Rabu, 13 Desember 2017

C dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Cakra Semarang - adalah stasiun televisi swasta lokal di kota Semarang, Jawa Tengah. Seperti halnya stasiun televisi lokal lainnya di Indonesia, Cakra Semarang juga menyajikan berbagai program budaya yang dikemas sedemikian rupa agar menarik disimak oleh pemirsanya.
Kehadiran Cakra Semarang TV dilatarbelakangi oleh kesadaran pentingnya demokratisasi sehingga semangat masyarakat Jawa Tengah untuk berperan aktif dalam proses pembangunan tetap terjaga. 
Cakra Semarang TV yang mengudara sejak 9 Mei 2005, kini memiliki 18 jam siar dengan sasaran status ekonomi pemirsa menengah ke atas. Cakra Semarang TV juga sangat dikenal masyarakat kota Semarang melalui sejumlah programnya yang begitu kental dan lekat dengan budaya Jawanya. Sebut saja beberapa diantaranya Warung Rica – Rica, Ginem Jawi serta Pawartos Jawa Tengah yang sekaligus menjadi sarana promosi bagi bahasa daerah yang kini semakin tergeser oleh bahasa-bahasa prokem yang terkesan lebih gaul terutama di kalangan generasi muda.
Cakra Semarang TV dipancarkan dari studio yang terletak di Jalan Batur 15 Gajah Mungkur, Telepon 024-8415277, dan Fax 024 8504933, diterima dengan baik di kota Semarang, Kendal, Ungaran, Demak, Jepara, Kudus, Pekalongan, Magelang, Boyolali, Klaten, Blora, Pati, Grobogan, Rembang, Batang, Temanggung dan Sragen melalui channel 45 UHF. (Tim EPI)


Cakram - Majalah Periklanan, Kehumasan dan Komunikasi Bisnis di Indonesia. Berdiri sejak Maret 1990. Dengan tiras 8.000 eksemplar/bulan Cakram dibaca oleh praktisi profesional di bidang komunikasi bisnis (termasuk pemasaran) di 300 biro iklan dan 500 perusahaan dengan belanja iklan terbesar di Indonesia.
Cakram adalah bagian penting dari industri periklanan, promosi dan kehumasan yang terus berkembang. cakram merupakan majalah bulanan yang berkomitmen untuk selalu menjadi acuan dengan menyajikan berita-berita terpercaya sekaligus melayani kebutuhan pembaca yang bergerak dalam bidang komunikasi pemasaran maupun peminat bisnis komunikasi pemasaran.
Cakram telah berhasil menciptakan basis pembaca loyal yang memerlukan informasi dan analisis yang tajam mengenai perkembangan industri periklanan, promosi dan kehumasan dan menjadi referensi penting dalam kegiatan mereka sehari-hari.
Tak heran kalau cakram menjadi pilihan penting untuk beriklan bagi media elektronik, media cetak, media luar ruang, griya produksi, paska produksi, serta pemasok industri komunikasi pemasaran lain, dan produk-produk lain yang relevan dengan khalayak sasaran cakram.
Cakram edisi reguler mengulas berbagai informasi di bidang komunikasi bisnis, periklanan, promosi dan kehumasan. cakram reguler terbit di setiap tanggal 1 dengan tampilan full colour, dengan berbagai rubrik seperti Laporan Utama, Laporan Khusus, Laporan Eksklusif, Media dll (Matt Paper 85 gr, ukuran 21 cm x 27.5 cm).
Cakram merupakan satu-satunya majalah periklanan, promosi dan kehumasan yang eksis di Indonesia. Dengan posisi tersebut, cakram merupakan pilihan yang tepat dan efektif bagi perusahaan untuk mempromosikan produk dan jasanya kepada khalayak sasaran. Selain itu, cakram dapat juga dijadikan media yang pas bagi perusahaan yang ingin mencari SDM yang handal dan kompeten dalam industri periklanan, promosi dan kehumasan. Saat ini, cakram banyak dibaca para profesional di bidang komunikasi pemasaran yang tersebar di 400 biro iklan dan 500 perusahaan dengan belanja iklan terbesar di Indonesia.
Sebagai satu-satunya majalah periklanan, kehumasan dan promosi, cukup banyak perusahaan dan produk yang beriklan di cakram seperti media cetak (majalah, Koran, tabloid), media elektronik (stasiun TV dan radio), para biro iklan, serta pendukungnya seperti perusahaan percetakan, separasi film, production house, elektronik; komputer; telekomunikasi, film; kamera, produk-produk lain yang relevan dengan khalayak sasaran cakram.
Cakram dibaca oleh managing director, marketing manager, product/brand manager dimana mereka adalah salah satu pengambil keputusan untuk menggunakan suatu produk. Target market mereka sesuai dengan target market pembaca cakram, karena cakram didistribusikan secara compliment kepada pengambil keputusan di 400 pengiklan terbesar.
Cakram juga dibaca oleh kalangan biro iklan di bagian kreatif, seperti Creative Director, Art Director serta bagian traffic, karena mereka juga turut menetukan untuk menggunakan suatu produk/jasa bagi para media (TV, radio, cetak)
Cakram dibaca oleh pengambil keputusan di biro iklan seperti, managing director, media director, media manager, media planner dimana mereka lah yang turut menentukan media mana yang efektif dan tepat untuk mengkomunikasikan produk. Keuntungan bagi media adalah mereka tidak perlu membuang waktu banyak dengan mengunjungi biro iklan untuk memberikan informasi/presentasi, dengan memberi informasi tentang program secara rutin melalui cakram relatif lebih efisien.
Selain edisi reguler Cakram juga menerbitkan edisi Cakramfokus.  Cakramfokus terbit setiap akhir bulan yang fokus melaporkan even atau topik-topik tertentu, cakramfokus Citra Pariwara, TV, Surat Kabar, Radio, Majalah & Tabloid, dll. cakramfokus tampil dengan format ukuran 23 cm x 30,5 cm. Cakram dan Cakramfokus dijual masing-masing dengan harga Rp. 19.900 dan Rp. 20.900 per eksemplar. (Tim EPI/KG/Dari Berbagai Sumber)


Check & Recheck (1), adalah istilah yang dapat diartikan sebagai langkah untuk meneliti kebenaran bahan informasi sebelum dipublikasikan. Tujuannya untuk lebih menjamin kebenaran dan ketepatan bahan berita yang diperoleh.
Kebenaran dan ketepatan penulisan nama orang, jabatan, dan tempat, misalnya, adalah hal-hal yang secara tidak langsung dapat membentuk kepercayaan publik terhadap informasi yang mereka baca atau dengar, selain juga menjaga kredibilitas media yang bersangkutan.
Oleh karena itu check & recheck menjadi standar kerja seorang wartawan sebelum ia memutuskan apakah sesuatu informasi akan diturunkan menjadi sebuah berita atau tidak. (Tim EPI/NH)


Check & Recheck (2), adalah program acara yang ditayangkan RCTI yang sekaligus menjadi pelopor bagi penayangan acara sejenis di stasiun-stasiun televisi swasta lain di Indonesia.
Check & recheck mengudara pertama kali hampir bersamaan dengan lahirnya RCTI, dan merupakan acara yang sangat digemari pemirsanya, karena banyak memberikan informasi seputar kehidupan para selebritis Indonesia. Acara ini ditayangkan pada pukul 16.00 WIB dari Senin hingga Sabtu, dan menjadi mata acara yang selalu ditunggu pemirsa televisi khususnya kaum ibu.
Pada usianya yang ke-8 produser Check & Recheck, PT Seputar Indonesia, menganggap perlu untuk melengkapi mata acara ini dengan versi cetak yang dipublikasikan dalam bentuk suratkabar berformat tabloid.
Berbekal ketenaran yang sudah dicapai “induknya”, peredaran tabloid Check & Recheck cukup berhasil dan menjadi salah satu media hiburan yang mampu bersaing dan bertahan hingga saat ini. (Tim EPI)


Check and Balances - Adanya media independen sangat diperlukan, karena itu setiap instansi atau organisasi perlu semacam mekanisme pengecekan dan penyeimbangan (check and balances).
Banyak kalangan bisnis media melihat peran media sebagai pembela kebenaran dan pembawa suara rakyat. Kerja jurnalisme bukan saja mulia, tetapi juga penting wartawan untuk tidak korup, jujur, dan tidak berprasangka. Sayangnya, wartawan juga manusia dan sifat manusia pada umumnya seperti itulah adanya. Kita kadang-kadang tidak mampu menjaga standar tinggi yang ingin kita capai. Tanpa check and balances untuk menjamin akuntabilitas dan rasa tanggung jawab, media bisa menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya.
Penyalahgunaan kekuasaan bisa timbul dari pemahaman yang tidak jelas tentang jurnalisme. Mereka dengan bebas ikut-serta dalam politik, berpihak, sampai mereka menyadari beda antara dedikasi kepada ide dan membentuk aliansi politik dengan individu tertentu, dan bahwa jurnalisme bermutu itu berarti menjaga jarak tertentu dari politisi.
Media bukan saja menyebarkan informasi, tetapi juga bisa memanipulasi opini publik dan meningkatkan isu sampai tingkat tertentu. Media bisa mempercepat laju disampaikannya berita, dan tidak melaporkan semua sisi yang diberitakan. Kadang-kadang media bisa mendukung transparansi yang lebih besar, tetapi tidak ada jaminan bahwa media akan secara otomatis melakukan hal itu.
Sayangnya, bias sensasi ada di semua jenis media berita, termasuk yang punya reputasi, walaupun orang mengatakan bahwa kecenderungan ini lebih halus apabila berasal dari sumber yang terhormat. Salah satu faktor yang otomatis akan mengontrol penyalahgunaan kekuasaan adalah hilangnya pengaruh media tersebut bila penyalahgunaan itu terus berlangsung.
Sistem hukum yang tepat dapat menyeimbangkan kebebasan berbicara dan penyalahgunaan kekuasaan oleh media. Selain itu, membentuk dewan swaregulasi merupakan solusi yang lain. Badan regulasi itu ada di negara-negara industri, dan sudah mulai timbul juga di negara berkembang.
Di Guyana dan Tanzania, antara lain, yang tengah berusaha mendirikan dewan swaregulasi untuk menetapkan norma kejujuran, keadilan, penghormatan terhadap privasi, dan standar selera pada umumnya. Dewan menggunakan norma tersebut ketika mengambil keputusan mengenai keluhan terhadap media.
Dalam banyak hal dewan menggantikan proses pengadilan tradisional. Di Australia, misalnya, mereka yang mengajukan keluhan terhadap pemberitaan sebuah media diwajibkan menandatangani pernyataan tidak akan membawa keluhannya ke pengadilan jika tidak puas dengan keputusan dewan.
Keberanian dewan seperti itu ditentukan oleh sejumlah faktor. Pertama, keputusan untuk mendirikan dewan tersebut perlu berasal dari kalangan pers sendiri dan dikehendaki para anggotanya. Pemerintah, organisasi nonpemerintah, atau pihak-pihak yang berkepentingan lainnya bisa mendorong didirikannya dewan.
Pemerintah bisa berbuat hal yang sama dengan menjanjikan regulasi yang lebih longgar. Lembaga-lembaga pendukung, seperti organisasi masyarakat madani untuk kebebasan dan tanggung jawab media bisa memperkuat kerja dewan.
Faktor kedua, dewan pers perlu mempunyai pengaruh yang cukup berbobot kepada individu di organisasi pers, sehingga perusahaan media merasa terikat untuk mematuhi keputusan dewan (International Center Againts Censorship 1993, Pasal 19). Hal ini bisa dicapai dengan banyak cara, misalnya dewan bisa secara terbuka mengucilkan mereka yang tidak patuh pada keputusan dewan.
Faktior ketiga, dewan pers mengharuskan adanya kepemimpinan dan kehendak murni dalam pekerjaan media untuk meningkatkan kerja media. Keempat, ini merupakan faktor kritis, merancang petunjuk etika yang menyeimbangkan hak kebebasan media dengan tanggung jawab. Kelima, untuk mempertahankan legitimasi, ukuran-ukuran harus diterapkan dengan konsekuen.
Sistem pengadilan yang efektif dan independen serta mekanisme lain yang menjatuhkan sanksi terhadap perilaku yang tak dikehendaki bisa melengkapi peran media dalam meningkatkan good governance, meski sebuah pengadilan tidak cukup untuk mengekang tindakan sewenang-wenang oleh negara.
Pengadilan yang independen bisa membantu melindungi hak wartawan, membantu memastikan bahwa tindakan akan diambil terhadap hal-hal yang dibeberkan oleh media, tetapi juga bisa melindungi individu dari perlakuan buruk media.
Di Zimbabwe, misalnya, pengadilan cukup berhasil melindungi hak wartawan. Di Filipina, dibeberkannya di media soal limbah berbahaya yang dibuang oleh tentara asing mendorong kongres melakukan investigasi disusul dengan investigasi resmi oleh pemerintah. Pada akhirnya pemerintah menghentikan pembuangan limbah tersebut. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Hak Memberitakan: Peran Pers dalam Pembangunan Ekonomi, Seri Studi Pembangunan World Bank Institute, Penerbit Pusat Data dan Analisa Tempo, Jakarta, 2006).
Chevy, stasiun radio - Pertama kali mengudara dengan nama Chevy 88. Angka “88”, katanya diambil dari nomor rumah yang dijadikan markasnya di Jalan Pasirkaliki No. 88.
Bernaung di bawah badan hukum PT Citrahutama Eltravidya, Chevy memancar pada gelombang FM 103.6 Mhz, dengan Call Sign PM3FHN.
Sebagai radio yang memiliki slogan “The Exclusive Radio Station in Town” Chevy memiliki acara yang ditujukan bagi pendengar yang eksklusif, misalnya pendengar yang masih ingin bernostalgia dengan masa lalu sambil berbasa-basi menggunakan bahasa Belanda.
Sesekali Chevy menyelenggarakan acara yang memungkinkan para pendengarnya saling bertemu dan bertatap muka (copy darat). Acara pertemuan yang dijuluki “Oldies Gathering” ini dilaksanakan sekali dalam sebulan. 
Di Chevy juga ada kelompok pendengar Elvis Presley yang setiap tiga bulan menyelenggarakan “Elvis Off Air”. Juga para  penggemar acara Country Music yang memiliki kegiatan “Country Music Off Air”.(Tim EPI/DAR)


Cinde, stasiun radio - adalah nama di udara dari PT Radio Ria Cindelaras dan menjadi radio pionir untuk Kota Indramayu.
Mengudara pada gelombang FM 101,3 MHz, Cinde menjadi radio alternatif bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu dalam menyebarluaskan informasi pembangunan daerah kepada masyarakat.
Di bidang kesenian radio siaran ini menjadi pelindung bagi berkembangnya kesenian “Tarling” di Kabupaten Indramayu. Cinde juga sangat akrab dengan para petani, melalui Kelompok Pendengar Pertanian Pantura.
Mengudara dari studionya di Jalan Olahraga 21 Indramayu (berseberangan dengan Gedung Olah Raga Indramayu), Cinde menjadi press center panitia Pekan Olahraga Daerah (Porda) Provinsi Jawa Barat, ketika event olah raga tersebut diselenggarakan di Kota Indramayu. (Tim EPI/DAR)
Citra, stasiun radio - lahir sebagai Radio Compas Bandung pada tahun 1971 yang mengudara dari Jalan Ence Azis Bandung. Sebelum pindah ke Kota Sumedang, pernah menempati salah satu ruangan di Gedung Panti Karya Jalan Merdeka Bandung.
Di Sumedang namanya diganti menjadi Radio Citra yang mengklaim sebagai biang dangdut Kota Sumedang.
Mengudara pada gelombang FM 99.4 MHz, Citra juga menjumpai pendengarnya dalam siaran interaktif, yakni acara yang membahas berbagai permasalahan di Kota Sumedang. Acara yang mengudara pada pagi ini melayani pertanyaan, usul, maupun saran masyarakat Kota Sumedang, baik yang masuk melalui surat ataupun telepon, yang selanjutnya akan direspon oleh para pejabat Pemerintah Kab. Sumedang, sesuai permasalahan yang diajukan. (Tim EPI/DAR)


Comic Strip - Pada dasarnya, apapun yang namanya gambar akan lebih menarik dari tulisan. Konon sebuah gambar bisa lebih memudahkan pemahaman daripada seribu patah kata. Apalagi ditambah humor dengan bobot cerita yang menarik.
Comic strip atau cerita bergambar atau gambar bercerita, yang dikemas dengan sedikit huruf untuk teks dengan gambar yang telah bercerita sendiri melengkapi latar belakang cerita, sangatlah mudah dinikmati tanpa membutuhkan waktu tersendiri. Bahkan bisa dibaca sambil duduk dalam bus kota.
Tradisi penyajian cerita bergambar, komik dalam media massa terutama dalam suratkabar di Indonesia, memang belum begitu tua usianya dibanding dengan di Barat, meskipun kita mempunyai tradisi cukup panjang tentang seni humor tradisional seperti dagelan, seni wayang kulit dengan goro-goro Semar Gareng Petruk, cerita yang divisualkan dengan relief-relief candi serta wayang beber. Yang terakhir ini mungkin bisa disebut cikal bakal komik di Indonesia. Cerita wayang yang digambar di kertas dalam beberapa sequence dan episode, dengan seorang narator yang bercerita secara lengkap kepada publik.
Comic strip dalam artian cerita bergambar bersambung, atau cerita bergambar per episode, selesai dalam beberapa panel, yang dimuat berkala dalam media massa, baru muncul dengan jelas dalam era tahun enam puluhan. Beberapa suratkabar sudah memuat cerita bergambar dari luar negeri, seperti misalnya Suara Merdeka dengan kisah “Cowboy Rogers”. Beberapa majalah berkala pada waktu itu rupanya juga sudah menyadari akan kekuatan bahasa gambar yang layak dijual dalam penerbitannya. Seperti majalah Star Weekly dengan “Kisah Tiga Raja” karya Siauw Tik Kwie, Terang Bulan dengan “Kisah Angling Darmo” karya S. Topo atau “Den Mas Djangkung” karya B. Djiem. Salah satu komik yang selalu muncul di majalah Penyebar Semangat, yakni Mas Klombrot karya Indri Sardono, merupakan strip humor yang sempat menjadi favorit masyarakat pada waktu itu.
Mungkin sejalan dengan kemajuan teknologi cetak mencetak, kehadiran cerita bergambar terasa makin berarti pada era enam puluhan sampai tujuh puluhan. Pada waktu itu penerbitan buku komik karya R. Kosasih (“Siti Gahara” dan cerita-cerita wayang ditambah versi humor), Ardisoma (“Mahabharata”) serta kisah-kisah roman, legenda dan petualangan karya Taguan Hardjo sempat merajai pasar.
Begitu pula dengan generasi sesudahnya yang menyajikan komik silat seperti karya Ganes Th, atau juga kisah-kisah bertemakan kawula muda karya Yan Mintaraga, yang telah mewarnai kehidupan perkomikan di negara kita. Rupanya hal ini juga berpengaruh terhadap suratkabar, sehingga kini hampir setiap suratkabar menyajikan cerita bergambar karya komikus luar atau dalam negeri untuk mengikat pembacanya.
Komikus Indonesia yang hingga kini masih aktif dan setia menampilkan karyanya di suratkabar, serta konsisten menjaga mutunya, sehingga banyak menjadi panutan komikus lain adalah Teguh Santoso.
Sementara itu, di Barat sejak tahun tiga puluhan telah muncul maestro-maestro komik yang merajai dunia media massa. Seperti misalnya, Alex Raymond dengan “Flash Gordon”, Harold R. Foster dengan “Prince Valiant” serta Burne Hogart dengan “Tarzan”, Dick Calkin dengan “Buck Rogers” serta Chester Gould dengan cerita detektif berbumbu humor “Dick Tracy”.
Kemudian zaman sesudah perang bisnis komik semakin berkembang dengan adanya sindikasi internasional yang semakin banyak. King Features Sindicate, Universal Press Sindicate, United Features Sindicate, Marvel Comics Group dan sebagainya, memungkinkan cerita bergambar “Rip Kirby”, “Steve Canyon”, “Peanut”, “Blondie”, “The Wizard of Id” dan sebagainya, menjadikan komik sebagai bisnis yang mendunia. Bahkan kesadaran akan kekuatan bahasa gambar ini, telah muncul di Barat sejak permulaan abad 19 dengan adanya penerbitan gambar kartun yang berbobot kritik sosial. Seperti misalnya karya-karya Honore Dauminer (Perancis), William Hogart (Inggris) dan Thomas Nast (Amerika).
Menyadari "kekuatan" gambar dan melihat kenyataan bahwa hampir dua dekade ini perkomikan di negara kita boleh dibilang “tewas” (kecuali penerbitan komik yang berasal dari luar negeri), sementara orang bilang ini disebabkan ongkos produksi penerbitan buku komik dalam negeri yang sangat tinggi, membuat harga jual tak seimbang dengan daya beli. Menyikapi hal ini Pos Kota telah mengambil langkah tepat dengan menyajikan “Lembergar” (Lembaran Bergambar) sejak tahun 1976. Suplemen empat halaman yang sepenuhnya berisi gambar dan sebagian besar dikemas dengan humor itu diakui pimpinan Pos Kota mempunyai andil besar dalam meningkatkan tiras suratkabar tersebut! Saat berusia  30 tahun (tahun 2000), tiras Pos Kota mencapai antara 450.000-500.000 eksemplar). (Tim EPI/Wid; Sumber: Lembergar Kekuatan Bahasa Gambar, GM Sudarta, dalam Buku Pos Kota 30 Tahun Melayani Pembaca, Penyunting Encub Subekti, S. Saiful Rahim, Zulkarimein Nasution, Penerbit Litbang Grup Pos Kota, Jakarta, 2000).


Community Newspaper - sejenis koran yang wilayah peredarannya dibatasi hanya untuk komunitas/lingkungan tertentu. Dengan demikian materi yang disajikannya pun terbatas pada hal-hal yang berkait dengan komunitas tersebut.
Kehadiran koran komunitas di Indonesia berkembang cukup pesat seiring dengan berkembangnya daerah-daerah pemukiman di sejumlah kota besar. Di Jakarta, misalnya, hampir setiap daerah pemukiman baru -termasuk apartemen, memiliki koran komunitas, khusus untuk kepentingan masyarakat di lingkungan tersebut.
Selain berkait dengan berkembangnya daerah pemukiman, perkembangan koran komunitas juga didukung oleh menjamurnya komunitas para penghobi aktivitas tertentu seperti penggemar burung, tanaman, motor tua, klub sepak bola, dan sebagainya.
Koran komunitas juga dipandang efektif sebagai media beriklan karena dianggap menyediakan peluang bagi para produsen/penjual untuk menawarkan produknya dengan sasaran yang lebih terarah. (Tim EPI/NH)


Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) atau Konfederasi Wartawan ASEAN didirikan di Jakarta tanggal 11 Maret 1975 oleh para utusan dari organisasi wartawan nasional negara-negara anggota ASEAN (Association of South East Asian Nations/Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara). Organisasi wartawan dimaksud adalah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI/Indonesian Journalists'Association), National Union of Journalists' Malaysia (NUJM), National Press Club of the Philippines (NPC), Singapore National Union of Journalists (SNUJ), Confederation of Thai Journalists (CTJ), Vietnam Journalists Association (VJA), Laos Journalists Association (LJA).
Dalam kesempatan memperingati ulang tahun ke-25 tahun 2000 yang saat itu acaranya berlangsung tanggal 14-17 Februari di Jakarta, hadir pula para peninjau dari Khmer Journalists Association, Leage of Cambodian Journalists, dan Myanmar Journalists Association.
Pendirian CAJ bertujuan untuk memajukan kehidupan jurnalisme dan meningkatkan kehidupan pers yang bebas dan bertanggung jawab; mempererat hubungan internal para wartawan ASEAN dan antara wartawan ASEAN dengan organisasi wartawan di seluruh dunia; meningkatkan saling pengertian dan kerjasama antarwarga ASEAN demi terwujudnya kesejahteraan, keadilan sosial dan perdamaian; memperjuangkan aspirasi dan kepentingan warga ASEAN sehingga terjalin saling pengertian dan penghargaan yang lebih baik oleh masyarakat dunia.
Gagasan pendirian CAJ ini muncul pada awal 1970-an dari para tokoh wartawan/editor senior. Mereka ingin agar melalui berbagai media masing-masing di lingkungan ASEAN mampu menyumbangkan berbagai pemikiran serta gagasan kepada para pendiri perhimpunan bangsa-bangsa ASEAN agar kawasan Asia Tenggara ini bebas dari pengaruh maupun rivalitas Perang Dingin saat itu. Untuk itu melalui kiprah para wartawan serta medianya di wilayah ini perlu dijalin kerjasama, konsultasi serta diwujudkan perdamaian di antara "hati" dan "pikiran" warga atau masyarakat Asia Tenggara.
Pada 1970-an itu memang beberapa negara ASEAN seperti Thailand, Laos, Vietnam dan Kamboja terlibat dalam Perang Dingin (Cold War) antara Amerika Serikat dan para sekutunya di Barat dengan Uni Soviet dan antara China dengan Uni Soviet.
Pada awalnya pendiri CAJ hanya terdiri atas PWI (Indonesia), NUJM (Malaysia), NPC (Filipina), SNUJ (Singapura) dan CTJ (Thailand), namun kemudian menyusul VJA (Vietnam) dan LJA (Laos) pada bulan Maret 1996.
Sejauh ini CAJ telah menjalin kerjasama dengan Nihon Shinbun Kyokai, Japan Press Centre, the Asia Pacific Foundation of Canada, All-China Journalists Association, the Friedrich Naumman Foundation, the Friedrich Ebert Stiftung, Hong Kong Journalists' Associaton, Australian Journalists' Association, Asian Media Information dan Mass Communication Centre (AMIC) di Singapura, Asian Institute of Development Commnuication (Kuala Lumpur), International Institute of Journalism (Berlin), the International Federation of Journalists (Brussels), dan the United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).
Dalam struktur organisasi CAJ terdapat Board of Directors yang terdiri atas Presiden, Wakil Presiden, Sekretaris Jenderal, Sekretaris Tetap, Direktur, Auditor, dan Penasihat. Sekretariat Tetap CAJ berada di Jakarta sejak organisasi ini didirikan. Sekretaris Jenderal yang dipilih setiap dua tahun, diperkenankan untuk memiliki sekretariat kerja di negaranya untuk membantu Presiden CAJ menjalankan tugas dan fungsinya. Sekjen CAJ bertanggung jawab kepada Sidang Umum dan Board of Directors. (Tim/Wid. Sumber: Publikasi Silver Jubilee 25th Anniversary CAJ).


Correspondentie Blad van de Moeslim  Broedrschap
- suratkabar berbahasa Belanda ini terbit Yogyakarta antara tahun 1929 hingga 1933. Koran berbahasa Belanda yang diterbitkan Harmoni Djogja ini beredar sekali dalam sebulan.
Sebagai suratkabar bernuansa Islam, Correspondentie Blad van de Moeslim  Broedrschap khusus mewartakan keindahan dan kebaikan pengajaran Islam bagi pembaca. Banyak artikel berisikan pengajaran dan penjelasan berbagai hal terkait dengan ilmu pengetahuan yang bersumber Al Quran, dengan sasaran generasi muda. Selain itu suratkabar ini juga memuat berbagai artikel tentang ilmu pengetahuan umum dan komentar-komentar. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).