Rabu, 13 Desember 2017

I dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

IAA Indonesia Chapter -asosiasi profesi periklanan. Sejak tahun 1938 di tataran internasional telah hadir sebuah asosiasi profesi periklanan bernama The International Advertising Association (IAA).
Keanggotaan dalam asosiasi ini adalah pribadi-pribadi yang berprofesi di bidang periklanan. Hingga tahun 1978, beberapa orang Indonesia yang diketahui menjadi anggota IAA adalah: Ken Sudarto (Matari), Sjahrial Djalil (AdForce), Wisaksono Noeradi (Caltex Pacific), Bondan Winarno (Union Carbide), Djoenaedi Joesoef (Konimex), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Gerald Tunggono (Kompas), Daisy Taniredja (Kompas), Jacoba Muaja (Selecta), dan Iskandar Wijaya (Sinar Harapan).
Karena jumlah minimum untuk mendirikan cabang (chapter) di satu negara sudah terpenuhi, dan karena profil para anggotanya sudah mewakili ketiga unsur periklanan (perusahaan pengiklan, perusahaan periklanan, dan perusahaan media) maka timbullah gagasan untuk merintis pembentukan IAA Indonesia Chapter (IAA IC).
Dua perintis yang sangat gigih memperjuangkan pendirian IAA IC itu adalah Aristides Katoppo dan Ken Sudarto. Mereka berdualah yang silih berganti menjadi sponsor pertemuan-pertemuan anggota IAA di Indonesia. Pertemuan-pertemuan itu paling sering dilakukan di Executive Club yang merupakan bagian dari Jakarta Hilton Hotel (sekarang menjadi The Sultan). Wisaksono Noeradi ketika itu baru saja pindah tugas dari Caltex di Pekanbaru ke kantor pusatnya di Jakarta. Ia merupakan salah satu tokoh yang aktif ikut dalam berbagai pertemuan persiapan. Daisy Taniredja juga merupakan anggota yang sering hadir dalam pertemuan-pertemuan itu.
Akhirnya, setelah melalui serangkaian pertemuan panjang, pada pertengahan tahun 1978, IAA Indonesia Chapter resmi dibentuk dengan Aristides Katoppo sebagai Presiden, dan Bondan Winarno sebagai Sekretaris Jenderal. Sebetulnya, Ken merupakan kandidat utama untuk jabatan ketua umum, tetapi dengan rendah hati Ken menolak jabatan itu karena menyadari posisinya yang kontroversial di dunia periklanan Indonesia. Sebagian praktisi periklanan Indonesia menganggap Ken sebagai sosok yang ambisius dan arogan.
Pembentukan IAA IC ini segera dilaporkan kepada pengurus IAA di New York. Kemudian, IAA IC diterima dan diresmikan pendiriannya pada saat penyelenggaraan IAA World Conference di Copenhagen pada musim semi tahun 1978. Para pengurus dan anggota yang ikut hadir dalam konferensi itu antara lain adalah: Aristides Katoppo, Djoenaedi Joesoef, Ken Sudarto, Iskandar Wijaya, dan Bondan Winarno.
Sepulang dari Copenhagen, pertemuan rutin anggota IAA IC menjadi semakin aktif. Ujung tombak pertemuan-pertemuan ini adalah Ken Sudarto yang memang tampak seolah resah bila sudah agak lama tidak ada kegiatan organisasi. Ia rupanya menganggap bahwa IAA IC adalah wadah yang paling cocok baginya. Ken selalu mempunyai topik yang diusulkan untuk dibahas bersama anggota lain. Karena pertemuan-pertemuan itu biasanya diselenggarakan secara santai sambil makan pagi di sebuah hotel, Ken menyebut “lembaga” itu sebagai The Breakfast Meeting.
Pertemuan sambil sarapan itu sering diselenggarakan di Hotel Mandarin karena letaknya di jantung kota. Beberapa kali pertemuan diselenggarakan di Hotel Indonesia mengingat hotel itu menjadi “markas” Djoenaedi Joesoef bila sedang berada di Jakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, The Breakfast Meeting beberapa kali sempat diselenggarakan di Solo atas undangan Djoenaedi.
Selain para anggota IAA IC, beberapa tokoh media pun sering ikut hadir dalam pertemuan-pertemuan itu. Dua orang tokoh media yang sering hadir dalam pertemuan itu adalah Fikri Jufri (Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Tempo), dan Toeti Adhitama (pembaca berita dan pewawancara TVRI, sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Eksekutif). The Breakfast Meeting terbukti merupakan lingkaran eksklusif dan ajang pertukaran informasi di bidang politik dan ekonomi, di samping juga mendiskusikan berbagai isu tentang kebijakan periklanan.
Beberapa kali beberapa kali pertemuan  The Breakfast Meeting menghadirkan pejabat pemerintah -antara lain Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika (PPG), R. Soekarno dan Direktur Bina Pers, Sunarto- guna menyeberangkan berbagai gagasan tentang visi periklanan modern.
Setelah generasi kepemimpinan Aristides Katoppo, IAA IC tidak banyak lagi melakukan kegiatan untuk menandai kehidupannya. Pada tahun 2002, IAA IC bangkit kembali dengan ketua yang baru, Yanti B. Sugarda. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Rumah Iklan, Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri, Bondan Winarno, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2008).


Ichlasul Amal - Ketua Dewan Pers 2006-2009. Menjadi anggota Dewan Pers dari unsur tokoh masyarakat/pakar, yang terpilih untuk kedua kalinya. Sebagai mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1998-2002, namanya dikenal luas. Saat terjadi pergolakan reformasi 1998, ia dikenal sebagai tokoh yang giat mendukung gerakan mahasiswa. Pendapat-pendapatnya tentang politik nasional sering dikutip pers.
Selain sebagai rektor, berbagai jabatan akademis pernah didudukinya, di antaranya, Dekan Fisipol UGM (1988-1994) dan Direktur Program Pascasarjana UGM (1994-1998).
Selain menempuh pendidikan di dalam negeri Ichlasul Amal pernah kuliah di Jurusan Ilmu Politik Northern Illinois University, Illinois, Amerika Serikat, dan Monash University, Melbourne, Australia. Penghargaan yang pernah diterimanya antara lain Penghargaan Kesetiaan selama 25 tahun dari Rektor UGM (1992); Penghargaan Satya Lencana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI (1998-2002); dan Distinguished Alumni Award dari Monash University Australia (1998). E-mail: Alamat surel ini dilindungi dari spambots. Anda harus mangaktifkan JavaScript untuk melihatnya. . (Tim EPI. Sumber: PDAT)


Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) adalah wadah berhimpun para jurnalis televisi seluruh Indonesia yang terbentuk pada Kongres I, 8 dan 9 Agustus 1998 di Jakarta. Gagasan pembentukannya terjadi 25 April 1988 oleh kalangan reporter dan kamerawan dari sejumlah stasiun TV yang sama-sama merasa perlu adanya pemberdayaan jurnalis televisi. Hal yang sama juga dirasakan para pemimpin redaksi di sejumlah stasiun TV.
Dari gagasan tersebut kemudian dibentuk panitia kongres yang menyiapkan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan draft program kerja. Panitia Pengarahnya terdiri dari Ketua: Dedy Pristiwanto (Indosiar), Wakil Ketua: Sumita Tobing (SCTV), Anggota: H. Azkarmin Zaini (ANTV), Yazirwan Uyun (TVRI), Faizars Noor (TPI ), Chrys Kelana (RCTI). Panitia Pelaksananya adalah Ketua Presidium: Haris Jauhari (TPI), Anggota Presedium: Iskandar Siahaan (SCTV), Adman Nursal (ANtv), Nugroho F. Yudho (Indosiar), Teguh Juwarno (RCTI), dan sejumlah nama lain.
Kongres pertama pada tanggal 8 hingga 10 Agustus 1998 berhasil mengesahkan AD/ART/ Program Kerja, dan Kode Etik. Kongres juga memilih Pengurus IJTI dengan Ketua: Haris Jauhari (TPI), Sekjen: Zihni Rifai (RCTI), Wakil Sekjen: Nugroho F. Yudho (Indosiar), Bendahara: Kukuh Sanyoto (RCTI), Ketua: Iskandar Siahaan (SCTV), Reva Deddy Utama (ANTV), Usi Karundeng (TVRI), dan Despen Omposunggu (Indosiar). Kepengurusan dilengkapi ketua departemen dan staf.
Pengurus juga memberikan mandat kepada H. Azkarmin Zaini (ANTV), Deddy Pristiwanto (Indosiar), Yazirwan Uyun (TVRI), Sumita Tobing (SCTV), sebagai anggota Dewan Kehormatan IJTI yang bertugas mengawasi pelaksanaan Kode Etik IJTI.
Kongres ke-2 di Jakarta tanggal 26 - 27 Oktober 2001 menghasilkan kepengurusan baru. Intinya seluruh kegiatan pengurus periode sebelumnya diterima dengan catatan. Program kerja disusun di bawah komando ketua umum terpilih Ray Wijaya (RCTI) dan Syaefurrahman Al- Banjary (ANTV). Kepengurusan dilengkapi dengan ketua-ketua bidang dan ketua departemen. Pada periode ini kegiatannya praktis konsolidasi ke berbagai daerah. Kegiatan ke dalam diarahkan meningkatkan keberdayaan jurnalis televisi melalui pelatihan, misalnya pelatihan jurnalisme konflik. Kegiatan ke luar berupa membangun opini publik berkaitan dengan perjuangan melahirkan undang undang penyiaran, yang kemudian disahkan jadi UU Nomor 32/2002.
IJTI lahir dilandasi semangat kebebasan berserikat dan berpendapat, serta pentingnya fungsi dan kedudukan pers televisi yang strategis, yaitu sebagai lembaga kontrol, sarana mencerdaskan bangsa dan mengembangkan demokrasi. Untuk itu diperlukan jurnalis yang profesional dan mandiri.
IJTI berdiri dengan tujuan utama mewujudkan kebebasan pers yang bertanggung-jawab. Secara khusus, IJTI ingin mewujudkan korps Jurnalis Televisi Indonesia yang mandiri, bebas dan bertanggung jawab; mewujudkan jurnalis televisi yang profesional, setia-kawan dan sejahtera lahiriah dan batiniah.
Di bidang regulasi penyiaran, IJTI sejak awal terlibat dalam penyusunan RUU tandingan versi tim 13 ATVSI dan selalu mengkritisi setiap rancangan aturan yang akan membelenggu kebebasan pers dan terhalangnya hak masyarakat akan informasi harus dicabut. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI), adalah wadah para istri wartawan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang merupakan pencerminan perjuangan isteri wartawan dan karyawan yang bekerja di bidang pers. Secara resmi IKWI diaktifkan kembali pada 12 Juni 1979, sesuai keputusan Kongres XVI PWI di Lampung Desember 1978.
Pertemuan Besar (yang kemudian dinamakan Kongres I) IKWI diselenggarakan di Jakarta pada 18-19 Juli 1961, mengambil tempat di Deca Park -- yang kemudian diganti namanya menjadi Taman Chairil Anwar --  kini sudah menjadi pertamanan di depan gedung Departemen Dalam Negeri dan Markas Besar Angkatan Darat. Di situ terdapat gedung Press Club yang dikelola oleh kaum wartawan generasi Gayus Siagian, Soemantoro, Frans Mendur dan lain-lain.
Sekitar tahun 1961, adalah zamannya Manipol Usdek, dan karenanya pertemuan besar itu juga diliputi oleh suasana demikian. Bahkan dalam surat undangan yang disampaikan oleh panitia kepada cabang-cabang yang belum resmi, disebutkan bahwa pertemuan besar yang akan diadakan itu akan membicarakan langkah-langkah yang cepat untuk menyumbangkan tenaga penyelenggaraan revolusi dan pembangunan semesta berencana.
Resepsi pembukaan diadakan pada 18 Juli 1961 pagi, dihadiri utusan dari daerah-daerah, anggota IKWI, Jakarta Raya, wakil dari sejumlah departemen. Acaranya diselingi dengan ceramah dari tokoh-tokoh yang khusus diminta untuk berbicara, menguraikan sebuah topik yang sudah ditentukan sebelumnya.
IKWI dibentuk dengan tujuan mempererat hubungan persaudaraan dan kekeluargaan di dalam lingkungan keluarga besar PWI dan dunia pers nasional; berusaha membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga anggota PWI dan karyawan yang bekerja di bidang pers dalam rangka menuju kesejahteraan bangsa; turut serta menyukseskan tugas yang diemban oleh PWI dalam pengabdiannya mewujudkan cita-cita nasional menuju masyarakat adil makmur dan sejahtera. (Tim EPI/Wid; Sumber: Buku PWI Jaya di Arena Masa, Soebagijo IN, Penerbit Persatuan Wartawan Indonesia Jakarta, 1998).


Iklan - Kalau kita membaca media cetak, menonton televisi atau mendengarkan radio pastilah di antara berbagai sajian isi, tayangan atau siarannya terdapat iklan yang terdiri atas berbagai produk barang atau jasa. Penyajiannya ada yang berupa iklan display, iklan kolom atau iklan baris/iklan mini. Bagi media massa, biaya pemasangan iklan merupakan sumber pendapatan utama. Semakin besar volume iklan yang dimuat atau ditayangkan/disiarkan berarti semakin besar pendapatan media bersangkutan dari iklan.
Sejauh ini di Indonesia belanja iklan nasional mencapai triliunan rupiah dan pada tahun 2008 ini diproyeksikan mencapai lebih dari Rp 20 triliun. Dari jumlah itu terbanyak dibelanjakan melalui televisi, kemudian media cetak dan radio. Selebihnya dibelanjakan melalui wahana iklan berupa media luar griya (out-of-home media), media baru (new media), promosi penjualan, pemasaran/penjualan langsung (direct marketing/selling), perusahaan basis data (data base), penajaan (sponsorship), periklanan informatif (informative advertising), pemaduan produk (product placement/integration), penggunaan data riset, subliminal, subvertensi (subvertising).
Lalu apa iklan itu? Pengertian iklan, seperti dikemukakan Dewan Periklanan Indonesia dalam buku Etika Pariwara Indonesia, adalah pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang suatu produk yang disampaikan melalui suatu media, dibiayai pemrakarsa yang dikenal, serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Termasuk dalam pengertian iklan ialah iklan korporat, iklan layanan masyarakat, iklan promo program. Sedangkan yang tidak termasuk dalam pengertian iklan ialah pemerekan (branding), ajang (event), dan pawikraya (merchandising).
Iklan korporat ialah pesan komunikasi pemasaran yang diprakarsai atau dibiayai oleh, dan diidentifikasikan hanya dengan nama entitas produsen. Iklan layanan masyarakat ialah pesan komunikasi publik yang tidak bertujuan komersial tentang gagasan atau wacana, untuk mengubah, memperbaiki, atau meningkatkan suatu sikap atau perilaku dari sebagian atau seluruh anggota masyarakat.
Pemahaman kita tentang pengertian iklan tersebut akan lebih lengkap jika kita juga memahami pengertian periklanan. Pengertian ini mencakup penjualan/pemasaran langsung (direct selling/marketing), publisitas, advertorial/inforial/inspiratorial dan sebagainya, huwara (adlib), sisipan media (media insert), teks berjalan (running text), logo/merek beranimasi, serta semua bentuk baru komunikasi pemasaran, termasuk yang menggunakan teknologi informasi.
Periklanan ini terdiri atas periklanan informatif (informative advertising) dan periklanan kebijakan publik. Periklanan informatif ialah penyampaian pesan periklanan dengan teknik atau tampilan laiknya karya jurnalistik. Termasuk di sini advertorial, infotorial, edutorial, inspiratorial, dan sebagainya.
Sedangkan periklanan kebijakan publik terdiri atas periklanan pamong (government advertising), periklanan politik (political advertising), dan periklanan pemilihan umum (electoral advertising). Periklanan pamong yaitu periklanan yang mempromosikan tentang kebijakan kepamongan atau oleh penyelenggara negara.
Periklanan politik yaitu yang mempromosikan pengetahuan, pengalaman, atau pendapat suatu kelompok tentang kebijakan publik. Termasuk di sini periklanan tentang pendidikan politik dan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan. Periklanan pemilihan umum yaitu periklanan partai politik atau pemilihan legislatif, serta presiden dan wakil presiden (pemilu), maupun pemilihan kepala daerah (pilkada), dan disiarkan pada periode kampanye yang ditetapkan oleh lembaga resmi terkait.
Dilihat dari jenis atau ragam produknya, iklan ini terdiri atas minuman keras, rokok dan produk tembakau, obat-obatan, produk pangan, vitamin, mineral, dan suplemen, produk peningkat kemampuan seks, komestik, alat kesehatan, alat dan fasilitas kebugaran atau perampingan, klinik, poliklinik, dan rumah sakit, jasa penyembuhan alternatif, organ tubuh transplantasi dan darah, produk terbatas, jasa profesi, properti, peluang usaha dan investasi, penghimpunan modal, dana sosial dan dana amal, kursus dan lowongan kerja, gelar akademis, berita keluarga, gerai pabrik, penjualan darurat dan lelang likuidasi, kebijakan publik, iklan layanan masyarakat, judi dan taruhan, senjata api, amunisi, dan bahan peledak, agama, iklan multiproduk.
Di Indonesia, hukum positif yang mengatur tentang periklanan atau kasus-kasus periklanan yaitu KU Perdata/BW tentang Perdagangan, KUH Pidana tentang Perdagangan, UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU No. 40/1999 tentang Pers, UU No. 32/2002 tentang Penyiaran, UU No. 7/1996 tentang Pangan, PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan, SK Menteri Kesehatan No. (Rancangan) tentang Petunjuk Pelaksanaan PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan, PP No. 19/2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, SK Menteri Kesehatan No. 368/Men.Kes/SK/IV/1994 tentang Pedoman Periklanan Obat Bebas, Obat Tradisional, Alat Kesehatan, Kosmetika, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, Makanan-Minuman. (Tim EPI/Wid)


Iklan Mini - Berbincang tentang sesuatu yang mini, maka dalam benak kita terbersit sesuatu yang kecil dan serba-terbatas. Demikian pula dengan iklan mini di media cetak. Iklan mini adalah iklan yang serba-terbatas. Terbatas ukurannya, terbatas waktunya, terbatas kreativitasnya serta terbatas pula dananya. Iklan mini termasuk dalam classified advertising yang kebanyakan disusun dalam kelompok-kelompok tertentu.
Di dalam iklan mini ada dua unsur alternatif atau model, yakni regular classified atau yang kita kenal sebagai iklan baris dan display classified yaitu iklan mini tetapi bentuknya sejenis dengan iklan-iklan display yang besar.
Iklan baris umumnya mengandung nilai informasi saja, seperti menjual rumah, mobil atau tanah. Sedangkan iklan mini di samping mengandung nilai informasi, juga mengandung nilai persuasi. Jadi sejenis dengan iklan display umumnya, hanya dengan ukuran yang terbatas.
Walaupun iklan mini tampil terbatas, tetapi fungsi dan manfaatnya kadang dapat mengalahkan iklan besar jika perencanan kreativitas dan medianya digarap dengan baik dan profesional. Bahkan pernah terjadi kasus ketika sebuah perusahaan yang memasarkan perumahan murah, memasang iklan berkali-kali dengan ukuran ¼ halaman di sebuah media yang bertiras cukup besar, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Padahal biaya yang dikeluarkan untuk iklan tersebut cukup besar. Ketika dipasang iklan mini berukuran 1 kolom x 100 mm di Harian Pos Kota dengan frekuensi yang cukup dengan kreativitas yang pas, hasilnya sungguh fantastis!
Hal itu bisa dimaklumi karena iklan mini sulit dapat dipisahkan dari citra atau jatidiri yang melekat kuat pada Pos Kota. Sebab, Pos Kota merupakan suratkabar perintis dan sekaligus paling banyak menyediakan halamannya untuk memuat iklan mini atau iklan baris. Bahkan, pada hari-hari tertentu, iklan mini atau iklan barisnya menyita lebih banyak halaman. Dengan kata lain, bila dibandingkan dengan halaman berita, jumlah halaman iklannya jauh lebih besar.
Iklan mini atau iklan baris di Pos Kota ternyata memiliki daya tarik tersendiri bagi khalayak pembacanya. Bagi sebagian khalayak pembacanya, daya tarik iklan tersebut jauh lebih kuat ketimbang berita-berita yang disuguhkannya. Artinya, iklan-iklan mini atau baris yang dimuat oleh koran ini paling tidak memiliki kelompok pembacanya sendiri. Mereka yang mau membeli atau mengontrak rumah, jual-beli tanah, membeli atau menjual mobil/sepeda motor, sampai kepada mereka yang mau membeli obat-obat “kuat”, pagi-pagi buta harus membaca iklan mini Pos Kota.
 Silakan anda simak manfaat iklan mini di bawah ini:
1. Bila dana anda tersedia senilai ½ halaman  untuk 1 kali pasang, maka iklan mini dapat  dimainkan dengan frekuensi yang cukup   (harganya pun miring).
2. Bila seri produk yang ditawarkan banyak,   maka kita bisa menampilkan satu urutan   seri produk yang ditawarkan.
3. Bila kegunaan produk banyak, bisa ditam-  pilkan satu setiap hari atau setiap minggu.
4. Iklan mini dapat berperan sebagai “pem-  buka pintu” bagi pramujual (salesman/  salesgirl) untuk mengunjungi calon pembeli  atau prospek.
5. Iklan mini bisa dipasang menurut kelompok  sehingga pembaca langsung bisa mencari  iklan produk yang sesuai dengan kebutuhan  mereka.
6. Iklan mini baik untuk menawarkan barang  atau jasa yang memiliki pasaran terbatas   seperti kursus, perumahan sederhana/mu- rah. (Tim EPI/Wid. Sumber: Iklan Mini Pe-  ngaruh dan Fungsinya, Fachry Mohamad,   dalam Buku Pos Kota 30 Tahun Melayani   Pembaca, Tim Penyunting Encub Subekti,   S. Saiful Rahim, Zulkarimein Nasution, Pe-  nerbit Litbang Grup Pos Kota, Jakarta, 2000).


Iklan Pariwara - Suratkabar umumnya membuat beberapa kategori iklan yang ditawarkan sesuai dengan tarif yang dipatok. Misalnya, iklan mini/iklan baris, iklan display, iklan kolom termasuk iklan pariwara. Di antara sekian kategori tersebut, yang paling sedikit peminatnya adalah iklan pariwara. Ini aneh, sebab dibandingkan dengan teknik yang bisa digunakan pada kategori iklan yang lain, iklan pariwara ini bisa memiliki kemampuan membujuk (persuasif) yang sangat tinggi. Mengapa begitu?
Disebut pariwara karena iklan ini mempunyai struktur pesan yang mengandung unsur nilai berita (news values). Iklan ini bila dibuat secara cermat bisa memberi kesan bahwa pesan yang disampaikan bukan promosi, sehingga mampu mengarahkan publik pada penyerapan pesan-pesan yang netral. Publik tidak menyadari bahwa pada saat itu sedang dikondisikan seleranya atau sedang diubah struktur memorinya. Mereka hanya menyadari bahwa yang dibacanya adalah sebuah informasi yang layak sebagai pengetahuan.
Memang pariwara mempunyai kelemahan dari tujuan iklan, yakni tidak mampu “memaksa” konsumen mengambil keputusan dalam jangka pendek. Inilah yang sering kurang diminati produsen yang ingin buru-buru “melihat” hasilnya. Padahal, pariwara sangat potensial membentuk brand image yang kuat pada jangka panjang. Melalui pariwara ini, sosialisasi bisa lebih mendalam dan mendetail, sehingga intensitas pengenalan publik terhadap institusi atau produknya akan lebih kuat.
Bila popularitasnya sudah mengakar, kelak pada saat terjadi krisis kepercayaan tertentu atau terjadi persaingan ketat karena banyaknya new comer (pendatang baru) di pasar bebas, maka produk yang populer ini akan menjadi pilihan (preferensi) utama bagi khalayak. Tetapi, sekali lagi masalahnya orang sering tidak sabar untuk segera menuai hasil.
Lagi pula dihitung-hitung dari segi biaya, iklan pariwara ini umumnya lebih ringan dibandingkan dengan iklan display. Di sebuah koran harian, misalnya, iklan pariwara hanya mematok harga Rp 6.000,00/mm kolom, sedangkan iklan display Rp 7.000,00/mm kolom.
Iklan pariwara, ini dilihat dari besarnya biaya yang dibutuhkan, agaknya lebih cocok untuk perusahaan-perusahaan besar, yang produknya bersifat massal dan mengharapkan kesinambungan jangka panjang. Bahkan, hukumnya bisa wajib bagi perusahaan besar yang membutuhkan good will masyarakat luas. Untuk perusahaan besar seperti ini, image produk atau jasa saja tidaklah cukup menjamin kesinambungan. Faktor lain yang harus ada adalah tingkat kepercayaan masyarakat (kredibilitas). Karena itu, sosialisasi tidak cukup hanya sebatas produk dan jasanya saja, tetapi juga sosialisasi corporate culture, yang meliputi citra kelembagaan, aktivitas kelembagaan, manajemen termasuk di dalamnya yang berhubungan dengan leadership.
Kemampuan BCA (Bank Central Asia) dalam tahun 2001 menangkis krisis kepercayaan yang mengakibatkan masyarakat menarik uangnya pada saat itu, tidak terlepas dari kredibilitas manajemen. Begitu masyarakat terguncang, dengan cepat manajemen tampil pada publik untuk meyakinkan dan memberi rasa aman. Nah, hal-hal semacam ini hanya mampu diformat melalui iklan pariwara (di samping kegiatan public relations). BCA termasuk lembaga perbankan yang banyak “membeli” iklan pariwara. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Komunikasi Organisasi dari Konseptual-Teoritis ke Empirik, Drs. Redi Panuju, Msi, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001).


Ik Po  - suratkabar mingguan. Suratkabar ini pertama kali beredar pada tahun 1904, di Kota Surakarta, kota yang sejak tahun 1800-an  memang banyak melahirkan suratkabar. Ik Po beredar setiap hari Selasa dengan bahasa Indonesia dan Cina tersebut, dan diterbitkan sebuah badan yang diprakarsai Tjoa Tjoe Koan.
Sesuai dengan namanya, suratkabar 8 halaman dengan format broadsheet ini banyak memuat berita-berita dan artikel tentang etnis Tionghoa. Porsi berita dan artikel yang disajikan dalam bahasa Indonesia terbilang lebih besar dibanding yang dituangkan dalam bahasa Cina. Ik Po juga memiliki agen di Eropa dan Amerika yang ditangani sebuah perusahaan milik Toean John F Jones & Cie yang berkedudukan di Paris. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Ilham Bintang - tokoh media.  Dikenal sebagai tokoh di balik larisnya infotainment televisi. Tidak berlebihan jika namanya melambung sebagai “Raja Infotainment Indonesia”. Lewat perusahaan rumah produksi yang dia dirikan bersama sejumlah teman, Ilham Bintang sudah memproduksi puluhan program dan infotainment program televisi untuk pelbagai stasiun televisi. Dari Cek & Ricek (RCTI), Buletin Sinetron (RCTI), Halo Selebriti (SCTV), Kroscek (Trans TV), Great Romances (Metro TV) Rumours (Metro TV), Katakan Cinta (RCTI), Lens (JAKTV), dan Kabar Tokoh (TVone).
Semua program televisi tersebut mendapat rating tinggi di jam siarannya masing-masing. Dengan kata lain, semua acara itu banyak disukai oleh para pemirsa televisi. Ini juga yang belakangan mendorong Ilham mulai mengelompokkan semua unit kegiatannya di infotainment dalam satu kelompok usaha, Bintang Group
Infotainment kini telah membiak menjadi mesin penangguk rating. Menurut data Komisi Penyiaran Indonsia (KPI), saat ini terdapat 112 program tayangan dan 68 tabloid berjenis infotainment. Ciri utamanya yakni sorotan atas kehidupan orang-orang ternama, terutama para selebritis dalam dunia hiburan. Bukan rahasia lagi jika ada acara infotainment yang rating-nya mengalahkan rating program berita di televisi.
Dalam logika televisi, acara dengan rating bagus (tinggi) dianggap punya nilai ekonomis besar karena memikat pengiklan. Semua tahu, bahwa iklan adalah tambang emas bagi industri televisi. Bagi Ilham Bintang, infotainment juga menjadi solusi yang berhasil memenuhi porsi 60% konten domestik yang diwajibkan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
Rating bagus dan iklan yang melimpah menginspirasi Ilham Bintang untuk membuat tayangan infotainment Cek & Ricek. Program ini ditayangkan pertama kali di RCTI pada 24 Agustus 1997. Setahun kemudian, tabloid Cek & Ricek terbit. Mulanya, Ilham sangsi acara ini akan berumur panjang, mengingat tayangan serupa rata-rata hanya bertahan tiga tahun. Namun Cek & Ricek terbukti mampu bertahan lebih 10 tahun.
Sebelum bisnisnya berkembang, Ilham memulai dengan Buletin Sinetron yang ditayangkan tahun 1994, kemudian disusul Cek & Ricek pada 1997. Dengan demikian, boleh dibilang kelompok ini pelopor dalam bisnis infotainment yang berkembang sekarang. Enam tahun berturut-turut Cek & Ricek masuk dalam perhelatan Panasonic Award. Ini berkat peran Ilham Bintang yang menekankan sistem jurnalisme pemberitaan kepada para reporternya. “Kami melakukan kerja profesional dan hasil kerja tim.”
Cek & Ricek adalah infotainment pertama yang sukses di Indonesia. Keberhasilan itu memancing rumah-rumah produksi lain untuk membuat acara serupa. Begitu pun ketika tabloid Cek & Ricek terbit dengan jargon “Bukan Berita Biasa.” Walhasil, Indonesia dilanda booming infotainment pada penghujung dekade 90-an. Dalam catatan Gatra, paling tidak ada 106 tayangan infotainment dalam sepekan yang menyesaki layar kaca mulai dari pagi hari hingga malam. Keuntungan yang ditangguk dari acara jenis ini, membuat stasiun-stasiun televisi terpancing untuk  memproduksi sendiri.
Ilham Bintang lahir di Makassar, 10 Mei 1955. Di tengah kesuksesannya dalam usaha rumah produksi, ia tetap lebih suka  menjadi wartawan. Ilham di organisasi PWI Pusat duduk sebagai Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Pusat masa bakti 1998-2003 dan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat periode 2003-2008. Profesi wartawan yang selama ini digelutinya, menurut Ilham, merupakan sarana paling efektif untuk menyampaikan pendapat dan pikiran tentang nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.
Orang yang mendorong Ilham Bintang memilih profesi wartawan sebagai sumber nafkah yakni Zaenal Bintang, kakaknya, dan wartawan senior H. Rosihan Anwar yang dikenalnya sejak 1977. Waktu itu, Rosihan Anwar menjabat sebagai Direktur Karya Latihan Wartawan PWI (Direktur KLW PWI). “Setelah mengikuti berbagai pendidikan jurnalistik, saya bisa membuktikan bahwa profesi wartawan memang dapat membentuk kepribadian,” ujar Ilham.
Ia mulai berkiprah di bidang jurnalistik tahun 1976 sebagai reporter sampai menjadi redaktur di harian Angkatan Bersenjata, kemudian mendirikan dan memimpin rumah produksi dan tabloid Cek & Ricek. Tabloid hiburan ini memang lahir belakangan, sekitar setahun setelah tayangan Cek & Ricek muncul dan mendapat rating tinggi di RCTI. Keduanya merupakan produk media hiburan yang menyorot kehidupan kalangan artis atau selebritis, yang rupanya terbukti amat digemari masyarakat. Bagi Ilham, betapa pun dunia televisi kian semarak setelah larisnya infotainment yang dia pelopori, akar kewartawanannya tetaplah berada di media cetak.
Dalam kiprahnya sebagai wartawan film, Ilham juga banyak aktif dalam festival film di dalam maupun luar negeri. Ia pernah meraih hadiah jurnalistik Adinegoro dalam tulisan bidang perfilman. Selama lebih sepuluh tahun pula, ia pernah menjadi kepala Humas Panitia Tetap Festival Film Indonesia dan Festival Sinetron Indosiar. Ia juga pernah menjadi anggota Lembaga Sensor Film (1995-1999). Ia juga lama menjadi pengurus Seksi Film PWI Jaya dan pernah menjadi Wakil Ketua PWI Jaya (1993-1998).
Salah satu liputannya yang dinilai amat mempengaruhi karir Ilham Bintang yakni liputan investigasi membongkar kasus penjiplakan film nasional tahun 1982. Dari kasus inilah, ia menjadi lebih memahami sejarah film nasional. Dari sini pula ia mengetahui posisi sebagian besar sineas (sutradara film) yang sepanjang sejarah dunia film Indonesia hanya menjadi “pesuruh” produser (pemilik modal) yang mencari keuntungan semata. Tidak aneh lagi bila produk mereka kerap mengabaikan nilai estetika, filosofi, nilai budaya, bahkan teknis sinematografi. (Tim EPI/ES. Sumber: SSWJ/TAB)
Independent Tjendrawasih - suratkabar harian. Diterbitkan oleh Badan Persuratkabaran Tjendrawasih. Direksinya, G.J. Wangai; Pemimpin Redaksi, M. Thaib; Staf Redaksi: Idris Jusuf, Fran Sidwa, dan E.A. Salmaja. Terbit perdana dengan 4 halaman tepat pada tanggal 28 Oktober 1967 di Jayapura. Independent Tjendrawasih terbit dengan mengantongi Surat Izin terbit No. 0582/SK/Dirdjen PDG/1967 dari Menteri Penerangan. Bermodal surat itu, Independent Tjendrawsih berani memasang tarif berlangganan seharga Rp 20 ditambah ongkos kirim Rp 15 setiap bulan.
Harian ini, sebagaimana umumnya media cetak pasca-G 30 S, mengusung agenda-agenda Orde Baru. Aroma militer jelas sekali terasa dari pemberitaan-pemberitaannya, mulai dari agenda kegiatan Komando Daerah Militer VII Tjendrawasih (kini Trikora) hingga pertemuan rutin istri tentara.(TimEPI/KG. Sumber: Jurnas/Agung Dwi Hartanto/Indexpress)

    
Indische Kindern-Courant - suratkabar khusus anak. Diterbitkan oleh badan penerbit Thieme di Surabaya. Suratkabar mingguan yang tergolong langka pada masa itu, terbit tahun 1879 - 1899 menggunakan bahasa Belanda. Setiap kali terbit 4 halaman, Indische Kindern-Courant memuat berbagai artikel untuk anak-anak, seperti cerita bersambung dan cerita pendek, puisi, teka-teki silang dan sebagainya. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Indonesia, majalah kebudayaan. diterbitkan sebulan sekali oleh Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 1949. Majalah berukuran 20 X 30 cm tersebut, beralamat di Jalan Nusantara No. 28 Jakarta. Pemimpin Redaksi Harian: Armijn Pane, Mr. St. Mohammad Sjah, Boejoen Soleh (Sekretaris), Amir Pasaribu, Moch. Sjarif, Drs, Phil. Majalah Indonesia yang memuat artikel-artikel kebudayaan setiap edisinya terbit dengan jumlah halaman rata-rata di atas 100 halaman dan sempat bertahan hidup sampai tahun 1956. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
 

Indonesia Merdeka - Harian Indonesia Merdeka diterbitkan sejak 5 Oktober 1945 oleh H. Gusti Achmad Sugian Noor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selama puluhan tahun koran ini tidak pernah merongrong kewibawaan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah saat itu. Namun pada tahun 1980-an -sejalan dengan adanya Permen No. 01/984--  Indonesia Merdeka berhenti terbit karena SIUPP yang diusahakannya tidak kunjung datang. Kemudian koran ini terbit kembali setelah mendapat SIUPP melalui SK Menpen No. 398/SK/Menpen.SIUPP/1998 tanggal 29 Juli 1998.
Dengan jargon "Mengemban Amanat Penderitaan Rakyat" dan bersikap independen, Indonesia Merdeka terbit dalam format tabloid, 8 halaman dan dicetak warna. Masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin, menyambut baik penampilan tersebut, apalagi pemberitaannya yang bersifat kedaerahan secara rutin tersaji melalui rubrik "Khabar Banuanya" di halaman 4 dan 5.
Peredaran koran ini juga didukung oleh para korespondennya di daerah-daerah di Kalimantan Selatan. Para pembaca atau pelanggannya, selain masyarakat, juga dari kalangan aparat pemerintah daerah. Begitu pun para pemasang iklannya. Mereka berasal dari perusahaan swasta dan pemerintah daerah. Pengelola koran ini merasa tidak takut dengan persaingan yang semakin ketat pada era reformasi ini. Mereka berharap Indonesia Merdeka dapat terus terbit sehingga mampu membeli peralatan serta mesin cetak sendiri. (Tim EPI/Wid. Sumber: Penerbitan Pers "Indonesia Merdeka" dari Masa Kini Maupun Masa Mendatang, Gusti Samsu Hidajat Sugiannoor, dalam Almanak Pers Kalimantan Selatan Tahun 1999, Penerbit Balai Penelitian Pers dan Pendapat Umum Banjarmasin).


Indonesia Moeda - majalah bulanan. Indonesia Moeda diterbitkan oleh Pedoman Besar Indonesia Moeda, pada tahun 1932. Suratkabar yang beralamat di Gang Bloentas No. 4, Jalan Kramat 106 dan Jalan Nopellaan 33, Pintu Besi, Jakarta, merupakan salah satu media pergerakan di kalangan kaum muda.
Pada salah satu edisinya, Indonesia Moeda menulis slogan, “Madjalah kita ialah madjalah pemoeda-pemoeda jang masih ingat Sumpah Pemoeda, perasaan-perasaan jang hidoep dan  berkobar-kobar dalam hati sanubarinja, mesti  mentjari tempat oentoek memperlihatkan diri, agar supaja doenia loear dapat mengetahoei semangat pemoeda, arah pemoeda dan segala jang ditoejoe.”
Indonesia Moeda sebagai media perjuangan, memuat berita-berita dan artikel yang menggelorakan perjuangan kemerdekaan, di antaranya seruan-seruan perjuangan. Pada salah satu edisinya, majalah ini memuat polemik, berita-berita pendidikan, berita dalam dan luar negeri dan lain-lain. Harga langganan majalah Indonesia Moeda kala itu Rp 6,- per tahun dan tarif iklan 25 sen per baris. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) - kantor berita foto. Ipphos adalah kantor berita foto pertama di Indonesia. Awal keberadaannya ditandai dengan terjadinya persitiwa yang dialami Alexius Impurung Mendur ketika mengabadikan detik-detik Proklamasi RI. Pada saat itu, Alex baru saja selesai mengabadikan peristiwa pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tanpa diduga seorang serdadu Jepang tiba-tiba datang, merebut paksa kamera dari tangan Alex, lalu menghancurkannya termasuk filmnya.
Untungnya, rekaman cetak peristiwa terpenting bagi bangsa Indonesia itu tidak hilang. Di Pegangsaan 56 Jakarta, pada tempo yang sama pula, Frans Sumarto Mendur, adik Alex, melakukan hal serupa, memotret Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi dan pengibaran Sang Saka Merah-Putih oleh Latief Hendraningrat.
Pada saat tentara Nippon lengah, Frans dengan cekatan memendam filmnya di dalam tanah dan baru diambil kembali setelah kondisi aman. Kalau tidak, bisa dipastikan, Republik Indonesia tidak akan memiliki memori tercetak dari detik-detik pembacaan naskah proklamasi kemerdekaannya.
Alex dan Frans Mendur adalah dua bersaudara penyuka fotografi yang menggagas berdirinya Indonesia Press Photo Service yang kemudian disingkat Ipphos. Dengan mengajak beberapa kawan, di antaranya kakak-beradik Justus dan Frank Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda, kantor berita Ipphos resmi berdiri pada 2 Oktober 1946.
Pada 1953, masuk seorang Mendur lagi, Piet Mendur, keponakan Alex dan Frans. Lewat kamera merekalah, misalnya, terabadikan gambar Bung Karno yang sedang mengamati para sopir kepresidenan mereparasi mobil. Juga potret Amir Sjarifuddin yang larut membaca tragedi Romeo and Juliet-nya Shakespeare, di atas gerbong yang membawanya ke hadapan algojo tembak yang sudah menanti.
Orang-orang Ipphos, terutama Frans dan Alex Mendur, sudah berperan sentral sebelum lembaga itu resmi berdiri. Salah satu yang paling monumental adalah kegemilangan Mendur bersaudara mengabadikan prosesi proklamasi. Rasa kebangsaan mereka pun telah teruji. Sebagai fotografer profesional yang lama berkarir di media-media cetak Belanda maupun Jepang, sebenarnya mudah bagi mereka untuk bekerja pada pihak asing. Ditambah lagi, keluarga Mendur berasal dari etnis Minahasa, yang dianggap dekat dengan Belanda baik dari segi historis, budaya, maupun agama. Keindonesiaan Mendur terbukti dengan pilihannya tetap berdiri di belakang Republik. Hebatnya lagi, Ipphos tidak lantas menjadi alat pemerintah RI. Ipphos tetap sebagai media independen.
Ketika Jakarta semakin gawat dan memaksa Soekarno-Hatta memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta pada tahun 1946, Ipphos pun ikut dan membuka kantor cabang di ibukota kedua Republik Indonesia (RI) itu. Frans Mendur sebagai penanggung jawabnya. Hasil jepretan Frans, yang dikenal gesit, pemberani, dan merakyat, mengabadikan pelbagai pertempuran dan keseharian rakyat di tengah tekanan Belanda. Karya-karyanya ini menjadi kartu sakti perjuangan Republik Indonesia di dunia internasional. Sementara itu di kantor pusat Jakarta, Ipphos dipegang oleh Frank Umbas, yang dengan gaya modernnya mampu menghimpun berita dari segala kalangan, baik dari tokoh-tokoh politik, militer, maupun masyarakat awam, bahkan dari kubu lawan sekalipun.
Pada 1951, kantor berita Ipphos menerbitkan majalah Ipphos Report, dan Frans Umbas dipercaya sebagai pemimpin umum. Sedangkan yang lain menempati jajaran keredaksian. Kantor redaksi Ipphos Report terletak di Jalan Molinvliet Oost (sekarang Jalan Hajam Wuruk 30), Jakarta. Grup Ipphos juga melebarkan sayapnya dengan menjadi distributor kertas koran serta membuka usaha makanan dan minuman.
Tanggal 1 Juli 1961, Ipphos Report kembali ke nama Ipphos sebagai majalah bergambar tengah bulanan. Jargonnya “Untuk Pembangunan Semesta”. Selain nama-nama lama, keluarga Mendur dan Umbas, di jajaran dewan pimpinan harian tercantum satu nama lagi, yaitu ML. Jacob sebagai general manager sekaligus pemimpin redaksi. Susunan redaksi dikembangkan dengan memasukkan Pranadjaja dan M. Hud sebagai penanggung jawab, serta Mahfuz Agus, H.D. Suratenaja, dan R. Hartono selaku dewan redaksi. R. Hartono juga berperan sebagai penerus generasi fotografi Ipphos bersama Lis Allakbar dan Engel Piay. Dengan tiras 10.000 eksemplar, Ipphos dicetak di Pertjetakan Negara d/h “Batanghari-Ideum” dan diterbitkan oleh NV Ipphos Coy Ltd. Ipphos dijual eceran dengan harga 15 rupiah, merata di seluruh wilayah Indonesia.
Menggelar foto-foto sensasional di sepanjang 32 halaman, Ipphos menasbihkan pamornya sebagai media bergambar berskala nasional. Andil fotografer-fotografer ulung Ipphos berikutnya adalah ketika meliput kasus perebutan Irian Barat dari Belanda pada kurun 1962. Selama beberapa edisi berturut-turut, berita plus foto-foto monumental tentang insiden Papua terpampang apik di majalah ini. (Tim EPI/KG. Sumber: Iswara N. Raditya/Indexpress/Jurnal Nasional)


Indonesia Publishing House (IPH) - penerbit buku dan majalah. Dikelola Gereja Masehi Advent. Latar belakang dari nama tersebut adalah sejarah bagaimana percetakan ini dimulai. Gereja Masehi Advent sedunia mempunyai organisasi yang teratur yang kantor pusatnya berada di Washington DC, Amerika Serikat.
Pada awalnya perkembangan agama Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia sangat sulit karena banyak orang beranggapan kepercayaan Advent itu sama dengan agama Jahudi. Yang lain beranggapan itu hampir mirip dengan Islam karena banyak makanan pantangannya dan yang diharamkan lebih daripada agama Islam. Yang lain menganggap hari yang disucikannya bukan hari Minggu seperti Kristen pada umumnya, tetapi hari Sabtu (hari Sabat) sesuai dengan Torat Musa dan Injil Jesus Kristus. Maka dibutuhkan percetakan untuk mencetak bahan bacaan bagi umatnya. Gereja Advent sedunia memiliki 52 rumah percetakan dan salah satunya adalah di Bandung.
Sebelum berdiri di Bandung, percetakan awalnya didirikan Java Mission Press di Padang, Sumatera Barat. Kemudian pindah ke Sukabumi, lalu ke Batavia 1911 dan mendapat izin kerja dari pemerintah Hindia Belanda.
Karena situasi politik pindah ke Singapura (Singapore Sign Press). Pada Maret 1929 percetakan dipindahkan ke Bandung, di Jalan Naripan 72. Setelah membeli tanah seluas 10,000 m persegi di Jalan Raya Cimindi 72, pada tahun 1954 dibangun percetakan beserta perumahan bagi para pekerja di tempat baru tersebut. Pada 18 Februari 1955 pemakaian gedung dan pemakaian mesin baru diresmikan dengan nama Indonesia Publishing House (yang terdaftar dalam badan hukum penerbitan) atau Percetakan Advent Indonesia.
Percetakan Advent Indonesia bertujuan utama menyediakan bahan cetakan untuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia. Seperti pelajaran Sekolah Sabat terbit sekali tiga bulanan, buku nyanyian (Lagu Sion), majalah gereja (warta gereja) buku rohani buat anak dan orang muda, alat peraga (rohani), buku Roh Nubuat yang istimewa penjelasan Alkitab tentang peristiwa yang sudah menimpa dan yang akan menimpa isi dunia hingga hari kiamat. Peristiwa-peristiwa akhir zaman. Kemudian risalah dan majalah kesehatan Rumah Tangga dan Kesehatan yang terbit sekali sebulan. Di samping itu, percetakan juga mencetak buku dan majalah untuk mencerdaskan bangsa dan mengajarkan hidup sehat.  (Tim EPI)


Indonesia Raya - suratkabar harian. Indonesia Raya pernah mengalami dua kali dibredel pemerintah, pertama pada saat rezim Orde Lama (dibredel sejak 1958 hingga diterbitkan kembali tahun 1968), dan kemudian pada tahun 1974 oleh pemerintah Orde Baru saat terjadi Peristiwa Malari. Pemimpin Redaksi Indonesia Raya adalah Mochtar Lubis. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Indonesia Shang Bao - suratkabar mingguan. Indonesia Shang Bao merupakan harian berbahasa Mandarin pertama yang diterbitkan di era reformasi setelah runtuhnya pemerintahan Orde Baru pada 1998. Shang Bao pertama kali diluncurkan pada 17 April 2000. Shang Bao termasuk dalam Grup Bisnis Indonesia dan Sinar Harapan. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).

Indosiar -stasiun televisi. Sejak berdiri 11 Januari 1995, televisi terbungsu ini telah tumbuh dan berkembang sejajar dengan stasiun televisi swasta lainnya. Stasiun televisi ini diooperasikan dari Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat ini didirikan dan dikuasai oleh Grup Salim melalui PT Indosiar Karya Media Tbk. yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. Jargonnya, “Indosiar memang untuk anda.
Bentuk logo Indosiar sangat mirip dengan bentuk logo TVB, sebuah stasiun televisi Hongkong. Pada awalnya Indosiar memang banyak manayangkan drama-drama Hongkong. Contohnya, serial “Return of The Condor Hero” yang dibintangi oleh Andy Lau, “To Liong To” yang dibintangi oleh Tony Leung, sehingga keduanya cukup populer di kalangan penonton.
Dua faktor yang menonjol dari Indosiar adalah pemakaian teknologi Nicam Digital Stereo dan produksi in house-nya. Dengan menggunakan teknologi ini Indosiar mampu menghasilkan gambar yang tajam dan tata suara sejernih compact disc. “Simphoni Kemerdekaan RI” adalah salah satu off-air yang diselenggarakan Indosiar untuk memperingati Tahun Emas RI di Istana Bogor.
Dengan semangat low profile PT Indosiar Visual Mandiri ingin merebut perhatian pemirsa melalui sejumlah paket tayangan berkualitas dan menarik. Produksi in house Indosiar meliputi produksi drama maupun nondrama. Judul sinetron produksi Indosiar antara lain Kipas-Kipas Asmara, Tirai Sutra, Tahta, Tantangan, Kerinduan, Lupus, Remaja Lima, Dua Dunia, Bulan Seribu Bulan, dan lain-lain. Sedangkan paket nondrama produksi in house seperti Jelita, KISS (Kisah Seputar Selebritis), PESTA, Pesta Ceria, Ekspresi, Dangdut Ria, Tembang Kenangan, Roda, Klab Disney, Klak-Klik, Aroma, Anak & Bunda, SAKSI, Srimulat, Selayang Pandang, Horison, dan lainnya. Di bidang pemberitaan Indosiar mengemas paket Fokus dan Musik & Info.
Meskipun demikian, beberapa yang sempat menjadi tayangan unggulannya adalah reality show Akademi Fantasi Indosiar, Republik BBM dan tayangan drama seri Asianya.
Menurut Direktur Utama Indosiar, Handoko, Indosiar ingin menampilkan acara terbaik yang mampu merangkul penonton sebanyak mungkin. “Caranya diawali dengan usaha mengetahui minat para penonton,” tuturnya. “Kami banyak memproduksi  paket acara sendiri, bukan saja untuk efisiensi, melainkan, yang paling penting, untuk menyuplai kebutuhan sendiri,” lanjut pria kelahiran Semarang ini.
Selain itu, Indosiar juga mempopulerkan sinetron-sinetron Indonesia yang bertemakan cinta dan keluarga (dimulai sejak munculnya Tersanjung), acara-acara reality show yang melibatkan emosi penonton dan SMS secara langsung (dimulai sejak munculnya AFI), sinetron laga kolosal khas Indonesia (dimulai sejak munculnya Misteri Gunung Merapi), dan mungkin masih banyak lagi ragam acara hiburan yang lain. Jika pada awalnya Indosiar sukses dengan sinetron Mandarin Return of The Condor Heroes, sekarang justru program lokal yang lebih menonjol. Pada jam tayang 18.00-19.00 WIB Indosiar sukses menampilkan nuansa drama yang memperoleh rating cukup tinggi.
Di  samping itu, Indosiar juga menayangkan kesenian tradisional seperti wayang golek, ludruk, ketoprak, Srimulat, sandiwara cirebonan, dan wayang orang. “Wayang itu bagian dari masyarakat. Kehadirannya di layar Indosiar ternyata mendapat tanggapan positif dari masyarakat.”
Awalnya paket wayang dikemas untuk acara spesial Kemerdekaan 17 Agustus 1995. Namun, karena mendapat sambutan positif dari masyarakat, paket ini dilanjutkan menjadi paket reguler yang ditayangkan setiap hari Sabtu malam,” kata Handoko. Adanya penayangan kesenian tradisional ini Indosiar sempat mendapatkan anugerah “Panasonic Awards”.
Indosiar mempunyai 16 buah transmisi yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Dari jumlah itu, sebagian besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Tampaknya Indosiar siap menguasai wilayah Pulau Jawa. Kekuatan transmisinya cukup besar sehingga hampir seluruh kota dan kabupaten di Pulau Jawa dapat menangkap siaran stasiun televisi ini. Kekuatan transmisi yang ada di Pulau Jawa antara lain Jakarta 2 buah (60 KW) dan (2 KW), Bandung (20 KW), Semarang (20 KW), Yogyakarta (40 KW), Surabaya (40 KW), Tegal (20 KW), Jember (5 KW), Malang (5 KW), Banyumas, (20 KW), Kediri (20 KW), Kediri (5 KW), dan Madiun (5 KW). Sedangkan di luar pulau Jawa, Medan (20 KW), Ujung Pandang (40 KW), Palembang (20 KW), Lampung (20 KW), dan Denpasar (25 KW). (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Indovision - stasiun televisi berlangganan. Indovision adalah sebuah merk dagang tayangan televisi-berlangganan melalui-satelit yang diselenggarakan oleh PT Media Nusantara Citra Skyvision (sebelumnya bernama PT Matahari Lintas Cakrawala).
Perusahaan yang didirikan pada 8 Agustus 1988 ini mulai memasarkan produk jasanya pada awal tahun 1994 dan bertanggung jawab atas pemasaran program pengelolaan serta pelayanan kepada pelanggan.
Pada mulanya Indovision menggunakan jasa satelit Palapa C-2 untuk menggunakan transponder dan sistem broadcasting serta menggunakan analog dengan frekuensi C-Band.
Namun, kemudian dirancang proyek pembuatan dan peluncuran satelit Indostar-1 atau yang kini lebih dikenal dengan nama satelit Cakrawarta-1 yang khusus menggunakan frekuensi S-Band. Transmisi ini lebih tahan terhadap perubahan cuaca, sesuai dengan keadaan daerah tropis pada umumnya serta memiliki jejak jangkauan (footprint) ke seluruh wilayah Indonesia. Adapun yang bertanggung mengelola dan mengoperasikan satelit tersebut adalah PT Media Citra Indostar yang didirikan pada 22 Juli 1991.
Dengan satelit ini, Indovision dapat memberikan layanan pendistribusian tayangan saluran-saluran televisi berlangganan lokal dan mancanegara melalui Indovision yang disajikan kepada para pelanggan di Indonesia secara optimal dengan menggunakan decorder dan antena parabola mini berukuran diameter 80 cm.
Pada tahun 1997, Indovision melakukan inovasi dengan mengubah signal penayangannya dari analog menjadi digital. Inovasi ini dapat meningkatkan kualitas penerimaan gambar maupun suara bagi pelanggannya.
Baik MNC SkyVision maupun Media Citra Indostar berada dalam kelompok usaha Media Nusantara Citra, yang bernaung di bawah sebuah induk perusahaan bernama Global Mediacom. (Tim EPI)


InfoBank - majalah bulanan. Hampir secara keseluruhan majalah ini berisi tentang informasi perbankan. Nama ini dinilai cocok dan sesuai dengan tujuan para pendirinya yakni sebagai sarana edukasi dan informasi bagi  kalangan pelaku bisnis perbankan dan keuangan.
Sesuai dengan namanya, majalah ini ditujukan untuk kalangan pelaku bisnis perbankan dan keuangan pada umumnya. Tidak ada arti simbolik dibalik nama tersebut, agar tidak terjadi multi tafsir. Nama Infobank diusulkan oleh Abdulgani.
Sejak awal berdiri, nama InfoBank tetap dipertahankan hingga saat ini. Hanya logonya sedikit berubah, tetapi hanya menyangkut pemilihan huruf (tipografi).
InfoBank terbit sejak 11 Januari 1979, di Jakarta. Majalah ini bergerak dalam pengelolaan data serta informasi keuangan dan perbankan di Indonesia. InfoBank disebarluaskan ke seluruh Indonesia (nasional) dan internasional seperti Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Jerman, Belanda, Australia, dan Hong Kong. InfoBank hadir sebagai penyaji informasi berdasarkan fakta, yang disajikan secara objektif dengan semangat transparansi. Juga sebagai analisis strategi perbankan dan keuangan yang tajam, dalam, plus data terpercaya.
Visi InfoBank, memajukan industri perbankan dan keuangan yang dapat dipercaya yang turut mendukung perkembangan perekonomian nasional. Misinya, menjadi majalah komunikasi dan informasi di bidang perbankan dan keuangan yang terpercaya di Indonesia. Menjadi majalah komunikasi dan informasi di bidang perbankan dan keuangan yang menjadi pemimpim pasar (market leader). Menjadi majalah komunikasi dan informasi di bidang perbankan dan keuangan yang turut memajukan industri perbankan dan keuangan yang terpercaya serta ikut mendukung perkembangan perekonomian Indonesia.
Didirikan oleh Abdulgani dan Muchtar Mandala,  Infobank diterbitkan oleh Yayasan Pinandita. Sejak tahun 1991, InfoBank dikelola oleh Badan Penerbit PT Infoarta Pratama.
Dana pertama dari pribadi-pribadi para pendiri dibantu para donatur yang bersimpati kepada majalah ini. Penerbitan pertama formatnya quarto dengan tampilan sederhana, berukuran 21,5 cm x 29 cm. Tipologi huruf dengan nama InfoBank tapi ditulis dengan tangan, tidak menggunakan huruf modern.
Kendalanya antara lain masalah harga kertas yang sangat fluktuatif. Kedua, penerbit sangat tergantung dari agen majalah/koran, karena menganut sistem penjualan konsinyasi (laku baru dibayar). Agen sangat berkuasa. Bila ada agen yang nakal, penerbit sulit melakukan tindakan. Banyak kasus atau sering terjadi meski uang hasil penjualan sudah terkumpul, mereka tidak menyetor ke penerbit.
Semakin hari perkembangan redaksional media cetak, terutama media cetak nasional tumbuh secara positif, dan ini sejalan dengan tuntutan pembaca yang kian kritis dan cerdas dalam memilih media yang dikehendakinya. Setiap media cetak harus menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat yang semakin tinggi dan berkualitas. Perkembangan seperti ini secara otomatis mengharuskan setiap media cetak berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, baik di jajaran redaksi maupun nonredaksi. Penulisan dengan basis data dan riset menjadi roh redaksi sejak akhir 1990-an.
InfoBank telah mempunyai divisi usaha yang mendukung penerbitan seperti riset, seminar, dan penerbitan media perusahaan. Berikut adalah data teknis Infobank:
Oplah: 40.000 eksemplar, Jadwal terbit: Setiap bulan, Cetak: Offset, Ukuran: 20 cm x 26,5 cm, Tebal: 100 halaman termasuk cover, Kertas: Cover Art carton 210 gr - Isi Art paper 85 gr, Jilid: Perfect binding, Penerbit: PT Infoartha Pratama, Pengelola: PT Infoartha Pratama, Percetakan: Setia Usaha, Profil Pembaca: Pengusaha/wiraswasta (nasabah bank, asurnasi, lembaga keuangan bukan bank) 30%, Umum (dosen, peneliti, mahasiswa, dan ibu rumah tangga) 10%, pemilik, komisaris, direksi, karyawan bank, asuransi, dan multifinance 60%. (Tim EPI/InfoBank)


Info Komputer - majalah bulanan khusus tentang perkembangan komputer. Era informasi yang makin mengglobal menuntut para manajer dan pemodal untuk makin fasih menangkap peluang bisnis. Agaknya peluang tersebut ditangkap kelompok Gramedia, dan lahirlah majalah Info Komputer. Kehadiran media komunikasi dan informasi yang mempunyai komitmen terhadap kebutuhan konsumen, makin terasa penting.
Majalah ini bukan hanya mengulas masalah personal computer (PC). Secara lengkap Info Komputer menyajikan informasi seputar perkembangan dunia komputer dan jaringan internet secara up to date. Sebagai wahana komunikasi dan informasi, bahasa yang digunakan sangat lugas.
Majalah yang periode terbitnya satu bulan sekali ini bagus dari segi isi, cantik dari segi penampilan, serta dilengkapi grafik dan gambar full colour .
Dalam setiap edisinya, majalah yang terbit sejak 1987 ini menyajikan informasi-informasi hangat. Di antaranya, panduan untuk membeli, artikel berbobot, opini serta aneka ide kreatif bermain komputer. Pembaca akan selalu dapat mengikuti perkembangan terbaru dari perangkat keras, lunak maupun teknik-teknik komputasi.
Menurut Redaktur Pelaksana R. Suhartono, komputer dan jaringannya sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Saat ini dan masa datang, semua kegiatan tidak bisa lepas dari teknologl informasi. Termasuk informasi yang disampaikan melalui kecanggihan komputer.
“Kalau kita tidak siap mengantisipasi kehadiran teknologi informasi sebagai sarana untuk bekerja, jelas akan mempersulit kegiatan kita. Misalnya dalam perdagangan ekspor-impor, dokumennya harus disiapkan dalam bentuk elektronik. Artinya, informasi tersebut harus sudah sampai di negara tujuan, sebelum barang yang diekspor tiba,” jelas Suhartono.
Misalnya akan muncul apa yang disebut Electronic Data Interchange (EDI), dan Info Komputer mengulas tentang EDI, sebagai upaya mempublikasikannya pada masyarakat.
Pengguna internet atau teknologi informasi di Indonesia harus memperoleh benefit yang cukup. Selain teknologi internet, majalahnya juga menyajikan kemajemukan produk teknologi komputer terbaru yang menawarkan berbagai keunggulan. Penonjolan produk teknologi mutakhir dari produsen kelas dunia itu dimaksudkan sebagai alternatif pilihan pembaca dan pengguna komputer.
Tampilan yang tersaji dari Info Komputer disesuaikan dengan format majalah itu sendiri. Diseimbangkan antara format informasi, iklan, dan artikel. Kalau formatnya hanya artikel, orang akan bosan.
Sebagai salah satu majalah yang dianggap specialized publication, Info Komputer sangat bersentuhan dengan industri. Artinya tidak bersentuhan dengan bidang politik, sosial, dan lainnya. Segmen pembacanya sangat jelas, yakni orang-orang yang ingin dan akan memahami kemajuan teknologi komputer.
Dapat diklasifikasikan penggemar komputer berkisar antara usia 20-40 tahun. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan, usia SMP pun mulai tertarik dengan komputer. “Pangsa pasar kami profesional, akademisi, konsultan, dan mahasiswa,” tambah Suhartono.
Oplah Info Komputer mencapai 30.000 eksemplar setiap terbit. Info Komputer dapat ditemukan di internet dengan membuka homepage htt:// www. infokomputer.co.id.
Info Komputer diterbitkan oleh  PT Penerbitan Sarana Informatika (Kelompok Gramedia). Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Alfons Taryadi, Pemimpin Perusahaan Teddy Surianto, dan Redaktur Pelaksana R. Suhartono. Alamat Redaksi/TU/Iklan Jalan Palmerah Barat No. 29-37 Jakarta 10270. (Tim EPI)
       

Informasi - Arti teknis kata ini tidaklah berbeda dari pengertian sehari-hari bahwa informasi adalah sesuatu yang didapatkan dari membaca atau mendengar, atau dengan melihat langsung dunia di sekitar. Contohnya, seseorang membaca suratkabar yang memberitakan bahwa mulai bulan depan tarif listrik naik, atau dalam kehidupan sehari-hari seorang teman memberitahukan tentang rencana pesta pernikahannya tahun ini.
Dua contoh pernyataan di atas bisa disebut sebagai informasi yang informatif. Suatu pernyataan atau suatu observasi adalah informatif jika ia memberikan kepada kita sesuatu yang belum kita ketahui. Informasi “mengubah” seseorang dari tidak mengetahui menjadi mengetahui sesuatu.
Tidak semua informasi bersifat informatif. Jika seorang pejabat publik mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah, akan menimbulkan pertanyaan, apakah ini informasi yang informatif? Jawabannya “bukan”. Pernyataan itu sudah dikemukakan berulang-ulang, oleh banyak orang, dimuat di berbagai media, bahkan diajarkan mulai sekolah dasar, sehingga kebanyakan warga negara Indonesia dewasa  sudah memiliki pengetahuan tentang itu. Maka, sebenarnya publik tidak mendapatkan informasi, dalam arti informasi yang informatif, sebab hampir semua anggota publik sudah mengetahuinya. Publik tidak mendapat tambahan pengetahuan.
Meskipun mungkin tidak mendapatkan informasi dari suatu pernyataan, tetapi sebenarnya publik akan mendapatkan informasi lain, misalnya informasi tentang orang yang mengatakannya, atau mengenai orang kepada siapa berita itu ditujukan. Pernyataan seseorang atau kelompok orang yang mengatakan bahwa calon presiden harus memiliki pendidikan minimal sarjana, atau di pihak lain, pernyataan lain yang mengatakan bahwa calon presiden harus tidak sedang dijatuhi pidana, merupakan pernyataan-pernyataan yang mungkin saja tidak informatif.
Namun, pernyataan itu memberikan informasi kepada publik mengenai siapa atau kelompok mana yang mengatakan, kepada pernyataan itu ditujukan, dan apa tujuan (di balik) pernyataan itu. Bagi yang sedikit saja memiliki pengetahuan tentang (budaya) politik Indonesia akan mengetahui bahwa pernyataan pertama datang dari sebuah partai politik (parpol) besar yang pemimpinnya (yang dicalonkan sebagai presiden) diindikasikan terlibat tindak pidana korupsi, dan mencoba “menyerang” parpol lain yang menjadi lawan politik, yang pemimpinnya tidak mencapai pendidikan sarjana.
Sebaliknya, pernyataan kedua datang dari parpol besar lainnya yang pemimpinnya (yang juga dicalonkan sebagai presiden) memiliki pendidikan tidak sampai sarjana, dan mencoba “menyerang” parpol besar lain yang menjadi lawan politiknya, yang pemimpinnya terlibat dalam tindak pidana korupsi.
Dengan demikian, muatan informasi bukan hanya isi, tetapi juga menyangkut bagaimana informasi disampaikan, tujuannya, serta maksud di balik dinyatakannya informasi itu.
Kata informatif dalam makna di atas menuntun pada pengertian yang diberikan oleh Schramm, yang mendefinisikan informasi sebagai “Nama yang diberikan kepada berbagai proses di mana penerimaan sebuah pesan mengurangi ketidakpastian si penerima”. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Memahami Institusi Media, Sebuah Pengantar, Mursito BM, Penerbit Lindu Pustaka dan SPIKOM Surakarta, 2006).


Informasi daurat - (immediate information) adalah informasi yang disampaikan melalui media pada publik yang berhubungan dengan kondisi yang muncul tiba-tiba. Tulisan ini merupakan respons terhadap kondisi di sekitar perusahaan, yang bentuknya adalah:
1. Counter release: pernyataan atas tanggap- an publik atau balasan terhadap pernyataan  perusahaan pesaing yang menyebabkan   berubahnya tanggapan masyarakat ter-  hadap perusahaan.
2. Crisis communication: ungkapan atas peris- tiwa atau musibah di sekitar perusahaan.
3. Warning: peringatan atau teguran pada pe- saing atau publik yang telah melanggar   hak-hak kepemilikan perusahaan (seperti   pembajakan merek atau brand, tanah per-  usahaan, dan sebagainya).
4. Obituary: berita dukacita yang terjadi pa-  da eksekutif puncak perusahaan.

Informasi darurat dapat ditulis dengan teknik siaran pers atau publisitas (publicity). Pada prinsipnya, tulisan ini bertujuan untuk menjaga relasi perusahaan dengan publik, brand dengan pelanggan, dan merek dengan konsumen. Semakin sering nama perusahaan atau brand ini terpapar, maka publik dan konsumen semakin mudah mengingat sesuatu produk. Inilah cara pemosisian produk dan perusahaan dalam kegiatan marketing communication (komunikasi pemasaran). (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Marketing Communication Taktik & Strategi, John E. Kennedy dan R. Dermawan Soemanagara, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006).


Infovet - majalah bulanan. Nama dipilih sesuai dengan bidang bahasan yaitu Informasi Kesehatan Hewan (Veteriner). Makna nama dan asal-usul bahasa nama tersebut berasal dari bahasa Inggris yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Terbit pertama kali Mei 1992.
Infovet diterbitkan oleh PT. Gallus Indonesia Utama yang di dalamnya tergabung Asosiasi Obat Hewan Indonesia (Asohi). Pendukung permodalan, lebih dari 50 persen saham oleh Asohi, selebihnya oleh para anggota Asohi dan karyawan. Nama perusahaan juga berkait dengan dunia hewan. Gallus adalah nama istilah “unggas” dalam bahasa Latin.
Visi dan Misi Penerbitan, adalah menjadikan Infovet sebagai kiblat dunia kesehatan hewan dan peternakan, dengan menerbitkan majalah peternakan dan kesehatan hewan Infovet setiap bulan.
Pada penerbitan pertama Infovet diterbitkan dalam bentuk buletin, khusus untuk diedarkan di kalangan anggota Asosiasi Obat Hewan Indonesia. Awalnya Infovet terbit setiap dua bulan pada tahun 1992, menjadi tiap satu bulan pada tahun 1995. Pada saat terjadi krisis moneter tahun 1998 kembali menjadi terbit setiap dua bulan, dan tahun 2000 kembali terbit setiap satu bulan.
PT Gallus Indonesia Utama sendiri secara resmi baru mengelola Infovet pada September 2002. Sebelumnya media ini digarap oleh Asohi. Perkembangan usaha ini diikuti dengan  perubahan pada logo. Jika sebelumnya, gambar ular pada lingkaran tengah logo menghadap ke kiri, kini menghadap kanan. (Tim EPI)


International Bali Post - suratkabar harian berbahasa Inggris. International Bali Post (IBP), “anak” dari Bali Post yang lahir paling buntut, tepatnya tanggal 2 Desember 2007. Lahirnya koran ini menandai bertambahnya penerbitan koran berbahasa asing yang diterbitkan oleh Kelompok Media Bali Post. Sebelumnya, jauh sebelum diterbitkan International Bali Post telah lahir Bali Travel News.
Terbitnya media berbentuk tabloid setebal 12 halaman ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan media yang memuat berita-berita internasional terkini dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, media berbahasa Inggris yang terbit di Bali lebih terpaku pada ulasan seputar pariwisata dan budaya Bali. Itupun hanya seminggu sekali.
Alasan lain adalah kenyataan bahwa di Bali kini menetap ribuan warga negara asing yang sebagian terkait dengan tugas kenegaraan mereka, bekerja sebagai profesional di bidang industri pariwisata, serta ratusan lain yang menjalankan bisnis secara permanen di Bali.
Aktivitas ekspatriat ini memunculkan industri sela yang bertujuan menunjang keberadaan mereka selama di Bali, seperti restoran, villa, club, dan sekolah. Komponen bisnis mereka juga ditawarkan kepada para pebisnis lainnya, baik itu ekspatriat ataupun warga Indonesia. Perlu juga dipahami, ekspatriat di Bali berasal dari lima benua dan beragam negara.
Tentu tujuan utama dari penerbitan ini tetap menyasar para wisatawan yang datang ke Bali. Walau bertujuan berlibur, namun tetap saja mereka membutuhkan berita terkini, baik tentang negaranya, kejadian di dunia internasional maupun trend business. IBP terbit setiap Senin hingga Jumat dan didistribusikan secara gratis.
International Bali Post memiliki sejumlah rubrik unggulan di antaranya;” Bali Today”, “Indonesia Today”, “Life Style” serta “Sport”. Demikian pula berita-berita internasional terkini, terdiri dari persoalan politik, lingkungan, kejadian, bencana, dan kriminal mendapat porsi yang cukup di media ini.(Tim EPI/KMB)


Internet - Kata internet dewasa ini semakin akrab dengan masyarakat. Pengakses atau pengguna internet di seluruh dunia kini mencapai ratusan juta orang atau mungkin sudah lebih dari satu miliar orang, dan sebagian besar di antaranya berada di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri kini pengguna internet baru mencapai sekitar 25 juta orang. Cepat atau lambat jumlah tersebut akan terus bertambah. Lalu apa sih pengertian internet itu?
Internet adalah sumber daya informasi yang menjangkau seluruh dunia. Sumber daya informasi tersebut sangat luas dan sangat besar sehingga tidak ada satu orang, satu organisasi, atau satu negara yang dapat menanganinya sendiri. Kenyataannya tidak ada satu orang pun yang mampu memahami seluruh seluk-beluk internet.
Asal-usul internet berasal dari jaringan komputer yang dibentuk pada tahun 1970-an. Jaringan komputer tersebut disebut Arpanet, yaitu jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Selanjutnya, jaringan komputer tersebut diperbarui dan dikembangkan, dan sekarang penerusnya menjadi tulang punggung global untuk sumber daya informasi yang disebut dengan Internet. Namun demikian, membayangkan internet sebagai sekedar jaringan komputer adalah tidak tepat. Jaringan komputer hanyalah medium yang membawa informasi. Dayaguna internet terletak pada informasi itu sendiri, bukan pada jaringan komputer.
Selain itu, sebaiknya diperhatikan bahwa internet merupakan sumber daya informasi yang berorientasi manusia. Internet memberi kesempatan kepada pemakai di seluruh dunia untuk berkomunikasi dan memakai bersama sumber daya informasi. Anda dapat berkomunikasi dengan pemakai lain di seluruh dunia dengan mengirim dan menerima electronic mail (e-mail) atau dengan membentuk hubungan dengan komputer lain dan memasukkan pesan-pesan dari dan ke komputer tersebut. Anda dapat memakai bersama sumber daya informasi dengan berpartisipasi dalam kelompok diskusi atau dengan menggunakan program-program dan sumber daya informasi yang tersedia secara gratis.
Apakah ini berarti bahwa sumber daya internet akan menjadi sepenting pos dan telepon? Ya.
Dalam mempelajari bagaimana menggunakan internet, Anda seperti memasuki sebuah petualangan. Dalam internet, Anda akan bertemu dengan orang-orang dari negara-negara yang berbeda, bekerja sama, dan memakai bersama sumber daya informasi. Orang-orang memakai bersama waktu mereka, usaha mereka, dan karya mereka.
Sumber daya informasi ada karena beberapa orang atau beberapa kelompok memberikan waktu, usaha, dan karya mereka. Mereka mempunyai ide, menyusunnya, menciptakan sesuatu yang berguna, dan membuatnya tersedia untuk setiap pemakai di seluruh dunia. Maka, internet adalah lebih dari sekedar jaringan komputer atau pelayanan informasi, Internet adalah gambaran dinamis bahwa manusia yang mampu berkomunikasi secara bebas akan memilih untuk bersikap sosial dan tidak mementingkan diri sendiri.
Komputer adalah penting karena komputer melakukan kerja memindah data dari satu tempat ke tempat-tempat yang lain, dan mengeksekusi program-program yang memberi kesempatan Anda mengakses informasi. Informasi itu sendiri penting karena informasi menawarkan daya guna, rekreasi, atau hiburan. Akan tetapi, di atas semua itu, yang paling penting adalah manusia. Internet adalah forum global pertama dan perpustakaan global pertama di mana setiap pemakai dapat berpartisipasi dalam segala waktu (internet tidak pernah tutup). Selain itu, tidak peduli siapa Anda, internet selalu menerima Anda. Internet tidak pernah melihat bagaimana Anda berpenampilan, apa warna kulit Anda, apa agama Anda, di mana Anda tinggal, atau apa status sosial Anda.
Seorang pakar sosial mengatakan bahwa alasan mengapa internet menjadi sangat populer adalah karena dalam internet tidak ada seorang pemimpin. Anda mungkin tidak percaya bahwa tidak ada satu orang, satu organisasi, atau satu negara yang mengatur atau menangani internet. Dalam internet, tidak ada hukum dan tidak ada polisi. Dalam internet, tidak ada cara-cara riil untuk melukai orang lain , tetapi sebaliknya ada banyak caa untuk berbuat baik pada orang lain. Dalam situasi tersebut, manusia belajar untuk berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain (meskipun ini tidak menghentikan manusia untuk selalu berargumentasi).
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia dalam jumlah tak terbatas dapat berkomunikasi secara cepat dan mudah (penulis menemukan bahwa sifat alami manusia adalah komunikatif, saling menolong, dan selalu ingin tahu). Itulah internet! (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Internet Informasi Bebas Hambatan, Lani Sidharta, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, Jakarta, 1996).
Intisari - majalah bulanan, merupakan salah satu media yang diterbitkan Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Media ini pertama kali diterbitkan tahun 1963. Para pendiri Intisari adalah PK Ojong, Jakob Oetama, J. Adisubrata, dan Irawati yang di lingkungan KKG disebut sebagai “Sang Pemula” karena kelahiran Intisari memang lebih dulu dari Kompas.
Terbit pertama dengan ukuran 14 cm x17,5 cm -hitam putih tanpa kulit muka, setebal 128 halaman- Intisari dicetak 10.000 eksemplar dan dijual Rp 60 per eksemplar untuk Jakarta dan Rp 65 luar Jakarta. Intisari awalnya hanya diasuh oleh tiga pendirinya yakni PK Ojong, Jakob Oetama, dan J. Adisubrata –seorang sarjana filsafat yang baru saja selesai studi di Leuven, Belgia, ditambah orang keempat -Lie Hwat Nio- sarjana hukum, yang kemudian dikenal dengan nama Irawati.
“Pertemuan” PK Ojong dan Jakob Oetama di Kompas adalah kelanjutan serangkaian pertemuan yang terjadi sebelumnya. Jauh sebelum mendirikan Intisari, mereka sudah sering bertemu dalam gerakan asimilasi. Mereka bersama-sama duduk dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKI). Jakob sebagai ketua dan Ojong sebagai bendahara.
Mereka sama-sama berlatar belakang guru dan wartawan; yang satu berasal dari etnis Tionghoa Padang (Ojong kelahiran Bukittinggi tanggal 25 Juli 1920), sedangkan Jakob Oetama lahir di Jowahan, Borobudur tanggal 23 September 1931; yang satu berlatar belakang pendidikan hukum, satunya lagi ilmu sejarah dan ilmu politik. Keduanya sama-sama peduli pada manusia dan kemanusiaan, tidak saja oleh latar belakang pendidikan humaniora yang kuat, tetapi juga anugerah/talenta/karunia yang mereka terima dan mereka kembangkan.
Ojong dan Jakob memulai Intisari dalam keadaan serba-kekurangan. Awal perjalanan panjang mereka dimulai dari pertemuan di Candi Prambanan. Ibarat “biji sesawi” yang amat kecil tetapi bertahun-tahun kemudian menjadi pohon rimbun dan besar.
Pada awal tahun 1960-an represi Partai Komunis Indonesia (PKI) sedemikian kuat berpengaruh terhadap sistem dan praksis pemerintahan. Hampir tidak ada majalah luar negeri yang diperbolehkan masuk.
Menurut Ojong “keadaan ini tidak sehat”. Mereka sepakat ingin memperluas cakrawala pembaca, di antaranya dengan menerbitkan sebuah majalah yang isinya menerobos isolasi. Supaya menarik, isi majalah harus tentang perikehidupan manusia yang konkret, nyata, dan bukan renungan apalagi bicara tentang politik yang menjemukan. Kesepakatan mereka didukung PT. Kinta yang semula menerbitkan Star Weekly. Perusahaan ini pula yang kemudian mengurus administrasi dan sirkulasi Intisari hingga tahun 1969.
Pada perayaan ulang tahun ke-40 (2005), dalam konteks awal sebuah keberhasilan –Jakob Oetama menyebut bahwa semua dapat terjadi selain berkat kerja sama dan hoki juga, terutama, berkat penyelenggaraan ilahi (providentia dei). Intisari disebutnya “Sang Pemula”; sebutan yang mengingatkan tokoh “bapak wartawan Indonesia” Raden Mas Tirtoadisuryo (1880-1918), gelar yang diberikan oleh pengarang besar Pramoedya Ananta Toer (Pramoedya Ananta Toer, Tirtoadisuryo, Hasta Mitra, Jakarta, 1985).
Tirtoadisuryo disebut “Sang Pemula” karena dialah pendiri dan pemilik Medan Prijaji, koran pertama Indonesia dalam arti didirikan, dimiliki, dan diselenggarakan oleh orang Indonesia (Abdurrachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers Indonesia, LIPI dan Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 1980).
Pada usianya yang ke 40 tahun Intisari rata-rata terbit 150.000 eksemplar dengan ketebalan 192 halaman. Intisari mampu bersaing di tengah maraknya penerbitan baru, setelah era SIUPP berakhir dan prosedur penerbitan media cetak sudahn lebih sederhana, bebas, dan mudah.
Intisari ibarat “biji sesawi” perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam KKG, yang awalnya berangkat dari sebuah cita-cita, bahkan “mimpi” sekelompok orang untuk mengembangkan usaha di bidang ilmu pengetahuan (knowledge based industry). Karena itu setelah Intisari, Kompas dan kemudian toko buku, terpikir untuk mendirikan percetakan sendiri di lingkungan KKG. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Kompas Menulis dari Dalam, Editor St. Sularto, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2007).

 

Investor Daily - suratkabar harian, adalah suratkabar berbahasa Indonesia yang didirikan pada 26 Juni 2001, dan merupakan suratkabar yang berkonsentrasi pada kegiatan pasar modal. Pertama kali terbit Investor Daily beredar siang hari dengan nama “Investor Indonesia”. Keredaksian dipimpin oleh   Adi Hidayat, sedangkan pemiliknya adalah Tito Sulistio.
Pada tahun 2002, Grup Lippo masuk sebagai pemegang saham dan saat ini telah menguasai seluruh saham Investor Group.
Setelah Grup Lippo masuk, nama “Investor Indonesia” diubah menjadi “Investor Daily Indonesia”. Selain membahas berita-berita ekonomi bisnis, koran ini juga menambahkan beberapa rubrik lain di antaranya rubrik olahraga, gaya hidup dan kosmopolitan. Sirkulasi Investor Daily mencakup kota-kota bisnis di Indonesia dengan target pembaca pelaku bisnis dan pengambil keputusan.(Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Irawati Maryani Nasution, Dra Hj (Medan, 27 Januari 1956), adalah Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat Periode 2003-2008. Sebelumnya Irawati juga menjabat sebagai Anggota PWI Jaya (sejak 1986).
Irawati yang menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Jurnalistik - Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran Bandung -lulus tahun 1980, juga sempat aktif di organisasi pers kemahasiswaan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Bandung sebagai anggota (1977/1979) dan sekretaris umum pada periode1979/1980. Di lingkungan kampusnya sendiri Irawati aktif di dalam organisasi kemahasiswaan -anggota Senat Mahasiswa Publisistik Unpad (1976/1978) hingga menjabat sebagai sekretaris umum (1979/1980), dan lebih banyak bertugas sebagai praktisi jurnalistik. Misalnya, sejak awal ia aktif sebagai anggota redaksi koran kampus Mahasiswa, Pemimpin Redaksi Buletin Akte, yang diterbitkan Fakultas Publisistik Unpad Angkatan 1976.
Lepas dari dunia kemahasiswaan Irawati memasuki dunia jurnalistik dengan mengawalinya sebagai wartawan majalah Dewi (1981/1982), Femina (1982/1986), Tahun 1986 ia hijrah ke majalah Kartini dan ditugasi sebagai redaktur hingga tahun 1989, dan berturut-turut sebagai asisten redaktur pelaksana(1990/1995) dan redaktur pelaksana (1996/2003).
Tahun 2003 Irawati mendirikan PT Karya Wanita Mandiri, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan, dan menjadi pemimpin redaksi salah satu penerbitannya, Majalah Sartika, hingga tahun 2005. Sejak tahun 2006, Irawati tercatat sebagai salah seorang editor Majalah Kriya Indonesian Craft, hingga sekarang.
Pada tahun 2006, Irawati yang dikaruniai satu putra, buah perkawinannya dengan Karim Paputungan, Komisaris PT Wahana Ekonomi Semesta (penerbit Suratkabar Harian Rakyat Merdeka), mendapat kesempatan untuk mengikuti Kursus Reguler Angkatan XXXIX Lembaga Ketahanan Nasional (KRA Lemhannas). Bahkan, penghuni rumah di Jalan Pesut Raya Blok A7/4 Komplek PJMI, Pondok Aren, Bintaro, Tangerang Banten ini, kini tercatat sebagai peserta Pendidikan Pascasarjana Universitas Gadjah Mada 2007. (Tim EPI/KG/Istimewa)           
Ishadi SK (Majene, Sulawesi Selatan, 30 April 1943) - Direktur Trans TV. Tamat dari SMA Negeri IV Jakarta pada tahun 1961 Ishadi melanjutkan pendidikan ke Fisipol Universitas Indonesia, dan selesai tahun 1967. Ishadi kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Ohio University, USA pada tahun 1982. Pada Oktober 2003 Ishadi berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pendidikan (FISIP) Universitas Indonesia, dan lulus dengan predikat cum laude.
Ia juga mengambil pendidikan informal yaitu tentang poduksi televisi di Manila pada tahun 1969. Tahun 1974-1975 TV Produksi Koin, Jerman Barat; tahun 1977 TV Produksi, Brussel, Belgia; pada tahun yang sama ikut Market Research, LPPM, Jakarta; tahun 1978 Tarpadnas Lemhanas; tahun 1979 Karya Ilmiah Wartawan PWI, tahun 1979 P-4, tahun 1979 TV Produksi, Kuala Lumpur, Malaysia; tahun 1980 Jurnalistik; tahun 1989 Sepadya Jakarta; tahun 1989 Sespanas; tahun 1993 Lemhanas  KRA XXVI; tahun 1997 Penataran Manggala BP-7 di Istana Bogor.
Ishadi mengawali karirnya pada tahun 1967 sebagai reporter TVRI; tahun 1972 sebagai Kepala Seksi Pengendalian Berita Sub. Dit. Pemberitaan Direktorat TV; tahun 1979 -1981 Kepala Seksi Reppen Pemberitaan, Direktorat TV; tahun 1982-1985 Kepala Sub. Dit Pemberitaan, Dit. TV; tahun 1985-1987 Kepala TVRI Stasiun Yogyakarta; tahun 1987-1992 Direktur TVRI; tahun 1992-1996 Kepala Pusat Media Penerangan, Badan Litbang Deppen R.I; tahun 1996-1998 Direktur Operasional PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia; pada bulan Mei-Oktober 1998 Direktur Jenderal Radio, Televisi, Film, Deppen R.I; dan November 1998 sampai sekarang Direktur PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV).
Ishadi juga aktif di dunia pendidikan. Sejak tahun 1978 hingga sekarang Ishadi tercatat sebagai dosen/pengajar di FISIP Universitas Indonesia; dari tahun 1997 sampai saat ini dosen/pengajar di FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Selain di dunia pendidikan Ishadi juga tercatat pernah duduk sebagai Ketua Bidang Pers dan Komunikasi Konferensi APEC, Bogor tahun 1994; tahun 1995-1998 Ketua Humas International Adverstising Accociation; tahun 1995-2000 Kepala Humas KONI Pusat; tahun 2001 Ketua Tim Kampanye SEA Games ke-20 Kuala Lumpur; tahun 2002 sebagai Pendiri Yayasan Media dan Seni Tradisional dan anggota Pembina Kerukunan Keluarga Majene, Sulawesi Selatan. (Tim EPI. Sumber: PDAT)


Islam Bergerak - suratkabar umum yang berlandaskan Islam, terbit di Solo tahun 1917. suratkabar yang terbit tiga kali sebulan tersebut, menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Ciri khas Islam Bergerak adalah di sisi atas kop nama “Islam Bergerak”, tertulis sebuah seruan moral “Meminta belas kasihan pada orang lain, itu berarti merusak derajad dirinya.”
Islam Bergerak dikelola seorang tokoh pergerakan, HM Misbach, yang duduk sebagai direktur dan pemimpin redaksi. Sedangkan pemimpin umum S. Partoatmodjo, jajaran redaktur Soerat Hadjomartojo, Siswadi, RS Maradjo Sayuthy, Sastrodihardjo dan Boedisoetjipto, serta Syadif di bagian administrasi. 
Islam Bergerak dengan jargon “Tempat Goena Memenangkan Segala Kaoem Moeda dan Soerat Kabar Oemoem”, dijual dengan harga langganan Rp 2,7 per tiga bulan, dan tarif iklan lima sen per baris.
Berita dan artikel yang dimuat Islam Bergerak tergolong “panas.” Biasanya berita yang dimuat di dalam salah satu rubriknya, “Tamparan Haibat”, dan artikel politik yang berkaitan dengan PKI dan sayap UNTP. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
Ismail Husni (Lombok Timur, 4 Desember 1958) adalah Ketua PWI Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 2002 hingga sekarang. Bahkan sejak 2004 lalu, Ismail juga merangkap jabatan sebagai Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) untuk wilayah yang sama. Kedua jabatan yang ia raih di organisasi kewartawanan dan pers ini tidak ia raih secara instan melainkan melalui perjalanan yang cukup panjang, semenjak ia tercatat sebagai anggota PWI tahun 1982, ketika mengawali profesinya di dunia jurnalistik sebagai wartawan Jawa Post di Surabaya dan menjadi pengurus PWI Cabang Surabaya pada tahun 1994 hingga 1997.
Ismail yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sunan Giri Surabaya, Jurusan Administrasi Negara (1981-1999) dan mengikuti kursus bahasa di EF International Language Schools di California State University Los Angeles (1999-2000) melalui profesi kewartawanannya melalui penugasan-penugasan yang cukup lengkap. Berbagai bidang liputan pernah ia jalani bahkan ketika ia memperoleh kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai redaktur.
Pengabdiannya di Jawa Pos usai tahun 1991 ketika ia menerima kepercayaan sebagai General Manajer Suratkabar Harian Suara Nusa, yang dijabatnya hingga tahun 1997. Kemudian, dari tahun 1997 hingga 2002 ia mengabdi di Suratkabar Harian Lombok Pos sebagai pemimpin umum/pemimpin redaksi/penanggung jawab.
Dalam perjalanan karirnya Ismail kerap memperoleh penghargaan baik terkait dengan profesinya sebagai wartawan maupun kedudukannya selaku insan pers secara umum. Tahun 1985 hingga 1987 misalnya, berturut-turut Ismail meraih penghargaan sebagai juara karya tulis jurnalistik. Lalu, ketika kesibukannya beralih ke belakang meja, Ismail yang mulai bertanggung jawab terhadap kualitas cetak produk suratkabarnya mengikuti berbagai seminar internasional berkaitan dengan masalah percetakan antara lain di Drupa Jerman (2002), Sydney, Australia (2003), dan Cina (2006). Buahnya, tahun 2003 media yang dipimpinnya  mendapat penghargaan Khusus dari Jawa Pos Group untuk kategori percetakan. Tahun 2004 Ismail juga memperoleh penghargaan Handayani dari Dinas Pendidikan NTB.
Kisah sukses Ismail tidak berhenti di dunia jurnalistik semata. Sederetan jabatan vital di lembaga profit dan nonprofit pernah dan bahkan masih ia emban hingga kini. Dari jabatan sebagai Ketua Dewan Sekolah (1998-sekarang), Ketua KONI NTB (2004-sekarang), Dewan Masjid Indonesia NTB (1995-sekarang), Ketua Dewan Pembina Pondok Pesantren Al Amin, hingga menjadi bagian dari Tim Sukses SBY-JK pada pemilihan presiden tahun 2004, serta beberapa jabatan direktur utama dan presiden komisaris di beberapa perusahaan.
Ismail menikah dengan Hj. Titin Supartinah tahun 1984. Dari wanita asal Garut Jawa Barat ini Ismail dianugrahi tiga anak yang kesemuanya sudah duduk di perguruan tinggi. Mereka tinggal di sebuah rumah asri yang terletak di Jalan Sapta Pesona No. 07 Pagutan Permai Mataram. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Isteri - suratkabar bulanan,  terbit antara tahun 1929 dan 1930, dan menyajikan berita dan artikelnya dalam bahasa Melayu. Jargonnya “Untuk Isteri-Isteri dan Tuan-tuan yang Memerhatikan Pengetahuan Isteri”. Diterbitkan Perikatan Perempuan Indonesia.
Beredar dengan tebal empat halaman Isteri mengelompokkan sajian-sajiannya melalui rubrik umum, ilmu pengetahuan, masak-memasak, dan anak-anak. Selain itu juga terdapat iklan layanan masyarakat.
Isteri dikelola oleh sejumlah tohok wanita antara lain Nyi Hadjar Dewantoro, Nyi Ali Sastro Amidjojo, Siti Halinah, Sunaryati, Badiah, Moeryati dan Ismiyati. Alamat penerbitan di Boulevard 1 Yogyakarta, dan dicetak di Harmonie Yogyakarta. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
 

Isteri Indonesia, majalah. Diterbitkan oleh Perkoempoelan Isteri Indonesia yang lahir pada 1932. Sejak tahun 1936 Istri Indonesia terbit sebulan sekali setiap tanggal 5. Para pengasuhnya antara lain S. Danilah yang mengurusi redaksi, Soekasah menangani administrasi, dan Ramli Adjam menggarap advertentie. Mereka berkantor di Kramatbaroeweg 14. Batavia-C. Anggota Perkoempoelan Istri Indonesia bisa mendapatkan majalah ini dengan f 0,20,- untuk jangka setahun. Sedangkan non-anggota harus membayar f 2.
Para penulisnya mendapat didikan pergerakan nasional yang memilih jalur yang lebih liberal dan egaliter dengan menghormati wet-wet yang ada, persis seperti yang ditulis redaksi “Isteri Indonesia hanja bergerak dan bekerdja menoeroet wet-wet negeri jang soedah ada dan tidak toeroet beroesaha oentoek mengandjoerkan peratoeran-peratoeran negara jang beloem ada. Isteri Indonesia hanja mempergoenakan alat-alat jang halal dalam wet, sebagai memberantas boeta hoeroef, mendirikan sekolah-sekolah, menolong orang miskin dan sengsara, mengadakan berbagai-bagai cooperatie, seperti crediet-dan verbruikscoperatie, memboeka internaat oentoek gadis-gadis bangsa kita dll”.
Sebagai corong perkumpulan perempuan, majalah bulanan ini menyajikan artikel-artikel bertema perempuan. Dalam edisi 11 November 1939, misalnya, dimuat artikel berjudul Kedoedoekan Kaoem Perempoean Indonesia dalam Perkawinan, yang ditulis Maria Ulfah--kelak menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir setelah Proklamasi. Pokok artikel ini ialah perkawinan dari sudut pandang Islam, yang dilanjutkan dengan kupasan soal kewajiban isteri dan suami dalam rumah tangga.
Isteri Indonesia pernah pula menyiarkan artikel berjudul “Soal Berpakaian Perempuan” yang diramu secara khusus dan disampaikan dalam pidato yang diucapkan oleh Nn. Sophie Salim, guru Gouv. Logere Vakschool di Batavia.
Pada edisi April, untuk memperingati Hari Kartini, Istri Indonesia menurunkan tulisan “Ingin hatikoe hendak beranak, laki-laki dan perempeoan, akan koedidik, koebentuk, djadi manoesia sepadan dengan hatikoe. Pertama-tama akan koeboeangkan adat kebiasaan jang boeroek juga melebih-lebihkan anak laki-laki daripada anak perempoean. Tidak oesah kita herankan lagi sebabnja nafsoe kaoem laki-laki memikirkan dirinja sendiri sadja, bila kita ingat bahwa laki-laki itoe sedjak masa ketjilnja soedah diperlebihkan dari anak perempoean”.
Kepandaian berkelit dan mencari celah di tengah masa pergerakan yang panas membuat majalah dengan tebal 10-11 halaman ini jarang bertikai dengan pemerintah. Prinsipnya tegas. “Dengan agitatie moedah membangkitkan kegembiraan hati orang banjak, tetapi tidak dapat membentuk pikiran orang. Agitatie baik pemboeka djalan. Tapi lebih penting pimpin rakjat ke organisasi: sebab itoe, oesaha kita sekarang: pendidikan!”
Prinsip itu mengingatkan pembaca pada prinsip non-agitasi Mohammad Hatta dan Sjahrir yang antara lain menyatakan: “Mendidik rakjat soepaja timboel semangat merdeka, itoelah pekerdjaan jang oetama. Ini boekan satoe pekerdjaan jang moedah dan lekas ditjapai, tetapi soeatoe pekerdjaan jang berkehendak kepada iman, jakin, sabar dan kemaoean jang keras”. Edisi-edisi lain menyiarkan nukilan kata-kata penyemangat dari tokoh lain. Haji Agus Salim, misalnya, menyumbang: “Tiada keoetamaan, kemadjoean dan kemampoean tanpa oesaha yang besar”.
Semakin lama, Isteri Indonesia semakin pintar bersolek untuk memikat pelanggan. Redaksi menambahkan rubrik “Tolong Menolong”, yang menjadi tempat bertanya pembaca atau sekadar “curhat”. Pernah redaksi menurunkan biografi Eleanor Roosevelt, Isteri Presiden AS, Franklin Delano Roosevelt. Tauladan Ibu Negara AS yang dianggap tepat oleh redaksi ialah perkataannya: “Lebih baik kita kehilangan pahlawan karena ia telah sampai pada adjalnja, daripada hilangnja itoe disebabkan karena ia telah berpoetar haloean, hingga pahlawan mendjadi lawan!” (Tim EPI/KG. Sumber: Reni Nuryanti/Indexpress/Jurnas)