Selasa, 17 Oktober 2017

J dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Jakarta Jakarta, majalah. Terbit pertama kali pada bulan Oktober tahun 1980. Salah satu ciri khas majalah ini adalah rubrik “Wanita di Mata Pria”, sebuah rubrik yang dengan cerdik mengeksploitasi daya tarik wanita. Rubrik ini menampilkan wajahgadis-gadis yang tampil hangat, belahan dada terbuka, bagian lutut ke atas sedikit tersingkap, mata nakal, dan bibir sensual. Semua dipajang berwarna.
Sederet wanita dari berbagai profesi seperti atlet, model, hingga penyiar era ‘80 hingga ‘90-an, pamer muka dan tubuh di rubrik ini. Sarwendah Kusumawardhani (pebulu tangkis), Dina Mariana (penyanyi), Maya Isabella (model), Ira Safira (penari), Shahnaz Haque (artis), hingga Hanna Karlina (bintang iklan), pernah mengisi rubrik ini.
“Wanita di Mata Pria” menampilkan perpaduan antara jurnalisme, puisi, dan fotografi. Wanita jadi objek, sementara puisi diperoleh dari reportase. Foto yang estetik menjadi elegan setelah dipadukan dengan tata letak yang estetik pula. Inilah keunikan Jakarta Jakarta. Di situ sang redaktur pelaksana, Seno Gumira Ajidharma, menulis, “Meski kita sebut obyek, wanita tentu bukan hanya benda. Sedang benda mati saja dipotret bisa mempesona, apalagi wanita. Manusia adalah subyek; ialah jiwa yang bicara. Ia sebuah dunia, penuh rahasia. Ia sebuah makna, sejuta kata-kata.”
Wanita yang ditampilkan di dalam rubrik ini bukan sosok sembarangan. Selain paras menawan, mereka juga punya setimbun prestasi. Jika seperti itu tentu bukan pria saja yang tertarik, tapi juga kaum Hawa.
Sesuai namanya, pada permulaan terbit majalah ini banyak menyoroti seluk-beluk Jakarta. Ia mengulas banjir, perjudian, permukiman, profesi-profesi unik, gaya hidup, tata kota, bangunan bersejarah, pendidikan, sanitasi, prostitusi, kebakaran, penggusuran, dan  masalah lain di Jakarta.
Majalah ini menyediakan sehalaman penuh untuk rubrik “Dulu Betawi Sekarang Jakarta”. Rubrik ini berisi perbandingan foto-foto Jakarta tempo doeloe dengan Jakarta pada 1980. Dari foto-foto ini tampak perubahan-perubahan wajah Jakarta. Jakarta Jakarta juga menampilkan rubrik “Pelayanan Kami”. Rubrik ini berisi tempat-tempat makan istimewa, hotel, agenda-agenda penting di Jakarta dan sekitarnya. Pada tahun-tahun awalnya, hampir semua informasi tentang Jakarta tersedia dalam majalah ini.
Meskipun begitu Jakarta Jakarta tidak hanya mengulas soal-soal yang terjadi di Jakarta. Pada rubrik “Gong”, berita politik pun bisa muncul. Rubrik ini digawangi Seno Gumira Ajidarma, yang kemudian harus hengkang lantaran memajang berita-foto “Insiden Dili”. Menurut Seno dalam bukunya, “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”, penguasa waktu itu tidak berkenan dengan foto-foto dan berita yang bisa mencoreng wajah pemerintah. (Tim EPI/KG. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indonesia Buku/Jurnas)

  
Jakob Oetama (Borobudur 27 September 1931) - Pendiri suratkabar harian umum Kompas dan majalah Intisari ini memulai kehidupannya dengan bekerja sebagai guru. Kini, setelah hampir 50 tahun bergelut di dunia pers, Jakob menjadi usahawan sukses dan meraih penghargaan Entrepreneur of the Year dari Ernes & Young.
Jakob Oetama, Pimpinan Umum Harian Kompas dan Chief Exevutive Kelompok Kompas-Gramedia, yang juga melahirkan TV-7, melampiaskan keharuannya pada saat Universitas Gajah Mada, Kamis 17 April 2003, secara resmi memberinya anugerah Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi. Dia adalah raksasa jurnalis di negeri ini yang menawarkan jurnalisme damai dan berhasil membuka horizon pers yang benar-benar modern, bertanggung jawab, non partisan, dan memiliki perspektif jauh ke depan.
Ketika reformasi bergulir, yang mengemuka adalah keinginan bangsa ini untuk hidup demokratis, sejahtera dan bermartabat. Menurut Jakob Oetama, dalam situasi seperti itu kemerdekaan pers menjadi mutlak diperlukan. Kemerdekaan pers bukan cuma milik kalangan pers sendiri tetapi juga milik rakyat yang paling berdaulat.. Di dalam organisasi kewartawanan Jakob aktif sebagai anggota Dewan Pers selama beberepa periode.
Perjalanan hidup Jakob memasuki dunia kewartawanan melewati masa yang panjang. Walaupun hingga lulus dari Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM tahun 1961 ia belum memutuskan antara menjadi guru atau wartawan, ketertarikannya terhadap tulis menulis telah dilakukarmya dengan membuat cerita pendek dan artikel-artikel. Bahkan ia masuk ke penerbitan Penabur sejak 1956-1963, wilayah yang membuatnya kenal dengan nama PK Ojong.
Jakob Oetama lahir di Desa Jowahan, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 27 September 1931. Ia adalah anak sulung dari 13 bersaudara. Ayahnya, R Brotosoesiswo, seorang guru sekolah dasar, sementara ibunya, M Kartonah, ibu rumah tangga. Jika sang ayah selalu memberi bekal kesederhanaan guru desa yang hidup di pelosok, sang ibu, "sosok tiang doa penunjang kehidupan kami sekeluarga". Sesuai profesi guru di masa itu yang harus berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya menetap di Sleman, 12 kilometer utara Kota Yogyakarta, kota kabupaten yang menjadi terminal terakhir keluarga Brotosoesiswo-Kartonah.
Jakob menyelesaikan pendidikan dasar di Boro, Kabupaten Kulon Progo, dilanjutkan masuk seminari menengah di Muntilan dan Yogyakarta. Mengingat latar belakang keluarga dan juga didorong keinginan untuk mengikuti jejak ayahnya, karir pertama pilihan Jakob adalah guru. Berawal menjadi guru di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat (1952-1953), kemudian di SGB Lenteng Agung, Bogor (1953-1954) dilanjutkan di SMP Van Lith Jakarta (1954-1956).
Jakob Oetama memanfaatkan setiap waktu luang untuk menambah ilmu, antara lain dengan mengikuti pendidikan B1 Ilmu Sejarah (1956). Studi tersebut diteruskan di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta (1959) berikut menyelesaikan studi sarjana tahun 1961 di Jurusan Publisistik, Fakultas Sosial Politik, UGM, Yogyakarta. Pada masa mudanya, Jakob terpesona oleh Fransiskus Assisi (1182-1226), seorang santo, mistikus, penyair, penuh empati terhadap penderitaan sesama, khususnya yang hina dina. Nafas perdamaian, cinta kasih dan pengampunan mewamai syair-syairnya.
Dalam menjalankan kewajibannya sebagai penanggung jawab koran, sejak awal Jakob Oetama berprinsip bahwa lembaga suratkabar haruslah otonom. "Oleh karena otonomlah, maka suratkabar juga lantas bisa menjalankan fungsi-fungsi yang sewajarnya, juga menjadi tugas suratkabar dalam sebuah masyarakat majemuk, seperti masyarakat Indonesia. Di antaranya, menjadi mimbar, tempat berdialognya berbagai ragam pendapat dari berbagai kelompok masyarakat."
Menurut Jakob Oetama, masyarakat, juga bangsa ini memerlukan sebuah pegangan bersama, untuk bisa hidup bermasyarakat. Pegangan bersama tersebut lebih-lebih semakin dibutuhikan oleh suatu masyarakat yang mempunyai berbagai kultur dan pandangan hidup. "Kita mengembangkan perbedaan, justru agar bisa memperkaya dan mengkreatifkan persatuan. Itulah sebabnya, Kompas selalu ikut berusaha untuk memfungsionalkan pegangan kita bersama dalam Pancasila..."
Dalam bisnis penerbitan koran, sosok wartawan merniliki peran sentral. Oleh karena itu, sejak mulai merintis berdirinya Harian Kompas, Jakob telah mensyaratkan perlunya orientasi wartawan yang mempunyai komitmen terhadap perjuangan. Dengan komitmen, wartawan mampu membangkitkan inspirasi dan motivasi, sekaligus memberi kekuatan serta sentuhan warna pada karya jurnalistik. (Jakob Oetama, Pers Indonesia. Berkomunikasi dalam Masyarakat tidak Tulus, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001).
Meskipun demikian, komitmen tersebut harus tetap dilandasi sikap kritis agar masih bisa memelihara jarak. Oleh karena itu wartawan dan berita yang ditulis, termasuk dengan segala macam sumber berita, harus punya jarak. Tanpa menjaga jarak dan sikap kritis, wartawan yang seyogianya bertindak selaku pengamat, bakal berubah menjadi pelaku. Sasaran obyektivitas yang subyektif, sesuai dengan cita-cita ideal wartawan (De Voider), dengan demikian akan gampang jatuh menjadi subyektivitas. Khalayak boleh berargumen tentang sebuah pilihan. Tetapi, Jakob sejak awal telah merumuskan, peranan wartawan akan bisa lebih optimal, jika mereka tetap menempatkan dirinya sebagai pengamat, dengan dilandasi komitmen kepada kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, demokrasi, kemanusiaan. Sikap dan cara kerja yang dipersyaratkan seorang wartawan adalah cara kerja bebas dan independen disertai pertimbangan akal sehat, kepekaan dan komitmen (Pidato Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Komunikasi dari UGM, 17 April 2003).
Pergulatan pemikiran itu telah dijalaninya sejak awal tahun 1965, ketika bersama Ojong didesak untuk menerbitkan Kompas. Mengelola dialog, menyelenggarakan panggung wacana, sekaligus membuka ketertutupan suasana hati masyarakat, inilah yang ingin dilakukan. Diuraikannya, "Kompas sebuah harian, selalu terikat sifat-sifat jurnalistik yang wajib dipenuhi, agar tugasnya berhasil baik. Sesuai kecerdasan rakyat yang terus meningkat, maka bentuk jurnalistik yang diajukan Kompas adalah dialog, wawancara berdasar sikap saling menghargai. Dialog yang bisa menggugah pikiran, dan semangat yang mampu meneguhkan sikap, serth sanggup menyegarkan perasaan, dengan gaya yang hendaknya mudah dipahami, dan bisa enak dibaca..." Obsesi itu terus dia pupuk, apalagi di tengah upaya memberikan pandangan tentang masa depan bangsa yang terpuruk-puruk belakangan ini. Jakob mencita-citakan bagaimana peranan kelompok bisnis diberi tempat dalam panggung demokratisasi, setelah peranan birokrasi dan masyarakat warga, sebutlah lembaga swadaya masyarakat, diberi tempat luas oleh media massa. Memberi tempat dan selalu mengingatkan tentang sisi lain bisnis selain keuntungan juga kemaslahatan bersama adalah tugas pokok lain media massa. (Tim EPI/KG. Sumber: Mamak Sutamat, Kompas: Menulis dari Dalam, penerbit Buku Kompas, 2007; Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Jambi Independent - koran harian. Pertama kali beredar pada 26 April 1986, penerbitan koran ini dirintis oleh  H. Syamsul Watir, Hj. Miarny S. Watir, Hj. Sri Nurbani Retno Watir, Sh. Sakti Alam Watir, dan Agus Dahlan dengan bekal SIUPP No. 169/SK/Menpen/SIUPP/A.
Pada awalnya suratkabar ini bernama Independent saja. Sebagai koran lokal yang baru terbit, Independent dicetak secara manual, menggunakan mesin stensil. Waktu terbitnya pun tidak menentu, kadang sekali seminggu, kadang sekali sebulan.
Empat tahun kemudian, perusahaan keluarga ini berupaya melebarkan sayap dengan melakukan kerja sama dengan PT. Kamener Jaya Ltd., yang bergerak di bidang percetakan. Independent berpindah kantor ke Jalan Kapten Pattimura KM 8 No. 35 Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi setelah sebelumnya menempati  kantor di Jalan Palapa (Sekarang KH. Samanhudi) Perumahan Wartawan No. 37 RT 02 Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi.
Setelah kerja sama itu barulah Independent bisa terbit setiap hari secara kontinu. Independent juga pernah bekerjasama dengan PT Riau Pos Mandiri selama satu tahun, sejak 1993, dan kantornya pindah ke Jalan Slamet Riyadi, Kota Jambi. Namun, satu tahun setelahnya, tahun 1994 hingga 1995, Independent hilang dari peredaran.
Independent kembali muncul setelah bergabung dengan Jawa Pos News Network (JPNN) pada 1 Juni 1995. Berkantor kembali di Jalan Pattimura No. 8, Independent terbit rutin setiap hari. Pada tahun 1996 nama “Independent” pun berganti menjadi “Jambi Independent”. Penambahan nama “Jambi” untuk menunjukkan lokalitasnya sekaligus menghilangkan kesan sebagai majalah luar negeri, karena nama “independent” memberi kesan kebarat-baratan. Pada tahun 2004 Jambi Independent pindah kantor lagi ke Jalan Jenderal Sudirman No. 100 Thehok Jambi.
Di pengujung tahun 2005 Jambi Independent memiliki anak perusahaan yakni Radar Sarko, yang berkantor di Kabupaten Merangin. Radar Sarko hadir untuk memenuhi kebutuhan pembaca, khususnya di Kabupaten Merangin, Sarolangun, dan Kerinci. Sukses mengelola Radar Sarko, setahun kemudian menyusul Radar Bute yang berkantor di Kabupaten Bungo. Radar Bute hadir di Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo, dengan fokus berita yang lebih lokal.
Dalam perjalanannya Jambi Independent mengalami beberapa kali pergantian pemimpin redaksi. Setelah Agus Dahlan meninggal dunia, jabatannya dipegang sementara H. Suparno Wonokromo, lalu Sakti Alam Watir, dan Drs. Ali Fauzi.
Jambi Independent mencoba hadir dengan beragam rubrikasi. Dari anak-anak, dewasa, orangtua, dan dari pelbagai profesi ditarik dengan aneka warna rubrik, dengan jumlah halaman sebanyak 40 halaman setiap harinya, termasuk Minggu. Kecuali hari Minggu, Jambi Independent secara rutin menyajikan suplemen olahraga GOOL setebal 16 halaman. Suplemen ini baru terbit pada 2007. Sedangkan khusus pada hari Minggu, Jambi Independent menyajikan suplemen Bianglala yang diperuntukkan bagi pembaca remaja.
Berita nasional dan berita terhangat di Provinsi Jambi ditempatkan di halaman utama. Rubrik “Politika” berisi berita seputar politik di Provinsi Jambi, “Metro Jambi” tentang berita kota dan gaya hidup di Kota Jambi, “Target” tempatnya berita kriminal, “Publik Interaktif” menampung keluh kesah pembaca atau instansi yang bersangkutan, “Sehat dan Bugar” merangkum berita kesehatan, “Inforial Bisnis” informasi pelbagai produk, “Metro Bisnis” mencakup berita tentang fenomena bisnis, “Society” adalah etalase khusus berita foto, “Komunita Jambi” seputar berita etnis Tionghoa, sedangkan “Jambi Wilayah Timur” dan “Jambi Wilayah Barat” adalah ruang berita daerah.
Saat pertama kali terbit, oplah Jambi Independent sekitar 1500 hingga 2000 eksemplar. Kemudian, oplahnya mencapai 55.000 dengan pangsa pasar terbesar di Kota Jambi. Beberapa tahun lalu, saat Presiden Gus Dur menjadi pemimpin negara, oplah Jambi Independent mencapai 75.000-an.
Pelbagai kebijakan Gus Dur yang nyeleneh ternyata menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Jambi. Hadirnya pesaing, Jambi Ekspres, diakui tidak berpengaruh terhadap jumlah oplah Jambi Independent. Sebagai anak JPNN, keduanya terus beriring dalam melayani kebutuhan informasi masyarakat Jambi. (Tim EPI/KG. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indonesia Buku/Jurnas)
Java Bode - suratkabar ini terbit di Batavia tahun 1852. Awalnya dimiliki pemerintah. Pada tahun 1920 suratkabar ini dibeli oleh N. Metzelaar. Di bawah kepemimpinannya, Java Bode menjadi suratkabar terkemuka dan berwibawa. Bisnisnya juga maju pesat. Pada tahun 1934 berhasil mendirikan gedung yang cukup megah di Jalan Molenvliet (sekarang Jalan Hayam Wuruk).
Di tempat itu pula Metzelaar mendirikan percetakan De Unie yang cukup besar dan modern pada masanya. Salah seorang wartawannya yang terkemuka adalah Zaalberg. Dia adalah seorang Indo yang memulai kariernya sebagai pencatat alamat para langganan.
Berkat ketekunannya ia berhasil menjadi pemimpin redaksi. Dalam tajuk-tajuk yang ditulisnya ia banyak membela kaum Indo, antara lain menuntut perlakuan hak yang sama antara kaum Indo dan kaum Belanda totok. Ia kemudian dikenal sebagai salah seorang pemimpin kaum Indo di samping Dick de Hoog. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Java Government Gazette - suratkabar berbahasa Inggris yang terbit di Batavia setelah kekuasaan Hindia Belanda jatuh ke tangan Inggris.
Berbeda dengan suratkabar sebelumnya, isi Java Government Gazette (JGG) lebih bervariasi. Selain menampung berita dan tulisan para wartawannya, koran ini juga memberi kesempatan kepada siapa saja untuk menyumbang tulisan atau berita.
Iklannya pun bervariasi. Antara lain ada iklan yang menawarkan seorang budak perempuan, umur 30 tahun, bisa mencuci, memasak, dan bermain harpa. Setelah kekuasaan Inggris berakhir, suratkabar ini pun ditutup. Pemerintah Hindia Belanda yang baru menerbitkan De Bataviasche Courant. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Java Mail  - suratkabar mingguan. Pertama kali terbit 25 Agustus 1938, dengan tiras sebanyak 10.000 eksemplar. Suratkabar yang bereredar di Jakarta tersebut, diterbitkan sebuah badan Quick Service Weltevreden, peredarannya khusus di kalangan orang-orang Tionghoa dan Indonesia.
Setiap minggu Java Mail terbit 4 halaman dengan muatan berita dan artikel tentang bisnis dan ekonomi. Porsi berita umum dalam suratkabar tersebut termasuk kecil dan sebagian besar kolomnya lebih banyak berisi iklan. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Java Nippo - suratkabar harian. Sebelum bala tentara Dai Nippon menguasai Bumi Nusantara, pada tahun 1920 hingga 1937 di Hindia Belanda telah terbit sebuah suratkabar bertulisan kanji, bernama Java Nippo. Suratkabar harian yang diterbitkan M. Saitoh di Batavia tersebut, merupakan satu-satunya suratkabar yang menampilkan berita dan artikel dengan tulisan dan bahasa Jepang.
Setiap hari, Java Nippo terbit 4 halaman. Di halaman pertama, informasi dan berita yang disajikan sebagian besar tentang Jepang. Berita-berita lain di halaman dalam kebanyakan juga tentang akivitas para pengusaha Jepang di Indonesia, terutama di kota-kota Jakarta, Surabaya dan Semarang.
Khusus setiap tanggal 1 Januari, Java Nippo terbit dengan halaman lebih banyak. Biasanya, pada halaman pertama memuat sambutan perdana menteri Jepang, terutama tentang harapan-harapan dalam memasuki tahun baru. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Javasche Courant - suratkabar mingguan. Mulai terbit tahun 1828 dan bertahan sampai Hindia Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942.
Dalam salah satu edisinya yang terbit pada tahun 1845, suratkabar ini memuat tulisan Eduard Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli (artinya: saya banyak menderita). Sejak pertengahan abad ke-19 suratkabar ini resmi menjadi milik pemerintah. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).
Jawa Pos - suratkabar harian. Terbit dan beredar di Kota Surabaya, Jawa Timur. Jawa Pos merupakan harian terbesar di Jawa Timur, dan merupakan salah satu harian dengan oplah terbesar di Indonesia. Sirkulasi Jawa Pos menyebar di seluruh Jawa Timur, Bali, dan sebagian Jawa Tengah serta DI Yogyakarta. Jawa Pos juga mengklaim sebagai “Harian Nasional yang Terbit dari Surabaya”.
Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di suratkabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat suratkabar sendiri.
Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin dan Belanda. Bisnis The Chung Shen di bidang suratkabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun.
Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.
Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia pada tahun 2000. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun menjadi suratkabar dengan oplah 300.000 eksemplar.
Lima tahun kemudian terbentuklah Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan suratkabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 suratkabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997, Jawa Pos pindah ke gedung yang baru berlantai 21, Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Tahun 2002 dibangun Graha Pena di Jakarta. Dan, saat ini bermunculan gedung-gedung Graha Pena di hampir semua wilayah di Indonesia.
Tahun 2002, Jawa Pos Group membangun pabrik kertas koran yang kedua dengan kapasitas dua kali lebih besar dari pabrik yang pertama. Kini pabrik itu, PT Adiprima Sura Perinta, mampu memproduksi kertas koran 450 ton/hari. Lokasi pabrik ini di Kabupaten Gresik, hanya 45 menit bermobil dari Surabaya.
Setelah sukses mengembangkan media cetak di seluruh Indonesia, pada tahun 2002 Jawa Pos Grup mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam, Riau TV di Pekanbaru, FMTV di Makassar, PTV di Palembang, dan  Parahiyangan TV di Bandung.
Memasuki tahun 2003, Jawa Pos Group merambah bisnis baru yakni Independent Power Plant. Proyek pertama adalah 1 x 25 MW di Kab. Gresik, yakni dekat pabrik kertas. Proyek yang kedua 2 x 25 MW, didirikan di Kaltim, bekerjasama dengan perusahaan daerah setempat.
Sirkulasi Jawa Pos menyebar hingga ke seluruh provinsi Jawa Timur, Bali, dan sebagian Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Jawa Pos terbit dalam beberapa edisi.
Jawa Pos edisi Surabaya beredar di daerah Kota Surabaya dan sekitarnya (Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik), terbit dengan tiga seksi utama:
* Jawa Pos (utama), berisi berita-berita utama, politik, ekonomi/bisnis, Jawa Timur, nasional, internasional, dan rubrik-rubrik tematik lainnya.
* Metropolis, berisi berita Kota Surabaya dan sekitarnya (Sidoarjo dan Gresik), Deteksi (halaman untuk remaja, salah satunya berisi polling harian), hiburan, kesehatan, teknologi, dan rubrik-rubrik “ringan” lainnya serta rubrik mingguan
* Olahraga, berisi berita-berita olahraga, terutama ulasan mengenai sepak bola dan balap (Formula 1, MotoGP). Seksi ini juga berisi iklan baris.
* Deteksi berisi berita tentang kehidupan remaja, mulai dari otomotif, style, techno, hingga anime, terdiri dari 3 halaman yang disisipkan di dalam Metropolis. Hingga kini DetEksi Jawa Pos aktif mengadakan event seperti DetEksi Basketball League, Dan MAding Championship. Halaman ini kini telah menjadi bacaan wajib bagi remaja di Surabaya. Semua crew seksi ini masih berstatus mahasiswa, mulai dari reporter, editor, hingga fotografer.
Hal yang membedakan Jawa Pos edisi Surabaya dan luar Surabaya adalah pada seksi “Metropolis”. Pada Jawa Pos luar Surabaya, seksi “Metropolis” diganti dengan seksi yang lebih regional, yang disebut “Radar”. Rubrik-rubrik Metropolis (seperti di Jawa Pos edisi Surabaya) sebagian masih dipertahankan. Seksi Jawa Pos utama dan Seksi Olahraga sama persis dengan edisi Surabaya.
Saat ini Jawa Pos memiliki 15 “Radar”, yang masing-masing memiliki redaksi sendiri di kotanya yakni:
*  Radar Banyuwangi (Banyuwangi), beredar  di Banyuwangi dan Situbondo.
*  Radar Jember (Jember), beredar di Jember  dan Lumajang.
*  Radar Bromo (Kota Pasuruan), beredar di   Pasuruan dan Probolinggo.
*  Radar Malang (Kota Malang), beredar di   Malang dan Batu.
*  Radar Mojokerto (Kota Mojokerto), beredar  di Mojokerto dan Jombang.
*  Radar Kediri (Kota Kediri), beredar di Kediri  dan Nganjuk.
*  Radar Tulungagung (Tulungagung), beredar  di Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar.
*  Radar Bojonegoro (Bojonegoro), beredar di  Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Blora.
*  Radar Madiun (Kota Madiun), beredar di  Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, dan   Pacitan.
*  Radar Madura (Bangkalan), beredar di   Pulau Madura.
*  Radar Bali (Bali), beredar di Denpasar Bali.

Redaksi “radar-radar” ini berada di sejumlah kota. Isi berita “Radar” bersifat lokal, dan memuat iklan yang juga bersifat lokal.
Jawa Pos edisi Jawa Tengah/DIY sedikit berbeda dengan edisi Jawa Timur. Meski berita utama (headline) dan sebagian besar isi beritanya sama, Jawa Pos edisi Jawa Tengah/DIY berisi rubrik tambahan yang bersifat lokal,  tidak termasuk iklan baris.
Jawa Pos di Jawa Tengah dan DIY juga terdiri atas sejumlah “Radar”, yakni:
* Radar Semarang (Kota Semarang), beredar di Semarang, Salatiga, Demak, Kendal, Batang, dan Pekalongan.
* Radar Solo (Kota Surakarta), beredar di eks Karesidenan Surakarta (Surakarta, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri).
* Radar Kudus (Kudus), beredar di Kudus, Pati, Jepara, Grobogan, Rembang, dan Blora.
* Radar Jogja (Kota Yogyakarta), beredar di Provinsi DIY, Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.
Selain sisipan “Radar” yang terbit menyatu dengan Jawa Pos, koran ini juga memiliki puluhan suratkabar di daerah, dengan bendera “Jawa Pos Grup”. Seluruh media ini merupakan bagian dari Jawa Pos News Network, dan beritanya dapat diakses oleh seluruh media Jawa Pos Grup lainnya.

* Riau Pos (Pekanbaru)
* Pekanbaru Pos (Pekanbaru)
* Dumai Pos (Dumai)
* Sumut Pos (Medan)
* Metro Siantar (Siantar)
* Pos Metro Medan (Medan)
* Padang Ekspres (Padang)
* Pos Metro Padang (Padang)
* Batam Pos (Batam)
* Pos Metro Batam (Batam)
* Sumatera Ekspres (Palembang)
* Palembang Pos (Palembang)
* Radar Palembang (Palembang)
* Jambi Independent (Jambi)
* Jambi Ekspres (Jambi)
* Pos Metro Jambi (Jambi)
* Linggau Pos (Lubuk Linggau)
* Bangka Belitung Pos (Pangkalpinang)
* Rakyat Bengkulu (Bengkulu)
* Radar Lampung (Lampung)
* Rakyat Lampung (Lampung)
* Rakyat Aceh (Banda Aceh)
* Indopos
* Rakyat Merdeka
* Bibir Mer
* Bollywood
* Sinar Glodok
* Lampu Merah
* Guo Ji Ri Bao
* Pos Metro
* Harian Banten (Banten)
* Satelit News (Banten)
* Radar Bandung (Bandung)
* Radar Bogor (Bogor)
* Radar Cirebon (Cirebon)
* Radar Karawang (Karawang)
* Radar Tasik (Tasikmalaya)
* Meteor (Semarang)
* Radar Tegal (Tegal)
* Radar Banyumas (Purwokerto)
* Radar Surabaya (Surabaya)
* Malang Pos (Malang)
* Memorandum (Surabaya)
* Rek Ayo Rek (Surabaya)
* Lombok Post (Mataram)
* Timor Ekspres (Kupang)
* Pontianak Pos (Pontianak)
* Harian Equator (Pontianak)
* Kapuas Pos (Kapuas)
* Metro Pontianak (Pontianak)
* Kalteng Pos (Palangkaraya)
* Radar Banjarmasin (Banjarmasin)
* Samarinda Pos (Samarinda)
* Kaltim Post (Balikpapan)
* Post Metro Balikpapan (Balikpapan)
* Radar Tarakan (Tarakan)
* Radar Sampit (Sampit)
* Radar Banjaraum (Sampit)
* Fajar (Makassar)
* Berita Kota Makassar (Makassar)
* Pare Pos (Pare Pare)
* Palopo Pos (Palopo)
* Radar Sulbar (Sulawesi Barat)
* Ujungpandang Ekspres (Makkasar)
* Kendari Pos (Kendari)
* Kendari Ekspres (Kendari)
* Radar Sulteng (Palu)
* Manado Post (Manado)
* Posko (Manado)
* Tribun Sulut (Manado)
* Ambon Ekspres (Maluku)
* Malut Pos (Ternate)
* Gorontalo Pos (Gorontalo)
* Cendrawasih Pos (Jayapura)
* Radar Timika (Timika)
* Radar Sorong (Sorong)
* Tabloid Komputek
* Tabloid Nyata
* Tabloid Posmo
* Tabloid Cantiq
* Tabloid Bunda
* Tabloid Koki
* Tabloid Tunas
* Tabloid Modis
* Tabloid Hikmah
(Tim EPI)
JTV - stasiun televisi lokal di Surabaya. Berdiri setelah masa reformasi tahun 1998. Nama JTV,  menurut Direktur Utama JTV (2007), Imawan Mashuri, bisa berarti kependekan dari “Jawa Timur Televisi”. Karena stasiun televisi tersebut didedikasikan dari dan untuk Jawa Timur.
JTV bisa juga sebagai kependekan dari Jawa Pos Televisi. Sebab JTV termasuk salah satu anak perusahaan PT Jawa Pos.
JTV yang menggunakan moto “JTV Rek! Seratus Persen Jawa Timur, adalah televisi lokal pertama di Indonesia”. Tayang perdana pada 8 November 2001, dengan durasi tayang 10 jam sehari. Pada hari jadinya ke-6 tahun 2007, JTV mengudara selama 22 jam sehari dengan 95 % materi tayangan produksi sendiri.
Tayangan JTV menjangkau 38 daerah kabupaten dan kota se Jawa Timur yang berpenduduk 36,3 juta jiwa. Ciri khas JTV adalah, mengangkat dinamika Jawa Timur dengan memanfaatkan tiga bahasa utama lokal, yakni Suroboyoan, Madura dan bahasa Kulonan atau Mataraman.
Pada tahun 2007, JTV membentuk jaringan televisi lokal grup Jawa Pos, dengan sebutan Jetli (Jejaring Televisi Lokal Indonesia). Anggota Jetli adalah, JTV dan SBO (Jawa Timur), Pajajaran TV/PJTV (Jawa Barat), Riau TV, Batam TV, Fajar TV, PAL TV (Sumatera Selatan), Padang TV (Sumatera Barat) dan Pontianak TV (Kalimantan Barat). Anggota Jetli yang segera menyusul, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sumatra Utara dan Jawa Tengah.
JTV lahir dari gagasan inovatif untuk menjadikan stasiun televisi sebagai lembaga penyiaran swasta Jawa Timur yang berbasis lokal. JTV turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, bersikap independen, objektif dan jujur, berpartisipasi dalam usaha pemberdayaan masyarakat.
Misi JTV adalah mencerdaskan bangsa terutama masyarakat Jawa Timur; menggali, mencerahkan dan menggairahkan kehidupan sosial budaya Jawa Timur; menjadi partner bagi masyarakat dan penerintah daerah dalam mendorong dan meningkatkan  pertumbuhan ekonomi, terutama daerah Jawa Timur; menjaga dan meningkatkan kerukunan antarumat beragama, etnis dan golongan. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)  


Jaya Baya - majalah mingguan. Majalah berbahasa Jawa ini tergolong paling sepuh. Usianya cuma kalah dari Panjebar Semangat yang terbit di Surabaya pada awal abad ke-20. Di luar kedua pinisepuh itu ada beberapa pers berbahasa Jawa, seperti Mekarsari, Djoko Lodhang, Praba (Yogyakarta), dan Jawa Anyar (Solo). Namun dibandingkan nama-nama itu, Jaya Baya jauh lebih senior.
Seperti halnya pers berbahasa Jawa, nasib Jaya Baya jauh dari sebutan mentereng. Oplahnya sekitar 25.000 eksemplar dengan harga eceran Rp 1.750. Iklannya sedikit, padahal sebelumnya Jaya Baya sempat menggapai masa keemasan. Sirkulasinya 95.000 eksemplar per edisi. Pembacanya tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun ada pula pelanggan dari kantong masyarakat Jawa di seberang, yakni Suriname. 
Dari hasil survey yang dilakukan Jaya Baya diketahui bahwa orang-orang sepuh berusia 60 tahun ke atas masih menjadi pembaca potensial. Porsinya 28 persen. “Mereka itu orang tua yang masih terikat dengan nilai-nilai tradisional,” kata Titih Rahayu, salah seorang redaktur Jaya Baya. Pembaca usia 45-50 tahun sekitar 37 persen, dan sisanya orang muda di bawah usia 40 tahun. “Mereka masih punya kenangan dengan suasana dan budaya Jawa,” tambah Titih.
Siapa pun pembacanya, kata Tadjib Ermadi, perintis penerbitan Jaya Baya, dirinya tetap merasa bangga bisa mengawaki majalah ini hampir setengah abad. Kakek berusia 79 tahun itu terlihat sangat bahagia. Ia sempat menyaksikan usaha pers yang dirintisnya 50 tahun silam itu bisa bertahan di tengah arus perubahan zaman. Majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, masih eksis dalam usia setengah abad. “Saya satu-satunya pendiri yang masih hidup,” katanya.
Salah satu misi Jaya Baya memang nguri-uri (memelihara) kebudayaan Jawa. “Kami menempatkan Jaya Baya sebagai bacaan keluarga Jawa”, tutur Tadjib, mantan guru di Lembaga Pendidikan Taman Siswa yang menjabat sebagai pamong (pemimpin umum) Jaya Baya. Isinya pun menyangkut keperluan orang dewasa, remaja, maupun bocah di bawah usia 10 tahun.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Jogja TV - stasiun televisi. Berlokasi di Jalan Wonosari Km. 9 merupakan televisi lokal pertama yang berdiri di Yogyakarta . Diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tanggal 17 September 2004 yang sekaligus menjadi hari lahirnya Jogja TV.
PT Yogyakarta Tugu Televisi juga merupakan TV yang memiliki 3 pilar utama yaitu pendidikan, budaya, dan pariwisata sehingga diharapkan mampu memberikan informasi, hiburan, dan kontrol sosial terhadap masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.
Visi dan Misi Jogja TV diantaranya adalah menjadi etalase kearifan lokal budaya Nusantara dan menjadi televisi yang mengaplikasikan teknologi tanpa mengesampingkan tradisi adiluhung, sehingga dapat mendorong peningkatan sektor pendidikan, perekonomian serta pariwisata Yogyakarta dan sekitarnya. Hal tersebut dapat tercermin dari pilihan berita yang ditayangkan oleh Jogja TV.
Jogja TV yang tergabung dalam jaringan Indonesia Network, hadir menyapa pemirsa setiap hari mulai pukul 06.00 s/d 24.00 wib. Dengan daya pancar 8 KW, mempunyai jangkauan siaran  meliputi Yogyakarta, Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Kulonprogo.
Tidak hanya itu siaran Jogja TV juga dapat dinikmati di Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Klaten, Magelang, Purworejo, Kutoarjo, Banjarnegara, sebagian Kebumen, Wonosobo, Temanggung dan sekitarnya. Beberapa program acara unggulan Jogja TV adalah Seputar Jogja, Pawartos Ngayogyakarta, Inyong Siaran, Klinong-Klinong Campursari, Rolasan, Jelajah Kampus dan Dokter Kita.
Beberapa prestasi dan penghargaan yang pernah diraih Jogja TV di antaranya adalah Pemenang Iklan Layanan Masyarakat Televisi Terbaik dalam Ajang Anugerah Kebudayaan 2006 Media Massa dan Iklan dan Nominator Peraih “Cakram Award 2006” untuk kategori “Televisi Lokal Terbaik”.
Dengan slogan Tradisi Tiada Henti, Jogja TV hadir  di tengah-tengah masyarakat sebagai salah satu pilar kekuatan yang ikut melestarikan sekaligus mengembangkan kebudayaan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa dan daerah-daerah di sekitarnya melalui inovasi dalam berbagai program acaranya. Dengan menghadirkan program yang bermuatan lokal sebesar 80%, Jogja TV diharapkan benar-benar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan hiburan dari daerahnya sendiri.(Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Jong Java - suratkabar dwimingguan, adalah media perjuangan kaum muda pergerakan di Jawa yang terbit di Weltevreden pada tahun 1920-an. Di bawah kop Jong Java tertulis slogan,  “Orgaan van de Studeerenden-Vereeniging Jong Java Als Rechtspersoon erkend bij Gouvernement Besluit 9 Oktober 1923”
Format suratkabar Jong Java yang beredar dua kali sebulan ini adalah tabloid. Isinya disajikan dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Penerbitnya Perserikatan Pemoeda-pemoeda Djawa, Madoera, Bali, Lombok dari Sekolah Pertengahan dan Tinggi. Alamatnya di Jalan Pegangsaan Oest No. 17 Weltevreden. Pemimpin redaksinya S. Wirjodisastro, redaktur MN Mihardjo dan pemimpin administrasi Soeprapto. Sedangkan sebagai penasihat utama yang disebut “komisi redaksi” adalah Mangkunegoro VII.
Jong Java banyak memuat berita-berita dan artikel perjuangan, di antaranya dalam salah satu edisi memuat berita kongres Jong Java XII di Semarang. Suasana panas menjelang kongres tersebut, dapat disimak dari salah satu iklan dari Pedoman Besar di halaman pertama yang isinya, “Saoedara-saoedara fihak Jong Java! Koendjoengilah congres pemboebaran di Kota Semarang dalam boelan Desember 1929. Saksikanlah akhirnja Perkoempoelanmoe! Lihatlah timboelnja pergerakan pemoeda jang baharoe. Jong Java minta pertolonganmoe sekalian.”
Harga langganan suratkabar Jong Java Rp 2,- per kwartal dan  tarif iklan 25 sen per baris. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas).


Jong Java - majalah bulanan. Terbit pertama kali pada 10 November 1915. Semula bernama “Tri Koro Dharmo”. Perubahan nama itu menyusul perubahan nama organisasi yang menjadi induknya, Tri Koro Dharmo, yang berganti nama menjadi Jong Java. Suratkabar ini bertujuan ingin membangun semangat dan persatuan Indonesia.
Tri Koro Dharmo lahir sebagai perkumpulan murid-murid Bumiputra di sekolah menengah dan pendidikan keahlian, setelah ada perubahan fasal 111 Regeerings Reglement (Peraturan Pemerintah), yang memberikan segala hak kepada penduduk untuk mengadakan perkumpulan dan rapat.
Sebagai corong organisasi pelajar Bumiputra,  Tri Koro Dharmo hanya memuat tulisan-tulisan berbahasa Jawa dan Madura. Karangan-karangan dalam bahasa Sunda baru akan dimuat dalam majalah perkumpulan ini kalau jumlah anggota dari Sunda sudah mencapai 50 lebih.
Tulisan-tulisan yang dimuat berkisar tema seni dan budaya Jawa, cinta Tanah Air, kebersihan, pendidikan, serta tulisan yang dianggap menambah penghidupan rohani maupun kemasyarakatan rakyat.
Tujuan Jong Java dijelaskan pada saat Kongres di Solo, 12 Juni 1918: “Djoega madjalah kita sekarang bernama 'Jong Java'. Berdiri pada tingkat jang sama tinggi dengan yang telah diperoleh madjalah 'tri', madjalah dengan nama baroe ini tidak setapak poen akan berkisar dari azas toedjoean madjalah kita semoela. Madjalah ini akan tetap meroepakan pedjoeang bagi kepentingan-kepentingan kita bersama, gelanggang bagi mereka jang ingin saling mengadoe kekoeatan masing-masing, dan `last but not least', kelandjoetan dari madjalah Tri Koro Dharmo”. (Jong Java, Agustus 1918).
Tentang alasan nama “Tri Koro Darmo” (bahasa Jawa) yang diubah menjadi “Jong Java” (bahasa Belanda), disebutkan untuk kesungguhan cita-cita mulia yakni “Mengoesahakan soepaja anggota-anggota perkoempoelan nanti tersedia boeat menolong membangoen Djawa-Raja dan mengoeatkan perasaan persatoean di antara bangsa-bangsa Indonesia soepaja kelak sampai ke Indonesia Merdeka”. (Jong Java, 7 Maar)
Dalam suratkabar Jong Java tergurat jelas semangat perkumpulan yaitu, “Madjalah itoe mendjadi soeatoe djembatan jang amat perloe dan bergoena oentoek mempertalikan Pedoman Besar dengan tjabang2 serta anggota sesamanja.” (Jong Java 7 Maar).
Pembaca Jong Java adalah anggota Jong Java, karena majalah ini merupakan corong organisasi. Isinya pun berbobot, ala kaum terpelajar, layaknya jurnal-jurnal bernada serius untuk satu tujuan -- seperti dikatakan Armijn Pane dalam Poedjangga Baroe --membangkitkan dan meningkatkan rasa kebudajaan boemipoetra”. Mula-mula bahasa yang digunakan untuk “membangkitkan kebudayaan boemipoetra” itu bahasa Melayu, namun pada konggres Jong Java 1923 diputuskan bahwa hanya ada bahasa Jawa dan Belanda yang menjadi bahasa tulis penerbitannya.
Pergeseran bahasa itu adalah pergeseran sikap, nilai, dan sekaligus mencari format pendekatan terhadap kekuasaan. Soal penggunaan bahasa inilah yang menjadi titik tolak pertarungan dahsyat -- baik secara intelektual maupun politik -- dalam eksponen Jong Java. Dhaniel Dakidae (2003:115) mengintrodusir bahwa pertarungan itu menandai bahwa bahasa adalah kekuasaan.
Ketika berhadapan dengan tawaran persalinan antara bahasa Jawa atau Melayu semua memutuskan lebih baik memilih bahasa Belanda yang dengan mudah ditafsirkan sebagai bahasa netral. Tapi bila ditilik lebih jauh, persalinan itu bertumpu bukan pada netralitas, tapi pada otoritatif yang bisa menentukan posisi bahasa baik karena modal, kekuasaan, maupun kekuatan negara dalam hubungan dengan bahasa tersebut.
Para penulis Jong Java  lahir dari kaum terdidik bumiputra, seperti Soewandhi, Koentjoro Poerbopranoto, Sootjo Marjoto, dan lainnya. Dengan semakin bertambahnya jumlah anggota Jong Java, para pembaca majalah ini pun semakin meningkat. Pada tahun 1920-an saja oplahnya mampu mencapai 3.000 eksemplar.
Jong Java juga berfungsi sebagai notulen sidang. Hasil dan jalannya persidangan dan pendapat para utusan yang menghadiri kongres akan dimuat secara lengkap dalam majalah ini.
Dalam “Persidangan Terboeka jang Pertama” tanggal 26 Desember 1928, misalnya, Jong Java menulis, “Djam 8.15 sore rapat oemoem diboeka oleh wakil Bondvoorzitter Sdr. Djokomarsaid, dengan dihadiri oleh kira-kira 1.500 orang antara mana oetoesan-oetoesan perkoempoelan-perkoempoelan jang djoega mengoendjoengi perdjamoean pada malam jang laloe, dan beberapa tamoe-tamoe jaitoe. Tt. K.A. Dewanto, T. van der Plas, dan Dr. Pyper dari kantor Inl. Zaken, 2 inspecteur van Onderwijs.”
Yang disampaikan oleh utusan-utusan yang hadir, dalam kongres juga akan dicatat oleh Jong Java untuk diterbitkan kemudian. Hal ini dikarenakan fungsi dari majalah sebagai alat untuk mempertalikan Pedoman Besar dengan cabang-cabang serta anggotanya.
Pada 26 Desember 1926, dari notulen Jong Java nampak adanya gagasan untuk melebur  Jong Java, seperti yang dikemukakan utusan dari Jogja, “Oetoesan Djokja berpidato jang maksoednja mengoeatkan voorstel PPPI jaitoe soepaja pemoeda Indonesia membangoenkan persatoean setjara fusie, boekan federatie, tiada perloe diadakan lagi J.J, J.A., P.S., J.B. B., Jong Celebes agar soepaja semoea merasa djadi satoe sadja”.
Dalam catatan Jong Java, utusan dari Betawi dan Surabaya tidak setuju atas usul utusan Jogja untuk diadakan fusi dalam organisasi. Menurut mereka, fusi Jong Jong tidak akan membawa faedah dan akan mengalami kegagalan. Namun pada 27 Desember 1929, organisasi Jong Java meleburkan diri dalam Indonesia Moeda. Dengan peleburan ini, majalah Jong Java pun menutup pengabdiannya. (Tim EPI/KG. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indonesia Buku/Jurnas)
    

Jong Sumatra - majalah. Terbit pertama tahun 1918 di bawah payung organisasi Jong Sumatranen Bond yang lahir dari kesadaran. Sadar bergerak, sadar berjuang, dan sadar mengejar ketertinggalan dari saudara tuanya yang lebih dulu sadar yakni suku Jawa. Nasionalisme Jawa lahir lebih cepat sepuluh tahun daripada Sumatera.
Meski sempat menuai komentar pesimis, kaum intelektual Sumatera bersepakat mengikat hati dalam sebuah wadah perjuangan yang terbentuk pada 1916 yaitu Jong Sumatranen Bond atawa JSB.
“Soematra beloem mateng bagi seboeah politik dan oemoem,” kata Said Ali, redaktur suratkabar Tjaja Sumatra, dengan nada sinis. Tapi dua tahun kemudian tahun 1918, JSB menerbitkan Jong Sumatra. Kaum tua menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang.
Beda persepsi antara dua generasi yang berbeda itu menjadi sorotan Bahder Johan, aktivis JSB, yang dimuat di edisi perdana Jong Sumatra, Januari 1918, “Lahirnja J.S.B ke doenia tentoelah pikiran orang akan menambah lagi besarnja pertjeraian antara kedoea pihak itoe karena diwaktoe itulah pendoedoek Sumatra jang berhaloean kaoem muda, artinja jang berhaloean akan kemadjoean berjabat tangan tanda persaoedaraan akan bekerdja bersama-sama mentjapai jang moeda itoe: jaitoe akan meninggikan deradjat poelau Sumatera dan memberikan tempat kepada bangsa Sumatra didalam doenia peradaban. Besar dan tinggi maksoed dan pengharapan Jong Sumatranen Bond, toeloes dan ichlas tjita-tjita pemoeda Sumatra akan mengharoemkan nama Sumatra dimoeka bumi ini akan memimpin bangsanja sepandjamg tangga ketjerdasan menudju gedoeng kesempoernaan, dan terpikoellah kewadjiban diatas batoe kepala bangsa Sumatra besar dan ketjil, toea dan moeda akan memberi djiwa yang tegoeh dan koeat kepada Jong Sumatranen Bond!’
Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12, Th I, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang meneriakkan seruannya, dengan maksud mempertanyakan kepentingan kaum adat. ‘Bagaimana Hindia akan madjoe, kalau kiranja masih banjak orang jang enggan melihat bangsakoe mendapat martabat jang lebih tinggi!’ Sambutan positif datang dari Mohamad Anas, sekretaris JSB, ‘Bangsa Sumatra soedah moelai bangkit dari ketidoerannja, dan soedah moelai memandang keperloean oemoem.’
Jong Sumatra terbit pertamakali pada Januari 1918. Jadwal terbitnya tidak tetap. Kadang bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltervreden, Batavia-kota, sekaligus sebagai kantor redaksi dan administrasi suratkabar yang berjargon Organ van Den Jong Sumatranen Bond.
Redaksi Jong Sumatra adalah juga para pengurus alias Centraal Hoofbestuur JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A Munir Nasution (wakil ketua), Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki (bendahara), dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra dipegang oleh Amir, sedangkan administrasi ditangani Roeslie.
Mereka ini siswa atau alumni STOVIA serta sekolah pendidikan Belanda lainnya. Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra dipisahkan dari kepengurusan JSB meski tetap ada garis koordinasi. Pemimpin redaksi pertama adalah Amir dan pemimpin perusahaannya Bahder Johan.
Mohammad Hatta dan Muhammad Yamin adalah anggota JSB. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1916-1918. Kemudian menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak menuangkan alam pikirannya, salah satunya melalui karangan berjudul Hindiana yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920.
Sedangkan Yamin karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong Sumatra. Ia memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan.
Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra No 4, Th 3, 1920: ‘Sesoengguhnja tiadalah kami hendak melebih-lebihkan atau mempertinggi bahasa Melajoe itoe setara dengan bahasa Sangsekerta atau Joenani, tidak, haram sedemikian maksoed kami. Hanjalah kami memperingatkan bahwa bahasa kita makin lama, makin tidak dioesahakan dan dipeladjari, ja, sampai ada jang tiada hendak tahoe menahoe lagi. Nafsoe ini tersesat, tersalah dan berdosa. Kepada ia kami pekikkan dengan soeara jang terang dan kami katakan dengan kalimat jang djelas: TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!”
Dalam Kongres Pemuda I 1923 Yamin melontarkan pemikiran mengenai kemungkinan bahasa Melayu akan berkembang menjadi bahasa kebangsaan. Pada Kongres Pemuda ke II, 28 Oktober 1928, Yamin juga menjadi konseptor utama dalam penyusunan teks Sumpah Pemuda, di mana konsepnya tentang bahasa persatuan akhirnya disepakati oleh para perintis pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Suratkabar yang terbit sebulan sekali tersebut, menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Belanda, dengan slogan, “Orgaan van den Jong Sumatranen Bond – Gewijdaan de Groot-Sumatraasche Gedachte, dijual dengan harga langganan Jong Sumatra per tahun Rp 5,- dan tarif iklan per baris 25 sen. (Tim EPI/KG. Sumber: Iswara N Raditya/ Indexpress/Jurnas/Perpusnas)


Jootje Kumajas -kini adalah Ketua PWI Cabang Sulawesi Utara. Profesi kewartawanannya dimulai tahun 1986 sebagai wartawan LKBN ANTARA. Jooce setia mengabdikan dirinya bagi kantor berita ini hingga menjabat sebagai Kepala Biro Sulawesi Utara. Sarjana publisitik ini menikahi Detje Polla, seorang sarjana ekonomi yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), dan dikaruniai dua orang anak. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Jurnal Nasional - suratkabar harian nasional di Indonesia yang terbit di Jakarta sejak 1 Juni 2006. Harian ini diterbitkan oleh PT. Media Nusa Pradana.
Susunan pengurus penerbitan suratkabar ini pada awalnya terdiri dari enam orang (sekaligus sebagai pimpinan dan dewan redaksi), yaitu Asto S. Subroto (Pemimpin Umum), Susanto Darus (Wakil Pemimpin Umum), Ramadhan Pohan (Pemimpin Redaksi), Abdul Hamid Dipopramono (Wakil Pemimpin Redaksi), Ananta Setiawan (Pemimpin Perusahaan), Rully Charis (Wakil Pemimpin Perusahaan).
Suratkabar ini terbit dalam dua versi yaitu versi cetak dan versi elektronik (online). Untuk versi elektronik masih terbagi menjadi dua yakni versi Web (www.jurnalnasional.com) dan versi Mobile (MobileNewspaper). Kedua versi elektronik ini menjawab kebutuhan informasi anda melalui JMN (Jurnal Mobile Newspaper) dan koran (termasuk hari Minggu) versi cetak yang dapat dibaca melalui media elektronik. Suratkabar ini merupakan The Indonesia's First Mobile Phone Newspaper. Dalam perkembangannya, Jurnal Nasional juga menerbitkan tabloid KOKTAIL yang terbit setiap pekan, dan JURNAL BOGOR yang terbit setiap hari, khusus lokal kota Bogor.
Di samping penerbitan mandiri tersebut, Jurnal Nasional juga menerbitkan lembaran khusus INDONESIA RISING -koran khusus berbahasa Inggris, PROFIT - lembaran khusus tentang BUMN dan Korporasi, EKSPLORASI -penerbitan khusus masalah energi dan sumberdaya mineral, JURNASOCCER -lembaran khusus tentang sepak bola, dan JURNASPORT -lembaran khusus olah raga. Untuk edisi khusus yang terkait dengan masalah perkotaan, suratkabar ini menerbitkan lembaran khusus GAPURA. Sedangkan untuk penerbitan yang berkaitan dengan TNI/POLRI sewaktu-waktu menerbitkan lembaran khusus GARDA.
Munculnya kegalauan masyarakat akan citra media yang negatif dengan tampilan berita-berita yang memprovokasi, berpotensi menimbulkan konflik yang bersifat vertikal maupun horizontal.
Di tengah kondisi seperti itu, Jurnal Nasional hadir membawa pencerahan dengan memosisikan diri sebagai media nasional yang kuat, terpercaya serta berwatak kebangsaan dengan menyajikan informasi yang substansinya menjembatani kepentingan publik dan republik secara harmonis: cerdas, segar, dan bijak, dengan isi yang tepat, akurat, dan bermanfaat.
Sejak didirikan pada 1 Juni 2006, Jurnal Nasional hadir sebagai suratkabar harian, tabloid mingguan, Journal Breakingnews Services (web dan mobile). Kini diperkuat dengan Indonesian Research and Development Institute (IRDI).
Guna mewujudkan Jurnal Nasional yang layak dijadikan prioritas bagi pembaca dan pengaksesnya, Jurnal Nasional selalu mengadakan pemantapan jatidiri keredaksian, pengembangan produk, dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia.
Awak Jurnal Nasional terdiri dari para profesional yang berpengalaman dalam bidang jurnalistik, dan mempunyai integritas yang tidak diragukan karena melalui proses seleksi yang ketat dan selalu mengembangkan potensi dan wawasannya.
Jurnal Nasional berkantor (kantor pusat) di Jurnal Nasional Building Jl. Pemuda 234 Jakarta - 13220. Phone: 021 - 4706233 (Hunting), Fax: 021 – 4706354 (Tim EPI/Jurnas)


Jurnalisme Bencana - Implikasi dari pengalaman peliputan peristiwa bencana sedahsyat tsunami Aceh akhir tahun 2004, yang menewaskan sekitar 200.000 jiwa dan meluluhlantakkan infrastruktur sebagian wilayah Aceh, memang perlu dikaji sekomprehensif mungkin. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari kejadian tragis itu, ditilik dari sudut pandang konsep dan praktek jurnalisme. Sejumlah pertanyaan segera muncul, seperti, harus bagaimanakah para jurnalis melaksanakan tugas mereka meliput tragedi sebesar tsunami Aceh. Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dan diberi prioritas? Bagaimana persiapan yang seoptimal mungkin bagi para jurnalis untuk bisa menunaikan tugas secara relatif baik? Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tak dapat dijawab sekaligus. Semuanya meminta suatu kaji-ulang dan peninjauan kembali berbagai langkah dan praktek kewartawanan agar tercapai harapan yang begitu besar dari masyarakat luas, termasuk dari mereka yang dikenai oleh bencana itu sendiri.
Selain itu, tampak jelas dari pengalaman akhir 2004 dan awal 2005 tadi bahwa tugas dan fungsi jurnalis, pada saat-saat amat darurat seperti itu, tidak lagi cukup seperti yang biasanya. Pada situasi luar biasa ini, kehadiran wartawan di lokasi bencana bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan berita besar yang sedianya akan diekspos besar-besaran pula. Muncul berbagai tuntutan yang mengharuskan para wartawan untuk mempertimbangkan hal-hal yang selama ini rasanya tidak terlintas di pikiran mereka.
Bagaimanakah perasaan para wartawan yang meliput kejadian bencana sedahsyat tsunami di Aceh? Dalam penuturan mereka, wartawan seperti Rosiana Silalahi (SCTV), Najwa Sihab (Metro TV) dan Mardiah Chamin (Tempo) -sekadar menyebut contoh- memang menyatakan bahwa sesudah menjalankan tugas meliput bencana Aceh mereka tidak terlalu terpengaruh baik secara mental maupun fisik, meski merasakan betapa dahsyatnya bekas kejadian yang mereka lihat.
Bisa dikatakan mereka mampu mengelola keseimbangan perasaan dan jasmani agar tugas tetap terpelihara. Namun ada beberapa wartawan yang mengaku tidak bisa melupakan begitu saja kesan kejiwaan yang menerpa mereka saat berada langsung di tengah situasi parahnya bencana tersebut. Ada yang selalu terbayang suasana ketika ia melihat sendiri bagaimana jenazah berserakan di semua tempat, ada pula yang selama lebih kurang sebulan sepulang dari Aceh masih merasa seakan-akan bumi, selang beberapa saat, terus menerus bergoyang. Wartawan Moch. Gatut Mukti Wirawan (Trans TV) misalnya, sempat mengalami susah tidur, dan seringkali ketika tidur di rumahnya mengigau gempa selama beberapa masa sehabis bertugas di Banda Aceh.
Semua gejala tadi dengan jelas diungkapkan oleh Dr. Frank Ocberg, psikiatris di Michigan yang pernah mengepalai National Institute for Mental Health, bahwa para jurnalis memang menjadi calon terkena Secondary Traumatic Stress Disorder, yaitu suatu respons emphatic yang mempengaruhi mereka, termasuk para terapis, manakala sikap yang tak terpengaruh secara profesional (professional detachment) kita kewalahan (overwhelmed) oleh sejumlah peristiwa kehidupan tertentu (certain life events). Imej jenazah bayi yang disaksikan di tempat bencana misalnya, akan meninggalkan “tanda” di dalam ingatan mereka yang melihatnya.
Pada sisi lain, Roger Rosenblatt menulis tentang wartawan yang meliput kasus perang saudara di Rwanda. Menurutnya, sebagian besar wartawan akan beraksi dalam tiga tahap. Tahap pertama, ketika mereka masih muda, mereka berespons terhadap kekejaman dengan shock dan penolakan (revulsion) dan tentunya rasa bersalah yang menusuk hati (a twinge of guilty excitement) bahwa mereka menyaksikan sesuatu yang orang lain tak pernah melihatnya, hidup pada titik kengerian yang ekstrem. Pada tahap kedua, kekejaman akan menjadi familiar dan berulang (repetitif). Sedangkan tahap ketiga, segalanya menjadi lebih menyedihkan dan lebih bijak, dan anehnya menjadi lebih baik.
Apa kaitannya kita menyinggung soal stress ini dengan tugas-tugas jurnalisme? Dengan membicarakan hal ini kata Ochberg, kita meminimalisasi efek yang merontokkan (degrading) dan memusnahkan (diminishing) stress tadi. Kita menolong korban menjadi survivor, dan membantu survivor mendapatkan kembali martabat dan respek.
Karena banyak persamaan dalam hal menghadapi situasi nyata, Ochberg menganggap jurnalis dan terapis menghadapi tantangan yang sama ketika mereka menyadari bahwa subjek mereka tengah menghadapi risiko kecederaan yang lebih berat lagi. Tekniknya bisa berbeda, tetapi tujuan keduanya sama yakni menginformasikan sumber pertolongan (sources of help). Berbeda dengan terapis yang mengurus orang per orang, jurnalis bertanggung jawab untuk menginformasikan pertolongan kepada komunitas yang lebih luas. Selain itu jurnalis dapat pula memobilisasi rekan sejawat mereka untuk membantu para profesional ketika mereka menemui masalah yang kelihatannya diabaikan. Di sinilah Ochberg menempatkan peran humanitarian para jurnalis (the reporter's humanitarian role), suatu hal yang agaknya selama ini tidak begitu menjadi perhatian karena lebih terfokus pada keprofesionalan tugas. (Tim EPI/Wid. Sumber: Jurnalisme Bencana: Sebuah Wacana, Zulkarimein Nasution, dalam Buku Tsunami Aceh Komunikasi di Tengah Bencana, Ibnu Hamad, Penerbit UNESCO Jakarta, 2005).


Jurnalisme Damai - Definisi umum Jurnalisme Damai (JD) adalah melaporkan suatu kejadian dengan bingkai (frame) yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi.
Pendekatan JD memberikan semacam peta jalan baru yang menghubungkan para jurnalis dengan sumber-sumber informasi mereka, liputan yang mereka kerjakan dan konsekuensi etis dari liputan tersebut –etika intervensi jurnalistik. JD membuka peluang pada pemahaman “non-kekerasan” (non-violence) dan kreativitas seperti yang dipublikasikan sehari-hari oleh para jurnalis dalam membuat pilihan.
Istilah JD pertama kali digunakan oleh Johan Galtung, Profesor Studi Perdamaian dan juga Direktur TRANSCEND Peace and Development Network, pada 1970-an. Galtung mencermati banyaknya jurnalis perang yang mendasarkan diri pada asumsi yang sama seperti halnya meliput masalah olahraga. Yang ada cuma fokus tentang “kemenangan penting” dalam sebuah “permainan menang-kalah” antara dua belah pihak.
Ia kemudian mengusulkan agar JD lebih mengikuti contoh dalam liputan masalah kesehatan. Seorang koresponden masalah kesehatan akan menjelaskan perjuangan yang diterima seorang pasien melawan sel-sel kanker yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya. Wartawan ini pun akan juga menjelaskan kepada pembacanya tentang penyebab terjadinya kanker --gaya hidupnya, lingkungan sekitarnya, faktor genetik dan lain-lain-- dan memberikan gambaran tentang kemungkinan penyembuhan penyakit tersebut dan hal-hal pencegahan yang bisa dilakukan sebelumnya.
Forum Konflik dan Perdamaian (Conflict and Peace Forum-CPF) yang bermarkas di Buckinghamshire, dekat Kota London, Inggris, telah bekerja dengan Galtung. Mereka mengambil model asli Galtung dan mengembangkannya melalui dialog kreatif dengan para wartawan dan para profesional lainnya, terutama dalam seri konferensi tahunan di Taplow Court.
Ide tentang JD kemudian dipublikasikan dalam tiga terbitan CPF yaitu “The Peace Journalism Option” (1998); “PJO2-What Journalists For?” (1999) dan “PJO3-Using Conflict Analysis di Reporting” (2000). Semuanya diterbitkan atas kerjasama dengan TRANSCEND.
Annabel McGoldrick dan Jake Lynch (dua orang praktisi media di Inggris) adalah pendiri CPF. Bersama-sama dengan direkturnya, Indra Adnan, meraka melatih sejumlah wartawan untuk menggunakan pendekatan JD di Timur Tengah, Kaukasus, Norwegia, dan Indonesia. Para pendiri CPF ini telah membuka dan mengajar program master untuk bidang “Media Pendorong Perdamaian: Teori dan Praktik” di bawah Pusat Kajian Perdamaian dna Konflik (Centre for Peace and Conflict Studies) di Universitas Sydney sejak Oktober 2000.
Berikut ini adalah sebagian prinsip yang harus dilakukan oleh jurnalis perdamaian:
1. Hindari penggambaran bahwa konflik hanya terdiri atas dua pihak yang bertikai atas satu isu tertentu. Konsekuensi logis dari penggambaran macam ini adalah ada satu pihak yang menang dan ada satu pihak yang kalah. Lebih baik menggambarkan ada banyak kelompok kecil yang terlibat mengejar berbagai tujuan, dengan membuka lebih banyak kemungkinan kreatif yang akan terjadi.
2. Hindari memperlakukan konflik seolah-olah ia hanya terjadi pada saat dan tempat kekerasan terjadi. Lebih baik mencoba untuk menelusuri hubungan dan akibat-akibat yang terjadi bagi masyarakat di tempat lain pada saat ini dan saat mendatang. Tanyakanlah, siapakah orang-orang yang akan beruntung pada akhirnya. Juga tanyakanlah pada diri Anda sendiri, apakah yang akan terjadi bila ...? Pelajaran apa yang akan didapat oleh masyarakat dengan melihat peristiwa ini secara jelas, sebagai bagian dari pemirsa global? Bagaimana masyarakat akan menghitung para pihak yang bertikai di masa mendatang dalam konflik yang dekat dan jauh dari lingkungannya?
3. Hindari pemberian penghargaan kepada tindakan ataupun kebijakan dengan menggunakan kekerasan hanya karena dampak yang terlihat. Lebih baik mencari cara untuk melaporkan dampak-dampak yang justru tidak kelihatan. Misalnya dampak-dampak jangka panjang seperti kerusakan psikis dan trauma, mungkin juga pengaruh kekerasan yang bisa meningkat di masa mendatang baik kepada orang lain, atau juga sebagai suatu kelompok, terhadap kelompok atau negara lain.
4. Hindari pemusatan perhatian hanya pada pihak-pihak yang bertikai, hanya mencari perbedaan dari ucapan-ucapan kedua belah pihak tentang apa yang mereka inginkan. Lebih baik mencoba untuk bertanya sesuatu yang bisa memunculkan kesamaan-kesamaan dan membawa laporan Anda pada suatu jawaban yang bisa memunculkan kesamaan tujuan atau setidaknya yang bisa cocok diterapkan bagi kedua belah pihak.
5. Hindari pelaporan yang hanya menonjolkan unsur kekerasan dan mendeskripsikan tentang “horor”. Bila Anda mengeluarkan segala hal yang ingin Anda usulkan dan hanya menyebutkan bahwa penjelasan satu-satunya bagi kekerasan adalah kekerasan yang lain (pembalasan); hasilnya adalah kekerasan makin meningkat (pemaksaan dan penghukuman). Lebih baik menunjukkan bagaimana orang-orang telah menjadi buntu dan frustrasi atau mengalami kerugian dalam kehidupan sehari-hari sebagai hasil dari tindak kekerasan.
6. Hindari menyalahkan salah satu pihak karena memulai perselisihan. Lebih baik menunjukkan bagaimana problem dan isu bersama bisa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan oleh kedua belah pihak.
7. Hindari laporan yang hanya berfokus pada penderitaan, ketakutan, dan keluhan hanya dari satu sisi. Hal ini akan membagi kedua pihak menjadi “pihak yang melakukan kekerasan” dan “pihak yang menjadi korban”, serta seolah-olah mengusulkan bahwa tindakan paksaan dan penghukuman terhadap mereka yang memulai kekerasan, dianggap sebagai jalan keluarnya. Lebih baik memperlakukan kedua belah pihak telah mengalami kesengsaraan, ketakutan dan keluhan yang sama. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalisme Damai: Bagaimana Melakukannya?, Annabel McGoldrick dan Jake Lynch, Penerbit Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), Kedutaan Besar Inggris, dan The British Council, Jakarta, 2001).


Jurnalisme Online (online journalism) -  perkawinan internet dan jurnalisme ditetapkan oleh standar World Wide Web (WWW).
Ketika CERN, institut riset berbasis di Jenewa, dirilis pada tahun 1991, tak seorang pun menyadari betapa luar biasa dampaknya terhadap jurnalisme. Sampai suatu waktu, sebuah suratkabar online, The Nando Times, menyatakan “all the news that’s bits we print” (semua berita dalam bentuk bit akan kami cetak). Ini merupakan sebuah moto baru yang pas dengan tipe jurnalisme baru (Lapham, 1995). 
Tipe baru jurnalisme ini memiliki sejumlah fitur dan karakteristik yang berbeda dari jurnalisme tradisional. Fitur-fitur uniknya menawarkan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas dalam memeroses dan mendiseminasikan berita. 
Menurut Deuze (2001), komponen teknologisnya adalah faktor penentu bagi definisinya. Pavlik (2001) menyebut tipe baru jurnalisme ini sebagai “contextualized journalism”, karena mengintegrasikan tiga fitur komunikasi yang unik yakni kemampuan multimedia berdasarkan platform digital, kualitas interaktif komunikasi online, dan fitur-fiturnya terseragamkan (customizable features). 
Rafaeli dan Newhagen mengidentifikasi lima perbedaan antara jurnalisme online dan jurnalisme tradisional: 1) kemampuan internet untuk mengombinasikan sejumlah media, 2) kurangnya tirani penulis atas pembaca, 3) tak seorang pun dapat mengontrol perhatian khalayak, 4) internet dapat membuat proses komunikasi berlangsung sinambung, dan 5) interaktivitas web. Karakteristik yang paling luarbiasa dari media baru ini adalah kecepatannya yang menarik sekaligus menakutkan.
Studi oleh Singer (2001) mengindikasikan bahwa ketika suratkabar menjadi online, peran penjaga gerbang (gatekeeper) mereka menghilang. 
Para jurnalis telah lama setia dengan pendekatan “piramida terbalik” yakni memulai tulisan dengan memberitahu kesimpulannya kepada pembaca, diikuti informasi pendukung yang lebih penting, dan diakhiri dengan memberikan latar belakang. Tulisan gaya piramida terbalik berguna bagi suratkabar karena pembaca dapat berhenti kapan saja tapi masih mendapatkan bagian penting dari tulisan tersebut.
Dalam web, piramida terbalik jadi lebih penting. Para penggunanya kerap hanya membaca bagian atas sebuah tulisan. Mereka tidak meneruskan bacaannya. “Mereka tidak menggulung layar”, tulis Jakob Nielsen'svi dalam Inverted Pyramids in Cyberspacei, Frames. Gulungan layar ialah istilah dari proses internet meneruskan jaringani informasinya, menghubungkan pengguna web dengan situs-situs yang telah dirancang jaringan (link) nya.
Akan tetapi, pada beberapa penguna lain, terjadi kebalikannya dan di sinilah kegunaan jurnalisme online. Pembaca yang tertarik akan menggulung layar, meneruskan bacaannya pada materi-materi yang terkait dengan topik yang tengah dibacanya. Mereka memperoleh kisah–kisah berita jurnalisme online yang luar biasa rinci.
Jurnalistik web berbeda dengan jurnalistik media cetak. Studi kasus Melinda McAdam tentang Tinta Digital, di Washington Post, mencatat bahwa suratkabar online membiarkan artikel-artikelnya tersedia secara online bertahun-tahun. Dan membuat intisari dari link-link itu untuk kepentingan perluasan informasi dan memperdalam pesan yang ingin disampaikan.
Dengan kata lain, web adalah media link. Teori hypertext menjelaskan bahwa menulis informasi, melalui bagian demi bagiannya, yang dihubungkan oleh jembatan antar-link, adalah berbeda dengan menulis teks secara linier. Ada saat keberangkatan dan ada saat kedatangan. Ini menunjukkan perlunya ujung-ujung link dikenali, supaya pembaca mengerti di mana mereka bisa keluar dan masuk sesuai dengan keinginannya.
Penulis web memisahkan artikelnya ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Ini dalam kaitan untuk menghindari halaman panjang yang mesti digulung.
Sejarah media massa memperlihatkan bahwa sebuah teknologi baru tidak pernah menghilangkan teknologi yang lama, namun mensubstitusinya. Radio tidak menggantikan suratkabar, namun menjadi sebuah alternatif, menciptakan sebuah kerajaan dan khalayak baru. Demikian pula televisi, meskipun televisi melemahkan radio, tetap tidak dapat secara total mengeliminasinya.
Jurnalisme online pun mungkin tidak akan bisa menggantikan sepenuhnya bentuk-bentuk media lama, melainkan, menciptakan suatu cara yang unik untuk memproduksi berita dan mendapatkan konsumen berita. Jurnalisme online tidak akan menghapuskan jurnalisme tradisional, namun meningkatkan intensitasnya.
Teori konvergensi menyatakan bahwa pelbagai perkembangan bentuk media massa terus merentang dari sejak awal siklus penemuannya. Setiap model media terbaru cenderung merupakan perpanjangan, atau evolusi, dari model-model terdahulu. Dalam konteks ini, internet bukanlah suatu pengecualian.
Internet adalah medium terbaru yang mengonvergensikan seluruh karakter dari bentuk-bentuk terdahulu. Karena itu, yang berubah bukanlah substansinya, melainkan mode-mode produksi dan perangkatnya. Esensi dari proses komunikasi tetap tidak berubah.
Secara teknis, momen paling fundamental dalam jurnalisme online adalah penemuan web (WWW). Kini, hampir seluruh media berita memiliki web.
Terdapat tiga kelompok situs berita dalam kaitannya dengan isi yakni, pertama, model situs berita secara general yang kebanyakan digunakan oleh media berita tradisional sekadar merupakan edisi online dari induknya. Isi orisinalnya diciptakan kembali oleh internet. Sejumlah fitur interaktif dan fungsi-fungsi multimedia ditambahkan. Isinya di-update lebih sering daripada medium induknya.
Pada model situs kedua, bentukan situs web-nya berisikan orisinalitas indeks, dengan cara medesain ulang dan merubah isi dari berbagai media berita. Situs ini memendekkan portal-portal pemberitaan melalui indeksisasi dan pengatagorian. Berbagai model situs ini fokus pada isu-isu spesifik, melayani kepentingan komunitas dan kelompok-kelompok sosial tertentu, serta membuat saluran pertukaran pikiran dan diskusi interaktif dengan pembacanya.
Model situs ketiga berisi diskusi dan komentar-komentar pendek tentang berita dan media. Media-media watchdogs masuk ke dalam kelompok ini. Mereka menjadi saluran untuk diskusi masyarakat mengenai permasalahan yang sedang aktual. (Tim EPI/SSK).
Jurnalisme Presisi - Sebutan precision journalism atau jurnalisme presisi diperkenalkan  pertama kali oleh seorang profesor jurnalisme dari Garnett Center for Media Studiea, Amerika Serikat, pada tahun 1973.
Sebelumnya jenis jurnalisme ini disebut sebagai new journalism (jurnalisme baru), computer-assisted journalism (jurnalisme yang dibantu komputer), scientific journalism (jurnalisme ilmiah), atau quatitative journalism (jurnalisme kuantitatif).
Karena itu jurnalisme presisi memiliki banyak definisi. Salah satu definisi jurnalisme presisi yaitu cara melakukan reportase (reporting) jurnalistik dengan memakai metode penelitian sosial sebagai cara mengumpulkan keterangan dan menggunakan content analysis sebagai sumber informasinya.
Jenis jurnalisme ini tidak banyak berbeda dengan reportase investigatif. Hanya saja,  bedanya, jurnalisme presisi menggunakan metode ilmiah. Ada dua metode penelitian utama yang umumnya dipakai yaitu content analysis dan riset survey (survey research). Sedangkan metode satu lagi yaitu field experiment atau survai lapangan dan yang terakhir ini jarang dipakai.
Para peneliti masalah jurnalistik percaya bahwa jurnalisme presisi telah dilakukan lebih dari 70 tahun yang lampau. Namun demikian, para peneliti umumnya sepakat bahwa majalah Fortune dari AS merupakan perusahaan pers pertama yang memakai cara polling atau pengumpulan pendapat ilmiah untuk menjadi bahan beritanya.
Majalah tersebut pada tahun 1935 mengadakan penelitian tentang berapa batang sigaret yang dihabiskan masyarakat AS selama sehari, lalu jenis mobil apa yang mereka sukai, dan tipe kendaraan apa yang ingin mereka miliki dan masih banyak lagi.
Pada tahun 1939, majalah Reader's Digest mengadakan penelitian dengan cara mendatangi tempat-tempat reparasi arloji, mobil dan peralatan rumah tangga lainnya. Hasilnya cukup mengejutkan, sebab berdasarkan penelitian itu, ternyata 50% lebih warga AS mengalami kerugian akibat kesalahan diagnosa kerusakan dan terlalu mahal membayar ongkos reparasinya.
Pada dasawarsa 60-an, telah terjadi berbagai gejolak sosial politik di dalam negeri AS serta beberapa bagian dunia lainnya. Publik pada masa itu menuduh pers telah bekerja tidak obyektif, sepihak dan laporannya tidak komprehensif. Karena itu, pada dasawarsa 60-an itulah muncul berbagai bentuk jurnalisme yang berusaha mengimbangi arus utama gaya penulisan yang umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pers besar.
Dari sinilah kemudian berkembang apa yang disebut “jurnalisme bawah tanah” guna membela kepentingan masyarakat yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya. Jurnalisme seperti jurnalisme advokasi, jurnalisme baru, jurnalisme muckraking (memerangi korupsi) marak dan menjadi mode.
Guna menjaring pendapat publik secara akurat, maka sejumlah perusahaan pers AS mengadakan polling pendapat, menggunakan metode riset ilmiah untuk mengekspose dan mengeksplorasi problema sosial.
Pada tahun 1973, ada laporan jurnalistik yang menempatkan jurnalisme presisi semakin menarik. Kasusnya diungkap oleh dua orang wartawan Philadelphia Inquirer, yang juga periset masalah sosial, yaitu Donald Barlett dan James Steele. Keduanya mengumpulkan 100.000 lembar informasi dari 1.034 terdakwa yang terlibat tindak kejahatan dengan kekerasan.
Penelitian mereka menghasilkan 4.000 halaman yang menunjukkan disparitas yang besar dalam cara penanganan perkara, tergantung pada status sosial, serta ras para terdakwa. Hal ini menyimpulkan bahwa terjadi kesalahan dalam sistem peradilan nasional AS waktu itu dan menimbulkan banyak reaksi untuk memperbaikinya. Laporan itu mendapatkan dua penghargaan jurnalistik.
Hingga pada awal dasawarsa 70-an, jurnalisme presisi itu masih dianggap banyak memakan waktu, tenaga, serta biaya, apalagi tidak banyak wartawan waktu itu yang mahir dengan penelitian ilmiah. Namun dengan semakin majunya teknologi komputer, maka pekerjaan semakin mudah walaupun waktu dan biaya tetap menjadi problem bagi sebagian perusahaan pers.
Namun demikian, jurnalisme presisi semakin banyak dilakukan oleh berbagai perusaaan pers. Hal ini disebabkan, laporan hasil jurnalisme ini dianggap lebih obyektif, di samping lebih mewakili masyarakat serta menghindari sumber berita konvensional seperti pejabat negara, politisi, petugas humas, tokoh masyarakat maupun selebritas. Jurnalisme presisi inilah yang memungkinkan rakyat kebanyakan menjadi sumber berita, antara lain lewat metode jajak pendapat itu.
Di Indonesia, jurnalisme presisi mulai muncul dan dikenal sekitar tahun 1970-an. Namun, karena berbagai faktor internal di dalam perusahaan penerbitan dan kondisi sosial politik yang ada (eksternal) menyebabkan jurnalisme ini belum banyak dapat dipraktikkan oleh banyak perusahaan pers. Padahal, aliran jurnalisme ini dapat memberikan jaminan dengan menggunakan penelitian sebagai salah satu alat untuk menyajikan obyektivitas dan ketepatan berita.
Pada era reformasi mulai banyak suratkabar dan majalah di Indonesia mempraktikkan jurnalisme presisi ini dengan cara menyajikan penelitian kuantitatif sebagai dasar tulisannya. Dari sinilah kemudian berkembang kegiatan pengumpulan pendapat atau public opinion polling. Wartawan kini dituntut menguasai teknik-teknik penelitian dan sekaligus dapat mengolah atau menganalisisnya untuk digunakan menjadi berita yang dijamin obyektivitas dan ketepatannya.
Jurnalisme presisi antara lain mengamati konsep-konsep masyarakat. Konsep adalah idea, sebuah gambaran mental untuk sebuah abstraksi. Jenis kelamin, contohnya, adalah konsep yang mewakili gambaran mental kita atas laki-laki dan perempuan. Tingkah laku, sikap, pengetahuan khusus, pendidikan, pendapatan, suku atau ras, kesemuanya adalah konsep.
Konsep ini bisa berubah setiap saat, sesuai dengan kesepakatan masyarakat, atau kelompok orang tertentu, seperti budaya, kewarganegaraan, atau sistem politik.
Beberapa konsep yang menjadi pengamatan jurnalisme presisi antara lain:
1. Karakteristik penduduk, yang dikenal   sebagai demografi meliputi jenis kelamin,   suku atau kebangsaan, umur, pendapat-  an, pendidikan, jenis pekerjaan, status   perkawinan, tempat tinggal dan lain-lain.
2. Sikap, yaitu menyangkut perasaan positif   atau negatif seseorang tentang sesuatu   isu atau objek tertentu. Misalnya: “Saya   suka Presiden SBY” atau “Saya tidak suka   Presiden SBY”, “Saya menentang PP 37   tahun 2006”, dan sebagainya.
3. Kepercayaan, yaitu apa yang dipikirkan   seseorang tentang sesuatu obyek atau   isu terentu. Contohnya, “Kenaikan harga   BBM akan menyengsarakan rakyat ke  banyakan”, “Pembangunan mal di daerah   Kelapa Gading akan menyebabkan banjir   di musim penghujan”, dan lain-lainnya.
4. Tingkah-laku, agak berbeda dengan   sikap, tingkah laku atau kebiasaan ini   dapat dilihat langsung oleh reporter,   misalnya berapa kali seseorang anggota   DPR RI melakukan interupsi, dan    bagaimana ketua sidang menanggapinya,  berapa kali sekelompok masyarakat   mengajukan protes terhadap sebuah   tindakan yang tidak mereka sukai dan se-  bagainya. Pengukuran pendapat ini   dapat dilakukan dengan menanyakan   langsung kepada warga masyarakat   untuk mengetahui apa reaksi dan yang   telah mereka lakukan. Namun demikian   cara menanyakan langsung demikian ini   amat memerlukan waktu serta biaya   maupun tenaga. Para peneliti sering ber-  asumsi bahwa masyarakat relatif tepat   dalam mengamati tindak tanduk atau   kebiasaan mereka sendiri.

Konsep itu selain dapat berubah juga beragam tergantung dari lingkungan dan metode apa untuk menelitinya. Contohnya jenis kelamin, selain dibedakan dari perbedaaan fisik, juga dapat diamati dari psikologi sosial, misalnya dari sisi kejantanan dan kefeminiman.
Dalam sebuah survai jurnalisme presisi, ukuran atau indikator adalah sebuah pertanyaan. Bila kita akan mengukur konsep umur, kemungkinan kita akan bertanya kepada seseorang, “Berapa usia anda?”
Pertanyaan itu adalah ukuran anda terhadap usia tersebut. Tidak ada cara tunggal untuk mengoperasionalkan konsep. Oleh sebab tidak semua orang suka ditanyai berapa usianya, maka untuk mendapatkan jawaban kita dapat mempelajari tanggal kelahiran mereka atau akte kelahirannya. Kendati tidak terlalu praktis, tapi data yang kita dapatkan sangat akurat.
Contoh lainnya, kita berasumsi bahwa ada ketakutan akan tindak kriminalitas. Setelah mengendapkan pikiran maka mungkin kita akan berkesimpulan bahwa ketakutan akan kriminalitas adalah keadaan dari psikologi yang menghasilkan kecemasan atau ketegangan pada seseorang.
Ini adalah definisi abstrak kita. Bagaimana mengukurnya? Mungkin kita akan bertanya, “adakah daerah sekitar sini di mana anda merasa takut berjalan sendirian?” dan kemudian bertanya karena apa? Atau Anda lebih akurat lagi dengan bertanya apakah mereka lebih takut lagi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya?
Banyak masalah yang sulit kita rumuskan dengan jelas dan terang, misalnya masalah pornografi, karena bila kita tanyakan kepada masyarakat, maka jawabannya akan berbeda-beda dan sulit untuk disimpulkan.
Oleh karena itu pertanyaan perlu lebih terfokus dan jelas arahannya. Contohnya sebuah suratkabar lokal di AS, Arizona Republic, menyurvai 600 penduduk kota Phoenix. Pada tahun 1985 dan menemukan bahwa 85% dari responden menyatakan setuju terhadap pertanyaan bahwa “Orang dewasa punya hak untuk menonton film bertemakan seks secara eksplisit di gedung bioskop atau video kaset secara pribadi. Walau pun ada angka dari jawaban itu, tapi definisi film bertemakan seks secara eksplisit tidak jelas maksudnya. Namun paling tidak, hal ini sedikit memberi gambaran mengenai sikap masyarakat terhadap pornografi.
Para peneliti tentu mengharapkan hasil penelitiannya menghasilkan indikator yang tepat dan akurat, sesuai dengan abstraksi konsep yang telah ditentukan.
Validitas adalah hasil ketepatan apakah definisi operasional itu sesuai dengan apa yang ingin diukur. Validitas pengukuran memang sulit untuk dibuktikan, akan tetapi dengan persetujuan bersama serta logika, maka peneliti akan sampai pula pada kesimpulan yang memuaskan juga. Hal ini disebut sebagai face validity atau validitas permukaan yang berarti bahwa definisi operasional itu masuk akal juga.
Contohnya, seorang wartawan tertarik untuk mengukur konsep abstrak mengenai klas sosial dan menggunakan pendidikan formal sebagai indikator atau ukuran konsepnya. Kendati strata pendidikan sering dihubungkan dengan klas sosial, namun menggunakan ukuran tunggal seperti ini akan menghasilkan klasifikasi yang keliru terhadap beberapa responden. Seorang pengusaha milioner sukses tanpa ijasah sekolah atau diploma apa pun akan mendapat nilai rendah dengan cara seperti ini. Karenanya, strata pendidikan saja tidak cukup valid untuk membuat ukuran klas sosial, perlu ada indikator lainnya seperti tingkat pendapatan, pekerjaan serta kepemilikan aset.
Reliabilitas adalah tingkat di mana pengukuran, dikenakan pada orang atau masyarakat yang sama atau dalam situasi yang sama, membuah hasil yang sama pula. Reliabilitas adalah salah satu aspek atau komponen dari validitas pengukuran. Bila ingin mengukur ketakutan akan tindak kriminalitas, Anda bisa melaksanakan dua jajak pendapat pada waktu yang sama, dan bila pengukurannya reliabel, Anda akan mendapatkan hasil yang sama atau agak sama.
Secara umum disebutkan, beberapa pengukuran lebih reliabel atau dapat dipercaya ketimbang lainnya. Bila menanyakan usia responden, Anda akan mendapatkan jawaban yang sama atau agak sama. Tapi bila yang Anda tanyakan adalah tingkat kepuasan mereka terhadap pekerjaannya, maka, jawabannya akan beragam. Tapi jawaban tersebut bisa juga berubah pada lain waktu walaupun dari orang yang sama, oleh karena tingkat kepuasan mereka mungkin berubah-ubah setiap waktu. (Tim EPI/ES; Dikutip dari buku: “Precision Journalism” karya David Pears Demers dan Suzanne Nichols. Penerbit: Sage Publications, London, 1987)


Jurnalisme Islam - Terdapat beberapa definisi mengenai jurnalistik Islam. Budayawan Emha Ainun Nadjib menyatakan bahwa jurnalistik Islam adalah sebuah teknologi dan sosialisasi informasi (dalam kegiatan penerbitan tulisan) yang mengabdikan diri kepada nilai agama Islam bagaimana dan ke mana semestinya manusia, masyarakat, kebudayaan, dan peradaban mengarahkan dirinya.
Kemudian A. Muis berpendapat bahwa jurnalistik Islam adalah menyebarkan (menyampaikan) informasi kepada pendengar, pemirsa atau pembaca tentang perintah dan larangan Allah Swt (Al-Quran dan Hadis Nabi).
Selain itu, Dedy Djamaluddin Malik mengatakan bahwa jurnalistik islami adalah proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa yang menyangkut umat Islam dan ajaran Islam kepada khalayak.
Jurnalistik islami adalah crusade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nilai-nilai Islam. Asep Syamsul Ramli berpendapat bahwa jurnalistik Islam ialah proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan muatan nilai-nilai Islam.
Dari sejumlah definisi jurnalistik Islam tersebut, Suf Kasman menyimpulkan bahwa jurnalistik Islam adalah suatu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam dengan mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik/norma-norma yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Jurnalistik islami diutamakan kepada dakwah islamiyah, yaitu mengemban misi amar ma’ruf nahi mungkar (QS Ali Imran ayat 104).
Menurut Suf Kasman, dalam jurnalistik Islam yang diperlukan bukan sekadar yang berbau Islam, tetapi jurnalistik Islam yang benar-benar menghayati risalah Islam. Bukan sekadar bermotto Islam itu sendiri, namun yang terpenting harus mempunyai tugas rangkap; ke dalam bertugas mempersatukan umat dan berdiri di atas semua golongan, sedangkan ke luar menangkis serta membendung segala bentuk usaha yang ingin memperdaya atau melemahkan persatuan umat. Jurnalistik Islam seperti inilah yang sangat dibutuhkan sekarang ini dalam menghadapi arus gelombang pemutarbalikan fakta/berita yang dihentakkan ke tubuh umat.
Sampai saat ini belum terpikirkan oleh kalangan pemimpin Islam untuk membentuk jurnalistik Islam yang benar-benar murni tanpa dikaitkan dengan suatu golongan. Pada masa lalu, jurnalistik Islam terlihat lebih condong disebut jurnalistik yang dikaitkan kepada partai/organisasi Islam, sehingga yang ditemukan hanya saling serang antara sesama golongan umat.
Jika kita lihat sejenak ke belakang untuk mengkaji pertumbuhan jurnalistik Islam, maka yang didapatkan hanyalah puing-puing tanpa ditemukan adanya bekas yang dapat dijadikan dasar bagi kelanjutannya. Penyebab utamanya adalah jurnalistik Islam tidak pernah dijadikan suatu lembaga yang menjadi tumpuan umat.
Karena itu bila sekali hilang dari masyarakat, orang lupa untuk selama-lamanya. Saat ini bisa dikatakan bahwa pertumbuhan jurnalistik Islam mulai bangkit kembali. Sudah banyak koran/majalah tampil memperjuangkan motto Islam. Misi yang tertuang dalam motto beberapa suratkabar/majalah Islam di antaranya:
a. Al-Jihad yang dipimpin oleh H.O.S.    Tjokroaminoto dengan motto: “Suara   Pergerakan Islam” dalam usahanya   menentang dan menolak serangan dan   penghinaan kepada agama Islam,    menjunjung keluhuran dan kebenaran   Islam serta mempersatukan umat.
b. Pelita, mottonya: kesatuan, kedamaian,   dan kebahagiaan umat.
c.  Harmonis, mottonya: memajukan    pengetahuan dan peradaban Islam    sambil membina kehidupan remaja dan   sekaligus menolak westernisasi    (pemujaan terhadap Barat yang    berlebihan; pembaratan).
d.  Risalah Islamiah, mottonya: aqidah, sya-  riat, dan ilmiah atau menggugah pemba-  ca untuk gemar mempelajari Islam.
e.  Panji Masyarakat, mottonya: penyebar   ilmu pengetahuan dan kebudayaan untuk   dakwah dan pembangunan umat.
f.  Suara Masjid, mottonya: membangun ke  cerdasan umat dan bangsa yang dijiwai   takwa kepada Allah Swt.
g.  Suara Hidayatullah, mottonya: nyatakan   tiada Ilah selain Allah, pasti menang.
h.  Mimbar Ulama, mottonya: mengingatkan   belajar hidup sederhana karena nikmat   itu tidak akan abadi.
i.  Media Dakwah, mottonya: serulah    (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan   hikmah, QS Al-Nahl (16): 125.
j.  OASE Media Silaturahmi ICMI, mottonya:   menghidupkan serpihan-serpihan    pemikiran ke-Islam-an, dan lain-lain.
(Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalisme Universal, Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Quran, Suf Kasman, Penerbit Teraju, Jakarta, 2004).


Jurnalisme Sastrawi - adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Wartawan Amerika Serikat Tom Wolfe pada tahun 1973 memperkenalkannya dengan nama new journalism. Di samping itu untuk genre ini ada yang menamakannya narrative reporting, di samping ada yang menyebutnya passionate journalism.
Ada empat hal yang membuat genre ini berbeda dengan penulisan feature yang biasa dipakai suratkabar Amerika Serikat pada masa itu. Pertama, ia mengandalkan dialog dan adegan dalam tulisannya. Kedua, teknik reportasenya dikenal dengan teknik immerse reporting di mana reporter seakan-akan menyusup dalam cerita yang sedang dikerjakannya. Ketiga, reportasenya tak sekedar meliput dua pihak tetapi multiliputan. Keempat, waktu riset dan wawancara biasanya panjang sekali, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, agar hasilnya lebih dalam.
Salah pengertian yang sering terjadi di Indonesia, jurnalisme sastrawi diidentikkan dengan bahasa yang puitis. Padahal jurnalisme ini bahasanya tak harus mendayu-dayu, bahkan bahasanya lugas. (Tim EPI/NH)


Jurnalisme Televisi - Perkembangan media massa elektronik mendorong pemikiran baru di bidang jurnalistik. Media massa elektronik terutama televisi memiliki elemen yang berbeda dengan media massa cetak (pers).
Media massa televisi adalah media audio visual. Terdapat elemen audio visual yang menjadi wujud ungkapan informasi atau berita di dalam media televisi. Meskipun media cetak kadang-kadang juga menggunakan elemen visual (foto, grafis, dsb.), namun elemen utama yang menjadi sarana ungkap adalah tulisan: kata-kata atau kalimat. Oleh karena itu, media cetak berorientasi kepada kekuatan pemikiran dan ungkapan verbal, sedangkan media audio visual berorientasi lebih-lebih kepada pemikiran dan ungkapan visual. Elemen audio merupakan pelengkap dari elemen visual.
Dalam elemen audio terkandung unsur penulisan (naskah) yang menggunakan prinsip-prinsip pemikiran verbal. Oleh karena itu, meskipun dalam media audio visual, unsur visual yang dominan, namun unsur verbal diperlukan untuk penyusunan naskah audionya. Naskah itu dapat menambah informasi atau kejelasan dari liputan visual yang muncul.
Jadi, di dalam jurnalistik televisi atau sebetulnya pada semua program televisi elemen audio diperlukan sebagai pelengkap informasi dari tayangan visual. Yang lebih penting, bagaimana menyusun dan menyajikan tayangan visual sehingga dengan menyaksikan gambar saja, penonton seolah-olah dibawa untuk menyaksikan peristiwa yang terjadi.
Jurnalistik televisi bertolak dari orientasi audio visual. Oleh karena itu, apa yang dilaporkan oleh reporter adalah berita atau informasi untuk mata dan telinga. Berbeda sekali dengan jurnalistik media cetak. Pembaca dapat mengulang kalimat atau ungkapan tidak jelas yang dibaca dari majalah atau suratkabar. Namun, penonton televisi tidak mungkin meminta penyiar untuk mengulangi ungkapan-ungkapan dari berita yang baru saja disampaikan.
Hal ini berarti sajian tayangan gambar atau yang lazim disebut image visual harus jelas (sudut pengambilan tepat, fokus gambar tajam, gambar tidak goyang), urutan tayangan gambar runtut (mudah dimengerti dan diikuti perkembangan rangkaian gambar), materi visual cukup (tidak diulang-ulang gambar yang sama untuk memberi ilustrasi pada talking head atau penjelasan seorang otoritas), dan penjelasan narasi atau laporan verbal tidak bertele-tele, sederhana dan tepat. Berlaku rumus ELF, Easy Listening Formula.
Penulisan berita di suratkabar dan televisi sangat berbeda. Yang perlu diingat kalau seseorang membaca suratkabar, meskipun di sekitarnya terjadi berbagai macam aktivitas, tetap saja ia dapat konsentrasi pada apa yang dibaca.
Karena membaca tidak menggunakan unsur pendengaran, sedangkan menonton berita di televisi, seseorang harus menggunakan mata dan telinga. Ini berarti kejadian sekitar dan suara di sekitar akan mengganggu telinga dan mata dalam mengikuti siaran berita. Oleh karena itu, beberapa cara penulisan berita di suratkabar dan televisi tidak sama. Meskipun demikian, prinsip dasar penulisan dengan bahasa yang baik seperti diuraikan dalam jurnalistik media cetak tetap saja dapat digunakan. Hanya bedanya media televisi menggunakan bahasa tuturan yang komunikatif.
Penulisan berita dalam jurnalistik televisi harus menghindari sesuatu yang rumit. Kalimat-kalimat panjang perlu pula dihindari. Beberapa ahli berpendapat penulisan berita atau informasi di televisi tidak tepat apabila menggunakan kalimat-kalimat panjang. Idealnya setiap kalimat terdiri dari tidak lebih dari lima belas kata.
Jurnalistik televisi adalah jurnalistik audio visual. Unsur visual dalam sajian berita atau laporan di televisi mengandung peranan penting. Dalam hal ini, hasil liputam audio visual yang dilakukan oleh reporter dan juru kamera televisi menjadi bahan utama dalam penyusunan berita. Oleh karena itu, kehadiran reporter di tempat kejadian dirasa memberikan nilai lebih dan daya tarik yang kuat pada berita yang disampaikan. Dalam hal ini, dikenal sistem ROSS dengan penyaji berita yang disebut newscaster karena ia juga pencari, penyeleksi, pengolah dan penyusun berita. ROSS singkatan dari:
1. Reporter on the spot and on the screen (Re-  porter berada di lokasi dan muncul di tele-  visi melaporkan sendiri kejadian di situ).
2.  Reporter on the spot and off screen (Reporter  berada di tempat-tempat kejadian, tetapi   gambarnya tidak muncul di layar, hanya   suaranya atau laporannya dibacakan).
3.  Reporter off the spot and on the screen (Re- porter tidak berada di tempat kejadian,   tetapi sebagai redaksi yang menyusun dan  menyampaikan laporan dari sumber. Sum-  ber berita lewat telepon, teleks, faksimile   dan muncul di layar televisi).
4.  Reporter off the spot and off the screen (Re- porter tidak berada di tempat kejadian dan  tidak muncul di layar televisi. Namun, ia   mengumpulkan, menyeleksi dan menyusun  berita yang diperoleh dari sumber-sumber  berita).
Dalam jurnalistik televisi, unsur visual bukan sekadar unsur tambahan atau dukungan pada berita verbal. Unsur visual merupakan sajian berita itu sendiri, bukan sekadar ilustrasi dari uraian berita verbal. Unsur visual justru memiliki nilai berita yang lebih tinggi dan lebih objektif. Betapapun kecilnya, pembuat berita verbal masih mengikutsertakan opini di dalam kalimat-kalimat yang disusun. Namun, gambar kejadian adalah objektif dalam arti tertentu. Oleh karena sudut pengambilan dari kamerawan pada objeknya dan pemikiran gambar untuk ditayangkan atau dibuang oleh editor, tetap saja dapat dikatakan subjektif. Hanya bagaimanapun peristiwa sebagai kejadian yang diliput tetap objektif.
Untuk sajian unsur visual dikenal empat materi berupa gambar hasil liputan:
1. Visual Object and Hot News (VOHN). Ma-  teri visual hasil liputan peristiwa atau   wawancara dan isi pernyataan saat itu.
2. Shooting on the Field Operation Back-up   (SFOB). Tambahan liputan untuk me-  lengkapi materi visual yang sudah ada.
3.  Full Library Operation Back-up (FLOB).   Seluruh materi visual yang diperoleh dari   kepustakaan, seperti stock shoots, foot-  ages, dan grafik yang lain.
4.  Gabungan dari ketiga materi tersebut.   Karena unsur visual merupakan unsur yang  cukup penting maka kerjasama antara re-  porter dan kamerawan harus terjalin de-  ngan baik. Mata dan pikiran mereka seolah  satu. Aneh sekali jika kamerawan dalam   meliput satu kejadian memiliki point of in-  terest sendiri, sedangkan reporternya   memiliki perhatian yang berbeda.    (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Teknik Pro-  duksi Program Televisi, Fred Wibowo, Pe-  nerbit Pinus, Yogyakarta, 2007).


Jurnalisme dan Trauma - Kita pernah mendengar pengalaman dan perasaan para wartawan peliput bencana tsunami Aceh setelah mereka tiba kembali ke tempat kerja masing-masing (lihat juga lema Jurnalisme Bencana). Namun bagaimana dengan keadaan selanjutnya dari masyarakat tempat bencana dahsyat itu terjadi? Apa yang dirasakan oleh komunitas yang sebagian besar warganya sudah tiada? Atau andai pun masih tersisa, namun kini tak lagi punya apa-apa?
Perasaan kehilangan dan duka berkepanjangan yang menyelimuti masyarakat bukanlah masalah sederhana untuk bisa dibiarkan begitu saja. Hal-hal inilah yang menjadi perhatian mereka yang prihatin dengan apa yang dinamakan trauma melalui peristiwa atau kejadian yang luar biasa.
Barangkali, sebelum ini berbagai peristiwa sejenis telah diperlakukan sama dengan kejadian yang lainnya. Namun belakangan berbagai pihak menyadari bahwa ada dimensi tertentu yang harus diperhatikan oleh media dalam meliput dan menyiarkan peristiwa bencana. Apalagi yang menelan korban dalam jumlah yang besar (meskipun sebenarnya, sedikit atau banyak, nyawa manusia kan sama nilainya).
Di Department of Communication University of Washington ada mata kuliah Journalism and Trauma yang berisi bagaimana jurnalis meliput kejahatan, kecelakaan dahsyat, bencana alam serta peristiwa traumatik lainnya di mana mereka menyaksikan penderitaan dan kesakitan manusia tentang bagaimana stress traumatik mempengaruhi korban dan bagaimana mewawancarai korban dengan rasa haru (compassion) dan respek. Beberapa wartawan peliput tsunami Aceh mengalami sendiri hal-hal terkait dengan soal ini.
Ini menunjukkan bahwa meski jurnalisme dari sononya memang telah bergelimang peristiwa -sejumlah besar bahkan memang kejadian malapetaka-namun tetap saja sebagai suatu peristiwa, bencana sedahsyat tsunami Aceh akhir 2004 menuntut suatu peliputan dan perhatian yang tidak sama dengan kejadian yang lain.
Salah seorang pelopor bidang ini adalah Dr. Frank Ochberg, psikiatris di Michigan yang pernah mengepalai National Institute for Mental Health. Dia mengemukakan perihal jurnalisme dan trauma. Khususnya mengenai apa yang harus diketahui oleh jurnalis mengenai korban dan survivor dari trauma dan keluarga mereka, dan apa yang harus diketahui oleh para jurnalis tentang efek (pada diri mereka sendiri) akibat meliput kisah stress traumatik seperti pembunuhan, serangan seksual, kejahatan kekerasan, bencana alam, kecelakaan pesawat terbang dan sebagainya.
Sebagai seorang pakar mengenai post-traumatic stress disorder (PTSD), Dr. Ochberg telah membantu banyak jurnalis dan para pendidik jurnalis agar memahami apakah PTSD dan efeknya. Ia menulis, “manakala seorang reporter bertemu seorang survivor kejadian traumatik, terbuka peluang bahwa jurnalis itu akan menyaksikan -bahkan mungkin mempercepat-kena PTSD”.
Menurut Ochberg, dengan mengenali PTSD dan kondisi yang terkait dengan hal itu, akan meningkatkan bukan hanya keprofesionalan si reporter, tetapi juga rasa kemanusiaan (humanitarianisme)-nya. Sama sekali tidak dimaksudkan agar para jurnalis mendiagnosa PTSD dalam wawancara mereka, melainkan mengenali bahwa korban atau survivor dari trauma boleh jadi menunjukkan suatu rentang respons dan emosi yang berkaitan dengan pengalaman traumatik yang dilalui.
Peliputan terhadap peristiwa bencana -apalagi yang sedemikian dahsyat serta banyak korbannya- jelas menyangkut aspek emosi baik pada pihak khalayak maupun di pihak jurnalis sendiri. Sejumlah organisasi berita utama dan lembaga pelatihan jurnalisme di Inggris dan Amerika Serikat belakangan ini menyelenggarakan pelatihan mengenai peran jurnalisme dalam trauma dan emosi. Ini bukan berarti mengingkari prinsip-prinsip dasar jurnalisme tentang objektivitas dan kebenaran. Akan tetapi, karena yang dihadapi adalah peristiwa kemanusiaan, maka perlu pula dikedepankan cara pandang kemanusiaan dalam menyorot peristiwa dimaksud. (Tim EPI/Wid. Sumber: Jurnalisme Bencana: Sebuah Wacana, Zulkarimein Nasution, dalam Buku Tsunami Aceh Komunikasi di Tengah Bencana, Ibnu Hamad, Penerbit UNESCO Jakarta, 2005).