Rabu, 13 Desember 2017

G dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Galamadeia, koran harian - terbit di Bandung (website: www.klik-galamedia.com), adalah satu satu koran terbaik di Indonesia. Dewan Pers menganugerahi gelar koran terbaik setelah melakukan penelitian pada tahun 2005. Galamedia diterbitkan oleh PT Galamedia Bandung Perkasa, salah satu koran anak penerbitan Grup Pikiran Rakyat Bandung.
Galamedia adalah koran lokal yang beredar di Bandung dan sekitarnya, dengan tiras harian rata-rata 32.000 eksemplar. Tiras Galamedia mencapai 49.000 eksemplar jika Persib (Persatuan Sepakbola Indonesia di Bandung) memenangkan pertandingan.
Penetrasi Galamedia di Bandung menduduki peringkat kedua, setelah Harian Umum Pikiran Rakyat. Mayoritas status sosial ekonomi pembaca Galamedia adalah kelas C dan sebagian kelas B, dan A. Walaupun demikian hampir dapat dipastikan semua pejabat teras Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung & Cimahi, serta Pemerintah Kabupaten Bandung membaca Galamedia, demikian pula para perwira Polri yang bertugas di Bandung. Berita Galamedia melaporkan peristiwa dan fakta di Bandung dan sekitarnya, termasuk berita-berita kriminalitasnya.
Sebagaimana koran-koran lain Galamedia juga menampilkan iklan. Iklan-iklan di dominasi oleh iklan motor, jual beli rumah-mobil, iklan telepon, dan iklan baris. Sebagian besar iklan-iklan itu ditayangkan dalam website Galamedia di www.klik-galamedia.com. Mulau tahun 2008, Galamedia mengembangkan citizen journalism yang mengajak seluruh pembacanya berpartisipasi tukar menukar informasi.
Semula Galamedia bernama Gala,yang didirikan H. Sjamsuyar Adnan (almarhum) pada tahun 1967. Pernah bergabung dengan Grup Media Indonesia, dan sejak 14 Oktober 1999 bergabung dengan Grup Pikiran Rakyat. Sekarang ini PT Galamedia Bandung Perkasa dipimpin oleh H. Muhammad Ridlo Eisy (Direktur/Pemimpin Umum), H. Untung M. Rizal (Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab), dan H. Sarkim Wiranta (Pemimpin Perusahaan). Alamat redaksi di Jalan Sekelimus Barat no 6 Bandung 40266, telepon (022) 7511286, fax (022) 7505009, sedangkan alamat manajemen/sirkulasi/iklan di Jalan Belakang Factory no 2 C, Bandung 40111.
Harian Umum Galamedia yang menjadi anggota Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) dicetak oleh PT Granesia, Jalan Sekelimus Barat No 6 Bandung 40266, juga menerbitkan koran-koran komunitas, yaitu koran "Seputar Antapani", "Seputar Metro Raya", "Seputar Kopo Raya", dan "Seputar Sarijadi". (Tim EPI/RE)


Gamasi - stasiun radio. Nama ini dipilih karena pada saat  mengudara pada awal tahun  1967, tiang antenanya diikat pada pohon gamasi, pohon yang buahnya sering dipakai untuk membuat sayur kluwih. Namun nama ini kemudian dimakanai sebagai “Gaya Makassar Ada di Sini”. Nama ini dipilih atas kesepakatan para pendirinya.
Radio Gamasi pertama mengudara pada tahun  1967 s.d. 1969  dalam frekuensi siaran radio amatir. Kemudian, oleh pendirinya, H. Abdul Hamid, B.A., diubah menjadi format siaran radio profesional, di bawah manajemen berbentuk perseroan terbatas. Dengan demikian, sejak 28 Juni 1980 hingga kini, Gamasi dikelola oleh badan hukum penyiaran PT Radio Gamasi Jaya.
Radio Gamasi mempunyai visi menjadi stasiun radio terdepan dengan format lagu  dangdut dan lagu daerah Bugis-Makassar serta berperan dalam pelestarian budaya Sulawesi Selatan pada umumnya dan Bugis-Makassar pada khususnya .
Sedangkan misi yang diembannya adalah menjadi salah satu sarana media promosi jasa pelayanan periklanan; menyajikan lagu dangdut dan lagu daerah Bugis-Makassar dengan produk siaran yang informatif, edukatif dan menghibur; memberdayakan usia produktif yang mempunyai kecakapan terampil berbahasa daerah Bugis-Makassar; menjadi tren dangdut Sulawesi Selatan; serta mengangkat dan memajukan seni budaya daerah. (Tim EPI/KG; Sumber: Radio Gamasi)


Garin Nugroho Riyanto  - anggota Dewan Pers dari unsur tokoh masyarakat. Ia lebih dikenal sebagai kritikus film, pengajar S-2 untuk Bidang Ilmu Komunikasi Politik, sutradara film cerita, dokumenter, iklan televisi, serta video musik yang berhasil mendapatkan berbagai penghargaan di dalam dan di luar negeri.
Beberapa buku telah ditulis Garin, di antaranya, Kekuasaan & Hiburan (Bentang, 1995), Opera Sabun SBY (NASTITI, 2004), dan Seni Marayu Massa (Kompas-Gramedia, 2005).
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Fakultas Film dan Televisi IKJ ini, juga dikenal sebagai pendukung demokrasi dan kebebasan berekspresi, terutama melalui Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET) yang dipimpinnya. (Tim EPI; Sumber: PDAT)


Garoeda Merapi - suratkabar bulanan, adalah koran berbahasa Indonesia yang terbit di Yogyakarta pada tahun 1931. Suratkabar ini juga termasuk salah satu media perjuangan kemerdekaan di kalangan kaum muda, sebagaimana tergambar dalam motonya, “Soeara Indonesia Moeda dari tjabang-tjabang sekeliling Gunung Merapi” Solo, Klaten, Mataram, Purworejo dan Magelang.
Garoeda Merapi diterbitkan oleh badan penerbit “Sidang Pengarang di Mataram”, Yogyakarta dan dicetak di percetakan Typ Drukkerij Harmoni Djokdja. Pemimpin redaksi suratkabar tersebut adalah tokoh nasional yang bergerak di bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara, dibantu para penulis antara lain Sari dari cabang Surakarta, Soejono dari cabang Mataram, HKS dari cabang Magelang, dan Amir dari cabang Bagelen.
Garoeda Merapi yang beredar dengan tiras 1.000 eksemplar, dijual dengan harga langganan Rp 1,75 per tahun. Isi suratkabar tersebut kebanyakan tentang pendidikan. Pada edisi pertama, Garoeda Merapi menyoroti masalah-masalah penghambat kemajuan bangsa. Dalam rubrik “Penyakit yang Sukar Diobati”, Garoeda Merapi menulis, tradisi lama dalam praktik perdukunan, perjudian, mabuk-mabukan dan sebagainya, adalah ibarat penyakit yang sukar disembuhkan.
Selain berita dan artikel tentang perjuangan di bidang pendidikan, Garoeda Merapi juga memberitakan berbagai peristiwa di daerah, khususnya di wilayah Yogyakarta, Surakarta, Magelang dan Purworejo. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
Gatot Eko Cahyono (Yogyakarta, 10 Maret 1961), karikaturis - Sejak lama menekuni profesi sebagai karikaturis. Lulus dari SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) jurusan seni lukis, di Yogyakarta pada tahun 1982, Gatot kemudian mendalami ilmunya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Program Studi Seni Grafis, Jurusan Seni Murni, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan lulus tahun 1988.
Pada 1 September 1990 Gatot bergabung dengan HU Suara Pembaruan di Jakarta sebagai karikaturis tetap hingga sekarang. Di harian inilah Gatot belajar karikatur secara langsung dari salah satu karikaturis senior Indonesia, Pramono. Gatot pernah aktif juga di organisasi. PAKARTI (Persatuan Kartunis Indonesia) menjadi wakil sekretaris jenderal.
Di dalam perjalanan karirnya sebagai kartunis banyak penghargaan dan prestasi yang diraihnya. Antara lain Trophy PWI Jaya, Penghargaan Jurnalistik MH Thamrin, dan dari For Eastern Economic Review, Hongkong.
T
ahun 2003 Gatot juga mewakili Indonesia dalam Pameran keliling Kartun Asia ke-5 dan ke-6, di TIMJakarta, bersama Dwi Koendoro. Sejak tahun 2002 hingga sekarang, menjadi salah satu anggota dewan juri Anugerah Jurnalistik MH Thamrin PWI Jaya, Jakarta. Tahun 2003 hingga 2008 menjadi anggota Pengurus PWI Pusat, sebagai Ketua Departemen Karikatur, di samping menjadi karikaturis tetap di Suara Pembaruan, Jakarta.(Tim EPI/Sumber: Gatot Eko)


Gatra, majalah berita, terbit mingguan. Terbitnya Gatra berawal dari pencabutan SIUPP Tempo. Supaya pembatalan itu tak berimplikasi rumit bagi karyawannya, pemerintah memberikan SIUPP baru dengan menunjuk Bob Hasan dan Ciputra sebagai investor Gatra, sebagai pengganti Tempo.
Maka wajar jika penampilan Gatra tak jauh berbeda dari pendahulunya. Baik gambar, desain tata muka, tipografi, rubrikasi maupun gaya penulisannya hampir mirip dengan Tempo. Ini karena masih sebagian orang Tempo, ikut dalam jajaran Gatra. Antara lain, Ed Zulverdi, Farida Senjaya, Agus Basri, Araies Margono, Putut Trihusodo, dan Linda Djalil.
Meski demikian, Pemimpin Redaksi Gatra Herry Komar, secara tegas mengatakan, Tempo dan Gatra tetap lain. Awak yang memperkuat Gatra bukan hanya orang-orang eks Tempo, tetapi “orang dalam” pun memberikan banyak nuansa tersendiri.
Kemandirian redaksional, tambah Komar, tetap ada di Gatra. Pemodal sama sekali tidak campur tangan dalam urusan keredaksian.
Karena beragam rubrik yang disajikannya, kehadiran Gatra langsung dikenal masyarakat. Sejak terbit November 1994, Gatra langsung melesat, meninggalkan para pesaingnya dalam kelompok majalah berita. Gatra sempat menempati peringkat pertama dalam jumlah oplah sebanyak 153.000 tiap terbit.
Pendapatan Gatra baik dari oplah maupun iklan perbandingannya tidak begitu berbeda. Sedangkan pangsa pasar yang dibidik manajemen Gatra tidak saja segmen menengah ke atas, tetapi juga kalangan mahasiswa.(Tim EPI; Sumber: PDAT)


Gayus Siagian (Balige, Sumatra Utara, 5 Oktober 1920-Jakarta, 10 Februari 1981) - wartawan dan seniman. Berpendidikan AMS bagian sastera Timur dan klasik Barat; pernah memimpin Harian Patriot dan majalah Arena di Yogyakarta (1948); kepala Bagian Skenario dan Publicity NV Perfini (1956); pemimpin redaksi Harian Warta Indonesia, Republik, Lembaran Minggu, majalah Aneka (sampai 1960); anggota DPR-GR/MPRS (sampai 1964); anggota Badan Sensor Film (1970-1972); dosen Akademi Sinematografi LPKJ; anggota pengurus Yayasan Idayu Jakarta; tokoh Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN); anggota pengurus Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN); Wakil Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia.
Buku-buku yang pernah diterjemahkannya antara lain Ratapan Tanah Air (Alan Paton); Gerhana (Arthur Koestler); Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich (Solzhenitsyn). Di antara skenario film tulisannya: Enam Jam di Yogya (1950); Krisis (1953); dan Embun (1951). Tulisan lain, Perpisahan (kumpulan cerpen) dan Wasiat Bung Karno. (Tim EPI; Sumber: PDAT)


Gelora Berdikari - koran mingguan. Terbit pertama kali di Kota Solo, beberapa saat setelah meletusnya peristiwa berdarah G-30-S/PKI tahun 1965.
Penerbitnya adalah Yayasan Gelora Berdikari yang beralamat di Jalan Diponegoro Pav. SMP 5, Solo. Gelora Berdikari yang terdiri dari 4 halaman broodsheet, terbit berdasarkan SIT No. 00325/U/SK/DPHM/SIT/65. Pengelolanya terdiri atas  Soemowinoto (Direksi), Badroen, B.A. (Pemimpin Umum), H.S. Soemaryono (Pemimpin Redaksi) dan W. Wandawa (Wakil Pemimpin Redaksi)
Dengan slogan “Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat”, Gelora Berdikari menyajikan rubrik berita-berita umum di halaman 1, berita-berita hiburan berupa kolom untuk orang muda, ramalan bintang, cerita bersambung berbahasa Jawa, mimbar agama, cerpen dan lain-lain di halaman  dalam, serta iklan di halaman 4. 
Rubrik Pojok Gelora Berdikari dengan nama “Sudut Hanura” dan penjaga pojok “Anak Rakyat”, merupakan kolom yang memuat sentilan-sentilan tajam terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Di samping itu, Gelora Berdikari juga memberi ruang dalam kolom dari hati ke hati - Wong Solo yang memuat berbagai keluhan masyarakat.
Dengan oplah 10.000 eksemplar dan dicetak di Radya Indira Yogyakarta, Gelora Berdikari saat itu dijual dengan harga eceran Rp 15 per eksemplar. Gelora Berdikari tidak berumur panjang dan hanya sempat terbit beberapa tahun. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
Gema Islam - majalah bulanan. Ketika Buya HAMKA berada dalam tahanan (1962), sejumlah tokoh mengambil inisiatif untuk menerbitkan majalah Gema Islam. Di antara tokoh itu antara lain Letjen. TNI Sudirman. Gema Islam diusahakan sebagai pelanjut Panjimas, namun sosok Buya HAMKA sengaja disembunyikan, karena memang beliau berhalangan tetap (dalam tahanan).
Turut bergabung dalam Gema Islam adalah Letjen. TNI Sarbini. Sedangkan Brigjen. H Muchlas Rowi menjadi Pemimpin Redaksi, dengan Rusydi Hamka sebagai Wakil Pemimpin Redaksi merangkap sekretaris redaksi. Pemimpin umumnya adalah Letjen. Sudirman.
Gema Islam banyak mendapatkan suplai informasi dini dari Jenderal A.H. Nasution, terutama yang menyangkut perkembangan politik dalam negeri. Kerap kali secara berkala Jenderal Nasution salat Jumat di Masjid Agung Al-Azhar sambil berdiskusi singkat dan bertukar informasi dengan tokoh-tokoh di sana.
Sesungguhnya Gema Islam sudah mendapatkan tempat di hati umat, tetapi karena kesulitan keuangan dan SDM, hanya mampu bertahan sekitar dua tahun. Letjen. Sudirman bersama Letjen. Sarbini, Brigjen. Rahardjodikromo, dan lain-lain, lebih sibuk di Pendidikan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) -- yang mereka dirikan. Organisasi ini sempat memiliki radio siaran di Tebet dan cukup efektif untuk membina umat paska peristiwa pemberontakan G30S/PKI. Sejumlah mubalig dan juru dakwah silih berganti mengisi siaran di radio ini, sehingga radio PTDI cukup terkenal di Jakarta.
Gema Islam sendiri juga secara aktif memberitakan berbagai kegiatan umat Islam dengan sikap politiknya yang jelas dan lugas, menolak PKI. (Tim EPI/Bai)


Genderang Pradjurit - koran mingguan berformat broadsheet ini beredar setiap hari Sabtu, di Manado, sebanyak empat halaman. koran ini diterbitkan oleh Dinas Penerangan Kodam (Pendam) XIII Merdeka, dengan Penanggung Jawab Lettu. Soemardi (Kapendam), Pemimpin Redaksi Tandaju, dan Anggota Redaksi W. Woworuntu, E. Rumehiang.
Genderang Prajurit yang beralamat di Jalan Jaksa Merdeka No. 3, Manado, terbit sejak tahun 1958 dan bertahan hingga tahun 1964. Dengan slogan “Untuk Tentara dan Umum”, Genderang Prajurit menyajikan rubrik amanat, sastra berupa cerita pendek dan cerita bersambung, renungan, sejarah, dan berita umum. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Genie - Mayoritas pembaca muda adalah wanita muda. Ide Taboid GENIE bermula dari membuat buku kisah sukses perjalanan bintang-bintang Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Ide ini menuai sukses dengan tiga kali cetak. Dari sinilah terpikir untuk menerbitkan Tabloid GENIE, dengan berita-berita tentang AFI, Indonesian Idol, dan KDI.
Ketika mengelelola majalah bersegmen anak muda, sekurangnya terdapat tiga prinsip bisnis yang perlu diterapkan dan menjadi perhatian penting. Pertama, produk harus menarik pembaca. Kedua, produk (penerbitan) tersebut harus sesuai dengan kebutuhan pembaca. Dan ketiga adalah pembaca (bisa)memutuskan untuk membeli produk bersangkutan.
Jauh hari sebelum memutuskan untuk menghadirkan penerbitan media yang menyasar pembaca usia muda, kami melakukan upaya identifikasi kebutuhan (informasi) yang mereka kehendaki. Proses ini lantas menghasilkan lima jenis informasi yang kini dikemas dalam setiap penerbitan Tabloid GENIE. Kelimanya adalah Info Gossip, Info Entertainment, Info News, Info Information, dan Info Education. Mengapa Gosip?
Informasi seputar gosip, terutama gosip selebriti, ini merupakan kebutuhan penting bagi para pembaca muda sebagai modal utama dalam pergaulan. Mereka -pembaca muda usia  tidak mau terlihat ketinggalan berita, baik dalam pergaulan sekolah, luar sekolah maupun di rumah. Bila perlu, semua gosip yang ada di media, mereka akan serap informasinya.
Mengapa Entertainment?
Dunia hiburan adalah dunia pembaca muda. Coba lihat, yang menjadi berita di tayangan infotainment. Kebanyakan adalah mengenai orang-orang muda.
Mereka mendominasi dunia hiburan dan entertainment baik di layar kaca maupun di dunia nyata. Jadi,
informasi mengenai hiburan pun pasti akan menjadi kebutuhan utama pembaca muda. Mereka pun tidak mau terlihat kurang percaya diri. Mengapa News?
Berita aktual seputar selebriti ternama terutama yang memiliki nuansa tragedi, kriminalitas, skandal, dan sebagainya, tetap menjadi kebutuhan yang menarik untuk diketahui. Bukan hanya oleh pembaca muda, tetapi juga oleh pembaca pada umumnya. Apalagi pelaku-pelaku utamanya adalah orang-orang muda, yang tentunya bisa menjadi cermin atau refleksi tingkah polah mereka (pembaca).
Mengapa Information?
Berita-berita berupa informasi ini juga mendapat porsi perhatian yang cukup baik. Value media cetak ada di sini. Berita sekilas yang singkat, padat, dan informatif bagi para pembaca muda, memang sangat diperlukan, mengingat singkat aktifitasnya yang tinggi.
Mengapa Education? Berita-berita edukasi ini juga berfungsi memberikan value terhadap media cetak, karena memberikan informasi yang bersifat tips-tips, dan teknis praktis yang mudah dilakukan dan mudah ditiru. Informasi tersebut dapat menjadi second opinion atas informasi yang diperoleh dari pihak lain. Tips-tips dapat menjadi pelengkap informasi yang diperlukan pembaca muda.
Persoalannya sekarang, bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan pembaca muda yang teridentifikasi kebutuhannya seperti di atas? Pengalaman menunjukkan, beberapa hal berikut menjadi kunci dalam memelihara agar kebutuhan (informasi) pembaca GENIE selalu terpenuhi.
Pertama, Rubrikasi sesuai dengan kebutuhan; kedua, content harus unggulan; ketiga, kemasan juga harus menjadi magnet; keempat, sosialisasi produk melalui (iklan) di televisi; dan kelima, menggaet penonton televisi muda.
Guna menjaga pula agar pembaca senantiasa merasa puas terhadap produk yang disampaikan, kami senantiasa melakukan monitoring Surat Pembaca, monitoring agen media cetak, dan monitoring trend market. Ketiga hal itu sangat penting agar upaya-upaya yang kami lakukan dalam memelihara kepuasan pembaca bisa sejalan dengan kebutuhankebutuhan mereka.
Berpijak dari apa yang telah kami lakukan tersebut, tampak hasil yang cukup menggembirakan. Dalam pengamatan kami, saat ini GENIE mengalami peningkatan tren pertumbuhan pembaca. Artinya content dan kemasan yang telah kami sajikan selama ini sudah sesuai harapan pembaca. Sungguh pun demikian, kami tetap melakukan perbaikan-perbaikan secara terusmenerus. (Tim EPI. Sumber: Budi Purnomo, 1001 strategi menarik pembaca muda, nie Indonesia)


Genta Swara Sakti Bali -stasiun radio, lebih dikenal dengan sebutan Radio Genta. Didirikan tanggal 5 Januari 2002, tepat setahun setelah meninggalnya Ketut Nadha, perintis Kelompok Media Bali Post.
Radio Genta, merupakan radio FM pertama di Bali yang bahasa pengantarnya bahasa Bali. Tak hanya itu, musik dan lagu-lagunya semuanya bernuansa asli Bali. Karena itu, Radio Genta dijadikan radionya krama (masyarakat) Bali.
Kelahiran Radio Genta enam tahun silam, tidak lepas dari keprihatinan akan makin menyusutnya pengguna bahasa ibu yakni bahasa Bali. Kebanggaan menggunakan bahasa Bali kian hari terasa semakin luntur.
Ibu, sebagai ”kamus hidup” bagi sang buah hati lebih senang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Demikian pula pergaulan di sekolah, lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Atas kondisi ini diyakini, lambat laun, bahasa Bali akan menjadi bahasa langka di tengah arus globalisasi. Bahasa Bali akan ditinggalkan dan orang Bali akan tercerabut dari akar budayanya.
Selain itu, media massa khususnya radio di Bali sudah diserang “demam” Jakarta. Bahasa slank dan bahasa gaul lainnya, sangat mendominasi siaran-siaran mereka. Kalau toh ada lagu-lagu Bali, tidak lebih dari dua jam setiap harinya. Atau bahkan sama sekali tidak ada.
Dari keprihatinan dan kondisi itulah, pengelingsir (sesepuh) Bali Post, Ibu Desak Gde Raka, menggagas dan merintis pendirian radio berbahasa Bali. Namun ditekankan, walaupun kental dengan kelokalan, informasi-informasi yang disampaikan juga tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat yang mengglobal. Jangan sampai kehadiran radio ini makin menyempitkan wawasan masyarakat Bali. Apalagi Bali sebagai daerah tujuan wisata, masyarakat harus disadarkan akan pentingnya menjaga serta melestarikan alam dan budaya Bali termasuk bahasanya.
Apa yang dilakukan Radio Genta Bali dengan bahasa Balinya, ternyata mendapat sambutan pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Denpasar. Setahun setelah radio ini mengudara, Disdik Kota Denpasar melahirkan program “Sehari Berbahasa Bali di Sekolah”. Artinya, satu hari dalam seminggu siswa diwajibkan menggunakan bahasa Bali di sekolah. Program itu, secara diam-diam juga dilaksanakan di sejumlah kabupaten di Bali. Intinya sama yakni bagaimana bahasa ibu tidak punah dan terus digunakan oleh penuturnya. 
Sebagai radionya krama Bali, Radio Genta makin diterima oleh masyarakat. Salah satu buktinya adalah makin meningkatnya apresiasi para pengusaha yang ada di Bali maupun di luar Bali untuk berpromosi melalui stasiun radio yang beralamat di Gedung Pers Bali Ketut Nadha, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar ini.
Namun yang tak kalah pentingnya adalah makin meningkatnya “pamor” bahasa Bali di mata generasi muda. Mereka tidak lagi canggung berbahasa Bali baik di rumah maupun di tengah pergaulan mereka. (Tim EPI/KG, Sumber: Kelompok Media Bali Post)


Gerardus Mayela Sudarta - kartunis, adalah pencipta tokoh kartun Oom Pasikom. “Saya ingin berbuat sesuatu melalui kartun, harapannya tentu ada perbaikan dari suatu ketidakberesan yang terjadi di negeri ini,” kata GM Sudarta.
Jebolan Sekolah Tinggi Seni Rupa, Asri, Yogyakarta, itu mula- mula bergabung dengan sanggar Almarhum Sri Harto. Di sekolah menengah atas Sudarta membuat komik dan gambar untuk Pos Minggu dan Suluh Indonesia di Jakarta, serta Penyebar Semangat, Surabaya. Bersama Pramono dan Sapto Hadi, ia kemudian terpilih mendesain diorama Museum Nasional, Jakarta. Sudarta turut mendesain Monumen Pahlawan Revolusi, Lubang Buaya. Lewat info wartawan Jasso Winarto, tahun 1967 ia melamar lowongan karikaturis di Kompas.
Sebagai karikaturis, kadang-kadang, ia memperoleh hambatan dari luar. “Kita ini orang Timur,” kata pengagum kartunis David Levine dan Oliphan dari Washington Post, serta A. Sibarani, itu. “Tidak usah pejabat, kita pun kalau dikritik sering marah.” Karena itu, walaupun misinya untuk memperbaiki, “Dengan karikatur saya tidak ingin mengubah pendapat seseorang,” katanya. Sudarta menamakannya sebagai “Karikatur Tepo Seliro,” karikatur tenggang rasa.
Pada awal 1985 popularitas Oom Pasikom sempat dimanfaatkan oleh sebuah perusahaan sebagai merk produk selai kacang. Ini mendorong Sudarta memperkarakannya lewat penasihat hukum.
Anak Klaten Jawa Tengah, yang meraih Hadiah Adinegoro 1983 dan 1984, dan penghargaan Kalam Kencana dari Dewan Pers, itu beberapa kali berpameran, di dalam dan luar negeri. Ia mengumpulkan karya kartunnya dalam Duillee, 1973, Smiles in Indonesia (bersama O.G. Roeder), 1974, Indonesia 1967-1980, 1980, dan Anti Depressant (terbitan berkala tentang humor dokter), 1982-1984. G.M. Sudarta menikahi wanita asal Ambon, Rosita Souhoka.
Om Pasikom adalah tokoh kartun yang diciptakan Sudarta dalam bentuk seorang pria dengan topi pet kotak-kotak, kemeja putih polos dibalut jas yang ditambal sulam di bagian lengan dan dipadukan celana warna gelap.
Dalam Oom Pasikom, Sudarta mengangkat topik-topik yang sedang hangat di perbincangkan di media massa dan publik Indonesia. Kritikan dalam kartun itu dikemas sederhana, namun lucu sehingga mengundang senyum si pembaca, bahkan menjadi bahan perenungan serta koreksi diri bagi orang-orang yang dikritik. Pada usia 62 tahun, pria yang akrab dipanggil Pak GM itu telah membuat ratusan kartun tentang berbagai peristiwa di Indonesia. Satu di antaranya kartun berjudul “Eforia Berdirinya Orde Baru”.
Dalam gambar kartun tersebut tampak Soeharto membawa sapu lidi sedang mengayunkan sapunya, 'membersihkan' orang-orang yang dibajunya bertuliskan Orde Lama dan sisa Orde Lama. Pada bagian lain, Sudarta mengangkat tema-tema kemanusiaan melalui karya-karyanya tentang penggusuran gubuk-gubuk milik warga Bendungan Hilir, Jakarta.
GM juga mengkritik sikap-sikap para pemimpin negara ini berikut kebijakan-kebijakannya, mulai dari Presiden Soekarno, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Menteri Sekretaris Negara era pemerintahan Soeharto, Moerdiono, yang hadir dalam pembukaan pameran mengaku terkejut ketika mendapati dirinya ‘disindir’ dalam gambar kartun Oom Pasikom ketika masih menjadi menteri dulu.
“Saya kaget dan sekaligus merasa diingatkan oleh Oom Pasikom. Waktu itu, Presiden meminta saya menyampaikan agar rakyat ‘mengencangkan ikat pinggang’, karena keadaan yang sulit, tapi menurut Sudarta waktu itu kondisi rakyat sudah teramat sulit sehingga tak bisa mengencangkan ikat pinggang lagi,” katanya. Moerdiono mengenang, pada saat itu sindiran kartun Sudarta digambarkan dengan Oom Pasikom yang memakai ikat pinggang dan mengencangkannya hingga pinggangnya mengecil dan ikat pinggang itu putus. “Sudarta cerdas dalam mengkritik tanpa membuat orang yang dikritik sakit hati,” katanya. (Tim EPI; Sumber: Republika Online/PDAT)


Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie (Tondano 5 November 1890-Jakarta 30 Juni 1949) - wartawan, perintis kemerdekaan. Dr. Gerungan Saul Samuel Jocob Ratulangie yang akrab dipanggil Sam Ratulangie berhasil mencapai MO-acte untuk ilmu pasti dan ilmu pendidikan.
Pada tahun 1934 di Jakarta, Sam Ratulangie pernah berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia menerbitkan mingguan berbahasa Indonesia bernama Penindjauan. Sam Ratulangie menerbitkan dummy-nummer (nomor contoh) suratkabarnya pada tanggal 1 Desember 1937 dalam bentuk mingguan.
Menjelang perang Pasifik, Sam Ratulangie ditangkap pihak Belanda dengan tuduhan korannya, Nationale Commentaren, dianggap sebagai alat subversi Jepang dan dibiayai oleh Jepang.
Sebagai reaksi atas penangkapannya itu, pada tanggal 23 Januari 1941, Harian Tjaja Timur membuat tajuk Omong Kosong yang ditulis Parada Harahap.
Ketika Jepang masuk ke Indonesia, Dr. Ratulangie masih di Jawa. Baru pada tahun 1944 ia dipindah ke Makassar. Pada tanggal 5 April 1946 dia bersama beberapa rekannya disergap, kemudian dibuang ke Serui sebuah pula terpencil di Biak.
Dua tahun kemudian ia dibebaskan. Melalui Makassar dan Surabaya akhirnya ia sampai di Yogyakarta. Tiga anugerah diterimanya, yaitu Bintang Gerilya, Bintang Mahaputera Tingkat II, dan Bintang Satyalencana. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia 2007)


Global FM Bali - studio radio, “De koh ngomong” (jangan malas bicara), ibaratnya tagline/motto yang mendorong lahirnya Global FM Bali. Kata itu serasa bertuah untuk membangun kekuatan masyarakat. Kata itu, secara maknawi, mungkin merupakan bentuk protes sekaligus bentuk reformis pola pikir masyarakat Bali yang sebelumnya cenderung diam dan tak suka protes.
Karena belenggu budaya, umumnya orang Bali malas bicara atau koh ngomong terhadap hal-hal yang selama ini menekan nuraninya.
Akan tetapi, berbeda halnya setelah lahirnya Global FM Bali. Masyarakat mulai berani ngomong (berbicara) dengan mengungkapkan pendapatnya terkait hal-hal yang menyentuh pikiran dan perasaannya.
Akan tetapi berpindahnya eskalasi berpikir orang Bali lewat Global FM itu, mendapat pemikiran kritis Sang Perintis Pers Bali Ketut Nadha (almarhum). Menurut pemikiran beliau, ngomong bukan sekedar berbicara. Kebebasan berbicara dalam konteks demokrasi adalah kebebasan bertanggung jawab.
Kebebasan yang membawa kebaikan dan melindungi kebenaran. Kebebasan yang juga bermata pada terjaminnya kebebasan orang lain. Juga berarti kebebasan yang tidak sewenang-wenang. Demikian pemikiran sekilas sang perintis, yang telah terpatri pada pemikiran kebebasan pers pada pengelola Global FM Bali hingga saat ini.
Mungkin juga sudah menjadi takdirnya, radio siaran yang berada di bawah penangung jawab I Dewa Gede Jana Yudi ini, lahir bertepatan dengan tahun reformasi 1998 silam. Mulai saat itu, banyak wacana kritis dilahirkan lewat Global. Mulai dari kebijakan pemerintah, sosial, politik serta bidang kemasyarakatan lainnya, sehingga menjadi sasaran operasi tajamnya pemikiran kritis awak radio dan para penggemar Global FM Bali.
Di tangan sang kreator, Satria Naradha, yang tak lain adalah putra almarhum Ketut Nadha, wacana itupun menjadi demikian penting dalam mendidik dan meningkatkan pembelajaran publik terhadap hal-hal yang dapat membangun Bali.
Dari tangan Satria Naradha, banyak konsep dan strategi komunikasi massa yang digunakan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam membangun daerahnya. Untuk mempertegas langkah itu, Jana Yudi, melakukan pembenahan internal serta networking sehingga dapat menjadi media untuk mencerdaskan masyarakat Bali yang selalu up to date. (Tim EPI/KG. Sumber: Kelompok Media Bali Post)


Global FM Jogja - studio radio. Radio siaran yang relatif masih berusia muda ini hadir di Kota Yogyakarta sejak Februari 2003, mengudara pada Frekuensi 107,6 MHz. Global FM Jogja  mengubah format menjadi radio berita dalam kemasan multikultur yang sebelumnya berformat hiburan. Gaya penyiaran kental dengan  budaya lokal, bukan bergaya Jakarta. Langkah ini mendorong eksistensi budaya  lokal untuk memperkokoh identitas bangsa.
Setiap media mempunyai kelebihan masing-masing. Media cetak dapat menyajikan informasi dengan ilustrasi yang dapat dibawa ke mana-mana dan juga mudah pendokumentasiannya. Media televisi, dapat menyajikan informasi semaksimal mungkin baik dari audio maupun video, tetapi kebanyakan perlu tempat khusus untuk menikmatinya. Media radio, untuk menikmatinya dapat dimana saja, hampir tidak perlu tempat atau waktu khusus. Sebagai media massa yang bergerak di media audio, Global FM  Jogja membidik segmen pendengar dewasa.
Selain menyajikan hiburan Global FM Jogja juga mengemas berita sebagai informasi untuk publik. Semua mata acara dipancarluaskan dari Jalan Wonosari Km.8, Potorono , Banguntapan Bantul. (Tim EPI/KG. Sumber: Kelompok Media Bali Post)


Global FM Lombok - stasiun radio. Tepat 15 Mei 2008 Global FM Lombok berusia lima tahun. Prestasi yang diukir radio siaran dengan visi “Radio Berita Terkemuka di Nusa Tenggara Barat (NTB)” ini cukup membanggakan. Salah satunya, tahun 2005 Global FM Lombok memperoleh Anugerah Handayani, penghargaan tertinggi di bidang pendidikan yang diserahkan langsung Gubernur NTB, Drs. H.L Serinata kepada Direktur Global FM Lombok, Agus Talino, pada peringatan Hari Pendidikan di Mataram, Ibu Kota NTB.
Penghargaan di bidang pendidikan tersebut merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi Global FM Lombok, karena bagi Global FM Lombok tidak dimaknai sebatas sebagai simbol prestasi berbentuk “piala”, atau  sebagai pengakuan bahwa Global FM Lombok telah memberi kontribusi terhadap pengembangan sektor pendidikan di negeri ini, khusus NTB, semata, melainkan bahwa keberadaan Global FM Lombok benar-benar bermanfaat, berguna dan bermakna bagi masyarakat dan daerah ini. Karena, pada dasarnya, “kelahiran” dan keberadaan Global FM Lombok dihajatkan untuk ikut serta membangun dan mengembangkan negeri ini, khususnya NTB.
Karena itu, pilihan Global FM Lombok menjadi “radio berita” benar-benar berdasarkan pertimbangan yang sangat matang. Global FM Lombok berkeinginan memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, dengan mengembangkan jurnalisme radio yang profesional.
Untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, Global FM Lombok, sepanjang lima tahun ini, tidak saja memperkuat jajaran redaksinya dengan merekrut reporter yang andal, tetapi juga memperluas dan memperkokoh jaringan yang sudah dimiliki, misalnya bekerja sama dengan BBC London, LKBN Antara, Radio 68 H Jakarta dan Redaksi Kelompok Media Bali Post.
Tidak itu saja, kesadaran yang terus mengingatkan Global FM Lombok adalah bahwa kepuasan yang dimiliki masyarakat tidak statis, tetapi dinamis. Karena itu, evaluasi program selalu dilakukan secara ketat dan matang untuk terus melakukan kreasi dan inovasi, sehingga program-program yang dimiliki Global FM Lombok bisa mengikuti dinamika yang terjadi di masyarakat. Termasuk untuk program hiburan, Global FM Lombok  selalu berupaya memanjakan pendengar dengan lagu-lagu yang sedang ‘’trend’’.
Untuk memperoleh lagu-lagu baru yang sedang ‘’trend’’ Global FM Lombok membangun kerja sama dengan berbagai  production house (PH) di Jakarta seperti SONY BMG, Musica Studio, Aquarius Music Indo (AMI) dan lain sebagainya.
Sebagai bentuk komitmen untuk menjaga seni dan budaya lokal, Global FM Lombok sengaja membuat program lagu daerah yang terdiri dari lagu Sasak, Mbojo, Samawa dan Bali. Bahkan untuk membantu dan mengembangkan bakat generasi di bidang tarik suara, Global FM Lombok juga mempunyai program dengan titel “Kabel” (Kreasi Band Lokal).
Global FM Lombok memahami bahwa untuk membangun negeri ini, termasuk NTB tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Untuk itu, Global FM Lombok sengaja membuka ruang untuk masyarakat berbicara dan berdiskusi tentang negeri dan daerahnya. Pada “Program Lombok Terkini” masyarakat diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya tentang beragam tema sesuai dengan masalah yang ingin dikemukakan. Sedangkan pada “Program Warung Global” masyarakat diajak berdisikusi tentang topik tertentu, sehingga bisa menjadi masukan bagi para penentu kebijakan.
Selain itu, Global FM Lombok tidak saja berupaya memberi yang terbaik bagi pendengar melalui program-program “on air”, tetapi juga berupaya selalu dekat  dan memberi yang kongkret kepada masyarakat melalui program-program “off air”, seperti pemberian beasiswa bagi siswa SD, SLTP, SLTA yang berprestasi, pemberian sembako bagi yang membutuhkan, donor darah massal, sunatan massal, termasuk kegiatan olah raga berupa sepeda sehat dan jalan sehat, yang melibatkan ribuan pendengar Global FM Lombok.
Radio Global FM Lombok yang mengudara pada Frekuensi FM 96,7 MHz, dengan pemancar berkekuatan 2500 Watt dipancarluaskan dari Jalan Bangau No. 15 Cakranegara - Lombok. Siarannya merambah semua pendengar dari segala tingkatan usia dan status sosial ekonomi serta profesi seperti pelajar, mahasiswa/kalangan muda lainnya, ibu rumah tangga, pegawai negeri sipil, pengusaha/pebisnis umum, dengan usia antara 15 tahun ke atas dan tingkat pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Program Unggulan
Program Berita - BBC Siaran Indonesia, NTB Pagi, Dinamika Pagi, Global Terkini, NTB Siang dan  NTB Malam, Majalah Global, Global Sport.
Program Opini - Lombok Terkini, dan Warung Global
Program Selingan dan Hiburan - Intermezo, Tips Global, Warung Kawula Muda, Musik Daerah, Canda Tawa, Kabel (Kreatifitas Band Lokal) dan Symphoni Malam
Program Khusus - Lipsus (Liputan Khusus), KRIS (Kriminal Sepekan), dan TOPIK Global (Top Opini Interaktif Kita)
Program Interaktif - Talkshow
Global FM Lombok menyediakan program interaktif  atau talk show. Program ini merupakan salah satu cara yang bisa dimanfaatkan oleh instansi pemerintah, swasta, dunia usaha, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk menyampaikan program kerja atau memperkenalkan sekaligus memasarkan produk yang dihasilkan.
Program ini cukup efektif untuk mendekatkan masyarakat atau konsumen dengan pihak yang menggelar talk show. Pasalnya, pada program ini narasumber bisa berkomunikasi secara langsung dengan pendengar. Sehingga narasumber bisa menyampaikan yang ingin diketahui oleh pendengar. Sebaliknya pendengar bisa mendapatkan informasi secara lengkap dari nara sumber karena acaranya dikemas dalam bentuk interaktif dan disiarkan langsung.(Tim EPI/KG. Sumber: Kelompok Media Bali Post)


Global TV - stasiun televisi,  adalah adalah salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. Global TV sekarang memiliki hak siar atas liga balap bergengsi dunia Formula 1, kejuaraan dunia balap A1. Kedua ajang ini disiarkan khusus oleh  Global TV. Global TV juga memiliki hak siar ajang sepakbola terbesar sedunia tahun 2008, Euro 2008, bersama RCTI dan TPI.
Stasiun televisi dengan slogan “Global TV, Seru” ini berdiri pada tahun 2002 dan dimiliki oleh Media Nusantara Citra, kelompok perusahaan media yang juga memiliki RCTI dan TPI. Stasiun ini pada awalnya didirikan untuk me-relay acara-acara MTV Asia, yang sebelumnya direlay melalui Antv. Namun kini juga menyiarkan acara-acara non-MTV dengan pembagian 8 jam untuk Global  TV, 8 jam untuk MTV dan 8 jam untuk Nickelodeon. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Goenawan Susatiyo Mohamad (Batang, Jawa Tengah 29 Juli 1941) - Pendiri majalah TEMPO. Menekuni bidang psikologi di Universitas Indonesia pada tahun 1960 kemudian pada tahun 1965 melanjutkan ke Political Science - College d'Europe Brugges Belgium.
Tak bosan menuntut ilmu, pada tahun 1989 Goenawan mengambil Nieman Fellow at Harvard University, USA. Karirnya dalam bidang jurnalistik cukup melesat yang diawalinya sebagai reporter Harian KAMI, Jakarta pada tahun 1967-1970.
Tiga tahun kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, Jakarta. Tidak lama setelah itu menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan TEMPO, Jakarta. Juga pernah menjadi Direktur PT Grafiti Pers, Jakarta. Menikah dengan Widarti yang dikaruniai dua orang anak dan satu cucu.
Dewasa ini selain aktif sebagai Redaktur Senior Majalah Berita Mingguan Tempo, Jakarta , Goenawan Mohamad juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Tempo Intl Media Tbk. (d.h. PT Arsa Raya Perdana), Jakarta.
Dalam menekuni karirnya, Goenawan banyak mendapat penghargaan antara lain Professor Teeuw Award, University of Leiden, Netherlands (Mei 1992), The Louis Lyons Award, Harvard University, USA (Mei 1997), The Internasional Press Freedom Awards, the Committee to Protect Journalists, USA (November 1998), Internasional Editor of the Year Award, World Press Review, USA (Mei 1999), dan Khatulistiwa Literary Award, Indonesia's Best Fiction Award, Jakarta (November 2001).(Tim Epi/KG. Sumber: PDAT)
     Grafika - Pertumbuhan pers tidak dapat dilepaskan dari grafika. Tanpa grafika penerbitan pers tidak dapat berbuat banyak. Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa grafika merupakan sarana utama bagi kehidupan pers, bahkan sebagai penggerak yang memungkinkan pers menjalankan fungsinya sebagai media komunikasi.
Grafika tidak hanya berkait dengan proses pencetakan semata, melainkan juga menyangkut peralatan maupun bahan baku yang dipergunakan. Kemajuan-kemajuan yang dicapai di bidang teknologi elektronika memungkinkan proses pencetakan dapat dilakukan dengan cara yang lebih cepat, mudah dan murah. Setiap proses sudah dapat dilakukan dengan teknik serba komputer. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Perihal Cetak Mencetak, Kanisius, 1977)


Gutenberg (Meninggal dunia di Mainz 3 Februari 1468) - Banyak hal dari kehidupan Gutenberg tidak terungkap, tetapi dia diketahui selalu dalam kekurangan uang. Dengan meminjam uang ia memulai pekerjaan besarnya yang pertama, mencetak Alkitab, yang disebut Alkitab 42 baris - karena setiap halaman terdiri dari 42 baris - yang disusun dalam 2 kolom dan berisi 1282 halaman.
Mungkin 6 penyusun harus menyusunnya selama 2 tahun untuk menyelesaikan pekerjaan besar yang pertama ini. Dicetak sekitar 200 eksemplar, 30 di antaranya pada perkamen (semacam kulit). Jenis huruf yang dipakai sebentuk dengan Gotik Textura. Untuk meniru aksara-aksara tulisan dan untuk menghindari jarak antar kata yang berbeda, dipakai 290 aksara yang berbeda; misalnya ada 3 macam huruf "e" yang berbeda lebarnya. Gutenberg hanya mencetak teksnya saja, sedangkan huruf-huruf besar (kapital) pada awal kalimat dan hiasan-hiasan buku ditambahkan oleh "seniman-seniman buku" menurut ide mereka masing-masing. Selain Alkitab, Gutenberg juga mencetak kalender pertama - kalender Turki - dan banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya.
Hidup Gutenberg dapat dikatakan sebuah tragedi. Kota asalnya dihancurkan karena peperangan pada tahun 1462, sehingga semua tukang cetaknya cerai-berai dan menyebar ke seluruh Eropa, serta membukakan rahasia cetak-mencetak yang sejak awal ia jaga baik-baik.
Gutenberg sendiri tinggal di Mainz dan memulai kembali usaha percetakan kecil-kecilan, namun tanpa suatu karya besar. Gutenberg tidak dapat mengembalikan utang-utangnya, kalah dalam perkara di pengadilan dan menjadi orang miskin. Kawan-kawan usahanya mengambil alih percetakannya dan menggunakan huruf-huruf Gutenberg untuk menghasilkan karya-karya yang indah.(Tim EPI/KG. Sumber: Buku Perihal Cetak Mencetak, Kanisius, 1977)