Selasa, 17 Oktober 2017

B dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Bahagia – suratkabar mingguan. Terbit pada tahun 1926. Koran yang berslogan “Dagblad Oemoem Oentoek Indonesia,” ini dalam perkembangannya terbit dari dua kali seminggu menjadi harian.
Dalam setiap edisinya, koran yang dikelola Sjamsoedin (pemimpin redaksi) dan Mohammad Joenoes (direktur) ini memuat berbagai kejadian di dalam dan di luar negeri.
Suratkabar yang tercatat hanya bertahan hingga tahun 1934 ini beralamat di Jalan Komedish Straat No. 36, Semarang. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).

       
Bahari, suratkabar mingguan khusus. Terbit  di Semarang, pada bulan Oktober 1966. Kecuali menawarkan informasi kemaritiman, Bahari ikut mengambil bagian menghancurkan paham komunisme lewat media massa.
Dalam perkembangannya mingguan yang peredarannya meluas sampai luar Jawa ini harus bersaing dengan media lain. Beruntung, Bahari memiliki basis pembaca dan pelanggan yang berkaitan dengan dunianya, kebaharian. Namun situasi menghendaki lain. Karena keterbatasan manajemen tradisional yang tak mampu menghadapi tantangan, Bahari pun istirahat karena pasar yang lesu.
Pada tahun 1976 Bahari muncul kembali tetapi dalam bentuk suratkabar mingguan umum. Budaya bahari memang tetap dipertahankan meski harus lari menuju dunia informasi yang baru. Bukan hanya aspek manajemen perusahaan yang disesuaikan, tetapi aspek redaksional pun ditata mengikuti tren media yang ada saat itu.
Sejak tahun 1979 Yayasan Dharma Bhakti yang diketuai oleh Prof. Soehardjo S., S.H., secara profesional mengelola Bahari.
Perjalanan Bahari menemukan coraknya setelah bergandengan dengan jajaran pendidikan. Komitmen menjadi media pendidikan disepakati. Format dan posisi ini ditempuh mengisi masyarakat pendidik yang secara khusus belum mempunyai media di kalangan umum, dan slogan Bahari pun diubah menjadi “Pembawa Aspirasi Pendidikan dan Pembangunan”.
Keberpihakan Bahari menuju kepentingan untuk mencerdaskan bangsa ditandai dengan pemadatan isi informasi pendidikan dan kebudayaan secara dominan namun akomodatif. Nuansa informasi lainnya juga dikemas dalam rubrik yang sudah terseleksi aktualitasnya. Yang paling diperhatikan, koran mingguan yang beredar di kalangan pendidik ini tetap memacu pada kejujuran dan moralitas bangsa.
Dari hasil jerih payah selama ini, koran mingguan ini setiap tahun menunjukkan grafik kenaikan sehingga berhasil membangun  gedung berlantai dua dengan fasilitas modern. Dari sini semua kegiatan dikendalikan.
Suratkabar yang terbit berdasarkan SIUPP No: SK Menpen/68/SK/MENPEN/SIUPP/B.1/1986 tersebut beralamat (Redaksi/Tata Usaha) di Jalan Sekayu Raya 261 Semarang, telepon/faks: (024) 549515.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bahasa jurnalistik - bahasa pers, ragam bahasa dengan karakter serta ciri tersendiri yang tumbuh, digunakan dan dikembangkan dalam proses komunikasi massa. Tata nilai dan norma bahasanya unik. Dalam bahasa jurnalistik, “Kata-kata seringkali berarti seluruh rangkaian tindakan, pikiran, perasaan, dan akibat,” tulis Walter Lippmann. Intinya, “kecepatan dan kejelasan makna”. Suratkabar, sebagai salah satu bentuk dari pers, mengolah kata-kata untuk merepresentasikan segala gejala kegiatan masyarakat yang meliputi pemikiran, sikap, dan tindakan dari manusia ketika berhubungan sosial dan menciptakan peristiwa-berita.
Menurut Taufik Abdullah, penggunaan bahasa jurnalistik di Indonesia telah ikut “menumbuhkan kesadaran awal nasionalisme”. Dalam segala kesederhanaan dan bahkan ketidakpastian hidupnya, pers Indonesia pada awal pertumbuhannya telah memperkuat kedudukan bahasa ’melayu’ sebagai sistem simbol yang berperan pula mewujudkan transformasi ’komunitas orang-orang asing’ menjadi sebuah masyarakat, melanjutkan komunikasi yang bercorak antarwilayah dalam tempo yang lebih cepat.
Taufik Abdullah mengistilahkan masa pers yang terbit pada abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 itu sebagai periode ’prasejarah’ pers nasional. Penggunaan bahasa Melayu-Pasar, pada fase ini, ternyata merupakan masa di mana “peranan pers dalam sejarah kebangsaan mulai diletakkan”. Empat kota “pusat persuratkabaran” (Betawi/Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Padang) mengajak masyarakat untuk mulai mempergunakan bahasa lingua franca sebagai kekuatan komunikasi. Pers saat itu telah mengajak masyarakat berubah dari yang terbiasa dengan ’tradisi mendengar kabar’ menjadi masyarakat yang mulai ’membaca berita’.
Pers mengajak masyarakat untuk mulai berpikir berdasarkan ’teks’ yang menyampaikan ’kejadian-kejadian’. Bahasa jurnalistik yang digunakan pers Indonesia juga berperan melebarkan penerimaan pengetahuan dari keterkurungan ruang dan waktu lokal (adat istiadat setempat) menjadi pengetahuan yang memiliki keluasan kesezamanan dengan daerah atau dengan bangsa lain. Masyarakat diajak untuk mulai melakukan ’perbandingan’ di samping menumbuhkan identitas sebagai bangsa.
Medan Prijaji (Januari, 1907) merupakan penerbitan awal dari cetak biru pers nasional. Rd. Tirto Adhisurjo, sebagai penggagas Medan Prijaji, menggariskan corak perjuangan politik nasionalisme melalui medium pers. Sajian pemberitaannya berpihak kepada ’perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan’ dengan konsep pelaporan yang ’terbuka’ dan ’tanpa sindiran’. Bahasa pers menjadi alat penentu pengembangan kesadaran masyarakat.
Melalui bahasa, pers Indonesia telah meriwayatkan perseteruannya dengan politik dari sejak awal pemunculannya. Bahasa telah dipergunakan pers Indonesia sebagai sarana penyebaran kesadaran politis. Dalam perkembangannya, bahasa pers menjadi salah satu ragam bahasa Indonesia di antara bahasa akademik (ilmiah), bahasa usaha (bisnis), bahasa filosofi, dan bahasa literer (sastera). Bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.
Bahasa jurnalistik Indonesia harus efisien. Menurut Goenawan Mohammad, efisien berarti lebih hemat dan lebih jelas. Penghematan itu dilakukan di dua lapisan yakni unsur kata dan unsur kalimat. (Tim EPI/Septiawan Santana)


Bahasa Tutur - Hal yang harus diperhatikan di dalam dunia penyiaran, khususnya radio, adalah penggunaan bahasa tutur atau bahasa lisan.
Bahasa tutur bukan berarti bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, dan juga bukan berarti gaya bahasa ketika bercakap-cakap dengan teman dekat atau sahabat karib. Bahasa demikian lebih dekat kepada bahasa informal. Bahasa yang digunakan dalam dunia jurnalistik radio adalah bahasa formal, tetapi bahasa harus mudah diucapkan dan mudah dipahami.
Bahasa tutur atau bahasa ucapan atau bahasa lisan (oral speech) memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
a.  Satu pokok pikiran pada satu kalimat.   Orang biasanya bercakap satu kalimat   yang hanya mengandung satu pokok   pikiran. Jarang sekali seseorang bicara   dengan menggunakan anak kalimat jika   tidak benar-benar perlu. Anak kalimat   sering menyebabkan kalimat menjadi   rancu. Pendengar bisa salah memahami   yang mana subjek kalimat yang
 disampaikan.
b.  Tidak menggunakan kalimat langsung.   Kalimat langsung yang dibacakan kembali  akan terdengar aneh di radio.
c.  Dibagi per bagian, bukan per alinea. Keti-  ka sedang berbicara, orang berpikir bukan  per alinea, tetapi bagian per bagian,   layaknya seseorang bercakap dengan   kelompoknya. Keberadaan alinea dalam   berita radio tidak relevan, bahkan akan   memunculkan kebingungan bagi pende-  ngar. Biasakan untuk membagi-bagi tulisan  menjadi bagian per bagian, masing-  masing terdiri dari satu pokok pikiran.   Dengan demikian, struktur tulisan berita   radio tidak merupakan alinea, melainkan   mengalir dari satu pokok pikiran menuju   pokok pikiran berikutnya. Demikian cara   manusia bercakap-cakap.
d.  Ceritakan, bukan tuliskan, bahkan jika   perlu, gambarkan, bukan ceritakan.   Seorang reporter berada di ruang redaksi   sedang mengetik di komputer hasil liputan- nya dari lapangan. Editor mengintip apa   yang ditulis reporter dan bertanya, “Apa   yang kau dapat? Si reporter berhenti   mengetik dan menceritakan apa yang dia   dapat dari lapangan. Editor mengatakan,   “Ubah tulisanmu!” Ceritakan kepada pen-  dengar seperti yang kau ceritakan tadi.

Demikian prinsip ceritakan, bukan tuliskan! Namun, pendekatan ini belum dianggap cukup. Penulisan berita radio harus memasuki tahap yang lebih jauh lagi: Gambarkan, bukan ceritakan! Ketika menceritakan sesuatu, kita banyak menggunakan kata sifat dan menyederhanakan gambaran yang membangkitkan imajinasi. Misal anda berada di lokasi keberadaan KMP Levina I yang secara perlahan-lahan akan terbalik. Peristiwa itu sebaiknya digambarkan.
Hubungan dengan studio sudah tersambung, sekarang reporter diminta melaporkan lokasi di mana keberadaan kapal penumpang Levina I (anda tidak naik ke kapal), kebetulan Levina I mulai miring. Reporter bukan lagi menceritakan apa yang ada di lokasi, ia sekaligus menggambarkannya.
Jika reporter sudah bisa menggambarkan peristiwa melalui kata-kata dalam beritanya, berarti reporter sudah semakin mendekati sempurna dalam menulis berita. Jika penyelesaian beritanya di studio dilakukan dengan cara ini, kita perlu melakukan perekaman suasana di lokasi liputan yang berupa “efek suara” yang dapat menunjang laporan berita. Dengan demikian, pendengar terbawa ke dalam dunia imajinasi seolah-olah mereka berada di lokasi itu. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Berita & Informasi Jurnalistik Radio, Helena Olii, Penerbit Indeks, Jakarta, 2007).


Bahtera Ampera, majalah bulanan. Terbit perdana pada Januari 1963. Bahtera Ampera pada awalnya terbit bulanan, namun sejak April 1963 berubah menjadi tiga bulanan.
Majalah ini diterbitkan oleh Hubungan Masyarakat (Humas) PN Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), dan dikelola di bawah pimpinan Soeprapto Soemiwidjojo. Majalah yang berkantor di Jalan Segara 7A, Jakarta dicetak di Percetakan Garda Jakarta. Pada saat terbit perdana, majalah ini beroplah 2.500 eksemplar dengan tebal 32 halaman. (Tim EPI/KG. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indexpress/Jurnas)
Bakrie Soeraatmadja, R (26 Juni 1895 - Bandung 1 Juni 1971) - wartawan, adalah salah seorang  pendiri suratkabar mingguan Sipatahoenan. Selain aktif di Sipatahoenan, Bakrie juga membantu suratkabar Perbincangan, Berita Priangan, dan lain-lain, bahkan pernah menjadi Ketua Persatuan Djurnalistik Indonesia (Perdi) Bandung dan anggota PB Perdi pertama (1933), yang berpusat di Solo.
Sipatahoenan sendiri terbit setelah berlangsungnya Konperensi Pagoeyoeban Pasoendan  di Jalan Balonggede Bandung, 25 -26 Desember 1922, yang menetapkan untuk menerbitkan sebuah suratkabar mingguan yang bernama “sipatahoenan”. Namun baru tanggal 20 April 1923 suratkabar ini dapat diterbitkan di Tasikmalaya.
 Beberapa tahun sebelum meninggal dunia Bakrie masih sering datang ke kantor Sipatahoenan untuk mengantarkan karangannya. Walaupun berjalan tertatih-tatih dan menggunakan tongkat, Bakrie tetap bersemangat menjalani profesinya sebagai maupun penulis. Pada tahun 1964 Bakrie menerima Satyalencana Perintis Kemerdekaan. (Tim EPI/AM)

    
Bali TV – stasiun televisi lokal, merupakan televisi lokal pertama di Bali yang resmi mengudara sejak 26 Mei 2002. Pada awalnya Bali TV mengudara selama 6 jam siaran. Sekitar 90 persen programnya adalah program budaya dan hampir seluruh program tersebut adalah hasil produksi sendiri (in house production).
Sejak pertama mengudara stasiun televisi yang sangat identik dengan program budaya ini telah mampu membangkitkan semangat masyarakat khususnya di Bali untuk kembali mencintai dan melestarikan budaya sendiri. Hal itu terlihat nyata dalam setiap kegiatan off air Bali TV.
Bali TV adalah stasiun televisi swasta lokal yang merupakan bagian dari Kelompok Media Bali Post yang dipimpin Satria Naradha, seorang jurnalis dari generasi kedua perintis pers di Bali, Ketut Nadha.
Dalam kiprahnya sebagai media pencerahan bagi masyarakat, Bali TV juga menggelar berbagai program sosial di antaranya “program wirasa” yang menyalurkan dana bantuan pemirsa bagi pasien kurang mampu serta masyarakat miskin yang tengah menderita sakit, serta program bea siswa bagi siswa. Bahkan Bali TV juga turut memberikan sumbangsih kepada warga Aceh dan Yogyakarta pada saat masyarakat di kedua daerah tersebut tertimpa bencana.
Untuk mengembangkan potensi lokal Bali TV kerap menyelenggarakan program off air antara lain Bali TV 10K, Roadshow, Jalan Santai, Harmoni Bali, pelayanan kesehatan gratis, serta Festival Tari dan Dalang Cilik.
Pada usianya yang memasuki tahun keenam Bali TV  mampu meraih penghargaan Cakram Award yang diselenggarakan oleh majalah Cakram, media marketing dan kehumasan. Oleh majalah ini pula Bali TV dinilai memiliki kinerja yang cukup baik dan konsisten dengan visi dan misinya menjaga Budaya Bali, sehingga berhak atas Anugerah Cakram Award sebanyak 3 kali berturut-turut sejak tahun 2005.
Bahkan pada tahun 2003 Museum Rekor Indonesia juga menganugerahkan penghargaan Rekor MURI sebagai stasiun televisi yang memprakarsai pertunjukan Drama Gong (sebuah pertunjukan drama tradisional ) dengan pemain terbanyak (100 pemain).
Bali TV juga merupakan anggota Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), dan saat ini menjalin kerjasama dalam hal program dengan lima stasiun televisi lokal di Indonesia antara lain dengan Jogja TV di Yogyakarta, Bandung TV di Bandung, Cakra Semarang TV di Semarang, Sriwijaya TV di Palembang, dan Aceh TV di Aceh.
Siaran Bali TV dapat dipantau di seluruh kabupaten dan kota di Bali serta hampir seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan antena khusus. Hal ini dimungkinkan karena untuk menyiarkan program-programnya Bali TV menggunakan Satelit Palapa C2. Saat ini Bali TV mampu mengudara selama 18 jam, dengan sejumlah program unggulan antara lain:
Seputar Bali: program berita lokal yang   akurat dan merakyat.
Telekuis Klip Bali: program chart musik   pop Bali berdasarkan pesan singkat   (sms) dan telepon pemirsa.
Darmawacana: kuliah agama lebih ke-  pada upaya pencerahan umat hindu.
Klip Bali: parade video klip lagu-lagu pop   Bali terkini.
Kris: laporan kriminal dalam sepekan

Sejak berdiri Bali TV juga kerap menerima kunjungan sejumlah pejabat penting negara, calon presiden, bahkan Megawati Soekarno Putri (saat masih menjadi Presiden), yang sekaligus membubuhkan tanda tangan sebagai wujud komitmen ikut menjaga Bali dan Nusantara dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.
Kini sejumlah prasasti yang ditandatangani para tokoh nasional dan lokal itu menghiasi halaman depan Gedung Pers Bali Ketut Nadha.
Bali TV bernaung di bawah badan hukum PT. Bali Ranadha Televisi (Bali TV), dan beralamat di Gedung Pers Bali K. Nadha, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar – 80116, Telp. 0361 -427373, Fax 0361-426 949, dan Website: www.balitv.tv. Untuk mendukung seluruh kegiatan operasionalnya Bali TV membuka kantor perwakilannya di Jakarta, di Jalan Gelora VII No.32 Kel. Gelora Kecamatan Tanah Abang, Telp. 021-5356272, dan Fax. 021-53670771. (Tim EPI)


Bali Post - koran pejuang dan koran milik masyarakat Bali. Dua predikat itu kini melekat pada Bali Post yang dilahirkan 60 tahun lalu. Tepatnya 16 Agustus 1948.
Derap revolusi saat itu sangat mengaspirasi kelahiran koran Bali Post yang pada awalnya bernama Suara Indonesia dan kemudian Suluh Indonesia. Walaupun beberapa kali berubah nama, namun roh perjuangan tetap melekat pada koran ini.
Sebagai pers yang turut memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, baik Suara Indonesia maupun Suluh Indonesia tidak luput dari pahit getir perjuangan bangsa ini. Bahkan kini pun, Bali Post masih dicap sebagai pers perjuangan, sebab perjuangan tidak sebatas mempertahankan kemerdekaan, juga berjuang untuk mengisi kemerdekaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa.
Bali Post sebagai media perjuangan masyarakat Bali, sudah semestinya melakukan kritik dan ”pengawasan” sebagai fungsi kontrol sosialnya. Sedangkan dalam kaitannya dengan fungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah tugas Bali Post untuk memberikan pemikiran yang mencerahkan dan mencerdaskan.
Sejarah mencatat bahwa Bali Post beberapa kali berganti nama. Sebelum menggunakan nama Bali Post suratkabar ini bernama Suara Indonesia. Namun pada tahun 1966 pemerintah menetapkan bahwa semua penerbitan harus berafiliasi ke organisasi partai politik atau instansi yang ada, sehingga  nama “Suara Indonesia” diubah menjadi “Suluh Indonesia edisi Bali”. Lalu pada bulan Juni 1966 hingga Mei 1971, nama “Suluh Indonesia edisi Bali” pun diganti lagi menjadi ”Suluh Marhaen edisi Bali”.
Pada tahun 1972 terjadi perubahan iklim politik yang juga berpengaruh pada iklim penerbitan (pers). Sejak itu penerbitan pers dibebaskan dari keharusan berafiliasi, sehingga koran ini pun kembali menggunakan  nama “Suara Indonesia”. Namun Departemen Penerangan tidak menyetujui karena di Malang sudah ada suratkabar dengan nama yang sama. Oleh karena itu digunakanlah nama “Bali Post” hingga sekarang.
Dalam perkembangannya Bali Post mengalami kemajuan yang cukup pesat sehingga mampu melahirkan “anak-anak” antara lain mingguan Prima, tabloid Tokoh, harian Denpost, Bali Travel News (tabloid pariwisata berbahasa Inggris), tabloid dwimingguan Wiyata Mandala, radio Global FM Bali, radio Swara Widya Besakih, radio Genta Bali, Swara Negara, dan Singaraja FM. Semua keberhasilan tersebut tidak lain berkat kerja keras dan pandangan jauh ke depan sang perintis, K. Nadha. Bali Post kini berkantor pusat di Jalan Kepundung No. 67A Denpasar.(Tim EPI/KMB)

Bali Travel News - terbit berdasarkan SK Menteri Penerangan RI No.596/SK/MENPEN/ SIUPP/1998 tentang Pemberian Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dengan Pemimpin Umum/Perusahaan Made Berata Ashrama dan Pemimpin Redaksi I Gusti Ngurah Wisnu Wardana.
Pertama kali terbit, Jumat 4 Desember 1998, Bali Travel News membawa misi sebagai penerbitan yang memberikan informasi bidang kepariwisataan Bali dan Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian dari Kelompok Media Bali Post, Bali Travel News terbit dalamdua edisi yakni edisi cetak yang beredar setiap hari Jumat -dua kali dalam sebulan, dalam versi yaitu versi bahasa Inggris dan Jepang  “Bali Travel News” dan versi bahasa Indonesia “Image”, serta edisi elektronik/web (www.bali-travelnews.com) dengan pengantar dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia.
Bali Travel News edisi elektronik (BTN Online) hingga awal 2008 diakses oleh pembaca lebih dari 100 negara, rata-rata 500 orang per hari. BTN Online dilengkapi ekstrem trecking, sehingga siapa saja dapat mengetahui secara objektif dan transparan jumlah visitors, asal negara dan urutannya pada tiap kunjungan mereka.(Tim EPI/KMB)


Bambang Harymurti (Jakarta, 10 Desember 1956) - Pemimpin Redaksi Majalah Tempo. Mengaku menjadi wartawan secara tidak sengaja. Masa kecil Bambang Harymurti malah lebih dulu bersentuhan dengan kesenian, yang diperkenalkan sejak dini oleh ibunya, Karlina Koesoemadinata.
Perawakan Bambang semasa kecil yang tergolong gembur, kerap didaulat berperan sebagai “Semar” dalam latihan wayang anak-anak yang diselenggarakan Perkumpulan Seni Sunda di rumah orangtuanya, di Menteng Dalam, Jakarta.
Akan tetapi, Bambang lebih terpikat terhadap angan-angan untuk bisa terbang mengangkasa. Mungkin minat ini tertular dari ayahnya, Ahmad Sudarsono, seorang penerbang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Sering dengan sengaja sang ayah membiarkan Bambang memegang kendali pesawat latih saat mengangkasa. Bambang bercita-cita jadi astronot.
Perjalanan hidup kemudian memang membawanya menjadi pilot. Bukan pesawat terbang ataupun pesawat luar angkasa, melainkan “pilot” atau pemimpin redaksi majalah Tempo dan Koran Tempo, serta Tempo Interaktif dan Tempo edisi bahasa Inggris.
Karirnya di dunia jurnalistik ia awali ketika menjadi reporter magang di majalah Tempo sejak 14 Maret 1982. Karir itu makin ditekuninya dan ia jalani secara total setelah ia lulus dari Institut Teknologi Bandung, 1983.
Demi kepentingan menulis berita, ia pernah sungguh-sungguh menjalani tes menjadi calon astronot yang terdiri atas beberapa tahapan. Hebatnya, BHM, demikian panggilan akrabnya, bahkan masuk jajaran empat finalis yang dikirim untuk menjalani seleksi akhir di Boston Amerika Serikat. Tanpa disengaja, BHM hampir meraih impian masa kecilnya justru pada saat ia sudah melepas impian itu.
Pada tahun 1990, saat masih bekerja di Tempo, BHM mendapat beasiswa Fulbright untuk belajar di Universitas Harvard, dan lulus pada 1991. “Setelah lulus, saya menjadi Kepala Biro Tempo di Washington DC dan membuka kantor Tempo di National Press Building,” ujar Bambang.
Ketika majalah Tempo dibredel pada Juni 1994, BHM sempat masuk tim Media Indonesia Minggu untuk kemudian ditarik menjadi Redaktur Eksekutif Media Indonesia.
Pada tahun 1999, BHM sempat menjadi Foreign Affairs Fellow di School for Advanced International Studies (SAIS), John Hopkins University. “Sebagai fellow, saya melakukan riset tentang kemungkinan Indonesia pecah,” tuturnya. Hasil riset itu antara lain dimuat di Journal for Democracy edisi Oktober 2000 berjudul “Indonesia Challenge of Changes”.
Ketika kembali ke tanah air sekitar bulan Juli 1999, majalah Tempo sudah terbit kembali, dan ia kemudian dipercaya untuk menggantikan Goenawan Mohamad sebagai pemimpin redaksi.
Kasus gugatan pengusaha Tomy Winata terhadap pemberitaan majalah Tempo edisi 3-9 Maret 2003 telah melambungkan namanya. Pemberitaan berjudul “Ada Tomy di Tenabang?“ itu sendiri berbuntut penyerbuan pendukung Tomy Winata ke kantor Tempo di Jalan Proklamasi 72.
Kasus ini akhirnya masuk ke pengadilan dengan dakwaan pencemaran nama baik dan menyiarkan berita bohong. Majelis Hakim PN Jakarta Pusat yang menggunakan KUHP untuk mengadili kasus ini, pada 16 September 2004, akhirnya memvonis BHM satu tahun penjara, lebih ringan dari pada tuntutan jaksa. Pihak Tempo mengajukan banding, dan pada bulan April 2005, Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan vonis PN Jakarta Pusat. (Tim EPI/AM; Sumber: PDAT/sumber lain)


Bambang Soeharto Wijaya (Jakarta, 29 April 1949) Panggilannya Mas Harto. Anak kolong (istilah putera polisi yang tinggal di Asrama) ini memang senang gaul, sejak anak-anak sampai remaja aktif sebagai Pramuka Bhayangkara. Setelah selesai SMA tahun 1965 diterima di Faklutas Ekonomi UI, namun karena sambil bekerja sebagai penyiar radio waktu itu memilih Extension Fakultas Ekonomi UI, cuma sampai Sarjama Muda.
Begitu lepas SMA dia coba-coba jadi penyiar Radio, saat itu di Radio Swasta Niaga Lokawisesa di Jakarta, cukup lama juga sampai tahun 1970. Menjadi penyiar inilah dia banyak mengamati perkembangan jurnalistik, karena itu dia bekerja rangkap sebagai korektor di Mingguan Trisakti Jakarta mulai 1969 -1971. Dia mulai belajar menulis Cerita Pendek, anekdot dan akhirnya menulis berita. Dia masuk kursus jurnalistik selama 6 bulan di Jakarta. Selain itu dia digembleng oleh H. Tahar dari Pos Kota untuk menjadi wartawan yang ulet dan professional.
Pada tahun 1971, Pos Kota menerbitkan harian sore yang dinamakan Pos Sore, dia masuk sebagai wartawan, saat itu Cuma ada 3 orang wartawannya, namun Pos Sore cukup maju saat itu. Mungkin karena melihat keuletannya Harto ditarik ke Pos Kota, menjadi Redaktur Pelaksana di Pos Kota Minggu. Lebih dari 12 tahun memimpin Pos Kota Minggu, Harto ditugaskan study-banding ke Malaysia sekitar 1 bulan di Berita Harian Malaysia tahun 1987. Sepulangnya dari Malaysia menjadi Redaktur Pelaksana di Harian Pos Kota.
Pada 1996, ketika Pimpinan Redaksi Majalah Film (masih grup Pos Kota) meninggal dunia, Harto pun ditugaskan untuk menjadi Pimpinan Redaksi, hingga tahun 2002, kemudian naik lagi menjadi Wakil Pimpinan Umum selain merangkap menjadi Pimpinan Perusahaan pada harian berbahasa Cina namanya harian Hidup Baru, sampai harian itu tutup karena kesulitan di pemasaran dan iklan.
Disela-sela kesibukannya Harto menyelesaikan pendidikan S-1 nya untuk Ilmu Administrasi Niaga, kemudian masuk pendidikan reguler Lemhannas pada tahun 1997 angkatan XXX, dia adalah anggota Lembaga Sensor Film terlama selama 3 priode ( 1999-2006). Aktif di ORARI (Organisasi Amatir Radio) sebagai Wakil Ketua Lokal Kemayoran. Di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dia masuk tahun 1978 sampai saat ini, mulai dari Sekretaris Seksi Film untuk PWI Jakarta, sampai kedudukannya saat ini Wakil Sekretaris Jenderal PWI Pusat.
Apa sih menariknya jadi wartawan ? “Waah tidak terkira, disamping selalu mengasah otak, banyak pergaulan, juga bisa berpergian gratis. Bayangkan siapa sangka kalau Mas Harto bisa pergi menunaikan Ibadah Haji sampai tiga kali secara gratis atau atas undangan, bahkan bisa satu tenda wukuf dengan Pak Harto yang ketika sama-sama menunaikan Ibadah Haji. Selain itu mengunjungi beberapa Negara di Asia dan Eropa, dan dengan kedudukannya di PWI, dia sudah keliling Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Ini adalah berkahnya, katanya. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Bandera Islam - Suratkabar khusus ini mulai beredar pada tahun 1923. Awal penerbitannya lebih dimaksudkan untuk menyukseskan kampanye-kampanye propaganda Sarekat Islam (SI) dan organ-organ di bawah naungannya. Koran yang secara resmi diterbitkan Commitee Bandera Islam Yogyakarta ini awalnya terbit setiap Senin dan Kamis.
Bandera Islam diselenggarakan oleh para pembesar SI, antara lain Ketua Central Sarekat Islam (CSI), HOS Tjokroaminoto (pemimpin redaksi), Soerjopranoto (Wakil Ketua CSI) sebagai redaktur pelaksana, dan Agus Salim yang mengurusi biro Bandera Islam di wilayah Weltervreden (Batavia-Kota). 
Anak-anak muda penggiat Jong Islamieten Bond (JIB) pun turut serta menebarkan semangat Bandera Islam. Tercatat nama Sjahboedin Latief, Mohammad Roem, serta A.M. Sangadji. Jong Islamieten Bond adalah perkumpulan intelektual muda Islam yang berdiri pada tanggal 1 Januari 1925 atas prakarsa Agus Salim.
Sekretariat Bandera Islam berada di Karangkajen Yogyakarta. Keredaksiannya dipegang Soerjopranoto mewakili Tjokroaminoto yang tidak bisa secara total menangani tugas-tugas keredaksian, karena memimpin CSI dan menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat).
 Tarif langganan Bandera Islam selama tiga bulan adalah f 3 untuk wilayah Hindia dan f 4 untuk luar Hindia. Sedangkan harga iklan advertensi sebaris adalah f 0,15 dan f 2 untuk iklan sekali muat.
Tulisan-tulisan di Bandera Islam pada umumnya mengulas seputar dunia pergerakan, utamanya demi kepentingan SI dan organ-organ pendukungnya, termasuk JIB. Bahkan ada rubrik khusus Doenia Pergerakan Islam untuk memfasilitasi kepentingan organ-organ bercorak Islam tersebut.
Selain itu, Bandera Islam juga memuat berita-berita aktual dari mancanegara, seperti topik-topik tentang Perang Dunia I, konflik antara Inggris dan Turki atau pertikaian antara Syria dan Palestina serta Jepang melawan Tiongkok. Rubrik Loear Hindia yang diasuh Agus Salim sempat membahas soal Mesir yang kembali membolehkan rakyatnya beribadah haji ke Mekah atau persoalan nasionalisme Islam di Iran.
Jargon “Soerat Kabar Berdasar Politiek dalam Islam Memoeat Perkara Oemoem”yang diembannya dapat ditafsirkan bahwa meski beraliran Islam, Bandera Islam juga tidak mengabaikan persoalan-persoalan umum yang menyangkut rakyat banyak, antara lain mengekspos kasus-kasus yang merugikan rakyat. Pelbagai kasus kriminalitas dikupas lugas di rubrik “Kabar Hindia”. Di ruang tersebut juga sering dipublikasikan persidangan kasus korupsi dan tuduhan delik pers.
Pada akhir tahun 1926, ketika corak kebangsaan menguat, Bandera Islam pun merangkul lebih erat golongan nasionalis. Upaya itu berhasil dengan bergabungnya dua dedengkot nasionalis, yaitu Soekarno dan Mr. Sartono. Nama “Bandera Islam” pun diubah menjadi “Bendera Islam”. Dua rubrik besar yakni “Pergerakan Islam” diasuh oleh  Tjokroaminoto dan Agus Salim, sedangkan rubrik “Pergerakan Nasional” digarap oleh Soekarno dan Mr. Sartono.
Bendera Islam memberikan prioritas pemberitaan terhadap pergerakan dan menyoroti kebutuhan dan kepentingan rakyat kecil. Banyak tokoh pergerakan yang menyumbangkan tulisannya untuk mengisi berita di Bendera Islam yang terbit setebal 10 halaman, setiap hari kecuali hari libur.
Namun, suratkabar berideologi ideal isme tersebut tidak berumur panjang. Mr. Sartono, dengan alasan kesibukan yang kian padat, mendadak mengundurkan diri. Buruknya kondisi internal semakin diperparah dengan jarang munculnya Soekarno, yang mulai intens dengan aktivitas politiknya yang luar biasa, yang sedang mempersiapkan berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI). (Tim EPI/KG. Sumber: Iswara N. Raditya/Indonesia Buku/Jurnas)
Bandung Pos, suratkabar harian - suratkabar yang awalnya bernama Harian Berdikari edisi Jawa Barat ini mulai beredar pada tanggal 10 November 1965.
Koran yang dirintis oleh Achmad Adnawidjaja ini selanjutnya dikelola Yayasan Gemah Ripah Press, yang dipimpin Drs. S. Rochadi (pemimpin redaksi). Namun sejak September 1967, jabatan pemimpin umum/pemimpin redaksi/penanggung jawab dipegang oleh Rachmat Sulaeman.
Sejak tahun 1970, Berdikari berubah nama menjadi Harian Umum Bandung Pos, yang terbit hanya 8 halaman. Jabatan pemimpin umum/pemimpin redaksi/penanggung jawab tetap dipegang Rachmat Sulaeman, sedangkan pemimpin perusahaan dijabat oleh Soetjipto.
Mulai tanggal 22 Februari 1986, harian ini dikelola oleh PT Parahyangan Pers, dengan Pemimpin Umum/Pemred/Penanggung Jawab, H.S.A. Yusacc.
Pada tanggal 4 Desember 1989 harian ini secara resmi menjalin kerja sama dengan Grup Pikiran Rakyat, diikuti perubahan jabatan pemimpin perusahaan yang kemudian dipegang oleh Syafik Umar. Format harian umum (broadsheet) setebal 12 halaman diubah menjadi tabloid setebal 24 halaman. Dengan bentuknya yang baru, tiras Bandung Pos mengalami kenaikan yang cukup berarti. Namun pada bulan Desember 1991, kerja sama itu berakhir.
Sejak tanggal 18 April 1994, harian ini dikelola oleh Yayasan Korpri Pemda Jawa Barat, Yayasan Al Ikhsan, dan karyawan Bandung Pos sendiri. Formatnya dikembalikan ke format broadsheet. “Sebagian besar saham dimiliki Yayasan Korpri Pemda Jawa Barat. Tak aneh kalau setiap Pemda Dati II di Jawa Barat berlangganan koran ini. Jumlah langganan tergantung dari pendapatan daerah yang bersangkutan,” jelas Edi Junaidi. (Tim EPI/KG. Sumber: Profil Pers Indonesia/100 Tahun Pers Jawa Barat)


Bandung TV, adalah stasiun televisi lokal swasta pertama di Kota Bandung, Jawa Barat. Stasiun ini dapat diakses melalui saluran 38 UHF. Dengan slogan, “Jati Diri Pasundan”, Bandung TV mengusung tujuan mengangkat kembali nilai-nilai budaya dan potensi lokal yang terdapat di Jawa Barat pada umumnya dan Bandung khususnya. Bandung TV juga merupakan jaringan dari Bali TV, Jogja TV, dan Semarang TV.
Sebagai wadah kreatifitas masyarakat Sunda, Bandung TV, menitikberatkan program acaranya terhadap upaya pencerahan masyarakat dalam segala aspek kehidupan dengan fondasi seni budaya. Titik berat ini dipilih karena seni budaya merupakan poros kehidupan yang menggerakkan dimensi sosial dan ekonomi masyarakat.
Logo Bandung TV dirancang dari beberapa unsur yaitu Kembang Cangkok Wijayakusumah, Kujang, serta tulisan “BANDUNG” merupakan manunggaling Tri Tangtu di Buana, yakni sang Rama, sang Resi, serta sang Ratu, atau merupakan kesatuan hakiki dari sifat manusia linuhung yang silih asih, silih asah, serta silih asuh.
Beberapa program Bandung TV yang mendukung upaya mengangkat budaya lokal adalah penayangan hasil kreativitas pemuda-pemudi Pasundan dengan harapan agar eksistensi mereka diketahui oleh masyarakat banyak, antara lain program,
Midang (program pentas kesenian, Senin-Kamis pukul 11.00 wib),
Wayang Golek (Sabtu-Minggu, pukul 22.30 wib),
Golempang (Dialog Budaya Basa Sunda,
setiap Kamis pukul 21.00 wib)
Sekar manis (tembang sunda, setiap Jumat pukul 21.00 wib)
Warung Tumaritis (wayang golek minimalis dengan dalang Ki Opik Sunan- dar Sunarya,
setiap Senin, pukul 21.00 wib)
Klip Parahyangan (program lagu-lagu sunda
setiap hari pukul 17.30 wib)
Bentang Parahyangan (tangga lagu pop sunda, setiap Rabu pukul 16.30 wib)
Mandalawangi (program khusus wisata di Bandung dan Jawa Barat, setiap hari Senin pukul 21.00 wib)
Reaksi (Remaja Aksi dan Kreasi, setiap hari Minggu pukul 20.30 wib)
SoundXplore (setiap hari Rabu, pukul 21.00 wib)
Piloks (Pilihan Lagu OKS, setiap hari Sabtu, pukul16.30 wib)
Music Holic (setiap hari Senin, Selasa dan Rabu, pukul 20.00 wib).

Bandung TV juga menyajikan program pemberitaan berupa laporan seputar Kota Bandung dan Jawa Barat, yang dimaksudkan untuk mengontrol kebijakan pemerintah daerah  dan memberikan informasi kepada masyarakat luas. Program-program tersebut antara lain,
Seputar Bandung Raya
setiap hari pukul 18.30 WIB 
Tanggara Pasundan, berita dalam Basa Sunda, setiap hari pukul 19.30 WIB
Program Bersama, yaitu program berita yang disiarkan langsung secara bersamaan dengan jaringan TV Bali TV-Jogja TV-Semarang TV; Lintas Mancanegara, dan Suluh Indonesia.
Inpakta (Informasi Paling Aktual) pukul 14.00, 16.00 & 21.00 WIB
Bandung Akhir Pekan (features) setiap  minggu pukul 08.00 WIB, 

Sedangkan untuk program interaktif Bandung TV menyajikan program acara Topik Pers yang membahas masalah sosial, ekonomi dan isu-isu yang sedang hangat. Program ini disiarkan secara langsung sehingga memudahkan masyarakat untuk terlibat secara aktif dengan mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan opini mereka.
Dialog-dialog tersebut antara lain tentang pengobatan alternatif seperti Reiki Ling Chi, Tritunggal, Solusi Anda, Dokter Kita, Dialog Khusus. Pada acara ini penonton dapat berkomunikasi langsung dengan narasumber seperti budayawan, sosiolog, seniman Sunda. Informasi olahraga, khususnya tentang Persib juga disiarkan secara langsung dan interaktif. (Tim EPI/KG; dari berbagai sumber)


Banjarmasin Post, suratkabar harian ini lahir pada 2 Agustus 1971 atas inisiatif Huzai Junus Djok Mentaya, Yustan Aziddin, dan Rusdi Effendi A.R. Ketiganya adalah aktivis pergerakan sejak masa kekuasaan Presiden Soekarno.
Meski kala itu situasi politik “serba tidak boleh”, Banjarmasin Post tetap mengambil jalur kritis. Pada masa awal kemunculannya, seperti layaknya koran lokal, Banjarmasin Post berhadapan dengan kesulitan sirkulasi dan distribusi. Apalagi topografi Banjarmasin dan sekitarnya membutuhkan perpaduan transportasi darat dan sungai.
Pengelola suratkabar ini berupaya melakukan pelbagai cara untuk memastikan korannya sampai ke tangan pembacanya. Awak sirkulasi dan distribusi bahkan berpromosi layaknya tukang obat keliling dengan mobil yang memperdengarkan lagu-lagu.
Awalnya, suratkabar ini terbit hanya sekali dalam sepekan. Kemudian terbit setiap hari karena permintaan pasar. Percetakan yang makin baik kualitasnya mendukung upaya ini.
Sejak tahun 1979, Banjarmasin Post memiliki percetakan offset sendiri. Adanya alat tersebut mampu memangkas ongkos dan waktu produksi sehingga Banjarmasin Post mampu hadir sebagai koran harian pagi.
 Koran ini berhasil menjadi pendukung program Koran Masuk Desa yang dicanangkan pemerintah pada dekade ’80-an. Pada akhir tahun 1989-an oplahnya menembus angka 20.000 eksemplar setiap hari, dan hingga dekade ’80-an dan ’90-an, koran ini menjadi suratkabar papan tengah nasional Indonesia dan terbesar di Kalimantan Selatan.
Banjarmasin Post kemudian mengembangkan sayap dengan bergabung ke dalam grup Kompas-Gramedia. Jaringan ini memudahkan antaranggota grup untuk saling bertukar berita dan informasi. Dengan demikian, meskipun hanya koran daerah, Banjarmasin Post mampu menyajikan bukan hanya berita lokal Borneo, tetapi juga isu dan berita nasional dan dunia internasional.
Sekarang koran ini bernaung di bawah PT Grafika Wangi Kalimantan. Salah satu pendirinya, Rusdi Effendi A.R., masih terlibat dalam berbagai aktivitas Banjarmasin Post, sebagai pemimpin umum. Sedangkan dua orang lainnya yaitu Djok Mentaya meninggal dunia pada tahun 1994, dan Yustan Aziddin menyusul satu tahun kemudian.
Sebagai wujud penghargaan, kantor pusat Banjarmasin Post diberi nama sesuai dengan nama salah seorang pendirinya, Gedung H.J. Djok Mentaya, yang berdiri kokoh di Jalan A.S. Musyaffa No. 16 Banjarmasin. Setelah suratkabar lain lahir, gedung ini juga menjadi pusat kegiatan semua suratkabar tersebut.
Koran yang terbit dengan SIUPP SK Menpen No.004/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1985 tanggal 24 Oktober 1985 berupaya memenuhi kebutuhan pembacanya dengan menyajikan beragam  rubrik antara lain Berita Utama, Internasional, Nusantara, Banjarmasin Borgas, Bisnis, Sport Vaganzas, Opini, Hot Line, Kal-Sel, Kal-Tim, Kal-Teng, Hiburan, dan Gaya Hidup.
Mengikuti arus teknologi informasi, Banjarmasin Post tidak hanya hadir dalam bentuk koran konvensional, tetapi juga muncul melalui sarana on-line. Dari “rahim” Banjarmasin Post lahir pelbagai suratkabar dan majalah antara lain Serambi Ummah, Bebas, dan Metro Banjar. (Tim EPI/KG; Sumber: Dian Andika Winda/Indonesia Buku/Jurnas)
    

Banten TV - Stasiun televisi ini mulai mengudara pada 7 Juli 2006. Mengudara pada Channel 22 UH, stasiun televisi ini mengisi lokasi pemancar  di koordinat S 06° 07’ 27”; dan E 106° 11’ 13.6”, dengan ketinggian menara 100 m dan daya pancar 10 kilowatt.
Stasiun televisi yang dikelola oleh PT. Banten Media Global ini berusaha menjangkau seluruh pemirsa yang berada di lokasi sekitar kota Serang, Cilegon, Pandeglang, Lebak, Anyer, Rangkas Bitung, dan Labuan.(Tim EPI)


Barito Koto Gadang - suratkabar bulanan, beredar di Kota Padang antara tahun 1929 hingga 1932 dan diterbitkan Fort de Kock.
Suratkabar berbahasa Melayu ini diterbitkan atas izin “injik mamak penghulu nan 24” untuk keperluan anak negeri (penduduk) Kota Padang. Terbit 4 halaman Barito Koto Gadang berisi beragam rubrik berupa berita dan artikel. Berita lokal seperti kelahiran, perkawinan dan kematian juga dimuat dalam suratkabar tersebut. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bataviaasch Markbericht en prijscourant - Koran mingguan yang beredar di Batavia antara tahun 1910 hingga 1939 ini diterbitkan oleh de Handels Vereeniging (Perkumpulan Perdagangan Hindia Belanda).
Informasi-informasi yang dimuat di dalam koran ini umumnya tentang perdagangan Hindia Belanda dalam bentuk table harga dan statistik, harga hasil perkebunan, pertambangan, ekspor-impor, kurs mata uang, perbankan dan lain-lain, yang disajikan dalam bahasa Belanda. Dalam setiap penerbitan termuat daftar dokumen sumber informasi berita. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bataviaasch Courant - Koran ini juga disebut sebagai officieel neuwsblad, koran resmi pemerintah kolonial saat itu. Bataviaasch Courant terbit di Batavia tahun 1816 – 1828.
Suratkabar yang terbit pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels ini dicetak dalam format dua kolom dan di bawah logonya dicantumkan lambang kerajaan.
Bataviaasch Courant beredar sekali seminggu dalam bahasa Belanda. Terbit 4 halaman, setiap sebulan sekali menyajikan suplemen 2 hingga 4 halaman. Berita-berita yang dimuat di Bataviaasch Courant antara lain berita tentang pengangkatan pejabat.
Berita luar negeri dan dalam negeri disajikan secara singkat. Berita tentang rencana keberangkatan kapal, kapal yang datang, dan kapal yang sedang berlabuh menempati porsi penting dalam koran ini. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bataviaasch Nouvelles - suratkabar dengan ukuran kertas folio terbit di Batavia pada tahun 1744. Dikelola oleh Jan Abel, penjilid buku yang bekerja pada Kompeni. Suratkabar ini diedarkan secara cuma-cuma. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Beat - Dalam dunia jurnalistik dikenal istilah beat yang artinya pos liputan atau wilayah liputan bagi para wartawan. Dengan demikian ada tempat tetap yang dikunjungi wartawan dalam menjalankan tugasnya mencari atau meliput berita. Misalnya, seorang wartawan ditugaskan secara tetap oleh redakturnya untuk meliput berita-berita di pengadilan, maka dapat dikatakan beat wartawan tersebut adalah pengadilan.
Hampir di semua perusahaan penerbitan suratkabar, desk kota merupakan desk yang paling banyak memiliki wartawan. Maklum kota banyak masalahnya dan banyak tempat-tempatnya yang harus diliput. Redaktur Desk Kota bertanggung jawab untuk peliputan seluruh kota dan kota-kota satelitnya, atau kota-kota kecil di sekitarnya dan beberapa komunitas yang terpencil.
Misi Redaktur Kota adalah memastikan bahwa reporter-reporter atau wartawan-wartawannya memasukkan berita setiap harinya dan menjaga agar tak satu pun peristiwa penting dan menarik lolos. Dan tergantung dari berita-berita yang dimasukkan para reporternya itulah yang membedakan kepribadian satu koran dengan koran-koran lainnya.
Redaktur Kota membuat rencana peliputannya berdasarkan anggapan bahwa pusat-pusat informasi berada di sekitar tempat-tempat tertentu. Berita tentang kegiatan-kegiatan pemerintah kota terdapat di balaikota dan kantor-kantor dinas pemerintah kota lainnya.
Berita-berita kriminal diperoleh dari kantor-kantor wilayah kepolisian atau resort-resort kepolisian. Berita-berita pengadilan diperoleh dari pengadilan-pengadilan negeri dan kejaksaan negeri. Berita-berita bisnis dan keuangan dari bank-bank, dari kantor-kantor kamar dagang dan industri (Kadin), asosiasi-asosiasi niaga, serikat buruh, dan para pengusaha.
Berita-berita kegiatan sosial bisa didapatkan dari lembaga-lembaga layanan sosial dan dinas-dinas sosial. Demikian pula berita-berita lainnya, seperti berita tentang transportasi, berita pendidikan, agama, kesehatan, ilmu pengetahuan dan lain-lain didapat dari instansi-instansi yang berkaitan dengan bidang-bidang kegiatan tersebut.
Untuk pusat-pusat berita itu Redaktur Kota menugaskan reporter-reporter atau wartawan-wartawan beat. Selain reporter beat, yang jadwal kerjanya tetap sama dari hari ke hari, Redaktur Kota juga memiliki sejumlah reporter yang ditugaskan meliput masalah-masalah yang tidak dikhususkan dalam satu bidang saja. Reporter semacam ini disebut reporter “pelaksana penugasan umum”.
Banyak dari penugasan semacam itu muncul dari sumber-sumber nonbeat. Kadang-kadang reporter beat memberitahu redakturnya tentang adanya bahan berita yang belum sempat ia liput sehingga reporter lain dapat mengambilnya. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Jurnalistik Teori dan Praktik, Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005).


Bekti Nugroho - anggota Dewan Pers dari unsur wartawan. Ia bekerja untuk stasiun televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sejak tahun 1994.
Sebagai wartawan senior di RCTI yang memulai karier di bidang jurnalistik sejak tahun 1988, Bekti pernah meliput berbagai peristiwa penting seperti konflik di Sampit serta dialog antara PBB dan Indonesia di London mengenai Timor Timur. Selain itu, Bekti juga menjadi host pada acara Jakarta Pagi Ini di RRI Pro 2 FM.
Lulusan FISIP Universitas Diponegoro Semarang dan Diploma Matematika UKSW Salatiga ini juga pernah menjadi editor majalah mingguan Editor. Berbagai kegiatan pelatihan dan pertemuan di dalam maupun luar negeri pernah ia ikuti. Tahun 2006 ia menjadi salah seorang peserta Asia Media Summit yang diadakan di Malaysia. E-mail: Alamat surel ini dilindungi dari spambots. Anda harus mangaktifkan JavaScript untuk melihatnya. (Tim EPI/AM; Sumber: PDAT)


Belanja - majalah panduan belanja. Berbelanja sudah bukan lagi monopoli ibu-ibu rumah tangga. Para remaja pun sangat antusias untuk mengonsumsi barang komoditas yang dijajakan, terutama di pertokoan, swalayan maupun mal-mal. Apalagi kecenderungan ini dibarengi dengan pertumbuhan pusat perbelanjaan yang cepat di kota-kota di Indonesia.
Panduan berbelanja diperlukan oleh mereka yang gemar belanja. Mengingat produsen sering menawarkan beragam barang yang sangat konsumtif. Kemungkinan ini diyakini karena pembeli sering kebingungan dalam memutuskan apakah perlu dibeli atau tidak. Berbelanja merupakan kebutuhan dari dinamika masyarakat yang berada di kota besar. Di samping itu, para pengelolanya pun memfokuskan kepada calon konsumen agar lebih jitu dan bijaksana dalam memilih produk yang dijajakan.
Terbit dengan tebal 260 halaman berwarna, Belanja tampil sangat “wah” dan meyakinkan. Segmen yang dipilih majalah yang bermarkas di bilangan Kebayoran Baru ini adalah kelas menengah ke atas. Misalnya, majalah ini menawarkan pilihan bagi seorang eksekutif yang kebingungan memilih dasi untuk koleksinya. Demikian juga pilihan bagi ibu-ibu muda yang bingung memilih mainan untuk anaknya.
Belanja menyajikan informasi deskriptif dari pelbagai produk. Mulai dari aksesori hingga peralatan rumah tangga. Sebagai sebuah katalog, Belanja memberikan informasi lengkap tentang berbagai produk, dari pakaian hingga perhiasan dan dari otomotif hingga perkakas rumah. Dalam memberikan informasi mengenai suatu jenis produk, Belanja selalu mencantumkan harga produk tersebut sehingga para pembaca akan memperoleh informasi lebih lengkap. Alamat Redaksi: Jalan Sungai Sambas 111/ No. 21 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.(Tim EPI; Sumber: Wikipedia)


Benih Merdeka - suratkabar harian. Koran  yang terbit pertama tahun 1915 ini adalah  suratkabar yang beredar di Medan-Deli. Slogan yang tertulis di bawah kop suratkabar adalah, “Orgaan Oentoek Menoentoet Kemerdekaan.” Direktur dan administratur adalah Teuku Radja Sabaroedin, dan pemimpin redaksi Mohammad Joenoes.
Meskipun disebut suratkabar harian, Benih Merdeka sementara hanya terbit setiap hari Senin, Jumat dan Minggu. Bahkan, Benih Merdeka yang diterbitkan NV Handel Maatschapij “Setia Bangsa”, Medan Deli tersebut, untuk sementara berhenti terbit.
Berbagai berita dan artikel dapat ditemuikan di dalam Benih Merdeka. Seperti pada edisi 6 April 1918, pada halaman pertama muncul berita tentang masalah pertanian di wilayah Aceh. Selain itu juga artikel pendidikan, yang dimuat dalam rubrik “Bibit Kemadjoean.” Berita-berita lain di halaman dalam, di antaranya berita daerah, olahraga, seni-budaya dan lain-lain, termasuk iklan.
Benih Merdeka berkantor di Wilhelmina Straat No. 44, Medan. Harga langganannya Rp 2,50 per tiga bulan. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Benih Timoer - suratkabar harian, terbit di Medan tahun 1927. Slogan suratkabar berbahasa Indonesia tersebut adalah  “Soerat Kabar Harian Oemoem Boeat Indonesia”.
Salah satu artikel utama di halaman satu Benih Timoer edisi 12 Februari 1927 khusus dipersembahkan untuk Gubernur Jenderal MC ACD de Graeff. Suratkabar tersebut hanya berumur sekitar satu tahun saja. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Berani - koran harian khusus untuk anak-anak. Terbit pertama pada pertengahan tahun 2007, Berani meramaikan media anak di Indonesia dan tercatat sebagai koran anak pertama di Indonesia.
Menurut sang pencetus, Henny Rahayu Witdarmono, Berani -singkatan dari “Berita Anak Indonesia”, lahir lebih karena keprihatinannya terhadap minat baca anak Indonesia yang menurut Programme for International Student Assessment 2003, dari 40 negara yang diteliti, kemampuan membaca anak-anak Indonesia usia 9-14 tahun berada pada urutan terakhir. “Artinya, daya baca kita sangat rendah,” ungkap Henny.
Berdasarkan pemikirannya itulah lulusan American Banking Institute New York yang lama berkecimpung di dunia media ini, bersama suaminya, Witdarmono, sepakat mendirikan PT Anugerah Mitra Sharma Grha dan menggulirkan Berani sebagai alternatif bacaan anak-anak.
Diakui Henny, konsep koran anak sejatinya telah ada 8 tahun lalu saat ia bermukim di Amerika Serikat. Minat baca yang sangat tinggi di AS dan Eropa menggelitiknya untuk terjun ke bisnis media. Pilihan jatuh ke koran karena dalam pandangannya, koran yang terbit setiap hari bisa merangsang minat anak untuk membaca. Terlebih, belum ada yang menggarap koran anak. Di dunia tercatat hanya ada tiga negara yang memiliki harian khusus anak, yakni Jepang, Prancis, dan Indonesia.
Laiknya harian, Berani mengemas berbagai tema yang berbeda setiap hari. Rubrikasinya meliputi internasional, nasional, berita utama, resensi buku, olah raga, ilmu pengetahuan dan teknologi, juga mata pelajaran yang disesuaikan dengan usia segmen yang dibidik, yaitu anak-anak sekolah dasar (SD). Tema pelajaran disajikan bergiliran setiap hari dengan bahasa sederhana yang bisa dicerna anak-anak usia 8-13 tahun.
Redaksi Berani dikelola 18 orang, sedangkan total karyawan berjumlah 40 orang. “Kami menyajikan berita yang layak dibaca anak-anak. Kami tidak menyajikan berita-berita yang berbau politik dan kekerasan,” ungkap H. Witdarmono, Pemimpin Redaksi Berani. Dengan ukuran koran yang hanya 27 cm x 21 cm, menurut dia, Berani yang terbit 16 halaman dari Senin sampai Jumat, memudahkan anak-anak membaca.
Untuk distribusinya, Henny memilih memfokuskan pada penjualan dengan cara berlangganan. Sampai saat ini belum terpikirkan olehnya mendistribusikannya di lapak-lapak. “Daya tariknya tidak besar, jadi akan sulit bagi kios-kios untuk menjual,” ungkapnya memberi alasan. Saat ini, Berani memiliki 200 distributor atau agen yang tersebar di berbagai kota.
Dalam pandangan Dicky E.A., konsep berlangganan yang diusung Berani sudah tepat. “Lebih efisien karena tidak ada barang yang dikembalikan,” kata Dicky dari Ditamas Agency yang menyalurkan Berani untuk wilayah Pancoran, Pasar Minggu, Warung Buncit, Kalibata, dan sekitarnya. Saat ini ia berhasil menggaet 20 pelanggan. Menurut dia, angka tersebut sangat baik. “Untuk media baru termasuk lumayan,” ujarnya. Agen Friendship bisa merangkul 100 pelanggan. “Bahasa sederhana ala anak SD yang ditonjolkan Berani merupakan daya tariknya,” ungkap Laris Naiboho, pemilik Friendship yang juga Ketua Umum Yayasan Loper Indonesia.
Dengan mematok harga Rp 25.000,- per bulan untuk berlangganan atau Rp 2.000,- untuk eceran, saat ini tercatat beberapa sekolah swasta menjadi pelanggan Berani. Departemen Pendidikan Nasional pun berlangganan, yang kemudian menyebarkannya ke sekolah-sekolah dasar di tingkat kecamatan, kota, dan provinsi. Oplahnya per hari, dikatakan Henny, mencapai 50.000 eksemplar. Sampai saat ini ada 300 sekolah dasar yang menjalin kerja sama dengan Berani.
Untuk memperluas jangkauan pasar, sejak bulan Februari 2007 pihaknya berekspansi ke Toko Buku Gramedia. Pelanggan terbesar saat ini ada di Jakarta, diikuti Surabaya, Bandung, Malang, dan kota-kota lain. Perbandingan antara pelanggan dan pengecer adalah 80 berbanding 20.Kalangan korporasi pun menjadi target perluasan pemasaran Berani. Dijelaskan Henny, saat ini Departemen Luar Negeri menggunakan berita Berani untuk mengedukasi masyarakat dengan menampilkannya di website Deplu, http://www.deplujunior. org/koran_berani.html.
Mulai bulan Maret 2007, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan PT Astra Agro Lestari yang berlangganan Berani untuk diberikan gratis kepada anak-anak petani di perkebunan mereka. Kerja sama serupa dilakukan dengan Pemda Riau yang mencanangkan Riau Membaca. “Akan ada ratusan SD yang diajak berlangganan Berani. Setiap sekolah berlangganan sekitar 40 eksemplar,” ungkap Henny yang enggan membeberkan modal awal yang sudah dia keluarkan. Ia hanya mengatakan bahwa hasil penjualan tahun ini harus bisa menutupi modal awal. (Tim EPI; Sumber: Rias Andriati dan Henni T. Soelaeman/SWA)


Berdjoeang - suratkabar harian. Terbit pertama kali tahun 1946 di Kota Malang (Jawa Timur). Sesuai dengan namanya, suratkabar berformat broadsheet ini banyak memuat berita-berita dan artikel tentang perjuangan pascaproklamasi kemerdekaan RI.
Pada salah satu edisinya Berdjoeang memuat berita tentang perundingan antara pihak Belanda yang diwakili van Mook dan delegasi RI, dengan judul “Pendapat Belanda tentang Pemindahan Kedudukan Presiden dan Wakil Presiden.”
Berita luar negeri, antara lain tentang pengakuan pemerintah Tiongkok atas kedaulatan Monggolia. Sedangkan berita daerah dari Semarang, mengabarkan tentara Inggris mengancam penduduk desa di sebelah selatan Kota Semarang. Di halaman pertama suratkabar tersebut juga terdapat artikel tentang, “Kedudukan Indonesia tetap kuat dalam diplomasi kemerdekaan.”
Suratkabar Berdjoeang termasuk yang tidak berumur panjang, dan hanya bertahan sekira setahun. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Berita Ekonomi - koran mingguan umum. Diterbitkan CV Berieko Press di Kota Solo pada tahun 1967. Koran 4 halaman dengan slogan “Pembawa Suara Pedagang dan Pengusaha Rakyat Semesta” tersebut dikenal sebagai koran berani. Berita-berita dan artikelnya sering menyerempet bahaya sehingga antara pengelola dan sumber berita sering terjadi gesekan.
Kolom Sedep Senep yang merupakan rubrik Pojok Mingguan Berita Ekonomi, biasanya berisi sentilan-sentilan panas yang bisa memerahkan telinga pembaca. Salah satu konflik dengan sumber berita terjadi tahun 1969, ketika Berita Ekonomi menulis tentang dugaan penyimpangan di SMA Negeri 1 Solo. Kepala SMA Negeri 1 Solo, Prawoto, membantah pemberitaan yang dianggap tidak berdasarkan fakta tersebut dan menggugat Berita Ekonomi.
Konflik tersebut berakhir melalui perdamaian dengan mediator Kepala Jawatan Penerangan Kota Solo. Berdasarkan surat pernyataan tersebut, pihak SMA Negeri 1 menganggap masalah pemberitaan di Berita Ekonomi tidak pernah ada dan pihak Berita Ekonomi meminta maaf atas pemberitaan tersebut. 
Mingguan Berita Ekonomi yang beralamat di Kampung Ngebrusan No. 7, Solo, terbit berdasarkan Surat Izin Terbit (SIT) No. 0630/Per.SK & Dir.PDLN/SIT/68. Pengelolanya terdiri dari Erlangga (Pemimpin Umum), Bambang Achmad Soerowijono (Penanggung Jawab), dan Armada (Pemimpin Redaksi). Ketiganya berasal dari satu keluarga.
Berita Ekonomi yang hanya bertahan hidup beberapa tahun dengan oplah tertinggi 10.000 eksemplar, dijual eceran seharga Rp 15 per eksemplar.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Berita Priangan - suratkabar mingguan.  Terbit pertama kali di Sukabumi tahun 1937. Harga langganan setiap bulan Rp 0,30. Pemimpin redaksinya A. Hamid dan direktur B. Tjokrosudirdjo.
Koran berbahasa Indonesia yang beredar setiap Senin dan terbit 6 halaman ini memiliki tujuan penerbitan untuk memberitakan berbagai kejadian di Keresidenan Bogor yang meliputi wilayah Bogor, Sukabumi dan Cianjur.
Berita dan artikelnya meliputi berbagai agenda, berita tentang rumah tangga dan lain-lain. Selain berita-berita lokal Berita Priangan  juga menyajikan berita-berita luar negeri, yang terkelompok dalam rubrik-rubrik ekonomi, halaman isteri, anak-anak, cerita bersambung Fenilleton dan lain-lain.
Dalam edisi perdana, Senin 27 September 1937, pemimpin redaksi Berita Priangan menulis “… Oleh karena itoe, maka hari ini lahirlah Berita Priangan atau singkatnja “BPn”, oentoek meroendingkan keadaan-keadaan di ressort Priangan. Dengan lahirnja Berita Priangan (BPn) ini, kita maksoedkan agar soepaja keadaan dalam ressort Bogor, Soekaboemi, Tjiandjoer dan sekitarnja lantas bisa menjadi satoe agenda oentoek dibitjarakan dalam roemah tangga sendiri.”
Pada awal penerbitannya, Berita Priangan dicetak dalam format tabloid dengan kertas buram. Dengan alasan itu, di pojok kanan bawah boks redaksi terdapat kolom berisi slogan “Boekan KERTASNJA, tapi ISINJA. Begitoelah adanja BERITA PRIANGAN.” (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
 

Berita Soerabaja - suratkabar dua mingguan. Beredar tahun 1935 hingga 1936 di Surabaya. Koran ini diterbitkan oleh Cooperative Arbeed & Periodeeken Centrale.
Koran berbahasa Belanda ini terbit setiap tanggal 15 dan 30. Berita Soerabaja secara rutin memuat berbagai berita sosial, politik, ekonomi, agama dan lain-lain. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
 

Berita Yudha - suratkabar harian. Koran ini pertama kali terbit pada tanggal 9 Februari 1965 dengan bermodal surat izin terbit dari Departemen Penerangan No. 99/SK/UPPG/SIT/65 tertanggal 8 Februari 1965. Kehadirannya secara tegas didukung Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani.
Pada awal peredarannya koran ini ditujukan untuk mengimbangi pers-pers komunis. Dalam almanak pers Antara 1976, halaman 314 disebutkan ada dua fungsi utama dari Berita Yudha: (1) Bertindak sebagai alat penghubung antara TNI/AD khususnja dan ABRI pada umumnja, (2) Bertindak sebagai alat untuk mempertinggi ketahanan perdjoangan nasional Indonesia. Kedua fungsi tersebut terlihat jelas dalam jargon mereka: Untuk Mempertinggi Ketahanan Revolusi Indonesia.
Dalam susunan keredaksian, Ibnusubroto ditunjuk menjadi pemimpin umum/redaksi/penanggung jawab. Berita Yudha terbit di bawah payung hukum Jajasan Yudha Press, yang dipimpin oleh Sukarno Hadiwibowo selaku direktur.
Dalam penerbitannya, Berita Yudha tersaji dalam beberapa segmen yakni Berita Yudha Harian, Berita Yudha Minggu, Berita Yudha Sport & Film, serta majalah Moderna, berformat broadsheet 8 halaman.
Sebelum tragedi 1965 meletus, Berita Yudha, seperti kebanyakan koran yang hidup pada tahun 1960 hingga 1965, menjadi terompet perang Bung Karno untuk mengganyang kekuatan nekolim yang bercokol di Malaysia.
Liputan tentang persiapan perang melawan nekolim adalah lagu wajib bagi pers zaman itu. Termasuk ketika pada 8 Mei 1965, Jenderal A.H. Nasution, selaku Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, melawat ke Moskow untuk melakukan pembelian senjata.
Meski mendukung pengganyangan Malaysia pada tahun 1965, koran yang dicetak di percetakan PT Kinta ini mempunyai kiat sendiri, bagaimana “memuji” Presiden Soekarno. Pada edisi 12 Mei 1965, Berita Yudha menulis, “Bagaimana mungkin Presiden Soekarno duduk berdjedjer dengan itu si playboy Dul Badut? Bagaimana bisa Abdul Rahman berdjedjer dengan Presiden/Pemimpin Besar Revolusi kita Bung Karno? Abdul Rahman hidupnja dikenal sebagai playboy, sedang Presiden kita telah mengalami pahit getirnja perdjuangan untuk nusa bangsa.”
Kalimat di atas dikutip Berita Yudha dari pidato Brigadir Jenderal Sutjipto, S.H., Ketua G-5 KOTI dalam ceramahnya di hadapan Pimpinan Pengurus Tinggi/Akademi/Institut di Gubernemen Makassar pada tanggal 6 Mei 1965.
Sebagai koran milik tentara, Berita Yudha aktif mengganyang PKI terutama setelah terjadinya peristiwa subuh berdarah 1 Oktober. Koran ini juga termasuk satu di antara dua koran yang izin terbitnya tidak dicabut pada 1 Oktober 1965 oleh Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah, Panglima Daerah Militer Jakarta Raya. Sebagaimana diketahui, waktu itu keluar Surat Keputusan No. 01/Drt/10/1965 yang melarang semua koran untuk terbit, kecuali Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha.
Pada tahun 1965-1966 berita “pengganyangan” menjadi berita sehari-hari koran ini. “Bubarkan PKI/ormas-ormasnja!”, “Kikis habis oknum-oknum PKI!”, “Ekstrim kiri menjembelih Bangsa!, Ekstrim kanan mendjual bangsa!” dan, “Wanita Sedang Hamil Tiga Bulan (anggota Gerwani) Dilatih Bunuh Orang!” Kalimat berita provokasi dan mendorong massa bertindak seperti itu biasa dijumpai di Berita Yudha edisi harian sepanjang Oktober 1965.
Berita yang diturunkan di dalam Berita Yudha edisi Minggu biasanya lebih ringan, misalnya seperti yang bisa dibaca pada edisi 7 November 1965, “Pak Harto, anak rakjat! Hobynja mantjing dan berburu. Sifatnja lugu. Ketua RT jang aktif.”
Demikian yang tertulis di koran berharga langganan Rp 600,- sebulan ini. Ongkos sebesar itu sudah termasuk ongkos kirim dan sumbangan untuk pembangunan Monumen Nasional. Biaya iklan Rp 25 per mm/kolom dan harus dibayar di muka.
Sebagai koran yang ditopang para jenderal Angkatan Darat, Berita Yudha menjadi catatan tersendiri dalam sejarah periklanan koran Indonesia. Pada tanggal 5 Oktober 1965 koran ini dipenuhi dengan ucapan belasungkawa dari pelbagai perusahaan maupun pribadi atas gugurnya enam jenderal dan satu perwira AD. Salah satunya Jenderal Achmad Yani yang saat itu menjabat sebagai Men/Pangad. Maka wajar jika hampir seluruh halaman diisi iklan belasungkawa.
Selang beberapa tahun, tepatnya tanggal 16 Agustus 1971, Berita Yudha berubah menjadi Berita Buana. Sementara nama Berita Yudha tetap digunakan untuk harian yang diterbitkan Yayasan Parikesit (Kurniawan Junaedhie, 1991:26). Generasi penerus Berita Yudha 1965 ini tumbuh pada saat perekonomian Indonesia sedang membaik. (Tim EPI; Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indexpress/Jurnas)
    

Bernas - suratkabar harian. Meskipun nama “Bernas” baru dikenal setelah 10 November 1991, namun keberadaan suratkabar ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan bertalian dengan kehadiran dua suratkabar tua, Harian Nasional dan Suluh Indonesia. Keberadaan ketiga penerbitan ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan aktivis pergerakan dan jurnalis kawakan, Soemanang, salah seorang pendiri kantor berita Antara yang pernah terlibat di Pemandangan dan Asia Raja, yang juga pernah menjadi juru penerangan Putera dan aktivis PNI.
Harian Nasional beredar pertama kali pada tanggal l5 November 1946, atas prakarsa Soemanang yang dibantu oleh Mashoed Hadiokoesoemo, Bob Maemun, Drs. Marbangoen, Mochammad Soepadi, Darsyaf Rahman, dan R.M. Soetio, yang sekaligus menjadi pemimpin perusahaan.
Jumlah halamannya terbatas dan tidak menentu. Kadang dua dan kadang empat halaman. Bahkan, ketika persediaan kertas habis, Harian Nasional rela terbit dengan kertas merang.
Harian Nasional sesak dengan senarai tulisan tokoh-tokoh pergerakan nasional dan budayawan seperti Ki Hajar Dewantara, Soebagio Sastrowardojo, dan Boedi Darma. Tulisan Ki Hajar yang pernah dimuat Harian Nasional (1949-1951) terhimpun rapi dalam buku berjudul Pendidikan dan Kebudayaan yang diterbitkan Majelis Luhur Taman Siswa.
Pada tahun 1965, pemerintah menerbitkan Keputusan Menpen No. 29/SK/M/65 tertanggal 26 Maret 1965, yang disempurnakan dengan Surat Keputusan No. 112/Sk/M/65. Keputusan itu mewajibkan setiap penerbit berafiliasi dengan partai politik atau ormas anggota Front Nasional atau Pancatunggal. Harian Nasional memilih bergabung dengan PNI dan berganti nama menjadi Suluh Indonesia (Sulindo) edisi Yogyakarta.
Ketika Suluh Indonesia edisi Jakarta berganti nama menjadi Suluh Marhaen, pada 1 Juni 1965 Suluh Indonesia edisi Yogyakarta juga berganti nama menjadi Suluh Marhen edisi Yogyakarta.
Saat pecah Tragedi Nasional tahun 1965, Suluh Marhen edisi Yogyakarta diperintahkan memuat pengumuman Dewan Revolusi. Namun koran ini memilih tidak terbit. Saat kebijakan pemerintah tentang kewajiban afiliasi dicabut, koran ini muncul lagi dengan nama Harian Umum Berita Nasional.
Pada tanggal 13 Agustus 1990 atau 35 tahun kemudian, Berita Nasional bekerja sama dengan Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Dengan manajemen baru, Berita Nasional mengalami pembaruan dan mencapai banyak kemajuan, sekaligus menandai perubahan nama koran ini menjadi Bernas.
Sejak tanggal 10 November 1991 koran ini resmi berganti nama menjadi Bernas, yang berarti padat dan berisi (mentes) dan mengusung slogan Membangun Berdasar Pancasila. Pergantian ini semata-mata dilakukan untuk menyongsong masa depan dan agar Bernas sebagai koran daerah bersifat lebih membumi. Manajemen baru Bernas melengkapi sajian baru dengan menambah halaman dari 8 menjadi 12 halaman.
Belum puas dengan pelayanannya kepada publik, pada tanggal 29 Agustus 2004 koran ini berganti manajemen, dari PT Bernas ke PT Bernas Jogja. Selain itu, juga mengubah nama menjadi Bernas Jogja dengan tujuan agar lebih membumi bagi masyarakat Yogyakarta. Kemasan Bernas yang semula berkolom 9, mulai edisi 29 Agustus 2004 tampil dengan format 7 kolom. Tampilannya dibikin lebih sederhana dan ngejreng. Bila semula hanya ada 2 halaman berwarna bertambah jadi 4.
Bernas tampil dengan 2 seksi, yaitu seksi pertama (koran utama) yang memuat berita umum, dan seksi kedua yang seratus persen menyajikan berita lokal Yogyakarta dan sekitarnya.
Halaman utama Bernas berfungsi sebagai etalase yang memuat berita-berita utama baik bersifat lokal nasional maupun internasional. Halaman dua adalah ruang untuk pendidikan, yang merupakan isi pokok media ini.
Bernas memang membidik sektor pendidikan dari usia dini, menengah hingga perguruan tinggi, dengan menerbitkan Bernas Remaja sebagai suplemen. Mengusung slogan Menyuarakan Aspirasi Pelajar-Jogja sebanyak 1 halaman, Bernas Remaja memelopori koran masuk sekolah. Mengakomodasi berita dan karya para pelajar SMP dan SMA, Bernas Remaja menjadi koran dinding bagi siswa SMP dan SMA di Yogya dan sekitarnya.
Suplemen lain yang merupakan inovasi rubrikasi dan disajikan seminggu sekali adalah Komunitas Jogja dan Otobiz. Otobiz hadir untuk mengakomodasi pernak-pernik kegiatan otomotif di Yogyakarta. Komunitas Jogja, dengan slogan Perekat Pembaharuan dan Persatuan Masyarakat Jogja, terbit 4 halaman dan berisi tulisan-tulisan yang membahas sejarah tanah leluhur Tionghoa, budi pekerti, ajaran kehidupan, filsafat, serta foto-foto untuk mengakomodasi dan memberikan informasi seputar komunitas Tionghoa.
Tiras Bernas mencapai 40.370 eksemplar, dengan peredaran 43,9% di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman 28,1%, Kabupaten Bantul 13,4%, Kabupaten Gunungkidul 14,2%, Kabupaten Kulonprogo 3,7%, Klaten dan Solo 2,8%, serta Magelang dan Purworejo 3,9%.
Di bawah kepemimpinan Bimo Sukarno (Direktur Utama/Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi), Bernas berupaya memenuhi kebutuhan berita pembacanya. Pada tahun 2006, Bernas melebarkan sayapnya dengan meluncurkan Bernas Magelang. Dengan slogan Penyambung Aspirasi Warga Magelang, Bernas Magelang terbit 8 halaman dan menjadi wadah berita bagi masyarakat Magelang.
Nama Bernas sempat menjadi bahan pembicaraan hangat tatkala salah seorang wartawannya, Udin Syafrudin ditemukan tewas akibat pengeroyokan. Diduga, kasus kekerasan yang menimpa Udin karena berita yang ditulisnya. Untuk mengenang Udin, Bernas membuka rubrik “Pojok Udin”, yang berisi kritik dan sindiran bernuansa pelesetan yang dalam istilah Jawa disebut guyon parikeno.
Rubrik ini tampil dengan dua bahasa. Bahasa Indonesia digunakan untuk mengungkapkan pernyataan dan Bahasa Jawa untuk tanggapannya. Misalnya, Perbaikan Gedung Dewan Bermasalah. Sing nganggoni ya sering nggawe masalah! (Yang pakai ya sering buat masalah!) (Bernas, 31 Mei 2007). (Tim EPI; Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indonesia Buku/Jurnas/Tim EPI)
    

Berrety, DW (Meninggal 22 Desember 1934) - Seorang Indo yang lahir dari ibu Jawa dan ayah berkebangsaan Italia yang bekerja sebagai guru. Lahir dan besar di Yogyakarta, tetapi kemudian pindah ke Jakarta, karena bekerja di kantor pos di kota tersebut.
Karirnya di bidang pers dimulai sebagai korektor dan reporter di Bataviaasch Nieuwsblad, tetapi kemudian pindah ke Java Bode sebagai panyalin surat-surat kawat. Berrety tergolong orang yang cukup tekun. Sambil bekerja, ia belajar bahasa Jerman, Inggris dan Prancis.
Bulan April 1917 ia mendirikan kantor berita bernama Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf Agentschap). Meski hanya dibantu seorang juru tik, sebagai direktur Berrety berhasil membujuk Direksi KPM (Koninklijk Paketraat Maatschappij), sebuah maskapai pelayaran milik Belanda, untuk mengawatkan berita-berita dalam suratkabar yang terbit di Semenanjung Malaka sebelum mereka pulang ke Jakarta. Aneta menjadi perintis dalam membangun jaringan pengiriman kabar lewat kawat di Hindia Belanda.
Berrety kemudian melakukan perjalanan ke beberapa negara Eropa. Di Inggris ia memperoleh kepercayaan dari kantor berita Reuters dan ditunjuk sebagai perwakilannya di Batavia. Di Nederland sendiri, selain bertemu dengan pimpinan beberapa perusahaan, Berrety sempat diterima oleh Ratu.
Pulang ke Batavia, Berrety berhasil membawa sejumlah perjanjian. Mereka setuju menjadi langganan Aneta. Usahanya yang sama dikembangkan untuk bekerja sama dengan kantor-kantor berita di beberapa negara, antara lain Wolff di Nederland, Trans-Ocean di Berlin, Havas di Paris, Stefani di Roma, dan Domei di Tokyo. Aneta menjadi pemegang monopoli berita untuk semua suratkabar di Hindia Belanda.
Pada tanggal 4 Desember 1920 Berrety meresmikan kantor Aneta di depan Kantor Pos Besar Pasar Baru (kemudian menjadi Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara). Dalam waktu singkat ia menjadi tokoh yang sangat disegani. Dari berbagai lembaga Berrety memperoleh penghargaan.
Pada tanggal 30 Maret 1928, Berrety berinisiatif mengumpulkan pemimpin redaksi dari berbagai suratkabar di Hindia Belanda untuk berkumpul di kantornya. Dari sana mereka melakukan pembicaraan melalui radio dengan sejumlah tokoh pers di Den Haag. Inilah percakapan melalui radio antarbenua pertama yang terjadi di Hindia Belanda.
Berrety menjadi kaya raya sehingga mampu membiayai pembangunan Villa Isola di Bandung yang kemudian menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Berrety meninggal pada tanggal 22 Desember 1934 dalam perjalanan pulang dari Nederland karena pesawat Uiver yang ditumpanginya jatuh di daratan Asia Kecil.(Tim EPI/AM)


Besakih Rasisonia - stasiun radio. Akrab di udara dengan sapaan SWIB FM. Stasiun radio ini berlokasi di ujung timur pulau Bali, tepatnya di Jalan Untung Surapati, Gang Sedap Malam No. 08 Amlapura, Bali. Keberadaannya telah dikenal oleh masyarakat Karangasem dan sekitarnya, sejak stasiun radio tersebut didirikan tanggal 11 September 1981.
Stasiun ini pada mulanya berstatus stasiun radio amatir yang dikendalikan serta dioperasikan hanya untuk memenuhi keinginan para penghobby siaran dan hiburan masyarakat di wilayah tersebut dengan menikmati setiap siarannya pada gelombang AM 702 Khz.
Stasiun radio di Bali Timur ini pernah menjadi ikon hiburan media elektronik di Bali Timur. Siaran lagu-lagunya, mulai dari dangdut, pop Indonesia, lagu mancanegara serta nuansa kesenian tradisional senantiasa menghiasi ruang para pendengarnya. Kedudukannya sebagai stasiun entertainment dilakoni media massa elektronik ini hingga tahun 1996.
Semakin berkembangnya industri penyiaran di tanah air memaksa para pemilik saham perusahaan ini melakukan reinvestasi melalui langkah ekstrim yakni dengan melakukan penjualan saham secara keseluruhan kepada manajemen Bali Post Group pada tahun 1996.
Akuisisi saham tersebut ternyata merupakan langkah awal yang strategis bagi kelangsungan stasiun ini. Banyak perombakan yang dilakukan, mulai dari sistem manajemen, programming, sumber daya manusia dan alih teknologi menuju stasiun modern. Restrukturisasi juga dilakukan di segala lini.
Di bawah bimbingan manajemen Grup Bali Post, banyak hal baru seperti nilai-nilai idealisme dan dawai perjuangan pers didengungkan untuk menuju masyarakat madani.
Lewat tangan dingin Bapak Ketut Nadha (Almarhum), tokoh perintis pers Bali yang sekaligus juga adalah leluhur manajemen Kelompok Media Bali Post, Radio SWIB 106,8 FM, mengepakkan sayapnya secara perlahan, menggapai langit kebebasan berekspresi  di tengah persaingan media massa lainnya.
Tak ubahnya anak burung di angkasa, banyak nilai perjuangan pers ditanamkan tanpa menghiraukan keuntungan materi. “Yang penting berjuang dulu. Kerja belum selesai, biar Tuhan yang menilai kerja kita,” kata ABG Satria Naradha. Dalam pandangannya apa yang menjadi amanat sang perintis merupakan komitmen yang tak dapat ditawar dalam jajaran perjuangan Bali Post Grup. (Tim EPI; Sumber: KMBP)


Besoekisch Neuwsblad - koran mingguan. Beredar di Jember pada 1930 hingga 1932, dan diterbitkan oleh Besoekisch Handeldruk. Koran mingguan berbahasa Belanda ini terbit setiap Sabtu, 8 halaman.
Isi halaman pertama berupa berita-berita nasional tentang Belanda. Berita lain bersifat umum. Selebihnya adalah berita-berita local Jember, terutama yang menyangkut Hindia Belanda.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bhatara - koran mingguan independen.  suratkabar ini terbit perdana bertepatan dengan Hari Bhayangkara, tanggal 1 Juli 1969,
dan diterbitkan oleh CV Bina Bhatara Sala, sebuah perusahaan yang secara hukum berada di bawah naungan Kepolisian Wilayah (Polwil) Surakarta.
Menggunakan slogan “Menuju Pengamanan Masyarakat Tata Tenteram Kerta Raharja”, Bhatara terbit berdasarkan Surat Izin Terbit No. 0786/C/V-5/X/69. pada awal penerbitannya Bhatara ditangani Benny Notosubioso (Pemimpin Umum), Soehardi (Pemimpin Usaha), Soeleman Wiryo Wiguna B.A., ( Penanggung Jawab), Soegito, B.Sc. (Pemimpin Redaksi), dan Winarto (Wakil Pemimpin Redaksi). Alamat penerbitan di Jalan Dr. Muwardi No. 45, Solo, yang juga merupakan kompleks markas Polwil Surakarta.
Karena mengemban misi kepolisian, rubrikasi Bhatara juga lebih banyak berhubungan dengan masalah kepolisian dan hukum. Selain itu, terdapat rubrik kewanitaan, berita-berita daerah, gelanggang seni dan budaya, serta pojok Garda Bhatara yang menyuarakan masalah keamanan dan ketertiban masyarakat.
Koran mingguan dengan tiras antara 5.000 hingga 10.000 eksemplar itu terbit 8 halaman, dicetak di percetakan Radya Indira Yogyakarta. Seperti koran-koran lain yang pernah terbit di Kota Solo, Mingguan Independent Bhatara juga mengalami nasib tidak berumur panjang. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bidik Banua - Tabloid Bidik Banua terbit di Banjarmasin, Kalimantan Selatan sejak tanggal 21 Januari 1999. Sejak awal para pengelola tabloid ini memfokuskan diri pada berita-berita daerah setempat, sehingga dijadikan rujukan baik bagi pembaca lokal, nasional maupun mancanegara yang sengaja ingin mencari informasi tentang Kalsel.
Menurut Pemimpin Umum tabloid ini, HA Soegian Noor, tenaga wartawan diutamakan berasal dari kalangan mahasiswa agar lebih murni dibanding yang sudah banyak makan asam garamnya dunia pers.
Tabloid ini berusaha menjaga kredibilitas dan keakuratan pemberitaannya sehingga tidak mengecewakan masyarakat pembacanya. Karena itu Bidik Banua berusaha keras untuk memiliki visi dan misi yang jelas dan ditunjang kebijakan untuk memajukan daerah. Dalam usahanya melakukan kontrol sosial baik terhadap pemerintah maupun masyarakat, tabloid ini tidak ingin melupakan fungsi pers dalam pembangunan yakni melakukan "interaksi positif" demi menunjang keberhasilan memajukan bangsa ini.
Soegian Noor ingin media yang dikelolanya merupakan pers yang menjembatani antara pemerintah dengan masyarakat dan sebaliknya, bukan pers yang membentuk opini negatif di antara dua sisi yang dijembataninya. Kalau dalam era kebebasan ini pers tidak hati-hati, pers bisa terjerumus dan mendorong kehancuran bangsa sendiri. (Tim EPI/Wid; Sumber: Almanak Pers Kalimantan Selatan Tahun 1999, Penerbit Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum Banjarmasin).


Bintang Djohar - koran mingguan. Diterbitkan oleh T. Pen di Betawi, pada tahun 1873. Koran tersebut merupakan kelanjutan dari Koran Bianglala. Terbit setiap Sabtu 8 halaman berukuran folio. Pada tanggal 11 Januari 1873 Bianglala berubah menjadi Bintang Djohar. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bintang Indonesia, majalah mingguan. Beredar tahun 1948, dan diterbitkan oleh Perseroan Comanditer Publik yang sebelumnya menerbitkan Mingguan Persatuan. Setelah Belanda menyerahkan kembali perseroan tersebut seusai Perjanjian Renville, di Surabaya, perseroan tersebut mengumpulkan kembali sisa-sisa personel Mingguan Persatuan untuk menerbitkan Bintang Indonesia.
Dengan tampilan sederhana untuk ukuran zamannya, Bintang Indonesia menyajikan beragam berita seputar kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan sastra. Majalah mingguan ini dikelola oleh Danoe Soediro, dibantu oleh B. Sindhu, D. Suragi, Bey Arifin, dan Saruhum., dan disebarkan oleh 37 agen cabang, antara lain di Pasuruan, Krajan, Kediri, Malang, Surabaya, dan Banjarmasin.
Dalam pengantar edisi perdana redaksi mengungkapkan keinginannya untuk menjadi penawar, penghibur, dan penyegar di tengah pertikaian politik-militer kala itu. Bintang Indonesia ingin memberikan hiburan dari sisi moral dan intelektual, bukan semata-mata hiburan yang tanpa makna. “Bintang Indonesia madjalah jang non partij,” tulis majalah ini. Mingguan ini memang hadir untuk semua lapisan masyarakat.
Dengan cepat Bintang Indonesia membiak lantaran pemberitaan yang memikat dan harga yang terjangkau, yaitu f 7,50 untuk jangka 3 bulan langganan dan f 1,50 untuk eceran. Majalah yang beralamat di Jalan Djimerto Surabaya ini pun telah mendapat tempat dan kepercayaan di hati pembaca. Iklan-iklan pun ramai menghiasi halaman-halamannya. Redaksi menetapkan harga iklan f 2,50 untuk 1 halaman dan f 1,25 untuk setengah halaman. (Tim EPI; Sumber: M. Reni Nuryanti/Indexpress/Jurnas)

    
Bintang Indonesia - koran harian. Terbit pertama pada tahun 1947 sekali seminggu, dan  terbit sebagai koran harian sejak 14 Juli 1963.
Meskipun jargonnya “Mengutamakan Berita-berita Ekonomi/Keuangan dan Pembangunan” serta mengaku sebagai harian independen, Bintang Indonesia juga memuat  laporan-laporan nonekonomi seperti berita-berita olah raga, dunia hiburan, serta sosial dan politik.
Pemerintah membredel koran itu pada usianya yang ke 8 tahun, tepatnya pada 24 Februari 1965. Pembredelan itu dilakukan melalui Keputusan Menteri Penerangan yang menutup paksa sekaligus 21 suratkabar di Jakarta dan Medan, yang dicap mendukung atau bersimpati pada gerakan BPS (Badan Pendukung Soekarnoisme).
Bintang Indonesia diterbitkan dan dicetak kembali oleh PT Bintang Indonesia setelah Orde Lama runtuh, dengan Izin Terbit No. 0406 P/SK/DPHM tanggal 10 Agustus 1968, meski baru mengantongi izin cetak Laksda Sumatera Utara No. Kep. 0013/KAMDA/III/1974 tanggal 3 April 1974.
Setelah pembredelan Dewan Redaksi Bintang Indonesia yang dipimpin oleh H.A. Dahlan. Markasnya terletak di Jalan Sei Kera 37, Telp 21977, Medan. Saat itu  Bintang Indonesia dibanderol dengan harga eceran Rp 20. (Tim EPI; Sumber: Tunggul Tauladan/Indexpress/Jurnas)
    

Bintang Islam - majalah. Media dakwah ini diterbitkan oleh kalangan ulama Masjid Agung Keraton Surakarta sejak tahun 1923. Berbeda dengan majalah-majalah terbitan Solo yang banyak menggunakan bahasa dan huruf Jawa, Bintang Islam memilih menggunakan bahasa Melayu dan tulisan Latin.
Isi majalah ini meliputi pengetahuan agama Islam, berita-berita dalam dan luar negeri yang berhubungan dengan keislaman, artikel tafsir Alquran, ilmu makrifat, dan semacamnya.
Harga langganan majalah bulanan yang terbit 48 halaman tersebut f 6 per eksemplar. Cakupan peredarannya cukup luas, menjangkau beberapa kota di Jawa Timur bagian barat. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bintang Soerabaja - koran harian. Koran ini beredar di Surabaya tahun 1887 hingga 1924, dan diterbitkan oleh Soerabaia Gebr Grimberg. Koran berbahasa Indonesia tersebut setiap hari terbit 6 halaman. Berita-berita dari berbagai daerah termuat di halaman 1 dan 2. Halaman lain kebanyakan berisi iklan dan lain-lain.  (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
Bintang Timoer - suratkabar harian. Terbit pertama di Weltevreden (Jakarta) pada tahun 1925. Direktur dan pemimpin redaksi suratkabar tersebut adalah tokoh pers Parada Harahap. Isi Bintang Timoer disajikan dalam bahasa Indonesia dan dicetak dalam format broadsheet. Kehadiran Bintang Timoer juga didukung seorang redaktur yang bermukim di Eropa yakni tokoh pers nasional, Dr. Abdul Rivai.
Berita-berita yang disajikan di dalamnya antara lain kejadian politik di luar negeri, berita politik nasional, berita-berita daerah dan kota, seperti artikel tentang Kota Surabaya dan sebagainya. Berita-berita ringan, selain berita olahraga juga ada tulisan lain yang dimuat dalam rubrik “Ada-ada saja.”
Suratkabar yang dijual secara berlangganan dengan tarif Rp 2,- per bulan tersebut mampu bertahan terbit sejak sebelum kemerdekaan sampai sekira tahun 1965.  (Tim EPI/TS).


Bintang Timoer - adalah majalah pertama yang terbit di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Ende tahun 1925. Majalah yang namanya menggunakan subjudul Soerat Boelanan Katolik yang Bergambar ini diterbitkan oleh Serikat Sabda Allah (SVD/Societas Verbi Divini). Ukurannya 19 x 26,5 cm, tebal 16 halaman, bergambar dengan kulit khusus. Majalah ini memberitakan pokok-pokok keagamaan, masalah-masalah pertanian, pendidikan, keluarga, dan sebagainya. Juga berita-berita daerah dan internasional.
Alamat redaksinya: RK Missie, Lela-Maumere, di bawah pimpinan P. Fries, SVD, kemudian dilanjutkan oleh PF Cornelissen, SVD. Selama beberapa tahun Bintang Timoer dicetak di Percetakan Kanisius Yogyakarta (mulai 1925). Tetapi sejak tahun 1928 dicetak di Percetakan Arnoldus Ende. Percetakan ini pun milik SVD Ende.
Majalah Bintang Timoer tidak terbit lagi sejak Juni 1937. Faktor-faktor penyebabnya terutama kurangnya minat masyarakat dan sumbangan finansial. Sejak itu sampai dengan Indonesia merdeka nyaris tidak ada penerbitan di NTT. (Tim/Wid. Sumber: Perjalanan Pers di NTT, Agus Sape, dalam Buku 15 Tahun Pos Kupang Suara Nusa Tenggara Timur, Editor Tony Kleden, Maria Matildis Banda, Dion DB Putra, Penerbit PT Timor Media Grafika, 2007).


Bintang Timur - suratkabar harian. Beredar di Jakarta tahun 1937 hingga 1964, dan diterbitkan oleh Bintang Press. Setiap hari terbit 4 halaman dalam format broadsheet. Harga langganan tiap bulan Rp 60,- dan luar kota Rp 65.
Bintang Timur termasuk koran yang berusia panjang karena berita-beritanya sangat diminati pembaca. Setelah tahun 1960-an, ketika muncul peraturan koran harus berada di bawah partai politik, Bintang Timur yang cenderung beraliran komunis, dibreidel pada tahun 1965.  ((Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bintarti, Raden Mas - Ayahnya seorang abdi dalem Kraton Yogya, Raden Mas Mangkudimedjo alias Raden Mas Kartodisdjo, seorang priyayi yang suka mengarang dan menulis buku. Semasa kecil Bintarti belajar sungguh-sungguh untuk terjun di bidang kewartawanan dan harus melalui berbagai macam pekerjaan. Ia juga pernah belajar di Kweekschool Muntilan. Pastor Van Lith, guru di Kweekschool Muntilan adalah kenalan baik ayahnya, melihat kesenangan Bintarti yang gemar membaca koran Mataram dan Midden Java yang terbit di Yogya.
Setelah melalui masa-masa menjadi wartawan Bintarti sempat menjadi redaktur suratkabar Tjahaya Selatan, kemudian pindah ke harian Tjhoen Tjioe yang dipimpin Tjan Kim Bie, dan pindah lagi menjadi wartawan Pewarta Soerabaya.
Pada tahun 1923 bersama Raden Pandji Soeroso menerbitkan suratkabar sendiri yakni Kemadjoean Hindia. Pada tahun 1926 Bintarti ditarik kembali ke Pewarta Soerabaya sampai 1 Februari 1942. Tanggal 1 Agustus 1942 Bintarti ditunjuk sebagai Kepala Redaksi Domei bagian Indonesia di Surabaya, dan pada saat itulah ia berkenalan dengan Adam Malik dan Bung Tomo, yang punya gagasan mendidik calon-calon wartawan.
Awal September 1945, saat revolusi berkecamuk Bung Tomo mendirikan Kantor Berita Indonesia dengan menerbitkan buletin. Kemudian bergabung dengan Antara Pusat Jakarta. Tanggal 26 Maret 1947 Antara Surabaya mengungsi dan Bintarti pun ikut hijrah ke Bojonegoro, lalu ke Yogyakarta.
Pada tahun 1950 Bintarti kembali ke Surabaya menjadi redaktur harian berbahasa jawa "Express" dan terakhir pindah ke harian Surabaya Post pimpinan Abdul Azis. Meski sudah pensiun Romo Bintarti masih sering mengirim tulisan terutama tentang cerita-cerita wayang. (Tim EPI/AM; Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Bisnis Indonesia - suratkabar harian. Diterbitkan pertama kali di Jakarta pada 14 Desember 1985, oleh PT Jurnalindo Aksara Grafika (PT JAG), dengan segmentasi pemberitaan bisnis dan ekonomi. PT JAG merupakan kongsi bisnis empat pengusaha yakni Sukamdani Sahid Gitosardjono (Grup Sahid), Ciputra (Grup Ciputra), Anthony Salim (Grup Salim), dan Eric Samola. Awalnya koran ini berkantor di bangunan bekas bengkel reparasi mesin jahit Singer di Jalan Kramat V/8, Jakarta Pusat.
Koran yang fokus pada berita bisnis, ekonomi, dan umum ini meroket berkat booming yang melanda lantai Bursa Efek Jakarta pada tahun 1987, dan akibat maraknya industri perbankan sebagai hasil penerapan kebijakan Paket Oktober (Pakto) 1988.
Pertumbuhan yang baik tersebut membuat koran ini, pada akhir 1990, mampu membangun gedung kantor sendiri yakni Wisma Bisnis Indonesia (WBI) di Jalan Letjen S. Parman Kav. 12A Slipi, Jakarta Barat. Namun kemacetan luar biasa di lokasi tersebut dan perhitungan bisnis di masa depan membuat koran ini kembali pindah ke wilayah Segitiga Emas Sudirman.
Sejak 1 Januari 2005 kegiatan operasional Bisnis Indonesia berpusat di Wisma Bisnis Indonesia (WBI) lantai 5-8, Jalan KH Mas Mansyur No. 12A, Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Saat ini, Bisnis Indonesia memiliki kantor perwakilan di sejumlah kota di Indonesia yakni di Medan, Pekanbaru, Batam, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, dan Makassar.
Sebagai lembaga pemberitaan, Bisnis Indonesia juga menjadi pemasok tetap beberapa lembaga pemberitaan internasional seperti [[NewsNet Asia]] (yang menerjemahkan berita Bisnis Indonesia ke dalam bahasa Jepang), Factiva (usaha patungan Dow Jones dan Reuters), ISI Emerging Markets (dari kelompok usaha Euromoney Institutional Investor Group Co.), Xinhua (kantor berita China), dan Bloomberg (kantor berita berbasis di New York, AS).
Pada 1992, koran ini melahirkan majalah berita ekonomi (MBE) berbahasa Inggris, Indonesia Business Weekly (IBW) yang kemudian ditutup.
Pada 19 September 1997, di bawah payung PT Aksara Solopos, lahir Harian Umum Solopos yang hanya dalam tempo satu tahun bisa mencapai titik impas. Pada ulang tahunnya yang kedelapan, Solopos yang berkantor di Griya Solopos, Jalan Adisucipto 190 Solo itu sudah menjadi kelompok usaha tersendiri dengan membawahi unit usaha percetakan koran PT Solo Grafika Utama, Radio Solopos FM, dan tabloid olah raga Arena.
Tiga tahun berikutnya (17 April 2000), melalui PT Aksara Warta Mandarin lahir harian berbahasa Mandarin Indonesia Shang Bao. Namun, karena satu dan lain hal, terutama masalah teknis, dua tahun kemudian sebagian besar kepemilikan saham ini beralih ke mitra usaha Sjamsul Nursalim dari kelompok Gajah Tunggal.
Tak lama berselang, Bisnis Indonesia kembali melahirkan koran komunitas Monitor Depok yang kini menjadi kebanggaan warga Depok dan sekitarnya, tabloid tren Digital yang mengupas seluk-beluk peranti digital - dengan penonjolan topik bahasan telepon seluler, serta tabloid Bisnis Uang yang merupakan panduan bagi individu maupun keluarga dalam perencanaan keuangan.
Sejak 14 Agustus 2002 tampilan Bisnis Indonesia mengalami beberapa perubahan antara lain jumlah halaman yang semakin tebal (48 halaman), dan disajikan dalam tiga bagian/seksi. Seksi pertama berisi masalah makro ekonomi, perdagangan, jasa, dan bisnis menengah-kecil. Seksi kedua mengulas seputar pergerakan pasar modal, bisnis keuangan, dan perdagangan komoditas. Sedangkan bagian ketiga membahas perkembangan bisnis teknologi informasi, manufaktur, agribisnis, dan berbagai informasi bisnis dari sektor riil.
Pada 1 Agustus 2005 format Bisnis Indonesia lagi-lagi berubah menjadi format compact. Dicantumkan pula nama reporter penulis berita beserta alamat email si penulis berita. Pencantuman identitas secara lebih gamblang ini menandai semangat keterbukaan di kalangan pelaku pers di negeri ini. Bahkan, pencatuman e-mail ini merupakan yang pertama di Indonesia. Terobosan ini menyebabkan interaksi antara penulis berita dan pembaca semakin meningkat.
Profil pembaca Bisnis Indonesia terdiri 92,4% pelanggan, di antaranya 78,7% berjenis kelamin, pria dan 79,4% dalam usia produktif (25-44 tahun). Pembaca Bisnis Indonesia 67,5% berpendidikan tinggi (54% berpendidikan sarjana dan 13,5% pascasarjana),  51,9% kalangan pengambil keputusan, 78,0% bekerja di perusahaan swasta dan ritel (Sumber: Nielsen Media Research). 
Bisnis Indonesia juga dapat diakses secara online di www.bisnis.com dengan layanan format digital edisi cetak serta breaking news.
Selain itu, pembaca setia Bisnis Indonesia yang sedang menempuh perjalanan ke berbagai kota besar di seluruh dunia, tetap dapat menikmati harian ini melalui Satellite Newspaper Kiosk, yang dapat dijumpai di bandara maupun hotel-hotel ternama.
Situs www.bisnis.com diluncurkan pertama kali pada September 1996 dengan hanya menyajikan format digital dari format cetak Bisnis Indonesia. Saat itu kehadirannya semata-mata untuk melayani para pelanggan Bisnis Indonesia yang berada di luar jangkauan edisi cetak, termasuk mereka yang berada di seluruh planet Bumi ini.
Selain itu, situs tersebut juga disertai beberapa fitur yang tidak ditemukan dalam edisi cetak, misalnya pusat akses data yang ketika itu diberi nama Pusat Informasi Bisnis Indonesia (PIBI), dan kini bernama Pusata Data dan Analisa Bisnis (PDAB).
Seiring dengan kian berkembangnya lingkup pekerjaan Divisi PDAB, maka dibentuklah subinduk Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIIU) yang selain memayungi PDAB juga membawahi unit riset dan Pustaka Bisnis Indonesia.(Tim EPI; Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indonesia Buku/Jurnas)

Bisnis Jakarta - suratkabar harian. Terbit pertama kali pada Rabu, 3 Januari 2007. Bisnis Jakarta, koran dengan jargon “Detak Jantung Metropolis” ini hadir dalam ukuran compact. Pada tagline tertera logo berupa Tugu Monas dan burung garuda yang membawa pena emas yang menandakan sebagai simbol tugas dan kewajiban bahwa koran Bisnis Jakarta sebagai media yang memperjuangkan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui pena emasnya.
Era baru free newspaper yang telah dilakukan industri suratkabar di dunia, diperkenalkan untuk pertama kali di Indonesia oleh Bisnis Jakarta. Dengan format compact berukuran 69,50 dan teknik full color, pada enam bulan pertama Bisnis Jakarta dicetak 30.000 eksemplar dan disebar kepada pembaca terpilih: kosmopolitan dan sangat urban serta menyasar pembaca muda pekerja.
Karena itu, Bisnis Jakarta akan berada di pusat perkantoran, pusat perdagangan, bandara, transportasi umum, hotel, dan rumah makan, dan tetap menilik profil pembaca yang hendak dibangun yaitu klas A, B, C dan D.
Tiras koran ini ditargetkan mencapai 80.000 eksemplar, dan jumlah halaman pun akan berkembang menjadi 16 halaman dari 12 halaman pada saat terbit perdana. Isinya disesuaikan dengan sasaran Detak Jantung Metropolis, yang sangat kosmopolis.
Karena itu semua materi disajikan secara ringkas, mulai dari kriminal Jakarta, masalah sosial dan segala aspek kehidupan kaum urban, di samping perkembangan Indonesia, globalisasi sampai pada trend kehidupan, teknologi, strip kartun serta hiburan.
Kata “bisnis” dalam koran ini, tidak dikonotasikan sebagaimana pada sebuah koran ekonomi yang memuat grafik dan hitungan angka-angka. Tentunya kaum metropolis setuju bahwa kata “bisnis” adalah usaha dan segala aktivitas warga kota Jakarta yang dinamis.
Bisnis Jakarta adalah media baru kaum metropolitan yang dimotori Satria Naradha sebagai pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi. Dengan terobosan free newspaper di tempat umum dan sasaran pembaca terpilih, maka target market iklan pun tercapai.
Di tengah situasi tidak berkembangnya jumlah pembaca suratkabar akibat keterbatasan waktu membaca dan kebiasaan membaca yang rendah, serta daya beli yang rendah, kehadiran Bisnis Jakarta tampaknya menjadi terobosan dan era baru sejarah persuratkabaran di Indonesia. (Tim EPI; Sumber: KMB)


BisnisBali - suratkabar harian. Beredar terutama di Denpasar Bali dan diterbitkan oleh PT Bali Post, yang merupakan bagian dari Kelompok Media Bali Post (KMBP). Sebelum berlaku UU 40/1999 tentang Pers, BisnisBali sudah memiliki SIUPP SK Menpen RI Nomor 584/SK Menpen/SIUPP/1998.
Bertiras 57.000 eksemplar, 50.000 eksemplar diantaranya beredar untuk pembaca setia Harian Umum Bali Post dan para penumpang pesawat Garuda dan Merpati yang berangkat atau tiba melalui Bandara Ngurah Rai Bali.
BisnisBali yang beralamat kantor di Gedung Pers Bali K. Nadha, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar-Bali, terbit 12 halaman, setiap hari, kecuali hari Minggu dan hari libur resmi. 
BisnisBali sebelumnya adalah bagian dari  Bali Post Edisi Denpasar. Namun sejak 11 Maret 1992 menjadi surat kabar mingguan (SKM) Prima. Selanjutnya, setelah beberapa edisi, mulai tahun 2001 nama SKM Prima diubah menjadi SKM  BisnisBali dan terbit dua kali seminggu. 
Selanjutnya, sejak tanggal 20 Mei 2004 SKM  BisnisBali menjadi koran harian BisnisBali dengan slogan “Media Pembuka Peluang Bisnis”. Sajiannya didominasi masalah ekonomi Bali dan berita ekonomi penting tingkat nasional. (Tim EPI; Sumber: KMB)


Bob Iskandar (Cirebon, 16 Mei 1952) - saat ini aktif sebagai sebagai salah seorang Direktur Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ) - PWI Pusat. Karir jurnalistik pria yang bernama asli Otto Munaf Iskandar ini lebih banyak dijalani melalui media elektronik, khususnya radio. Tahun 1978 hingga 1980 Bob menjadi penyiar Siaran Bahasa Inggris RRI Pusat Jakarta (VoI - Voice of Indonesia). Lalu dua tahun berikutnya menjadi penyiar Voice of America (VOA) di Washington DC, Amerika Serikat. Belakangan ia  aktif di Qtv dan Swara TV, dan bahkan di Majalah d'Maestro.
Meskipun begitu, jauh sebelum terjun ke dunia jurnalistik Bob pernah berkecimpung di dunia jasa periklanan, pemasaran, dan public relations pada perusahaan periklanan internasional seperti Fortune, Lintas, dan Ogilvy. Sedangkan perusahaan nasional yang pernah dimasukinya antara lain Fajar Kamil Inc dan PT Intervista. Tidak heran jika kesibukan sehari-harinya, kini, juga tidak jauh dari bidang yang pernah ia tekuni tersebut. Sejak tahun 2002 Bob membuka usaha jasa konsultan bidang peningkatan SDM, pemasaran dan periklanan, serta pelatihan media. Selain itu Bob juga membuka usaha jasa konsultan bidang manajemen pemasaran, penjualan, promosi/public relations, serta penyelenggara acara (event organizer).
Sebagai salah seorang Direktur CAJ Bob banyak melakukan per-jalanan ke luar negeri. Hampir semua Negara pernah ia kunjungi, baik dalam kaitan tugasnya sebagai Direktur CAJ, duta bangsa, hingga sekadar untuk menyaksikan pertandingan olah raga tingkat dunia. Selain memiliki latar belakang pendidikan yang luar biasa, pria berbadan subur penggemar olah raga jogging, tenis, menembak dan mendaki gunung ini juga aktif sebagai anggota Ikatan Terjun Payung Indonesia. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Bobo, majalah mingguan anak-anak - terbit pertama kali pada tanggal 14 April 1973. Awalnya masih dalam bentuk sisipan Kompas, berupa lembaran cerita bergambar yang ditujukan khusus bagi pembaca kanak kanak.
Di kemudian hari, setelah lembaran ini ternyata mendapat respon dan perhatian khusus dari pembacanya, para pendiri, di antaranya Jakob Oetama, P. K. Ojong, dan Tineke Latumeten, sepakat menerbitkan lembaran tersebut dalam bentuk majalah.
Bobo sebenarnya merupakan salah satu majalah anak-anak yang terbit dan beredar di Negeri Belanda. Majalah ini resmi mendapatkan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) pada tanggal 18 Desember 1985 dan diterbitkan oleh PT Penerbitan Sarana Bobo, salah satu kelompok penerbit grup Kompas-Gramedia.
Menurut Redaktur Pelaksana Bobo, Isman Santoso, media ini konsisten dengan misinya, memberikan bacaan yang sehat serta menghibur sekaligus sesuai dengan semboyannya “teman bermain dan belajar”. Bobo yang tampil dengan bacaan sehat serta menghibur bisa disimak dengan cerita tetap dan menarik seperti Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang, Cerita dari Negeri Dongeng, Pangeran Kikuk, serta dongeng-dongeng lain.
Di saat bermain dan belajar, Bobo menemani anak-anak dengan rubrik pengetahuan, liputan, dan bonus untuk pembaca yang hendak menghadapi tes catur wulan dengan soal-soal latihan.
Tampil dengan gambar-gambar ilustrasi menarik, cover dengan tata warna yang mendukung, tebal majalah sekitar 50 halaman, Bobo tak khawatir kehilangan pembacanya meski banyak media cetak sejenis dan elektronik bermunculan. “Isi majalah Bobo sangat disukai anak-anak dan sudah mengakar. Kami optimistis, majalah mingguan anak-anak ini tetap bertahan dengan oplahnya yang kini sudah mencapai 250.000 eksemplar setiap terbit, meski dalam kompetisi yang makin ketat,” ujar Isman. (Tim EPI/KG; Sumber: PDAT)


Boemipoetera, majalah mingguan - Terbit pertama kali pada tanggal 7 Agustus 1926 di Weltevreden (Gambir), pada saat Hindia Belanda dilanda krisis ekonomi (malaise).
Menerbitkan suratkabar pada zaman malaise tentu riskan, tetapi Boemipoetera mencoba bertahan meski napasnya kembang kempis. ia tetap beredar dengan 4 halaman setiap Sabtu. Bahkan, seolah-olah pamer kekuatan, Boemipoetera di kemudian hari  menjadi suratkabar harian (dagblad).
Sejak awal, majalah berjargon “oentoek kalangan boemi poetera” ini berpolemik dengan Parada Harahap dari Bintang Timoer. Boemiputera mendakwa Bintang Timoer terlalu kapitalis. Hanya memikirkan perut dan tidak memihak rakyat. Ia mengecam langkah permodalan Parada yang mengizinkan kongsi dagang Belanda menanam investasi dalam produksi dan distribusi.
Parada, yang darah dan dagingnya hanya untuk pers itu, menawarkan perdamaian dengan mengajak lawannya bekerja sama, membangkitkan kembali Bintang Timoer. Tawaran itu sia-sia. Boemiputera telanjur menaruh syak terhadap cara Parada memimpin media.
Parada memang tergolong cendekia, tetapi hanya dalam soal mencari kesempatan. Tidak puas dengan kongsi dagang Belanda, Boemipoetra pun diliriknya. Majalah yang mulai ramai dengan rupa-rupa berita ini menolak tegas tawaran Parada.
Boemipoetra kemudian menggencarkan tawaran ruang iklan.  Ia juga menyajikan pelbagai artikel dan cerita seperti Hikajat Sawitri, cerita bersambung (feulilleton) dengan judul “Roemsani” (Korban Kecantikan), dan suplemen berita luar negeri yang mengabarkan keadaan para pelajar Indonesia di Nederland.
Tren media kala itu ialah laporan-laporan soal politik. Namun, Boemipoetra melihat politik dari sudut yang unik dan tak terbandingi pada masa itu. Dengan kesahajaannya, Boemipoetra menjadi teladan pers pada masa malaise. Ia membuktikan kata-katanya sendiri bahwa kepercayaan dan ketangguhan adalah modal menaklukkan zaman. (Tim EPI; Sumber: Reni Nuryanti/Indexpress/Jurnas)
    

Bola - tabloid olahraga, beredar seminggu dua kali, terbit di Jakarta sejak 3 Maret 1984. Awalnya tidak lepas dari rubrik olahraga Harian KOMPAS, saat Ignatius Sunito dan Sumohadi Marsis menjadi awaknya bersama rekan lainnya. Berkat kekompakan yang solid, menghasilkan sebuah rubrik olahraga yang digemari pembacanya.
Rubrik olahraga KOMPAS halaman 10 terbilang paling banyak diminati dan digemari pembacanya. Halaman olahraga ini, yang cuma satu halaman, terasa tidak cukup. Apalagi jika ada iklan, halaman ini tak mampu menampung produktivitas pengasuhnya.
Solusi yang seharusnya dengan menambah halaman KOMPAS, namun karena terbentur regulasi pembatasan jumlah halaman. Jakob Oetama, sebagai pemimpin redaksi sekaligus penanggung jawab KOMPAS, mengeluarkan ide untuk membuat terbitan khusus olahraga dan malah sudah mulai didorong menjelang tahun 1980. Secara de facto, jajaran redaksi -- yaitu Ign. Sunito bersama Sumohadi Marsis yang diserahi tanggung jawab -- berkata "Siap!". Namun, secara de jure sebuah penerbitan harus mempunyai SIUPP, surat izin usaha penerbitan pers, yang dikeluarkan oleh Departemen Penerangan RI. Saat itu prosedurnya sebenarnya tidak rumit, tetapi sulit.
Ya, terbukti ketika melalui prosedur permohonan izin resmi dan menunggu hingga hampir lima tahun, tak ada tanggapan selembar kertas pun dari Deppen. Akhirnya mengambil jalan lain yang sebenarnya dihindari dan terpaksa ditempuh, yaitu bekerjasama dengan penerbitan yang sudah ada, bernama BOLA, penerbitnya adalah Yayasan Tunas Raga, yang jajaran pengurusnya adalah Harmoko, Mayjen TNI/AD Roedjito (almarhum), dan Yussack Soesanto.
Didasarkan pada fakta saat itu bahwa harian-harian di luar negeri selalu mengeluarkan halaman-halaman bonus bagi pembacanya, maka BOLA akhirnya dilepas dengan terlebih dahulu menjadi sisipan KOMPAS. Kebetulan desk olahraga KOMPAS mempunyai halaman tambahan setiap Jumat. Sehingga pembaca mendapatkan bonus BOLA setiap hari Jumat.
Untuk memudahkan penyisipan, bentuknya tidak seperti induknya KOMPAS, melainkan berbentuk tabloid. Dan ternyata benar, BOLA adalah pelopor tabloid pertama di kelompok KOMPAS Gramedia, lalu diikuti oleh penerbit-penerbit lain.
Logo BOLA yang diciptakan oleh GM Sudarta mulai dipersiapkan dan pada Januari 1984, dummy pertama dibuat untuk menggambarkan kira-kira bagaimana nantinya bentuk tabloid olahraga itu.
Akhirnya, BOLA terbit pertama kali dengan 16 halaman dan dicetak sebanyak 412.000 eksemplar sesuai dengan jumlah tiras KOMPAS pada 3 Maret 1984. Perkembangannya setiap hari Jumat, permintaan khalayak makin bertambah, hingga mencapai ratusan ribu eksemplar. Puncaknya adalah tahun 1986, ketika Piala Dunia Sepakbola di Meksiko. BOLA mampu mengatrol KOMPAS sampai seratus ribu eksemplar lebih dan mencapai angka tertinggi hampir 650.000 eksemplar.
Empat tahun (1984-1988) dirasa cukup bagi BOLA menjadi sisipan KOMPAS, harus memberanikan diri untuk berdiri sendiri dan berpisah dengan KOMPAS. Terus terang menjadi kebanggaan para pengasuh bila BOLA tidak terus dibayangi kebesaran induknya.
Saat yang tepat adalah bulan Maret 1988. Sambil memperingati HUT-nya yang ke-4 di Hotel Hilton Jakarta, secara resmi BOLA memisahkan diri dengan KOMPAS dan terbit 24 halaman dengan harga Rp 300,-. BOLA terus berkembang demikian juga jumlah halamannya ikut meningkat, dari 24 menjadi 32, bahkan pernah mencapai 64 halaman. Kini BOLA bertahan dengan 48 halaman.
Segmen peminat olahraga, khususnya sepakbola, terus berkembang di Tanah Air. Karena dipacu oleh munculnya televisi-televisi swasta yang banyak menyajikan siaran langung pertandingan-pertandingan sepakbola liga Eropa dan cabang-cabang lain, seperti tinju, basket, balap mobil/motor, tenis, dan bulutangkis. Akibatnya, masyarakat di Tanah Air semakin haus akan informasi olahraga. BOLA pun mengantisipasi permintaan pasar. Bertepatan dengan ulang tahun yang ke-13, 3 Maret 1997, BOLA edisi Selasa diluncurkan.
Pada awalnya tampilan edisi Selasa agak berbeda dengan edisi Jumat. Isinya lebih ditujukan untuk pembaca yang usianya lebih muda dibandingkan pembaca Jumat. Namun, karena dalam perkembangannya ada kemauan dari pembaca agar dalam dua edisi itu saling berkaitan, maka edisi Jumat dan Selasa diolah menjadi serupa.
Sejak tahun 2000, jabatan Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab diserahkan kepada Ian Situmorang, sementara pejabat sebelumnya Sumohadi Marsis memasuki masa pensiun pada 2004.
Jika pada saat pertama terbit BOLA diawaki 12 Wartawan, tahun 2006 wartawannya sudah berjumlah 41 orang. Jaringan BOLA memang sudah semakin luas. Ini dimungkinkan dengan kemajuan teknologi cetak jarak-jauh, BOLA kini sudah dicetak di empat tempat: Jakarta, Bawen (Semarang), Surabaya, dan Medan, menyusul di kota Bandung. Sehingga BOLA dapat hadir di pasar lebih cepat sehari, yaitu Kamis untuk edisi Jumat dan Senin untuk terbitan Selasa. Tentunya semua ini dilakukan hanya untuk kepuasan pembacanya.

Bola Edisi Poster (BEP)
Piala Eropa 2000 menjadi ajang yang bakal diingat, karena lewat pesta sepakbola Benua Eropa ini BOLA Edisi Poster (BEP) lahir. Sepakbola adalah bahasa universal dapat dinikmati oleh beragam umur. Sedangkan BOLA mempunyai persediaan foto yang memadai, yang tidak bisa tertampung oleh Tabloid BOLA dalam setiap pemunculannya, kendati dalam setiap event seperti Piala Eropa atau Piala Dunia, halaman tentang pesta itu sudah selalu diperbanyak.
Sayang rasanya bila foto-foto keren berisi ekspresi yahud sang bintang hanya bisa dinikmati dalam ukuran kecil di Tabloid BOLA. BEP adalah solusinya. Tapi, pengelola BEP, terutama awak dari lay-out, tidak setuju bila poster hanya diartikan sebagai foto yang dibesarkan dan tampil dalam ukuran tabloid. Unsur seni pun harus berbicara di sini.
Pada awal pemunculan, dengan seiring menyertai kemeriahan Piala Eropa 2000, BEP hadir setiap minggu dengan 24 halaman. BEP laris manis dengan oplah mencapai 200 ribu eksemplar. Sebuah hasil yang cukup mengejutkan untuk ukuran "bayi" seperti BEP.
Pemikiran baru diperas lagi dengan juga memperhatikan masukan dari pembaca. Jadwal terbit setiap minggu dibuat menjadi dua minggu sekali dengan mengedepankan bentuk tematis dan menyisipi cerita tentang sosok atau klub yang menjadi tema pada edisi itu.
Memasuki tahun 2001, BEP semakin mewah dengan tampilan kertas luks. Klub-klub beken Italia, mendapat kehormatan tampil di edisi perdana format luks. Mulai edisi luks ini, BEP ditetapkan terbit setiap bulan dan ternyata sambutan kian menghangat.
Bola Vaganza
Sebenarnya keinginan untuk menciptakan terbitan yang mengeksploitasi sepakbola sudah begitu mencuat, terutama pada awak BOLA yang biasa mengawal department sepakbola internasional atau OLE! Internasional.
September 2001, tiba-tiba saja datang sebuah proposal franchise dari sebuah majalah sepakbola berkaliber internasional ke kantor BOLA. Ian Situmorang selaku Pemimpin Redaksi lalu membawa tawaran ini ke meja sidang. Pada kemudian hari, tawaran inilah yang menjadi pemicu lahirnya majalah BOLAVAGANZA.
Setelah ditimbang-timbang untung dan ruginya, diambil keputusan bahwa franchise itu sebaiknya ditolak. Floor di BOLA lebih menginginkan munculnya majalah sepakbola yang asli buatan BOLA.
Begitu palu diketuk, persiapan serius pun dilakukan. Awak OLE! Internasional, Dedi Rinaldi dan Dian Savitri, diserahi tanggung jawab sebagai pengelola.
Tanpa menunggu waktu, konsep tentang majalah sepakbola digodok. Karena yang dijual majalah ini adalah sepakbola, konsep harus inovatif untuk menghindari duplikasi keras dengan Tabloid BOLA.
Muncul pemikiran bahwa artikel atau feature yang menghiasi majalah ini mestinya lebih menonjolkan kegebyaran sepakbola, tidak hanya berbicara tentang hasil atau cerita di seputar lapangan.
Terjadi penyatuan ide bahwa sepakbola masa kini sudah menjelma sebagai industri. Artinya bisnis dan saham telah menjadi pembicaraan. Selain itu, sepakbola pun telah masuk ke area entertainment mode, film, atau selebritas.
Faktor lain yang digagas adalah bahwa sepakbola juga mengandung science dan kultur dari sebuah peradaban. Karena itu, disimpulkanlah bahwa majalah sepakbola ini akan berbicara banyak tentang football is life style, entertainment, science, atau kultur tanpa mengesampingkan meriahnya pertandingannya sendiri.
Ke arah mana majalah ini akan berkecimpung tampaknya sudah pas, tinggal mencari nama yang cocok. Rekan Dian lalu mengusulkan kata "vaganza", potongan dari "extravaganza". Ketika ditanya apa alasannya, Dian mengatakan bahwa "extravaganza" mencerminkan sebuah keriuhan berkelas.
Merasa mantap dengan pilihan itu, lalu nama majalah ini pun ditetapkanlah: BOLAVAGANZA. Pada Oktober 2001, majalah ini mulai dipersiapkan dan pada November 2001 menjadi saat yang bersejarah buat BOLAVAGANZA karena pada bulan inilah edisi perdana hadir. Tema utama yang diangkat ialah tentang sorotan pada klub Italia di Liga Champion dengan sebuah judul "Italiano Masihkah Loyo?". Pemain top Italia dan Juventus, Alessandro Del Piero, menjadi model sampulnya.
Ternyata sambutan dari pembaca cukup manis. BOLAVAGANZA pun melaju, mengiringi langkah BEP, yang sudah lebih dulu terbang. Tak terasa bulan demi bulan dilalui dengan segala manis dan getirnya, termasuk formasi pengelolanya.

Gaya Hidup Sehat (GHS)
Setelah sukses dengan tabloid olahraga, lantas apa lagi? Itulah pertanyaan yang telah lama menggelitik pikiran para pendiri sekaligus pemimpin BOLA. Berhenti dengan cerita sukses Tabloid BOLA bukanlah ending yang mereka inginkan dalam mengarungi perjalanan kewartawanan maupun bisnis pers. Bagaimana pun BOLA telah lama mengukir kisah sukses, sementara energi hidup masih begitu membara dalam diri mereka.
Karena itulah para pemimpin BOLA mulai memikirkan penerbitan media yang bermuatan lain. Muatan yang paling dekat dan senapas dengan dunia olahraga adalah kesehatan. Di sisi lain BOLA juga melihat kenyataan bahwa banyak sekali pembaca tabloid ini yang usianya semakin menua sehingga sedikit banyak semakin tidak tercukupilah kebutuhan mereka akan informasi dengan satu media olahraga.
Kebutuhan informasi seperti apa yang dibutuhkan oleh kelompok usia yang semakin menua, maka pada tahun 1998 dilakukan sebuah riset. Bekerja sama dengan sebuah lembaga riset di Jakarta, diperoleh masukan bahwa memang ada kelompok masyarakat yang masih belum cukup disentuh oleh para pengelola media massa. Kelompok masyarakat yang dimaksud adalah pria yang telah berusia mapan.
Ada pasar! Itulah kesimpulan yang pada waktu itu dikemukakan oleh biro penelitian tersebut. Semakin bulatlah niat untuk menerbitkan media baru. Mengacu pada masukan riset dan mempertimbangkan cita-cita awal ingin melayani kebutuhan pembaca BOLA, yang usianya semakin menua, maka diterbitkanlah Tabloid BOLA pada 2 Juli 1999.
Untuk surat izin terbit sekaligus bentuk perusahaannya, kami memakai media yang sebelumnya ada, yaitu PT. Raketindo .
Moto tabloid baru ini adalah "Bacaan Sehat Pria Mapan." Hal ini sesuai dengan keinginan untuk memberikan bacaan akhir pekan yang sehat bagi para pria yang telah berusia maupun berstatus sosial mapan.
Sebagai bacaan akhir pekan, Tabloid BOLA di awal kelahirannya berisi aneka informasi yang inspiratif  bagi orang-orang mapan yang mengingini kehidupan yang lebih tenang dan sehat. Karena itu rubrik-rubriknya pun lantas disesuaikan dengan kebutuhan tersebut, antara lain Profil, Klub 40+, Hobi, Kiat Sehat, Anda Perlu Tahu, Nostalgia, Sehat Segar, Seksologi, Psikologi, Gizi, dan Wisata. Cover, yang menjadi etalase, menampilkan tokoh-tokoh pria yang sedang menjadi berita namun sekaligus dianggap memiliki reputasi baik dan memiliki kiat-kiat untuk sehat.
Terus terang saja, krisis moneter sebetulnya memiliki dampak yang sangat berarti di bidang kesehatan. Nilai rupiah yang jatuh menyebabkan harga obat menjadi teramat sangat mahal. Hal ini mendorong pemerintah maupun masyarakat untuk lebih memberdayakan diri sendiri dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan terkesan meningkat dan pemanfaatan potensi pengobatan secara tradisional menjadi lebih terbuka dan memasyarakat kembali. Memang, ke depan, masalah kesehatan akan semakin menjadi  bidang perhatian yang penting bagi masyarakat kita.
Dengan berbagai pertimbangan itulah, memasuki tahun ke-4, Tabloid SENIOR mulai memperluas pasarnya. Yang semula hanya untuk pria mapan, kami buka pasarnya menjadi unisex, pria dan wanita. Supaya semakin tajam menjawab kebutuhan pembaca, kami mengubah Tabloid SENIOR menjadi Tabloid GAYA HIDUP SEHAT.
Syukurlah, tampaknya perubahan ini memang sesuai dengan keinginan pembaca. Karena itu, seperti dapat dilihat, tabloid ini semakin mantap menapakkan kakinya dengan informasi yang spesifik, yaitu tentang gaya hidup sehat.
Bagaimana pun, masalah kesehatan masih merupakan bidang yang harus diperkenalkan dan diedukasikan kepada khalayak luas, termasuk kepada kalangan yang berpendidikan dan berstatus sosial ekonomi tinggi sekalipun. Namun, inilah pilihan yang pada waktu itu diambil oleh para pemimpin BOLA, sesuai dengan idealisme para founding fathers Kelompok Kompas Gramedia, yaitu memberikan pencerahan kepada masyarakat luas.
Dalam kaitan dengan keinginan melayani pembaca pula, tiga bulan menjelang ulang tahun ke-4 Tabloid GAYA HIDUP SEHAT, mulai membuka sebuah klinik sederhana, awalnya menempati ruangan yang biasanya dipakai untuk rapat kecil. Sebagai langkah awal mewujudkan keinginan untuk menggenapi komitmen terhadap kesehatan masyarakat dengan sebuah fasilitas "one stop shopping" layanan kesehatan.
Klinik yang lebih tepat disebut sebagai Klinik Medik Alternatif tersebut untuk sementara ini dibuka sore hari saja. Kami menghadirkan beberapa orang dokter dan pakar penyembuh alternatif, untuk dapat meningkatkan dan memuaskan layanan kepada pembaca dan masyarakat pada umumnya, saat ini kami telah memperluas tempat layanan Klinik

Bola Sportsline
Situs ini lahir bukan karena tren. Ketika tren itu muncul di tahun 2000, karena banyak perusahaan mencari alternatif pendapatan, www.bolanews.com sudah berusia dua tahun. 1998 Awal kemunculannya lebih karena idealisme dari karyawan bagian teknologi informasi, dipelopori oleh Arief Witono, yang ingin mewujudkan isi BOLA ke dalam komputer dan bisa diakses lewat internet.
Dalam perjalanannya sampai sekarang, situs ini kini dikomandani oleh Tyas Soemarto, pernah pula dipegang oleh Sami Leo Lantang, yang kini menjadi salah seorang redaktur Tabloid SENIOR.
Pada Maret tahun 1999, www.bolanews.com tak lagi sekadar berisi berita-berita dari tabloid BOLA. Masuknya beberapa orang redaksi dan bisnis sebagai pengelola mengubah content www.bolanews.com, yang semula hanya diakses pembaca pada hari Selasa dan Jumat (sesuai hari terbit tabloid BOLA) menjadi lebih sering diakses pembaca, yakni setiap hari.
Berita aktual seputar olahraga yang di-update setiap hari menjadikan perubahan sifat pengakses www.bolanews.com ini. Di saat itu pula, manajemen menamakan situs ini dengan  BOLA SportsLine (BSL). Kenaikan hit luar biasa melonjak. Kalau semula sekitar 600.000 hit sebulan, kini menjadi 4,2 juta sebulannya. Bulan Desember 2003 lalu saja sudah mencapai 9,8 juta dengan pageview 1,2 juta.
Kekuatan brand dan melonjaknya hit maupun pageview ini menjadikan banyak perusahaan situs yang menjamur di tahun 2000 melirik BSL untuk mengajaknya bekerja sama. Dari hanya sekadar untuk mengangkat brand image sampai untuk merekrut seluruh armada BSL, yang hanya segelintir orang itu.
Di tahun 2000, hampir semua perusahaan membuat situs untuk mengangkat brand image sampai mencoba untuk mencari profit dari kebiasaan baru masyarakat dunia dalam menjelajah dunia maya.
Namun, sesuai dengan perkembangan, bisnis dunia maya ini pun berlaku survival of the fittest: hanya mereka yang kuatlah yang bertahan. Untuk dunia maya, ini dapat diartikan sebagai perlunya sebuah perusahaan media massa berkembang menjadi perusahaan multimedia. Media cetak akan lebih baik bila memiliki media elektronik, apakah itu radio, televisi, ataupun internet. Karena itu, perusahaan-perusahaan media cetak besar selalu memerlukan anak-anak perusahaan media seperti yang disebut tadi.
Pengguna internet memang amat khusus dan spesifik. Secara garis besar, mereka well-educated, cukup mampu dan--ini terpenting--selalu dinamis dan memiliki keinginan besar untuk maju. Sejalan dengan membaiknya tingkat pendidikan, diharap generasi ga-tek (gagap teknologi) akan makin sedikit. Inilah peluang bagi bisnis internet.
Melihat kondisi di masyarakat dalam menanggapi dunia maya ini, akhirnya pada tahun 2001 BSL dialihorientasikan: dari mencari keuntungan menjadi ke pelayanan. Dalam layar BSL bisa juga Anda jumpai produk-produk lain BOLA, seperti BOLA Vaganza, BOLA Poster, Toko Olahraga BOLA, dan Tabloid SENIOR. Suasana pelayanan kepada pembaca begitu kental. Tentu kami juga tidak meninggalkan berita-berita olahraga mutakhir yang masih menjadi kekuatan BSL.Walau dengan armada minim dan tanpa orang khusus yang menangani bisnis BSL, tiap tahun setidaknya BSL bisa menggapai iklan walau tidak besar.
BSL juga melakukan sharing dengan beberapa provider untuk melakukan pengembangan situs, termasuk kerja sama dengan perusahaan-perusahaan telekomunikasi untuk pengadaan content di SMS. Selain itu, mereka juga membuat kuis-kuis dengan hadiah dari beberapa produsen dalam bentuk sharing.(Tim EPI/Humas BOLA)


Borneo Barat , suratkabar berkala - beredar setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu,  setebal 4 halaman. Terbit di Pontianak antara tahun 1937 dan 1941 oleh Perkongsian Borneo Barat. Koran berbahasa Indonesia ini beredar di wilayah Karesidenen Westerafdeeling van Borneo. Berita-berita yang disajikan cukup beragam, mulai dari berita internasional, nasional sampai berita lokal  di Borneo Barat, dan berita lain terutama perdagangan (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Breaking News - Laporan berita secara spontan, yang biasanya muncul di tengah-tengah program acara reguler untuk melaporkan sebuah kejadian yang sedang atau baru saja terjadi.
Di Indonesia istilah breaking news  diperkenalkan oleh stasiun televisi Metro TV, meskipun pola penyajian sejenis itu sudah dipergunakan stasiun televisi lain dengan istilah berbeda. RCTI, misalnya, menggunakan istilah “sekilas info”. Stasiun lain menggunakan istilah “berita terkini”, dan lain-lain. (Tim EPI/NH)


Brita Bahalap, koran berkala - terbit di Banjarmasin antara tahun 1931 dan 1939, dan  beredar tiga kali sebulan. Koran ini disajikan dengan teks berbahasa Banjar.
Brita Bahalap diterbitkan oleh Seminari Banjarmasin pimpinan G. Schwarz. Setiap kali terbit 4 halaman, dan di setiap halaman berisi antara 6 – 7 rubrik. Sebagian besar isi rubrik menyangkut kepentingan misi seminari.
Selain itu ada berita-berita tentang berbagai hal seperti berita luar negeri dan berita daerah atau wilayah sekitar Banjarmasin. Artikelnya cukup beragam seperti tentang perkebunan, berita buku-buku seminari dan sebagainya (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Bruining W. - Orang pertama yang membawa alat percetakan ke Indonesia (1848). Awalnya ia diperlakukan sebagai seorang pengidap penyakit berbahaya. Selain alat cetaknya tak diizinkan untuk dipakai, ia ditawari ganti rugi atas biaya perjalanannya dari Rotterdam dan diminta agar segera kembali ke Nederland, namun Bruining menolak tawaran itu.
Perlakukan terhadap Bruining berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Belanda untuk mengendalikan dan mengawasi penerbitan di Hindia Belanda.
Setelah menolak tawaran tersebut pada tahun 1851 Bruining menerbitkan Bataviaasch Advertentieblad. Setahun kemudian Bruining kembali menerbitkan Java Bode sebagai pengganti Het Advertentie Blad yang berhenti terbit. (Tim EPI)  


Budaya Sari, stasiun radio - Budaya Sari  termasuk salah satu stasiun radio yang masih bertahan mengudara pada frekuensi AM. Sekarang stasiun radio ini bekerja pada frekuensi AM 936 KHz, dengan slogan budaya nu mimitran, beralamat di Jalan Bojong Rengas No. 51 Majalaya Kab. Bandung.
Sesuai dengan format siarannya yang bertujuan untuk mengangkat budaya lokal, Budaya Sari banyak menyajikan acara-acara tradisional Sunda mulai dari Kliningan Sunda  sampai Dongeng Sunda. (Tim EPI/DAR)


Burhanuddin Muhammad Diah (B.M. Diah, Kutaraja 7 April 1917 - 1996), wartawan, diplomat - Wartawan tiga zaman, pejuang, dan seorang nasionalis ini terlahir dengan nama Burhanuddin. Sedangkan Muhammad Diah adalah nama ayahnya.
Burhanuddin merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Keluarganya termasuk terpandang dan kaya. Burhanuddin menjadi yatim sejak kecil karena ayahnya meninggal dunia saat usianya baru seminggu.
Pada usia 17 tahun ia tamat dari Lembaga Pendidikan Taman Siswa. Selanjutnya ia berangkat ke Jakarta guna belajar di Ksatriaan Institut pimpinan Douwes Dekker. Di sekolah tersebut Burhanuddin  memilih jurusan jurnalistik.
Sejak berusia 15 tahun, ketika belajar di Middelbaar Nationale Handel Collegium di Bandung, Diah sudah berambisi menjadi jurnalis terkenal. Setelah tamat sekolah di Bandung, ia sempat menjadi sekretaris pribadi gurunya sebelum pulang ke Medan.
Di kota itu, ia akhirnya diterima di harian Sinar Deli, dan sempat menjadi pemimpin redaksi suratkabar tersebut. Ketika keuangan suratkabar itu memburuk, ia menerima gaji dengan dicicil. Diah mengadu ke pengadilan. Pengacaranya seorang Belanda, Mr. Rome, sedangkan lawannya memakai pengacara bumiputra, Mohammad Said, yang kemudian jadi besannya.
Pada zaman Jepang Burhanuddin bekerja di radio Hosokyoku, merangkap di Asia Raya. Burhanuddin juga pernah menjabat sebagai Kepala Pers Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta. Diah lalu menjadi Direktur Pertama Warta Harian, yang belakangan diberangus karena dituduh menerima uang suap dari seorang Jepang. Pada zaman Jepang, ia turut menerbitkan majalah Pertjatoeran Doenia & Film, dan  memimpin harian Asia Raya. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, aktivis pemuda ini semakin terlibat politik sebagai anggota KNIP.
Suatu ketika harian Merdeka nyaris lepas dari tangannya karena berselisih dengan Rosihan Anwar yang turut mendirikan koran itu. Akhirnya, Rosihan keluar dari Merdeka.
Pada awal zaman Orde Baru, bekas Duta Besar RI untuk Cekoslovakia, Inggris, dan Muangthai, ini menjadi Menteri Penerangan. Di bawah kepemimpinannya, dengan bantuan Dirjen Radio, Televisi & Film, Umar Kayam, film nasional bangkit dalam menghadapi banjir film impor, dan mendapat nama baik di Asia.
Setelah bebas tugas dari jabatan menteri, bersama istrinya -- Herawati, yang dikenal sebagai wartawati terkemuka -- Diah mendirikan hotel internasional Aryaduta. Herawati adalah wartawati yang pernah memimpin harian berbahasa Inggris pertama di Indonesia, The Indonesian Observer, yang mereka dirikan. Herawati, sebelumnya adalah pemimpin majalah Keluarga, dan majalah Merdeka. Diah bersama Mochtar Lubis juga pernah menerbitkan majalah Massa, namun, penerbitan ini tidak berlangsung lama.
Tahun 1984 Diah terpilih menjadi Ketua Dewan Pers. Sebelumnya Diah menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 1971. Pada masa ini ia bentrok lagi dengan Rosihan Anwar dari harian Pedoman dan Jakob Oetama dari harian Kompas, yang saat itu dipilih oleh Kongres PWI sebagai pimpinan PWI Pusat. Sedangkan kepengurusan Diah didukung oleh unsur-unsur pemerintah. PWI hampir pecah, tetapi akhirnya rujuk. Harmoko, tampil sebagai Ketua Pelaksana PWI.
B.M. Diah meninggal dunia pada usia 79 tahun, karena stroke dan berbagai penyakit lainnya. Ia meninggalkan dua orang istri, Herawati Diah dan Juliah.
Jabatan terakhirnya adalah Presiden Direktur PT Masa Merdeka dan Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan yang kemudian bernama Arya Duta. Almarhum menerima Bintang Mahaputra, piagam penghargaan, dan medali perjuangan Angkatan ’45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45.(Tim EPI/AM; Sumber: Wikipedia)