Selasa, 17 Oktober 2017

L dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Lazarus Eduard Manuhua (Ambon, 4 Juni 1925 - Makassar, 25 November 2003). Pendiri Pedoman Rakyat Manuhua terjun di dunia jurnalistik sejak tahun 1941 saat menjadi wartawan di Sinar Matahari, koran mingguan  yang terbit dan beredar di Ambon. Hijrah ke Makassar pada 1947 Manuhua mendirikan Pedoman Rakyat, surat kabar paling besar di Indonesia Timur.
Tokoh kelahiran Ambon ini menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota Ambon, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi ke Fakultas Sosial Politik Universitas Hasanuddin dan selesai tahun 1988. Ia sempat menjadi Wakil Pimpinan ANTARA di Makassar (1967-1970), Ketua PWI Cabang Makassar (1948), kemudian Pengurus PWI Pusat (1988). Di bidang politik dia pernah menjadi Pengurus Partai Indonesia Merdeka Ambon (1947), Partai Kedaulatan Rakyat (1948) serta Ketua Kebaktian Rakyat Indonesia Maluku-Makasar ( 1948-1950).
Pemimpin yang senang berburu ini sangat akrab dengan wartawan dan karyawannya. Meskipun demikian ia sangat menjaga disiplin. Salah satu sifatnya yang unik adalah berdiri memperhatikan setiap wartawan yang sedang membuat berita, dan bila terdapat kesalahan segera ia beritahukan wartawan tersebut kesalahan yang dilakukannya.
Dalam memimpin perusahaannya Manuhua memandang bahwa dalam industri pers, sumber daya manusia adalah aset paling utama. Karena itu selain memberi teladan bagi karyawannya, Manuhua juga memberi kenyamanan bekerja dengan membangun kantor berlantai lima.
Tahun 1991 Manuhua terserang stroke untuk pertama kalinya. Tetapi ia tetap bekerja dengan penuh semangat. Namun pada hari Selasa 25 November 2003 Manuhua meninggal dunia setelah terserang stroke untuk kedua kalinya. Manuhua meninggalkan delapan anak, sedangkan istrinya sudah lebih dahulu meninggal dunia pada tahun 1966. Hingga akhir hayatnya Manuhua tercatat sebagai Pemimpin Umum Pedoman Rakyat. Almarhum menerima Bintang Maha Putra Utama RI tahun 1966, "Pena Emas" dari PWI Pusat, dan penghargaan Penegak Pers Pancasila (1989). (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Yayasan Pers Dr. Soetomo dan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) didirikan di Jakarta atas keputusan Sidang Pleno ke-29 Dewan Pers di Denpasar pada tanggal 17-19 Juli 1987. Pelaksana keputusan adalah sejumlah pemimpin media, yakni Harmoko, Burhanuddin Muhammad Diah (alm.), Zulharmans (alm.), Dja’far H. Assegaf, dan Jakob Oetama, yang saat itu menjadi anggota dan pimpinan Dewan Pers. Di antara pengurus yayasan tercantum Moerdiono, Prof. Fuad Hassan, Soedwikatmono, Kartini Muljadi, sedangkan dari penerbit media adalah Tuty Azis, L.E. Manuhua, Atang Ruswita, Sabam Siagian, dan Goenawan Mohamad. Pada acara peresmian LPDS tanggal 23 Juli 1988, Dr. Soedjatmoko menyampaikan pidato utama.
Yayasan Pers Dr. Soetomo dan LPDS menggunakan nama Dr. Soetomo untuk menghormati salah seorang pelopor kebangsaan. Pada tahun 1908, Soetomo, seorang mahasiswa kedokteran, ikut mendirikan Boedi Oetomo, organisasi yang membangun sekolah-sekolah di sejumlah kota di Jawa dan merupakan perintis gerakan kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Pada tahun 1925, Soetomo menerbitkan jurnal Soeloeh Indonesia di Surabaya, kemudian menyusul majalah mingguan Soeloeh Rakjat Indonesia. Pada tahun 1930 dia menerbitkan suratkabar harian bernama Soeara Indonesia yang berhasil menjadi salah satu suratkabar utama di Surabaya.
Sejak tahun 1988 Direktur LPDS dijabat oleh Dja’far H. Assegaf. Dari tahun 1994 jabatan tersebut dipegang Ketua Harian Yayasan, Jakob Oetama, pemimpin Grup Kompas-Gramedia. Jakob Oetama kemudian mengangkat Atmakusumah Astraatmadja, penerima Hadiah Magsaysay tahun 2000 dan mantan Ketua Dewan Pers, sebagai Direktur Eksekutif LPDS, serta penerbit media Lukman Setiawan, sebagai Direktur Keuangan dan Administrasi.
Mulai September 2002, Atmakusumah digantikan oleh Tribuana Said, seorang wartawan dan Journalism Fellow University of Michigan tahun 1973 hingga 1974. Pada 5 Juli 2000, Asisten Direktur Bidang Pendidikan Warief Djajanto, Journalism Fellow Standford University (1977-1978), digantikan oleh Maskun Iskandar, mantan redaktur di sejumlah media.

Pada 20 Oktober 2008, Tribuana Said digantikan Priyambodo RH, alumni International Institute for Journalism (IIJ) di Berlin (Jerman, 1995) yang sejak 1990 menjadi wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN ANTARA) dan menjabat Kepala LKBN ANTARA Biro Eropa berkedudukan di Lisabon (Portugal) dan Brussels (Belgia) pada 1998-2001, serta menjadi Ketua Bidang Multimedia Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat periode 2008-2013.

Mulai Juli 2008, LPDS berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro dengan Jacob Oetama selaku Ketua Dewan Pembina, Tribuana Said menjadi Ketua Dewan Pengawas, dan Bambang Harymurti menjabat Ketua Pengurus.
LPDS juga merupakan pusat pelatihan jurnalisme dan pengembangan profesional, menyelenggarakan program dan kegiatan pendidikan serta pelatihan jurnalistik sejak 23 Juli 1988. Sejauh ini alumninya berjumlah lebih 3.000 orang, terdiri dari 1.500 wartawan dan 1.500 eksekutif dan pejabat hubungan masyarakat dan umum dari sejumlah provinsi di Indonesia.
Tujuan program dan kegiatan LPDS adalah 1) Membekali pengetahuan dan keterampilan jurnalisme bagi calon wartawan atau jurnalis (lulusan sarjana/S1) agar dapat menjadi tenaga kerja siap pakai; 2) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan jurnalisme bagi wartawan serta redaktur agar dapat bekerja lebih profesional; dan 3) Memberikan pengetahuan dan keterampilan jurnalisme bagi eksekutif dan pejabat hubungan masyarakat (public relations) serta peminat umum agar mereka lebih aktif menulis di pers dan lebih mudah berinteraksi dengan media massa. (Tim EPI/Wid)


Lentera, suratkabar umum - Pertama kali terbit di Pematang Siantar, Selasa 8 September 1931. Penerbitnya Kongsie Lentera, Pematang Siantar. Walaupun isinya disajikan dalam bahasa Indonesia suratkabar yang beredar setiap Selasa dan Rabu ini dijual dengan mata uang Gulden.
Sebagai suratkabar yang terbit di daerah, peredarannya termasuk cukup luas, yakni menjangkau beberapa kota besar di Sumatra. Kekhasan dari Lentera adalah pada perwajahannya. Antara satu materi dan materi lainnya dibatasi garis-garis kolom. Sedangkan topik pada setiap rubrik ditulis dengan huruf kapital secara mencolok.
Tidak berbeda dengan suratkabar lain yang terbit pada masa-masa kolonisasi Belanda, Lentera juga memuat berita-berita dan artikel yang bernada penyemangat untuk mencapai kemerdekaan.
 Pada awal penerbitannya tebal Lentera hanya 4 halaman, tapi pada edisi berikutnya menjadi 6 halaman. Suratkabar ini dicetak di percetakan milik Belanda di Medan, Sumatra Drukerrij. Redakturnya bernama Walter Sitompoel. Alamat Redaksi di Prins Hendrikstraad 76 (boven), tetapi sejak edisi Th. I No. 5 pindah ke Societeitstraat No. 25, Simpang Empat. Pembaca bisa memperoleh suratkabar ini dengan membayar biaya berlangganan 2 Gulden/bulan untuk Indonesia dan 3 Gulden untuk luar Indonesia.
Di Sumatra kala itu, banyak usaha pers yang bangkrut. Misalnya, Pertjatoeran dan Persatoean di Sibolga. Yang masih sanggup bertahan hanya Soeara Batak, yang 50% beritanya berbahasa Melayu. Di Pematang Siantar sendiri selian  Lentera juga beredar Bendera Kita.(Tim EPI/ES. Sumber: Perpusnas/Tunggul Tauladan/Indexpress)
    

Leo Batubara - Wakil Ketua Dewan Pers 2006-2009 ini adalah anggota Dewan Pers dari unsur pimpinan perusahaan. Leo terpilih menduduki posisi ini untuk kedua kalinya. Ia menjadi salah seorang perumus UU Pers No. 40/1999 ketika menjadi anggota Interdep Menteri Penerangan, Muhammad Yunus Yosfiah.
Alumnus IKIP Negeri Jakarta tahun 1970 ini selama dua periode (1971-1985 dan 1999-2005) menjadi Pemimpin Perusahaan Harian Suara Kaya. Pada harian yang sama saat ini Leo menjadi Redaktur Senior dan Staf Ahli.
Leo juga aktif sebagai Koordinator Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI), sebuah lembaga yang memperjuangkan amandemen konstitusi dan perundang-undangan yang melindungi kemerdekaan pers, serta sebagai Ketua Badan Pengurus Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang memiliki anggota 600-an suratkabar di seluruh Indonesia. E-mail: Alamat surel ini dilindungi dari spambots. Anda harus mangaktifkan JavaScript untuk melihatnya. (Tim EPI/AM. Sumber: PDAT)
    

Liberty, majalah mingguan. Didirikan oleh Goh Tjong Hok.  Terbit pertama kali dengan nama “Liberal” pada tanggal 12 September 1953. Kemudian diubah menjadi “Liberty” sejak 12 September 1957, berhubung iklim politik waktu itu tidak membenarkan nama pertama. Walau banyak menghadapi persaingan, media ini tetap dapat mempertahankan eksistensinya, sehingga tak pernah berhenti terbit.
Liberty yang memiliki semboyan “Berdasarkan Pancasila Menuju Kesatuan Bangsa” ini tidak saja dikenal di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Cornell University, Amerika Serikat, misalnya, mendokumentasikannya dengan rapi mulai dari nomor pertama. Oleh karena itu Liberty seringkali menjadi referensi bagi para wartawan maupun ilmuwan yang membutuhkan data khususnya berkaitan dengan kesejarahan.
Sejarawan Indonesia terkemuka, Dr. Pitono, sekitar tahun 1960-1970 secara teratur menulis tentang candi yang ada di Indonesia di majalah ini. Tulisan tersebut menarik perhatian mereka yang mendalami ilmu purbakala sehingga banyak yang meminta foto kopi tulisan tersebut sebagai bahan pelengkap tulisan ilmiah.
Pasang surut sempat dialami Liberty dengan munculnya majalah ibu kota yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, dengan penampilan yang bagus.
Sejak 1989, media ini mencoba mengubah format isi menjadi majalah berita. Tapi ternyata gagal di pasaran. Oplahnya hanya tinggal sekitar 7.000 eksemplar. Sejak 1990, manajemen Liberty ditangani Jawa Pos Group. Koesnan Soekandar, salah seorang redaktur senior Jawa Pos, ditunjuk sebagai pemimpin redaksi. Di bawah kepemimpinan Koesnan berusaha  mencari format media yang pas agar Liberty disukai pembaca. Akhirnya, dengan mengedepankan materi supranatural, Liberty sempat mengembalikan kejayaannya dengan mematok tiras sebanyak 67.000 eksemplar setiap terbit.
Hal-hal yang berbau supranatural dikedepankan karena khas dan jarang dijumpai di media lain. “Kami memilih bidang supranatural sebagai sajian utama, karena materi tersebut ternyata disukai pembaca,” kata Koesnan Soekandar.  Meski begitu, Koesnan menolak, kalau majalah yang dipimpinnya dikatakan banyak menyajikan hal-hal berbau klenik. Supranatural bukan klenik. “Kita memang memuat ramalan-ramalan paranormal, tapi itu bukan klenik,” tegasnya.
Isi majalah memang dihiasai berbagai hal yang mistis, seperti benda pusaka, candi, makam, misteri bukit dan tempat-tempat keramat lainnya. Artikel dan reportase yang berbau magis dan misterius itu ternyata banyak diminati pembaca. Banyak di antara pembacanya adalah etnis Tionghoa. Rupanya orang Tionghoa memang menyukai kebudayaan Jawa. Terbukti ketika diadakan upacara ruwatan respon yang muncul justru kebanyakan dari etnis tersebut.
Majalah ini terkadang menyajikan reportase yang cukup berani, seperti menyingkap praktek seks tingkat tinggi para escort lady di Surabaya. Reportase ini dihiasi foto-foto yang cukup aduhai. Selain itu kulit mukanya sering dihiasi foto model cantik dengan pose yang cukup menggairahkan. “Tak bisa dimungkiri, masalah yang berkaitan dengan seks disukai pembaca,” ungkap Koesnan.
Pada perkembangannya Liberty menyisipkan suplemen Star yang berisi tingkah polah artis Mandarin. Liberty diterbitkan oleh PT East Java Liberty Coy, di bawah pimpinan Dahlan Iskan (Direktur Utama), Indra Slamet Santoso, S.H. (Direktur/Pemimpin Umum), dan  Koesnan Soekandar (Pemimpin Redaksi). Majalah ini berkantor di Jalan Pahlawan 116 (atas) Surabaya, telepon 23656, 26097.(Tim EPI)
       

Lintang - adalah tabloid anak-anak satu-satunya yang terbit di Bali. Awalnya Lintang adalah lembaran rubrik anak-anak yang disisipkan pada halaman Bali Post Minggu. Sejak tanggal 1 Mei 2004, Lintang diluncurkan sebagai tabloid anak-anak dwimingguan, tersebar di seluruh Bali dengan oplah 10.000 eksemplar.
Sejak awal penerbitan, Lintang diarahkan untuk menjadi media penggalian dan pengembangan potensi diri anak-anak, khususnya anak sekolah dasar. Karenanya halaman-halaman Lintang sebagian besar diperuntukkan bagi karya anak-anak, baik berupa puisi, karangan, cerita, dongeng, komik, kartun, gambar, hingga hasil wawancara anak-anak dengan para tokoh.
Sebagai tabloid anak-anak, Lintang mengangkat cerita komik “I Lutung” atau tokoh “Kera Nakal” yang diambil dari Cerita Tantri sebagai unggulan. Tinggah polah nakal “I Lutung” yang selalu mendapatkan karmanya, menjadi pelajaran etika bagi anak-anak. Tak heran bila kehadiran “I Lutung” selalu ditunggu-tunggu. Ada juga komik “Lintang”, “Yama Duta” dan “I Belog” yang juga tak kalah menariknya.
Selain memuat komik-komik, halaman Lintang juga dipenuhi dengan karangan kecil (kancil) karya anak-anak. Cerita yang dimuat dalam karangan kecil ini begitu menyegarkan, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Contohnya karangan kecil berjudul “Menunggu Bulan Jatuh” karya Gde Arthadiputra siswa kelas V SD Saraswati Amlapura (Ujung Timur Pulau Bali).
Alamat Redaksi Lintang di Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80323, Telp. (0361) 225764 Faks. (0361) 227418. Email: Alamat surel ini dilindungi dari spambots. Anda harus mangaktifkan JavaScript untuk melihatnya. , yang diasuh oleh Ayu Mas Ruscitadewi (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Lita FM - stasiun radio. Radio Lita berdiri pada tahun 1971, sekarang beralamat di Jalan Budhi No. 41 Cimindi Kota Bandung, dikemas sebagai radio keluarga dengan slogan “Radio Keluarga, Jaya di Udara Abadi di Hati”.
Dalam penyiarannya Lita, yang juga dikenal dengan sebutan Lita Sari, menerapkan format multi segmen. Radio ini pernah meraih prestasi nasional sebagai salah satu radio dengan pengelolaan manajemen terbaik versi PRSSNI, dan meraih juara pada lomba penyiaran informasi kesehatan dan KB yang diselenggarakan oleh Kanwil Kesehatan, Kanwil Penerangan, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sebelum masa reformasi.
Radio Lita yang mengudara pada FM 90.9 Mhz, sangat peduli dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial baik melalui acara on air maupun off air. Bentuk kegiatan yang secara rutin masih berlangsung adalah “Jalan Sehat Keluarga Lita Sari”, sepeda santai, dan kegiatan rutin mingguan “Majelis Taklim Harmoni”. (Tim Epi/DAR)