1972 dianugerahi penghargaan sebagai Perintis Pers, meninggal dunia pada hari Minggu, 8 Januari 1968 dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan  di Pekuburan Karet. Pada batu nisannya tertulis, “Djamaluddin Adinegoro Gelar Datuk Maradjo Sutan”.
Sejak tahun 1974 PWI Jaya mengabadikan namanya untuk menamai penghargaan bagi karya jurnalistik terbaik yang diselenggarakan setiap tahun. Pada awalnya penghargaan tersebut diberi nama Hadiah Adinegoro, tetapi diubah menjadi Anugerah Adinegoro.
Setelah kurang lebih 20 tahun  menjadi program PWI Jaya, sejak tahun 1994 Anugerah Adinegoro dialihkan menjadi program PWI Pusat, atas kesepakatan antara PWI Pusat, Yayasan Adinegoro dan PWI Jaya.  (Tim EPI/SIN. Sumber: Soebagijo I.N. 1987. Adinegoro Pelopor Jurnalistik Indonesia, Cet.I, Jakarta: CV Haji Masagung. Soebagijo I.N. Jagat Wartawan Indonesia. Yosar Anwar. 1978.  5 Tahun Hadiah Adinegoro, Cet.I, Jakarta: PWI Jaya, E. Soebekti. 1998. Setengah Windu Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin, Cet.I, PWI Jaya).


Admen Club. Admen Club (The Jakarta Admen Club) adalah forum tidak resmi insan periklanan di Jakarta. Organisasi informal yang lebih merupakan forum pertemuan para pengusaha dan praktisi periklanan ini berdiri pada tahun 1976.
Pada awalnya Jacoba Muaja, Direktur Periklanan dari Kelompok Majalah Selecta, secara iseng-iseng menyelenggarakan pertemuan periodik antar-orang iklan dan gagasan atau prakarsa ini pun langsung disambut hangat. Pertemuan-pertemuan itu diselenggarakan secara informal dan tidak diwadahi dalam bentuk resmi. Pada waktu itu istilah populer untuk wadah semacam itu adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).
Jacoba kemudian menyebut ajang pertemuan orang iklan se-Jakarta itu dengan istilah The Jakarta Admen Club. Tetapi tetap saja tidak berbentuk organisasi resmi.
Biasanya Admen Club menyelenggarakan pertemuan bulanan pada Sabtu pagi di Hotel Indonesia (karena dekat dengan kantor Selecta di Jalan Kebon Kacang), atau hotel-hotel berbintang lainnya. Setelah ceramah dan diskusi, pertemuan diakhiri dengan makan siang. Semua peserta membayar sendiri biaya pertemuan tersebut. Banyak juga perusahaan yang menyeponsori acara dengan menyediakan berbagai hadiah (door prizes).
Salah seorang pembicara yang “laris” pada pertemuan-pertemuan Admen Club adalah RM Hadjiwibowo, Direktur Hubungan Eksternal PT Unilever Indonesia, yang sebelumnya pernah menjadi Contact Manager Lintas Indonesia. Ia adalah seorang senior -baik dalam usia maupun pengalaman- yang aktif bergaul dengan insan periklanan Indonesia. Pembicaraannya berbobot, penuh dengan ilmu maupun pengalaman praktik di bidang pemasaran dan periklanan, serta disampaikan dengan gaya humoristiknya yang khas.
Pembicara di acara-acara Admen Club tidak selalu orang-orang periklanan atau pemasaran. Kadang-kadang juga dihadirkan orang-orang yang pada waktu itu bersuara keras terhadap periklanan, antara lain Permadi yang ketika itu menjadi Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Setelah Permadi, Erna Witoelar yang menggantikannya, menjadi Ketua YLKI pun beberapa kali menjadi pembicara tamu di Admen Club.
Orang-orang periklanan di luar Jakarta pun kemudian mulai ikut hadir dalam acara Admen Club. Mereka terutama tertarik karena melalui pertemuan-pertemuan itu mendapat pencerahan tentang bidang baru yang sedang mereka geluti, di samping juga kesempatan melakukan networking di antara sesama praktisi periklanan.
The Jakarta Admen Club bahkan sempat melahirkan “anak” organisasi di Semarang yang diketuai oleh Jaya Suprana, Presiden Direktur Jamu Tjap Djago, yang dikenal nyentrik. Di Surabaya, para aktivitas periklanan sempat beberapa kali mengadakan pertemuan dengan mengundang The Jakarta Admen Club untuk berceramah di sana, tetapi tidak berhasil mendirikan cabang di kota ini. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Rumah Iklan: Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri, Bondan Winarno, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2008).
       

Agil Haji Ali (Tondano, 1 Juli 1945 - 11 November 2007) mengawali karir jurnalistik pada saat menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya Malang, dengan mendirikan Bulletin Mahasiswa. Bulletin tersebut  kemudian berubah menjadi Mingguan Mahasiswa dan menjelma menjadi koran memorandum. Pada 2007 berubah lagi menjadi suratkabar harian pagi Memorandum di bawah Grup Jawa Pos.
“Dunia jurnalistik adalah satu dunia yang penuh dengan fatamorgana. Ia menakutkan, menggelisahkan, tetapi menghibur jiwa. Saya telah memilihnya dan saya tidak keliru. Oleh karena itu, saya tidak ingin melepaskannya.” Kata-kata itu adalah salah satu pernyataan Agil Haji Ali.
Agil memang tetap setia terhadap profesinya dan terus bergelut di dunia jurnalistik hingga akhir hayatnya. Salah satu cita-citanya yang belum terwujud hingga ia tutup usia pada usia 62 tahun adalah menerbitkan koran di Jakarta.
Semasa mahasiswa pada 1960-an hingga 1970-an, Agil sering diundang berbicara di berbagai forum diskusi, seminar, dan sejenisnya, di berbagai kota di Indonesia. Dengan gayanya, Agil mampu memikat orang-orang muda sehingga menyulut mereka berdemonstrasi. Agil pun berkali-kali harus mendekam di penjara akibat keberaniannya berorasi dan beragitasi.
Karena begitu besarnya daya tarik Agil ketika berbicara dan memengaruhi massa, Jenderal Soemitro dan Jenderal Ali Murtopo pernah mengundang Agil untuk bertemu. Para duta besar berbagai negara juga mengundang Agil untuk melakukan kunjungan jurnalistik.
Dalam memimpin koran, Agil banyak mencetak wartawan yang kini tersebar di berbagai media massa, termasuk radio dan televisi. Meskipun banyak anak didik yang meninggalkannya, Agil tetap merasa bangga dan selalu memuji para mantan anak buahnya yang berprestasi.
Agil pernah menjadi Ketua PWI Cabang Jatim selama dua periode (1982-1992). Dia juga pernah menjadi pengurus Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, dan menjadi anggota MPR.  Selain sebagai tokoh pers, Agil Haji Ali juga dikenal sebagai tokoh olah raga, khususnya sepak bola dan pernah menjadi manajer Persebaya dan klub sepak bola Niac Mitra pada tahun 1990-an. (Tim EPI)


Agrobis - tabloid. Diterbitkan oleh PT Jawa Media Agro Indonesia dengan pangsa pasar para praktisi di bidang pertanian atau argoindustri.
Melalui berbagai pertimbangan pemasaran, Agrobis banyak meliput soal tanaman dan hewan kegemaran atau hobi. “Agrobis sengaja kami tujukan untuk para penghobi tanaman dan hewan. Misalnya untuk penggemar anggrek, tanaman hias, ikan hias, dan berbagai jenis burung,” ungkap Koesnan Soekandar.
Media yang bertiras sekitar 17.000 eksemplar ini, selain dibaca para penghobi, juga diminati oleh para penyuluh pertanian karena majalah ini banyak memuat pengetahuan praktis di bidang pertanian dan peternakan. Sebagai media yang bergerak di bidang bisnis pertanian dan peternakan, Agrobis selalu memantau perkembangan harga komoditas tertentu, seperti harga burung lokal maupun impor.
Oleh karena itu, pembaca bisa mengetahui beberapa harga burung cucakrawa hijau, cendet, punglor, kacer, prenjak, branjangan, mural batu, hwa mei, kenari, jalak uren, dan sebagainya. Selain itu, bisa disimak pula burung impor yang sedang naik daun di Indonesia, seperti kutilang malaysia, gelatik australia, dan burung merak apel jepang.
Dalam rubrik “Hortikultura”, pembaca bisa menyimak kiat sukses berkebun aneka tanaman. Redaksi melengkapinya dengan analisis pembiayaan sehingga pembaca yang tertarik terjun di bidang bisnis kebun bisa mendapat pengetahuan lengkap.
Rubrik lainnya adalah “Flora Hias”, yang mengetengahkan cara merawat tanaman sehingga enak dipandang mata. Ada pula rubrik “Konsultasi Agro Komplek”. Melalui rubrik ini, pembaca bisa menanyakan berbagai solusi seputar agro. Yang menarik, rubrik ini sifatnya terbuka. Tak hanya pakar atau praktisi yang menjawabnya, rubrik ini juga bisa menjadi media komunikasi antarpembaca.
Agrobis diterbitkan oleh PT Jawa Media Agro Indonesia, beralamat di Jalan Karah Agung 45 Surabaya, Telepon (031) 836969 - pesawat 403, Faks. (031) 830996. (Tim EPI)


Agus Salim, (Bukittinggi 8 Oktober 1884-Jakarta 4 November 1954), adalah wartawan sekaligus diplomat. Tokoh ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya  dan  melanjutkan pendidikan menengahnya di Batavia. Kemudian terjun ke dunia jurnalistik tahun 1915 sebagai redaktur di Harian Neraca, sebelum diangkat menjadi pemimpin redaksi.
Agus Salim menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai delapan anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi pemimpin harian Hindia Baru di Jakarta. Kemudian ia mendirikan suratkabar Fajar Asia, sebagai redaktur di harian Mustika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu, Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam. Pada tahun 1952, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI. Meskipun “pena”-nya tajam dan kritiknya pedas, Agus Salim masih mengenal batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.
Antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia sehingga ia kerap digelari Orang Tua Besar (The Grand Old Man). Ia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI, dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasihat Menteri Luar Negeri.
Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 Agus Salim mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Taukhid Harus Dipahamkan? Kemudian judulnya diubah menjadi Keterangan Filsafat tentang Taukhid, Takdir dan Tawakal. Pada tanggal 4 November 1954 ia wafat di RSU Jakarta. (Tim EPI)


Aksi - koran harian yang terbit di Jakarta pada tahun 1931. Diterbitkan Pramesthi Aksi Media dengan slogan “Ekspresi Hati Nurani”, dan peredarannya hanya di wilayah Ibukota Jakarta dan sekitarnya.
Setiap hari, koran Aksi terbit 12 halaman dengan materi berita, antara lain tentang politik, ekonomi, bisnis, olahraga, belanja, komunitas, metro, kriminal dan berita-berita nasional lain. (Tim EPI/ES. Sumber: Perpusnas).


Aktuil - majalah musik,  terbit pertama kali pada 8 Juni 1967 di Bandung atas prakarsa dan  gagasan Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina, Yogyakarta, putra pertama Sabri Gandanegara, Wakil Gubernur Jawa Barat periode 1966 - 1974. Dia lalu bertemu Bob Avianto, seorang penulis lepas masalah-masalah perfilman.
Dari obrolan ringan hingga perbincangan mendalam dan serius muncul gagasan mereka untuk membuat majalah hiburan. Avianto menemui Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara, dan gayung pun bersambut. Di rumah Syamsudin (Sam Bimbo) mereka mencapai kata sepakat dan mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah. Asal kata Aktuil diambil dari nama majalah luar negeri Actueel, majalah musik terbitan Belanda.
Tahun 1970-1975 merupakan masa keemasan Aktuil karena pada masa itu seakan-akan menjadi bacaan wajib anak muda di Indonesia. Lebih-lebih setelah seniman Remy Sylado menyuntikkan eksperimen sastra mbeling dalam bentuk cerita bersambung Orexas. Cerita ini sekaligus menegaskan Aktuil sebagai majalah anak muda. Orexas sendiri bukan dewa atau ksatria dari mitos Yunani, melainkan kependekan dari “organisasi sex bebas.” Pameo “belum jadi anak muda kalau belum membaca Aktuil”, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Bahkan, majalah ini masih dianggap “kitab suci”, khususnya oleh para rock mania tahun 1970-an.
Meski majalah ini lebih tertarik menulis berita musik rock, namun untuk urusan informasi musik secara umum, majalah ini tetap menjadi pilihan pertama. Kesuksesannya lalu membuat majalah ini dianggap majalah musik pertama di Indonesia. Padahal, kenyataannya, sepuluh tahun sebelumnya sudah beredar majalah musik Musika, Enam tahun setelah Musika beredar, terbit pula majalah musik Discorina, menyusul merambah pasaran.
Pada tahun 1970-an, majalah ini tercatat membuka jaringan kantor perwakilan dan koresponden di luar negeri (Hamburg, Munich, Berlin, Swedia, Stockholm, Ottawa, Tokyo, Hong Kong, Kowloon, dan New York). Pada tahun 1975, Aktuil juga mengejutkan publik Indonesia dengan mengundang kelompok musik Deep Purple untuk berpentas di Indonesia. Saat itu, pentas-pentas musik, apalagi dengan pemain musik dari luar negeri, masih jarang terjadi.
Sejak tahun 1976 pamor Aktuil mulai merosot, terutama segi penjualan. Ketika tahun 1979 majalah ini pindah ke Jakarta pun nasibnya tidak menjadi lebih baik. Malah, majalah ini sempat menjadi majalah umum, sebelum akhirnya benar-benar mati pada tahun 1986. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Alex Impurung Mendur (Kawangkoan, Minahasa, 7 November 1907). Bersama saudaranya, Frans Mendur, Alex adalah sosok yang mengabadikan detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan kameranya. 
Sesudah menamatkan sekolah dasar (1918), ia bekerja pada perusahaan  fotografi Belanda, Inggris, dan Jerman. Ia menjadi wartawan foto harian De Java Bode dan Actueel Wereldnieuws en Sport in Beeld (1932-1935), dan wartawan foto KPM (1936-1942).
Pada zaman Jepang Alex menjadi kepala bagian foto Kantor Berita Domei (sekarang Antara). Awal Desember 1945, bersama Frans, N.F. dan J.K. Umbas, Alex mendirikan kantor berita foto Indonesia yang pertama, Ipphos (Indonesian  Press Photo Service), dengan 25 orang wartawan di dalamnya, dan juga menerbitkan majalah Ipphos Report.(Tim EPI)


Algemeen adalah koran berbahasa Belanda yang terbit di Kota Den Haag pada tahun 1820. Koran ini beredar di Jakarta dan memuat berita-berita serta iklan, sesuai dengan namanya, Algemeen Nederlansch Nieuws en Advertentieblad. Penerbit Algemeen adalah “Gravenhage Algemeen Nederlandsch en Advertentieblad, 1820.
Materi berita yang termuat di Algemeen menyangkut berbagai kejadian penting di negeri Belanda. Selain berita, juga terdapat rubrik surat pembaca, berita tentang harga saham, iklan dan lain-lain yang disajikan di halaman 4. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Aliansi Jurnalis Independen (AJI), adalah organisasi profesi jurnalis yang didirikan oleh para wartawan muda Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1994 di Bogor Jawa Barat, melalui penandatanganan suatu deklarasi yang disebut Deklarasi Sirnagalih. Meski, sebenarnya telah didirikan sejak pembredelan tiga media, Detik, Tempo, Editor pada 21 Juni 1994.
Upaya atau ide untuk membuat organisasi jurnalis alternatif di luar PWI sebenarnya sudah lama ada. Terutama karena pada saat itu PWI dianggap lebih menjadi alat kepentingan pemerintah Soeharto dan tidak betul-betul memperjuangkan kepentingan jurnalis.
Sekitar tahun 1991, jauh sebelum pembredelan Detik, Tempo, dan Editor, terjadi pertemuan informal belasan jurnalis di Taman Ismail Marzuki (TIM) Menteng Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, dibicarakan berbagai hal yang menyangkut kondisi pers Indonesia. Dalam pertemuan itulah, tercetus ide tentang perlunya membentuk organisasi jurnalis alternatif yang independen di luar PWI. Ada juga keinginan untuk membuat media sendiri. Sayangnya, pembicaraan itu tidak berlanjut menjadi aksi konkret.
Di berbagai kota, sebelum AJI berdiri, sudah ada komunitas dan kelompok-kelompok diskusi jurnalis, seperti SPC (Surabaya Press Club, di Surabaya), Fowi (Forum Wartawan Independen, di Bandung), Forum Diskusi Wartawan Yogya (FDWY, di Yogyakarta), dan SJI (Solidaritas Jurnalis Independen, di Jakarta). Para aktivis jurnalis dari sejumlah komunitas inilah yang kemudian ikut bergabung membentuk AJI. Untuk menghormati dan mengakui keberadaan komunitas-komunitas inilah, pada diskusi di Sirnagalih dipilih nama “aliansi” untuk AJI, bukan “persatuan” seperti PWI.
Pembredelan “21 Juni 1994” telah membantu menciptakan momentum yang dibutuhkan bagi lahirnya sebuah organisasi jurnalis alternatif. Pembredelan “21 Juni 1994” adalah semacam shock therapy, yang menjelma menjadi penggalangan solidaritas para jurnalis muda untuk mewujudkan mimpi yang sudah lama terpendam membentuk wadah jurnalis yang independen. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Almahdjar. Penerbitan suratkabar ini pada dasarnya dimaksudkan untuk mendukung kepentingan Bangsa Arab yang bersekolah di Indonesia khususnya di Surabaya.
Suratkabar yang terbit bulanan ini beredar setebal 8 halaman dengan teks berbahasa Indonesia, berisi berita tentang pergerakan Bangsa Arab di Indonesia. Sedangkan berita dari Jakarta, Palembang, Singapura dan iklan di halaman terakhir. Almahdjar dikelola oleh Comite Almahdjar (1928-1929). (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Ambon Baru. Suratkabar mingguan berslogan “Penyokong Keperluan Umum, Istimewa Maluku Mulia” ini diterbitkan tahun 1937-1941 oleh Amboina Hoofbestuu Verenigingchristelijke, Ambonche Volks Bond. Koran mingguan berbahasa Indonesia ini beredar setiap Sabtu setebal 4 halaman. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Anchor. Jika istilah host lebih banyak diterapkan kepada seseorang yang membawakan acara nonberita, maka istilah anchor khusus diberikan kepada seseorang yang membawakan atau menyajikan berita (news reader). Apa sebetulnya perbedaan antara anchor dan news reader?
Pada radio dan televisi, faktor penyaji berita memegang peranan penting dalam penyampaian naskah berita kepada khalayak, agar isi berita dapat sampai kepada khalayak secara jelas dan komunikatif. Ada dua cara yang dikenal dalam penyajian berita:

Cara yang dikembangkan di Amerika Serikat
Di negara ini penyajian berita dikem-  bangkan dengan filosofi smile..., smile...,    smile, atau bersifat santai, dalam arti   tidak harus selalu tegang. Oleh karena   itu di AS dipakai istilah anchor untuk   penyaji berita. Pada dasarnya anchor ber- arti telangkai, yang maknanya perangkai.  Jadi, anchor selain bertugas sebagai   penyaji berita, juga melakukan wawan-  cara langsung dengan narasumber atau   menjadi moderator untuk membantu   diskusi panel, yang masing-masing nara  sumber, baik yang diwawancarai    maupun para panelis, dapat berada di   kota, provinsi, ataupun negara lain atau   yang lazim disebut tele news conference.

Cara yang dikembangkan di Inggris (BBC)
Di negara ini penyaji berita disebut news   reader atau newscasters. Filosofi yang di- gunakan adalah scowl..., scowl..., scowl,   yang maknanya serius, dengan asumsi   bahwa sifat berita adalah formal. Perlu   kewibawaan dari penyaji.
Dalam dunia penyiaran, penyajian berita dapat dilakukan oleh penyiar berita maupun reporter. Yang paling ideal adalah jika seorang penyiar berita bertindak sekaligus sebagai reporter, yang lazim disebut newscasters. Semua penyiar berita dapat menjadi reporter. Namun, tidak semua reporter dapat menjadi penyiar berita. Untuk menjadi penyiar berita, seorang reporter harus memiliki persyaratan khusus di bidang penampilan dan volume suara. Menurut JB Wahyudi, news reader hanyalah tukang baca naskah berita sehingga tidak menjiwai apa yang dibawakannya. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, Askurifai Baksin, Penerbit Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2006)


Andalas - suratkabar harian ini pertama kali terbit tanggal 14 Juli 2005 di Medan, Sumatera Utara. Slogannya “Berani Cepat Akurat”. Pemberitaannya nonsektarian, tidak primordial, dan menjauhi buruk sangka. Pengasuhnya sebagian merupakan pemilik modal Analisa yang tergusur dari suratkabar tersebut. Mereka kemudian bekerja sama dengan Dr. Indra Wahidin, pengusaha iklan Iskandar S.T. (Tim EPI)


Andalas Televisi (ANTV) didirikan pada 1 Januari 1993 sebagai stasiun televisi lokal di Kota Lampung. Tanggal 18 Januari 1993 ANTV mendapat izin menayangkan siaran nasional melalui Keputusan Menteri Penerangan RI No. 04A/1993. Sepuluh hari setelah izin tersebut keluar ANTV mengudara secara nasional. Studio ANTV yang semula berada di Lampung dipindahkan ke Jakarta.
Tanggal 1 Maret 1993 ANTV untuk pertama kalinya memproduksi program sendiri berupa liputan berita aktual jalannya Sidang Umum DPR/MPR. Saat itu ANTV berhasil melakukan siaran langsung jalannya kegiatan penting kenegaraan. Momen istimewa itu yang kini dijadikan sebagai hari jadi ANTV.
Stasiun televisi ini pada mulanya dikhususkan kepada pemirsa remaja (usia 13–25 tahun) dan pernah menyiarkan acara-acara MTV Indonesia hingga awal tahun 2000-an. Tetapi dalam perkembangannya, stasiun ini berubah menjadi stasiun untuk segala usia, sama dengan stasiun televisi yang lain.
ANTV berhasil mencatatkan prestasi gemilang di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penyelenggara konser selama 72 jam yang diselenggarakan akhir tahun 2003.
Pada tanggal 30 September 2005 ANTV menjalin kerja sama strategis dengan jaringan televisi dunia Star TV, milik baron media global Rupert Murdoch. Kerja sama ini ditandai dengan masuknya 20% saham Star TV ke ANTV. Peresmiannya diumumkan langsung oleh Direktur Utama PT Cakrawala Andalas Televisi, Anindya Novyan Bakrie, di Executive Club Hotel Hilton Jakarta.
Masuknya Murdoch ke ANTV menambah fragmentasi bisnis pertelevisian. Menurut film dokumenter Outfoxed: Rupert Murdoch’s War on Journalism, besutan sutradara Robert Greenwald, Murdoch sedikitnya menguasai 300 saluran televisi, puluhan perusahaan film, dan jaringan bioskop. Murdoch memegang News Corporation dan Fox News, dua konglomerasi media besar dunia. Dia menguasai tiga penerbit buku yakni HarperCollins, ReagenBooks, dan Zondervan Christian Publisher.
Jika ditotal, seluruh perusahaan Murdoch melayani tiga per empat penduduk bumi. Murdoch punya kuku di ratusan suratkabar di Australia, Fiji, Papua New Guinea, Inggris, maupun Amerika Serikat. Di televisi, Murdoch menguasai jaringan Fox Station Group, BSkyB di Inggris, Sky Italia, Sky Amerika Latin, Foxtel Australia, Direct TV Group Amerika Utara dan Latin, serta Star TV untuk wilayah Asia.
Secara modal, investasi Murdoch di ANTV tentu tak seberapa. Majalah Newsweek menilai harga saham ANTV yang dibeli Murdoch kurang dari US$20 juta. Tapi kehadiran Murdoch di Jakarta menandai makin terbukanya pasar televisi di Indonesia. Integrasi dengan pasar global makin dekat. Kehadiran Murdoch mengubah peta kepemilikan televisi secara cepat. Ada kecenderungan perusahaan internasional lain, termasuk Astro TV dari Malaysia, akan merambah Indonesia.
Investor-investor ini datang, baik Murdoch maupun Bakrie, bukan karena mereka mau melayani publik, tapi karena bisnis televisi mendatangkan banyak uang. Bayangkan, ada pasar konsumen sebesar 220 juta orang? Diatur secara terpusat dengan aturan hukum lemah? Birokrasi mudah disuap dan publik yang tidak kritis terhadap media? Data Nielsen Media Research 2005, menunjukkan angka 82 persen untuk konsumsi televisi dari total konsumsi media selama 2004.
Masih menurut Nielsen Media Research, televisi mengeruk sekitar Rp 16 trilyun, atau sekitar 70 persen dari total belanja iklan yang mencapai Rp 23 trilyun pada 2005. Disusul suratkabar dan majalah, masing-masing dengan 26 persen dan 5 persen.
Dengan bergabungnya Star TV, ANTV pun mengganti logonya menjadi perpaduan logo Star TV dengan kotak channel dan logo ANTV yang sudah ada.
Logo ANTV merupakan kombinasi dari dua kekuatan yang saling melengkapi, yaitu Star TV dengan pengalaman internasionalnya dan ANTV dengan pengetahuan dan keahlian lokalnya. Perpaduan logo Star TV dengan kotak channel dan logo ANTV yang sudah ada ke dalam bentuk dan format yang unik. Pancaran yang tebal dan berwarna merah menggambarkan kekuatan dan kepercayaan diri menuju masa depan yang gemilang, yang memperlihatkan ANTV dipersembahkan sebagai kebanggaan Indonesia. Warna putih melambangkan tekad ANTV menjalankan usaha ini berdasarkan azas ketentuan yang berlaku dilandasi nilai-nilai kejujuran, ketulusan, serta menjunjung tinggi integritas bangsa.
ANTV (kadang dieja Anteve) adalah singkatan dari Andalas Televisi, adalah stasiun televisi swasta Indonesia. ANTV dimiliki oleh konglomerat Aburizal Bakrie dan sekarang dikelola oleh anaknya, Anindya Bakrie, yang menjadi presiden direktur.
Sampai tahun 2006 ANTV memiliki 21 stasiun relay yang tersebar di beberapa daerah potensial. ANTV mampu menjangkau 154 kota di Indonesia.(Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Andi Sanif Atjo (Mandar, 28 November 1948) - adalah Ketua PWI Cabang Sulawesi Barat (Sulbar) yang terpilih secara aklamasi pada 17 April 2007, setelah sebelumnya ditunjuk sebagai pelaksana pembentukan PWI Cabang di wilayah tersebut.
Meskipun kini aktif di kepengurusan PWI di Sulawesi Barat, Andi Sanif Atjo justru melewati masa mudanya di Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah melalui pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi di Makassar, Atjo bekerja sebagai wartawan beberapa suratkabar yang berdomisili di Makassar, antara lain di suratkabar harian Cahaya Timur (1971), Pembela (1975), suratkabar mingguan Pos Makassar (1980), serta menjadi Kepala Perwakilan/Wartawan Harian Angkatan Bersenjata (AB) di Makassar (1991), dan Kepala Perwakilan Harian Perintis Jakarta (2001), sebelum menjadi Pemimpin Umum Majalah Figur, Makassar (2004).
Aktivitas Andi Sanif Atjo di organisasi PWI Cabang Sulawesi Selatan tercatat sejak ia menjadi Anggota Biasa pada tahun 1983, kemudian beberapa kali menjadi pengurus pleno antara lain, Seksi Wartawan Hankam, Pariwisata dan Perhubungan dan juga Seksi Wartawan Hankam selama tiga periode, dan terakhir sebagai Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan jurnalistiknya Atjo pernah mengikuti berbagai pendidikan dan latihan kewartawanan/jurnalistik antara lain tentang Lingkungan Hidup di Universitas Hasanuddin (Unhas), Kambtibmas di Polda Sulsel, dan tentang pertahanan dan kemanan negara (Hankamneg) yang diselenggarakan Mabes TNI, bertempat di Seskoal Cipulir Jakarta. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Andy F. Noya (Surabaya, 6 November 1960), Pemimpin Redaksi Metro TV. Profesi kewartawanan menjadi cita-cita Andy Flores Noya sejak kecil. Meskipun berasal dari sekolah teknik, Andy ngotot ingin melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP), karena tidak tertarik terhadap bidang teknik, dan  lebih menyukai bidang sastra.
Ketika mendaftar di STP, Andy terbentur persyaratan administratif yang memiliki ketentuan bahwa lulusan teknik tidak boleh masuk sekolah publisistik. Andy lantas membujuk ibunya menemui rektor. Pimpinan sekolah tinggi itu menyarankan agar datang ke Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti). Akhirnya, pihak Dikti luluh dan kemudian memberinya rekomendasi.
Sentuhan pertamanya dengan dunia jurnalistik boleh dibilang tanpa sengaja. Sekitar Oktober 1985, ia mengantar seorang temannya melamar kerja di majalah Tempo -- dan  ikut menjalani tes. Andy pun diterima dan ditempatkan sebagai reporter buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia yang diterbitkan oleh majalah berita mingguan itu. Di sanalah ia berkenalan dengan Rahman Tolleng, pemimpin penerbitan yang kemudian diakuinya sebagai guru jurnalistiknya yang pertama.
Tahun 1986, karena kesulitan membagi waktu, ia memutuskan berhenti kuliah dan berkarir penuh sebagai wartawan. Andy bergabung dengan Tempo hingga tahun 1987. Ketika Harian Bisnis Indonesia terbit, Andy ditawari Lukman Setiawan (salah seorang pendirinya) untuk bergabung. Ia pun tergoda. Katanya, harian lebih dinamis. Selain itu, Tempo memiliki nama besar yang membuat Andy kurang nyaman dan merasa kehilangan jati diri.
Andy termasuk 19 reporter pertama yang direkrut harian ekonomi tersebut. Pemimpin redaksinya saat itu, Amir Daud, diakui Andy sebagai gurunya yang kedua. Andy cuma betah sekitar 2 tahun di sana. Pada tahun 1988, lelaki humoris itu hengkang. Ia kemudian melompat ke Matra, majalah khusus lelaki. Suatu waktu, Matra hendak membuat liputan tentang prostitusi yang melibatkan para selebriti Indonesia. Andy turun ke lapangan dengan menyamar, lalu membayar kaki tangan seorang mucikari untuk menceritakan ihwal bisnis mereka. Sang mucikari ternyata pengusaha kayu. Setelah akrab dengan sumbernya, ia memberanikan diri mengorek seputar bisnis syahwat tersebut. Hasilnya, ia mendapat lebih dari cukup. Ia bahkan memperoleh daftar nama sejumlah selebriti perempuan, lengkap dengan alamat, nomor telepon, radio panggil, berikut tarifnya.
Akibat liputan esek-esek itu ternyata cukup menghebohkan. Andy bahkan diancam sang pengusaha yang takut berdampak buruk atas bisnis perkayuannya. Karena dalam tulisannya Andy juga menyebutkan bahwa si mucikari tersebut adalah alumnus salah satu universitas negeri, giliran alumni perguruan tinggi itu mengajukan protes keras. Merasa tercemar nama baiknya, mereka menggugat.
Pengalaman berkesan lain selama menjadi wartawan Matra adalah ketika mengikuti ekspedisi kapal Dewa Ruci. Sekitar sebulan, Andy ikut kapal latih milik Angkatan Laut RI itu melakukan pelayaran ke Thailand, Brunei, dan beberapa negara lainnya.
Sekitar awal tahun 1992, Andy kembali gelisah. Naluri kutu loncatnya kambuh lagi. Apalagi ketika laporannya tentang peledakan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, tak bisa diturunkan. Lelaki berkacamata minus itu kemudian loncat ke koran Media Indonesia (MI). Hari pertama di harian itu membawa perubahan drastis pada jam tidurnya. Ia merasa seperti dikejar-kejar setan. Ketika di Matra, Sabtu dan Minggu libur, pukul enam sore tiap hari kerja sudah bisa pulang ke rumah. Di “MI” ia terpaksa pulang tengah malam dan pukul delapan pagi sudah berada di kantor lagi.
Ketika stasiun televisi swasta marak bermunculan, Andy tergoda. Dalam benaknya terbersit, “Mungkin hidupku yang sejati ada di televisi”. Suatu siang pada 1998, saat semobil dengan bos “MI”, Surya Paloh, ia mengutarakan rencananya untuk pindah ke RCTI. Paloh bukannya mengizinkan, malah menawarinya membikin televisi baru. “Kalau mau, kamu magang saja di RCTI, sambil kita pikirkan bikin televisi. Kamu tetap di Media saja,” kata Paloh kepada Andy.
Setahun kemudian, rencana Paloh dan Andy pun terwujud. Pada 1999, berdirilah Metro TV. Stasiun televisi itu dibangun dengan konsep dan format CNN, televisi berita 24 jam nonstop. Di televisi berita pertama di Indonesia itu, Andy diberi kepercayaan penuh sebagai pemimpin redaksi.
Hari-hari Andy di Metro TV boleh dibilang supersibuk. Ia terkadang baru pulang larut malam, bahkan pagi hari. Kendati demikian, hubungannya dengan keluarganya tetap hangat. Istrinya, Retno Palupi, yang dinikahinya pada 1987, mengakui hidup bersama Andy  penuh dinamika. Mereka bertemu ketika sama-sama kerja di Tempo. Andy menyebut istrinya “pendongeng”. (Tim EPI. Sumber: PDAT)


Andika, koran mingguan independen, adalah koran lokal Solo yang terbit perdana pada tanggal 3 Juli 1966, di bawah naungan badan penerbit CV Halilintar.
Pada masa jayanya, Mingguan Andika yang memiliki slogan, Objektif-Progresif-Korektif-Pengawal Pancasila tersebut cukup dikenal di masyarakat Kota Solo. Bagi khalayak pembaca di Kota Solo kala itu, berita-berita Andika dianggap cukup memadai sehingga dalam tempo singkat koran yang setiap minggu terbit 8 halaman itu mampu mencapai oplah 10.000 eksemplar lebih.
Pada tahun 1969 suratkabar yang beralamat di Kampung Ketelan IV No. 2 Solo tersebut mengalami perpecahan. Andika dengan Surat Izin Terbit No. 0283/SK/DPHM/SIT/66 terbit bersama pesaingnya yang menggunakan nama Mingguan Independent Andika Baru. Selang beberapa waktu kemudian kedua koran tersebut tidak tampak lagi di pasaran.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
 
      
Anekdot - Kepandaian mengisahkan cerita sering dibantu oleh adanya anekdot, yakni cuplikan kejadian yang lucu atau menarik, yang memberikan tinjauan ke dalam subjek cerita itu dan sekaligus menghibur pembaca. Dalam feature, anekdot bisa berperan sebagai "cerita dalam cerita", berupa cerita oleh atau tentang si subjek.
Mengumpulkan anekdot bisa lebih sulit daripada yang kita duga. Penulis feature mungkin bisa bicara dengan banyak orang yang mengetahui si subjek, untuk mencari anekdot yang bisa menambah wawasan kita tentang wataknya. Persoalannya, kawan-kawan si subjek mungkin enggan bercerita tentang sesuatu yang bisa menurunkan martabat si subjek. Penting dicatat, "memilih" anekdot memerlukan kecerdasan ekstra. Janganlah memilih anekdot yang cenderung merendahkan si subjek, memperolok-olokkannya, atau membuka "rahasia" pribadinya yang ia tak ingin diketahui publik. Jangan lupa, dalam profesi jurnalisme, etika berlaku pada seluruh proses penyajian informasi.
Misalkan penulis suatu ketika mengumpulkan bahan untuk feature yang mendalam mengenai seorang pemimpin agama yang sangat dihormati. Wawancara dengan sahabat dekat tokoh itu sebagai berikut:
Wartawan: "Saya ingin sedikit anekdot tentang Pak Anu, cerita tentang dirinya yang memungkinkan saya memberi gambaran kepada pembaca bagaimana sebenarnya beliau itu. Ada yang Anda ingat?"
Teman Pak Anu (tertawa kecil), "Ya, saya punya banyak, tetapi sebentar, mana yang bisa saya ceritakan." Ternyata kemudian ia melanjutkan, "Wah, saya tidak berani mengatakannya karena saya bisa dimusuhi."
Hasilnya, teman Pak Anu itu bercerita banyak, tetapi hanya yang berlebihan memuji-muji, hingga hanya merupakan gambaran sepihak tentang si subjek.
Mengadakan wawancara dengan lawan si subjek juga sulit. Anekdot yang datang dari lawannya harus diperhatikan benar, apalagi bila bersifat menghina. Bila anekdot itu mengandung maksud politik, atau cenderung fitnah, reporter harus waspada.
Gudang anekdot seorang reporter merupakan sumber yang penting sekali. Ia bisa mengingat-ingatnya bila akan menulis feature tentang pribadi-pribadi atau lembaga. Misalnya cerita tentang pengalaman polisi susila menangkap pelacur di hotel di bawah ini.

"Kami tahu pelayan hotel menyediakan pelacur, sehingga saya berpakaian sebagai tamu dan mendaftarkan diri ke resepsionis. Teman saya duduk di ruang tunggu, dan ia harus berlagak seolah-olah sedang menunggu seseorang."
"Pelayan hotel memberikan 'extraservice' dan membawa wanita. Saya turun tangga dan membeli sebungkus rokok untuk memberi kode pada kawan saya. Ia seharusnya masuk ke kamar saya dalam 15 menit untuk melakukan penangkapan. Ia juga akan menangkap saya, sehingga penyamaran saya berhasil."

"Wanita itu sudah datang ke kamar saya dan saya sudah siap-siap. Setengah jam kemudian, teman saya belum muncul juga. Maka, saya lakukan penangkapan sendiri. Ketika saya membawa wanita dan pelayan hotel turun, teman saya masih duduk di ruang tunggu. Ia sedang membaca komik dan tertawa."

Maka, tak heran bila banyak reporter menganggap anekdot sebagai "permata", dan menaburkan permata itu di semua bagian cerita. Tak cuma dikelompokkan tersendiri di satu tempat. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo, Goenawan Mohamad, Penerbit Institut Tempo, Jakarta, 2007).


Aneta. Nama ini merupakan kepanjangan dari Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap, nama sebuah kantor berita Belanda pada zaman kolonial. Tahun 1953 mengubah statusnya menjadi Pers Bureau Indonesia ANETA, disingkat PBI ANETA (PIA).
Pada akhir tahun 1954 berbagai suratkabar di Jakarta yang bergabung dalam Verenigde Dagblad Pers atau Persatuan Pers Indonesia (PPI) menasionalisasikan ANETA menjadi Persbiro Indonesia dengan singkatan PIA. Pada awal tahun 1963 PIA disatukan dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA. (Tim EPI/Wid. Sumber: Kamus Istilah Jurnalistik, Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia, Penerbit Progres & Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2003).       
Angkasa/Angkasa Online - majalah bulanan, beredar pertama kali tahun 1950 dan diterbitkan oleh Dinas Penerangan TNI AU. 
Setelah beberapa kali berubah penampilan dan melakukan diversifikasi usaha, Angkasa kini juga hadir dengan versi elektronik dengan alamat situs www.angkasa-online.com. Website ini bersifat mendukung seluruh visi dan misi majalah Angkasa sebagai induknya. Sebagai sumber informasi terpercaya di seputar dunia kedirgantaraan, angkasa-online juga merupakan jembatan menuju masyarakat dengan pemahaman yang luas di bidang kedirgantaraan. 
Alamat Redaksi Gedung Gramedia Majalah, Jalan Panjang 8A, Kebon Jeruk, Jakarta – 11530, Indonesia, Telp. (62-21) 5330150, 5330170 ext. 33340-44, Faks. (62-021) 5330071, E-mail Alamat surel ini dilindungi dari spambots. Anda harus mangaktifkan JavaScript untuk melihatnya. . (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)
   
   
Angkatan Bersendjata - suratkabar harian. Koran ini merupakan media resmi milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang terbit perdana pada 15 Maret 1965, lima bulan sebelum peristiwa berdarah 1 Oktober 1965 terjadi. Koran ini mendapatkan payung hukum dari Menteri Penerangan Kabinet Dwikora I, Mayor Jenderal TNI Achmadi, dengan surat izin terbit No. 002/R/SKPPHM/SIT/1965 tertanggal 9 Juni 1965.
Angkatan Bersenjata (“AB”) didirikan pada masa kekuasaan Orde Lama atas inisiatif beberapa tokoh ABRI, termasuk Jenderal AH Nasution, Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Sugandhi untuk membendung propaganda yang dilancarkan PKI (Partai Komunis Indonesia). “Bisa dikatakan koran yang dari lahirnya menentang komunis adalah Harian ‘AB’,” kata Nasrudin Hars, Pemimpin Redaksi “AB”.
Oleh karena itu pengelolaan “AB” berada di bawah pengawasan langsung Menko/Hankam/KASAB, Men/Pangad, Men/Pangal, Men/Pangau, Men/Pangak saat itu. Sedangkan penanggung jawab keredaksian dipegang Brigjen H. Sugandhi dan Kolonel Purn. H. Widja sebagai wakil. Sedangkan pemimpin redaksinya adalah Kolonel Djojopranoto, dan administrasi ditangani Soegiarso Soerojo.
Dewan Redaksi saat itu terdiri dari Kepala Pusat Penerangan di semua angkatan (AD-AL-AU-AK), beserta Letkol TNI Isa Edris, Letkol TNI Komar, Mayor TNI Jusuf Sirath, B.A., dan staf redaksi antara lain Moenir Hady, S.H., M. Taslim.
Di bawah lindungan para jenderal itulah Angkatan Bersendjata yang hadir dengan slogan “Batjaan Pradjurit, Veteran, Hansip, Purnawirawan, dan Rakjat Pedjoang Progresif Revolusioner”, turut melempangkan jalan sebuah orde yang baru di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Soeharto yang menerima mandat melalui Surat Perintah 11 Maret. Segera setelah itu kebijakan politik, keamanan, dan ekonomi baru diambil. Pada kurun itu, propaganda yang diusung Harian Rakjat sekian tahun tiba-tiba raib dan diganti propaganda antitesis Angkatan Bersendjata.
Harian ini juga hadir sebagai salah satu bentuk pelaksanaan konsep Dwifungsi ABRI. Menurut Nasruddin Hars, “Peran Sospol dan Hankam harus banyak diketahui informasinya oleh masyarakat.” Bisa dikatakan “AB” sebagai koran umum, yaitu suratkabar yang memuat berita-berita umum.
Karena ABRI sebagai pendukung pemerintah, berarti ABRI harus mendukung politik pemerintah, terutama pembangunan yang diprioritaskan di bidang ekonomi. Dengan demikian, “AB” harus tetap menawarkan seluruh kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam rangka pembangunan nasional pada umumnya, dan berusaha memosisikan diri di barisan pemerintah.
Pada awal peredarannya koran 4 halaman ini, memasang tarif iklan per mm seharga Rp 50. Sedangkan harga berlangganan sebulan Rp 950 sudah termasuk ongkos kirim.Saat itu Angkatan Bersendjata beralamat di Petojo Selatan II Jakarta, Kotak Pos 405 DKT.
Tahun 1980-an koran ini sempat mengubah penampilan. Logonya pun disebut Harian “AB” , dengan harapan  agar lebih terkesan sebagai harian umum sehingga dapat mendongkrak pasar. Tapi tidak berhasil.
“AB” diterbitkan oleh Yayasan Manggala Press Jaya, dengan Pemimpin Umum Ex oficcio Kapuspen ABRI, Pemimpin Redaksi Nasruddin Hars, dan Pemimpin Perusahaan Perwira ABRI maupun Sipil yang ditempatkan. Alamat Redaksi dan TU: Jalan Merdeka Barat No. 21 Jakarta telepon (021) 364568, 3851592. (Tim EPI/KG. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indexpress/Jurnas)

    
Angkatan Bersendjata Edisi Surakarta  - koran mingguan yang terbit di Solo berdasarkan Surat Izin No. 029/SK/PHM/SIT/1965, tanggal 19 Maret 1966. Angkatan Bersenjata Edisi Surakarta setiap minggu terbit 8 halaman dalam format broodsheet, dengan tiras 5.000 eksemplar.
Dengan slogan “Mengamalkan dan Mengamankan Ajaran Bung Karno. Bacaan Prajurit, Veteran, Hansip, Purnawirawan, Sukarelawan, dan Rakyat Pejuang Progresif Revolusioner.”
Penerbit koran mingguan Angkatan Bersenjata Edisi Surakarta adalah Kompartimen Pertahanan, dengan alamat Penerbit Dharma Press Solo. Penanggung Jawab penerbitan tersebut adalah R.H. Soegandhi, Penanggung Jawab setempat Kolonel Widodo, tim pembimbing Letkol Th. J. Sumantha, Lettu Soehardi, Lettu (U) Sukardi dan IP Tk. II RS Nindyo Rumekso. Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Pranowo Sastrosudirjo. Alamat, RRI Surakarta, Jalan Marconi No. 1 (sekarang Jalan Abdulrahman Saleh) Solo. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Ani Idrus, (Sawah Lunto, Sumatra Barat 25 November 1918 - Medan 9 Januari 1999) - wartawan. Ani Idrus adalah penerbit Wanita, majalah khusus wanita pertama di Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Majalah yang beredar di Kota Medan ini pada bulan Juni 1949, diubah menjadi Dunia Wanita.
Majalah tersebut banyak menyajikan tulisan tentang pemberdayaan wanita, tidak saja yang disiapkan oleh anggota redaksi di Medan, melainkan kiriman dari penulis-penulis di Jakarta, antara lain tokoh pergerakan dan mantan Menteri Perburuhan S.K. Trimurti. Menjelang akhir dasawarsa 1980-an, karena tidak mampu bersaing dengan media wanita yang tumbuh bagai jamur di musim hujan, majalah Dunia Wanita akhirnya gulung tikar setelah terbit sepanjang lebih 30 tahun.
Selepas dari sekolah dasar dia meneruskan pendidikan di madrasah. Kemudian dilanjutkan di Medan, dan di kota ini Ani masuk Methodist English School serta beberapa sekolah khusus, MULO Taman Siswa, serta SMA sederajat.
Tahun 1962-1965 Ani mengikuti kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan. Tahun 1975  masuk Fakultas Ilmu Politik, dan Juli 1990 menyelesaikan ujian guna memperoleh gelar S-1. Sebelum itu, antara 1967 dan akhir 1969, Ani sempat menambah ilmu dan wawasan di London sambil bekerja di Kedutaan Besar RI setempat, atas persetujuan Duta Besar Ibrahim Adjie, mantan Pangdam VI/Siliwangi yang pada masa revolusi pernah bertugas di Sumatera Utara.
Ani mengawali karir jurnalistiknya pada tahun 1930 dengan menulis di majalah Pandji Pustaka, Jakarta. Tahun 1936 dia bekerja di suratkabar Sinar Deli Medan, menjadi pembantu pada majalah politik Penyedar, dan selanjutnya bersama suaminya, Mohammad Said, pada tahun 1938 menerbitkan majalah Seruan Kita. Selain menerbitkan majalah Wanita, Ani Idrus mendampingi suaminya di Harian Waspada sejak suratkabar tersebut didirikan tanggal 11 Januari 1947.
Selain di bidang pers, Ani Idrus juga aktif dalam kegiatan politik. Sebelum Indonesia merdeka, ia pernah mengetuai organisasi pergerakan pemuda di Medan antara lain Indonesia Muda (1934), dan pernah aktif dalam Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo, 1937). Pada tahun 1949 Ani Idrus menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) dan sempat beberapa kali menjadi Ketua Biro Penerangan di Medan dan anggota Pleno Pusat PNI di Jakarta.
Ani Idrus juga turut mendirikan Front Wanita Sumatera Utara dan menjabat sebagai Ketua, serta menjadi anggota Angkatan ’45 tingkat Pusat. Antara tahun 1950-1956, dia ikut mendirikan dan memimpin organisasi Wanita Demokrat, yang selanjutnya bernama Wanita Marhaenis, yang berafiliasi dengan PNI.
Antara tahun 1960 hingga 1970, Ani menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sumatera Utara, mewakili golongan wanita dan kemudian mewakili wartawan (waktu itu disebut Golongan Karya). Tahun 1963-1964, pada saat meningkatnya aksi-aksi radikal PKI, Ani sempat dikecam politisi dan pers PKI di karena mengajukan usul kepada DPR Sumut agar memberlakukan pendidikan agama di sekolah-sekolah untuk mengatasi masalah kenakalan remaja. Setelah muncul demonstrasi dari kubu PKI dan kontrademonstrasi dari kubu Islam, usulannya diterima DPR dan sebaliknya pihak PKI gagal menuntut pemberhentian Ani Idrus sebagai anggota DPR.Dalam dunia pers, Ani Idrus tercatat sebagai pendiri dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia di Medan (awalnya disebut PWI Kring Medan) yang berdiri pada tahun 1951. Selanjutnya dari tahun 1953 hingga 1963 menjadi ketuanya.
Tahun 1959 Ani Idrus ikut mendirikan dan menjadi Ketua Yayasan Balai Wartawan Medan, serta menjadi Wakil Ketua Yayasan Akademi Pers Indonesia (API) yang juga ikut didirikannya, untuk menyelenggarakan pendidikan jurnalistik setara perguruan tinggi.
Selain wartawan dan politisi, Ani juga merupakan tokoh di bidang pendidikan. Tahun 1953 ia mendirikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar di Medan, dan pada tahun 1960 mendirikan Yayasan Pendidikan Demokratik (selanjutnya disebut Yayasan Pendidikan Ani Idrus). Ani Idrus juga mendirikan Perguruan Eria  yang meliputi taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, dan SMA.
Tahun 1987 dia mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIKP) di dekat rumahnya di Jalan Singamangaraja Medan, yang sampai kini sudah mewisuda ratusan lulusan S-1 jurusan hubungan masyarakat dan jurnalistik.
Sebagai jurnalis, Ani Idrus banyak melakukan perjalanan tugas di dalam dan luar negeri. Pada tahun 1953 ia mengikuti rombongan misi pemerintah RI ke Jepang yang dipimpin Dr. Sudarsono, yang merundingkan penyelesaian pampasan perang. Tahun 1963 mengikuti rombongan Menlu Subandrio ke Manila dan rombongan Presiden Soekarno ke Irian dalam rangka penyerahan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tahun 1976 Ani mengikuti rombongan Menteri Luar Negeri Adam Malik ke KTT Non Blok di Sri Lanka.
Dia juga menulis dan menerbitkan beberapa buku, antara lain Buku Tahunan Wanita (1953), Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci (1974), Wanita Dulu, Sekarang dan Esok (1980), Terbunuhnya Indira Gandhi (1984), Sekilas Pengalaman Dalam Pers dan Organisasi PWI di Sumatera Utara (1985), dan Doa  Utama Dalam Islam (1987).
Sejak kembali dari Inggris pada tahun 1969 Ani Idrus secara penuh memimpin suratkabar Waspada setelah suaminya mengundurkan diri, dan anak tertuanya, Tribuana, pindah ke harian Merdeka, Jakarta. Sebelum kondisi uzur menghalanginya, dia tetap aktif memimpin Waspada, Perguruan Eria, dan STIKP, didampingi anak-anaknya, Rayati, Teruna, dan Prabudi. Pada masa tuanya Ani rajin mengikuti kegiatan-kegiatan sosial dan profesional di Medan, Jakarta dan kota-kota lainnya. Ani, yang sering disapa Bunda, meninggal dunia di Medan pada tanggal 9 Januari 1999. (Tim EPI/ES)


Anita, koran yang memiliki slogan Orgaan van de Vereeniging Algemeene Tentoonstelleig van Nederlandch-Indische Henbow- veetel-Visschery- Handel en Nijverheid diterbitkan di Surabaya oleh de Vereeniging Anita tahun 1916.
Mingguan berbahasa Belanda ini terbit khusus untuk mempersiapkan pameran hasil pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan dan kerajinan dari Hindia Belanda maupun dari Belanda yang berlangsung pada 1 Mei hingga 1 November 1918.
Semua yang dipamerkan dipersiapkan secara matang sehingga masyarakat paham betul materi pameran. Bagian publikasi siap menjawab pertanyaan masyarakat sampai sekecil-kecilnya. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Anita Cemerlang. Majalah yang ditujukan untuk kalangan remaja ini awalnya bernama Anita. Terbit pertama tahun 1978 ketika Indonesia dilanda penerbitan majalah kumpulan cerpen. Perintis bisnis kumpulan cerpen ini adalah majalah remaja Gadis yang terbit pada tahun 1976. Banyak yang menganggap kumpulan cerpen sejenis itu laku keras, sehingga muncul sejumlah kumpulan cerpen lain seperti “Ringan”, “Pesona”, “Mama”, dan “Firnela”. Pada saat itulah, R. Risman Hafil tergiur ikut menerbitkan bacaan sejenis.
Majalah yang dihiasi ilustrasi yang memikat ini memiliki peruntungan yang cukup bagus. Oplahnya bisa mencapai 10.000 eksemplar setiap terbit.
Seperti majalah-majalah sejenis lainnya  Anita awalnya terbit tanpa surat izin. Namun sejak mendapat teguran dari Deppen pada 1980, Risman mengantisipasinya dengan menggunakan Surat Izin Terbit yang pernah digunakan majalah anak-anak Cemerlang. Namanya pun berubah menjadi Anita Cemerlang. Sesuai semboyannya “lambang idola para gadis” pangsa pembaca remaja yang dibidik majalah ini remaja putri usia 13 tahun sampai 20 tahun.
Meski begitu, Anita Cemerlang tetap mempertahankan ciri khasnya. Sampul depan tetap berupa ilustrasi dan sebagian besar isinya cerpen untuk remaja. Pada perkembangan berikutnya, majalah Anita mulai memuat feature, dengan perbandingan 50% fiksi dan 50% nonfiksi.
Menurut Elmagusni Hafil, pemimpin redaksinya, masa kejayaan majalah remaja ini terjadi tahun 1986 ketika dikelola Adek Alwi. “Saat itu oplahnya sempat mencapai 60 ribu eksemplar. Majalah ini bahkan sempat populer dan menjadi andalan serta wahana kreativitas bagi pengarang cerpen remaja Indonesia. Banyak nama pengarang yang kini menghiasi media massa di Indonesia lahir pertama kali melalui majalah remaja ini,” ungkapnya.
Setiap terbit majalah ini menyajikan sekitar 15 cerita pendek. Dengan formula seperti ini, Anita Cemerlang punya keunggulan tertentu dibandingkan majalah sejenis di pasaran. Oplahnya pada akhir tahun 1995 mencapai antara 50-60 ribu eksemplar setiap terbit.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).

       
Antara, kantor berita resmi pemerintah Indonesia. Sejarah kantor berita Antara merupakan bagian dari sejarah bangsa. Antara didirikan pada tanggal 13 Desember 1937 oleh tokoh-tokoh pers Indonesia antara lain A.M. Sipahoetar, R.M. Soemanang, Adam Malik, dan Pandoe Kartawigoena.
Pada masa pendudukan Jepang, Antara merupakan bagian dari kantor berita Jepang Domei. Melalui kantor berita ini, berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia oleh para pejuang RI yang bekerja di  kantor berita tersebut.
Ketika ibu kota RI pindah dari Jakarta ke Yogyakarta tahun 1946, Antara juga ikut pindah dan baru kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan republik pada tahun 1949.
Kantor berita Antara yang dikenal sekarang, menurut H. Soegiyarto P.S., merupakan hasil penggabungan kantor berita Antara (lama) dan berbagai kantor berita lain, seperti PIA (Pers Biro Indonesia), INPS (Indonesia Press and Publicity Service), dan APB (Asian Press Board) pada tahun 1962.
Sebagai lembaga yang fungsi utamanya menyebarluaskan berita, kegiatan Antara terdiri dari penerimaan berita, penyeleksian, penyuntingan, dan pencetakan untuk kemudian mendistribusikannya kepada pelanggan melalui jaringan telex, paket udara, dan kurir.
Sumber beritanya diperoleh dari para wartawan yang bertugas di seluruh pelosok tanah air, perwakilan, dan koresponden luar negeri maupun dari kantor berita negara-negara Asia Pasifik dan dunia ketiga lainnya. Pada mulanya pengiriman berita dilakukan melalui sistem pemancar yang kemudian digantikan dengan teknologi yang lebih maju yakni sistem telex pada tahun 1976. Sejak Juli 1986, setelah melalui persiapan yang cukup matang, proses penerimaan, penyuntingan, dan pengiriman berita dilakukan dengan menggunakan komputer.
Kantor berita Antara menyediakan beberapa jenis produk dan jasa untuk memenuhi pelanggannya. Produk dan jasa tersebut antara lain buletin Warta Berita, Warta Ekonomi & Keuangan, Olah Raga, Info Pasar, Info Finansial, Suara Pers, Ikhtisar Sepekan, Antara Spektrum, Rekaman Peristiwa, dan Warta Perundang Undangan, yang semuanya terbit dalam bahasa Indonesia.
Di samping dalam bahasa Indonesia, Antara juga menerbitkan produk dalam bahasa Inggris yang merupakan hasil kerja sama dengan Reuters dan Telerate News Bulletin yakni Buletin Financial & Economic News, Daily Market Qoutations, Rubber News, Exchange Bulletin, Copper Quotation, dan Weekly Review).
Sebagai bagian tugas internasional, kantor berita Antara menyalurkan berita ke luar negeri melalui kantor berita PTI (India), DPA (Hamburg), IINA (Jeddah), Opecna (Wina), dan Bernama (Kuala Lumpur). Antara menjadi anggota Anex (ASEAN News Exchange), Oana (Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik), IINA (Kantor Berita Islam Internasional), Nanap (Pool Kantor Berita Non-blok), dan Opecna (Kantor Berita negara-negara OPEC).
Pada tahun 1972, Antara resmi menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) yang langsung berada di bawah Presiden Republik Indonesia. Dengan jaringannya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, memungkinkan Antara memperoleh dan memasok berbagai informasi tentang Indonesia secara lengkap dan terperinci. Saat ini Antara sudah memiliki perwakilan di setiap ibu kota provinsi dan kota-kota penting di seluruh Indonesia.
Visi LKBN Antara adalah menjadi organisasi penyedia jasa informasi terkemuka yang mandiri di Asia dengan distribusi multimedia global di tahun 2008. Sedangkan misi lembaga ini adalah mencerdaskan bangsa Indonesia dan dunia dengan menyediakan informasi independen tentang keadaan Indonesia secara cepat, kredibel, dan lengkap.
LKBN Antara memiliki situs (website) Antara.co.id, Biro Foto Antara, Antara TV, IMQ, dan Antara Pustaka Utama. Situs Antara diluncurkan pertama kali pada tahun 1996 dengan tujuan memberikan kemudahan bagi pembaca berita Antara baik dari dalam maupun luar negeri secara cepat, lengkap, dan akurat. Setelah diluncurkannya beberapa produk Antara yang dapat diakses melalui situs web yaitu IMQ dan Foto Antara serta beberapa produk kerja sama maka dibangunlah situs Antara terpadu yang diharapkan akan memberikan kemudahan kepada masyarakat luas untuk mengakses layanan tersebut. Situs Antara terpadu ini dapat diakses oleh pengguna dengan alamat http://www.antara.co.id.
Biro Foto Antara mendistribusikan dan menyiarkan foto berita hasil produksi wartawan foto Antara yang membidik berbagai peristiwa, seperti politik, ekonomi, olah raga, sosial budaya, lingkungan, dan human interest baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Foto Berita Antara bisa diakses melalui website www.antaraphoto.com.
Kini Antara tidak hanya memasok informasi dalam format teks. Dengan berdirinya Antara TV content provider pada April 2004, Antara melangkah memasuki dunia multimedia. Hadirnya Antara TV news content provider merupakan langkah yang telah dirintis sejak beberapa tahun sebelumnya, sebagai antisipasi munculnya stasiun TV lokal.
IMQ adalah penyedia jasa informasi real-time, aplikasi, dan solusi bisnis untuk pasar finansial dan institusi pemerintahan. IMQ menyajikan informasi pasar finansial yang meliputi informasi bursa saham dari bursa efek (baik Bursa Efek Jakarta maupun Bursa Efek Surabaya yang kemudian disatukan), informasi bursa komoditas dari BJJ (Bursa Berjangka Jakarta) dan informasi Forex & Global Index dari bursa seluruh dunia. Informasi finansial tersebut ditampilkan dalam bentuk data, grafik dan berita, juga dilengkapi analisis yang menyangkut pasar finansial dalam dan luar negeri.
Antara Pustaka Utama merupakan jasa penerbitan dan percetakan. Melayani penerbitan dan percetakan buku, majalah intern, dan beragam jasa cetak lain. Unit usaha Antara ini juga menawarkan kerja sama dan jasa konsultasi untuk penerbitan majalah dan buku, mulai dari redaksional sampai ke percetakan dan penerbitan.
LKBN Antara juga memiliki Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara (LPJA). LPJA adalah unit usaha pendidikan dan pelatihan yang telah berpengalaman sejak tahun 1937.
Didukung oleh tenaga staf pengajar profesional di bidangnya, program pelatihan LPJA ditujukan untuk seluruh masyarakat, termasuk mereka yang sudah bekerja dan ingin memperdalam pengetahuan dan keterampilan, penguasaan keahlian individual, serta pengalaman praktik lapangan. Pelatihan diselenggarakan melalui metode pelatihan yang efektif dan efisien, mengedepankan keterampilan individual, serta dibimbing dan diasuh oleh wartawan senior dan fotografer Antara.
Situs Antara News diluncurkan pertama kali pada tahun 1996 dengan tujuan mengikuti perkembangan teknologi informasi dan diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi pembaca berita Antara baik dari dalam maupun luar negeri untuk mengakses berita Antara secara cepat, kredibel, dan lengkap. Situs ini menyajikan berita dalam dua versi, bahasa Indonesia dan Inggris.(Tim EPI)
Antassalam - stasiun radio, termasuk salah satu perintis radio siaran di Kota Bandung dengan nama Radio Fortune. Ketika manajemen melakukan perubahan format dari multy segment ke format dakwah islamiah, nama Radio Fortune diubah menjadi Radio Antassalam dan menempati alamat baru di Jalan Purwakarta No. 200, Griya Antapani Bandung.  Kini Radio Antassalam mengudara pada FM 103.9 MHz, Call Sign PM3FHO dengan slogan Moslem Stasion.
Pada saat itu, ada pendapat dari kebanyakan pengelola radio siaran bahwa frekuensi FM tabu menyiarkan jenis musik lain, kecuali jenis musik jazz, klasik dan sejenisnya, serta hanya akan menjangkau pendengar kelas menengah ke atas. Radio Antassalam di bawah pengelolaan H. Dede Maulana, ternyata menafikan pendapat-pendapat sepihak tersebut. Radio Antassalam masuk di jalur FM dan memilih format musik Dangdut 40%, Pop Indonesia 30%, Musik Sunda 20% dan Nasyid 10%.
Ternyata pilihan ini mendapat sambutan positif dari pendengarnya, sekaligus membuka cakrawala dan pandangan baru, bahwa musik termasuk dangdut adalah milik semua orang; demikian pula radio di jalur FM adalah milik seluruh pendengar radio tanpa kecuali. Sebuah lembaga survei media menyodorkan data bahwa Radio Antassalam menempati peringkat pertama dalam raihan pendengar di Kota Bandung. Sukses lainnya yang pernah diraih Radio Antassalam adalah masuk peringkat tiga besar untuk pengelolaan manajemen nasional, serta beberapa kali mendapat penghargaan dalam pelaksanaan penyebaran informasi pameran pembangunan di Kota Bandung dengan melakukan siaran langsung dari arena pameran, melalui sistem mobil studio (siaran bergerak), dengan peralatan yang modelnya dirancang dan dibuat sendiri. (Tim EPI/DAR)


Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin. Anugerah Jurnalistik M.H Thamrin PWI Jaya merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang DKI Jakarta atas karya jurnalistik anggotanya. Program ini telah berlangsung secara berkesinambungan selama setengah windu, yang bermula dari Anugerah Jurnalistik Trophy PWI Jaya, yang  sejak 1974 diselenggarakan seiring dengan Anugerah Jurnalistik Adinegoro PWI Jaya. Anugerah ini diadakan secara khusus untuk mendorong kreativitas dan inovasi setiap wartawan anggota PWI Jaya.
Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin diberikan tiap tahun kepada para wartawan yang berprestasi tinggi dalam melahirkan karya jurnalistik. Bidang-bidang karya jurnalistik yang dinilai dan diberi penghargaan meliputi bidang metropolitan, fotografi, karikatur, film dan tajuk rencana. Anugerah ini diberikan kepada pemenangnya pada setiap awal tahun berikutnya, yang selalu akan dikaitkan dengan puncak peringatan Hari Pers Nasional. Kepada masing-masing pemenang diberikan sebuah trophy, piagam penghargaan dan uang tunai.
Karya jurnalistik anggota PWI Jaya yang diusulkan untuk dinilai Dewan Juri dan mendapatkan Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Bidang Metropolitan.
 1. Karya tulis asli perorangan, bukan sa-   duran, bukan terjemahan dan bukan    rangkuman. Dengan demikian, karya    tim tidak masuk penilaian.
 2.  Tema tulisan yang berkaitan erat dengan   masalah pembangunan perkotaan (me-   tropolitan) Jakarta, mencakup semua    bidang kehidupan atau pembangunan    seperti ekonomi, politik, sosial dan bu-   daya lainnya.
 3. Penulis adalah wartawan anggota    Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)    Cabang DKI Jaya.
 4. Bentuk tulisan diutamakan Reportase,    hasil investigasi yang mendalam, kaya    dengan data dan analisa serta mengan-   dung kritik yang membangun. Dengan    demikian, karya tulis yang masuk peni-   laian haruslah bersumber pada hasil kun-  jungan lapangan dan bukan karya di “be-  lakang meja.”
 5.  Bahasa yang digunakan adalah bahasa    jurnalistik Indonesia yang memenuhi    kaidah bahasa Indonesia yang baik dan   benar.
 6. Dimuat dalam media cetak yang terbit    di Jakarta dalam kurun waktu satu    tahun dari Januari sampai dengan    Desember.
b. Bidang Foto.
 1. Dimuat dalam media cetak ber-SIUPP    yang terbit di Indonesia dalam kurun    waktu satu tahun, dari Januari sampai    dengan Desember.
 2. Fotografer adalah wartawan anggota    Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)    Cabang DKI Jakarta.
 3. Karya foto orisinil, bukan hasil manipu-   lasi, teknis pemotretan atau separasi.    Boleh tata warna, boleh hitam putih.
 4. Tema foto mencakup berbagai subjek    berita (tokoh, tempat, peristiwa) diba-   gi dalam kategori: Pembangunan,    Lingkungan Hidup, Olahraga, Potret,    Peristiwa, Kesenian, Kecelakaan, Ben-   cana Alam, Perkotaan.
 5. Seleksi awal dilakukan sesuai topik    menonjol sepanjang tahun yang berlalu.
 6. Penilaian dilakukan dengan kriteria:    Tematik, Teknik, Estetik, Etik.
c. Bidang Karikatur.
 1. Semua karikatur karya asli perorangan,    yang mengandung pesan atau unsur    kritik membangun, merupakan kartun    opini. Dengan demikian, jenis kartun    yang bersifat “menghibur” atau     “bercerita” (komik) tidak masuk dalam    penilaian.
 2. Tema karikatur bebas, mencakup    berbagai bidang kehidupan atau pem-   bangunan apa saja yang tengah berkem-  bang dan menjadi perhatian kalangan    masyarakat luas.
 3. Karikaturis adalah wartawan anggota    Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)    Cabang DKI Jakarta.
 4. Disajikan dengan kemampuan teknik    menggambar yang baik dan prima.
 5. Dimuat dalam media cetak yang terbit    di Indonesia dalam kurun waktu satu    tahun dari Januari sampai dengan De-   sember.
d. Bidang Film.
 1. Karya tulis asli perorangan, bukan    saduran atau bukan terjemahan dan    juga bukan rangkuman.
 2. Penulis adalah wartawan anggota Per-   satuan Wartawan Indonesia (PWI) Ca-   bang DKI Jakarta.
 3. Tema bebas, berkaitan erat dengan    masalah pembangunan perfilman na-   sional. Mengandung kritik membangun   dan mampu menyajikan permasalahan    sekaligus pemecahannya.
 4. Bentuk tulisan dapat berupa sajian se-   buah resensi karya film atau senetron    dan dapat pula berupa hasil reportase    atau hasil ivestigasi yang mendalam,    kaya dengan data dan analisa serta    mengandung kritik yang membangun.
 5. Bahasa yang digunakan adalah bahasa    jurnalistik Indonesia yang memenuhi    kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan   benar.
 6.  Dimuat dalam media cetak yan2, terbit    di Jakarta dalam kurun waktu satu tahun   dari Januari sampai dengan Desember.
e. Bidang Tajuk Rencana.
 1. Tajuk Rencana yang dimuat di semua su-  rat kabar harian, Majalah Mingguan/bu-  lanan dan Tabloid yang terbit di Jakarta.
 2. Tema Tajuk Rencana meliputi bidang    Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya, yang   tengah aktual dan menarik perhatian    kalangan masyarakat luas dalam kurun    waktu satu tahun berjalan. Dengan    demikian, tema untuk masing-masing    bidang (politik, ekonomi dan sosial-   budaya) setiap tahun selalu berubah.
 3. Penghargaan untuk bidang Tajuk Ren-   cana diberikan kepada badan penerbit    suratkabar/Majalah/Tabloid
 4. Dimuat dalam media cetak yang terbit    di Jakarta dalam kurun waktu satu tahun   dari Januari sampai dengan Desember.
  Sistem praseleksi atas setiap karya jur-   nalistik dilakukan secara aktif dan pasif   oleh sebuah Tim Praseleksi Pelaksana    Anugerah Jurnalistik M H. Thamrin. Se   cara aktif, pihak Pelaksana setiap hari    sepanjang tahun berjalan terus melaku-   kan pemantauan dan pengumpulan kar-  ya jurnalistik untuk kemudian dinomi-   nasikan dan diserahkan kepada Dewan    Juri guna dinilai dan dicarikan para pe   menangnya. Secara pasif, pihak Pelak-   sana juga meminta atau menerima seti-   ap karya jurnalistik yang diajukan atau    dikirim langsung oleh masing-masing    penerbit suratkabar/majalah/tabloid un-  tuk dinilai Dewan Juri.
 5. Pelaksana Anugerah Jurnalistik seku-   rang-kurangnya setiap tiga bulan sekali   mengadakan rapat untuk melakukan    evaluasi terhadap hasil pemantauan dan   pengumpulan karya jurnalistik. Penilai-   an atas karya jurnalistik yang diusulkan   akan dilakukan oleh Dewan Juri yang ter-  diri dari para pakar di bidang jurnalistik   dan disiplin ilmu tertentu.
 6. Dewan Juri untuk masing-masing bidang   karya jurnalistik hanya akan memilih satu   pemenang terbaik dan berhak menda-   patkan penghargaan tertinggi dari PWI    Jaya yakni berupa Anugerah Jurnalistik   M.H. Thamrin.

 Pengumuman dan pemberian penghargaan Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin akan dilakukan pada puncak kegiatan Hari Pers Nasional tingkat DKI Jaya. (Tim EPI; Sumber: Booklet Anugerah Jurnalistik M.H. Thamrin)


Anwar Tjokroaminoto (Surabaya, 3 Mei 1909 - Jakarta, 16 November 1975). Tokoh politik, pejuang kemerdekaan, dan wartawan, putra HOS Tjokroaminoto. Setelah menamatkan pendidikan MULO, ia menjabat guru di sekolah yang didirikan PSII di Lampung, lalu menjadi wartawan suratkabar Pemandangan di Jakarta. Ketika mengasuh rubrik “Pojok”, ia dikenal sebagai Bang Bejat atau menulis dengan inisial A, Tj.
Setelah tahun 1942 Anwar meneruskan pekerjaannya sebagai wartawan Harian Asia Raja bersama Winarno (Mas Clobot). Tulisannya sama tajamnya dalam suasana pendudukan tentara Jepang dengan pada zaman Hindia Belanda. Setelah 1945, ia menjadi anggota staf Jenderal Soedirman, berpangkat kolonel, dan menjabat Menteri Sosial pada Kabinet Wilopo (April 1952-Juli 1953). Ia meninggal dunia ketika menjabat sebagai anggota DPA.(Tim EPI)


Api - suratkabar harian. Terbit di Semarang pada tahun 1899. Suratkabar yang berslogan “Soeara Kaoem Proletar dan Segala Bangsa dan Agama”, termasuk suratkabar beraliran kiri. Berita-beritanya banyak yang bernada provokasi, di antaranya berita utama pada edisi 17 Februari 1926, yang mengangkat berita dengan judul: “Selamanya Zentgraaf mengatjau balau, selamanya kita ta’ akan tinggal bergoeraoe.”
Berita lain menyangkut masalah tenaga kerja yang diperlakukan tidak manusiawi dengan gaji kecil. Kecuali itu, ada berita luar negeri di halaman satu tentang keadaan pekerja di pabrik mobil Ford, soal pergerakan kaum perempuan dan lain-lain.
Suratkabar berbahasa Indonesia ini  diterbitkan Drukkerij “Bromo”, beralamat di Karcesweg No. 79, Semarang. Pemimpin redaksinya S. Soewitowignjo, dan administrasi dipimpin A. Mangkoe Somarata. Api dijual eceran 10 sen dan langganan seharga Rp 1,70 per bulan. Tarif iklan per baris Rp 0,09. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Api Rakjat – suratkabar harian. Terbit di kota Madiun, Jawa Timur, pada tahun 1944. Suratkabar berbahasa Indonesia dengan format broadsheet ini, merupakan media politik golongan kiri yang diterbitkan Badan Penerbit Oemoem Madioen.
Sebagai suratkabar “kiri” yang anti Barat, porsi pemberitaan Api Rakjat juga lebih banyak menyerang negara-negara Barat. Dalam berita utama salah satu edisi tahun 1947, Api Rakjat memberitakan peristiwa penyerobotan kapal di Cirebon. Di bawah judul “Kapal Inggris diserobot Belanda”, Api Rakjat menulis besar-besar peristiwa tanggal 8 Januari 1947, dengan menyatakan Belanda “sudah mata gelap”.
Berita politik nasional yang menunjukkan Api Rakjat berhaluan “kiri” antara lain pada artikel yang berjudul “Revolusi Jalan Terus.” Sedangkan dalam memberitakan masalah kemerdekaan, Api Rakjat menulis tentang serombongan delegasi negara-negara Arab yang akan ke Indonesia untuk menyatakan pengakuan atas kemerdekaan RI.
Dalam memberitakan peristiwa luar negeri, Api Rakjat mengangkat masalah pergantian menteri luar negeri AS dari James Byrnes ke George Marshall.
Berita-berita lain yang diangkat Api Rakjat dalam porsi besar adalah tentang “situasi panas” berkaitan dengan Madiun Affair pada edisi 17 Juli 1947. suratkabar tersebut menurunkan berita tentang pernyataan Perdana Menteri Amir Syarifuddin soal perkembangan politik waktu itu. Dalam edisi yang sama Api Rakjat memberitakan perang Vietnam, berita tentang sidang  kabinet saat ibukota republik hijrah ke Yogyakarta dan lain-lain. Berita yang cukup menarik lainnya, yaitu peringatan Panglima Besar Jenderal Soedirman, bahwa “Negara masih dalam bahaya.” Hal itu terkait dengan ancaman terhadap eksistensi Republik Indonesia yang baru berumur dua tahun. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
       

Ardan - stasiun radio, adalah nama panggilan di udara bagi PT Radio Ardan Swaratama. Radio siaran ini termasuk salah satu radio siaran yang sukses menerapkan format sebagai radio kaum remaja dengan slogan Stay Cool & Lovely.
Ir. Arifin Gandawidjaya sebagai pimpinan utama Radio Ardan menerapkan pola industri dalam mengelola radio siaran ini, sehingga setiap event dikemas sebagai produk siaran dan nonsiaran yang harus dapat dijual, termasuk melakukan pola kerja sama dengan media televisi dan cetak dalam melaksanakan berbagai event nasional. Sekarang Radio Ardan berlokasi di Jalan  Cipaganti  No. 159 Bandung, mengudara pada FM 105.9 MHz dengan Call Sign PM3FHI. (Tim EPI/DAR)


Ariwarti Parikesit - koran mingguan berbahasa Jawa. Beredar pertama kali di Solo pada tanggal 29 November 1972. Koran ini diterbitkan oleh  Yayasan Parikesit, dengan Surat Izin Terbit (SIT) No. 01397/SK/Dir-Jen/PG/SIT/72, dan pelindung Sultan Hamengkubuwono IX dan Prof. R.A.A. Sumitro Kolopaking. Sedangkan pemimpin umumnya dipercayakan kepada Soemardi dan pemimpin redaksi Soenardi DM.
Koran berukuran broadsheet ini beredar setiap minggu, 8 halaman, dengan menggunakan pengantar bahasa Jawa populer. Sajian rubrik terdiri dari berita-berita umum, sosial, budaya, pengetahuan umum, kewanitaan, pembangunan, geguritan, dan lain-lain.
Ariwarti Parikesit yang beralamat di Jalan Sidomulyo No. 30-B, Solo, kala itu tergolong koran yang mapan karena memiliki percetakan sendiri, yakni Percetakan Jagalabilawa di Jalan Sidomulyo No. 46-48, Solo. Koran berslogan  “Ngudi Karahayoning Praja” tersebut, tidak berumur panjang dan hanya sempat bertahan beberapa tahun.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Arswendo Atmowiloto (Solo, 26 November 1948). Cita-citanya menjadi dokter, tetapi ekonomi keluarga tak memungkinkan membiayai Sarwendo (nama dari orang tuanya) masuk fakultas kedokteran. 
Ayahnya, pegawai Balai Kota Surakarta, meninggal ketika Arswendo duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan ibunya meninggal pada tahun 1965. Arswendo pun yatim piatu di usia 17 tahun, ketika masih duduk di bangku SMA.
Bahkan ketika ia diterima di Akademi Postel Bandung yang berikatan dinas pun, anak ketiga dari enam bersaudara ini tak bisa berangkat karena tak punya ongkos. Kalau pun ia sempat kuliah di IKIP Negeri Solo (sekarang Universitas Negeri Sebelas Maret), itu karena alasan yang tidak jelas. “Saya cuma ingin menyandang jaket perguruan tinggi,” katanya. Setelah tiga bulan kuliah, ia mangkir untuk seterusnya.
Arswendo (nama yang semula diciptakannya untuk tulisan-tulisannya, tetapi akhirnya menjadi nama resminya) memang suka berkelakar. Terkesan seenaknya. Rambutnya sempat dipanjangkan dan diikat ke belakang bergaya ekor kuda. Ia mengaku hidupnya santai, tak pernah basa-basi, juga tak pernah memikirkan hari esok. Suatu hari, pada awal ’70-an, ia menerima honorarium dari Dharma Kandha sebanyak Rp 1.500. Di dekat kantor tampak sejumlah orang, antara lain sopir dan tukang becak sedang berjudi. Ia ikut bergabung, honornya pun habis.
Wendo, demikian panggilannya, pernah bekerja macam-macam, di pabrik bihun, tukang parkir sepeda di apotek, tukang pungut bola di lapangan tenis. Ia mulai menulis dalam bahasa Jawa tahun 1968. Mula-mula tulisannya selalu ditolak, tetapi begitu menggunakan nama Arswendo (bukan Sarwendo) Atmowiloto (nama ayahnya), tulisannya mulai diterbitkan. “Nama Sarwendo tak membawa berkah rupanya,” komentarnya.
Ia menjadi wartawan ketika di Solo muncul harian berbahasa Jawa Dharma Kandha dan Dharma Nyata. Sambil bekerja di media tersebut, ia pun menjadi koresponden lepas majalah TEMPO. Tahun 1972 Arswendo pindah ke Jakarta, bekerja sebagai redaktur pelaksana di majalah humor Astaga. Karena majalah ini tak hidup lama, ia pun menjadi wartawan di kelompok Kompas-Gramedia. Di kelompok ini, terakhir ia menjadi pemimpin redaksi majalah Hai dan tabloid hiburan Monitor.
Monitor yang melesat tirasnya dalam waktu singkat dengan jurnalisme-lernya, tersandung kasus. Jajak pendapat tentang tokoh-tokoh yang dikagumi pembaca menempatkan Nabi Muhammad di urutan ke-12. Karuan saja tabloid ini dituding menghina Nabi Muhammad. Meledak demonstrasi. Merasa terancam, Arswendo meminta perlindungan polisi.
Tuntutan massa dan suasana sosial-politik saat itu menyebabkan Wendo diajukan ke pengadilan dan diganjar 5 tahun penjara. Ekonomi keluarga terpuruk. Anaknya yang baru lulus sekolah dasar berjualan sampul buku, anaknya yang lebih gede berjualan kue.
Pribadinya yang santai dan senang humor, membantu Arswendo menjalani hidup di penjara, dengan memanfaatkan keterampilannya membuat tato -- yang ditatonya adalah sandal. Sandal yang semula seharga Rp 500,- setelah ditato bisa ia lego Rp 2.000.-. Lewat usaha itu, ia punya 700 anak buah.
Tentu, ia tetap menulis. Tujuh novel lahir di LP Cipinang, antara lain Kisah Para Ratib, Abal-Abal, dan Menghitung Hari (sekeluar dari penjara dibuat sinetron dan memenangi Piala Vidya). Sebagian tulisannya ia kirimkan ke Kompas dan Suara Pembaruan dengan menggunakan nama samaran.
Wendo, yang pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa, AS, 1979, dikenal juga sebagai pengamat televisi. Dipedulikan atau tidak, kritik dan komentarnya tentang pertelevisian terus mengalir.
Pemilik rumah produksi PT Atmochademas Persada ini telah membuat sejumlah sinetron. “Keluarga Cemara” memperoleh Panasonic Award 2000 sebagai acara anak-anak favorit. Tiga kali ia menerima Piala Vidya untuk “Pemahat Borobudur”, “Menghitung Hari”, dan “Vonis Kepagian”. (Tim EPI/KG. Sumber: PDAT)


Artikel jurnalistik, artikel adalah tulisan yang memuat opini dan tidak dibatasi oleh perincian faktual-peristiwa yang harus diangkat. Ia berbeda dengan news strory. News story adalah berita yang tak boleh membawa ide atau gagasan atau ilham wartawan dalam melaporkan suatu kejadian.
Artikel ditulis oleh seseorang yang ingin mengajukan seruan, keluhan, usulan, amatan. Penulisnya ingin menyampaikan opini, pikiran, atau bisa pula observasinya, terhadap sebuah masalah.
Para redaktur ingin berbagi pendapat dengan masyarakat. Mereka ubah pencarian berita menjadi terbuka. Keterbukaan inilah yang membuat perbedaan opini dengan berita. Jika infromasi itu bukan berita, mereka sebut opini. Di halaman inilah para penulis artikel mengetengahkan pendapatnya mengenai satu soal.
Artikel umumnya mendesain pemenuhan kebutuhan informasi pembaca, membawakan pengetahuan, dan interpretasi tentang peristiwa sosial. Artikel menyoal berbagai fakta dari berbagai peristiwa dengan cara reflektif atau diskursif, bisa pula menghibur. Penulisnya menyisipkan anekdot, contoh-contoh, metafor-metafor, kiasan atau tamsil, dan aliterasi. Para penulis artikel yang baik kerap mengutip karya iklan yang kreatif, karya sastra yang bagus, atau pemikiran  ilmu sosial. Akan tetapi, ia tidak mau menjadi penulis yang spekulatif, subjektif, dan fashionable. Ia menulis tidak dibatasi tenggat waktu (deadline). Tulisannya dilengkapi kepustakaan, mencari bahan tulisan yang dianggap penting, lalu menuangkannya dalam ’gaya tulisan’ yang piawai.
Dari cara penulisannya, artikel adalah menarasikan gagasan, melalui pengakuan, memaparkan sosok, memberi petunjuk, mengungkap sesuatu, menulis kolom (mengomentari berita, menganalisis peristiwa; politik, olah raga, dll.)
Menarasikan gagasan merupakan gaya penyajian yang memakai pengisahan (naratif). Kisah di sini bukan berarti sekadar cerita fiksi atau dongeng, yang tidak berkaitan sama sekali dengan gagasan atau ide penulis. Kisah, yang menjadi alat penulis, dipakai sebagai sebuah saluran untuk mengartikulasikan opini penulis.
Pengakuan (the confession), melalui seseorang yang menuliskan ’pengakuannya’ tentang berbagai hal yang dialami atau dipikirkannya. Akan tetapi, isinya tidak selalu mengandung rasa pilu atau luka-derita. Kadang dengan sedikit humor atau berita, penulis mengawali kisah ’pengakuannya’. Tulisan sering bersifat otobigrafis yang penuh warna.
Karena media massa memerlukan rubrik tentang sosok. Artikel-artikel jenis ini menyalurkan kebutuhan masyarakat akan sosok-sosok teladan. Amatan penulis biasanya berdimensi biografis. Selain sebagai amatan personal, bisa pula sosok yang bersangkutan ditampilkan melalui amatan observasi literer atau dokumentasi.
Artikel yang kriterianya petunjuk (how-to-do) kerap memberi amsal. Bagaimana cara menjadi pintar, ialah sebuah amsal agar orang bisa menjadi pintar.
Mengungkap (ekspos) adalah jenis artikel yang mirip dengan upaya membuka selubung peristiwa yang telah umum diketahui tetapi belum diungkap apa yang tejadi di balik peristiwa tersebut. Penulis menjelaskan apa yang telah terjadi, sebab-sebabnya, atau berbagai hal yang menjadi penasaran orang banyak. Dalam artikel jenis ini, penulis berusaha menjabarkan pandangannya. Ia memang berpretensi untuk mengemukakan sesuatu yang tidak terlihat oleh umum atau detail-detail remeh tetapi penting.
Sebagai produk pers, kolom menjadi jenis artikel yang disukai masyarakat. Kolom merupakan salah satu ekspresi personal (personal journalism), di samping esai.
Tugas penulis ulasan adalah mengembarakan pikiran pembaca ke berbagai soal yang mungkin luput dari perhatian. Ia memberi masukan, jawaban, dan bisa jadi seruan. Akan tetapi, di posisi pengulas sebuah peristiwa atau objek, ia tidak berpretensi menjadi penjaga kebenaran. Ia hanya menjadi pendamping amatan pembaca.
Dalam belantara jurnalisme, esai menjadi pengisi wacana kontemplatif. Esai menguatkan berbagai gagasan umum, dengan tingkat subjetivitas yang tinggi, namun lewat cara yang unik. Daya personalitasnya hampir mirip dengan kolom, begitu kuat. Esai menjadi bentuk artikel jurnalistik yang -- oleh sebagian kalangan akademisi jurnalistik -- diberi tempat yang khusus.
Di abad Pencerahan (Enlightenment, abad ke-18), esai menjadi pialang berbagai gagasan kritis. Soal-soal kemasyarakatan dan keagamaan dikritisi dalam tulisan-tulisan berbentuk esai. Ciri tulisannya yang fleksibel, ringkas, ditambah potensi keambiguitasannya dan kiasannya dalam memaparkan berbagai peristiwa dan keadaan, menjadi alat ideal bagi filsuf-filsuf reformis abad tersebut. The Federalist Papers di Amerika dan risalah Para Revolusioner Prancis (French Revolutionaries), yang mengetengahkan soal-soal kemanusiaan ditulis dalam bentuk esai. Dari sanalah, di antaranya, jurnalisme mengadopsi bentuk esai.
Artikel jurnalistik tidak memakai pola piramida terbalik. Tidak mengurutkan yang penting di atas, yang kurang penting di bawah. Artikel bisa menggunakan ragam pilihan.(Tim EPI/SSK)


Artikel Opini. Artikel opini adalah jenis tulisan atau karangan yang berisi gagasan, ulasan, atau kritik terhadap suatu persoalan yang ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan ditulis dengan bahasa ilmiah populer. Proses penulisan artikel opini ini mengangkat hal-hal yang bersifat aktual, original, kreatif, dan inovatif merupakan prioritas utama. Oleh karena itu, seorang penulis artikel opini harus jeli dalam memandang aktualitas persoalan yang ditulisnya.
Tema aktual dalam media cetak biasanya memiliki jenjang waktu yang sangat terbatas.Oleh karena itu, seorang penulis yang baik akan selalu cepat dalam menanggapi isu-isu aktual yang berkembang dalam masyarakat. Aktualitas opini dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian. Pertama, berkaitan dengan kejadian yang ada di tengah-tengah masyarakat, seperti demam berdarah, unjukrasa mahasiswa, situasi politik, resesi ekonomi, dll. Kedua, aktualitas yang berkaitan dengan adanya hari-hari besar nasional, internasional, hari besar agama, dll.
Maksud ditulisnya artikel opini adalah sebagai wahana untuk menampung ide-ide, gagasan, serta pemikiran dan pandangan (visi) penulis tentang suatu persoalan. Kendatipun dalam penulisan artikel opini ini semua persoalan dapat ditulis, namun perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini.
Pertama, hendaknya persoalan yang ditulis berkaitan dengan masalah aktual yang sedang menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat. Kedua, masalah yang ditulis tidak menghasut, mengadu domba, memfitnah, dll. Ketiga, isi tulisan ada baiknya lebih berupa suatu solusi terhadap berbagai persoalan yang ada.
Proses penulisan artikel opini dimulai dengan kalimat-kalimat pembuka (lead). Isinya merupakan pengantar awal terhadap apa yang dibahas dan disajikan. Kemudian dilanjutkan dengan uraian yang berisi pemaparan data, pembahasan yang boleh jadi berupa penyebutan teori, diteruskan dengan analisis, dan diakhiri dengan sebuah kesimpulan.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa jurnalistik, bersifat ilmiah populer, yaitu pemakaian bahasa yang tetap menggunakan kaidah-kaidah bahasa baku, komunikatif, dan mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai tingkatan. Prinsip ini perlu mendapat perhatian penulis artikel opini, mengingat sasaran pembaca media cetak umumnya sangat beragam.
Persoalan yang biasanya dirasakan oleh penulis artikel opini adalah sulitnya menentukan tema atau juga ide tulisan yang paling aktual. Masalah ini akan bertambah rumit jika dikaitkan dengan persaingan yang bakal dihadapi oleh penulis berkaitan dengan banyaknya penulis lain dalam mengirim tema tulisan yang sama pada satu media. Walaupun unsur keberuntungan mempunyai peran yang tidak kecil, namun unsur pemilihan tema yang paling aktual tetap akan mempunyai peluang besar untuk dimuatnya tulisan opini tersebut.
Tulisan artikel opini adalah salah satu jenis tulisan yang mempunyai peluang besar untuk dimuat di media cetak. Namun demikian,  ia juga paling banyak saingannya. Oleh karena itu, hanya jenis-jenis tulisan yang paling aktual dan berkualitas saja yang dapat lolos dari meja redaksi untuk dimuat. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Menuju Pers Demokrasi, Kritik atas Profesionalisme Wartawan, Suroso, Pengantar Sirikit Syah, Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan, Yogyakarta, 2001).


Asa Bafagih (Jakarta 14 Desember 1918) - wartawan. Lulusan Pendidikan Tinggi Islam Jamiat Khair Jakarta ini malang melintang dalam dunia kewartawanan sejak tahun 1938 sebagai Redaktur Mingguan Panji Islam Medan untuk daerah Jawa Barat, di samping sebagai anggota redaksi suratkabar Pemandangan Jakarta. Pada tahun 1943 Asa Bafagih menjadi  anggota Redaksi Kantor Berita Domei, Jakarta, dan tahun 1945 menjadi anggota Redaksi Kantor Berita Pusat Antara.
Pada tahun 1946 hingga 1947 Asa Bafagih menjadi Pemimpin Kantor Cabang Antara Jakarta; tahun 1947 hingga 1951 menjadi Pemimpin Redaksi Merdeka. Dari tahun 1951 hingga 1953 ia menjabat Pemimpin Redaksi Pemandangan; tahun 1954 hingga1957 menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Duta Masyarakat; Tahun 1957 hingga 1959 sebagai Pemimpin Redaksi Merdeka; dan tahun 1959 hingga 1960 menjadi anggota redaksi (khusus hubungan dengan Corps Diplomatik) Antara.
Dalam sejarah kewartawanan nasional, Asa Bafagih dicatat sebagai wartawan pertama yang menggunakan Hak Ingkar Wartawan, pada saat ia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Pemandangan, pada tahun 1952. Hak tersebut ia gunakan berkaitan dengan berita mengenai rencana gaji baru untuk pegawai negeri. Hak kedua, tahun 1953, berkaitan dengan berita tentang 21 perusahaan modal asing yang akan menanamkan modalnya. Aparat pemerintah di Indonesia pada masa itu belum terbiasa menghadapi Hak Ingkar Wartawan, yang menolak menyebutkan sumber berita yang diturunkannya, sehingga Asa Bafagih diproses verbal untuk diadili.
Tahun 1960 hingga 1964 Asa Bafagih menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Sri Lanka, dan tahun 1964 hingga 1968 menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair; dari tahun 1967 hingga 1968 merangkap sebagai Duta Besar RI di Tunisia. Selama tahun 1959 hingga 1960 Asa duduk sebagai anggota DPR-GR Golongan Karya Wartawan. (Tim EPI/Wid)
Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), didirikan sebagai wadah perkumpulan stasiun-stasiun televisi lokal di Indonesia guna memperjuangkan kepentingan para anggotanya dan kepentingan masyarakat lokal, untuk mendapatkan informasi serta kepentingan seluruh elemen bangsa sebagai bagian yang utuh dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Prinsip desentralisasi juga berlaku bagi media penyiaran televisi. Spirit otonomi daerah yang bermartabat, membutuhkan media penyiaran televisi lokal. Media penyiaran televisi lokal adalah cermin bagi penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Media penyiaran televisi lokal adalah juga pentas hidup bagi tumbuh dan berkembangnya budaya lokal sebagai aset nasional.
Amanah Forum Televisi Lokal Indonesia yang dideklarasikan di Unair (Universitas Airlangga) Surabaya pada tanggal 18 Juni 2002 dan hasil Kongres Bali tentang Pendeklarasian Asosiasi Televisi Lokal Indonesia pada tanggal 26 Juli 2002, antara lain menegaskan, “........................... atas dasar semangat, keinginan bersama yang luhur, keyakinan yang kuat untuk mewujudkan spirit Otonomi Daerah yang Bermartabat di Indonesia bersama Media Televisi Lokal, serta kerinduan untuk memenuhi hak asasi manusia setiap orang Indonesia yang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala saluran yang tersedia sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 28 F UUD 1945. Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran juga menjadi payung hukum bagi keberadaan televisi lokal, sebagai paradigma baru dan menunjang proses demokratisasi penyiaran.” (Tim EPI; Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia)
Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), didirikan 4 Agustus 2000, dan awalnya bernama Asosiasi Televisi Siaran Indonesia. ATVSI adalah wadah independen yang berfungsi secara aktif memajukan, menampung, menyalurkan kepentingan dan kegiatan bersama dalam mengembangkan etika perilaku, tanggung jawab profesional dan pelayanan bagi anggotanya demi kepentingan masyarakat di bidang pertelevisian.(Tim EPI; Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia)


Asri - majalah informasi lingkungan. Diterbit kan secara khusus mengulas persoalan arsitektur, desain interior, arsitektur lanskap, lingkungan, dan produk penunjangnya.
Asri ditangani oleh pengelola yang profesional, sesuai dengan komitmen yang dibuat pada awal berdirinya yakni untuk membuat pembaca merasa nyaman membacanya.
Selain itu, Asri sangat potensial menjadimediator atau penghubung antara para ahli dan masyarakat. Para pendukungnya, di antaranya ahli desain interior, Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI), Ikatan Ahli Desain Indonesia (IADI), dan Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII).
Majalah ini juga mengupas tentang pengenalan jenis tanaman. Di antaranya, bagaimana membuat tanaman hidup maupun cara memeliharanya. Juga memanfaatkan produk-produk untuk rumah, kantor, dan pernik-perniknya yang digali dari budaya negeri sendiri yang kaya dan bervariasi.
Oplah majalah ini berkisar antara 40.000-50.000 eksemplar tiap kali terbit, meski distribusi masih banyak terpusat di Jakarta, antara 60%- 80%. Di luar penerbitan, Asri juga berkiprah di pelbagai kegiatan yang bersifat ilmiah maupun pameran.
Majalah ini bekerja sama dengan Jakarta Design Center menerbitkan tiga buku masing-masing Buku Karya Arsitektur, Buku Karya Interior, dan Buku Karya Arsitektur Lansekap.
Asri diterbitkan oleh Yayasan Eksotika Enterprise. Saat ini Asri dipimpin oleh Sri Murdiningsih Irawan (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi), Tuti Murtiasih Sunardi (Pemimpin Perusahaan), Bambang Sutrisno (Wakil Pemimpin Redaksi), dan Managing Editor Djumaryo Imam Muhni.
Untuk menjalankan segala aktivitasnya Asri mengambil tempat di Jalan Patra II No. 23 Kompleks, Pertamina, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dengan no telp. (021) 4242683. Sedangkan pencetakannya Asri memilih di-cetak oleh PT Garuda Metropolitan Press. (Tim EPI/KG; Sumber: Wikipedia)

      
Astro Nusantara adalah jasa TV satelit multisaluran berlangganan di Indonesia. Wilayah yang menjadi sasaran pemasaran adalah Sumatera, Jawa, dan Bali.
Pada tahun 2007 jumlah pelanggannya mendekati angka 60.000. Astro Nusantara dioperasikan perusahaan bernama PT. Direct Vision, yang dibentuk pada 28 Februari 2006.
Perusahaan ini dimiliki oleh Astro All Asia Networks plc (20%), yang juga mengoperasikan jasa TV satelit bernama Astro di Malaysia dan Brunei, dan PT Ayunda Prima Mitra, yang dimiliki oleh PT First Media Tbk (bagian dari Grup Lippo yang juga mengoperasikan HomeCable).
Pada saat ini, Astro menyediakan 48 pilihan saluran termasuk di dalamnya 5 saluran yang diproduksi khusus oleh Astro Indonesia melalui perusahaan penyedia isi siaran PT Adhi Karya Visi, yaitu Astro Ceria (untuk anak), Astro Aruna (untuk sinetron Indonesia dan perempuan), Astro Kirana (untuk film non-Hollywood), Astro Xpresi (untuk gaya hidup anak muda dan infotainment), dan Astro Awani (untuk informasi dan gaya hidup). Astro ceria, Astro Kirana, dan Astro Aruna juga disiarkan di Astro Malaysia dan Astro Brunei sejak 1 September 2006.
Pada tahun 2007, Astro akan mendayagunakan satelit Measat 3 yang diluncurkan Desember 2006. Melalui satelit ini Astro akan memiliki kapasitas channel berlipat ganda berkat teknologi MPEG-4.
Sejak tanggal 12 Agustus 2007, Astro tidak lagi menyediakan siaran ANTV dan digantikan dengan Aljazeera Internasional.
Pada tanggal 7 September 2007, Astro menambah satu lagi saluran baru yaitu Astro Oasis, saluran Astro yang menayangkan program-program yang bernafaskan agama Islam. (Tim EPI/KG; Sumber: Wikipedia)


Atang Ruswita, (Bandung 29 April 1933-13 Juni 2003), wartawan dan pendiri HU Pikiran Rakyat. Setelah tamat SMA, Atang melanjutkan pendidikan ke Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran Bandung hingga tingkat sarjana muda I. Atang juga pernah mengikuti Kursus Reguler Lemhanas KRA XIII, dan tahun 1979 mengikuti Penataran P4 Tingkat Nasional bagi Pemimpin Redaksi.
Atang menikah dengan Komariah dan dikaruniai tiga anak dan tujuh cucu. Terjun ke dunia kewartawanan di Harian Umum Pikiran Rakyat sejak tahun 1954. Sejak tahun 1969 ia menjadi Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat, tahun 1983 Pemimpin Umum/Redaksi HU Pikiran Rakyat; Sejak tahun 1977 hingga 2003 menjadi anggota DPR/ MPR selama 3 periode. Sejak tahun 1983 Atang juga tercatat  sebagai anggota Dewan Pers.
Dalam bidang organisasi kewartawanan Atang juga banyak berperan. Tahun 1967 hingga 1974 ia menjadi Ketua PWI Bandung; tahun 1973 hingga Maret 1983 menjabat Wakil Ketua PWI Pusat; Maret 1983 hingga November 1983 menjadi Pejabat Ketua Pelaksana PWI Pusat; tahun 1983 hingga 1988 Sekretaris Jenderal PWI Pusat; November 1988 sebagai Ketua Bidang Organisasi/Daerah PWI Pusat; tahun 1996 menjadi Ketua Forum Komunikasi Yayasan Rereongan Sarupi Provinsi Jawa Barat, dan Ketua Pengurus Daerah Lembaga GNOTA Jawa Barat. Ia juga pernah menerima medali dan piagam penghargaan dari pemerintah Mesir, serta Bintang Mahaputra dari Pemerintah RI. Ia wafat di Bandung pada tanggal 13 Juni 2003. Kadin Jawa Barat kemudian memberikan penghargaan kepada Almarhum Atang Ruswita sebagai “Saudagar Sunda”.
Atang Ruswita berperan penting di dalam pertumbuhan pers di Jawa Barat maupun di Indonesia, baik pada masa Orde Lama, Orde Baru, bahkan pada masa Reformasi.
Rosihan Anwar, tokoh pers nasional yang gigih memperjuangkan kebebasan pers, dalam kunjungannya ke dapur H.U. Pikiran Rakyat beberapa waktu lalu, antara lain mengatakan, bahwa media massa yang dikelola oleh Atang Ruswita, dalam hal ini Pikiran Rakyat adalah media massa yang mampu membaca situasi sosial politik yang melingkupi zamannya.
"Ini tidak berarti bahwa media massa yang dikelolanya itu kehilangan daya kritisnya dalam mengamati situasi sosial politik yang terjadi di hadapan dirinya. Hal ini lebih dikarenakan sikap Atang Ruswita yang moderat," ujarnya saat itu.
Sikap Atang Ruswita semacam itu, adalah sebuah sikap yang tegas dalam upaya menyelamatkan Pikiran Rakyat dari incaran pemberangusan media massa yang dilakukan oleh pihak penguasa, yang pada saat itu sangat antidikritik oleh siapa pun dalam bentuk apa pun. Bahkan sampai sekarang di Indonesia masih bisa kita temukan sisa-sisa perundang-undangan Belanda yang menekan pers. Pasal-pasal yang termasuk ke dalam kategori haatzaai artikelen itu adalah pasal-pasal yang menyatakan bahwa penyebaran kebencian, penghinaan, dan sikap permusuhan terhadap pihak yang berwenang, atau golongan-golongan penduduk tertentu dapat dihukum.
Jika pemerintah menilai ada sebuah pemberitaan bisa meresahkan umum, dan dinilai menyerang wibawa mereka maka tiada ampun lagi media massa tersebut dengan segera diberangus.
Pemberangusan media massa yang terjadi pada zaman Orde Lama dan Orde Baru adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Demikian juga dengan terjadinya tindak kekerasan terhadap media massa di zaman Orde Reformasi yang disesalkan banyak pihak, seperti meletusnya kasus majalah Tempo versus Tommy Winata, serta beberapa kasus lainnya.
Untuk itu almarhum Atang Ruswita yang berhak dimakamkan secara militer karena semasa hidupnya pernah menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI, boleh dibilang bukan hanya dikenal sebagai tokoh pers yang mumpuni pada zamannya, tetapi juga seorang politikus yang pandai membaca zaman.
Semasa hidupnya, ia selalu berwanti-wanti kepada jajaran anak buahnya untuk menyajikan pemberitaan di korannya secara hati-hati, berimbang, dan sebisa mungkin menghindar dari berbagai daerah rawan konflik yang bisa menyebabkan media massanya gulung tikar karena diberangus penguasa, atau dihancur-leburkan oleh preman suruhan orang-orang yang punya uang, yang merasa tersinggung dan dicemarkan nama baiknya oleh sebuah pemberitaan yang dimuat di korannya.
Dari sisi semacam ini tampak jelas bahwa mengelola sebuah media massa, baik koran, majalah, maupun elektronik tampaknya bukan perkara yang mudah. Kita rupanya harus menafsir kembali apa itu kritik, bila pada akhirnya kritik kelak ditafsir oleh mereka yang kuasa dan punya uang tidak lebih dan tidak kurang dari fitnah. Bila kenyataan semacam ini terus berjalan dalam kehidupan kita, itu artinya ada yang mandek dalam akal sehat dan nurani kita, semacam sakit jiwa.
Diakui atau tidak dalam posisi yang demikian pers harus tiarap, sambil mendewasakan diri dalam membaca setiap konflik, isu, apa pun namanya yang kini terjadi sebelum turun jadi berita. Ini sekali lagi tidak berarti pers pengecut, surut ke belakang tirai. Hal-hal semacam inilah yang telah dilakukan oleh Atang Ruswita semasa hidupnya.
Berkaitan dengan itu tak aneh kalau dalam sebuah puisi yang ditulisnya dalam bahasa Sunda, "Talatah" (PR/04/1999), pada bait pertama dan kedua, Atang Ruswita berkata "Aya talatah ka balarea/Hey sakabeh pangeusi Tatar Sunda/Sakeudeung deui urang rek pesta/Anu disebut pemilu tea//Aya talatah ka Parpol di Tatar Sunda/Der kadinyah kampanye, pabisa-bisa/Tapi mangkade ulah parasea/ Matak goreng balukarna/Persatuan jadi sirna/Bangsa jadi pakia-kia/Nagara jadi aya dina bahaya".
Bila dicermati lebih lanjut, sesungguhnya pesan atau amanat yang diekspresikan Atang Ruswita dalam bentuk puisi tersebut bukan hanya ditujukan kepada para politikus belaka, tetapi juga kepada kita semua agar dalam membangun bangsa dan negara ini, termasuk dalam mengelola apa pun -- tidak berada dalam situasi yang parasea alias bertengkar. Jika itu terjadi, maka yang hadir adalah suasana yang kacau, represif, jauh dari ketenangan hidup yang selama ini selalu bermimpi untuk senantiasa berada dalam suasana yang demokratis, jauh dari segala bentuk penindasan, baik dalam konteks politik, maupun dalam konteks kerja antara buruh dan majikan.
Pada titik semacam inilah demi menghidupi ratusan orang karyawan yang bekerja pada media massa yang dikelola bersama teman-teman seperjuangannya itu, Atang memilih sikap moderat dalam bertindak, agar korannya selamat dari incaran pemberangusan para penguasa, dan orang-orang berduit yang antidikritik itu. Boleh jadi hal ini dilakukan -- bukan disebabkan oleh rasa takut atau pengecut, akan tetapi lebih disebabkan karena ia melihat ada sejumlah nyawa yang harus diselamatkannya.
Sejumlah nyawa tersebut adalah ratusan orang yang menjadi karyawan di perusahaannya itu. Sikap semacam itu baik dalam kacamata politik maupun tidak, bisa dilihat dalam baris-baris puisinya lebih lanjut yang berbunyi: Aya talatah ka balarea/Hey sakabeh pangeusi Tatar Sunda/Anu disebut demokrasi tea:/"Silih asih, silih asuh, jeung silih asah, filosofina:/Toleransi salah sahiji modalna;/Silih eledan pamadegan modal sejenna:/Batu turun keusik naek, carana".
Adapun kepekaannya terhadap rasa seni, tidak hanya ditunjukkan lewat penulisan puisi saja. Tetapi juga dinyatakannya dengan dibukanya ruang seni dan budaya di media massa yang dikelolanya, seperti hadirnya lembaran seni dan budaya Khazanah yang boleh dibilang merupakan suplemen seni dan budaya pertama yang hadir di media massa cetak (koran). Jauh sebelum Kompas menghadirkan lembaran seni dan budaya Bentara serta lembaran seni dan budaya Tifa di Media Indonesia.
Kepekaannya terhadap seni dan pentingnya lembaran seni dan budaya hadir dalam sebuah media massa, tentunya sudah dipikirkan oleh Atang Ruswita sejak jauh-jauh hari, ketika pada masa-masa awal kariernya di dunia jurnalistik dirintis lewat pengelolaan lembaran seni dan budaya Kuntum Mekar di Pikiran Rakyat periode awal.
Pemikiran-pemikirannya tentang bagaimana cara mempertahankan eksistensi Pikiran Rakyat di Jawa Barat dipandang selangkah lebih maju dari orang lain, baik di dalam maupun di luar lingkungan Pikiran Rakyat. Gagasannya untuk menerbitkan koran-koran lokal, yang berperan sebagai “bumper-bumper” bagi Pikiran Rakyat, di sejumlah kota yang merupakan “gerbang” Jawa Barat, tidak terlalu mudah dipahami orang lain. Namun dalam kenyataannya, Pikiran Rakyat mampu “menghambat” koran lain masuk ke Jawa Barat.
Sebagai pengelola dan penerbit media massa cetak Atang Ruswita juga sangat memperhatikan perkembangan teknologi informasi yang terjadi di sekitarnya. Penggunaan komputer sebagai sarana kerja pracetak di Pikiran Rakyat sudah diterapkan sejak tahun 1987, ketika koran lain bahkan belum memikirkannya. Begitu juga dengan sarana-sarana pendukung lainnya seperti sarana reproduksi dan bahkan mesin cetak, Atang terus menerus melakukan penyesuaian, sehingga hampir tidak pernah ketinggalan zaman. (Tim EPI)


Atmakusumah Astraatmadja (Labuan, Banten, 20 Oktober 1938) - Selain mengajar dan menjadi direktur Lembaga Pers Dr. Soetomo, pemenang Raymond Magsaysay Award tahun 2000 ini pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pers, serta Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen.
Karir jurnalistiknya bermula pada tahun 1958 ketika bekerja sebagai wartawan Indonesia Raya. Belum setahun Atma bekerja, koran itu dibredel karena kritik-kritiknya terhadap Pemerintah. Lalu Atma berpindah-pindah kerja, tapi tetap yang berkaitan dengan dunia jurnalistik. Tampaknya anak muda yang dulu bercita-cita jadi sastrawan itu ditakdirkan hidup di dunia jurnalistik. Ia urung menjadi pengarang karena semua cerita pendek yang dikirimkannya ke majalah Kisah, majalah sastra ternama waktu itu, ditolak.
Setelah berhenti dari Indonesia Raya Atmakusumah melanglang dari satu media ke media lainnya termasuk di media asing. Atmakusumah antara lain pernah tercatat menjadi wartawan Persbiro Indonesia Aneta (PIA), (1958-1960), komentator Seni dan Budaya RRI Jakarta sebagai Redaktur Harian Duta Masyarakat Edisi Minggu (Duta Minggu), penyiar Radio Australia Seksi Indonesia, (1960-1963), Pembantu Lepas LKBN Antara di Australia dan Jerman, (1961-1965), penyiar Radio Deutsche Welle, Jerman (1963-1965), Redaktur LKBN Antara di Jakarta (1965-1968), Penyiar RRI Jakarta (1966-1968), Redaktur Harian Indonesia Raya (1968-1974), dan Press Assistant USIS, Jakarta (1974-1992). Sebagai wartawan muda, ia tak kesulitan mencari kerja. Malah mungkin pembredelan itu bisa dianggap berkah baginya, cakrawala jurnalistiknya lebih luas.
Atmakusumah termasuk salah seorang yang kembali ke Indonesia Raya begitu harian itu terbit lagi di tahun 1968. Di "almamater"-nya ini Atmakusumah sempat menjadi redaktur pelaksana sebelum Indonesia Raya ditutup lagi di tahun 1974. Demikian pula ketika Indonesia Raya dibredel untuk kedua kalinya, 1974, Atma pun tak susah-susah mencari penghasilan. Namun, ada yang berbeda. Sebagai wartawan ia masuk "daftar hitam", hingga sulit baginya untuk bekerja di media Indonesia. Bahkan untuk sekadar memuat tulisan Atmakusumah, tak ada koran atau majalah Indonesia yang berani. Ketika Indonesia Raya dibredel untuk yang kedua kalinya itu ia memang bukan lagi wartawan muda, melainkan redaktur pelaksana, jabatan yang dianggap ikut menentukan kebijakan koran tersebut. Hanya saja beberapa tulisannya sempat muncul di beberapa media, dengan nama samaran: Ramakresna - rajutan dari nama anak-anaknya. Lalu, Atma bekerja di United States Information Service di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta hingga 1992. (Tim EPI/KG; Sumber: Wikipedia)


Audiens - Istilah audiens (audience) digunakan dalam praktik operasional media massa, biasanya untuk menunjuk"orang banyak" yang menjadi sasaran media. Para penyiar televisi, misalnya, menyebut "pemirsa" atau "saudara" bagi orang banyak yang diasumsikan menonton televisi; dalam media cetak digunakan sebutan "pembaca", sementara di radio disebut "pendengar". Penyebutan ini tentu disesuaikan dengan karakteristik media bersangkutan: radio berkarakter audio, televisi berkarakter audio-visual, dan media cetak berkarakter visual. Dengan demikian, audiens secara sederhana dapat diartikan sebagai "sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen lannya". Pengertian ini memang sederhna, tetapi bisa menciptakan peluang untuk kajian lebih lanjut.
"Orang banyak" sebagai audiens ini disebut juga dengan istilah khalayak. Charles R. Wright menggunakan istilah ini dalam memberi karakteristik komunikasi massa: "komunikasi massa ditujukan kepada khalayak luas, yang heterogen dan anonim". Pesan yang ditujukan hanya kepada individu-individu tertentu tidak termasuk komunikasi massa, misalnya pesan melalui surat, telepon, telegram, email, dan semacamnya. Khalayak luas yang dimaksud adalah khalayak yang apabila suatu komunikasi dilakukan selama periode waktu tertentu dan selama periode waktu tertentu tersebut komunikator tidak dapat berinteraksi dengannya secara tatap muka. Wright menyebutnya sebagai sifat pertama khalayak atau audiens.
Sifat yang kedua, adalah kriteria anonim. Anggota-anggota khalayak secara individual tidak dikenal atau tidak diketahui oleh komunikatornya. Misalnya, Pak Wijaya atau si Soni sebagai pembaca Majalah Tempo, tidak dikenal oleh redaktur majalah tersebut secara pribadi. Sebagai komunikator, para redaktur ini hanya tahu bahwa majalahnya dibaca oleh sekian ribu orang, dengan karakteristik (demografis, sosial-ekonomi, tingkat intelektualitas) tertentu. Pengetahuan dan pengenalannya terhadap khalayak hanya berupa kriteria, kriteria tentang suatu kolektivitas khalayak tertentu, berdasarkan pengetahuan-pengetahuan tersebut redaktur memilih materi berita dan merumuskannya sesuai dengan kriteria khalayak tersebut.
Sifat yang ketiga adalah, khalayak suatu komunikasi massa bersifat heterogen. Yang dimaksud adalah, mereka yang membaca media cetak, mendengarkan radio, atau menonton televisi terdiri atas berbagai golongan, kelas, dan lapisan masyarakat. Istilah yang sering digunakan, tidak memandang usia, jenis kelamin, status sosial-ekonomi, profesi, dan sebagainya.
Jika ditempatkan dalam skema sistem komunikasi, audiens merupakan salah satu komponennya. Seperti kita ketahui, komponen-komponen utama komunikasi adalah sumber, pesan, media, dan sasaran atau komunikan. Sumber merupakan komunikator sebagai pemrakarsa pertama dalam kegiatan komunikasi; pesan adalah gagasan yang disimbolkan dalam bentuk visual seperti kata-kata lisan atau tertulis; media adalah saluran komunikasi, "wadah" pesan disalurkan kepada sasaran; sedangkan sasaran atau komunikan adalah penerima pesan yang datang dari komunikator. Audiens identik dengan sasaran atau komunikan.
Dengan demikian, siapa saja yang sedang membaca koran atau majalah, yang sedang mendengarkan radio, atau sedang menonton televisi, bisa disebut sebagai audiens. Kata "sedang" disertakan di sini, karena audiens berdimensi waktu, seseorang dikategorikan sebagai audiens selalu dalam konteks audiens media tertentu, serta ia berada "dalam keadaan tertepa media tertentu". Dirumuskan dalam bahasa teknis, audiens meliputi "semua orang yang menjadi sasaran media", atau "orang-orang pada ujung lain dari saluran".
Dimensi lain yang perlu dikemukakan adalah, meskipun media massa memiliki sifat "umum", artinya dibaca dan/atau didengar oleh semua orang yang "tertepa" media, tetapi media juga memiliki sifat unik. Tiap media memiliki audiensnya sendiri, memiliki segmen audiens. Audiens dikategorikan berdasarkan demografis, profesi, dan lain-lain. Ada media yang membidik pembaca wanita, ada yang menetapkan segmen pembacanya berdasarkan profesi tertentu, dan lain-lain. Karena itu, materi atau isi media, gaya bahasa, rubrik-rubriknya, antara media satu dengan lainnya bisa berbeda.
Dari sini kemudian terlihat, definisi audiens yang menyatakan "meliputi semua orang yang menjadi sasaran media", atau "orang-orang pada ujung lain dari saluran", memang benar tetapi sebenarnya audiens bukanlah suatu bentuk kolektivitas yang sederhana, sesederhana seperti yang dirumuskan di atas. Kompleksitas struktur masyarakat, keragaman jenis media, membuat konseptualisasi tentangnya harus berhadapan dengan berbagai problematik. (Tim/Wid. Sumber: Memahami Institusi Media, Sebuah Pengantar, Mursito BM, Penerbit Lindu Pustaka dan SPIKOM Surakarta, 2006).


Audio Video - majalah  bulanan, terbit perdana tanggal 17 Desember 1988. Diterbitkan oleh  PT Audiomedia Nusantara Raya.
Pada mulanya Audio Video terbit  dua kali seminggu. Disajikan dalam ukuran semi tabloid dengan format 26 cm x 30 cm, 44 halaman isi, kertas HVS 60 gr, dan dicetak separuh warna. Komposisi artikelnya beragam, mulai dari hi fi, hi end, audio mobil, rakitan (kit), hingga audio pro. Waktu itu memang belum lahir Audio Mobil dan Audio Pro – jadi semuanya gado-gado.
Ketika edisi pertama majalah ini beredar pemimpin umum dijabat oleh Lukman Adham, pemimpin redaksi Tjandra Ghozalli, dan wakil pemimpin redaksi Gatot Susetyo. Sedangkan  staf redaksi terdiri dari Wisnu, Charles, dan Bayu. Kontributor Hen Kamara, Alex Sidharta (alm.), dan Tribuana; komputer grafis oleh Ibnu Gozali dan manajer iklan Yulisman, S.H. Waktu itu belum terbentuk Pinpoint sehingga masalah iklan langsung ditangani PT Audiomedia Nusantara Raya.
Audio Video adalah majalah pertama yang menjadi cikal-bakal terbentuknya grup penerbit Pinpoint di kemudian hari.
Setelah setahun terbit dengan format yang sama, pada edisi 01/14 Februari 2000, majalah dwimingguan Audio Video berubah format  menjadi ukuran ’normal’ 21 cm x 27,5 cm, dan dicetak warna penuh 64 halaman dengan menggunakan kertas art paper 60 gr. Perubahan format dilakukan supaya lebih mudah dipajang di lapak-lapak pengecer.
Pada saat perubahan format majalah dilakukan, grup Pinpoint sudah terbentuk --dikomandoi Millie Stephanie-- sehingga terdapat logo Pinpoint yang menghiasi cover majalah. Logo head line Audio Video yang semula berpenampilan kurus, pada format baru diperbarui menjadi gemuk dan berbobot hingga bisa terlihat dari jarak jauh. Isinya bervariasi antara hi fi, hi end, dan audio mobil. Kemudian terbit Audio Pro (2000), sehingga segmen Audio Pro tidak masuk lagi ke majalah Audio Video.
Pada edisi 14/23 Juli 2001, logo head line Audio Video yang semula berkait, atas saran ahli feng shui dibuat lebih tumpul, tanpa kait. Alasannya supaya uang mengalir lancar, tidak ada yang menyangkut. Pada tepi kiri atas ada logo kecil Audio Video dalam posisi vertikal. Tujuan pemuatan logo kecil ini untuk memudahkan pelanggan mencari majalah ini di antara impitan majalah lain.
Lalu sejak edisi 18/17 September 2001 terbit suplemen Avikit yang isinya berupa rakitan elektronik audio sehingga Audio Video bertambah tebal 16 halaman. Sejak akhir 2002  Audio Video tidak lagi membahas segmen audio mobil karena sudah lahir majalah khusus Audio Mobil.
Atas saran manajer sirkulasi, Purwaluyo, sejak edisi 01/26 Januari 2003 tampilan cover dan grafis isi  Audio Video berubah menjadi lebih dinamis, dengan ’daftar isi’ yang tertera di kolom kanan pada cover. Adanya kolom daftar isi pada cover diharapkan akan  memudahkan calon pembaca memantau isi tulisan yang ada di dalamnya tanpa perlu membuka satu per satu halamannya. Sebuah logo AV yang menyiratkan bentuk gelombang sinus terpasang di sudut kiri atas.
Pada edisi 17/7 September 2003, jumlah halaman Audio Video, yang semula 90 halaman bertambah menjadi 106 sehingga terasa lebih mantap digenggam.
Sejak 2004 Audio Video tidak lagi membahas desain ruang home theater, karena pada tahun itu lahir majalah Audio Interior yang khusus berkiprah di sekitar rancangan interior ruang dengar dan ruang tonton.
Atas usul pembaca setianya, sejak edisi 17/5 September 2004, Audio Video dilengkapi dengan bonus audio CD. Album pertamanya adalah Pomo Sweet Experiment Vol.1, sebuah musik instrumen yang dibawakan oleh Z.L. Soepomo, seorang peniup saksofon tersohor. Album ini sempat menjadi referensi uji dengar di kalangan audiophile.
Bonus CD ini diberi head line Audiophile Experiment, yang maksudnya menjelaskan bahwa dalam pembuatan master rekamannya dilakukan eksperimen tata letak mikrofon, penggunaan sound processor, dan lain lain. Lalu dipilih mana yang paling baik untuk kuping para audiophile.
Tepat pada edisi 01/30 Januari 2005, sekali lagi majalah Audio Video mengalami renovasi, baik pada cover maupun grafis isi.  Pada cover terpasang log daftar isi berfoto yang diletakkan di bagian bawah. Log daftar isi ini lebih lengkap dari kolom daftar isi yang ada pada desain terdahulu. Logo sinus AV di sudut kiri atas hilang dan diganti dengan logo Audio Video bersusun. 
Grafis rubrik hi end dan home theater tampil segar dengan foto produk yang dimuat besar sehingga detail-detailnya mudah terlihat. Rubrik baru “komparasi” ikut meramaikan isi Audio Video. Rubrik Bedah Produk, Produk Baru, Info Produk Mancanegara, dan rubrikasi lainnya juga mengalami perubahan desain grafis. Hasilnya, penjualan majalah ini pada awal 2005 sempat terdongkrak naik 25%.
Pada edisi 01/bulan Januari 2006, Audio Video juga tampil dengan banyak perubahan. Penambahan halaman menjadi 136 halaman isi, dan cover yang berubah total -- terlihat lebih elegan.
Headline Audio Video yang biasanya bersusun, kini dirancang satu garis (in-line).  Bukan hanya itu, desain grafisnya pun banyak berubah, sehingga tampak lebih segar.
Beberapa rubrik baru seperti “tanya & jawab”, “audiophile experiment”, dan “opini” ikut menambah semarak. Rubrik “tanya & jawab” berisi tanya jawab antara tim AVI dengan pengusaha audio video tentang produk produk mereka terutama yang akan dirilis. Sedangkan rubrik “audiophile experiment”, berisi bedah album CD (juga DVD), yang sesuai dengan kebutuhan audiophile -- malah bisa dipesan!
Rubrik “opini” adalah artikel khusus untuk para pakar audio video Indonesia yang membicarakan perkembangan dunia audio video. Audio Video juga berubah dari dwimingguan menjadi bulanan. Laporan fokus grup menyatakan bahwa di tengah maraknya aneka media cetak kompetitor yang sebidang dan daya beli masyarakat yang tengah merosot, dianggap frekuensi penerbitan dwimingguan terlalu cepat sehingga lebih layak kalau diterbitkan bulanan.
Kalau dirunut ke belakang, sejarah penerbitan media cetak yang bersegmen audio video di negeri ini bermula pada tahun 1980. Ketika itu Pustaka Sinar Harapan, di bawah pimpinan Aristides Katoppo, menerbitkan kumpulan artikel audio video yang ditulis oleh Tjandra Ghozalli di Harian Sinar Harapan Minggu, dalam bentuk ’mabuk’ alias majalah buku.
Saat itu untuk mendapatkan SIUPP majalah sulitnya bukan main. Maka untuk ’mengakali’ Departemen Penerangan Auvi diedit dalam katagori buku namun dikemas dalam format majalah, dan memuat iklan.
Keadaan seperti itu terus berlangsung sejak Auvi edisi 01 (1980) hingga edisi 14 (1994).  ’Mabuk’ Auvi terbit setahun sekali, karena itu sangat laris hingga satu edisi pernah dicetak ulang hingga lima kali.
Atas prakasa Zulharmans (Ketua PWI), Aswin (sesepuh PWI),  Azwirman N.(Pemred Harian Neraca), dan Tjandra Ghozalli, Auvi mendapat SIUPP pada tanggal 2 September 2003 (SIUPP No. 29/SK/MENPEN/SIUPP/D.2/1993), majalah yang membahas masalah elektronik audio video pertama di Indonesia ini yang legal memiliki SIUPP.  Auvi dicetak atas kerja sama PT Audio Video Media Informatika dengan percetakan PT Dian Rakyat di bawah pimpinan Mario Alisjahbana. 
Majalah bulanan Auvi (bukan ’mabuk’ lagi) edisi 01 terbit pada bulan Agustus 1994, dicetak full color di atas met coat paper setebal 114 halaman isi.  Cover depan majalah ini dihiasi gadis cantik yang memegang dan beraksesori kabel interkonek.
Auvi format baru ini dimotori oleh Tjandra Ghozalli. Isinya sudah 100% format majalah, rubriknya antara lain Swara Utama (fokus), Produk Anyar (produk baru), Pirsa Griya (home theater), Audio Kreta (audio mobil), Masalah Kita (opini), Tampil Akbar (panggung, audio pro), Tinjau Produk (uji coba), Wanita & Auvi, Rakit Sendiri (rakitan), Swara Pembaca (surat pembaca), Kuping Emas (hi end), Saran Belanja (liputan pasar), dan Pilihan Auvi (bedah CD). Inilah cikal-bakal majalah yang berkiblat ke arah audio video.
Pada tahun 1997-1998, Auvi sempat ’ganti partner’ dan berubah penampilan. Pada masa itu terjalin kerja sama antara PT Audio Video Media Informatika dan PT Elex Media Komputindo di bawah pimpinan Teddy Surianto, dan dicetak di percetakan Gramedia. Sebagian dicetak di atas kertas art paper warna penuh dan sebagian lagi kertas HVS hitam putih. Seluruhnya 96 halaman isi. Kerja sama ini terputus ketika terjadi peristiwa huru-hara di bulan Mei 1998. Setelah itu majalah Auvi tidak terbit lagi.
Dalam sejarahnya, Audio Video mengalami beberapa kali ’zygot’ sehingga melahirkan majalah Audio Pro, Digi Game, Ponsel, Audio Mobil, dan Audio Interior. 
Ketika  Audio Video terbit dalam ukuran semitabloid (1999) -- majalah ini memiliki rubrik tetap Audio Pro yang diisi oleh Baiyin Nur, seorang pemuda belia yang selalu tersenyum meski staf AVI sering mengkritik tulisannya. Keramahan dan keuletannya membuat Tjandra Ghozalli tertarik dan merekrutnya untuk diposisikan sebagai Wapemred Audio Pro yang terbit bulan Juli 2000. Setelah majalah Audio Pro terbit, majalah Audio Video tidak memiliki rubrik yang sama lagi. Audio Pro lahir pada saat yang tepat, ketika para pebisnis perangkat pro audio dan instrumen musik membutuhkan media seperti ini.

“Digi Game”
Majalah Digi Game yang lahir menyusul pada bulan September 1999, merupakan sempalan artikel game yang ada di Audio Video. Irvan Rahadiyan seorang pemuda eks penulis rubrik game menjadi wapemred majalah ini. Pada awal terbitnya, Digi Game adalah majalah pertama dan satu-satunya di negeri ini yang bergerak di dua bidang game sekaligus; komputer dan konsultasi. Sayangnya, karena perangkat keras dan perangkat lunak game yang ada di Indonesia kebanyakan ilegal, maka tak ada perusahaan perangkat keras dan lunak yang bersedia beriklan. Karena bagi majalah segmented macam Digi Game -- iklan adalah air bagi ikan -- maka majalah ini tutup usia pada edisi 25/11 Desember 2001.
Sebetulnya Digi Game punya ’adik’ yakni majalah Ponsel yang edisi perdananya lahir pada bulan Januari 2001. Waktu itu Indonesia belum memiliki majalah yang membahas soal handphone secara profesional (lengkap dengan rubrik teknologi, bedah produk, dan liputan pasar).
Ponsel adalah majalah pertama di Indonesia yang berbicara soal handphone secara utuh. Sayang, PT Audiomedia Nusantara Raya, sebagai induk perusahaan, saat itu tengah repot memelihara majalah Digi Game yang ’sakit- sakitan’ dan menyedot banyak anggaran, sehingga tidak sanggup membesarkan Ponsel terus-menerus selama Digi Game masih ’sakit’. Lalu diambil keputusan untuk mempertahankan Digi Game (walaupun kemudian tetap tidak mampu bertahan) dan menghentikan Ponsel.
Tindakan ini kemudian dianggap salah karena Ponsel edisi 01 yang telanjur beredar di kalangan terbatas (pengusaha perangkat keras dan lunak handphone), telah men-trigger para penerbit untuk merilis majalah sejenis di kemudian hari.
“Audio Mobil”
Setelah Digi Game tidak terbit, setahun kemudian (September 2002) lahir majalah Audio Mobil. Karena ini merupakan hasil kerja sama PT Audiomedia Nusantara Raya (penerbit majalah Audio Video) dan PT  Infomedia Indonesia (penerbit majalah Mobil Motor) nama majalah ini diambil dari sempalan kedua majalah tersebut.
Pada awalnya majalah ini dikomandoi oleh Johnson Nagawan, seorang penulis rubrik tetap “Audio Mobil” di  Audio Video. Majalah Audio Mobil adalah majalah pertama di Indonesia yang khusus membahas soal perangkat audio mobil. Sebelumnya ada juga media yang membahas topik ini, namun dalam bentuk rubrikasi. Setelah Audio Mobil lahir, maka Audio Video tidak lagi memuat artikel tentang audio mobil (car audio).

Audio Interior
Majalah Audio Interior lahir sebagai jawaban atas permintaan pembaca Audio Video yang menginginkan tampilan bioskop rumah (home theater) yang bagus dan benar.
Audio Interior lahir pada bulan Desember 2004, di bawah komando Gatot Susetyo. Majalah ini terbit dalam format besar (23,5 x 30,5 cm) dan tebal 162 halaman . Akan tetapi pada edisi 04 September 2004 kembali ke ukuran normal.
Seperti Audio Pro, Audio Interior juga lahir pada saat yang tepat. Sudah bukan hal aneh jika ada arsitek atau perancang interior menanyakan perihal rancangan home theater untuk rumah yang tengah dibangunnya. (Tim EPI; Sumber: Audio Video)

     
Audit Komunikasi - Istilah audit komunikasi diperkenalkan oleh George Odiorne melalui karya klasiknya, “An Application of Communication Audit” yang diterbitkan dalam jurnal Personnel Psychology 7 (1954: 235-243). Dengan menggunakan istilah audit itu, ia hendak menunjukkan bahwa proses-proses komunikasi bagaimanapun dapat diperiksa, dievaluasi, dan dapat diukur secara cermat dan sistematik sebagaimana halnya dengan catatan-catatan keuangan.
Kegiatan-kegiatan komunikasi sebagai pelaksanaan dari sistem komunikasi ataupun program komunikasi khusus dapat diukur, sehingga kualitas dan kinerja para eksekutif, pejabat, dan staf komunikasi dapat diketahui dan bila diperlukan dapat diperbaiki secara sistematik, sehingga efektivitas maupun efisiensi komunikasi dapat meningkat.
Rintisan George Odiorne itu secara umum mendapat sambutan positif dari kalangan para ahli komunikasi, karena audit komunikasi dinilai dapat menunjukkan standar profesionalisasi jasa konsultasi dan kajian komunikasi dalam dunia perusahaan dan bisnis -rekomendasi perbaikan dapat diandalkan karena didasari oleh analisis dan interpretasi temuan riset empiris.
Dalam kenyataannya, standar profesionalisme yang dimaksud baru terwujud sekitar dua dekade kemudian, yakni dengan lahirnya komite audit komunikasi, yang dibentuk oleh asosiasi internasional ahli-ahli komunikasi International Communication Association (ICA) untuk periode 1971-1973. Komite resmi ICA itu mampu membangun bank data audit komunikasi tentang berbagai organisasi usaha dengan tujuan agar dapat dijadikan acuan dan bahan pembanding untuk kegiatan-kegiatan sejenis di kalangan para ahli -baik dari lingkungan perguruan tinggi, lembaga konsultasi, maupun bisnis.
Setelah bekerja selama enam tahun, komite ICA tersebut berhasil menerbitkan sebuah buku standar tentang teknik dan prosedur audit komunikasi-berjudul Auditing Organizational: The ICA Communication Audit yang disunting oleh Gerald M. Goldhaber dan Donald P. Rogers (1979).
Dengan penerbitan buku standar yang merupakan hasil kerjanya, komite ICA langsung membubarkan diri sehingga materi dalam bank audit yang dibangun oleh komite tersebut secara resmi dinyatakan terbuka untuk penggunaan umum. Dan buku The ICA Audit tersebut diterima sebagai dokumen rujukan di kalangan para ahli -baik di perguruan tinggi, lembaga konsultasi, maupun bisnis-sehingga dapat dikatakan audit komunikasi tidak lagi tampil “tanpa format standar yang diakui umum” sebagaimana pernah dikeluhkan oleh Howard Greenbaum (1976: 10) beberapa waktu sebelumnya.
Mengapa cetusan George Odiorne yang mendapat sambutan positif tidak segera diikuti laporan-laporan audit komunikasi yang menggunakan kriteria yang dapat disepakati oleh para ahli? Selama hampir dua dekade sesudah konsep audit komunikasi dicetuskan oleh George Odiorne, format-format laporan kajian komunikasi sangat bervariasi, karena masing-masing “dijahit” sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan organisasi klien.
Praktik sedemikian menunjukkan dengan tegas bahwa komunikasi yang memiliki dua dimensi -informasi dan interaksi-dan merupakan proses sosial yang membawa konsekuensi penting dalam organisasi, tidak hanya diakui sebagai keterampilan antarpribadi (interpersonal skill), melainkan juga sebagai “alat manajemen, sumber kekuasaan, dan penghambat terjadinya berbagai peristiwa” sebagaimana dicatat oleh banyak ahli (Gerald Goldhaber dan Donald Rogers, 1984: 321). Maka tidak mengherankan, apabila audit komunikasi tidak berkembang sepesat kenaikan kebutuhan organisasi untuk meningkatkan efektivitas sistem komunikasi.
Konsep audit komunikasi dianggap memiliki tiga ciri hakiki yang menjadikannya tidak praktis, sehingga menghambat perluasan penggunaannya di kalangan para ahli. Sebagaimana pernah ditegaskan seorang konsultan senior ketiga ciri hakiki yang menjadikan audit komunikasi tidak populer sampai akhir dekade 1960-an adalah audit komunikasi bersifat kompleks, makan waktu lama, dan menuntut keahlian nonkomunikasi. (Myron Emmanuel, 1985: 46-47).
Lagi pula, berdasarkan pengalaman, di samping ketiga ciri ini masih ada satu cirri hakiki lain ditambahkan -sebagai ciri hakiki keempat-yakni dampaknya mengerikan bagi semua pihak (Susan Cluff, 1987: 313). (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Audit Komunikasi Teori dan Praktek, Andre Hardjana,  Penerbit PT Grasindo, Jakarta, 2000).
Audit Sirkulasi - Istilah audit ternyata bukan saja berlaku di bidang keuangan, tetapi juga di bidang komunikasi (lihat lema audit komunikasi) dan di bidang sirkulasi media cetak. Latar belakang diberlakukannya audit sirkulasi agaknya memang berangkat dari pemeo bahwa bisnis pers atau media massa adalah identik dengan bisnis kepercayaan (trust) baik menyangkut isi penyajian (content) maupun sirkulasi serta aspek pelayanan lainnya.
Pers dengan sajian yang berbobot pada gilirannya akan dibaca, dibeli atau dilanggani banyak orang, dan jumlah pembaca atau pelanggan yang banyak, berarti penerbitan pers yang bersangkutan memiliki oplah yang banyak pula. Oplah yang besar ini pada gilirannya akan menumbuhkan kepercayaan bagi relasi bisnis lainnya dalam hal ini terutama pemasang iklan atau biro-biro iklan. Persoalannya adalah bagaimana mengetahui data yang akurat tentang jumlah oplah serta jangkauan sirkulasi media cetak bersangkutan? Karena itu diperlukan langkah audit sirkulasi, dan boleh dikatakan masih banyak perusahaan penerbitan pers di Indonesia yang hingga kini belum melakukannya.
Contoh praktik audit sirkulasi yang telah diterapkan di Indonesia adalah yang dilakukan oleh Kompas. Seperti diungkapkan dalam Buku Kompas Menulis dari Dalam (Editor St. Sularto, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2007), pada tahun 1971 sirkulasi Kompas diaudit Akuntan Publik Drs. Utomo & Mula yang kemudian berubah jadi SGV-Utomo. Akuntan ini dipilih oleh tiga biro iklan besar di Indonesia saat itu yang berkantor di Bandung dan Jakarta.
Angka-angka ini disebarkan ke biro-biro iklan dan pemasang iklan, diperbarui setiap tiga bulan sekali. Pada tahun 1978, Kompas masuk anggota Audit Bureau of Circulations (ABC) Nielsen yang berkedudukan di Sydney, Australia. ABC merupakan biro yang dibentuk para penerbit, pemasang iklan dan biro-biro iklan internasional dengan maksud mencatat dan menyiarkan angka-angka sirkulasi anggotanya.
Menurut St. Sularto, oplah koran, termasuk Kompas, tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi. Pertumbuhan bisnis koran ditentukan juga oleh faktor politis dan mutu isi koran. Isi koran ditentukan bagaimana dan seberapa baik peristiwa diolah.
Dari survei Litbang Kompas tahun 1994, terlihat bahwa lonjakan-lonjakan oplah terjadi berkaitan dengan peristiwa-peristiwa “besar”, menyangkut faktor magnitude maupun dampak kemanusiaan yang ditimbulkan. Oleh karena itu dalam mengolah dan memanfaatkan kesempatan -peristiwa diperoleh secara kebetulan “jatuh dari langit” (by accident) maupun secara sengaja digarap (by design)-disadari benar peluang itu. Semangat dan cara kerja ini tidak hanya didasarkan pertimbangan bisnis tetapi terutama didasarkan atas fungsi media berusaha menjadi trendsetter, mitra masyarakat dan referensi duduknya persoalan. Dalam upaya ini terletak pula kejelian pimpinan media mengambil posisi yang cerdas di tengah perubahan politik dengan tetap berusaha mempertahankan posisi selalu independen.
Selain itu dikemukakan pula bahwa persebaran media sangat dipengaruhi penciptaan citra, selain dicapai melalui tulisan juga tidak kalah penting peranan marketing communication (marcom). Bagian ini membangun citra untuk memperoleh kepercayaan lewat berbagai bentuk promosi, sehingga ditemukan kalimat-kalimat semacam “kata hati mata hati”, “buka mata dengan Kompas” atau terakhir bersamaan dengan hadirnya Kompas wajah baru dengan “lintas generasi”. (Tim EPI/Wid).


August Parengkuan (Surabaya 1 Agustus 1943) - adalah reporter Kompas generasi pertama yang berhasil mencapai karir tertinggi sebagai pucuk pimpinan di Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Awalnya, pada tahun 1963, August menuju Jakarta untuk  menjumpai seorang paman yang bekerja di Departemen Luar Negeri. Pemuda berdarah Manado kelahiran Surabaya 1 Agustus 1943 ini ingin masuk Akademi Dinas Luar Negeri.
Karena kesempatannya tertutup August lalu melirik dan mengajukan lamaran ke Kompas, yang akan terbit  tahun 1965. Walau bukan cita-citanya, August tertarik dengan dunia jurnalistik sudah sejak lama. Ketika duduk di bangku SMA di Makassar August suka menulis dan memasok sejumlah tulisan ke salah satu koran minggu di ibu kota Sulawesi Selatan itu.
Perjalanan karir kewartawanan August di Kompas terbilang mulus. Mulai dari reporter yang ditugaskan khusus meliput berita-berita pengadilan (1965-1966), hingga dipercaya sebagai redaktur eksekutif merangkap wakil pemimpin redaksi (1993-2000), redaktur senior (sejak tahun 2000), Direktur Komunikasi Kelompok Kompas-Gramedia (sejak 2000), Presiden Direktur TV7 (sejak 2001), dan sebagai Wakil Presiden Senior Kelompok Kompas-Gramedia (sejak 2002).
Karena posisi dan peluang August menjadi pemimpin redaksi Kompas hampir berimbang dengan Ninok Leksono, bahkan jabatan keduanya sebelumnya selalu diiringkan bersama (sebagai wakil pemimpin redaksi), ketika Pendiri dan Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama ingin mengurangi peranannya dan mundur sebagai pemimpin redaksi, dimunculkanlah Suryopratomo sebagai tokoh alternatif, sehingga perpecahan pun dapat dihindari.
August, yang hobi main tenis, dan Ninok lalu diberi lahan baru yang lebih menantang. Ninok ditugasi memimpin Kompas Cyber Media (KCM), sedangkan August  mengelola stasiun televisi TV7 milik KKG. Keduanya dinaikkan sama-sama sebagai redaktur senior.
Karir sekaligus pengalaman jurnalistik August Parengkuan bermula dari penugasan sebagai reporter di desk malam. Kemudian ditugaskan sebagai reporter pengadilan, lalu meliput kegiatan militer, dan bidang politik.
Pria yang senang betualang ini menikahi Sonya Parengkuan pada tahun 1976 dan dikaruniai empat anak ini sangat senang bertualang. Oleh karena itu, August Parengkuan, terutama di masa muda, sangat menikmati pekerjaannya, termasuk ketika harus ditugaskan ke luar negeri, meliput sejumlah kejadian perang. Dalam catatan pribadinya August pernah meliput perang di Cekoslovakia, tatkala pasukan Pakta Pertahanan Warsawa menyerang negara itu di tahun 1968. Demikian pula ke Papua Nugini, August ada di sana sebelum negara ini memperoleh kemerdekaan. Juga, memasuki Timor Timur pada tahun 1972, mendahului kedatangan pasukan Indonesia.
Pada tahun 1979 August kembali ditugaskan meliput perang di Afganistan. Ketika Presiden Mesir Anwar Sadat dibunuh dalam suatu parade militer di Kairo tahun 1981, August ikut meliput ke sana.
Meskipun tidak selesai August pernah kuliah Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia (1967). Tahun 1968 August juga sempat memperdalam ilmu jurnalistiknya di Berlin Barat. August akhirnya berhasil memperoleh Diploma Ilmu Politik dari Australia National University (ANU), di Canberra, Australia.
Memasuki dekade 1980-an, August mulai memegang sejumlah jabatan kunci dan bergengsi, antara lain sebagai Redaktur Bidang Politik Kompas (1981-1987) dan Wakil Redaktur Pelaksana Kompas (1989-1990). Pada dekade 1990-an August semakin berada di posisi strategis, antara lain sebagai Redaktur Pelaksana Kompas (1990-1992), Wakil Pemimpin Redaksi Kompas (1992-1993), dan Redaktur Eksekutif merangkap Wakil Pemimpin Redaksi Kompas (1993-2000).
Anak dari pasangan Letkol (Purn.) Jacob Parengkuan dan B.P. Parengkuan ini berprinsip bahwa seorang wartawan harus profesional. Makna profesionalisme berarti melaksanakan penugasan bukan atas dasar suka atau tidak. Pesan ini tak henti-hentinya ditularkan August kepada junior-juniornya di lingkungan KKG.
August Parengkuan yang pada Pemilu Presiden 2004 secara pribadi bergabung dalam Tim Mega Center, think tank (kumpulan para pemikir) untuk memenangkan pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri - K.H. Hasyim Muzadi, merasa mendapat tantangan baru ketika dipercaya memimpin TV7. Terutama tantangan untuk menyesuaikan diri dari kultur lama bergelut di media cetak, memasuki dunia pertelevisian yang sama sekali baru, yang mengharuskannya bekerja 24 jam sehari. Sebagai pekerja media, August, yang menyukai jenis musik mulai dari musik klasik, keroncong, hingga dangdut, harus mampu menjawab tantangan tersebut. (Tim Epi; Sumber: Tim Media)