Kamis, 24 Agustus 2017

E dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Ed Zoelverdi  - Banyak yang melihat wartawan asal Kota Gadang, Sumatera Barat, kelahiran Banda Aceh ini sebagai suhu jurnalistik foto saja. Padahal wartawan senior ini kaya pengalaman sebagai jurnalis, fotografer, konsultan media publikasi, kolumnis dan juga menjadi juri dalam berbagai lomba foto nasional dan internasional.
Awal kariernya di dunia kewartawanan, dimulai pada tahun 1967 ketika menjadi karikaturis di harian KAMI dan layouter. Ia masuk sebagai wartawan harian ini untuk menulis dan memotret, juga mengasuh kolom khusus “Jangan Dilewatkan” dengan nama pena Batara Oedin dan Matoari.
Tahun 1970 menjadi asisten direktur fotografi dalam pembuatan film Dunia Belum Kiamat yang disutradarai Nya’ Abas Akup, juru kamera dan editor lima film pendek (16 mm) untuk acara Arus & Lembaga Kehidupan asuhan Dewi Rais di TVRI Jakarta. Tahun 1970 ikut dalam proses awal penerbitan majalah berita bergambar Ekspres. Tahun 1971-1994 masuk majalah Tempo dan mendapat tugas pertama mengurus rubrik Daerah-Kota-Desa hingga 1975.
Ia lalu ditugaskan sebagai editor Foto (1976-1985), selang-seling memegang rubrik Suka Duka, Pokok & Tokoh, Indonesiana, Perilaku serta Duniasiana. Pada tahun 1995 hingga 1998, Ed menjadi editor majalah berita mingguan Gatra. Kemudian menjadi penasehat redaksi tabloid Potensi, media komunikasi bisnis Bandung, dosen tamu FISIP UI untuk mata kuliah Jurnalistik Foto, dan instruktur bidang Jurnalistik Foto di Lembaga Pers Dr. Soetomo sejak 1991. Bidang pendidikan dan pelatihan memang prioritas bagi Ed.
Ed dikenal sebagai salah seorang “Mat Kodak” terkemuka di Indonesia. Sebutan Mat Kodak yang banyak digunakan pada wartawan foto, dipakai menjadi judul buku yang ditulisnya tentang teknik-teknik foto untuk wartawan.
Ed terpilih masuk ke dalam 40 fotografer Asia, Eropa dan Amerika yang disebut Tim Fotografer Dunia untuk mengerjakan foto buat buku A Salute to Singapore, sebuah esai fotografi, guna memperingati 25 tahun konstitusi negara pulau tersebut.
Ia tidak hanya dapat kehormatan menjadi juri dalam berbagai lomba foto di dalam negeri, juga di dunia antarbangsa seperti pada kontes foto se Asia yang diselenggarakan ACCU di Tokyo (1979), lomba foto yang diadakan majalah Asiaweek di Hongkong (1985), Lomba Internasional Foto dan Gambar Remaja di Abad Elektronika VI yang diselenggarakan Perhimpunan Telekomunikasi Internasional (ITU) di Geneve, Swiss (1981).
Ed mempelajari fotografi maupun jurnalistik secara otodidak. Pada masa remaja, ia pernah belajar melukis pada pelukis terkemuka Oesman Efendy dan Nashar di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia.
Sejak 1970, Ed banyak menulis artikel fotografi di berbagai penerbitan, dan sesekali menulis cerita satire di majalah HUMOR, di samping menulis buku. Ia banyak ambil bagian dalam penerbitan buku lain seperti mengerjakan desain sampul buku Herlina Pending Emas (1985), perancang dan editor buku esai foto Minangkabau (1993), editor buku  Kumpulan Foto Jurnalistik Indonesia karya peserta lomba (1989), editor buku Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang bersama H. Junisaf Anwar dan Nasif Basyir (1995), desain sampul buku Harun Zain Berhati Rakyat, mengerjakan desain cover buku kumpulan cerpen karya Martin Aleida Malam Kelabu, Ilya, dan Aku (1998), editor buku Rais Abin Dari Ngarai ke Gurun Sinai, seorang perwira tinggi Indonesia pertama asal Ngarai Sianok, Kota Gadang, yang menjadi Panglima Pasukan PBB (2002). Sebagai wartawan foto, ia juga pernah meliput perang ke seluruh wilayah Vietnam dan Kampuchea tahun 1979. Banyak negara sudah didatanginya untuk memotret seperti Belanda, Belgia, Inggris, Perancis, Jepang dan Malaysia.(Tim EPI/ES)
Elshinta - adalah sebuah jaringan radio siaran di Indonesia, yang berpusat di Jakarta. Sesuai dengan format acaranya “News and Talk”, radio ini menyiarkan berita dan informasi aktual, serta talkshow. Berita yang disiarkan termasuk berita seputar kondisi lalu lintas terkini, selain ekonomi, politik, sosial, budaya dan berbagai hal yang diperlukan oleh komunitas pendengarnya diseluruh kota besar di Indonesia.
Elshinta memiliki afiliasi dengan sejumlah radio di berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Tegal, Semarang, Surabaya, Medan, Lampung, Palembang, Tarakan, Ternate, Ambon, Aceh, Papua dan masih banyak lagi.
Radio Elshinta didirikan pada tahun 1968, di bawah naungan PT. RADIO ELSHINTA, namun format berita baru di-launching pada tanggal 14 Februari 2000 dengan nama acara "Elshinta News and Talk" yang disiarkannya 24 jam nonstop tanpa selingan lagu sama sekali, dari studionya di Jalan Joglo Raya No. 70, Jakarta. Rating Radio Elshinta berada diposisi 7 setelah radio-radio dengan format musik Dangdut versi AC Nielsen pada tahun 2006.
Pada awalnya Elshinta merupakan stasiun radio dengan target pendengar orang-orang dewasa berjiwa muda dan sebaliknya. Kemudian berubah format menjadi radio berita selama 24 Jam non-stop. Elshinta bekerjasama dengan stasiun televisi Indosiar membentuk network/jaringan/strategic partnership.
Setiap hari Elshinta menyajikan Acara Utama (Umbrella) yakni  "Elshinta News and Talk", Setiap hari 24 Jam Nonstop. Selain itu juga terdapat sub-sub acara  yang terdiri dari "Diskusi Interaktif", setiap hari, pukul 23.00-01.00 WIB; "Komentar Opini dan Solusi (Komisi) Anda", setiap hari, pukul 01.00-05.00 WIB;  "BBC Siaran Indonesia", setiap hari, pukul 05.00-06.00, 18.00-18.15 WIB dan 20.00-20.30 WIB; serta "Elshinta VOA Interaktif", setiap hari, pukul 22.30-23.00 WIB. 
Untuk melayani pendengar Elshinta yang berada di luar Jakarta, Elshinta menggunakan Sistem Jaringan Siaran (CBO-Centralizing Broadcast Operations) sehingga para pendengar di daerah dapat menikmati seluruh acara yang diudarakan Elshinta melalui gelombang yang berbeda. Masyarakat Bandung, misalnya dapat menyimak melalui Elshinta Bandung 89.3 FM; Tegal melalui Elshinta Tegal 99.9 FM; Semarang  melalui Elshinta Semarang 91 FM; Surabaya melalui Elshinta Surabaya 97.6 FM; Medan melalui Elshinta Medan 93.2 FM; Lampung melalui Elshinta Lampung 88.5 FM; dan Palembang melalui Elshinta Palembang 103.7 FM. Sedangkan untuk Jakarta sendiri para pendengar dapat menyimak siaran-siaran Elshinta melalui gelombang 90 FM.
Di samping itu Elshinta juga membentuk Radio Jaringan Anggota di sejumlah kota di Indonesia yakni Jambi, Ambon, Ternate, Tidore, Biak, Sorong, Selat Panjang, Solo, Padang, Palu, Batam, Tarakan, Dumai-Riau, Bukit Tinggi, Ampana, Mataram, Pekan Baru Riau, Blora, Ciamis, Lubuk Sikaping, Cirebon, Tembilahan-Riau, Purworejo, Meulaboh, Kab. Hulu, Manado, Malang, Nabire, Pematang Siantar, Bitung, Samarinda, Taliwang, Bima, Tanjung Pinang, Bali, Banda Aceh, Batu-Malang, Kab. Kepulauan Talaud. 
Sejak Januari 2006 Elshinta memperluas bentuk penyiarannya dengan mendirikan Elshinta TV. Stasiun televisi ini memulai siaran percobaan di wilayah Jakarta. ElshintaTV menggunakan frekuensi yang dulunya digunakan oleh Indosiar yang dialokasikan untuk Metropolitan Area (Channel UHF 35). Sejak Januari 2007, siaran ElshintaTV dapat ditangkap dengan jernih dan diterima di area Jabotabek - Banten, karena kekuatan pemancar barunya serta ketinggian antena 395 meter, yang disewa dari Indosiar.
Selama perjalanannya hingga kini Elshinta pernah meraih penghargaan dari berbagai institusi antara lain The Radio Program Award dari The Friedrich-Naumann-Stiftung, 2000; Adam Malik Award dari Menteri Luar Negeri RI, tahun 2002; Rekor Muri untuk Elshinta Peduli dari Museum Rekor Indonesia, 2002; Peduli Arsip Award dari Arsip Nasional Republik Indonesia, 2004; Mina Bahari Press Award dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI, tahun 2004, 2005 & 2006 PWI Jaya Award, 2006; Penghargaan dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, tahun 2006. (Tim EPI/KG; Sumber: PT Radio Elshinta)


E-mail - Electronic mail atau disingkat e-mail termasuk salah satu alat internet yang sangat berguna, dan biasanya, orang mulai berkenalan dengan internet melalui aplikasi ini.
E-mail adalah cara mengirimkan pesan timbal-balik antara orang-orang yang memiliki alamat internet serta orang-orang pada jaringan-jaringan lain yang punya hubungan e-mail ke internet. Internet mendukung beberapa bentuk e-mail yang berguna, antara lain komunikasi orang-ke-orang yang dikirim ke alamat penerima; komunikasi satu-ke-banyak orang agar pesan anda dapat dibaca banyak orang meski pesan itu tidak dikirim ke kotak pos mereka masing-masing.
Di samping komunikasi antar-orang, e-mail juga dapat anda gunakan untuk menikmati manfaat beberapa jasa internet, meski anda tidak memiliki perangkat lunak klien.
Pada dasarnya mengirimkan e-mail tidak ada bedanya dengan mengirimkan surat biasa melalui pos –yang dijuluki para pengguna e-mail “pos bekicot”. Anda menulis sebuah pesan. Pesan itu kemudian anda alamatkan pada orang tertentu, lalu anda masukkan ke dalam sistem transmisi yang membawa pesan itu ke tempat tujuannya.
Setelah tiba, pesan itu dibaca atau dibuang atau disimpan. Beda utama antara e-mail dan surat biasa adalah, pada e-mail pesan dikirimkan dari sebuah komputer dan diterima oleh sebuah komputer.
E-mail jelas memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan pos bekicot. Pertama, kecepatan. Seorang wartawan di St. Petersburg, Rusia, melaporkan mendapat jawaban atas e-mail yang dikirimkannya ke Washington DC dalam waktu kurang dari empat jam. Selain itu, anda tidak harus menunggu surat itu diambil atau diantarkan. Anda dapat mengirim e-mail kapan saja.
Kelebihan yang kedua, mudah. Sebagian besar program perangkat lunak untuk e-mail memungkinkan pengguna menjawab pesan-pesan secara otomatis cukup dengan menekan beberapa tombol saja. Selain itu, anda tidak perlu menyediakan sampul surat atau perangko.
Dan program perangkat lunak umumnya memungkinkan anda menyalin bagian-bagian yang ingin anda balas dari suatu pesan. Jadi, ketika menjawab, anda dapat dengan mudah memasukkan bagian dari pesan yang ingin anda balas. Informasi yang anda terima melalui e-mail dapat dengan mudah diteruskan ke pihak ketiga, disertai catatan atau jawaban anda.
Kelebihan ini terutama sangat berguna bila anda ingin mendapat reaksi sumber-sumber informasi atas ulasan yang mereka buat satu sama lain. Akhirnya, pesan-pesan e-mail dapat dengan mudah disimpan dalam file yang anda tentukan dalam komputer anda untuk digunakan bilamana perlu.
Kelebihan e-mail yang ketiga, tidak resmi. Berbeda dengan surat-menyurat resmi perusahaan, nada e-mail lebih mendekati nada orang bercakap-cakap. Pesan dapat sangat singkat dan langsung ke persoalan. Orang tidak mengharapkan kata-kata pembukaan dalam pesan e-mail. Gaya resmi banyak membuang waktu.
Dengan e-mail, informasilah yang paling penting, lebih dari yang lain-lain. Salah eja, salah tata bahasa, alamat tidak lengkap, dan kesalahan-kesalahan besar lainnya dalam tata tertib komunikasi lewat pesan tertulis, acap kali dimaafkan oleh pengguna e-mail, karena ia tahu orang yang bersangkutan mungkin belum mahir menggunakan pengolah kata.
Kelebihan e-mail yang keempat, baru. Karena baru, e-mail bagi beberapa orang terasa amat penting. Bila seseorang telah mulai menggunakan e-mail, ia akan sering memeriksa apakah ada pesan datang atau tidak, dan karena mudah digunakan, akan secepatnya membalas pesan yang masuk.
Selain itu, orang yang sering bertugas keluar kota sering memeriksa kotak e-mailnya ketika sedang dalam perjalanan. Dan karena banyak orang memeriksa sendiri kotak e-mailnya, dan bukannya menyuruh anak buah misalnya, meski beberapa di antara mereka ada yang punya perangkat lunak untuk memeriksa kotak e-mail, maka setiap pesan yang anda kirim kemungkinan besar akan langsung sampai pada orang yang dituju betapapun sibuknya orang itu.
Bagi dunia jurnalisme, banyak wartawan yang merasakan manfaatnya berlangganan dengan perusahaan penjual jasa informasi sekedar agar dapat menggunakan e-mail. Di pihak lain, wartawan harus menggunakan e-mail dengan hati-hati. Sementara ada yang mengecam bahwa anda tidak mengetahui pasti identitas sumber informasi jika anda hanya berkomunikasi dengan sumber informasi itu lewat e-mail, masalah yang sebenarnya bukan itu. Wartawan amat sering menghubungi orang yang belum pernah dijumpainya sebelumnya baik itu lewat telepon ataupun mewawancarainya tanpa mempersoalkan apakah identitas orang itu benar atau tidak.
Meski dengan e-mail anda dapat menambah jumlah sumber informasi yang dapat anda jangkau, sebagai wartawan anda tetap harus bekerja mendapatkan informasi dari sumber informasi yang terbaik untuk laporan berita. Hanya karena mudah mendapat informasi dari seseorang tidak berarti mutu informasi dengan sendirinya meningkat.
Soal mutu sumber informasi amat perlu diperhatikan dalam hubungan dengan kelompok diskusi, karena wartawan tidak tahu tingkat keahlian orang yang memberi ulasan dalam kelompok diskusi itu. Tidaklah mungkin mengetahui berapa banyak informasi keliru yang telah ditawarkan pada masa lalu dalam kelompok diskusi tanpa diketahui apakah orang yang memberikan informasi itu benar-benar ahli atau tidak.
E-mail juga memungkinkan interaksi yang lebih besar antara wartawan dengan sumber informasinya. Tetapi interaksi yang meningkat ada kelebihan dan kelemahannya. Di satu pihak, dengan e-mail wartawan dapat memastikan semua kutipannya benar-benar akurat dan bahan-bahan yang sulit dapat diserahkannya pada para ahli untuk diperiksa ulang. Di sisi lain, interaksi yang meningkat memungkinkan sumber informasi mengubah apa yang pernah diucapkannya, sehingga kesan mengenai suatu kejadian lebih baik dari yang sebenarnya.
Wartawan, di samping memanfaatkan kelebihan interaksi yang meningkat ini, harus menjaga jangan kelemahan yang disebutkan di atas terjadi.
Namun, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa e-mail telah dan akan membawa dampak yang sangat besar pada dunia jurnalisme. Tidak banyak orang yang dapat membayangkan persiapan laporan berita zaman kini tanpa bantuan hubungan telepon.
E-mail sudah dapat dipastikan akan memainkan peranan yang serupa dalam jurnalisme. (Tim EPI; Sumber: Buku Internet untuk Wartawan, Internet untuk Semua Orang, Randy Reddick dan Eliot King, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1996).


Embargo - Pengertian embargo secara garis besar adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber. Permintaan tersebut biasanya disampaikan secara tertulis pada materi bahan informasi atau berita yang diberikan oleh narasumber kepada wartawan atau pengelola media massa.
Dalam sebuah konferensi pers yang bermaksud menjelaskan latar belakang bahan informasi itu, embargo dimaksud juga bisa disampaikan secara lisan untuk memperkuat permintaan secara tertulis tersebut.
Istilah embargo secara resmi tercantum dalam pasal 7 Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang berbunyi: “Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan ‘off the record’ sesuai dengan kesepakatan”. KEJ ini disusun bersama oleh 29 organisasi wartawan yang ada di Indonesia dan yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Pers pada tanggal 14 Maret 2006 di Jakarta.
Selain tercantum dalam KEJ tersebut, sebelumnya istilah embargo juga sudah tercantum dalam pasal 14 Kode Etik Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (KEJ PWI) yang berbunyi: “Wartawan Indonesia menghormati ketentuan embargo, bahan latar belakang dan tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita tidak dimaksudkan sebagai bahan berita serta tidak menyiarkan keterangan ‘off the record’” Penjelasan atas pasal 14 KEJ PWI ini menyatakan bahwa embargo yaitu permintaan menunda penyiaran suatu berita sampai batas waktu yang ditetapkan oleh sumber berita, wajib dihormati.” (Tim EPI/Wid)


Encub Soebekti  - Semasa mahasiswa ia aktif di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI), dan bergabung di suratkabar harian KAMI. Peristiwa Malari (15 Januari 1974), membuat koran tempatnya bekerja dibredel bersama 12 suratkabar lain. Setahun kemudian ia ikut memimpin suratkabar Pos Sore. Tiga tahun bekerja, korannya kembali dibredel karena dianggap ikut memanaskan situasi politik kala itu. Setelah diizinkan terbit kembali nama Pos Sore pun diganti menjadi TERBIT.
Di harian ini Encub diberi tanggung jawab memimpin perusahaan merangkap redaktur pelaksana dan penanggung jawab (1978-1993). Subekti sempat ditahan oleh Bagian Intel Kodam Jaya dan Garnisun Ibu Kota. Selama tiga hari dua malam, ia bersama dua redaktur dan seorang wartawan TERBIT diinterogasi dalam kaitan liputan pembajakan pesawat Garuda Woyla bulan Maret 1981.
Tahun 1990, menjadi Ketua Litbang Grup Pos Kota sampai tahun 2000, di samping sebagai anggota dewan redaksi dan tetap sebagai penulis tajuk rencana, serta menjadi wakil pemimpin redaksi majalah FAMILI (1993-1994). Tahun 1994-1998 dipercaya menjadi pemimpin umum tabloid Bisnis Maritim, dan dari 1999 sampai sekarang dipercaya  sebagai direktur PT Gria Media Prima, divisi bidang penerbitan dan toko buku Grup Pos Kota. Sejak 28 Juli 2005 sampai sekarang, Soebekti dipercaya menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Perusahaan majalah dua mingguan berbahasa Jawa, Damar Jati, yang terbit dan beredar di Jakarta.
Selama 10 tahun menjadi penulis tetap editorial, Encub Soebekti kerap mendapat penghargaan jurnalistik. Sedikitnya tujuh kali ia mendapat penghargaan pemenang pertama Hadiah Jurnalistik Adinegoro, dua kali pemenang kedua dan dua kali pemenang tiga. Selain itu Soebekti juga pernah mendapat hadiah Kalam Kencana 1988, sebuah penghargaan tertinggi jurnalistik dari Dewan Pers untuk penulisan tajuk rencana terbaik tingkat nasional. Pada Hari Pers Nasional di Bandung (7-10 Februari 2006), Encub mendapat "Penghargaan 30 Tahun Kesetiaan Profesi" dari Pengurus Pusat PWI. Penghargaan ini diberikan atas jasa, pengabdian dan kesetiaan luar biasa dalam mewujudkan komitmen profesi.
Di organisasi kewartawanan ia sempat menjadi Sekretaris Pengurus Harian PWI Jaya (1987-1991). Tahun 1983 sampai sekarang menjadi anggota tim pelatih Lembaga Pendidikan dan Pelatihan PWI Pusat. Tahun 1988-1994 menjabat Ketua Pokja Bidang Kesehatan dan Narkotika PWI Pusat, dan tahun 1991-1994 sebagai Sekretaris Pengurus Harian Yayasan Hadiah Jurnalistik Adinegoro. Pada Kongres PWI di Palangkaraya 2003, ia terpilih menjadi Direktur Program Newsletter.
Ia sering menjadi tim juri untuk penilaian hasil liputan Pekan Raya Jakarta dan karya tulis jurnalistik yang diselenggarakan oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta mewakili unsur PWI, serta memberi penataran atau pelatihan jurnalistik bagi anggota PWI dalam program Karya Latihan Wartawan (KLW) dan para mahasiswa dari berbagai universitas maupun instansi. Sejak 1995 hingga sekarang, ia menjadi tenaga pengajar tetap di STIKOM Interstudi.
Selama berkarir di dunia kewartawanan, ia sempat mengikuti pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (Ext) selama dua tahun dan menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Publisistik (PTP), Jakarta. Di samping itu, mengikuti pelatihan jurnalistik IPMI tingkat nasional tahun 1969, pelatihan kewartawanan dan karyawan pers tingkat nasional Deppen tahun 1970 dan Karya Latihan Wartawan IV PWI Pusat di Bandung serta mengikuti pendidikan jurnalistik Non-Degree di Universitas Indonesia. (Tim EPI/Wid)