Rabu, 13 Desember 2017

H dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Hai - majalah remaja untuk pria. Kehadiran majalah yang menggantikan posisi Midi itu awalnya memang mewakili remaja pria maupun gadis. Namun sejak 1988, pihak manajemen berupaya memanjakan atau memberi satu perhatian yang lebih kepada remaja pria. Sehingga majalah ini menyebut dirinya sebagai satu-satunya majalah remaja pria. Tujuannya ingin memperjelas segmen pembacanya, tercermin dalam semboyannya yaitu Hibur, Asih dan Ilmu yang disingkat HAI.
Formula isinya umum. Tidak hanya dunia musik, film, dan hiburan. Dunia sekolah dan pendidikan pun diberi porsi lumayan. Pembaca HAI adalah remaja pria berusia 15 sampai dengan 20 tahun, yang tinggal di kota-kota besar dan banyak uang saku. Mereka adalah kaum muda yang diasumsikan gesit, dinamis, dan gemar musik.
Sajian tulisan majalah remaja ini sangat bervariasi, sering menulis grup musik terkenal dan pernah mengundang beberapa grup musik dunia untuk manggung di Indonesia. Belakangan juga tampil dalam edisi tersendiri yang memuat profil grup musik dari mancanegara yang dikemas secara eksklusif dalam satu majalah tersendiri berlabel HAI KLIP.
HAI KLIP dilengkapi beberapa teks lagu disertai dengan notasinya, sehingga pembaca bisa mendendangkan lagu-lagu dari grup favorit dengan petikan gitar.
Dalam soal fiksi, majalah yang pernah terkenal dengan cerita fiksi “Pendekar Trigan”, “Coki” ini turut andil membesarkan dan mempopulerkan sejumlah pengarang, seperti Hilman Lupus, Gola Gong dan Herlina Mustikasari.
Selaras dengan jiwa remaja yang dinamis, HAI selalu mengikuti perkembangan tren yang sedang digemari. “Kita selalu mengikuti apa yang anak muda senangi. Ketika para remaja sedang maniak dengan bola basket, kita ulas bola basket dengan menampilkan pemain basket dari klub terkenal, misalnya dari kompetisi NBA. Begitu juga jika masyarakat sedang dilanda demam sepak bola. Akan tetapi, ada yang paten dan tidak bisa kita tinggalkan yakni tentang musik,” kata Iwan Iskandar.
Dalam hal penyajian tulisan tentang acara maupun cerita pertelevisian yang sempat menjadi trade mark-nya, majalah ini juga tetap mempertahankannya. Majalah ini juga kerap menyajikan tulisan tentang militer dan persenjataan, seperti profil pesawat tempur F-16.
Menurut Iwan, kedinamisan dalam keredaksian HAI merupakan sesuatu kewajiban. Misalnya pergantian logo. Menurut pendapat sebagian orang terlalu berani dan bersifat revolusioner. “Bagi HAI semua itu merupakan hal biasa. Pergantian itu hanya memainkan formula,” jelasnya.
Sumber daya manusia yang memperkuat jajaran HAI perlu bergaul seluas mungkin sehingga tren yang sedang muncul di kalangan remaja bisa terekam oleh mereka. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)
    

Hak Jawab - hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
Hak jawab diatur dalam Pasal 10 KEJ-PWI yang mengatakan bahwa wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akura, dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional kepada sumber atau objek berita.
Ketentuan lainnya dalam Pasal 5 ayat (2) UU Nomor 40 Tahun 1999 ditegaskan, “Pers wajib melayani hak jawab.” Namun pelaksanaan Hak Jawab sering kurang memuaskan para pihak yang berkepentingan karena beberapa faktor dan alasan seperti pemuatan hak jawab kurang efektif, waktu terlalu lama dan tidak ada jadwal yang pasti kapan dimuat, penempatan halaman dan kolom yang berbeda, serta dampak berita awal tidak dapat dipulihkan oleh pemuatan hak jawab. (Tim EPI/NH)  


Hak Koreksi - hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun orang lain. Kewajiban koreksi adalah keharusan melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta, opini, atau gambar yang tidak benar yang telah diberitakan oleh pers yang bersangkutan. (Tim EPI/NH)  


Hak Publik - hak masyarakat untuk memperoleh informasi, merupakan hak asasi manusia yang paling mendasar, yaitu hak tiap orang untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya; hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. (Tim EPI/NH)


Hak Tolak - adalah hak ingkar/hak wartawan karena profesinya, untuk menolak mengungkapkan nama dan atau identitas lainnya dari sumber berita yang harus dirahasiakannya.
Pelaksanaan hak tolak juga diatur dalam KEJ-PWI, menurut  Pasal 13 KEJ-PWI ditegaskan, “Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data bukan opini. Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan.”
Dalam Pasal 4 ayat (4) UU No. 40 Tahun 1999 ditegaskan, “Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.” Kemudian dalam penjelasan diuraikan bahwa tujuan utama Hak Tolak adalah agar wartawan dapat melindungi sumber informasi, dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi. Hak tersebut dapat digunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh pejabat penyidik dan atau diminta menjadi saksi di pengadilan.
Hak Tolak dapat dibatalkan demi kepentingan dan keselamatan negara atau ketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan.”  Dalam sejarah pers nasional, kasus Hak Tolak wartawan pernah menarik perhatian masyarakat secara luas terkait sikap tegas Asa Bafagih, Harian Pemandangan, dalam melindungi wartawannya sesuai Kode Etik Jurnalistik, dan mempertahankan identitas narasumber berita yang dimuat di Harian Pemandangan pada Agustus 1952, berjudul “Rencana Gaji Baru untuk Pegawai Negeri. Minimum Rp 135 dan Maksimum Rp 2.700.”  Kasus Asa Bafagih menjadi catatan tersendiri dalam sejarah pers nasional karena sekaligus menjadi perkara kode etik pertama yang ditangani oleh Dewan Kehormatan PWI setelah berdiri pada 24 September 1952. Kasus lainnya Agustus 1968 menyangkut H.B. Jassin ketika majalah Sastra yang dipimpinnya memuat tulisan berjudul “Langit Makin Mendung” karangan Ki Panjikusmin. (Tim EPI/NH)  

  
Hamidhan, AA (Rantau, Tapin 25 Februari 1909 - Banjarmasin 1981). Tokoh Pers Kemerdekaan ini sejak muda telah mengabdikan dirinya bagi dunia kewartawanan. Selama karirnya di dunia jurnalistik Hamidhan tercatat pernah menjadi Pemimpin Redaksi Bendahara Borneo (1929), Soeara Kalimantan (1930-an), Kalimantan Raya (1942), dan Borneo Shimbun (1945). Kecintaannya kepada tanah air dibuktikan setelah Jepang meninggalkan Indonesia, dengan menerbitkan kembali Soera Kalimantan dan membangun percetakan Fa Soeara Kalimantan (1950 -1962) di rumahnya.
Haji A.A. Hamidhan menempuh pendidikan di  Europeese Lagere Scool di Samarinda, kemudian melanjutkan ke Gemoontelijke MULO Avondshool di Batavia Genrum, sekarang Jakarta. Saat itu jarang putra Kalimantan yang bukan keturunan ningrat dapat memasuki dunia pendidikan Eropa. Dengan kesadaran itu Hamidhan sangat menekuni pendidikannya di sana.
H. A.A. Hamidhan sebenarnya sudah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak tahun 1927, ketika menjadi anggota redaksi suratkabar Perasaan Kita di Samarinda dan anggota redaksi Bintang Timur  yang terbit di Jakarta.
Tokoh yang menuntut Indonesia Berparlemen pada tahun 1941 ini kemudian ia menjadi anggota Lembaga Pemerintahan Kota Banjarmasin (Si Kai Gin), lalu menjadi anggota Lembaga Pemerintahan Daerah Kalimantan Selatan (Syu Kai Gin). la juga terpilih menjadi  utusan Kalimantan pada Permusyawaratan Besar Persuratkabaran seluruh Asia Timur Raya di Tokyo pada Desember 1943. Selain kiprahnya di atas Hamidhan juga tercatat sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta.
Sepanjang karirnya putra pasangan suami istri A.A. Kesuma Wiro Negoro dan Siti Aisyah ini sempat tiga kali masuk penjara, yang seluruhannya karena delik pers. Tahun 1930, ia harus mendekam di penjara Cipinang selama dua bulan karena pers delict terhadap Bendahara Borneo, enam bulan penjara di Banjarmasih karena pers delict Soeara Kalimantan, dan enam bulan di Banjarmasin masih dalam perkara yang sama. Haji A.A. Hamidhan meninggal dunia pada tahun 1981, dalam usia 72 tahun. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)
Hamidy, WM (Sawahlunto, Sumatera Barat 21 Desember 1933). Tamat sekolah menengah atas (SMA) Hamidy melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Bagian Sosial Politik Jurusan Publisistik Universitas Indonesia. Setelah itu ia juga sempat mengikuti program Midlle/Top Management Pimpinan pada tahun 1971-1972.
Memulai karirnya sebagai wartawan pada tahun 1951 ketika menjadi Pemimpin Redaksi Buletin Keluarga di Bukittinggi. Antara tahun 1954-1960 Hamidy berkarya di majalah Merah Putih, suratkabar Pemuda, dan APB (Kantor Berita Arab) di Jakarta. Hamidy juga tercatat pernah mengikuti Wajib Militer Angkatan Laut RI dengan pangkat Letnan.
Selain itu, Hamidy juga pernah bekerja antara lain di Port Authority Tanjung Priok/Pasar Ikan sebagai Koordinator Penerangan. Kemudian sebagai Kepala Bidang Sejarah di Komando Maritim III. Pada bulan Mei 1961 Hamidy mengikuti misi AL (ST-12) ke Hongkong, Jepang dan Vladiwostok (USSR).
Antara tahun 1965-1970 Hamidy menjabat sebagai Asisten Penguasa LKBN Antara. Pernah juga menjabat Sekretaris Umum merangkap Direktur Administrasi dan Direktur Logistik Antara, Wakil Ketua PWI Pusat, Sekjen SPS Pusat serta Ketua Press Club Indonesia. Dengan dua istri, Djalius dan Dharmi Thea Kemas, Hamidy  dikaruniai tujuh anak dan enam cucu. Setelah pensiun pada tahun 1993 ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Fatah di Lampung dan menjabat sebagai Pembina Pesantren yang tersebar di 8 Propinsi. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Harian Terbit - suratkabar harian. Keberadaan suratkabar yang terbit sore ini tak dapat dilepaskan dari harian Pos Kota yang terbit pagi hari. Ia dianggap “saudara kembar,” Pos Kota karena dalam banyak hal memiliki ciri yang hampir sama dengan Pos Kota. Misalnya, pertama, pendiri dan pengasuh koran sore ini hampir sama dengan para pendiri dan pengelola Pos Kota. Pada awal penerbitannya suratkabar yang lahir dua tahun lebih muda dari Pos Kota ini dipimpin dan dikelola antara lain oleh Abijasa selaku pemimpin redaksi, Harmoko, Tahar, dan Pansa Tampubolon.
Kedua, suratkabar yang diterbitkan oleh PT Surya Kota Jaya pada tanggal 19 Juli 1972. ini juga diberi nama hampir sama dengan Pos Kota yakni menggunakan  kata “Pos” di depan nama “Sore.” Oleh karena itu, sejak awal para pembacanya sudah dapat menebak bahwa harian ini sengaja diterbitkan oleh para pendiri dan pengasuh Pos Kota untuk mengisi kekosongan pasar media yang terbit pada sore hari. Ketika itu, koran yang terbit pada sore hari di Jakarta hanya ada satu yakni Sinar Harapan. Karena itu, kehadiran Pos Sore diharapkan tidak akan menghadapi banyak tantangan persaingan.
Ketiga, harian ini disebut sebagai kembaran Pos Kota karena sejak dulu hingga sekarang  menempati kantor redaksi dan percetakan yang sama. Keempat, tampilan sajian berita, artikel maupun ciri-ciri grafisnya, sejak awal penerbitannya juga mirip dengan “saudara kembar”-nya yang terbit pada pagi hari.
Koran sore ini mengalami perubahan drastis sekitar tahun 1975-1978, setelah sejumlah mantan wartawan harian KAMI diminta untuk memperkuat jajaran redaksi Pos Sore. Ketika itu, kebijakan redaksi koran sore ini lebih diarahkan bagi khalayak pembaca menengah ke atas. Dengan kata lain, suratkabar ini harus tampil menjadi koran yang lebih serius dengan target pembaca kalangan muda intelektual, kaum politisi dan kelompok pembaca yang kritis lainnya.
Berubahnya kebijakan redaksional Pos Sore ketika itu merupakan pengaruh dari hadirnya  sejumlah mantan wartawan harian KAMI yang sebagian dari mereka berlatar belakang sebagai aktivis kampus. Di samping itu, pengaruh budaya dan komitmen pola kerja redaksi di harian sebelumnya, tentu saja banyak memberikan warna tersendiri terhadap tampilan baru Pos Sore.
Koran sore ini pada 23 Januari 1978 termasuk salah satu dari lima suratkabar Ibu Kota yang dibredel oleh pemerintah Orde Baru, karena dituduh telah ikut memanaskan situasi politik yang mengakibatkan semakin meningkatnya gelombang aksi mahasiswa menghadapi Sidang Umum MPR waktu itu. Selain Pos Sore, keempat koran lain yang dibredel ketika itu yakni harian Kompas, TEMPO, Pelita dan Sinar Harapan. 
Berbeda dari peristiwa tahun 1974 (Malari), pembredelan kelima koran ini tidak berlangsung lama. Pemberian ijin terbit kembali ini, tentu saja setelah pemimpin redaksi masing-masing media menyanggupi menandatangani pernyataan untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari.
Pemberitaan Pos Sore ketika itu memang cenderung banyak memberikan ruang bagi kegiatan aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut perubahan politik dan kepemimpinan nasional. Dalam salah satu edisinya, sebelum dibredel, tampil dengan cara “menghitamkan” isi ruang tajuk rencananya.
Ketika diizinkan terbit kembali, para pengasuh dan pengelolanya lebih memilih untuk mengganti nama Pos Sore menjadi HARIAN TERBIT. Penggantian nama ini, menurut pertimbangan para pengasuh dan pengelolanya ketika itu, mempunyai beberapa alasan. Pertama, untuk membentuk citra bahwa koran ini benar-benar telah berubah menjadi koran yang lebih serius. Sebab, di kalangan pembaca masih ada yang beranggapan bahwa Pos Sore  adalah Pos Kota yang terbit sore hari, karena muatan isi dan tampilannya juga tidak banyak berbeda dengan Pos Kota. Dari perubahan nama ini, diharapkan agar para calon pembaca Pos Sore dapat menerimanya koran ini sebagai koran sore yang memiliki misi dan visi yang benar-benar berbeda dari Pos Kota.    
Pertimbangan lain dari perubahan nama itu adalah karena adanya alasan untuk lebih memperkuat dan memperluas pangsa pasar. Dengan nama baru ini, HARIAN TERBIT ingin beredar dan berkembang di luar Jakarta, bahkan di kota-kota besar Indonesia. Dalam kaitan inilah, HARIAN TERBIT beredar dalam dua edisi. Edisi pertama beredar sebagai koran sore di Jakarta, dan edisi kedua beredar di luar Jakarta dan daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa sebagai koran sore.
Dengan beredar dalam dua edisi yang berbeda ini, tiras koran HARIAN TERBIT meningkat drastis terutama di beberapa daerah antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah dan teristimewa di Makassar. Kehadiran HARIAN TERBIT daerah-daerah tersebut dapat diterima karena muatan liputannya banyak yang menyentuh kepentingan para pembaca di daerah. Koran ini tidak hanya berubah dalam nama, juga telah mengambil sikap dan komitmen untuk menyajikan berita-berita yang kritis dan berani memperjuangkan hak-hak dan aspirasi khalayak pembacanya.
Dengan muatan isi yang kritis dan berani melawan arus seperti itu, untuk kedua kalinya HARIAN TERBIT lagi-lagi harus berurusan dengan Kopkamtib, sebuah institusi negara yang memiliki kekuasan luar biasa besarnya. Dalam peristiwa pembajakan pesawat Garuda Woyla penerbangan Jakarta-Bangkok  (Maret 1981), sejumlah redaktur dan seorang wartawan harus berurusan dengan aparat keamanan. Mereka sempat dipanggil dan diinterogasi aparat Laksusda Jaya karena dalam menyajikan liputan tentang peristiwa pembajakan tersebut dituduh sudah melanggar “aturan”. Bahkan, selesai diinterogasi selama sehari semalam, keempat awak redaksi tersebut langsung dimasukkan ke dalam sel tahanan di Garnisun Ibu Kota Jalan Merdeka Timur, Jakarta.
Meskipun sejumlah pimpinan koran ini ditahan selama 2-3 hari, tetapi suratkabarnya diharuskan tetap terbit seperti biasa. Atas peristiwa ini, tidak ada satu pun media yang berani memberitakannya, kecuali BBC London. Namun dengan adanya kejadian pahit ini, kebijakan redaksi tidak melemah, bahkan sebaliknya.
HARIAN TERBIT ketika itu sudah mengambil ciri sebagai media yang banyak menyajikan liputan berita tentang kegiatan keislaman, dengan membuka rubrik khusus “Syiar Islam” sebanyak dua halaman, di samping tetap menyajikan berita-berita kritis dan berani melawan arus baik masalah politik, sosial dan budaya lainnya.
Hingga menginjak usianya yang ke-24 tahun, HARIAN TERBIT sudah beberapa kali melakukan pergantian kepemimpinan. Dari Abijasa, lalu RS. Hadikamajaya, kemudian Bagus Sudharmanto, dan sekarang dipimpin oleh Tarman Azzam. (Tim EPI/KG/ES)


Harmoko (Kertosono, Nganjuk, 7 Februari 1939) - wartawan, mantan  Menteri Penerangan. Mengawali karirnya dari jenjang korektor hingga menjadi pemimpin redaksi. Dalam perjalanan hidupnya, Harmoko tidak hanya dikenal sebagai tokoh wartawan. tetapi juga sebagai politisi, karena pernah meraih kedudukan sebagai Ketua Umum DPP Golkar (1993-1988). Harmoko juga pernah menduduki jabatan ketua DPR/MPR (1997-1999), setelah sebelumnya menjadi Menteri Penerangan RI dalam tiga periode (1983-1997). Jauh sebelumnya, dia juga aktif dan duduk menjadi Ketua PWI Jaya (1970-1973), yang kemudian terpilih menjadi Ketua Umum PWI Pusat selama dua periode (1973-1978, 1978-1983).  Alumnus Lemhanas KRA-VIII ini juga dikenal mempunyai prinsip-prinsip yang tak bisa dikompromikan sebagaimana sikapnya pada masa pra G30S/PKI. Ia juga piawai berbicara dan berpidato.
Harmoko yang juga senang membuat karikatur, sudah bercita-cita ingin menjadi wartawan sejak masih di sekolah rakyat (sekarang sekolah dasar atau SD). Pada permulaan tahun 1960-an, dalam usia 20 tahun, Harmoko bekerja sebagai wartawan suratkabar harian Merdeka dan majalah Merdeka. Di sini ia juga dikenal sebagai kartunis.
Tidak lama berselang ia juga bekerja sebagai wartawan harian Angkatan Bersenjata,  yang kemudian dilanjutkan di harian API (1965) dan TRISAKTI. Di samping sebagai wartawan API, Harmoko juga duduk sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa, Jawa Merdiko (1965).
Sejak 1966 hingga 1968, Harmoko menjabat pemimpin/penanggung jawab suratkabar Merdeka merangkap sebagai pemimpin redaksi mingguan Mimbar Kita. Kemudian, pada tahun 1970, bersama beberapa temannya ikut mendirikan dan memimpin Pos Kota hingga sekarang.
Seminggu setelah terbit, Pos Kota yang dipimpinnya itu banyak memperoleh tanggapan sinis dan bahkan ejekan. “Ini jurnalisme apa?” kata kalangan masyarakat pers saat itu mempertanyakan, termasuk Menteri Penerangan (waktu itu) Budiardjo. Menanggapi aneka pertanyaan sinis seperti itu, Harmoko hanya menjawab singkat.
“Pokoknya kalau bukan golongan menengah bawah, lebih baik jangan baca.” Masyarakat ketika itu cenderung memasukkan Pos Kota sebagai suratkabar porno, koran tukang becak dan koran cabul. Di kalangan pers sendiri, harian ini dinilai sebagai kurang intelektual.
Berbeda dari banyak anggapan umum yang menilai Pos Kota secara sinis,  Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin justru menyambut positif kehadiran suratkabar Harmoko tersebut.  Menurut Bang Ali, harian ini diharapkan dapat menyampaikan informasi tentang masalah-masalah Ibu Kota kepada masyarakat luas. Sesuai dengan namanya, Bang Ali berharap agar Pos Kota menjadi media massa yang menarik dan dapat dipercaya oleh mereka yang ingin mengikuti perkembangan kotanya.
Pada hari-hari sesudah mengakhiri jabatannya sebagai Ketua DPR/MPR tahun 1999, Harmoko sekali seminggu, secara tetap (tiap Senin) menulis di rubrik “Kopi Pagi”.
Pengalaman pahit sebagai wartawan ia cicipi pada masa Orde Lama. Ketika koran-koran “BPS” ditutup oleh Bung Karno, Harmoko sempat berdagang telur dan beras di Stasiun Gambir. Ia sendiri ketika itu heran, “Justru semangat untuk hidup tidak mengendur. Saya tidak mau menjadi penganggur,” katanya
Meski menjadi menteri penerangan, Harmoko tetap menyatakan dirinya tidak akan berubah. “Darah daging saya tetap wartawan,” seperti diserukannya pada malam syukuran yang diselenggarakan PWI, selesai dilantik sebagai menteri. Kalangan pers dan film menaruh banyak harapan kepadanya, kalau tidak mau disebut sebagai “tuntutan”. Namun, ia juga terpaksa mengecewakan mereka karena “atas perintah”, ia melakukan tindak pembredelan terhadap sejumlah media. Ini “prestasi” sekaligus “cacat politik” Harmoko selama hampir seperempat abad bergelut di dunia pers.(Tim EPI/KG/ES)


Hendry Ch Bangun (Medan 26 November 1958), saat ini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Warta Kota yang terbit di Jakarta. Dia lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1982.
Memulai karier jurnalistik di media kampus FSUI, Tifa Sastra, dia menjadi wartawan pertama kali di Majalah Sportif, Juli 1982-Oktober 1984. Kemudian bergabung dengan harian Kompas pada bulan November 1984, sempat menjadi Redaktur Olahraga dan Wakil Redaktur Pendidikan. Saat ini masih berstatus wartawan Kompas yang dikaryakan di Warta Kota sejak media ini didirikan tahun 1999.
Dia meliput berbagai event olahraga internasional, mulai dari SEA Games, Asian Games (1986, 2002), Olimpiade (1988, 2000), turnamen tenis akbar AS Terbuka (1992), dan Australia Terbuka (1992). Dia menulis buku "Wajah Bangsa Dalam Olahraga: 100 Tahun Berita Olahraga Indonesia" (2007) dan "Meliput dan Menulis Olahraga" (2007), setelah sebelumnya ikut dalam penulisan "Apa & Siapa Sejumlah Orang Bulutangkis Indonesia" (1994), "Sejarah Bulutangkis Indonesia"(2004), dan "100 Plus Legenda Atlet Indonesia" (2005).
Di PWI, dia mulai aktif menjadi pengurus di SIWO PWI Jaya (1987-1998), SIWO Pusat (1998-2003),dan terakhir menjabat Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat (2003-2008). (Tim EPI/KG/Istimewa)


Herawati Diah (Tanjung Pandan Belitung, 1917), adalah anak ketiga dari antara empat bersaudara. Ibunya Siti Alimah binti Djojodikromo dan ayah Raden Latip. Ayah, lulusan sekolah dokter Stovia tahun 1908, membuka praktek di pulau tetangga Bangka itu sebagai ahli medis sebuah perusahaan tambang timah Belanda. Sebelumnya, dia memutus ikatan dinas dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda karena harus siap berpindah-pindah kota guna melayani pasien. Menjelang akhir hayatnya, anak pangrehpraja ini membuka praktik di rumah Jalan Prapatan 46, Menteng, sekarang tempat hotel bertingkat 17, bernama Aryaduta, yang tahap awalnya selesai dibangun Herawati bersama keluarganya pada tahun 1974. Namun belasan tahun kemudian dijual.
Tanpa melepas pendidikan agama Islam dan tradisi, Ibu Alimah mendorong anak-anaknya untuk merangkul gaya hidup Barat. Karena tidak sempat mendapatkan pendidikan formal, dia selalu menasihati mereka untuk mengejar ilmu. Tujuannya: mengimbangi kaum penjajah. Khusus Herawati mula-mula dikirim ke sekolah di Jepang. Berlanjut ke Amerika Serikat, di mana pada tahun 1941 dia menjadi wanita pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar sarjana dari luar negeri. Mengapa belajar ke Amerika dan bukan Eropa, karena ibu dari lingkungan priyayi tersebut telah memutuskan bahwa Herawati harus menuntut ilmu ke "negara yang tidak punya jajahan."5 Selesai studi, kembali ke Indonesia. Jepang menyerbu ke selatan dan menggulingkan semua pemerintahan jajahan Eropa di Asia Tenggara. Tapi, sebelum "Saudara Tua" sempat menguasai seluruh Indonesia, Ibu Alimah, yang dicurigai sebagai nasionalis, dan anak-anaknya ditahan polisi Hindia Belanda di kamp Cibadak, Sukabumi. Dr. Latip telah lebih dulu disekap di Garut. Sekitar tiga bulan kemudian baru semua bebas kembali. Berarti penguasa militerJepang telah merebut kekuasaan penuh, rezim Hindia Belanda kabur.
Ternyata, latar pendidikan Amerika yang dimilikinya sangat diperlukan segera guna menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa genting yang melanda Indonesia. Maka, Herawati tergiring untuk menjalankan tugas-tugas jurnalisme. Dia setengah dipaksa bekerja di stasiun radio penguasa militer Jepang yang membutuhkan penyiar berbahasa Inggris untuk keperluan propagandanya. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dia sempat menjadi sekretaris pribadi menteri luar negeri pertama republik, Mr. Achmad Soebardjo, yang kebetulan pamannya.
Lalu membantu suaminya, B.M. Diah, menerbitkan koran pro Indonesia Merdeka karena Republik Indonesia, satu pemain baru dalam arena politik internasional yang belum teruji, membutuhkan media komunikasi untuk melawan Belanda dan Sekutu yang mengotot ingin memulihkan rezim Hindia Belanda. Maka beredarlah harian Merdeka sejak 1 Oktober 1945. Sejak bulan Oktober 1954, dia memimpin harian baru berbahasa Inggris, Indonesian Observer, untuk mengkampanyekan aspirasi kemerdekaan RI dan negara-negara masih terjajah, yang makin menggelora sejak penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.
Apakah jurnalisme itu di mata Herawati Diah? Menurutnya, jurnalisme menuntut kecintaan pada pekerjaan dan membutuhkan pengindahan terhadap hati nurani. "Hati nurani adalah penyuluh dari pekerjaan dan sukses wartawan, justeru karena inti dari profesi ini adalah pengabdian kepada kepentingan umum. Inilah yang berulangkali saya sadari ketika melakukan lawatan keliling nusantara dalam rombongan bersama Presiden Sukarno. Keterbelakangan sekian daerah di Indonesia mengharuskan kita membuat reportase menggunakan hati nurani. Dengan kegemaran merekam setiap kali terlihat satu contoh sikap [tidak] adil di dalam masyarakat, dan memegang teguh prinsip-prinsip moral dan etik, wartawan akan merebut kepercayaan pembacanya,membesarkan tempatnya bekerja, dan malah mencetak nama bagi dirinya sendiri."
Lalu, khusus mengenai jurnalisme dan wanita, atau jurnalis wanita? Herawati menilai ada kesalahan dalam mengembangkan jurnalisme. "Salah satu kesalahan itu... adalah pengucilan berita-berita penting bagi umat manusia sebagai sekadar berita wanita. Berarti itu tidak dianggap penting. Padahal sebenarnya menyangkut lebih dari separuh penduduk dunia... Persoalan wanita adalah persoalan setengah dunia, bukan persoalan sekelompok kecil masyarakat." Setuju, persoalan separuh ummat manusia bukan tidak penting.
Herawati menyambung: "Kini meningkatnya jumlah wartawati di dunia pers membesarkan hati saya. Saya yakin bahwa banyak wanita sependapat dengan saya bahwa wanita dalam posisi lebih balk untuk memperjuangkan nasib sesamanya daripada rekannya yang laki-laki. Sebab masih saja terdapat ketiadaan keadilan bagi wanita di pelbagai sektor kehidupan di bumi Indonesia yang tercinta ini. Keuntungan yang kita peroleh sebagai wartawan wanita tidak terhitung banyaknya..." '
Kalau pekerjaan jurnalisme bersifat fungsional profesional, pekerjaan di pemerintahan menurut kebiasaan bersifat struktural, umumnya tertutup, sangat formal, konvensional alias terikat protokol, dan sebagainya. Herawati mendampingi suaminya yang diangkat sebagai duta besar luar biasa dan berkuasa penuh di Cekoslowakia, kemudian Inggris dan terakhir Thailand (1959-1968).
Masa tugas di Eropa masih diliputi panasnya perang dingin antara Barat dan Timur, dalam mana Perang Vietnam, yang berkepanjangan dan menelan banyak korban jiwa, merupakan salah satu manifestasi utamanya. Berbarengan dengan itu, sejak dari London sampai Bangkok, medan diplomasi Indonesia sedang membara akibat politik konfrontasi Presiden Soekarno terhadap apa yang dinamakannya "proyek neo-kolonialisme Malaysia." Gara-gara demonstran membakar Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, B.M. Diah dipanggil dan ditegur menteri luar negeri Her Majesty's Government di London. Setelah Gerakan 30 September/PKI meletus dan digagalkan, Herawati meninggalkan Bangkok kembali ke Jakarta, kini ketiban tugas sebagai isteri menteri penerangan dalam kabinet terakhir Bung Karno (1968). Namun, karena Merdeka dan Indonesian Observer terus terbit selama pengembaraannya, Herawati tetap dapat mempublikasikan kesan-kesannya.
Pengangkatan B.M. Diah sebagai menteri penerangan, 1968 -- setelah tujuh tahun menjadi duta besar -- menjadi semacam ''ganjalan'' bagi Herawati. Merasa ''risi'' kembali aktif sebagai wartawati, Hera mencoba melihat kemungkinan lain.
Di depan patung ''Pak Tani'' di Jalan Prapatan, Jakarta, Herawati kebetulan mewarisi dari ayahnya sebidang tanah, yang kemudian sudah dibeli suaminya. Dahulu ia pernah berniat mendirikan rumah sakit di sana. ''Bikin hotel saja,'' usul kedua saudara kandungnya. Lewat PT Parapatan Hotel, dibangunlah Hotel Aryaduta, 1970.
Hotel berbintang empat itu dikelola oleh Hyatt, perusahaan perhotelan Amerika. Karena itu, Herawati berdalih, pihak Hyatt- lah yang tahu persis berapa omset dan aset Aryaduta. Ia sebagai pemilik hanya menjadi pengawas, dan mengurus pinjaman bank. Persaingan dengan hotel-hotel lain -- terutama yang berbintang empat -- ditanggulangi lewat peningkatan pelayanan dan fasilitas. Jumlah kamar yang tadinya 220 berkembang menjadi 350 -- berikut perluasan lapangan parkir yang selama ini merupakan kesulitan. Berlantai 17, Aryaduta mempekerjakan 388 karyawan.
Membicarakan suksesnya, Herawati selalu mengenang jasa dua orang. Pertama ayahnya, Dokter Raden Latip, yang menyekolahkannya sampai ke Barnard College, Universitas Columbia, New York, AS. Pada musim panas ia belajar jurnalistik di Universitas Berkeley, California. Herawati adalah wanita Indonesia pertama yang belajar di Amerika Serikat.
Ketika Negeri Belanda diduduki Jerman dalam Perang Dunia II, hubungan ke Indonesia terputus. Ia lalu menjadi waitress di kantin sekolah, dan dengan itu membiayai sekolahnya selama dua tahun. Kembali ke Indonesia, Hera bekerja sebagai stringer di kantor berita UPI International. Jepang masuk, ia pindah ke Radio Jepang, Hoso Kyoku. Di sini ia bertemu dengan B.M. Diah, rekan sesama penyiar.
Setelah menikah, Herawati tadinya ingin mengurus rumah tangga saja. ''Sayang 'kan, sudah jauh-jauh sekolah, ngapain kamu di rumah?'' katanya menirukan ucapan suaminya. Bekas sekretaris pribadi Achmad Soebardjo (pamannya sendiri) ini lalu bekerja sebagai reporter harian Merdeka, yang dipimpin Diah sendiri. Di sini ia kemudian menjadi editor. Ia juga pendiri dan editor majalah Keluarga, dan harian berbahasa Inggris Indonesian Observer. Pada penerbit PT Masa Merdeka, Herawati menjabat wakil direktur utama. Pendiri Yayasan Mitra Budaya ini mempunyai tiga anak, semua mendapat pendidikan di luar negeri.
Kini, pada usianya yang lebih dari 90 tahun, Herawati Diah merupakan salah satu sosok wanita pekerja yang ulet dan juga terbukti berprestasi dengan rekan jejak panjang dan beragam. Sejak Indonesia merdeka, sebagai wartawan dan atau pekerja sosial, dia banyak memanfaatkan kesempatan untuk melanglang Nusantara dan jagat, berinteraksi serta berkomunikasi. (Tim EPI/KG, Sumber: Buku Kenangan, Pengabdian Sepanjang Hayat/Wikipedia)


Hery Hanwari (Mempawah, 1 Oktober 1939) - untuk keempat kalinya dipercaya untuk memimpin organisasi kewartawanan di Kalimantan Barat. Jabatan pertama pada kepengurusan masa bakti 1983-1988 dan kedua pada kepengurusan masa bakti 2000 hingga sekarang. Pada tahun 1992 Hery juga aktif sebagai anggota BPK PWI Kalimantan Barat.
Hery Hanwari terjun ke dunia kewartawanan sejak tahun 1955., sebagai wartawan. Di dalam perjalanan karirnya Hery beberapa kali berpindah dari satu penerbitan ke penerbitan lain, antara lain di suratkabar mingguan Partisipasi, Buletin Kalbar Press, dan suratkabar harian Prakarsa. Sejak tahun 2002 hingga sekarang Hery mengabdi di Koran Mitra Kalbar dan menjabat sebagai pemimpin redaksi.
Di luar segala aktivitasnya di dunia jurnalistik Hery berkarir di almamaternya, Universitas Tanjung Pura (Untan). Selain sebagai dosen tetap, sarjana S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini semat menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untan antara tahun 1983 hingga tahun 1991. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Hermansyah Bermani (Bengkulu, 3 Februari 1954) - adalah Ketua PWI Cabang Kepulauan Bangka Belitung selama dua periode berturut-turut (2000-2005 dan 2006-2010). Pada periode sebelumnya (1996-2000) ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua PWI Perwakilan. Kiprahnya di dunia pers, khususnya bagi perkembangan dunia pers di Provinsi Bangka Belitung tidak perlu diragukan lagi.
Hermansyah adalah wartawan suratkabar nasional Suara Pembaruan yang ditempatkan di Bangka, sejak suratkabar tersebut masih bernama Sinar Harapan. Kini, meskipun secara struktural sudah memasuki masa pensiun Hermansyah masih aktif menjalani profesi kewartawanannya dengan mengirimkan laporannya tentang keberhasilan pembangunan di daerahnya, Kepulauan Bangka Belitung, yang telah memberi banyak bagi kehidupan Hermansyah.
Bangka Belitung memang memiliki arti penting bagi Hermansyah. Di perantauannya inilah Hermansyah mengawali karir kewartawannya dari seorang koresponden hingga meraih sukses dan dipercaya untuk memimpin organisasi kewartawanan di provinsi ini selama tiga periode. Di tempat ini pula ia mendapatkan jodohnya, Siti Husnah, seorang guru yang telah memberinya tiga orang anak, yang ketiganya sudah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi hingga meraih gelar sarjana. Hermansyah sendiri meraih gelar doctor kehormatan (HC) dari salah satu perguruan tinggi di provinsi ini, karena jasa dan pengabdiannya bagi kemajuan provinsi yang dikenal dengan julukan Negeri serumpun Sebalai ini. (Tim EPI/KG/Istimewa)   
  

Heroe Tjakra - suratkabar mingguan. Terbit dan beredar di Tulungagung, sebuah kota kecil di Jawa Timur, pada tahun 1923. Suratkabar mingguan yang bertulisan dan berbahasa Jawa tersebut bernuansa Islam, karena diterbitkan Sarekat Islam Tulungagung, dengan slogan “Ngemot Suarane Sarekat Islam.”
Setiap minggu, Heroe Tjakra terbit 4 halaman dengan format tabloid, memuat berbagai artikel tentang gagasan-gagasan para anggota Sarekat Islam Jawa Dwipa. Selain artikel tentang agama juga terdapat berita-berita lain dari dalam dan luar negeri, tentang kebudayaan Jawa, kesusasteraan Jawa, hukum-hukum Islam dan masalah politik.
Wajah Heroe Tjakra sangat bersahaja. Pada setiap halaman hanya terdiri dari dua kolom. Harga setiap eksemplar suratkabar tersebut hanya 10 sen. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Het Dagblad - Orafhankelijk Dagblad voor Ned Indie. Suratkabar harian berbahasa Belanda ini terbit di Semarang antara tahun 1919 hingga 1927. Suratkabar yang diterbitkan oleh Semarang Het Dagblad ini setiap hari terbit 8 halaman. Berita-berita di dalamnya meliputi berita dalam negeri, luar negeri, berita kota, telegram dari daerah lain di Indonesia, cerita bersambung dan lain-lain.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Het Indische Volk - Suratkabar yang diterbitkan Organisasi Partai Demokrasi Sosial Hindia Belanda. Corak khas koran partai tersebut, tercantum di bawah kop suratkabar, yaitu Orgaan can de Indische Social Democratische Partij. Suratkabar yang terbit di Batavia tahun 1917 hingga 1938 tersebut hadir ke hadapan  pembaca dua kali sebulan, setiap tanggal 1 dan 16 sebanyak 8 halaman. Berita-berita maupun artikel yang dimuat di dalamnya sebagian besar adalah kegiatan dan tanggapan partai terhadap pemerintah Hindia Belanda kala itu.
Suratkabar Het Indische Volk menganut pola pemberitaan berimbang. Setiap tanggapan pemerintah Hindia Belanda terhadap pandangan partai juga dimuat sebagai jawaban. Kecuali memuat berbagai masalah yang disoroti partai, koran berbahasa Belanda ini juga memuat artikel-artikel tentang masalah sosial, budaya, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Pada halaman terakhir biasanya dicantumkan ringkasan isi suratkabar hari itu. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Hetami (1920-1986) - wartawan, pendiri suratkabar Suara Merdeka Semarang; termasuk sedikit dari wartawan Indonesia yang di masa pra-Perang Dunia II beruntung mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Mula-mula di Rechts Hoge School (RHS=Sekolah Tinggi Kehakiman), kemudian pindah ke Faculteit der Letteren en Wijabegeerte (Fakultas Sastera dan Filsafat) di Jakarta, yang beberapa bulan kemudian terpaksa ditutup karena kedatangan pasukan Jepang (1942).
Hetami yang asal Solo kemudian bermukim di Semarang, bergabung dengan suratkabar Sinar Baru, satu-satunya koran yang dibolehkan terbit oleh Pemerintah Jepang untuk daerah Jawa Tengah. Pemimpin Umum-nya adalah Parada Harahap (lihat: Parada Harahap) dan Pemimpin Redaksinya Abdul Gaffar Ismail Gelar Sutan Indra Naharadja.
Ketika rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, untuk sementara Sinar Baru masih terbit. Tetapi, sebagaimana halnya koran-koran di Jawa lainnya, seperti Suara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), Sinar Matahari (Yogya) dan Asia Raya (Jakarta), Sinar Baru pun akhirnya menghentikan penerbitannya.
Jika pada awal September 1945 di Jakarta sudah terbit suratkabar Berita Indonesia dan sempat memberitakan adanya rapat raksasa di Lapangan Ikada (19 September), di Semarang pada 28 September 1945 terbit suratkabar Warta Indonesia. Pemrakarsa terbitnya suratkabar tersebut adalah Hetami, yang sekaligus menjadi Ketua Serekat Sekerja pada badan penerbitan tersebut. Warta Indonesia mula-mula terbit dua kali seminggu, kemudian menjadi harian hingga pecahnya pertempuran di Semarang, antara pasukan Jepang dan rakyat Indonesia (November 1945).
Ketika Warta Indonesia berhenti terbit, Hetami hijrah ke Solo. Tidak lama kemudian dia aktif di koran Merdeka edisi Solo. Burhanuddin Muhammad Diah (lihat B.M Diah) pendiri dan pemilik suratkabar Merdeka (Jakarta) berpendapat, apabila sewaktu-waktu , karena sesuatu hal, koran Merdeka tidak dapat terbit (diberangus penguasa NICA-Belanda yang sudah mulai berkuasa, misalnya) maka Merdeka masih tetap dapat terbit di daerah pedalaman (istilah yang digunakan pada masa revolusi untuk menyebut daerah yang tidak/belum dikuasai Belanda).
Merdeka edisi Solo baru menghentikan penerbitannya, ketika Belanda mengadakan perang kolonialnya ke-2 dan menduduki Solo. Hetami ditangkap Belanda, lalu pindah lagi ke Semarang. Setelah penyerahan kedaulatan, Hetami berhasil membeli suratkabar Soeloeh Rakjat, yang semula dikelola Regerings Voorlichtingen Dienst (RVD=Jawatan Penerangan Pemerintah), dan sejak 12 Februari 1950 menjadi Soeara Merdeka. Koran baru ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan suratkabar Soeara Merdeka yang diterbitkan oleh sejumlah mantan wartawan Tjahaja (Bandung), yang kemudian harus menghentikan penerbitannya setelah Clash I di Tasikmalaya  diduduki Belanda. Soeara Merdeka (Semarang) yang boleh dikatakan berawal dari nol, berkembang setapak demi setapak dan akhirnya menjadi suratkabar terbesar di Jawa Tengah.
Hetami memang boleh dibilang lebih beruntung ketimbang wartawan-wartawan lainnya, seperti Abdul Azis (lihat: Abdul Azis), Mohammad Said (lihat: Mohammad Said), B.M. Diah (lihat: Diah, B.M.) yang juga mempunyai penerbitan koran, dan semula dikelola oleh keluarga, dalam perkembangannya jatuh ke tangan orang lain karena tidak atau kurang  berkembang seperti halnya Suara Merdeka.
Suara Merdeka yang mengklaim dirinya sebagai koran terbesar di Jawa Tengah dan berani menyebut dirinya sebagai “Perekat Komunitas Jawa Tengah”,  juga mengusahakan koran sore, koran untuk remaja, koran untuk pelajar, dan lain-lain. Semuanya dikemudikan oleh anak, menantu dan cucu Hetami. Kepada Ir. Budi Santoso, menantunya, Hetami berpesan, agar rintisannya, mendirikan dan membangun Suara Merdeka dapat menjadi sawah keluarga dan para karyawannya.
Hetami menerima piagam tanda penghargaan dari pemerintah (cq. Menteri Penerangan Ali Murtopo) atas dharma baktinya bagi perjuangan dan pembangunan nasional. Selain itu Hetami juga menerima penghargaan “Penegak Pers Pancasila” yang diberikan oleh Dewan Pers (1988). (Tim EPI/SIN)


Hidajat - majalah berkala terbit tiga kali sebulan. Diterbitkan di Yogyakarta pada masa awal kemerdekaan RI, yakni antara tahun 1945 hingga 1947. Majalah Hidajat diterbitkan Badan Penerbit Hidajat, dengan alamat redaksi di Sosro Menduran No. 63 Yogyakarta dan alamat direksi/administrasi Kintelan No. 55-A Yogyakarta.
Sebagai penerbitan pers pada masa perjuangan, Hidajat menempatkan diri sebagai media penerangan, dengan moto “Memberi Penerangan kepada Masjarakat Indonesia di  Zaman Pantjaroba Menudju ke Arah Kemakmuran Indonesia jang Kekal Abadi”.
Harga langganan majalah berukuran 20 X 30 cm, setebal 16 halaman setiap terbit ini sebesar  f 5 per bulan. Sedangkan harga eceran f 2 per eksemplar. Rubrik dalam majalah tersebut meliputi topik, berita dalam dan luar negeri, kewanitaan, bekal perjuangan, undang-undang, dan lain-lain. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
Hindia Timoer - suratkabar mingguan. Perkembangan Kota Kediri di Jawa Timur pada tahun 1926-1927, telah mendorong lahirnya sebuah suratkabar umum bernama Hindia Timoer. Suratkabar berkala yang terbit pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu  tersebut, memberikan porsi cukup besar untuk pemuatan iklan mengingat wilayah Kediri dan sekitarnya merupakan daerah perdagangan yang cukup berkembang.
Hindia Timoer dengan slogan “soerat kabar dan advertentie bagi perhatian akan keselamatan dan kebadjikan oemoem”, terbit 6 halaman, dijual seharga 10 sen per eksemplar. Isinya antara lain, berbagai berita dalam dan luar negeri, artikel-artikel sosial, politik, budaya, dan pendidikan. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Hoe
daja, majalah. Terbit di Solo tahun 1930-1940-an. Majalah bulanan yang jumlah halamannya hanya 12- 16 halaman tersebut, kekhasannya terletak pada penyajian yang menggunakan huruf Jawa dan huruf Arab sekaligus. Pengelola majalah Hoedaja adalah Komite Pendidikan Keraton Surakarta di Masjid Agung.
Koran berukuran 20 X 30 cm, dijual eceran seharga f 0,01 dan harga langganan f 0,10 per tahun. Isinya meliputi kebudayaan, pendidikan, keagamaan, dan lain-lain. Di dalam majalah tersebut juga terdapat beberapa iklan komersial yang ditulis dengan huruf latin. Peredarannya mencakup kalangan muslim kejawen di wilayah Surakarta dan sekitarnya. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Host - seseorang yang memegang sebuah acara tertentu. Keberadaan host biasanya identik dengan acara yang dibawakannya. Dengan demikian selain jenis acara, figur host yang bersangkutan juga memegang peranan penting.
Kehadiran seorang host yang berkarakter akan menjadi daya tarik sebuah acara. Jika host-nya ternyata tidak berkarakter maka bisa jadi acara tersebut segera ditinggalkan pemirsa. Untuk itu setiap produser sebuah acara harus betul-betul selektif memilih para host. Artinya, pertimbangan pemilihannya tidak didasarkan karena kecantikan dan popularitasnya, tetapi juga integritas dan karakternya. Sering kita lihat acara di televisi berganti-ganti host hanya karena masalah karakter.
Sebagai contoh, Rina Gunawan, yang menjadi host dalam acara “Campur-Campur” di ANTV, yang mampu menyedot perhatian banyak pemirsa. Meskipun terkadang dia lupa dengan kelatahannya, tetapi acara yang dibawakannya begitu hidup. Ketika stasiun televisi ini melakukan perombakan, Rina mampu mewarnai kebangkitan ANTV.
Kini para host acara semakin banyak bermunculan, bahkan beberapa di antaranya menjadi selebriti yang cukup dikenal oleh masyarakat. Tabloid Cek & Ricek menempatkan Desak Made Hughesia (Dewi Hughes) menjadi “Ratu Cuap-Cuap”. Tabloid tersebut menyatakan dalam ajang Panasonic Award 2000, Hughes terpilih sebagai pembawa acara terfavorit. Dua tahun berikutnya (2001 dan 2002) di ajang yang sama, namanya masih menjadi nominasi pembawa acara terfavorit. Sedangkan di event MUI Award 2001 dia berhasil terpilih menjadi “Presenter Terpuji II”. Terakhir, tahun 2002, masih di event MUI Award, Hughes berhasil menjadi “Presenter Terpuji I”.
Kepiawaian Hughes tak cuma diakui di dalam negeri, tetapi juga di mancanegara. Ia pernah meraih predikat “The Best Speaker Toast Master International” dari Amerika Serikat (2001). Dengan sederet prestasi yang telah diraihnya, Hughes sangat mantap memilih dunia presenter. Dalam setiap acara yang dipandunya, Hughes memang berbeda dengan rekan sejawatnya. Dia selalu tampil kritis dan natural. Dia juga biasa menyelipkan joke yang cerdas, yang membuat acara serius terkesan ringan. Lihat saja beberapa acara yang pernah dipandunya, seperti “KISS” (Indosiar), “Angin Malam” (RCTI), “Mimpi Kali Yee ...” (SCTV), “Sahur Bersama Generasi Kreatif” (ANTV), dan “Jelang Bedug” (Metro TV). (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, Askurifai Baksin, Penerbit Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2006).


Houzee - suratkabar bulanan. Pada tahun 1937 -1938 pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan Indonesia sedang hangat-hangatnya. Pada saat bersamaan, di Eropa tengah berkuasa tokoh-tokoh fasisme Hitler dan Mousolini yang memanaskan perkembangan politik dan ekonomi dunia.
Berita-berita dan artikel tentang kedua hal tersebut, banyak mewarnai suratkabar bulanan berbahasa Belanda tersebut.
Suratkabar yang terbit di Medan ini diterbitkan JW Trouw, Medan, dengan slogan “Orgaan voor het gewest Sumatera der nationaal socialistche beweging.”  Di dalam suratkabar berformat broadsheet yang setiap kali terbit 8 halaman ini terdapat rubrik “Krig Nieuws” yang memuat berita-berita dari daerah Pematang Siantar, Kisaran dan Medan sendiri. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
  

Human Interest - Definisi mengenai istilah human interest senantiasa berubah-ubah menurut redaktur suratkabar masing-masing dan menurut perkembangan zaman. Tetapi, yang pasti adalah bahwa dalam berita human interest terkandung unsur yang menarik empati, simpati atau menggugah perasaan khalayak yang membacanya.
Kata human interest secara harfiah artinya menarik minat orang. Dan jika dihubungkan dengan arti harfiahnya ini, istilah human interest dalam pemberitaan sebenarnya merupakan salah kaprah. Tidak ada satu pun berita bisa dimuat dalam suratkabar kecuali berita itu memiliki unsur human interest, memiliki hal-hal yang menarik minat orang.
 Tetapi, demi adanya istilah yang tepat, dunia jurnalistik memasukkan setiap jenis berita yang memiliki daya tarik secara universal yang menarik minat orang ke dalam golongan human interest, meskipun berita tersebut kurang memiliki dampak. Simaklah berita-berita di halaman-halaman suratkabar yang anda baca. Setelah anda membaca berita-berita yang mengandung satu atau beberapa kombinasi keempat unsur berita di atas, maka anda akan menemukan sekelompok besar berita-berita tambahan yang unsur-unsur daya tariknya memikat hati pembaca. Di antara berita-berita tersebut mengandung salah satu unsur human interest di bawah ini:
1.Ketegangan (Suspense). Apa keputusan yang akan dijatuhkan dalam pengadilan kasus pembunuhan sadis itu? Siapa yang akan menang dalam pertandingan final antara kesebelasan Indonesia dan kesebelasan Singapura untuk memperebutkan Piala Tiger itu? Apakah para anggota Tim SAR akan dapat menemukan korban longsor yang tertimbun tanah itu?
2.Ketidaklaziman (Unusualness). Kejadian yang tidak lazim atau sesuatu yang aneh        akan memiliki daya tarik kuat untuk dibaca. Pemogokan guru, kalau hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya, akan menjadi peristiwa yang memiliki nilai berita human interest tinggi. Begitu pula seorang wanita yang melahirkan bayi kembar lima. Atau, seorang tukang becak yang mengembalikan bungkusan berisi uang Rp 100 juta yang ditemukannya dalam becaknya. Atau juga, sepucuk surat yang diposkan sepuluh tahun yang lalu baru diterima hari ini.
3.Minat Pribadi (Personal Interest). Sekarang dijual bibit rumpur baru yang mengurangi kebutuhan untuk membabat rumput. Gaun sekarang ada yang tidak perlu disetrika sehabis dicuci. Seorang ahli urut dapat membuat langsing seorang yang kelebihan berat badan dalam waktu dua minggu.
4. Konflik (Conflict). Peristiwa atau kejadian yang mengandung pertentangan senantiasa menarik perhatian pembaca. Para sosiolog, berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian mereka, berpendapat bahwa pada umumnya manusia memberikan perhatian terhadap konflik, kalau tidak mau dikatakan menyukainya. Apalagi kalau mereka tidak mengalaminya sendiri. Sebab itu, orang suka membaca berita tentang perang, kriminalitas atau olahraga atau persaingan dalam bidang apa pun karena di dalamnya terkandung unsur konflik dan drama.
5.Simpati (Sympathy). Seorang ibu kehilangan tiga anaknya ketika terjadi longsor di Bogor. Seorang anak kecil makan sendiri dan bermain dengan asyik di sisi ibunya yang “tidur” nyenyak – yang akhirnya diketahui bahwa sang ibu telah meninggal dunia dua hari lalu.
6.Kemajuan (Progress). Sebuah pesawat antarika yang direncanakan akan mendarat di Planet Mars tengah dibuat di Amerika. Kereta api monorel akan dibangun di Jakarta untuk mengatasi kemacetan lalulintas. Suatu vaksin untuk mencegah penyakit AIDS tengah dikembangkan di Prancis.
7.Seks (Sex). Seorang bupati menikah dengan seorang artis terkenal setelah lebih dulu menceraikan isterinya. Seorang artis cantik mengajukan gugatan cerai dari suaminya yang sudah tua untuk menikah dengan seorang bujangan. Seorang konglomerat perusahaan perkapalan diadukan oleh kelasi di salah sebuah kapalnya karena berselingkuh dengan isterinya.
8.Usia (Age). Anak ajaib berusia lima tahun yang mahir memainkan biola akan tampil dalam pertunjukan Jakarta Philharmonic bulan depan. Seorang petani pada hari ulang tahunnya yang ke-100 memberikan saran tentang rahasia usia panjangnya, “Lakukan segala sesuatu itu dengan wajar.”
9.Binatang (Animals). Seekor kucing yang terjepit pipa pembuangan telah membangunkan seluruh penghuni rumah susun. Seekor harimau yang untuk pertama kalinya melahirkan di kebun binatang menarik perhatian pengunjung. Seekor anjing menyelamatkan majikannya yang buta dalam suatu peristiwa kebakaran.
10.Humor (Humor). Seorang politisi mengucapkan pidato di depan televisi setengah jam – tanpa menyadari mikrofonnya itu mati. Seorang penjaga gawang bukannya menangkap bola yang ditembakkan ke arahnya, tetapi malah menangkap sepatu sang pencetak gol yang lepas saat menendang bola.
Unsur-unsur berita yang disebutkan di atas tidak pernah berdiri sendiri dalam suatu berita. Biasanya unsur-unsur berita tersebut ditemukan dalam kombinasi-kombinasi – misalnya, unsur ketidaklaziman dengan unsur humor; atau unsur dampak, unsur nama-nama terkenal, dan unsur aktualitas, dengan unsur konflik. Wartawan yang terlatih akan “merasakan” sendiri mana aspek-aspek berita yang perlu ditonjolkan, seberapa banyak alinea ia tulis, dan seberapa jelas aspek-aspek itu harus ditonjolkannya.
Selain unsur-unsur berita di atas, sebenarnya masih ada unsur lain dalam berita, yakni unsur magnitude. Peristiwa yang memiliki magnitude akan bernilai sebagai berita sehingga layak untuk dimuat. Misalnya, dijumpai seorang yang sangat pendek atau tinggi melampaui kelaziman. Unsur magnitude ini biasanya dimasukkan ke dalam pengertian ketidaklaziman. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalistik Teori & Praktik, Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Penerbit PT Remaja Rosdakarya Bandung, 2005).


Humor, majalah khusus humor. Sebelumnya hadir dengan nama Stop yang beredar sejak tahun 1970. Majalah khusus humor ini diterbitkan oleh Kelompok Majalah Selecta, kelompok usaha penerbitan yang juga menerbitkan majalah Selecta dan Detektif & Romantika.
Pada awal penerbitannya Stop mampu bersaing dengan media lain yang sejenis dan   mengalami kemajuan yang signifikan. Dari frekuensi terbit bulanan, dalam waktu cepat menjadi tengah bulanan, kemudian sepuluh harian, mingguan, dan akhirnya diterbitkan setiap 6 hari. Berarti setiap bulan, Stop terbit lima nomor.
Namun keberhasilan tersebut berakhir ketika Stop memasuki usia ke-10. Oplahnya terus menurun, dari terbanyak 45.000 eksemplar turun menjadi 18.000 eksemplar.
Satu hal mungkin menjadi penyebab Humor ditinggalkan pembacanya antara lain banyak ilustrator/kartunis andalan yang berpindah ke media lain seperti Dwi Koendoro, A. Chamid, A.S. Utama, Wedha, Singgih Boediono, dan Ram Sanjaya. Beberapa  penulisnya juga meninggalkan Humor, dan bahkan meninggalkan Selecta Group. Beberapa tahun terakhir Humor hanya ditangani dua orang tenaga redaksi sehingga ketergantungan kepada kontributor luar sangat besar.
Selecta Group yang sejak awal memang hanya menggantungkan kelangsungan hidupnya dari sirkulasi sulit untuk bertahan. Bahkan ketika kelompok usaha ini mulai membuka pintu untuk memperoleh pendapatan dari pemuatan iklan, Humor tetap tidak mampu keluar dari keterpurukannya.
Akhirnya untuk mempertahankan kelangsungan hidup satu-satunya majalah bertema humor di Indonesia, Humor menjalin kerja sama  dengan PT Grafiti Pers.
Tanggal 10 Oktober 1990 adalah hari kelahiran kembali Humor. Mulai nomor 117 (edisi 12 Agustus 1995) hari terbitnya diubah ke Sabtu minggu kedua dan keempat.
Penampilannya dirombak total, dan jumlah halaman pun ditambah. Bahkan mulai nomor 127 edisi 13 Januari 1996, jumlah halamannya ditambah menjadi 116 halaman, termasuk 16 halaman warna/HVS dan empat halaman warna cover/artpaper. Selebihnya, halaman spot dua warna.
Rubrikasi disajikan dengan judul-judul rubrik khas HumOr. Pada awalnya ada sekitar 35 rubrik, kemudian menjadi sekitar 50 sejak nomor 76 edisi 24 November 1993. Selain rubrik andalan seperti “Wawancanda”, juga ada sehalaman dari LAT, kartunis Malaysia, dan “Senyum di Kolom”.
Saat itu majalah HumOr ditangani 8 redaktur tulis/reporter, 3 kartunis/ilustrator, 2 designer, 1 orang paste up, 1 tenaga perpustakaan dan 1 sekretaris redaksi. Ditambah 2 redaktur khusus dan 12 kontributor andalan seperti Jaya Suprana, Emha Ainun Nadjib, Permadi, Putu Wijaya, Darmanto Jatman, Dwi Koendoro dan Wimar Witoelar, dan beberapa penulis dan kartunis freelance.
Di bidang manajemen, diturunkan tenaga-tenaga profesional dari Matra. Dalam perjalanannya, bagian distribusi dikembangkan di bawah badan hukum tersendiri yakni PT Distribusindo Utama. Badan hukum ini tidak hanya mengurusi pemasaran dan distribusi HumOr, tetapi juga menangani beberapa majalah lain seperti Matra, Vista-TV, Sport, Paron, dan Anak Saleh. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)