Kamis, 24 Agustus 2017

M dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Mahbub Djunaedi (Jakarta, 27 Juli 1933 - Bandung) - wartawan, sastrawan dan politisi.  Sejak kecil Mahbub sudah terbiasa membaca karya-karya pengarang terkemuka dunia maupun tanah air. Ketika di sekolah menengah pertama di Jakarta, Mahbub remaja, sudah menjadi staf redaksi majalah sekolahnya. Di sekolah menengah atas (SMA Negeri I Budi Utomo, Jakarta), puisi,  esai, cerpen dan karya tulis lain Mahbub sudah dimuat di sejumlah media massa bergengsi.
Selain romannya Dari Hari ke Hari (1982) dan Angin Musim (1985), Mahbub juga menerjemahkan beberapa buku antara lain Di Kaki Langit Gurun Sinai karangan Hassanin Haykal, 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah tulisan Michael H. Hart (sudah cetak ulang hamper 20 kali), Binatangisme karya George Orwell, Cakar-cakar Irving tulisan Art Buchwald yang juga dikenal dunia sebagai kolumnis dengan nada humor dan satirisme yang tinggi.
Mahbub mulai bekerja di harian Duta Masyarakat tahun 1958. Karirnya terus menanjak, hingga akhirnya memimpin suratkabar resmi Partai Nahdlatul Ulama (NU) itu. Selain di Duta Masyarakat, karirnya di NU pun terbilang cemerlang hingga sempat menjadi salah satu ketua pengurus besar. Bahkan ketika NU berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Mahbub juga sempat didaulat menjadi salah satu ketua.
Mahbub memang sudah aktif berorganisasi sejak muda, antara lain pernah duduk dalam kepengurusan Pengurus Besar HMI dan  PMII. Demikian pula di dalam organisasi kewartawanan, Mahbub sempat terpilih menjadi Ketua Umum PWI Pusat sesudah peristiwa G30S/PKI, menggantikan A. Karim D.P. Seperti diketahui, Karim DP, ketika itu “diamankan” pihak berwajib karena dituduh “terlibat” G30S/PKI.
Menurut Mahbub, pengalaman paling sulit ia rasakan ketika memimpin PWI pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. “Pada dasarnya yang dihadapi waktu itu semuanya sesama rekan, teman seprofesi, hanya aliran yang berbeda.”
Mahbub Djunaedi dikenal memiliki kemampuan analisis yang tajam. Arah tulisannya sejalan dengan keyakinan dan cita-citanya atau ideologi yang dianutnya. Mahbud dikenal prigel dan luwes dalam menuangkan gagasan. Tulisannya mengalir seperti halnya ketika ia menuangkan gagasan secara lisan. Mahbub adalah penulis dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, dan humoris. Namanya sangat tersohor sebagai seorang kolumnis yang piawai.
Humor ialah alat Mahbub mengajak pembaca berkelana masuk ke dalam sesuatu masalah. Baginya, lebih baik menyentil orang dengan cara membuat sasaran yang dikritiknya tersenyum daripada membuatnya murka. Dengan ketawa, semua masalah akan segera teratasi. “Bukankah humor, di samping melankolis, juga merupakan kebiasaan kesusastraan?” katanya.
Menurut Mahbub, kebiasaan orang Indonesia yang suka ketawa seringkali membantu mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Menurutnya, hanya orang-orang yang mempunyai intelektualitas sajalah yang mampu menerima humor dan ketawa.
Jika anggapan ini betul, menurut Mahbub, benarlah anggapan bahwa rakyat Indonesia memiliki tingkat intelektualitas yang cukup tinggi (di samping kesabarannya), sehingga setiap saat siap ketawa, tak peduli hidupnya berjalan mulus atau terbanting-banting.    
Di koran Duta Masyarakat yang dipimpinnya, Mahbub pernah menulis: “Pancasila mempunyai kedudukan yang lebih agung dibanding Declaration of Independence, yang disusun dan dibacakan Thomas Jefferson sebagai  pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 1776, maupun dengan Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels tahun 1874.
Tulisan Mahbub ini membuat Soekarno terpikat, sehingga memintanya untuk segera menghadap ke Istana. Dari sinilah awal kedekatan Mahbub dengan Bung Karno. Mahbub tak pernah tanggung-tanggung memuji setinggi langit sang “penyambung lidah rakyat” itu. “Kalau tidak ada Bung Karno, saya tidak yakin persatuan dan kesatuan bangsa terbangun seperti sekarang. Selain itu, Bung Karno memiliki kepedulian yang besar terhadap kehidupan rakyat kecil. Beliau itu dekat dengan rakyat.” Saking kagum dan hormatnya pada Bung Karno, Mahbub menamakan beranda depan rumahnya di Bandung dengan nama Soekarno House. Selain itu, Mahbub adalah Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Pendidikan Soekarno hingga akhir hayatnya.
Ajaran Bung Karno, memang cukup mempengaruhi nasionalisme Mahbub. Pada sebuah pertemuan wartawan di Vietnam, Mahbub menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kendati ia cukup fasih berbahasa Inggris atau Prancis. Inilah sikap nasionalismenya. “Bahasa Prancis bukan bahasa elu, dan bahasa Inggris juga bukan bukan bahasa gua,”demikian alasan Mahbub.
Pengalaman menarik lainnya yakni ketika menjabat sebagai Ketua Umum PWI Pusat, ketika harus memberi rekomendasi izin penerbitan majalah sastra Horison. Waktu itu PWI memang diberi otoritas untuk memberi rekomendasi untuk pengajuan izin penerbitan. Persoalan muncul ketikaa ada kekhawatiran, Pemerintah (Orde Baru) tidak akan memperkenankan penerbitan Horison karena keberadaan Mochtar Lubis sebagai pemimpin redaksi majalah tersebut. Namun, menghadapi hal tersebut, dengan enteng Mahbub mengeluarkan rekomendari meskipun ia tahu pasti bahwa tindakannya itu akan mengundang risiko yang tidak kecil.
Hal lain yang banyak dikenang dari Mahbub Junaedi adalah gayanya dalam membahas sesuatu masalah. Melalui tulisan-tulisannya seringkali Mahbub membahas persoalan serius dengan pemaparan yang tajam namun  dalam gaya bahasa yang enteng dan penuh humor. Ini sangat terasa pada tulisan-tulisannya sebagai kolumnis diberbagai media massa antara lain Kompas dan Tempo. Banyak kalangan menilai, di Indonesia, gaya tulisan Mahbub tak ada duanya sampai sekarang. (Tim EPI/ES. Sumber: SSWJ/TAB)   


Majalah Dinding - Salah satu bentuk majalah sekolah yang sederhana dengan pembiayaan yang murah ialah majalah dinding. Isi yang dapat disajikan antara lain tajuk rencana atau editorial, berita kegiatan sekolah (kegiatan OSIS, pramuka, olahraga, seni dan budaya, informasi perpustakaan, pengumuman kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang lain), karangan kreatif siswa (cerita pendek, esai dan puisi), tulisan kreatif siswa (tulisan ilmiah populer, ilmu pengetahuan ilmiah populer), sketsa, karikatur atau ilustrasi yang lain.
Karya-karya tersebut disajikan dengan cara ditempelkan pada dinding (panel-panel) tanpa diikat oleh pola atau acuan tata letak tertentu. Kecenderungan yang tampak dari majalah dinding ini adalah bahwa penyajian isi berdasarkan rubrik yang disediakan redaksi, sedangkan tata letak diatur berdasarkan kebutuhan dan kemampuan estetika staf redaksi.
Redaksi majalah dinding kadang-kadang kekurangan bahan untuk dipublikasikan, karena, adakalanya, “kiriman” dari para siswa tidak sesuai dengan harapan. Untuk menghadapi situasi kritis ini, redaksi dapat menempelkan kliping (cerpen, puisi atau karangan ilmiah populer) dari majalah atau suratkabar yang isinya bermanfaat bagi siswa.
Tujuan pembinaan majalah sekolah (termasuk majalah dinding) mempunyai dimensi ganda, antara lain untuk melatih siswa menyatakan pendapatnya melalui bahasa tulis. Aspek penalaran dapat dikembangkan melalui kegiatan menulis karya ilmiah remaja yang dipublikasikan melalui majalah sekolah atau majalah dinding ini.
Di samping tujuan tersebut, majalah sekolah dapat dimanfaatkan untuk melatih kreativitas, serta menjadi wadah untuk mempublikasikan hasil kreasi mereka baik dalam bentuk cerpen, puisi, esai atau naskah drama remaja. Siswa yang berbakat di bidang seni rupa mendapat kesempatan untuk mempublikasikan hasil karyanya baik berupa sketsa, karikatur, atau ilustrasi pendukung isi karangan.
Ditinjau dari kerjasama antara tim redaksi majalah sekolah dan para penulisnya, maka majalah sekolah (lihat juga lema Majalah Sekolah) mempunyai tujuan sosialisasi, yakni melatih kerja kelompok, berorganisasi, dan melakukan kerjasama untuk menerbitkan majalah sekolah yang bermutu. Pers (umum atau pers kampus) dan majalah sekolah termasuk hasil karya kolektif. Komponen utama, yang terdiri dari penulis, pengarang, karikaturis, dan penyelenggara redaksi serta bidang pemasaran dituntut untuk bekerjasama guna meraih keberhasilan usaha penerbitan/majalah sekolah secara optimal. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Pengantar Praktek Kewartawanan Pers Kampus dan Majalah Sekolah, Henri Supriyanto, Penerbit Angkasa, Bandung, 1986).


Majalah Indonesia - suratkabar khusus. Nama suratkabar yang terbit secara khusus tahun 1945 ini sebenarnya hanya berupa lembaran yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).
Waktu penerbitannya tidak tentu. Salah satu edisi yang terbit pasca-proklamasi kemerdekaan berisi pertanggungjawaban Pemerintah RIS, yang disampaikan Prof. Mr. Dr. Soepomo. Isinya terkait dengan penyerahan kedaulatan kepada Pemerintah RI. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Majalah Radio - Ketika kita membuka dan membaca majalah, maka dua hal pertama yang tergambar adalah, (1) desainnya berbeda dari koran, baik cara penyajian maupun ukuran fisiknya, dan (2) isinya lebih beragam, mendalam, dan bisa dibaca kapan saja. Demikian pula majalah radio. Ia merupakan adopsi dari pola majalah cetak. Bedanya, majalah radio memiliki suasana auditif yang lebih kaya imajinasi, tidak seterbatas nuansa visual yang dimiliki majalah cetak.
Majalah radio adalah paket acara siaran yang dirancang dengan kekhasan tertentu sehingga melekat di benak pendengarnya. Struktur majalah radio ditekankan pada isi. Sebagai paket siaran, majalah radio mengenal istilah sekuen. Sekuen inilah yang menjadikan majalah radio terdengar sebagai acara khas. Ibaratnya seorang pendengar sedang membolak-balik halaman majalah yang isinya beragam, namun dalam satu isi penerbitan. Dia mendengar rubrik demi rubrik disajikan satu per satu dalam struktur yang berpadu.
Majalah radio merupakan program warna-warni yang memadukan beberapa topik, beberapa sumber, beberapa format penyajian, dan beberapa jenis subprogram; namun penyiarannya pada satu karakter khalayak. Biasanya disajikan oleh satu presenter yang berfungsi sebagai linker (penghubung) antara masing-masing subprogram. Berbagai topik informasi berita dan hiburan disajikan dalam sejumlah rubrikasi, dengan gaya/variasi kecepatan presentasi tertentu, sehingga tidak membosankan pendengar.
Kalau dicermati, selama 22 jam siaran setiap harinya, seluruh sajian radio dapat saja dikategorikan majalah radio. Programnya beragam, full music, dan gaya siarannya pun dinamis. Namun tentunya pendengar tidak akan betah menyimak sebuah stasiun radio selama 22 jam penuh. Lagi pula, boleh jadi selama 22 jam itu lebih banyak siaran musik ketimbang informasi, atau sebaliknya. Para pakar radio akhirnya bersepakat bahwa majalah radio adalah program khusus yang dirancang dengan durasi tertentu, sehingga memudahkan pendengar menyimak acara tersebut. Ibarat majalah biasa setebal 30 halaman, maka majalah radio juga berdurasi 30 menit, tergantung kemampuan awak radio mengolah stok program. Sepanjang waktu itu pendengar memperoleh banyak informasi dan tetap terhibur.
Dari segi teknis penyajian, Ari R. Maricar membagi dua:

1. Majalah radio tuturan (spoken radio magazine), yaitu majalah radio yang penyajian informasinya hanya dengan suara penyiar saja, tanpa musik atau bunyi apa pun. Majalah ini terbagi lagi menjadi dua yakni, (a) Majalah radio topik tunggal menyeluruh (one overall topic radio magazine). Misalnya, laporan dari penjuru dunia yang berisi berita dari berbagai sumber dan disajikan dalam berbagai teknik penyajian berita. Bentuk akhir majalah radio seperti ini mirip dengan rangkaian news feature atau news documentary; dan (b) Majalah radio tuturan topik beragam (variety topic radio magazine). Contoh: “Dunia Pekan Ini” dan “Jagad Wanita”. Model ini pada umumnya bertujuan untuk memberi beragam jenis informasi, bukan sekadar penyajian berita faktual sebagaimana model pertama.

2. Majalah radio kombinasi (mixed radio magazine). Majalah radio model ini memadukan musik, lagu, dan tuturan. Sajian seperti ini diarahkan untuk pendengar yang heterogen, namun memiliki kesamaan umur, misalnya kelompok ABG atau anak baru gede. Majalah radio kombinasi ini umumnya bersifat menghibur (easy listening), selain memberikan informasi dan pendidikan (infotainment). Contoh: “Aksi KAMU (Aksi dan Prestasi Kawula Muda)”, berisi aneka berita/informasi remaja yang disisipi musik, pariwara, dan sebagainya.
Dari segi tujuan pembuatan program, majalah radio memiliki beberapa model, yaitu:
1. Majalah radio pendidikan, yang pembuatan dan penyajiannya didasarkan pada upaya memberi pengajaran tentang berbagai hal kepada pendengar.
2. Majalah radio budaya, ditujukan untuk mengenalkan budaya tertentu sehingga tidak membosankan pendengar.
3. Majalah radio berita, hanya berisi berita-berita aktual dan faktual yang dikemas dalam siaran yang bervariasi. Misalnya, “Majalah Radio Hiburan”, “Majalah Radio Pertanian” dan sebagainya, tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalistik Radio, Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar, Masduki, Penerbit LKiS, Yogyakarta, 2001).


Majalah Sekolah - Majalah sekolah merupakan ragam pers khusus yang dipakai di lingkungan sekolah. Isi yang disajikan di dalamnya tidak berbeda jauh dengan isi majalah dinding. Garis besar isi majalah sekolah terdiri atas tajuk rencana atau editorial, berita sekolah, artikel atau feature ilmiah popular, hasil kreativitas siswa di bidang kesusasteraan (cerpen, puisi, esai dan drama remaja), tulisan lain-lain misalnya humor/anekdot, teka-teki silang dan surat pembaca.
Ruang lingkup pemberitaan sekolah meliputi kegiatan OSIS di bidang olahraga dan kesenian, pramuka, laporan darmawisata, laporan kegiatan koperasi siswa, kegiatan perpustakaan, laporan hasil diskusi atau seminar ilmiah remaja, laporan hasil pengamatan di lapangan, laporan hasil studi di laboratorium, dan informasi kegiatan intra kurikuler (ulangan umum, hasil evaluasi belajar tahap akhir nasional/Ebtanas atau rencana penerimaan siswa baru).
Tekknik penulisan berita, esai, feature dan laporan-laporan pada umumnya tidak berbeda dengan pedoman umum teknik penulisan pada pers kampus. Penerbitan majalah sekolah dikategorikan sama dengan pers khusus karena tidak diperdagangkan untuk umum atau berlaku terbatas di lingkungan sekolah.
Majalah sekolah diterbitkan berkala, misalnya bulanan, per dua bulan sekali, tiga bulan sekali (per triwulan), empat bulan sekali (per catur wulan) atau enam bulan sekali. Pengaturan penerbitan tersebut berdasarkan kebijakan “kepala sekolah” atau pembina/redaksi majalah sekolah yang berkepentingan. Jangkauan isi majalah sekolah sebaiknya disesuaikan dengan ciri khusus sekolah bersangkutan, misalnya ciri khusus Majalah Sekolah SMA, ciri khusus Majalah Sekolah Kejuruan (SPG, STM, SPMA, SMKK, SMEA dan SMO).
Mengingat kedudukan majalah sekolah sebagai pers khusus, permodalan majalah sekolah sebaiknya diperoleh dari para donator atau persatuan orangtua murid. Sekolah swasta sebaiknya menggunakan dana dari Yayasan Pembina atau yayasan yang mendirikan sekolah tersebut. Sedangkan keredaksiannya terdiri atas unsur guru bahasa Indonesia dan siswa yang berminat di bidang jurnalistik.
Dalam kenyataan sehari-hari jumlah pekerja yang mendukung penerbitan majalah sekolah amatlah terbatas pada sekelompok guru dan siswa tertentu. Karena itu demi kelangsungan penerbitan majalah sekolah diperlukan penataran pers sekolah yang mempersiapkan tenaga penulis di lingkungan para siswa. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Pengantar Praktek Kewartawanan Pers Kampus dan Majalah Sekolah, Henri Supriyanto, Penerbit Angkasa, Bandung, 1986).


Majas - majalah kajian bahasa dan sastra. Awalnya berupa renungan harian Lingkungan Hidup. Tahun 1999 berkembang ke penerbitan buku sampai Januari 2004. Sejak September 2004 terbit dalam bentuk majalah. Diterbitkan oleh UD Dwi Putra Jaya, pimpinan Rasjid Hariyanto. Nama Majas diusulkan oleh Yonathan Rahardjo karena lugas dan jelas sejalan dengan tema isi majalah. Kantor pusat Majas beralamat di Jalan K.S. Tubun Gang Iro No. 5 Kadipaten Bojonegoro. Sedangkan alamat kantor di Jakarta  d.a. Majalah Infovet, Gedung Rumah Sakit Hewan Jakarta Lantai 2, Jalan Harsono RM 28 Belakang, Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan 1 (Tim EPI/TS)


Manai Sophiaan (Takalar, Makassar 5 September 1915 - Jakarta ……) - Namanya populer karena mosinya pada saat menjadi anggota DPRS tahun 1945-1957 di Yogyakarta. Manai  menyelesaikan pendidikannya di Twede Inlandse School, Takalar pada tahun 1926, Schakel School tamat pada tahun 1931, MULO Makassar tamat pada tahun 1934, dan Sekolah Guru Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1936.
Awal karir jurnalistiknya dimulai pada saat Manai menjadi wartawan freelance antara tahun 1942 hingga 1945. Kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Pewarta Selebes, Pemimpin Redaksi Suluh Indonesia, Pemimpin Redaksi Suluh Marhaen pada tahun 1968-1972. Pada tahun 1973-1978 dan 1978-1983 Manai menjadi pengurus Dewan Kehormatan PWI.
Kegiatan lain yang pernah dilalui Manai Sophiaan selain di bidang jurnalistik adalah menjadi Guru Taman Siswa (1937-1941), Anggota Dewan Gemeente, Anggota BP KN1P (1939-1950), menjabat sebagai anggota DPR RI (1950-1964), Duta Besar RI di Uni Soviet (1963-1967), Sekjen dan Anggota DPP PNI (1946-1964), serta Anggota Perkumpulan Fotografi Candra Naya, Jakarta.
Manai menikah dengan Munasiah dan dikaruniai delapan anak serta 16 cucu. Manai Sophiaan mengisi masa tuanya dengan mengisi kolom di Harian Merdeka, Indonesian Observer dan Majalah Topik. Dari judul-judul tulisannya tercermin bahwa semangat nasionalisme Manai belum padam. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)
Manajemen Berita - Manajemen berita adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen ke dalam suatu berita mulai dari perencanaan, peliputan, penulisan/pemotretan, sampai dengan penyuntingan (editing).
Perencanaan berita bisa dilakukan dalam waktu yang relatif cukup lama, tetapi bisa dilakukan secara mendadak. Pihak yang melakukan perencanaan adalah redaktur, koordinator liputan, atau reporter. Untuk perencanaan yang dilakukan dalam waktu yang relatif cukup lama biasanya dilakukan oleh redaktur atau koordinator liputan yang diajukan dalam rapat redaksi, atau bisa juga diajukan oleh reporter. Perencanaan jenis ini biasanya diberlakukan terhadap berita-berita yang sudah bisa diprediksi atau berita-berita lanjutan.
Untuk peristiwa-peristiwa mendadak yang memerlukan liputan, perencanaan dilakukan secara mendadak pula. Perencanaan jenis ini dilakukan oleh koordinator liputan yang segera menghubungi reporter, atau oleh inisiatif sang reporter bila koordinator liputan tidak mengetahui peristiwa mendadak itu. Untuk itu memang diperlukan tingkat kecerdasan dan kecepatan yang tinggi.
Begitu mengetahui terjadi suatu peristiwa yang mengandung nilai berita, para reporter secara otomatis sudah menyusun perencanaan berita. Mereka langsung menentukan lead dan body berita bahkan judul berita. Dalam benak mereka sudah ada daftar narasumber berita beserta daftar pertanyaan. Selain itu, sudah ada pula sarana dan prasarana untuk menuju lokasi dan menemui narasumber.
Frekuensi terjadinya peristiwa dadakan yang tinggi mendorong para reporter untuk selalu berjaga; telepon genggan harus on selama duapuluh empat jam, demikian pula kamera bagi kamerawan atau wartawan foto. Khusus bagi wartawan radio dan televisi, jika suatu peristiwa dianggap memiliki nilai berita yang tinggi maka mereka biasanya melakukan siaran langsung sesuai dengan prinsip immediately (kesegeraan) dan reality (kenyataan).
Setelah para reporter dan kamerawan menyerahkan hasil liputannya atau melakukan siaran langsung, mereka dituntut untuk memiliki perencanaan lanjutan atas hasil liputan atau siaran langsung itu. Mereka bisa juga akan melaksanakan perencanaan yang disusun oleh redaktur dan koordinator liputan. Perencanaan demi perencanaan berita merupakan porsi terbesar yang menyita waktu para jurnalis. Dengan demikian sesungguhnya perencanaan berita menjadi tonggak utama manajemen berita, bahkan bagian terpenting dari perencanaan media massa dan manajemen media massa.
Berikutnya adalah fungsi pelaksanaan (actuating). Pada fungsi manajemen ini para jurnalis sering menghadapi kendala dalam merealisasikan perencanaan. Suatu rencana yang sudah dianggap matang ketika dilaksanakan seringkali harus mengalami perubahan, dalam arti mesti disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Jurnalis berencana untuk memperoleh informasi dari narasumber tertentu namun ketika didatangi ternyata narasumber itu tidak berada di tempat. Begitu pula ketika dihubungi lewat handphone, telepon sang narasumber tidak hidup. Bagi yang memiliki cadangan narasumber tentunya bisa mengalihkan permintaan informasi itu kepada narasumber tersebut. Namun bagi yang tidak punya cadangan biasanya melaporkan bahwa “yang bersangkutan ketika dihubungi sedang tidak berada di tempat”, dan alasan lain agar tidak dianggap kurang mampu melaksanakan rencana.
Perencanaan menetapkan bahwa gambar yang akan disiarkan ialah yang “anu”, tetapi ketika kamerawan tiba di lokasi hujan turun deras. Maka sebagai kompensasi diambillah (di-shoot) gambar lain yang kiranya bisa mewakili gambar “anu” tersebut.
Fungsi manajemen berita yang tidak kalah pentingnya ialah fungsi controlling (pengawasan). Pada mulanya seorang reporter dan kamerawan harus melakukan self control sebelum diserahkan kepada redaktur atau koordinator liputan. Apabila mereka merasa karyanya kurang memuaskan, maka karya itu harus diperbaiki. Hal itu merupakan bagian dari check and recheck. Dengan demikian, ketika suatu karya jurnalistik sampai ke tangan redaktur, maka karya itu sudah melalui kontrol awal. Kontrol selanjutnya dilakukan oleh redaktur atau redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi.
Mereka sesungguhnya adalah penjaga gawang atas semua karya jurnalistik yang masuk. Kontrol yang mereka lakukan merupakan pengawasan yang terakhir sebelum suatu karya jurnalistik diterbitkan atau disiarkan. Proses editing (penyuntingan) yang dilakukan redaktur sebenarnya bagian dari pelaksanaan fungsi controlling.
Kelemahan dalam melaksanakan fungsi pengawasan bisa berakibat fatal. Misalnya gara-gara salah ketik, yang notabene adalah kelemahan pihak redaktur, dua kantor suratkabar -satu di Surabaya dan lainnya di Ambon- nyaris diamuk massa. Huruf N pada pada kata yang dirangkai dengan nama tokoh yang paling dihormati kaum Muslimin diketik B. Ada juga tabloid yang dilarang terbit oleh pemerintah pada masa Orde Baru karena menempatkan pemimpin redaksi sebuah tabloid sebagai tokoh yang lebih populer ketimbang Presiden dan Nabi Muhammad SAW, di dalam daftar tokoh terpopuler yang disusun oleh tabloid itu sendiri. Contoh terakhir ini menunjukkan bahwa sebenarnya jajaran redaksi sudah melakukan controlling, tetapi kontrol itu tidak mempertimbangkan perasaan masyarakat. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Manajemen Berita Antara Idealisme dan Realita, Dr. H. Sam Abede Pareno, MM, Penerbit Papyrus, Surabaya, 2003).


Manajemen Komunikasi - Memenej (managing) komunikasi berarti mengatur segala komponen komunikasi dalam sebuah informasi dan aturan langkah sehingga ia efektif untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Menurut format dasarnya, komunikasi terdiri atas tiga komponen, yaitu komunikator (penyampai pesan), pesan, dan komunikan (penerima pesan). Setelah dimenej, boleh jadi hasilnya mengalir searah dari komunikator ke komunikan (one way communication), atau berlangsung timbal balik dari komunikator ke komunikan dan kembali ke komunikator yang disebut sebagai komunikasi dua arah (two way communication).
Jika aktivitas komunikasi yang dilakukan berbentuk ceramah, proses komunikasi berlangsung searah yakni hanya dari komunikator ke komunikan. Andaikan ada pesan (umpan balik) mengalir dari komunikan sebagai reaksi atas isi pidato tersebut, sifatnya tidaklah seketika (delayed feedback). Boleh jadi, reaksi itu sampai ke telinga si penceramah beberapa hari kemudian atau tidak sama sekali.
Namun jika dipilih metode diskusi, maka komunikasi berjalan dua arah. Dalam metode ini, komunikator bukan menjadi komunikator sejati melainkan berperan sebagai komunikan karena norma diskusi tidak menghendakinya berbicara terus menerus. Ada saatnya ia mendengarkan pula ucapan orang lain yang tadi berperan sebagai komunikan.
Dalam hal aturan langkah, komunikasi bisa berbentuk satu langkah (one step flow), dua langkah (two step flow), dan banyak langkah (multi step flow). Komunikasi satu langkah bersifat langsung (direct) dari komunikator ke komunikan, tanpa media komunikasi seperti radio, suratkabar, newsletter, dan sebagainya. Dua orang yang sedang berbincang-bincang, baik secara tatap muka maupun menggunakan telepon berarti sedang menerapkan komunikasi satu langkah. Dalam model ini tidak ada intervensi dari pihak ketiga yang bisa berperan sebagai komunikator atau komunikan.
Sementara dalam komunikasi dua atau banyak langkah, pesan bukan disampaikan langsung (indirect) kepada komunikan melainkan melalui perantara (agent), baik orang seperti pemuka pendapat atau opinian leader maupun media komunikasi. Mengingat perantara juga berperan sebagai komunikator, kemungkinan terjadinya bias pesan (distorsi) cukup besar. Kepentingan pribadi atau kelompok dan intelegensi perantara sangat sering mempengaruhi pesan yang diterima orang ketiga, baik dalam arti memperkuat, memperlemah, atau membelokkan pesan yang disampaikan komunikator.
Manajemen komunikasi juga mencakup pemilihan antara teknik persuasi dan teknik koersi (penyampaian pesan yang disertai paksaan serta ancaman). Pemilihan itu mengacu kepada tujuan dan efek yang diharapkan dalam berkomunikasi. Bila dalam tujuan komunikasi tercakup efek perilaku yang rasional, teknik persuasi cenderung lebih memadai. Namun, ketika komunikator menginginkan orang bertindak instingtif, tanpa banyak pertimbangan atau kalkulasi rasional, teknik koersi merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan persuasi.
Manajemen komunikasi pada dasarnya adalah aplikasi dari prinsip manajemen umum. Dengan kata lain, dalam memenej komunikasi, juga diperlukan tahap-tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengontrolan, dan evaluasi. Satu hal yang membedakan manajemen komunikasi dengan manajemen lain (misalnya pemasaran atau keuangan) adalah apa yang direncanakan mengacu kepada tujuan komunikasi -bukan tujuan lain, yaitu mempengaruhi pikiran dan perilaku. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Public Relations, Strategi Kehumasan dalam Menghadapi Krisis, Emeraldy Chatra & Rulli Nasrullah,  Penerbit Maximalis, Bandung, 2008).


Manajemen Pers dakwah - Manajemen pers dakwah dapat didefinisikan sebagai proses kerja jurnalistik lembaga masyarakat (berbentuk pers maupun lembaga dakwah atau lembaga kemasyarakatan lainnya) untuk mencapai masyarakat Islami yang madani.
Kegiatan manajemen pers dakwah memiliki beberapa prinsip utama. Pertama, proses kerjanya mengarah pada pencapaian tujuan dakwah. Adapun tujuan dakwah dimaksud adalah mengajak manusia berjalan di atas jalan Allah, mengambil ajaran Allah menjadi jalan hidupnya. Artinya, tujuan dakwah tersebut merupakan tujuan dakwah Islamiyah dengan cara membentangkan jalan Allah di atas bumi agar dilalui umat manusia. Sedangkan dakwah Islamiyah merupakan upaya seseorang atau sekelompok orang dalam rangka mengajak orang atau orang-orang untuk meyakini dan mengamalkan akidah serta syariah Islam sebagaimana tersirat dalam 6.360 ayat dalam kitab suci Al-Quran. Ayat-ayat tersebut tiada lain merupakan tuntunan dan cahaya Allah bagi semua umat manusia, sehingga mereka dapat berjalan menunaikan kehidupannya dengan penuh pengertian, kesadaran, dan keyakinan bahwa: “Inilah jalan (agama)-Ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) menuju Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik,” seperti dikehendaki Allah SWT melalui surat Yusuf ayat 108. Apabila upaya dakwah Islamiyah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka sudah tentu akan terwujud suatu masyarakat Islami yang madani, dan keadaan tersebut merupakan tujuan akhir dari dakwah Islamiyah.
Kedua, metode yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan dakwah dimaksud adalah jurnalistik. Dalam mencapai tujuan akhir dari dakwah dimaksud sudah tentu tidak bisa dilakukan sekaligus, melainkan harus melalui tahapan-tahapan tertentu sesuai dengan waktu dan situasi serta kondisi khalayak (mad’u) yang didakwahinya. Demikian pula halnya dalam proses dakwah yang merupakan proses komunikasi, maka salah satu metode yang bisa digunakan adalah metode komunikasi yang berbentuk jurnalistik. Sesuai dengan pengertian dan tujuannya, jurnalistik dapat mempengaruhi (dalam arti mengajak atau menyeru) khlayaknya setiap waktu atau periode tertentu. Melalui kegiatan jurnalistik khalayak dapat diajak menuju suatu keadaan tertentu sesuai dengan tahapan pencapaian tujuan dakwah tersebut. Melalui berbagai media kegiatan jurnalistik bisa dilakukan terhadap seluruh lapisan dan kondisi masyarakat, baik yang buta huruf maupun yang melek huruf, bahkan juga terhadap mereka yang buta atau pun tuli dan bisu. Dengan menggunakan teknologi komunikasi yang modern serta media komunikasi yang canggih, kegiatan jurnalistik dapat diharapkan bisa mencapai sasarannya dengan tepat dan cepat. Untuk tujuan itu pula manajemen pers dakwah mengkhususkan metodenya pada jurnalistik.
Ketiga, sesuai dengan inti dari manajemen yaitu organisasi, maka pelaku pencapaian tujuan dakwah dalam manajemen pers dakwah pun harus berupa institusi atau lembaga tertentu (dalam bentuk jamaah). Dalam hal ini manajemen pers dakwah berprinsip pada kewajiban berdakwah berdasarkan Al-Quran surah Ali Imran ayat 104, yaitu “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Selain dari itu lembaga dimaksud harus melakukan kegiatan khusus, yaitu jurnalsitik, dalam mencapai tujuannya. Adapun lembaga yang khusus melakukan kegiatan jurnalistik dikenal dengan sebutan pers. Karena selain melakukan kegiatan jurnalistik, lembaga tersebut harus mencapai tujuan dakwah, maka kiranya dapat disebut lembaga itu sebagai pers dakwah. Namun demikian bentuknya akan tergantung dari unsur-unsur yang terkait pada pembentukan lembaga tersebut.
Keempat, menggunakan manajemen yang Islami. Untuk mengatur dan mengelola proses kerja dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapkan, tiada lain digunakan manajemen yang sehat dan terarah pada pencapaian tujuan dakwahnya tadi. Karena tujuan utama dakwah Islamiyah itu terwujudnya masyarakat Islami, maka jelas manajemennya pun harus bersifat Islami, dalam arti sesuai dengan akidah dan syariah yang diajarkan Allah melalui Al-Quran. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Manajemen Pers Dakwah dari Perencanaan hingga Pengawasan, Kustadi Suhandang, Penerbit Marja, Bandung, 2007).


Manajemen Qolbu TV - stasiun televisi regional Indonesia dengan siaran bernuansa Islam. MQTV mulai mengudara pada tanggal 28 Oktober 2003 melalui satelit Palapa C2 milik Indosat Group. Stasiun yang didirikan oleh Abdullah Gymnastiar ini berpusat di Bandung, Jawa Barat. Motto MQTV ialah “Sahabat Penyejuk Hati”. Saat ini MQTV sudah resmi siaran menjadi TV lokal Bandung pada 60 UHF yang coverage areanya mencakup wilayah kota Bandung dan sebagian kota-kota sekitarnya. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Mandala - harian (1969-1999), terbit di Bandung  pada tanggal 7 Desember 1969. Diterbitkan berdasarkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) di bawah badan hukum PT Satya Mandala Raya. Sejak kelahirannya, beberapa kali Mandala berhenti beredar dan bangkit kembali, hingga akhirnya gulung tikar.
Nama “mandala” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “arena perang”, sedangkan dalam Kamus Bahasa Sunda, “mandala” artinya kubangan dan kampung. Dalam penafsiran bebas “mandala” adalah tempat masyarakat desa meniti kehidupan.
Awalnya Mandala terbit sebagai koran mingguan. Pendirinya empat orang yaitu H. Krisna Harahap, S.H., Surya Susila, B.A., Rustandi Kartakusumah, dan almarhum Moch. Romli, yang masing-masing sepakat merogoh koceknya Rp 100.000 sebagai setoran modal awal. “Hitung-hitung beli kopi,” begitu mereka bertekad dan mengikhlaskan uang tersebut. Kalau jalan dengan modal Rp 400.000, ya syukur. Kalau tidak, ya tidak usah menyesal. Seperti orang membeli air kopi, airnya sudah direguk, aromanya sudah dinikmati.
Diawali dengan modal sebesar itu, Mandala pertama kali terbit 4 halaman hitam putih ukuran broadsheet. Akan tetapi, lambat laun mingguan ini mendapat tempat di hati pembacanya sampai beredar ke luar Pulau Jawa. Oplah tertinggi pada tahun pertama sebanyak 40.000 eksemplar sehingga melicinkan jalan untuk meningkatkan frekuensi terbit menjadi dua kali seminggu. Peningkatan frekuensi terbit ini terlaksana pada bulan Januari 1971. Frekuensi terbit dua kali seminggu tidak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian bertambah menjadi tiga kali seminggu.
Dengan penerbitan 3 kali seminggu, pengasuh penerbitan ini menyadari bahwa perusahaan sudah harus dikelola dengan serius.  Pengelolaan, baik bidang redaksi, sirkulasi, maupun iklan sudah harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan. Perkembangan ini kemudian disusul dengan penambahan halaman dari 4 menjadi 8 halaman sejak tanggal 17 Desember 1973.
  Pada ulang tahun kelima tanggal 7 Desember 1974 para pengasuh penerbitan ini membulatkan tekad untuk meningkatkan penerbitannya menjadi harian penuh. Bukan 6 kali seminggu, tetapi 7 kali. Ketika pada tahun 1974 percetakan offset diperkenalkan di Kota Bandung, Harian Mandala tercatat sebagai harian pertama di Jawa Barat yang dicetak offset. Suatu lembaran baru di bidang grafika pers diperkenalkan harian ini.
Dalam kurun waktu 17 tahun, para pengasuh harian ini tak akan melupakan masa-masa indah antara tahun 1983-1984, pada saat mereka kewalahan menghadapi serbuan agen-agen koran. Pada masa itu oplah HU Mandala mencapai angka lebih dari 100.000 eksemplar per hari. Suatu angka yang sulit untuk lebih ditingkatkan karena kondisi dua mesin percetakan umum di Bandung (Golden Web dan PT Almaarif) tidak mengizinkan menerima order cetak sebanyak itu. Masa-masa “konsumen berebut barang” dan masa-masa “ngantri” dan pakai kupon dua hari sebelumnya untuk memperoleh barang, merupakan kenyataan yang sangat membanggakan bagi para pengasuh penerbitan. Sejalan dengan perkembangan perusahaan jumlah wartawan, koresponden, karyawan iklan, dan sirkulasi meningkat cepat menjadi 105 orang, termasuk tenaga percetakan 30 orang. 
Menyadari bahwa booming tersebut hanya akan berlangsung sementara, menimbulkan pemikiran pada para pengasuh penerbitan ini untuk mewujudkan rencana mereka mengadakan unit setting dan cetak sendiri. Dengan diresmikannya percetakan PT Grafitri yang menjadi bagian dari Grup Mandala oleh Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika Departemen Penerangan RI tanggal 30 Mei 1984, ketergantungan penerbitan terhadap percetakan lain berhasil diakhiri. Percetakan ini dilengkapi dengan fasilitas photo type setting Compugrafic type MCS5 serta web offset Super Gazette berkapasitas 40.000 ekssemplar per jam.
Pada tahun 1982 akibat sebuah pemberitaan mengenai “penyerbuan” sekelompok orang terhadap kantor Polsek Cicendo, yang dikenal sebagai “kasus Cicendo”, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Krisna Harahap pernah mendekam di  kantor Pomdam Jalan Jawa Bandung selama dua minggu. Krisna ditahan sementara oleh pihak Laksusda dan baru diizinkan pulang setelah selesai diberkas. Namun perkaranya hingga sekarang tidak pernah sampai ke sidang pengadilan karena bukti-bukti yuridis dianggap tidak cukup. Meskipun demikian, pengasuh koran ini tidak mengubah pola kebijakan redaksionalnya. Jajaran redaksi dan wartawannya mempertahankan ciri khas pemberitaannya sehari-hari yaitu “keras, tegas, dan blak-blakan”. 
Sekitar bulan April tahun 1986 kantor pusat Redaksi Harian Mandala yang terletak di Jalan Banceuy No 2 Bandung, terbakar. Peralatan kantor, alat tulis, mesik ketik, kamar gelap, mesin afdruk foto, buku, bahkan naskah dan arsip hangus menjadi debu. Menurut keterangan pihak kepolisian, api bersumber dari warung nasi di sebelahnya yang sempat juga melalap sejumlah warung lainnya. Walaupun demikian, kantor sudah menjadi puing, hitam, dan kotor itu tidak menyurutkan semangat wartawan dan karyawan untuk terus bekerja. Keadaan kantor yang serba memprihatinkan dan brantakan ini berlangsung selama tiga bulan, tetapi selama itu pula Mandala terus memenuhi kewajibannya terbit setiap hari.  Kemudian Mandala pindah menempati kantor baru di Jalan Gatotsubroto, masih termasuk kawasan pusat kota. Dari sana Redaksi Mandala pindah lagi ke Jalan Soekarno-Hatta, daerah Gedebage, di tempat ini redaksi menjadi satu atap dengan percetakan PT Grafitri. 
Tantangan demi tantangan silih berganti menerpa koran ini, mulai dari beberapa kali pindah kantor, musibah kantor kebakaran sampai pemrednya ditahan. Akan tetapi, hantaman yang paling pelik adalah menghadapi persaingan. Menghadapi “perang” pasar, Mandala oleng dihajar serbuan koran-koran Jakarta yang terus mengembangkan bisnisnya ke Jawa Barat. Manajemen perusahaan kolaps karena biaya operasional dan kertas koran makin tinggi, sedangkan pendapatan hasil penjualan koran dan iklan makin seret. Kerja sama penerbitan dengan media massa yang sudah mapan dicoba sebagai alternatif agar keluar dari krisis manajemen.
Pada tahun 1989 ketika Mandala memiliki oplah sekitar 5.000 eksemplar dan 7.000 eksemplar untuk edisi Minggu Mandala menjalin kerja sama dengan Harian Kompas/Kelompok Kompas Gremedia (KKG). Kerja sama ini  mencakup bidang redaksi penerbitan Harian Mandala dan Mandala Minggu serta percetakan pers koran Mandala PT Grafitri.
Untuk nomor perdana produk Mandala berubah wajah, dari semula bentuk koran lebar broadsheet menjadi koran mini ukuran tabloid, dicetak warna full color 32 halaman memakai fasilitak mesin cetak offset Grafitri. SDM redaksi memanfaatkan tenaga-tenaga muda lulusan perguruan tinggi dengan dukungan sarana komputer. Namun karena produk berita-berita tabloid masa itu kurang mendapat respon pasar, kerja sama Mandala-Kompas (1989-1991) bubar setelah berlangsung kurang dari dua tahun. Aset-aset manajemen kedua perusahaan diselesaikan dengan baik-baik dan kedua belah pihak sepakat dan setuju pemisahan aset manajemen diselesaikan secara proporsional.
Tahun 1992 Mandala mengawali penerbitannya kembali dengan Mandala Minggu yang terbit satu kali seminggu. Mandala yang kembali ke wajah lama ini diawaki tenaga inti redaksi sebanyak 7 orang, terdiri dari wartawan, bagian iklan, dan sirkulasi. Terbit sendiri tanpa bantuan modal pihak lain merupakan cita-cita sejak awal, tetapi ternyata tidak mudah. Dalam perjalanannya Mandala lagi-lagimendapat tantangan harus bersaing dengan koran lain. Mandala mencoba bangkit dengan mencari mitra baru dan melakukan kerja sama dengan koran lain, antara lain Grup Ika Muda (1993) dan Grup Jawa Pos (1995). Namun hubungan kemitraan tidak sempat terwujud dan baru sampai pada tahap persiapan manajemen. Harian Mandala pun akhirnya tidak bisa terbit lagi. (Tim EPI/NH)


Mangle - majalah berbahasa Sunda. Edisi pertama terbit sebulan sekali, bernama Sekar Mangle, dengan tampilan sederhana. Warna sampul muka yang digunakan hitam putih dan terlihat buram. Pada Desember 1962, Mangle pindah ke Bandung dan berkantor di Jalan Buahbatu 43. Selanjutnya, Mangle terbit dua kali sebulan setelah tiga tahun berada di Bandung.
"Mangle" berarti untaian bunga melati untuk hiasan kepala dan biasanya digunakan pada upacara pernikahan, seperti penghias rambut mempelai wanita dan penghias keris mempelai pria. "Mangle" juga dipakai sebagai nama majalah mingguan berbahasa Sunda yang terbit pertama kali tahun 1957 di Bogor. Majalah Mangle didirikan oleh beberapa tokoh yang peduli dengan kebudayaan Sunda. Mereka ialah Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Saleh Danasasmita, Wahyu Wibisana, Sukanda. Kartasasmita, Ali Basyah, dan Abdullah Romli.
Tahun 1971, kantor Mangle pindah ke Jalan Lodaya 19-21, Bandung. Sejak itu Mangle terbit sebagai majalah mingguan dan bertahan hingga sekarang. Setiap Kamis Mangle dicetak dan dikirimkan kepada seluruh pembaca yang mayoritas merupakan warga Jawa Barat.
Majalah ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1970-an. Pada masa itu cerita pendek (carpon) merupakan daya tarik Mangle sehingga majalah hiburan ini begitu melekat di hati masyarakat Jabar. Tirasnya saat itu pernah mencapai 90.000 eksemplar.
Kini redaksi Mangle dipimpin Oedjang Daradjatoen. Ia didampingi dua wakil, yakni Karno Kartadibrata dan Duduh Durahman. Tirasnya tidak lebih dari 5.000 eksemplar. (Tim EPI/Mangle)


Mapilu- PWI singkatan dari Masyarakat dan Persatuan Wartawan Indonesia Pemantau Pemilihan Umum. Dibentuk oleh PWI bersama dengan unsur masyarakat dengan harapan ada kolaborasi dan sinergis positif antara komponen masyarakat dan pers dalam mengawal proses pemilihan umum. Penggagas ide awal adalah Asril Sutan Marajo dan Hendra (Hendra J. Kede) dan disepakati oleh pleno PWI Cabang Yogyakarta dan selanjutnya dibawa ke pleno PWI Pusat dan disahkan melalui Surat Keputusan PWI Pusat tanggal 01 Agustus 2003 melalui Surat Keputusan Nomor: 271/PWI-P/2003 (diperbaharui dengan SK PWI Pusat Nomor : 470/PWI-P/2006 tanggal 01 Desember 2006). MAPILU-PWI memiliki cabang di seluruh cabang PWI dengan sebutan Pengurus Propinsi. Kepengurusan pada semua level harus mencerminkan keterwakilan unsur masyarakat dan PWI.
Pada tingkat nasional terdapat tiga komponen yaitu Dewan Pakar/Penasehat dengan Ketua Pertama adalah Dr. Adnan Buyung Nasution dan Ketua Kedua (saat ini) adalah Dr. Valina Singka Subekti, Presidium Nasional dengan Ketua Drs. Octo Lampito.
Eksekutif pada tingkat nasional disebut Pengurus Nasional dengan Ketua Hendra, ST (Hendra J. Kede), Wakil Ketua Marah Sakti Siregar.
Pasca SK PWI Nomor 470/PWI-P/2006, Ketua dan Wakil Ketua Pengurus Nasional membentuk 4 (empat) Divisi yaitu Divisi Kerjasama dan Dana dengan Ketua Kamsul Hasan, Divisi Advokasi dan Legislasi dengan Ketua Naungan Harahap, Divisi Pendidikan Politik dengan Ketua A. Zaini Bisri, dan Divisi Pemantauan dengan Ketua Novel Ali.(Tim EPI)


Mara - stasiun radio. Radio Mara adalah panggilan di udara untuk PT Radio Mara Ghita. Stasiun radio ini pertama kali mengudara tahun 1970-an dari Jalan Sumatra, kemudian tahun 1980-an pindah ke Jalan L.L.R.E. Martadinata, dan sekarang menempati bangunan sendiri di Jalan Guntursari Wetan No. 27 Bandung.
Mengudara pada FM 106.7 MHz, Mara membawa slogan Informative Yet Gratifiying, menjadi salah satu stasiun radio yang memelopori sikap bahwa sebuah stasiun radio adalah sama sebagai media massa lainnya, yang memiliki tiga fungsi yaitu menyampaikan informasi, mendidik, dan menghibur. Oleh karena itu, Radio Mara memilih format radio Talk and News. Penggarapan informasi yang serius dikerjakan secara kolektif.
Ketika seorang penyiar sedang mengudara, ada sekelompok orang yang juga ikut sibuk di Dapur Mara, yaitu bertugas mencari, mengumpulkan, serta mendata informasi dan sumber berita dengan cara menghubungi dan atau menerima telepon, sehingga menjadi sebuah kemasan yang layak disiarkan, khususnya dalam siaran interaktif.
Radio Mara termasuk salah satu stasiun radio  yang memiliki koleksi lagu-lagu lama yang disajikan secara rutin. Acara lagu-lagu lama ini penyajiannya dilengkapi selorohan bahasa “orang-orang toea doeloe” (Belanda), di samping acara musik klasik. Banyak pemuka masyarakat atau selebritas yang lahir dari Radio Mara di antaranya Ibing Kusmayatna, M.S. Hidayat, Aom Kusman, dan lain-lain. (Tim EPI/DAR)


Mardi Rahardja - suratkabar harian, terbit di kota Magelang (Jawa Tengah), pada tahun 1922 – 1925, termasuk suratkabar khusus bagi kalangan umat Kristen di Jawa Tengah. Itu sebabnya, Mardirahardja yang merupakan suratkabar harian, setiap hari terbit 4 halaman dengan bahasa dan huruf Jawa.
Berbagai artikel dan berita suratkabar Mardirahardja, kebanyakan adalah berisi pendidikan dan pengajaran agama Kristen. Secara ajeg Mardirahardja juga memuat sejarah para nabi dan kisah-kisah yang berasal dari Alkitab. Suratkabar ini diterbitkan badan penerbit Mardirahardja, Magelang. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Marketing Communication - Kehadiran media cetak dan elektronik tidak saja memunculkan sikap serius dari pengusaha lokal, tetapi juga memaksa mereka untuk memperbaiki kualitas produk, barang, dan jasa. Pengusaha tidak hanya menerapkan strategi positioning sebuah produk di pasar melalui penetapan standarisasi mutu dan kualitas pelayanan, tetapi juga berusaha mempertahankan brand position di benak konsumen melalui pemantapan strategi promosi. Persaingan produk juga menyebabkan peningkatan biaya belanja iklan dan kegiatan promosi lainnya, sebagai upaya merebut perhatian konsumen. Strategi marketing communication yang tepat dapat menghindarkan perusahaan dari kerugian akibat kegiatan promosi yang tidak efektif dan efisien. Dalam kajian pemasaran, kegiatan promosi yang efektif dan efisien dapat dimasukkan sebagai bagian dari konsep bauran komunikasi pemasaran (marketing communication mix).
Bauran komunikasi pemasaran merupakan penggabungan dari lima mode komunikasi dalam pemasaran, yaitu advertising, promosi penjualan (sales promotion), public relations, personal selling, dan direct selling. Sedangkan event dan exhibiton merupakan bagian dari bauran komunikasi pemasaran yang dikembangkan oleh bagian promosi penjualan. Komunikasi dalam kegiatan promosi penjualan membutuhkan media promosi seperti flyer, banner, poster, folder, katalog, dan profil perusahaan. Sedangkan pada personal selling, media-media tersebut juga dibutuhkan khususnya untuk membantu sales (tenaga penjualan) dalam menawarkan produk pada konsumen secara tatap muka.
Hubungan antara pemasaran dan komunikasi merupakan hubungan yang erat. Komunikasi merupakan proses penyampaian simbol-simbol yang diartikan sama antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok dan kelompok pada massa. Komunikasi dalam kegiatan pemasaran bersifat kompleks, yang tidak sesederhana seperti berbincang-bincang dengan rekan kerja atau keluarga. Bentuk komunikasi yang lebih rumit akan mendorong penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan, melalui strategi komunikasi yang tepat dengan proses perencanaan yang matang.
Penggabungan kajian pemasaran dan komunikasi akan menghasilkan kajian “baru” yang disebut marketing communication (komunikasi pemasaran). Marketing communication adalah aplikasi komunikasi yang bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran sebuah perusahaan. Aplikasi itu sangat dipengaruhi oleh berbagai bentuk media yang digunakan, daya tarik pesan, dan frekuensi penyajian. Penerapan komunikasi bisnis sangat penting, khususnya dalam penyampaian pesan-pesan komunikasi yang dihadapkan pada berbagai persoalan, semisal perbedaan persepsi, perbedaan budaya, dan keterbatasan media yang digunakan.
Marketing communication juga dapat dinyatakan sebagai kegiatan komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada konsumen dengan menggunakan berbagai media, dengan harapan agar komunikasi dapat menghasilkan tiga tahap perubahan, yaitu perubahan pengetahuan, perubahan sikap, dan perubahan tindakan yang dikehendaki. Adapun jenis media yang dapat digunakan adalah folder, poster, banner, flyer, televisi, radio, majalah, suratkabar, dan media lainnya.
Definisi lain marketing communication adalah kegiatan pemasaran dengan menggunakan teknik-teknik komunikasi yang bertujuan untuk memberikan informasi pada orang banyak agar tujuan perusahaan tercapai, yaitu terjadinya peningkatan pendapatan atas penggunaan jasa atau pembelian produk yang ditawarkan. Marketing communication merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memperkuat strategi pemasaran, guna meraih segmentasi yang lebih luas. Kajian ini dapat juga dikatakan sebagai upaya untuk memperkuat loyalitas pelanggan terhadap produk, yaitu barang dan jasa yang dimiliki perusahaan. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Marketing Communication Taktik & Strategi, John E. Kennedy dan R. Dermawan Soemanagara, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006).


Masa Kini - suratkabar harian. Terbit pertama kali pada 29 Januari 1966 di Yogyakarta. Jargonnya “Berprinsip-Independent-Membangun”. Saat Orde Baru berkuasa, semangat koran ini sesuai dengan Pejabat Presiden Soeharto yang pada awal pemerintahannya mengagendakan pembangunan. Seperti koran-koran di pengujung 60-an, Masa Kini bersikap antikomunis. Pada saat itu empat halaman Masa Kini diisi berita seputar perburuan terhadap sisa-sisa PKI.
Koran yang didirikan Jajasan Masa Kini itu cenderung mendukung suara pemerintah. Termasuk pada 1967, saat Adam Malik mengajak mahasiswa turut serta dalam pemberantasan korupsi. Di bawah Pemimpin Umum/Koordinator, Drs. Muhadi Sofyan dan Wakil Pemimpin Umum, Drs. Muidin, Masa Kini memusatkan beritanya pada peresmian gedung-gedung sekolah di wilayah kota maupun pinggiran Jogjakarta. Masa Kini juga menyediakan rubrik “Almamater” yang menyiarkan prestasi dan kegiatan kampus-kampus di Yogyakarta.
Kerjasama Drs. Muidin dan Drs. Muhadi Sofyan tak hanya menghasilkan suratkabar, tetapi, pada 8 Agustus 1979, mendirikan Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKM). Pada saat itu, AKM merupakan  satu-satunya lembaga pendidikan di Yogyakarta yang membuka jurusan jurnalistik sampai jenjang diploma.
Harga langganan koran ini Rp 1200.-, harga agen Rp 1.300,- dan eceran Rp 1.400,-. Harga itu cukup menutupi biaya cetak di CV ASCO Jogjakarta. Masa Kini mampu bersaing dengan koran-koran lain. Koran ini sanggup bertahan hingga 15 tahun.
Masa Kini berjasa mendidik sastrawan dan cendekiawan Yogyakarta. Abdul Munir Mulkhan dan para cendekiawan Yogyakarta menajamkan pena di sini. M.T. Arifin mengasah analisisnya di bidang sejarah militer Indonesia, juga di koran ini. Sebelum Masa Kini kolaps (sekitar 1990-an), M.T. Arifin semat menjadi salah satu redakturnya. Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), juga sempat mengasuh rubrik “Ruang Sastra”. Pada 1973-1976, ia jadi redaktur sekaligus wartawan koran yang berkantor di Jalan Sultan Agung 58 Ahmad yani Yogyakarta ini. Koran lokal ini juga membantu mengukuhkan Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Pendidikan. (Tim EPI/KG. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indexpress/Jurnas)


Maturidi (Samarinda, 12 September 1963) - adalah Ketua PWI Kaltim saat ini. Pria berijazah sarjana pertanian ini mengawali karir jurnalistiknya di Harian Surya Surabaya pada tahun 1990. Setelah delapan tahun mengabdi di koran tersebut, Maturidi hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur dan menjadi wartawan Suratkabar Harian Metro Balikpapan selama empat tahun (1999-2003), koran yang bernaung di bawah payung Kaltim Post Group. Terakhir Maturidi tercatat sebagai wartawan di Suratkabar Harian Tribun Kaltim. 
Maturidi yang menikah dengan Herlina Susanti dan dikaruniai tiga anak ini, memilih rumah di Jalan Kadrie Oening Kompleks PWI Kaltim Blok C No 28 Samarinda sebagai tempat tinggal keluarganya. (Tim EPI/KG/Istimewa) 
Mawa - suratkabar berbahasa Jawa, yang terbit tiga kali seminggu. Motonya “Kanggo mbukak soewaraning kaoem protestan sadengah bangsa lan agama, kawetokake dening PKI lan SR”. Moto ini menunjukkan bahwa Mawa yang juga menggunakan tulisan Jawa dan terbit antara tahun 1925-1926, merupakan suratkabar PKI.
Mawa yang terbit 4 halaman, berada di bawah badan penerbit Merdeka Heutan, Solo. Sebagai suratkabar partai, hampir semua berita dan artikel Mawa bercirikan suara kaum buruh. Bahkan, seringkali artikel-artikelnya berbau agitasi, yakni berupa ajakan kepada kaum buruh seluruh dunia untuk melawan kapitalis dan imperalis.
Artikel lain baik yang ditulis para wartawannya sendiri maupun karya penulis luar, selalu berkaitan dengan ajaran dan kegiatan komunis. Meskipun demikian, Mawa juga menyajikan berita-berita yang bersifat umum dari dalam dan luar negeri, misalnya tentang ilmu pengetahuan, kesusastraan Jawa dan lain-lain. Bahkan, walau porsinya termasuk kecil sajian karya sastra yang dimuat suratkabar Mawa dikelola cukup baik. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)

     
Medan Boediman - suratkabar mingguan. Terbit di Yogyakarta pertama kali pada 4 Agustus 1915 menyajikan bermacam pengetahuan dan keterampilan yang disertai gambar sebagai penjelas penyampaiannya. Semboyannya, “soerat minggoean dengan bergambar, berisi roepa-roepa kepandaian (Algemeene ontwikkeling), yang berfaedah oentoek orang djaman sekarang.”
Pada edisi perdana halaman 9, misalnya, dimuat tulisan tentang pemeliharaan ajam, disertai gambar jenis-jenis ayam, ayam yang bagus, juga gambar bagaimana sebuah kandang ayam yang baik dan sehat.
Medan Boediman mematok harga langganan  2.25 Gulden tiap tiga bulan untuk wilayah Hindia Belanda dan 3 Gulden tiap tiga bulan untuk luar Hindia-Belanda, terbit ketika kaum bumiputera menyadari pentingnya kemajuan bagi bangsa. Para tokoh bumiputera sadar, kaum bumiputera membutuhkan pendidikan untuk mencapai kemajuan. Mereka lantas bergerak dengan mendirikan perkumpulan seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Mangoenhardjo, Regentenbond, di samping juga perkumpulan-perkumpulan kecil seperti perkumpulan dagang, perkumpulan memajukan kepandaian, dan lain-lain.
Saat itu, bahasa Belanda memegang peran penting. Pasalnya, buku-buku pengetahuan yang ada kebanyakan berbahasa Belanda, sementara buku-buku berbahasa Melayu dan Jawa kebanyakan masih berisi dongeng-dongeng. Bisa dimahfumi jika tokoh-tokoh terkemuka hampir pasti semua menguasai bahasa Belanda. Medan Boediman bertanya, “Bagaimanakah soepaja bangsa kita jang tiada berbahasa Belanda dapat menambah kepandaiannja?”
Medan Boediman ingin memenuhi kebutuhan memperoleh kepandaian bagi para bumiputera yang tidak menguasai bahasa Belanda dengan menyajikan pengetahuan dan keterampilan dalam bahasa Melayu. Di edisi perdana, Medan Boediman menjelaskan, “beberapa kepandaian (Algemene ontwikkeling) jang menoendjoekkan djalan kemadjoean jang gampang dilakoekan, dengan ditoendjoekkan dengan gambar.”
Menurut Medan Boediman, untuk mewujudkan kemakmuran negeri dibutuhkan pemahaman atas tiga hal, yaitu pertama, persoonlijke factor. Medan Boediman membahasakannya sebagai “badan dan djiwa orang satoe-persatoe”, meliputi antara lain kesehatan, kekuatan (sport), dan semangat. Kedua, natuurtlijke factor, yaitu pemahaman atas kondisi alam. Faktor ini mendorong penguasaan ilmu pengelolaan tanah, pemeliharaan binatang, dan keterampilan lain yang berkait dengan kondisi alam. Ketiga, maatschappelijke factor, yaitu faktor-faktor yang menyangkut aturan-aturan hidup, meliputi keberadaan sekolah-sekolah, kemajuan perdagangan dan kemajuan pertukangan.
Medan Boediman membagi 12 halaman isinya menjadi delapan rubrikasi, yaitu “Dari medja redactie”, tempat redaksi berpendapat atas suatu fenomena yang sedang berlangsung; “Pendapatannja toean-toean Boediman”, berisi artikel-artikel para Boediman (sebutan untuk menyebut para tokoh Bumiputera yang menjadi pendukung Medan Boediman); “Fikiran dan Timbangan”, berisi berita singkat yang dikutip dari suratkabar lain, “Pertimbangan baik atau tidak tentang boekoe-boekoe jang baharoe keloear”, berisi uraian singkat tentang buku-buku baru baik dalam bahasa Belanda maupun bahasa lainya, “Pekabaran jang penting”, berita singkat dari tentang peristiwa-peristiwa penting, “Roepa-roepa ilmoe”, berisi pelbagai pengetahuan seperti aturan-aturan negeri, adat istiadat, bahasa, wayang dan gamelan, ilmu tani, kerajinan, dagang, dan lain-lain; “Soal dan Djawab”, berisi surat dari pembaca serta jawaban redaksi; dan rubrik berisi ulasan singkat mengenai staatblad dan kegiatan ambtenaar yang penting.
Medan Boediman tidak hanya mengandalkan tulisan redaksi, tetapi juga menerima kiriman-kiriman berita ataupun artikel dari para pembaca. Redaksi juga memfasilitasi para pembaca yang ingin memberikan kritik dan saran, yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda. (Tim EPI/KG. Sumber: Sunarno/Indexpress/Jurnas)
Medan Prijaji - suratkabar harian, terbit di Bandung Januari 1907.  Dianggap sebagai suratkabar Indonesia pertama sebab semua pengasuh, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.
Suratkabar ini didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo. Medan Prijaji koran pertama yang dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri. Medan Prijaji berbahasa Melayu.
Sebelum menerbitkan Medan Prijaji , Tirto Adhi Soerjo bersama HM Arsad, Oesman mendirikan badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften. Kantor redaksi koran ini beralamat di Jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). NV ini dicatat sebagai NV pribumi pertama dan sekaligus NV pers pertama. Modalnya 75.000 Gilden yang terdiri atas 3.000 lembar saham.
Isi koran ini menjadi kritik pedas bagi pemerintah kolonial dan tempat mengadu bagi setiap pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan. Oleh karena itu diperlukan usaha mandiri untuk mencetaknya. Maka calon pelanggan diwajibkan terlebih dahulu membayar uang muka berlangganan untuk satu kuartal, setengah atau satu tahun, sebagai setoran saham.
Tirto Adhi Soerjo melobi beberapa pangreh praja yang tertarik dengan gagasannya. Dua orang penyumbang dana besar adalah Bupati Cianjur R.A.A. Prawiradiredja dan Sultan Bacan Oesman Sjah. Masing-masing menyumbang 1.000 Gulden dan 500 Gulden. Dengan dana tersebut Medan Prijaji dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie Pancoran Betawi dengan format mingguan sederhana berukuran seperti buku atau jurnal mungil, 12,5cm x 19,5 cm (terbit tiap-tiap hari Jumat).
Rubrik tetapnya mutasi pegawai, salinan lembaran negara, pasal-pasal hukum, cerita bersambung, iklan, dan surat-surat. Terkadang artikel-artikel panjangnya didesain dalam dua kolom, namun kebanyakan satu kolom seperti jurnal.
Ketika pertama kali terbit di Bandung, Medan Prijaji mencantumkan moto di bawah logonya “Ja’ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja jang dipersamakan dengan Anaknegri di seloereoeh Hindia Olanda”.
Delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Soerjo di halaman muka edisi perdana, antara lain memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.
Buku Sejarah Pers Sebangsa, menyebut nama-nama para pengelola Medan Prijaji . Sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur) adalah Tirto Adi Soerjo, redaktur A.W. Madhie, Raden Tjokromidjojo, Raden Soebroto (ketiganya dari Bandung), R.M. Prodjodisoerjo dan R. Kartadjoemena di Bogor, dan Paduka Tuan J.J. Meyer, pensiunan Asisten Residen di 's Gravenhage, sebagai redaktur di Belanda. Juga disebut beberapa jurnalis bangsa Tiong Hoa dan pribumi antara lain Begelener, Hadji Moekti dan lain-lain.
Pada tahun 1910, setelah pindah ke Betawi, Medan Prijaji terbit tiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu dan hari raya. Nomor 1 terbit pada 5 Oktober 1910.
Rubrik yang paling digemari adalah surat dan jawaban serta penyuluhan hukum gratis yang disediakan Medan Prijaji untuk rakyat yang berperkara. Usaha inilah yang menjadikan koran ini berkembang. Simpati pun datang melimpah hingga pada tahun ketiga terbitannya, tepatnya Rebo 5 Oktober 1910, Medan Prijaji berubah menjadi koran harian dengan 2.000 pelanggan. Menurut laporan Rinkes, untuk koran Eropa yang terbit di Hindia pun nagka ini sudah bagus, apalgi untuk koran Melayu.
Ketika pertama kali terbit menjadi koran harian, nomor penerbitan mencsntumkan angka tahun IV. Hal ini dilakukan karena pada tahun I, II, dan III Medan Prijaji masih merupakan koran mingguan yang terbit di Bandung. Di bawah judul Medan Prijaji tertulis moto “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia”. Pada zaman itu, mencantumkan moto seperti di atas merupakan sebuah keberanian luar biasa. Medan Prijaji menjadi suratkabar pembentuk pendapat umum, berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Kecaman hebat dan pedas juga pernah dilontarkannya terhadap tindakan-tindakan kontroler.
Medan Prijaji mengambil posisi sebagai corong suara publik. Sebagai aktivis pergerakan, tulisan-tulisan Tirto dalam Medan Prijaji tak pernah berbasa-basi, tapi menunjuk muka langsung. Hampir tak ada satu pun kebijakan kolonial yang dirasa memberatkan rakyat yang lolos dari pemberitaan Medan Prijaji .
Salah satu kasus yang terkenal adalah perkara di Kawedanan Cangkrep Purworejo. Medan Prijaji dengan bahasa terbuka memuat artikel tentang persekongkolan jahat antara Aspirant Controleur Purworejo A. Simon dengan Wedana Tjorosentono yang mengangkat Lurah Desa Bapangan yang tak beroleh dukungan warga. Sementara kandidat pertama yang didukung, Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dikenakan hukuman krakal. Terbakar oleh amarah melihat penyalahgunaan wewenang itu Tirto menyebut pejabat tersebut sebagai monyet penetek atau ingusan dalam Medan Prijaji No 19, 1909. Investigasi atas kasus itu didukung 236 warga Desa Bapangan yang mengirim surat kepada Tirto, berisi dukungan “pasang-badan” seandainya Tirto kena denda atas tulisannya.
Tirto memang kalah dalam perkara persdelict dengan A. Simon, dan dibuang ke Lampung selama dua bulan. Tapi dari kasus itu, Medan Prijaji mendapat perhatian pers di Belanda dan Tirto berkesempatan berkenalan dengan Anggota Majelis Rendah Belanda Ir.  H.H. van Kol dan pemuka politik etik Mr. C. Th. van Deventer.
Dari sepak terjang itu Medan Prijaji menjadi model pertama dari apa yang kelak disebut sebagai suratkabar pergerakan, mendahului Sarotomo, Soeloeh Indonesia, ataupun Daulat Ra'jat. Yang khas Medan Prijaji adalah kegiatannya yang tak berhenti dengan sekadar memberitakan sebuah peristiwa atau kebijakan yang merugikan publik, namun terjun langsung menangani kasus-kasus tersebut. Medan Prijaji, menjadi pelopor dari genre jurnalisme, yang puluhan tahun kemudian dikenal dengan sebutan jurnalisme advokasi.
Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 pada tahun VI penerbitannya. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji ditutup. Tirto Adhi Soerjo dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja). Dua bulan setelah tutup, Jaksa Agung Hindia Belanda A. Browner menjatuhkan vonis bahwa Tirto bersalah telah menulis penghinaan kepada Bupati Rembang, dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto dan proses pendirian Medan Prijaji diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel Jejak Langkah, buku ke-3 dalam Tetralogi Buru. (Tim EPI/KG. Sumber: Jurnas)
Media Indonesia - suratkabar harian. Pertama kali diterbitkan pada 19 Januari 1970. Sebagai suratkabar umum, Media Indonesia pada masa itu baru bisa terbit 4 halaman dengan tiras yang terbatas. “Tahun 1976, suratkabar ini berkembang dari 4 halaman menjadi 8 halaman,” ungkap Surya Paloh, Direktur Utama Media Indonesia. Sementara itu, tambahnya, perkembangan regulasi di bidang pers dan penerbitan terjadi. Di antaranya adalah perubahan SIT (Surat Izin Terbit) menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Dengan perubahan tersebut penerbitan dihadapkan pada realitas bahwa pers menanggung beban idealnya tapi juga harus tumbuh sebagai badan usaha.
Dengan kesadaran itu, pada tahun 1988 Teuku Yuosli Syah, selaku pendiri Media Indonesia, menggandeng Surya Paloh, mantan pimpinan suratkabar Prioritas yang ditutup karena pembredelan.
Dengan kerja sama ini, dua kekuatan bersatu, yaitu kekuatan pengalaman bergabung dengan kekuatan modal dan semangat, sehingga pada tahun itu juga lahirlah Media Indonesia dengan manajemen baru di bawah Bendera PT Citra Media Nusa Purnama. Sejak ditangani secara profesional oleh tim manajemen baru, Media Indonesia berubah menjadi sebuah suratkabar inovator, meliputi penciptaan rubrik, tata letak, dan perwajahan, yang kemudian banyak ditiru media-media serupa.
Langkah inovasi yang dilakukan Media Indonesia menjadikan ciri khasnya tersendiri, edisi Jumat menjadi Berita Real Estat dan Edisi Sabtu menjadi Berita Otomotif. Media Indonesia selama seminggu penuh memiliki 7 sisipan yakni “berita keuangan” yang terbit tiap hari Senin, “wisata” (Selasa), “delik-berita kriminalitas dan hukum” (Rabu), “berita konsumen” (Kamis) sementara untuk edisi hari Minggu yang tampil dengan gaya sebuah Majalah Berita Mingguan, memiliki “komunikasi bisnis”.
Media Indonesia yang sebelumnya hanya bertiras sekitar 5.000 eksemplar dan terbit hanya dengan 4 halaman, kemudian mencapai tiras 250.000 eksemplar dengan 20 halaman. Koran ini juga dicetak di percetakan milik sendiri, P.T. Media Indonesia, Jakarta. Bahkan kini telah menempati kantor  milik sendiri di kawasan Delta Kedoya Kebayoran Baru.
“Untuk meraih keberhasilan di tengah persaingan bukanlah hal yang gampang. Begitu pula untuk membuat sebuah penerbitan tetap eksis di tengah kompleksnya tantangan, memerlukan daya tahan yang tak pernah boleh luntur,” tandas Surya Paloh. “Pengalaman kami menunjukkan, dunia penerbitan memiliki karakter tersendiri. Ketika kami baru memulai, kami yakin bahwa dalam mencapai sebuah keberhasilan, cukup diperlukan modal, tekad serta konsentrasi daya dan pikiran. Tetapi ketika kami berada di tengah perjalanan, kami saksikan modal serta pencurahan segala daya dan pikiran saja, ternyata tidak cukup.
Ia baru memadai apabila ada perhatian dan dukungan dari luar, seperti masyarakat. Perhatian dan dukungan tersebut, mendorong kami dari hari ke hari, mencoba selalu peka. Kami harus tanggap terhadap apa yang diinginkan masyarakat sebagai relasi dan pembaca Media Indonesia yang memiliki wawasan dan persepsi bahwa membaca suratkabar, merupakan suatu kebutuhan penting,” tambahnya panjang lebar.
 Media Indonesia diterbitkan oleh PT. Citra Media Nusa Purnama, beralamat  di Komplek Delta Kedoya, Jalan Pilar Mas Raya Kav. A-D Kedoya Selatan, Kebon Jeruk-Jakarta Barat 11520. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Media Massa adalah istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Media massa pada dasarnya diartikan sebagai sebuah keteraturan yang dimaksudkan untuk berkomunikasi secara terbuka dan pada suatu jarak, untuk sejumlah penerima dalam jangka waktu yang singkat. “The organized means for communicating openly and at a distance to many receivers within a short space of time.” (McQuail, 2000:17). (Tim EPI/NH)


Media Kits - Ketika mengirimkan siaran pers, publicity, atau advertorial, anda perlu melengkapinya dengan media kits, yang antara lain terdiri dari siaran pers, factsheet (tulisan yang membagi atau mengurutkan informasi perusahaan secara ringkas),  profil perusahaan atau brosur korporat, foto produk yang anda buat atau akan anda jual, dan katalog produk.
Beberapa bentuk publikasi ini penting untuk membantu editor suratkabar, majalah, televisi, dan radio dalam mengetahui posisi anda dan informasi yang akan anda sampaikan pada khalayak. Ketika mengirimkan siaran pers, anda harus melakukan konfirmasi pada orang-orang yang namanya tercantum di tulisan anda. Hal ini bertujuan untuk::

1. Menghindari kesalahan penyebutan nama  dan jabatan.
2. Menghindarkan kesalahpahaman dalam   pencantuman kutipan kata-kata seseorang.
3. Menghindarkan kesalahan penulisan label  atau penjelasan produk, karena mungkin   saja terdapat perubahan.
4. Memperoleh persetujuan dari eksekutif   puncak; apakah tulisan anda sudah dapat   dikirimkan atau masih harus dikoreksi.
Metode penulisan piramida terbalik berarti bahwa bagian yang paling mengerucut (di bawah) merupakan informasi yang tidak terlalu penting, sehingga jika editor suratkabar dan majalah melakukan pemotongan kalimat, mereka akan memotong kalimat yang paling bawah. Mengapa demikian, karena jumlah kata di tulisan anda harus sesuai dengan ruang yang tersedia untuk anda. Jika ada kelebihan, mereka akan melakukan penyesuaian dengan memotong kalimat atau paragraf yang tidak penting. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Marketing Communication Taktik & Strategi, John. E. Kennedy dan R. Dermawan Soemanagara, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006).


Media Terorisme - Terorisme jelas adalah ancaman kemanusiaan atas nama apa pun tindakan itu dilakukan. Terorisme biasanya dirumuskan secara singkat sebagai “puncak kekerasan (terrorism is the apex of violence). Kekerasan bisa terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror yang tanpa kekerasan. Menciptakan rasa ketakutan dan kecemasan yang mendalam adalah tujuan pelaku teror. Untuk itu, mereka biasanya melakukan taktik perang mental atau perang urat syaraf, sebagai bagian dari strategi propaganda untuk menakut-nakuti atau mengancam yang lain. Salah satu sarana untuk perang mental ini adalah media.
Ini mengingatkan kita kepada pendapat Dr. Kent Lyne Oots, dalam bukunya A Political Organization Aprroach to Transnational Terrorism (1986), yang mengutarakan sejumlah definisi mengenai “terorisme”, antara lain, sebagai “sebuah tindakan kriminal yang cenderung mencari publisitas”. Media bisa termanipulasi oleh para pelaku teror tidak hanya untuk mencari perhatian, tetapi sekaligus juga menjadi pengalih perhatian.
Kini, melalui media sebagai wahana publisitas, kita dilimpahi dengan informasi yang mengalir dengan kecepatan amat tinggi, termasuk informasi mengenai terorisme. Sayangnya, berita dan informasi yang masuk bagai banjir ke benak kita kiranya tidak selamanya akan membuat kita tercerahkan atau well-informed, tetapi ia bisa menciptakan kerapuhan emosional sebagai dampak psikologis dari budaya ilusi yang paling nyata bagi kesadaran.
Media memang bisa dijadikan saluran apa saja, yang baik maupun yang buruk, yang benar maupun yang salah. Media, misalnya, bisa mengingatkan orang akan bahaya krisis, konflik, dan kekerasan, tetapi media juga bisa menempatkan krisis sebagai komoditas berita dan mementaskan perang seperti halnya drama atau bahkan telenovela.
Barangkali itulah sebabnya mengapa Dr. Hassan Hanafi, pemikir Islam garda depan berkebangsaan Mesir lewat tulisannya, “Kejahatan Negara, Teror Rakyat” (Al-Ahram Weekly, Desember 1997) pernah mengatakan bahwa terorisme begitu sering dan bersemangat dibicarakan. Sedemikian seringnya, hingga media sendiri telah diteror.
Kini, begitu banyak berita tentang terorisme, tetapi orang jarang berpikir, bagaimana “teroris” menjadi teroris. Mengapa mereka dapat mengubah diri mereka menjadi bom manusia, dan menghancurkan diri mereka sendiri maupun orang lain. Seakan-akan mereka memang dilahirkan begitu saja sebagai teroris. Sementara masyarakat tak dianggap bertanggung jawab karena telah menciptakan teroris.
Anehnya, menurut Hassan Hanafi lagi, setiap kali disebutkan di media Barat, terorisme ini kaitannya selalu dengan wilayah Arab, Timur Tengah, atau Islam. Maka muncullah stereotipe bahwa orang Arab adalah teroris, Islam adalah kekerasan, Timur Tengah adalah pengekspor bom manusia. Stereotipe semacam inilah, misalnya, yang hendak dibongkar oleh Noam Chomsky lewat bukunya, Menguak Tabir Terorisme Internasional (1991).
Pasalnya, media juga ikut mendefinisikan siapa yang teroris dan siapa yang bukan-teroris. Pahlawan versus pembangkang seringkali didefinisikan karena posisi ideologis dan pragmatisme media. Kita dan bukan-kita, orang baik dan orang jahat juga tak selamanya ditentukan oleh benar atau salahnya tindakan yang seharusnya menuntut pembuktian, tetapi semua itu adalah hasil konstruksi agen-agen yang bertarung di balik media yang termanifestasi di halaman pemberitaannya.
Sudah lazim diakui bahwa Amerika adalah imperium media dunia. Media raksasa seperti CNN atau Time telah menjadi bagian penting yang membangun citra tentang Amerika dan siapa sekutunya atau siapa musuh Amerika. Dengan menguasai media, penafsiran tentang terorisme sepenuhnya ada dalam genggamannya. Lantas, mengapa media raksasa juga bisa tidak objektif dalam menampilkan isu-isu yang menyangkut kepentingan apa yang mereka definisikan sebagai “bukan-kita”, the other, atau “musuh Amerika”. Jelas di sini, media tidak bebas nilai. Media selalu punya posisi ideologis, dan termasuk media arus-utama yang mengklaim diri sebagai paling bebas atau paling netral sekalipun.
Media Amerika adalah potret yang paling gamblang bagaimana minornya mereka memberitakan Muslim dan Dunia Muslim. Hal ini pernah dikupas secara panjang-lebar oleh Greg Noakes lewat tulisannya, “Muslims and the American Press” (1988). Lebih jauh menurut Greg Noakes, “For most of part, American media coverage of Muslims and events in the Muslim world concentrates on the sensational. Standard media fare indudes coverage of political upheavals, acts of violence carried out by extremist group daiming to act in the name of Islam, perceived threats to American national interests, poor treatment of women, and outrageous human-rights abuses. Admittedly, there more than enough of these in the Muslim world, but they are extremes that seem to attract the attention of reporters and editors.”
Diperkisruh lagi para “ekstremis” dan “teroris” justru selalu berusaha memanfaatkan media untuk memperoleh liputan dan publikasi sebesar-besarnya. Lewat media para teroris ingin menciptakan kesan dan menyampaikan pesan kepada khalayak, demi meraih tujuan jangka panjang mereka. Karena itu, fokus aktivitas terorisme yang terutama sebenarnya adalah media massa. Mereka akan melakukan apa saja untuk meyakinkan televisi, radio, dan suratkabar agar memuat aksi mereka sampai sedetail-detailnya, untuk memikat penonton.
Bagi teroris tampaknya media massa sangat penting tidak hanya karena faktor luasnya liputan yang bisa dijangkau media, tetapi juga lantaran dianggap bisa menafsirkan sebaik-baiknya “videologi” ataupun “pertunjukan” yang mereka lakukan. Media massa-lah yang dianggap paling cerdas memilih sisi-sisi mana dari aksi teroris yang perlu dan tidak perlu dilaporkan. Sementara teroris yang “kreatif” juga akan terus menggiring media untuk menjual sensasi-sensasi di balik aksi teror mereka.
Untuk bisa bertahan hidup tak jarang ada saja media yang butuh skandal dan krisis untuk mengatrol tiras dan menarik perhatian penonton. Dalam hal pertunjukan “teater teroisme” ini media memang cukup “kreatif” melakukan dramatisasi. Sayangnya, kekuatan inilah yang bisa menjadikan media sebagai “media terorisme”, karena media massa sendiri telah terteror. Dalam arti media justru telah “menjual” terorisme sebagai komoditas berita semata. Pendeknya, mereka telah menjual kekerasan dan teror dalam media, bahkan media itu sendiri akhirnya yang melakukan kekerasan dan teror lewat komoditas informasi yang diberitakannya. Fenomena inilah, misalnya, yang dikupas secara kritis oleh George Gerbner lewat tulisannya “Violence and Terror in and by the Media” (1992)”.  (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Sirnanya Komunikasi Empatik, Krisis Budaya Komunikasi dalam Masyarakat Kontemporer, Idi Subandy Ibrahim, Penerbit Pustaka Bani Quraisy dan Fiskontak, Bandung, 2004).


Media Watch - Dewasa ini hampir di setiap kota besar di Indonesia terdapat organisasi media watch. Awalnya pembentukan organisasi yang bertujuan untuk mengawasi media ini, seperti Lembaga Konsumen Pers yang dideklarasikan di Surabaya 5 Maret 1999, sangat tidak populer. Namun dalam perkembangan kebebasan pers, masyarakat menyambut baik kehadiran lembaga-lembaga pengawas media ini. Di mana-mana disuarakan keluhan masyarakat tentang “pers yang kebablasan”, “pers yang bias”, dan “pers yang tidak profesional”.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, media watch terus tumbuh berdasarkan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Selain Pantau dan Media Watch Consumer Center yang merupakan bagian dari jaringan besar, atau Bakor Pers yang bernaung di bawah industri pers Suara Pembaruan, banyak juga lembaga pengawas media kecil-kecilan yang independen, seperti Media Ramah Keluarga (Marka) dan Lembaga Konsumen Pers (LKP) di Surabaya.
Seperti tercermin dari namanya, media watch mestilah berfungsi mengawasi media, atau setidaknya memantau media. Meskipun demikian, keanekaragaman motivasi, visi, misi, bahkan tendensi lembaga media watch membuat peran dan fungsinya pun beraneka ragam. Di Indonesia, misalnya, terdapat lembaga yang mengaku media watch namun berkonsentrasi pada “penguatan pers” dengan banyak melakukan pelatihan jurnalis.
Ada juga pimpinan media watch yang sering dalam ceramahnya mengatakan “kita ini punya kekuatan/hak apa mengritik media. Itu kan modalnya sendiri, terserah pemilik media mau diapakan medianya.” Namun masih dalam kesempatan yang sama, dia menunjukkan gambar-gambar atau bahasa-bahasa yang melanggar etika, standar, dan hukum. Yang berarti, dia tengah mengritisi media massa! Apalagi, dengan lembaganya menggunakan nama media watch, bagaimana mungkin fungsi itu dibantah sendiri?
Selain “penguatan pers” dan “pengawasan terhadap pelanggaran standar dan etika jurnalistik”, beberapa media watch di Indonesia juga bergerak di bidang “pengkajian secara ilmiah dampak sosial yang ditimbulkan oleh pemberitaan”, “kecenderungan bias gender”, “penanganan korban-korban pers”, “pemberdayaan masyarakat konsumen media”, “penegakan etika dan hukum pers”, “advokasi masyarakat”, dll. Dengan demikian kekuatiran banyak pihak mengenai tumpang-tindihnya pekerjaan media watch antara satu lembaga dengan yang lain, sebetulnya tidak beralasan.
Sebagaimana tercantum dalam UU No. 40/1999 tentang Pers, Pasal 17 ayat 1 dan 2, media watch diharapkan tumbuh dari masyarakat. Masyarakat sebagai konsumen media memiliki hak mengritisi produk yang dibelinya/dikonsumsinya. Menurut Virginia Whitehouse, Ph.D, seorang Associate Professor Studi Ilmu Komunikasi di Whitworth College di Spokane, Washington, pengawasan media dapat saja dilakukan oleh kelompok di luar industri media, kelompok di dalam industri media itu sendiri, news councils (semacam Dewan Pers), dan organisasi profesi.
Dengan adanya lembaga pengawasan media, memang ada kalangan pers/jurnalis yang merasa terancam. Ini diungkapkan dengan kalimat-kalimat sinis seperti, “Ada-ada saja”, “Kurang kerjaan”, “Usil”, “Ikut campur”, dan semacamnya. Padahal media watch tidak perlu menjadi ancaman bagi media yang melaksanakan standar jurnalisme dan kode etik profesi. Justru tidak sedikit media watch yang kemudian terbukti menjadi mitra institusi pers. Banyak alasan bagi pers untuk menerima media watch sebagai mitra, di antaranya:
1. Media watch dapat berfungsi sebagai litbang eksternal, yang dengan demikian akan independen dan obyektif. Input dan feedback litbang eksternal ini dapat berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan produk pers.
2. Media watch dapat menjadi jendela, di mana insan pers dapat melihat rumah tetangga (kompetitor). Kritik dan pandangan media watch tentang satu institusi pers atau tentang seorang jurnalis (kelebihan dan kelemahannya), tentu bermanfaat bagi institusi pers atau jurnalis lain.
3. Media watch dapat menjadi wadah/forum/media bertukar pikiran antar-jurnalis dan insan pers.
4. Media watch dapat mendorong tingkat baca (kuantitas) dan daya baca (kualitas) masyarakat, yang pada akhirnya menghidupkan dunia media massa.
Memang kehadiran media watch dapat berdampak menumbuhkan kesadaran masyarakat akan perlunya penegakan etika dan hukum media, yang bermuara pada meningkatnya kasus-kasus pers di pengadilan. Namun, kekhawatiran ini hanya dirasakan oleh media yang memang kerap melanggar etika dan hukum. (Tim EPI/Wid. Sumber: Media Wacth, Mitra atau Ancaman bagi Kebebasan Pers, Sirikit Syah, dalam buku Humanisme dan Kebebasan Pers, Menyambut 70 Tahun Jakob Oetama, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001).


Mekar - majalah. Diterbitkan pertama kali tahun 1949 oleh Persatuan Istri Tentara (Persit). Nj. R. Hidajat mengetuai redaksi yang beranggotakan Nj. Widja Latif dan Nj. Djatnika S.d.R., sementara Nj. Abdoelrahman bertindak selaku administrator. Mulanya, majalah ini bernama “Wanita”, dan menjadi “Mekar” pada ulang tahunnya yang ke delapan tahun 1954, dengan jargon “Majalah Bulanan untuk Wanita”.
Sejak awal Mekar sering menampilkan profil Ibu Negara Fatmawati. Foto-foto Bu Fat dengan pose anggun menghiasi halaman-halamannya. Bu Fat adalah pelindung Persatuan Isteri Tentara (Persit).
Di halaman 16, edisi 9, tahun 1955, Mekar mewakili 10 organisasi wanita-wanita Katolik, Isteri Sedar, Bhajangkari, PWKI, Sehati, Ikatan Perawat Wanita Indonesia, Perwari, PIKT, IKAL, dan Pertiwi--menyiarkan pernyataan panjang berisi penolakan atas pernikahan Soekarno-Hartini. Tulisan satu halaman penuh itu berjudul “Pernjataan Organisasi Organisasi Wanita terhadap Perkawinan Presiden dengan Ny. Hartini”.
Pernyataan itu dibuat sehubungan dengan belum adanya aturan tentang perkawinan presiden dan wakil presiden. Mereka menganggap pernikahan Ir. Soekarno dengan Ny. Hartini adalah urusan Sdr. Ir. Soekarno pribadi “jang harus ditanggungnja dengan segala konsekwensinja”.
Mekar mengajukan 6 tuntutan, salah satu di antaranya bahwa dalam semua “kunjungan dan perdjalanan resmi P.J.M. Presiden Republik Indonesia tidak disertai Nj. Hartini”. Hartini juga tidak diperkenankan melakukan tugas-tugas sosial (social function) sebagai Ibu Negara, tidak diberikan penghormatan, biaya rumah tangga tak boleh ditanggung negara serta tidak diperkenankan menempati Istana Negara. Lebih lanjut Persit membuat kesimpulan bahwa perkawinan Soekarno-Hartini harus segera diatur dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. (Tim EPI/KG. Sumber: Reni Nuryantif/Indexpress/Jurnas)


Mekar Sari - majalah bahasa Jawa. Merupakan salah satu dari sedikit penerbitan berbahasa daerah yang masih bertahan. Terbit 2 (dua) kali sebulan, yaitu pada tanggal 1 dan 15 tiap bulannya. Oleh karena itu, tertulis “Kalawarta Dwikala Basa Djawa” (“Dwi” artinya dua, dan “kala” berarti waktu). Saat itu Mekar Sari dijual dengan harga eceran Rp. 2,00 per eksemplar dan harga langganan Rp. 4,00 per bulan.
Majalah di bawah naungan Kedaulatan Rakyat Group ini, terbit perdana pada 1 Maret 1957 setebal 28 halaman. Para pengelolanya adalah Soebekti (pemimpin redaksi) dibantu oleh M. Wonohito, Darmosoegito, Sastrowarjono, Dr. Tjokroatmodjo, Soedardjo Tjokrosisworo, Any Asmara, Ny. Brotopranto dan S. Probohardjono. Juga didukung Sukamto dan Achmad sebagai juru foto. Mekar Sari waktu itu memiliki kantor redaksi di Solo dan Yogya.
Pada tahun 1987, Mekar Sari pernah terbit tiga kali sebulan, yaitu tiap tanggal 1, 10, dan tanggal 20. Sejak tahun 1989 terbit seminggu sekali setiap hari Senin.
Mekar Sari memilih basa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa yang lebih banyak digunakan masyarakat agar lebih komunikatif. 
Di antara tokoh dan pakar bahasa yang pernah bergabung dengan Mekar Sari, antara lain Prof. M.M. Djoyodiguno (UGM), Arswendo Atmowiloto, Handung Kussudihardjo (pendiri Ketoprak Sapta Mandala), Sri Rahayu Prihatmi, KRT Pusponingrat (Kraton Yogya), Partohadiningrat dan lain-lain.
Mekar Sari memilih berita-berita yang umum, enteng, tapi bukan berarti tanpa isi. Setiap penerbitan berusaha menghadirkan ilmu pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan masyarakat, sehingga dapat mencukupi kebutuhan lahir batin. Bahkan koran ini juga menyuguhkan tulisan-tulisan yang populer, mudah dimengerti dan tidak bertele-tele. Bahasanya akrab, bahasa persaudaraan dan demokratis. Lebih memilih memuat artikel yang tampak sepele tapi berkaitan dengan kebutuhan hidup masyarakat, daripada isi yang akan menjadi perbincangan politik.
Terbit dengan 24 halaman hanya berlangsung dua tahun. Setelah itu menjadi 50 halaman dengan rubrik beraneka ragam. Mekar Sari telah beberapa kali mengalami perubahan rubrik, pernah sampai 27 rubrik, antara lain gagasan (tajuk), laporan (laput) dan hukum. Kemudian basa & sastra (bahasa dan sastera), oncek-oncek (peribahasa), ayo sing tau basa Jawa (ayo belajar bahasa Jawa) yang mempelajari arti kata. Ada juga rubrik internasional, nasional, seni budaya, pribadi binuka (profil), gupita sari (puisi).
Mekar Sari juga dilengkapi rubrik Koran Masuk Desa (KMD), njajah desa, milang kori (laporan daerah), pedhalangan (nama-nama jagad pewayangan), tokoh wayang (profil tokoh wayang), almanak Mekar Sari, kasiate (khasiat). Kemudian ada pula rubrik percaya ora (pengalaman nyata tentang cerita lelembut), roman sejarah, kawruh sepala (pengetahuan penting), dongeng bocah (cerita anak), kaplingesem (humor), dan puspa rinonce (tembang sekar pangkur).
Penyebaran Mekar Sari sebagian besar tersebar di Daerah Istimewa Yogyakara dan Jawa Tengah bagian selatan, yaitu daerah Kedu, Magelang, Banyumas (Dulangmas). Menyusul Jawa Timur dan kota-kota lain di seluruh Indonesia dan bahkan Suriname.
Penyelenggara Mekar Sari adalah,  Sumarsono Mangundiwiryo, BSc (Pemimpin Umum), Hesmunendar, BSc (Pemimpin Perusahaan),  Endang Hadiyati (Wakil Pemimpin Perusahaan), Suwariyun (Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab), Y. Sarworo Suprapto (Redaktur Pelaksana I), Sutopo Sugihartono (Redaktur Pelaksana II), Rakiman SH, Warisman, dan Suwarsito (Redaktur), Retno Anggraeni (Sekretaris Redaksi). Mekar Sari diterbitkan oleh PT. BR Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta dengan SIUPP No. 143/SK/MENPEN/SIUPP/C.1/1986 tanggal 8 April 1986. Terbit Perdana pada 1 Maret 1957, ISSN : 0543 - 4076, Alamat Redaksi : P. Mangkubumi 40-42, telepon (024) 566586 Yogyakarta. (Tim EPI/KG. Sumber: Jurnas)
       

Memorandum - suratkabar harian, terbit di Surabaya pagi dan biasa disebut Memo. Didirikan tokoh pers Surabaya H. Agil H. Ali pada tahun 1989, di bawah penerbit P.T. Haji Agil Sejahtera. Embrio harian pagi Memorandum adalah Bulletin Mahasiswa yang diterbitkan H. Agil H. Ali ketika masih kuliah di Universitas Brawijaya, Malang.
Bulletin Mahasiswa berubah menjadi Mingguan Mahasiswa, kemudian menjadi Mingguan Memorandum, sebelum menjelma menjadi Harian Memorandum. Pada tahun 2007, Memorandum menjadi salah satu anak penerbitan Grup Jawa Pos, Surabaya dan berkantor di Jalan Karah Agung No. 45, kompleks Grup Jawa Pos Surabaya.
Memorandum yang hadir dengan format junior broadsheet mempunyai moto “Bekerja dan Membela Tanah Air”, sebagian besar menyajikan berita-berita kriminal. H. Agil H. Ali secara cerdik mengubah citra koran kriminal yang dianggap “kelas bawah” menjadi bacaan segmen menengah bawah. Bahkan, dalam perkembangannya, Memorandum yang sempat mencapai oplah 100.000 eksemplar, dan beredar di kota-kota di Jawa Timur,  mampu menjangkau segmen pembaca kelas menengah atas.
Sebelum bergabung dengan Grup Jawa Pos, Memorandum sulit untuk berkembang. Namun setelah bergabung dalam manajemen Grup Jawa Pos, koran ini mampu bangkit. Berdasarkan survei riset AC Nielsen pada tahun 2006, Memorandum termasuk enam besar koran yang paling banyak dibaca di Indonesia.(Tim EPI/KG/KMJP)


Memorie der Nouvelles - suratkabar pertama di Hindia Belanda. Terbit tahun 1615 dengan cara ditulis tangan. Diterbitkan sebagai berita dagang oleh Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Kompeni, atas perintah langsung Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen. Koran yang ditulis tangan merupakan hal yang biasa di Eropa saat itu. Memoire der Nouvelles diedarkan sampai ke Makassar dan Ambon, khususnya di kalangan Belanda. Sebagai berita pemerintah, isi koran ini tidak lepas dari sensor. Pihak Kompeni akhirnya memesan seperangkat mesin cetak dari Eropa.
Setelah tiba di Jakarta, percetakan ini ditempatkan di dalam Benteng Batavia. Pada tanggal 14 Maret 1688, terbitlah koran pertama yang dicetak di Batavia. Isinya aneka ragam peraturan yang berhubungan dengan perjanjian perdamaian dengan Makassar. Akhirnya percetakan ini dijual kepada Hendrick Brants dan Jan Brunning.(Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Menara - suratkabar mingguan, terbit di Manado, tahun 1933 hingga 1941. Kehadirannya bertepatan saat Indonesia sedang menyepakati resolusi berparlemen.
Itu sebabnya, Menara yang setiap minggu terbit 4 halaman, sering memuat seruan-seruan kepada pembacanya, dengan tujuan menyadarkan rakyat Indonesia untuk memahami isi dan maksud resolusi Indonesia Berparlemen.
Menara diterbitkan badan penerbit Oesaha Menara Manado, dengan agen di dua tempat, yakni di Jawa dan Amsterdam. Melalui agen-agen tersebut peredaran Menara menjangkau Pulau Jawa dan Negeri Belanda. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Menulis Berjamaah - Shalat berjamaah -demikian kata Nabi Muhammad-dua puluh tujuh kali lebih baik daripada shalat menyendiri. Pahalanya pun jauh lebih besar. Karena itu lakukanlah shalat secara berjamaah di tempat yang mulia. Demikian pula menulis. Mengapa lebih baik? Ya, banyak alasan, di antaranya sebagai berikut di bawah ini.
Dalam berjamaah (berkolaborasi) selalu ada imam atau seseorang yang dianggap paling senior yang bertindak sebagai model. Dosen Anda adalah imam yang memiliki pengetahuan dan pengalaman menulis.
Kolaborasi adalah ajang bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan. Di situ ada pembelajaran berjamaah (social learning). Salah satu prinsipnya adalah bahwa setiap orang memiliki kelebihan sendiri.
Imam pun -jika keliru- harus diperingatkan dengan santun dan lillahi taala. Jadi saling mengingatkan dalam kolaborasi justru membuat Anda semakin mengenal potensi diri dan membuat tulisan semakin bernas. Dalam kolaborasi setiap orang dibiarkan mengembangkan potensi dan kesenangannya, mungkin menulis puisi, fiksi, atau artikel opini. Komitmen dan nawaitu masing-masing menentukan sejauh mana Anda lari mengejar matahari.
Menulis berjamaah merupakan pendekatan nonkonvensional dalam menulis, khususnya dengan menerapkan metode kolaborasi. Menulis akan menjadi kegiatan yang berbeda bagi Anda dengan delapan “jurus”: memakai bahasa “gaul”, menggunakan gaya ekspresif dan imajinatif, mengutamakan praktek, menghargai proses, berkolaborasi dengan kolega dan “suhu”, berguru kepada “jagoan”, tidak membedakan proses menulis dalam bahasa ibu dan bahasa asing, dan berpegang pada kebenaran hubungan menulis-membaca. Penjelasan singkat dari delapan “jurus” itu adalah sebagai berikut.
Pertama, pemakaian bahasa “gaul” dimaksudkan agar mahasiswa merasa akrab dan tidak lelah ketika harus mencerna beberapa konsep teoretis untuk diaplikasikan dalam menulis. Belajar itu harus santai, tidak boleh merasa takut, capai, stres, apalagi frustrasi. Selama ini perkuliahan menulis “dipersulit” oleh mahasiswa dan dosen sendiri.
Kedua, definisi kalimat sebagai a group of words expressing a complete thought layak ditolak mentah-mentah. Definisi ini membohongi mahasiswa, padahal bahasa berperan untuk menyatakan cinta, kasih sayang dan rindu-dendam seperti saat berpuisi, berfiksi, dan bernarasi personal. Keterampilan menulis justru diawali dengan penggunaan bahasa secara ekspresif dan imajinatif seperti lewat catatan harian. Baru belakangan siswa dilatih menulis untuk menyatakan pikiran.
Ketiga, utamakan praktek dan anak-tirikan teori. Fakta bahwa jebolan jurusan linguistik dan sastra tidak produktif menulis membuktikan bahwa penguasaan teori menulis tidak menjamin produksi tulisan.
Keempat, lebih hargai proses daripada produk. Mahasiswa mesti dipandu lewat lorong panjang, berliku, dan kadang gelap-gulita. Ia berproses dalam prewriting, drafting, revising, editing, dan publishing. Dalam melewati tahap-tahap ini mahasiswa harus “tahan banting” saat diombang-ambing ketidakpastian. Proses penghayatan dan pengalaman inilah yang sering tidak dilihat (baca: tidak dihargai) oleh dosen yang bukan penulis. Ia cenderung mencari-cari kesalahan gramatik dan menyanjung ketepatan (accuracy) ketimbang kefasihan (fluency).
Kelima, belajar menulis itu mesti dilakukan lewat kolaborasi sebagai ajang tegur sapa antara kolega dan antara mahasiswa dengan dosennya. Saling koreksi dan memberi corrective feedback adalah cara efektif untuk membangun kesadaran reader-orientedness sekaligus cara untuk menangani kelas-kelas besar. “Dosa-dosa kecil” dalam menulis sering tidak disadari mahasiswa, kecuali ditunjukkan oleh pembaca lain sebagai anggota paguyuban kolaborasi.
Keenam, belajar menulis itu seperti belajar kungfu, seyogianya berguru kepada “sang jagoan” yang dibuktikan dengan karya-karyanya yang telah dipublikasikan. Kepada murid-murid setia, Sang Suhu dapat menjelaskan proses kreatif di balik karya-karya itu. Publikasi itu juga penting dipajang untuk menanamkan kepercayaan para murid akan kepakaran Sang Suhu. Dosen-dosen yang berkhotbah ihwal menulis tanpa unjuk publikasi akan sulit mendapat kepercayaan muridnya.
Ketujuh, proses menulis dalam bahasa ibu maupun dalam bahasa asing sama saja. Yang berbeda adalah sistem simbol yang dipergunakan. Keterampilan dalam berbahasa Indonesia dapat ditransfer ke dalam bahasa asing. Banyak ilmuwan jebolan luar negeri yang fasih berbahasa asing tapi tidak produktif menulis dalam bahasa ibu. Besar kemungkinan mereka itu tidak terlatih menulis dalam bahasa Indonesia. Keterampilan menulis dalam bahasa Indonesia merupakan batu loncatan untuk menulis dalam bahasa asing.
Kedelapan, percayalah akan kebenaran reading-writing connections. Banyak mahasiswa “malu-malu kucing” bila karangannya dibaca oleh teman sekelasnya, padahal karangan itu ditulis justru untuk dibaca oleh orang lain. Semakin banyak peemberi komentar, semakin banyak pelajaran yang didapat, dan pasti semakin baik mutu karangannya. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Pokoknya Menulis, Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi, A. Chaedar Alwasilah dan Senny Suzanna Alwasilah, Penerbit PT Kiblat Buku Utama, Bandung, 2007).


Mercusuar - suratkabar harian. Jika Masyumi mempunyai Abadi, NU mempunyai Duta Masyarakat, maka Muhammadiyah mempunyai Mercusuar. Koran ini terbit dan beredar  di Jakarta dan di beberapa daerah yang menjadi basis pendukung Muhammadiyah. Mercusuar yang beedar di Jakarta dipimpin oleh Syafa’at, sebagai pemimpin umum dan pemimpin redaksi dan Rusydi Hamka sebagai sekretaris redaksi. Syafa’at adalah menantu H. Mulyadi Djojomartono,  Ketua PP Muhammadiyah yang dekat dengan Bung Karno.
Di kemudian hari, Mercuasuar  beralih nama menjadi Masa Kini. Koran ini bekerjasama dengan grup Media Indonesia, demi menjaga kelangsungan penerbitannya.
Pada tahun 1991 H. Amien Rais pernah diserahi tugas untuk menjaga kelangsungan penerbitan Masa Kini. Ketika itu Amien Rais menjabat sebagai salah seorang anggota dewan pakar ICMI.
Mercusuar tidak terlalu lama terbit. Mungkin karena misinya hampir sama dengan Abadi yang tampil lebih meyakinkan, dengan judul-judul yang bombastis dan berani. (Tim EPI/Baidhawi)

   
Merdeka - suratkabar harian. Tak banyak media pers Indonesia yang berumur panjang. Yang banyak, adalah mati muda karena salah urus atau mati dini oleh badai politik. Merdeka agak beruntung. Koran yang dibangun wartawan tiga zaman, Burhanuddin Muhammad (BM) Diah itu, tahun 1995 berusia genap 50 tahun. Merdeka beserta koran Yogyakarta Kedaulatan Rakyat (KR) tercatat sebagai koran tertua yang masih sanggup bertahan sampai saat itu.
Merdeka terbit pertama kali tanggal 2 Oktober 1945 di Jakarta. Ketika terbit perdana, B.M. Diah dibantu wartawan muda progresif antara lain Rosihan Anwar, Ahmad Tjokroaminoto, M.T Hutabarat, dan Mochtar Lubis. Begitu lahir, Merdeka langsung memposisikan diri sebagai corong republik. Sikapnya jelas, prokemerdekaan. Setahun kemudian B.M Diah menerbitkan Merdeka edisi Solo, karena keberadaannya di Jakarta terancam pendudukan Belanda.
Sejak awal, peran BM Diah sebagai pemimpin redaksi sangat menonjol. Maka, pada tahap berikutnya Merdeka pun menjadi penyalur aspirasi politik B.M Diah yang nasionalis. Sikap ini tampak ketika kehidupan politik makin semarak. Namun keretakan pun mulai terasa. Rosihan Anwar yang pro Sutan Syahrir, pemimpin Partai Sosialis Indonesia, terlempar dari Merdeka pada akhir 1946.
Merdeka dikenal sebagai golongan nasionalis yang tak akur dengan PSI. Kecenderungan ini berlangsung terus. Ketika terjadi krisis di Angkatan Darat, yang melahirkan drama 17 Oktober 1952 dan berbuntut diberhentikannya Kolonel A.H. Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Merdeka menuding PSI sebagai biang kerok. Pada 1950-an, Merdeka masih cukup lumayan kendati tak sekuat Pedoman dan Indonesia Raya, yang diasuh bekas wartawan Merdeka, Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis.
Pada tahun 1963 hingga 1964, saat BM Diah masih bertugas di luar negeri sebagai Duta Besar, Merdeka termasuk salah satu koran yang galak terhadap PKI. Polemiknya dengan koran PKI, Harian Rakyat, selalu panas dan nyaris tak pernah putus. Akibatnya koran ini dibredel pada Februari 1965. Namun Oktober 1966, Merdeka bangkit lagi, setelah Diah pulang dan menjabat sebagai Menteri Penerangan RI.
Menjelang Orde Lama tumbang, Merdeka sempat bersikap kritis terhadap Bung Karno. Bahkan lewat tajuknya, Januari 1967, koran ini menyuarakan, agar Presiden Soekarno meletakkan jabatan. Tapi ketika Bung Karno wafat, 21 Juni 1970, Merdeka menunjukkan sikap paling berdukacita.
Pada era 1970-an, pamor Merdeka mulai surut. Tampilnya Tri Buana Said, menantu BM Diah sebagai pemimpin redaksi tahun 1974-1979, tak banyak mengatrol. Kemudian kembali BM Diah mengambil kemudi sampai 1989, tapi tetap tak menolong. Merdeka kesulitan dalam merangkul pembaca. Hal ini sesuai dengan ungkapan Mochtar Lubis, bahwa Merdeka tak banyak menyajikan pergolakan yang terjadi di masyarakat.
Dalam usia setengah baya, Merdeka mencoba bangkit lagi. Manajemen pun diperbaharui dengan melibatkan Jawa Pos, koran besar dari Surabaya. Tak ketinggalan sisi redaksinya, juga mendapat perhatian serius. Komputerisasi disempurnakan, kendati layout tidak banyak mengalami perubahan, hasilnya mulai kelihatan. Merdeka mampu terbit dengan oplah 40.000 eksemplar per hari.
Dari jumlah itu, sebesar 75 % terserap pembaca tetap/pelanggan. Oplahnya terus meningkat, meski Merdeka harus rela melepaskan sahamnya sebesar 39 persen kepada Jawa Pos. Sentuhan Jawa Pos memang tampak. Merdeka mulai ngotot mengikuti isu-isu ekonomi. Berita politiknya pun mulai beragam dengan penyajian yang lebih mendalam. Iklan mulai berdatangan, kendati belum seramai media besar lain. Pemimpin redaksinya Jasofi Bachtiar (pejabat sementara) membanggakan wartawannya yang sebagian besar generasi muda di bawah usia 30 tahun. Kesejahteraan wartawan pun makin mendapat perhatian, seiring meningkatnya sumber daya manusia, dan perkembangan di masyarakat. Merdeka juga berani menampilkan berita di halaman depan yang makin tampak nakal, berani, meski tetap menjunjung tinggi objektivitas.
Para wartawan kemudian menempati kantor baru, tak megah, tapi cukup melegakan. Letaknya di Kampung Benda, Kelurahan Rawa Bokor, Tangerang, tak jauh dari Bandana Soekarno Hatta. Di situ ada sekitar 40 komputer yang digunakan sebagai mesin tulis para wartawan. Untuk urusan pracetak, di kantor itu tersedia tujuh komputer grafis mutakhir Macintosh. Namun yang dikeluhkan karyawannya, lokasinya terlalu di pinggiran.
S
ejauh itu, menurut pakar komunikasi Dr. Djuarsa dari Universitas Indonesia, wajah lama Merdeka masih tergambar jelas. Sebagaimana idealisme BM Diah, yang nasionalis. Memang hal itulah yang menjadi prasyarat yang diajukan BM Diah ketika akan melakukan kerja sama dengan Jawa Pos.
Merdeka ini diterbitkan oleh Penerbit PT Merdeka Pers, Pemimpin Umum/Pemimpin Perusahaan Margiono, Pemimpin Redaksi Tribuana Said. Alamat Redaksi/TU 11. Atang Sanjaya, Rawa Bokor, Tangerang, telepon 5556059, 5556062, 5556064, fax. 5556063. Iklan/Pengaduan Koran JI. Prapanca Raya 40, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, telepon 7204128, 7204617. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Mertju Suar - suratkabar harian. Terbit pertamakali pada 11 April 1966, dengan jargon “Melaksanakan Pantjasila dan Dakwah”. Diterbitkan Jajasan Mertju Suar yang berpusat di Jakarta dengan Pemimpin Umum Moch. Saleh Wardisastro, Penanggung Jawab I Drs. Sjafaat dan Penanggung Jawab II Moch. Saleh Werdisastro. Pimpinan Redaksi Bisjron Shmadi, Anggota Redaksi terdiri dari Mustopo, Adul Nur Adman, M. Luthfie, Tatang Sulaeman, Muchlas Abros, Muhadi, Much. Chaeron, dan Hanti Astuti.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, K.H. Ahmad Badawi, memberikan sambutan dalam edisi perdana Mertju Suar. “Matahari Muhammadiyah kembali menyising di Jogjakarta”. Di sisi kanan kolom sambutan itu dimuat headline tentang pemakaman Sjahrir, mantan Perdana Menteri, yang wafat di Swiss pada Sabtu malam, 9 Januari 1966 dalam usia 57 tahun. Mertju Suar menulis, Mohammad Hatta, mantan Wakil Presiden, memberikan sambutan saat pemakaman dilangsungkan di TMP Kalibata.
Dalam tajuk rencana Selasa, 16 April 1966, Mertju Suar menyoroti perkara moral dalam pekerjaan yang bertalian dengan efisiensi anggaran dan waktu. Koran ini menulis, masyarakat hendaknya mendukung langkah tersebut. Dalam tajuk rencana 20 April 1966, Mertju Suar menyoal “fitnah” yang begitu mudah diberikan masyarakat paska G 30 S/PKI.
Fitnah mendisintegrasikan bangsa, apalagi bila demi kepentingan pribadi dan ditujukan kepada sementara orang dengan cap sadis: PKI! Bertepatan dengan Hari Kartini  21 April 1966, Mertju Suar mengulas amal wanita dalam tajuk rencana. Kartini memicu wanita-wanita Muhammadiyah melakukan gerakan membangun sekolah. Ini sesuai dengan garis kebijakan Muhammadiyah yang juga intens pada kemajuan pendidikan.
Ketika PNI berkongres pada 23 April 1966, Mertju Suar mendukung kongres tersebut. PNI, menurut Mertju Suar, terseok-seok akibat rongrongan PKI. Empati koran ini kepada PNI mengingatkan pembaca pada Masyumi, yang pernah dibungkam Bung Karno. Berita-berita Mertju Suar yang lain menunjukkan dukungan kepada RPKAD. (Tim EPI/KG. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indexpress/Jurnas)


Metro TV - stasiun televisi swasta Indonesia. Stasiun televisi yang resmi mengudara sejak 25 November 2000 ini pada awalnya memiliki konsep agak berbeda dengan yang lain, sebab selain mengudara selama 24 jam setiap hari, Metro TV hanya memusatkan acaranya pada siaran warta berita saja. Tetapi dalam perkembangannya, stasiun ini kemudian juga memasukkan unsur hiburan dalam program-programnya.
Metro TV adalah stasiun pertama di Indonesia yang menyiarkan berita dalam bahasa Mandarin yakni “Metro Xin Wen”, dan juga satu-satunya stasiun TV di Indonesia yang tidak menayangkan program sinetron. Metro TV juga menayangkan siaran internasional berbahasa Inggris pertama di Indonesia “Indonesia Now” yang dapat disaksikan dari seluruh dunia. Stasiun ini dikenal memiliki presenter berita terbanyak di Indonesia
Metro TV juga menayangkan program “Lifestyle”, yakni program talkshow yang membahas teknologi informasi dan telekomunikasi. Program ini hadir setiap Minggu pukul 11.30 WIB, dipandu oleh Roy Suryo dan Meutya Hafid. Metro TV dimiliki Media Group pimpinan Surya Paloh yang juga menerbitkan miliki Media Indonesia dan Lampung Post. di bawah ini adalah program-progam acara yang ditayangkan Metro TV.
Headline News, adalah program berita setiap jam selama 2 hingga7 menit, setiap hari. Program ini diadaptasi dari program yang sama yang dimiliki stasiun televisi internasional CNN. Sebagian besar acara ini ditayangkan dalam Bahasa Indonesia, namun pada jam tertentu dibacakan dalam Bahasa Inggris
Metro Pagi, adalah program berita pagi Metro TV yang mengudara setiap hari pada pukul 05.00 hingga 06.30 WIB. Program ini juga menayangkan “Laporan VOA” yang disiarkan Voice of America dari Washington setiap Senin hingga Jumat.
Metro Xin Wen, adalah program berita berbahasa Mandarin yang mengudara setiap hari pada pukul 08.30 hingga 09.00 WIB
Metro This Morning, adalah program berita berbahasa Inggris. Mengudara setiap hari pada pukul 08.30 hingga 09.00. Namun, acara ini berakhir pada awal April 2007.
Indonesia This Morning, adalah program berita bahasa Inggris yang menggantikan “Metro This Morning”. Berisi tentang berita terhangat dari Indonesia dan penjuru dunia, serta laporan cuaca seluruh Indonesia. Mengudara setiap hari pada pukul 08.05 hingga 08.30 WIB. Dibawakan oleh Zelda Savitri dan Candice Anggunadinata.
Metro Siang, adalah siaran berita Metro TV yang mengudara setiap hari pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB (pada hari Senin dan Jumat) serta pukul 12.00 hingga 12.30 WIB (pada hari Sabtu dan Minggu).
News Flash, adalah program berita tiga bahasa (Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia. Mengudara setiap hari Senin hingga Jumat pada pukul 09.30, 12.30, dan 19.30 WIB selama 5 menit.
World News, adalah program berita dunia yang mengudara selama 30 menit pada hari Senin hingga Jumat, pada pukul 16.30 WIB. Acara ini sukses melakukan wawancara dengan berbagai pemimpin dunia antara lain Tony Blair, dan Mahmood Ahmadinejad.
Metro Hari Ini, adalah program berdurasi 1 jam pada hari Senin sampai Sabtu dan 30 menit pada hari Minggu pada pukul 18.00 WIB. Berisi rangkuman informasi selama sehari.
Suara Anda, adalah program berita 30 menit yang menyajikan berita yang bisa anda pilih. Mengudara pada hari Senin hingga Jumat pada pukul 19.00 WIB.
Top Nine News, adalah salah satu program yang ditunggu, karena memiliki variasi angka 9. “Sembilan” berita teratas pada pukul “sembilan” malam WIB. Dan pada rubrik ke-8 Top of The Top berisi 9 berita menarik yang disajikan dalam waktu 90 detik. Mengudara pada hari Senin hingga Jumat selama 30 menit.
Top Nine News Weekend, adalah program sembilan berita teratas pada pukul sembilan malam WIB. Dan pada rubrik ke-8 Top of The Week berisi 9 berita menarik yang disajikan dalam waktu 90 detik. Mengudara pada hari Sabtu selama 30 menit.
Metro This Week, adalah program berita Metro TV yang berisi rangkuman berita selama sepekan. Mengudara setiap hari Minggu pada pukul 18.30 WIB selama 30 menit.
Metro Sport, adalah program berita olahraga yang disiarkan pada pukul 23.05 WIB selama 25 menit.
Metro Malam, adalah program berita malam yang disiarkan pada pukul 23.30 WIB selama 30 menit.
Indonesia Now, adalah program internasional yang mulai mengudara pada tanggal 1 September 2006. Dibawakan oleh Frida Lidwina dan Dalton Tanonaka (mantan penyiar CNN, CNBC Asia dan NHK Jepang). Mengudara setiap hari Sabtu pada pukul 07.00 WIB dan Minggu pukul 17.30 WIb selama 30 menit. Acara ini juga dapat disaksikan di Benua Amerika, Eropa dan di wilayah Asia Pasifik.
Program lain yang banyak penontonnya adalah The Breakfast Dub yang hadir ke hadapan penonton setiap hari Senin sampai Jumat pukul 0830 hingga 09.30 WIB. The Breakfast Dub adalah program yang membahas berbagai topik yang menarik dan disajikan secara ringan dan human interest. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)


Micro film adalah perangkat dokumentasi koran dan majalah atau dokumen penerbitan lain. Media penyimpanannya berupa pita seluloid mini atau mikrofilm. Salah satu perangkat mikrofilm berada di Monumen Pers Nasional Solo, merupakan sumbangan mantan Wakil Presiden yang juga tokoh pers nasional, almarhum Adam Malik.
Dengan perangkat tersebut telah didokumentasikan ribuan koran dan majalah yang terbit di Indonesia. Perangkat mikrofilm yang terdiri dari alat perekam (pemotret), alat pemroses film dan monitor pembaca, merupakan perangkat penting dan besar manfaatnya, ketika teknologi dokumentasi dengan sistem komputer belum berkembang. Karena, dengan memindahkan koran, majalah dan dokumen penerbitan lain ke pita seluloid mini, ribuan lembar halaman koran, majalah, dan penerbitan lain dapat terdokumentasi secara ringkas, praktis dan aman. (Tim EPI/KG/TS)


Minahasa Post - suratkabar harian. Diterbitkan oleh F.M. Mandagie di Voorrij Zuid 78, Djembatan Senti, Batavia Stad. Mandagie memandang Batavia sebagai pusat pemerintahan Hindia, tempat strategis untuk  memengaruhi sikap politik para pengambil kebijakan elite-elite politik, terutama leden-leden volksraad wakil Minahasa.
Pada tanggal 31 Agustus 1936, Minahassa Post melontarkan kritik pedas terhadap seorang wakil pemimpin utusan Celebes yang duduk di Volksraad, yang berbuat dusta dan tuduhan korupsi. Para leden tidak berani bersikap dan mengambil keputusan politik terhadap salah satu pemimpin yang melanggar wetboek van strafrecht, buku hukum siksa Hindia Belanda.
Politik redaksi koran ini diarahkan pada elite-elite politik di Batavia, baik dari bangsa Indonesia maupun Belanda. Yang sering menjadi sasarannya adalah leden Indonesia; khususnya Minahassa dan Celebes, serta pihak pemerintahan kolonial. Koran ini terbit dalam dua bahasa, Melayu dan Belanda. Artikel-artikel dalam bahasa Belanda dimuat sebagai artikel utama, sedangkan yang berbahasa Melayu menjadi second headlines.
Produk-produk hukum kolonial serta perkembangan perhimpunan-perhimpunan dan organisasi politik yang masuk dalam perlemen di Nederlands sering mendapat perhatian besar. Termasuk rancangan undang-undang dan penerapan undang-undang yang dibuat Volksraad dan pemerintah kolonial. Gubernur jenderal, pokrol jenderal, dan Ratu Kerajaan Belanda -Juliana misalnya, adalah sosok elite politik kolonial yang tak jarang diekspos ke publik. Politik kaum Indo, yang berpengaruh kuat di Volksraad pun tak lepas dari perhatian.
Tiga tahun Minahassa Post berkibar. Setelah itu Uitgeversbedrijf Minahassa Post melebarkan sayap dan meluaskan pembaca ke seantero Hindia. Semangat zaman mendesak perusahaan ini membuat terobosan besar, mengganti nama Minahassa Post menjadi Timoer Besar. Koran ini semula beredar dua kali sebulan lalu berubah menjadi mingguan (weekblad). Dalam pengantarnya redaksi mengemukakan: “Namanja Minahasa Post akan linjap dari boemi ini, tapi TIMOER BESAR akan teroeskan dengan segala kejakinan, tradisi, politiek, dan toedjoeannja M.P. marhoem itoe”.
Timoer Besar bergerak dalam kepentingan Indonesia yang lebih luas. F. Maurits Mandagie mengarahkan Timoer Besar bagi perubahan di provinsi Groote Oost, meliputi Celebes, Ternate, Ambon, dan Nieuw Guinea. Wilayah ini  lama dilupakan oleh leden-leden yang duduk di Volksraad dan kekuasaan pusat (Batavia). Laporan-laporan panjang tentang soal-soal yang dilupakan tersebut memenuhi halaman-halaman koran ini. Langkah radikal direksi Uitgeversbedrijf Minahassa Post itu dilatarbelakangi oleh kekecewaan berat terhadap pekerjaan para elite politik bangsa sendiri, yang gagal menyelamatkan dan memperjuangkan kepentingan rakjat. Terutama bagi rakyat di Groote Oost.
Hoofdredactie dan Directie mendeklarasikan Timoer Besar pada 30 September 1936, dengan nomor 12 menyambung Minahassa Post nomor sebelumnya. Ekspansi Timoer Besar mendapat simpati dari wilayah sekitar Groote Oost. Beberapa orang bersedia menjadi agen untuk menyebarkan koran tersebut, seperti di Menado, Celebes (Minahasa dan Sangihe). Di barisan bisnis perusahaan, masuk J. Limintang yang menduduki kursi administrateur.
Setelah perubahan itu isi kora ini semakin padat. Pers kronik dunia, disusun rapi dan berkelanjutan. Ada juga kabar-kabar mengenai daerah-daerah terpencil. Masyarakat adat dan perekonomian rakyat yang jauh dari kemakmuran kerap menjadi kepala berita di halaman pertama. (Tim EPI/KG. Sumber: Basilius Triharyanto/Indexpress/Jurnas)


Minggu Pagi - suratkabar mingguan. Koran ini sebenanrnya merupakan suplemen Kedaulatan Rakyat. Disertasi Farida Soemargono di Ecolo des Hautes Estudes en Scien Sociales (Paris) membahas posisi dan peran Minggu Pagi dalam dinamika kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta pada awal-awal masa kemerdekaan. Farida menganggap Minggu Pagi sebagai “...majalah yang pertama kali menggunakan bahasa Indonesia Generasi 1945”. Bahasa Indonesia Generasi 45 di situ maksudnya bahasa yang telah melepaskan diri dari gaya Pujangga Baru yang mendayu-dayu, penuh pakem, dan karenanya terasa kaku.
Di bidang seni rupa, para pelukis yang menetap di Yogyakarta, terutama yang bergabung di Seniman Indonesia Muda pimpinan Soedjojono, juga memanifestasikan semangat perubahan dan perlawanan dalam karya-karya mereka. Perlawanan ditujukan terutama terhadap paradigma Mooi Indie (Hindia yang molek) yang melulu menggambarkan (terutama) lanskap keindahan bumi Nusantara. Paradigma ini mengidap prasangka kolonial yang menjadi lawan kemerdekaan, sekaligus membikin mandeg kreativitas.
Minggu Pagi memegang peran sangat penting dalam tahun-tahun penuh proses dan daya kreatif itu. Koran ini tidak sendirian karena ada sejumlah media kebudayaan dan kesenian lain di kota ini, misalnya Patriot (Percetakan Kanisius, 1946), Peristiwa (Percetakan Negara, 1946), Arena (terbit 1946) dan Majalah Indonesia (Badan Penerbitan Nasional, 1948). Namun, Minggu Pagi menjadi salah satu majalah terpenting kala itu.
Seperti yang kerap dibanggakan Minggu Pagi sendiri, salah satu jasa terpenting koran ini adalah memberi kesempatan kepada para penulis muda Yogya untuk mempublikasikan karya-karyanya. Mereka  berkumpul di Minggu Pagi secara kebetulan. Nasjah Djamin, Mottinggo Boesje, Rendra, Jussac hingga Kirjomuljo sering menghabiskan malam panjang di Malioboro dan kerap berkumpul di redaksi Minggu Pagi, yang menerima mereka dengan hangat. Lewat tulisan-tulisan itu, jagat seni Yogyakarta memperoleh gagasan-gagasan baru, segar dan menarik yang muncul dalam ulasan-ulasan kesenian dan kebudayaan. Nama-nama seniman besar luar negeri (Tolstoy, Chekov, hingga Picasso) juga banyak diperkenalkan.
Dasawarsa 50-an, perlawanan para seniman bisa dikatakan memasuki jilid II. Setelah kolonialisme, kini mereka memperhadapkan semangat melawan terhadap hegemoni “Jakarta”. Menurut Farida (Sastrawan Malioboro 1945-1960, 2005: 272), Jakarta sering kali melecehkan dan menganggap sepi kreasi anak-anak Malioboro, yang membuat mereka menjadi minoritas dalam peringkat sosial sekaligus sejarah sastra, yang kala itu disusun para kritikus Jakarta. Saking jengkelnya, Nasjah Djamin mendamprat H.B. Jassin dalam tulisannya, “Wahai mereka yang di puncak Merapi... Dengarkan Aku. Di sini ada dua turunan bangsawan, abdi seni, penyair, novelis, penulis lakon, dan pelukis yang engkau acuhkan! Ingatlah engkau! Suatu hari para gadis, pemuda, dan orang tua akan membicarakan nama-nama kami. Mereka akan memuat nama-nama kami dalam ensiklopedi. Mereka itu orang-orang curang, yang tidak bisa memahami seni, maupun menghargai seniman! Pikirkanlah kami! Pikirkanlah kami!”
Maka, Minggu Pagi dan media massa di Yogyakarta pun menjadi media yang mendokumentasikan pergulatan kreativitas para seniman Malioboro dan mengabadikan narasi-narasi kecil yang berharga yang (sengaja atau tidak) tersingkirkan dari catatan sejarah seni dan sastra Indonesia.
Pada titik inilah Minggu Pagi memainkan peran historisnya. Sejak muncul pertama pada 7 April 1948 sebagai tabloid, Minggu Pagi diniatkan sebagai media alternatif. Saat itu seluruh suratkabar memberitakan perang, perlawanan, politik dan kemerdekaan. H. Samawi dan M. Wonohito, yang sukses mengasuh Kedaulatan Rakyat, memilih mendirikan media yang ringan dan menghibur, yaitu Minggu Pagi, dengan jargon “enteng berisi”.
Minggu Pagi mendapat respon mengembirakan dari masyarakat. Bahkan, peredarannya mencapai Jakarta, Jawa Timur, dan Sumatera. Minggu Pagi boleh dikatakan menjadi inspirator bagi media hiburan di Indonesia seperti Selekta, Varia dan lainnya. Namun, ketika persaingan makin ketat, perlahan Minggu Pagi tergeser.
Pada tahun 1970, Minggu Pagi menjadi koran ketujuh yang diterbitkan Kedaulatan Rakyat. Dengan SIUPP No. 135/SK/MENPEN/SIUPP/B.I 1986 tanggal 5 April 1986, Minggu Pagi menjadi suratkabar mandiri, yang terbit sekali dalam sepekan.
Kini oplah Minggu Pagi mencapai 66.000 eksemplar, dengan distribusi terbanyak di kabupaten-kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Peredaran tertinggi di wilayah Kabupaten Bantul sebanyak 25%, Sleman 18%, Kodya 14%, dan daerah sekitar Kota Yogya.
Sajiannya tidak banyak berubah, hanya nama rubrik, dan sedikit perbaikan di sana-sini karena mengikuti perkembangan teknologi. Seperti “Surat Pembaca” yang merupakan rubrik dialog antara pembaca dengan pembaca, atau pembaca dengan redaksi, kini berubah menjadi “Interaksi” dengan memanfaatkan fasilitas teknologi pengiriman pesan pendek (sms). Rubrik ini setiap hari menampung berbagai sms, dari kritik untuk redaksi, sampai mencari jodoh. (Tim EPI/KG. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indonesia Buku/Jurnas)


Mingguan Sadar - majalah. Terbit pertama pada November 1955. Untuk menegaskan bahwa Mingguan Sadar adalah kelanjutan dari Sunday Courier, sejak tahun 1957 terpampanglah tulisan “Dahoeloe: Sunday Courier” tepat di bawah nama majalah itu. Sunday Courier adalah media unik yang menampilkan pernak-pernik berita ringan.
Sempat populer pada tahun 1949, Sunday Courier memanjakan pembaca lewat pelbagai tulisan tentang seni, budaya, film, cerita pendek, industri, gaya hidup, bahkan politik. Media hiburan ini juga menampilkan pusparagam foto eksklusif, karya lukis, serta esai-esai gambar, dll.
Namun, kondisi perpolitikan di Indonesia yang mendakwa Sunday Courier terlalu berkiblat ke Tiongkok membuatnya harus hilang dari peredaran.
Setelah berganti nama pun aroma orientalnya masih terasa baik dari komposisi isi maupun tampilannya. Sampul depan, foto-foto, isi berita, hingga pembagian rubrik kerap masih bernuansa Tiongkok. Bahkan, ada beberapa ruang yang khusus memaparkan tradisi dan kebudayaan negeri tirai bambu itu, salah satunya adalah cerita silat Cina bersambung.
Mingguan Sadar dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan, seorang keturunan Tionghoa yang sangat Indonesianis. Ia menggalang kerjasama dengan para tokoh pergerakan dan kemerdekaan nasional pada masanya. Setelah proklamasi, Tjhan diangkat sebagai anggota Komite Nasional Daerah Malang, kemudian sebagai anggota KNIP. Setelah itu, ia menjabat Menteri Negara di Kabinet Amir Sjariffudin antara 194 hingga 1948. Pada awal 1947, Tjhan menghadiri Inter Asian Conference pertama di New Delhi-India, sebagai salah satu wakil Indonesia. Ia juga aktivis Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), yang didirikan pada 13 Maret 1954, organisasi massa yang beranggotakan orang-orang Tionghoa di Indonesia.
Siauw Giok Tjhan sejak awal menjadi penganjur dihapusnya diskriminasi rasial untuk mempermudah dipupuknya rasa senasib antara semua putra Indonesia, termasuk etnis Tionghoa. Ia sangat memimpikan peranakan Tionghoa diakui sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Redaksi Mingguan Sadar digawangi oleh duet Hiem dan Tan Soan Nio. Koran ini diterbitkan oleh NV Penerbit & Perusahaan Dagang Sadar Press yang beralamat sama dengan NV Uitgevers & Hendel Mij Persatuan, perusahaan yang menerbitkan Sunday Courier, di Jalan Pintu Besar 93 Jakarta Kota. Harga langganannya Rp 8 per bulan dan Rp 2 untuk eceran. Sedangkan tarif iklan, 1 halaman Rp 750, setengah halaman Rp 400, seperempat halaman Rp 250, serta untuk 1 milimeter kolom Rp 1. Jika ingin memasang iklan keluarga, ada harga khusus, yakni Rp 0,75 untuk satu milimeter kolom. Mingguan Sadar terbit dengan surat izin SIPK no 2185/I/B4/42.
Sajian Mingguan Sadar dibuka dengan rubrik Beginilah di Indonesia, yang menampilkan rangkaian anekdot alias guyonan politik disertai jawaban yang tak kalah menggelitik pula (sejenis rubrik Pojok). Ada enam rubrik yang memuat berita-berita terkini dan bernada serius, yang tak jarang terselip kepentingan kaum Tionghoa di dalamnya.
Dalam ruang hiburan, Mingguan Sadar memuat cukup banyak jenis rubrik. Di antaranya ada cerita anak dengan ilustrasi gambar, kisah pewayangan, cerita silat Cina, ruang tanya-jawab untuk remaja, olahraga, resensi film, glosarium-ensiklopedia, puisi dan syair, profil seniman, komik bersambung, rubrik humor, juga teka-teki silang berhadiah. (Tim EPI/KG. Sumber: Iswara N Raditya/Indexpress/Jurnas) 


Misi Redaktur - Sementara reporter terdorong untuk mengetahui peristiwa yang sedang terjadi, redaktur terdorong untuk bercerita. Mereka telah melatih kepekaan mereka akan pentingnya dorongan tersebut. Yang pertama-tama mereka pertimbangkan "Apakah berita in tidak hanya akan memboroskan ruangan?' dan "Bagaimana kalimat pembukanya?" Apakah berita itu jujur atau fair, itu soal nomor dua. Redaktut bertanggung jawab atas isi terbitan atau isi program yang mereka jalankan. Merekalah penjaga gerbang. Adalah nasib mereka untuk mengatakan "tidak" berulang kali.
Tetapi, adalah peranan mereka juga untuk menghasilkan liputan. Aspek kreatif dari bidang penyuntingan ini mendapat perhatian yang lebih sedikit daripada peranan menjaga gerbang. Umumnya, di dalam ruang berita peranan untuk menghasilkan liputan itu merupakan bagian kecil saja dari keseluruhan bidang pekerjaan yang sebagian besar dihabiskan untuk memroses berita. Namun demikian, peranan yang hanya kecil itu dapat memberikan karakter yang amat berbeda atas produk akhirnya.
Redaktur juga mengedit artikel. Sebagian besar waktu di ruangan editing habis untuk melakukan editing atau copy editing. Kecermatan serta dampak dari berita dalam bentuk jadinya mencerminkan hasil kerja para copy editor yang terpisah baik dari para narasumber berita maupun dari para pembaca, dan oleh karena itu, tingkat kepekaan mereka terhadap berbagai distorsi yang ada dalam berita lebih rendah.
Akhirnya, redaktur juga melakukan pengendalian. Seorang redaktur pelaksana atau redaktur berita mengelola ruang berita, meskipun ia sendiri mungkin berada di bawah kendali seorang redaktur eksekutif atau direktur program. Seorang pemimpin penerbitan atau manajer umum duduk di peringkat atas, walaupun ia sendiri mungkin harus memberikan laporan kepada seseorang yang lebih tinggi lagi dalam jajaran perusahaan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin jauh ia dari naskah asli.
Redaktur membangun semangat kerja dalam sebuah ruang berita dan sikap para stafnya. Dalam hal ini, etika yang berlaku dalam ruang berita mencerminkan etika para redakturnya, sekalipun pada saat para redaktur itu disibukkan oleh berbagai masalah menyangkut waktu, keuangan, dan mutu. Bagi para redaktur itu perilaku etis mencakup pelaksanaan pekerjaan dengan baik.
Dengan demikian, redaktur menjalankan empat fungsi utama:
1. Menghasilkan liputan.
2. Menyeleksi dan memutuskan pemuatan se buah berita.
3. Memroses dan mengemas naskah.
4. Mengendalikan proses pengumpulan dan   penyajian berita.
Masing-masing dari keempat fungsi utama itu bisa menjerat redaktur dalam perangkap etika. (Tim/Wid. Sumber: Buku Etika Media Massa dan Kecenderungan untuk Melanggarnya, William L. Rivers dan Cleve Mathews, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994).


Mitra dialog - koran lokal Cirebon. Dulunya bernama Pikiran Rakyat edisi Cirebon dan terbit seminggu 3 kali. Sekarang terbit setiap hari, dan menyajikan informasi yang berkait dengan wilayah III Cirebon ditambah sedikit ulasan berita luar negeri. Koran ini cocok bagi yang mau memasang iklan yang sasaran pembacanya adalah wilayah III Cirebon. Tapi sayang koran ini hanya untuk lokal kota Cirebon atau wilayah III Cirebon saja.
Karena sebagian isi dari koran ini adalah keluhan serta saran dan kritik dari masyarakat wilayah III Cirebon untuk pemerintah kota/daerah, dan biasanya langsung akan ditanggapi oleh pemerintah serta DPRD kota Cirebon.(Tim EPI)


Mochtar Lubis (Padang, 7 Maret 1922 - ....................). Pemimpin Redaksi Suratkabar Harian Indonesia Raya ini pernah dipenjara karena karya-karya jurnalistiknya. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda HIS di Sungai Penuh, dia melanjutkan pelajaran di sekolah ekonomi partikelir di Kayutanam. Pendidikan formalnya tidak sampai tingkat AMS atau HBS.
Selama dipimpin Mochtar Lubis Indonesia Raya tujuh kali dibredel. Enam kali pada masa Orde Lama dan satu kali, tetapi fatal, pada masa Orde Baru. Mochtar Lubis, yang berbadan jangkung -tingginya lebih dari 1,80 meter, pada masa Orde Lama pernah menjalani tahanan rumah hingga dipenjarakan hampir terus-menerus selama sembilan tahun. Pada masa Orde Baru, ia ditahan sempat ditahan selama dua setengah bulan.
Ketika dibebaskan dari Nirbaya, 15 April 1975, Mochtar Lubis dijemput mobil Kejaksaan Agung dan diantar ke Jaksa Agung Ali Said. Pada kesmepatan itu Ali Said meminta maaf atas nama pribadi, Kejaksaan Agung dan Pemerintah, karena telah memenjarakannya.
“Saya sendiri heran kalau mendengar orang berkata bahwa Mochtar Lubis itu pemberani. Betul..... Saya harus berjuang dulu dalam diri saya, melawan rasa takut..... Ada pergulatan terus dalam diri saya kalau mau melawan terhadap orang-orang besar, terhadap orang-orang berkuasa, orang-orang yang bisa menangkap kita setiap saat. Bukan tidak ada rasa takut. Saya bergulat terus dengan rasa takut saya itu. Tapi pertahanan saya adalah kenapa harus takut kalau kita yakin bahwa yang akan kita kemukakan itu adalah benar, untuk kepentingan masyarakat, untuk kepentingan bangsa.”
Cuplikan dari buku Mochtar Lubis Wartawan Jihad itu kiranya dapat memberi gambaran singkat tentang Mochtar, perjalanan karir kewartawanan, perjalanan suratkabar Indonesia Raya dan sikap konsistennya yang bagaikan batu karang.
Federasi Internasional Serikat Penerbit suratkabar (FIEJ) yang bermarkas di Paris, memberinya anugerah Pena Emas La Plume d’Or atas perjuangannya yang gigih dan tak kenal henti untuk kebebasan pers.
Ia pernah menerima hadiah Magsaysay dari Pilipina. Tapi hadiah itu dikembalikannya begitu Pramudya Ananta Toer beberapa tahun kemudian juga menerima anugerah yang sama. Alasannya, ia tahu benar sikap dan aksi Pramudya yang tidak demokratis dan membenarkan pelarangan buku lawan-lawannya di masa pra Gestapu/Partai Komunis Indonesia.
Mochtar bersekolah di INS Kayutanam, pimpinan M. Syafei, tokoh pendidikan nasional. Di dalam mendidik Syafei lebih mengutamakan pendidikan jiwa kebangsaan dan keterampilan pada anak-anak didiknya. Pendidikan ini membekali Mochtar dengan begitu banyak kemampuan dan minat dari sikap dan kemampuan menghadapi apa saja dalam hidup, sikap optimistis, sampai kepada mencintai alam dan lingkungan, bercocok tanam, main musik, melukis, kerajinan tangan, mengarang dan jadi wartawan. Karena itulah, Mochtar tak pernah menganggur, selalu bisa membuat kegiatan, bagaimana pun atau di mana pun dia berada, termasuk dalam penjara
Ketika status kewartawanannya di dalam negeri dibekukan Pemerintah, Mochtar tetap aktif di dunia internasional. Ia mendirikan Press Foundation of Asia yang berpusat di Manila yang kegiatan utamanya adalah mendidik wartawan. Di dalam lembaga tersebut Mochtar duduk sebagai direktur selama beberapa tahun.
Pada masa seperti itu pula ia mendirikan penerbit OBOR bekerja sama dengan pihak asing untuk menerbitkan buku-buku bermutu dengan harga murah. Bersama P. K. Oyong, wartawan senior asal Payakumbuh yang juga dikenal sebagai pendiri Kelompok KOMPAS-Gramedia, Mochtar mendirikan majalah sastra Horison.
Di mata koleganya, Jakob Oetama, Mochtar adalah wartawan yang mempunyai komitmen. Mochtar dianggap sebagai tipe ideal seorang journaliste engage, wartawan yang menjadi wartawan karena mempunyai komitmen, karena ada perjuangan yang ingin dilaksanakan.
Namun, putera Pandapotan Lubis, pegawai Pangreh Praja atau binnenlands bestuur (BB) pemerintah kolonial Hindia Belanda yang pensiun sebagai Demang atau Kepala Daerah Kerinci, ini sempat menjadi guru sekolah di Pulau Nias, sebelum ke Jakarta.
Pada zaman Jepang, ia bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio Sekutu di luar negeri. Berita yang didengarnya  dia tuliskan dalam laporan untuk disampaikan kepada Gunseikanbu, kantor pemerintah bala tentara Dai Nippon. Demi sekuriti dan agar berita radio itu tidak tersebar ke masyarakat, tim monitor tinggal terpisah di dalam kompleks perumahan yang terletak di Jalan Timor, di belakang hotel milik Jepang, Jalan Thamrin sekarang. Dalam tim itu terdapat Dr. Janssen, mantan pegawai Algemene Secretarie di Bogor yang paham bahasa Jepang, J.H. Ritman mantan Pemimpin Redaksi koran harian Bataviaasche Nieuwsblad, Thambu, mantan wartawan Ceylon yang melarikan diri dari Singapura setelah kota itu jatuh ke tangan Jepang, dan Mochtar Lubis. Pada masa itulah, akhir  tahun 1944, Mochtar Lubis menikah dengan gadis Sunda, Halimah, yang bekerja di Sekretariat Redaksi Asia Raja. (Halimah meninggal pada usia 77 tahun, 27 Agustus 2001).
Setelah proklamasi kemerdekaan kantor berita Antara yang didirikan tahun 1937 muncul kembali, dan Mochtar Lubis pun bergabung. Karena paham bahasa Inggris secara aktif, ia menjadi penghubung dengan para koresponden asing yang mulai berdatangan ke Jawa untuk meliput kisah Revolusi Indonesia. Sosoknya yang tinggi membuatnya nyaman berada di tengah wartawan-wartawan perang yang datang ke Indonesia. Menjelang penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), 27 Desember 1949, Mochtar bersama Hasjim Mahdan mendapat ide untuk mendirikan suratkabar baru. Maka lahirlah Indonesia Raya. Ketika pertengahan 1950 pecah Perang Korea, Lubis pergi meliput pertempuran tersebut. Sejak itu Mochtar pun dikenal sebagai wartawan perang. Pada pertengahan pertama tahun ‘50-an, yang dikenal apa yang disebut personal journalism. Pada masa ini suratkabar dikenal karena pemimpinnya. Indonesia Raya, misalnya, dikenal karena Mochtar Lubis sebagai pemimpinnya; Merdeka karena dipimpin oleh  B.M. Diah; Abadi karena M. Tasrif; dan Pedoman karena Rosihan Anwar.
Selain sebagai wartawan, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai sastrawan. Ia pandai pula melukis dan membuat patung dari keramik. Mulanya dia menulis cerpen dengan menampilkan tokoh karikatural si Djamal. Kemudian dia bergerak di bidang penulisan novel, antara lain “Harimau, Harimau!”, “Senja di Jakarta”, “Jalan Tak Ada Ujung”, dan “Berkelana Dalam Rimba”. Mochtar memperoleh  Magsaysay Award untuk karya-karnya di bidang jurnalistik dan kesusastraan.
Setelah diizinkan terbit kembali tahun 1968, Indonesia Raya melancarkan “perang salibnya” terhadap korupsi di Pertamina. Bos perusahaan negara itu, Letnan Jenderal Ibnu Soetowo, disorot dengan tajam, namun sia-sia. Ibnu boleh mundur sebagai Direktur Utama Pertamina, akan tetapi posisinya tetap kokoh dan harta yang dikumpulkannya tidak terjamah. Mochtar lubis memang menjadi pahlawan di pentas jurnalistik, itulah yang amat disukainya.
Ketika terjadi peristiwa Malari, Januari 1974, dan para mahasiswa beraksi mendemo PM Tanaka dari Jepang, kebakaran terjadi di Pasar Senen. Buntut dari peristiwa tersebut  Presiden Soeharto memerintahkan pembredelan sejumlah suratkabar, di antaranya Indonesia Raya, Pedoman, dan Abadi. Mochtar Lubis sendiri ditahan selama dua bulan.
Setelah bebas Mochtar aktif di pelbagai organisasi jurnalistik luar negeri antara lain di Press Foundation of Asia yang didirikannya. Di dalam negeri, dia mendirikan majalah sastra Horison dan menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia, yang berprestasi menerbitkan buku-buku bermutu, baik yang dari luar negeri maupun domestik. Usaha penerbitan itu bisa tinggal landas lantaran yayasan ini memperoleh dana dari luar, seperti Ivan Kats dari Asia Foundation. Sesungguhnya, salah satu kekuatan Mochtar Lubis antara lain ialah PR (public relations)-nya yang kuat, bergaulnya yang luwes, antusiasmenya terhadap berbagai aspek menyebabkan pintu yang diketuknya selalu terbuka dan soal pendanaan pun tak jadi masalah.
Pada saat acara HUT ke-80 Mochtar Lubis, 9 Maret 2002 , seorang pembicara dari LIPI, yaitu Dr. Mochtar Pabottinggi, menamakan Mochtar sebagai insan berwatak, kualitas manusia yang semakin langka ditemukan di negeri ini. (Tim EPI/KG. Sumber: SSWJ /Tokoh Indonesia, dari berbagai sumber)
    

Mode Indonesia - majalah bulanan mode. Majalah ini diterbitkan oleh PT Top Mode Indonesia yang dibina oleh Dali Safari. Sedangkan Pemimpin Umum dipercayakan kepada Johny Ganda, Pemimpin Redaksi Theresia Emir, dan Pemimpin Perusahaan oleh Soetrisno Bachir.
Isi majalah ini tidak melulu tentang mode. Mode bisa diartikan secara luas, tidak hanya mode berpakaian, tetapi bisa juga diartikan sebagai cara berpikir.
Ketika memasuki usianya yang ke -11 tahun penampilan Mode Indonesia kian memesona. Kertasnya menggunakan art paper, bukan lagi HVS dan kertas koran. Perubahan ini dilakukan oleh para pengelola atas permintaan pembacanya agar Mode Indonesia tetap berada di depan majalah mode lainnya.
Rubrikasinya tidak mengalami perubahan yang berarti. Mode Indonesia tetap menampilkan hal-hal yang disenangi dan diminati oleh pembacanya seperti fashion, musik, wisata, film, olah raga, dan beberapa artikel ringan lainnya seperti hobi, dunia sekolah, dan psikologi. Semuanya disajikan dengan gayanya yang khas. Salah satu rubrik unggulannya adalah ruang tanya jawab.
Dalam merangkul pembaca, majalah ini mempunyai kiat tersendiri. Berbagai terobosan pernah dilakukan oleh Mode Indonesia antara lain mengadakan lomba koran sekolah, seminar-seminar, kursus jurnalisltik, dan yang sering diadakan adalah pemilihan “cowok-cewek” sampul majalah Mode Indonesia. Buahnya, majalah yang terbit dua mingguan ini sempat mencapai tiras 84.000 eksemplar setiap kali terbit .
Upaya lain adalah dengan menyebarkan angket guna menjaring pendapat dan harapan pembaca tentang Mode Indonesia. Hasilnya, dari 6.000 angket yang kembali ke meja redaksi, rubrik fashion ternyata paling disukai oleh pembaca, disusul musik dan informasi edukatif lainnya.
Mode Indonesia kemudian memperluas segmen pembacanya yang semula sampai dengan usia 19 tahun, menjadi usia 25 tahun. Hal ini dilakukan dengan kesadaran bahwa banyak mahasiswa yang ternyata masih mencintai Mode Indonesia.
Mode Indonesia  berkantor di Jalan Cikini Raya 91/IE/Jakarta dan dicetak oleh percetakan PT Sumber Bahagia. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)
       

Moelat - suratkabar dengan tulisan dan bahasa Jawa. Suratkabar yang terbit tiga kali sebulan setebal 8 halaman ini diterbitkan badan penerbit bernama AWAS yang berkantor di Solo, tahun 1932.
Sesuai dengan misinya di bidang pendidikan, Moelat menyediakan lahan cukup besar di halaman pertama untuk berita-berita pendidikan. Dalam salah satu penerbitannya, Moelat menurunkan berita dan artikel tentang peraturan pendirian sekolah-sekolah HIS, MULO, AMS, HBS dan sebagainya.
Pada nomor penerbitan lainnya, Moelat mengupas tentang nasib golongan pribumi Nedeland-Indie dan kisah perjalanan ke Digul yang menakutkan. Sebagian besar berita yang termuat di koran ini adalah tentang kejadian di wilayah Surakarta. Sedangkan iklan yang dimuat pada halaman terakhir, disajikan dengan tulisan latin. (Tim EPI/TS/Perpusnas)
    

Mohammad Hoesni Thamrin (Kampung Sawah Besar, Jakarta 16 Februari 1849) - Ayahnya, Thamrin bin Thabri, adalah seorang wedana. Meskipun demikian sejak muda Thamrin sudah menjadi pejuang bagi kemajuan bangsanya. Perhatiannya sangat besar terhadap upaya peningkatan nasib, harkat dan martabat hidup anak bangsa. Sebab itu dia sangat gemar menulis artikel tentang perjuangan di berbagai media cetak.
Kritikannya cukup tajam dan memberi semangat juang serta semangat bagi wartawan muda yang kelak mengikuti jejaknya sebagai wartawan.
Untuk memperjuangkan bangsanya M.H.   Thamrin masuk menjadi anggota perwakilan rakyat (Volksraad). Tetapi ia tidak hanya berjuang di situ, tetapi juga ikut membina dan menanamkan rasa kebangsaan yang tinggi, khususnya kepada wartawan-wartawan muda yang pada saat itu dekat dengannya. Sebagai wakil rakyat terjajah M.H. Thamrin tidak mengenal rasa takut dan terus menyuarakan nasib rakyat. Tak heran bila ia tampil sebagai tokoh vokal, yang sangat merepotkan pemerintah Hindia Belanda saat itu.
Cita-cita dan nilai-nilai yang terkandung dalam perjuangannya sungguh mulia, yang bermuara terhadap cinta tanah air, patriotisme, pantang menyerah, tanpa pamrih, dan memiliki sifat kegotongroyongan dalam membangun negeri.
Karena jasa-jasanya yang besar itulah M.H. Thamrin diangkat sebagai tokoh perintis kemerdekaan RI dan menjadi pahlawan nasional. Untuk mengenang kepahlawanannya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengabadikan namanya untuk menamai program pembangunan dan perbaikan lingkungan yang dikenal dengan program Mohammad Hoesni Thamrin (MHT). Sedangkan untuk mengenang jasa-jasanya di bidang jurnalistik, PWI Jaya mengabadikan namanya untuk trophy anugerah jurnalistik yang diperebutkan setiap tahun. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Mohammad Jusup Ronodipuro (Salatiga, 30 September 1919 - Jakarta 27 Januari 2008) adalah salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia (RRI). Tokoh yang suka tersenyum, ngobrol dan bergurau ini pernah dua kali menjadi Kepala RRI (1945-1947 dan 1949-1950). Pada awal kemerdekaan RI sosok yang satu ini juga merupakan pengucap teks proklamasi melalui RRI.
Dalam perjalanan karirnya Mohamad Jusuf Ronodipuro juga pernah menjadi Direktur Jenderal Penerangan Dalam dan Luar Negeri Departemen Penerangan, dan Duta Besar RI untuk Argentina. Setelah pensiun, sahabat Bung Karno dan juga dekat dengan Pak Harto ini aktif sebagai Wakil Ketua Badan Pelaksana Pelestarian Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai ’45, Dewan Harian Nasional (DHN) Angkatan ’45, menjadi Ketua Dewan Pengawas LP3ES, dan Ketua Dewan Pengurus International Forum Indonesia (IFI).
Mantan Sekretaris Pers Bung Karno ini meninggal dunia dalam usia 88 tahun, meninggalkan seorang istri, tiga anak dan tujuh cucu. Semasa hidupnya Jusup Ronodipuro dikenal sederhana dan sempat tak mampu membayar biaya rumah sakit. Untuk biaya rumah sakit ia menjual salah satu lukisan koleksinya -yang sebagian besar hadiah teman-teman pelukis atau membeli dengan cara utang- karya Sujoyono yang tak laku sampai ia tutup usia. Padahal Jusup adalah pejabat tinggi Orde Lama dan Orde Baru. Sebelum sakit almarhum sering muncul di pameran lukisan, seminar politik, sampai pesta diplomatik.
Jusuf Ronodipuro adalah orang yang memberi inspirasi kepada Ibu Sud untuk menulis lagu “Berkibarlah Benderaku”. Asal-muasalnya, Jusuf menolak paksaan tentara NICA untuk menurunkan bendera Merah Putih di Gedung RRI.
Setelah Clas I Jusuf ditangkap Belanda. Begitu keluar dari penjara, ia ditarik Wakil Perdana Menteri (PM), A.K. Gani, ke Biro Wakil PM dan disertakan sebagai anggota delegasi pada Perundingan Renville dengan Belanda. Lalu, Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani merekrut Jusup ke Departemen Luar Negeri dan ditugaskan di London, Inggris.
Salah satu puncak karirnya adalah ketika dia diminta Bung Karno menyiapkan pidato To Build the World a New tahun 1960 di PBB. Ia juga menjadi saksi Bung Karno marah-marah kepada Presiden Amerika Serikat Eisenhower karena menunggu terlalu lama di Gedung Putih ketika berkunjung ke Amerika Serikat tahun 1960.
Bersama L.N. Palar, Jusuf diutus Bung Karno menyampaikan kabar buruk bahwa Indonesia keluar dari PBB per 1 Januari 1964 karena memprotes keanggotaan Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Kabar itu disampaikan kepada Presiden Sidang Umum PBB Quayson Sackey (Ghana), 31 Desember 1963. Esoknya Jusup ke kantor Sekjen PBB U Thant. “Waktu kami kasih tahu, U Thant diam dan menangis. Ia dikenal baik Indonesia, ikut Konferensi Bandung 1955. Setelah itu banyak delegasi minta kita jangan keluar.” (Tim EPI/Wid. Sumber: Dikutip dari tulisan Budiarto Shambazy, Senyum Pak Jusuf, dimuat Harian Kompas 29 Januari 2008).


Mohammad Ibnu Sayuti (Yogya, 23 November 1908) - wartawan senior. Lebih dikenal dengan nama Sayuti Melik. Nama samarannya Yuti Sodrono. Pendidikan Sekolah Guru (Normaalschool). Sejak muda ia giat dalam gerakan kemerdekaan. Pemerintah Hindia Belanda  membuangnya ke Digul (1927-1938) karena kegiatan politiknya.
Tahun 1938 Sayuti menerbitkan koran mingguan Pesat Semarang, yang sering terkena delik pers dan keluar masuk penjara karena tulisannya. Tahun 1942 menjadi pemimpin redaksi suratkabar Sinar Baru, Semarang, dan ikut aktif dalam persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Tahun 1946 hingga 1948 menjadi anggota redaksi Kedaulatan Rakyat, Yogya , pimpinan M Wonohito. Tahun 1953 menjadi pemimpin redaksi  suratkabar  Soeloeh  Indonesia Jakarta -pembawa suara PNI- merangkap pemimpin redaksi  mingguan Waspada (berbahasa Jawa) dan Pesat, kedua-duanya terbit di Yogya. Tulisannya “Memahami Ajaran Bung Karno” di berbagai suratkabar  di Indonesia dijadikan pegangan organisasi Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Sayuti juga tercatat pernah menjadi anggota BP Kongres PNI, anggota DPR-GR, dan anggota DPR/MPR hasil Pemilu 1971 dan 1977 sebagai wakil Golkar. Terakhir ia juga tercatat sebagai tenaga ahli untuk Redaksi Suara Karya, Jakarta. (Tim EPI. Sumber: PDAT)
Mohammad Said - wartawan (Labuhan Bilik Sumatra Utara 17 Agustus 1905-Medan 26 April 1995). Orang yang mengetahui riwayat hidupnya tidak hanya menjulukinya jurnalis kawakan, tetapi juga politisi dan sejarawan yang andal. Padahal, dia hanya tamatan sekolah rendah dan sekolah normal. Karena orangtuanya, Haji Hasan,  tidak mampu membiayai pendidikannya, dia terpaksa mengembangkan pengetahuan dan wawasannya secara otodidak, termasuk dalam menguasai Bahasa Belanda dan Inggris.
Dialah Mohammad Said, anak keempat dari tujuh bersaudara. Said meninggal dunia di Medan dalam usia 89 tahun. Dari istri pertamanya, Zubaidah, dia mempunyai enam anak dan dari istri kedua, Ani Idrus, juga enam anak.  
Said meninggalkan desa kelahirannya pada tahun 1928 menuju Medan untuk bekerja di suratkabar harian Tionghoa Melayu, Tjin Po. Tahun berikutnya dia pindah ke suratkabar Oetoesan Soematra sebagai redaktur pertama dan berhenti karena penerbitnya, Djaparlagoetan, memutuskan korannya berhaluan revolusioner kiri.
Beberapa tahun setelah itu Said membuka kantor hukum (pokrol) meski tidak mempunyai ijazah untuk itu. Umumnya dia membantu warga korban rentenir dan pemodal. Sesudah menjadi wartawan freelance beberapa tahun, Said memimpin suratkabar mingguan Penyebar. Selanjutnya, menerbitkan dan memimpin suratkabar mingguan politik Seruan Kita bersama Ani Idrus, waktu itu jurnalis di suratkabar Sinar Deli, Medan.    
November 1943 ia menjadi pegawai bagian sensor Depertemen Kebudayaan pemerintah sipil Jepang di Medan. Bulan September 1945, menyusul Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Said menerbitkan kembali dan memimpin harian Pewarta Deli di kota itu.  suratkabar pro-RI ini terpaksa berhenti terbit sejak awal 1946 karena percetakannya dirusak oleh pasukan Inggris/Sekutu. Pewarta Deli pernah dipimpin oleh Djamaluddin Adinegoro sebelum dia pindah ke Bukittingi, pusat Pemerintah Darurat RI.
Berdasarkan mandat dari Adam Malik, antara Juni 1946 sampai pertengahan 1948 Said membuka cabang Kantor Berita Antara di Medan dan cabang-cabang Antara lain di Sumatera, dibantu wartawan-wartawan Amarullah O. Lubis, Djafar Mahmud Nasution, M. Nasir, semua rekan-rekan dari Pewarta Deli, dan Amir Daud yang masih remaja. Tanggal 11 Januari 1947, Mohammad Said bersama Ani Idrus menerbitkan harian Waspada di Medan. Akhir 1946, Inggris/Sekutu telah menyerahkan kekuasaan di daerah ini kepada Belanda (Netherlands Indies Civil Administration, atau NICA, yang bermarkas di Australia ketika Indonesia dikuasai angkatan perang Jepang). Karena terbit di daerah pendudukan Belanda, Waspada menghadapi banyak rintangan sejak awal. Pukulan terberat adalah tindakan Belanda memberangus koran ini sampai lima kali antara Agustus 1947 dan April 1949.
Setelah aktif memimpin selama 17 tahun terus-menerus, pada bulan September 1964, Mohammad Said menyerahkan pimpinan Waspada kepada anaknya, Tribuana Said. Akan tetapi, lima bulan kemudian, 23 Februari 1965, Waspada dibredel, kali ini atas perintah Presiden Soekarno, karena mendukung Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS), aliansi sejumlah wartawan dan media yang menentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebanyak 21 harian dan mingguan terbitan Jakarta, Medan, Padang, dan Semarang, yang terlibat BPS dilarang terbit. Tribuana beberapa bulan setelah itu pindah ke Jakarta dan masuk harian Merdeka. Ketika terbit lagi Agustus 1967, Mohammad Said kembali memimpin koran yang didirikannya itu. Akan tetapi, tahun 1969, pengelolaan Waspada diserahkannya kepada Ani Idrus. Sebagai wartawan Said banyak melakukan perjalananan ke luar negeri. Dia juga pernah aktif dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), baik tingkat Medan maupun tingkat pusat.
Pada masa pascakemerdekaan, peran Mohammad Said sebagai politisi mengemuka pada tahun 1950 ketika memimpin Kongres Rakyat se-Sumatera Timur yang menuntut pembubaran negara boneka Negara Sumatera Timur. Gerakan tersebut berhasil. Sejak itu dia aktif berkecimpung dalam partai politik dan menjabat ketua umum Partai Nasional Indonesia (PNI) Sumatra Utara sampai tahun 1956. Pada awal Orde Baru, dia menjadi anggota MPRS atas rekomendasi PNI Osa-Usep, namun baru setahun dia minta berhenti.
Sejak zaman penjajahan, Said sudah menaruh perhatian besar pada penggalian data sejarah dan penulisannya. Di harian Waspada, misalnya, antara 3 Juli sampai 9 Desember 1959, dia menulis 119 artikel bersambung berjudul “Aceh Sepanjang Abad” (yang dua tahun kemudian diterbitkan dalam bentuk buku tebal). Ketika Bung Karno meninggal dunia 21 Juni 1970, Said menulis tajuk rencana bersambung sebanyak 56 artikel. Tahun berikutnya dia menulis artikel berjudul “Mempelajari Sejarah Perjoangan PNI  Sama dengan Mempelajari Perjoangan Rakyat Indonesia”. Dia juga terlibat aktif dalam seminar bertajuk “Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan dan Banda Aceh.
Mohammad Said menerima penghargaan Sarakata Pancacita dan Medali Pancacita dari Pemerintah Daerah Istimewa Aceh/Gubernur Ali Hasjmy. Tahun 1978, Ali Hasjmy, selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia Aceh, menyerahkan penghargaan Sarakata Ulama dan Medali Ulama atas peran aktifnya dalam seminar-seminar tentang Islam di Medan dan Aceh. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia)


Monitor - tabloid mingguan. Awalnya diterbitkan pada tahun 1972 oleh Direktorat Televisi Departemen Penerangan dalam bentuk majalah, tetapi mati pada 1973. Yayasan Gema Tanah Air (pemegang 25% saham) menerbitkannya lagi pada Agustus 1980. Arswendo Atmowiloto dipercaya untuk menanganinya. Ia mengubah format Monitor dari majalah menjadi tabloid yang isinya terutama mengulas dunia film, televisi, dan jagat hiburan lainnya. Harganya jualnya Rp 300.
Bagian perseorangan saham terbesar dimiliki Harmoko sebesar 30 persen. Kelompok Kompas Gramedia mengontrol 40 persen saham. Lima persen opsi saham atas nama Arswendo.
Dalam struktur manajemen, Harmoko duduk sebagai Komisaris Utama. Jakob Oetama, Direktur Utama dan Arswendo wakilnya. M Sani menjabat Pemimpin Umum dan Suyanto sebagai wakilnya. Arswendo menjadi Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab dan Pemimpin Perusahaan dikendalikan Bambang Widjanarko. Tabloid ini pun terbit mudah dengan Surat Keputusan Menpen/SIUPP/B.2/1986 tertanggal 15 Juni 1986.
Tabloid hiburan ini bahasanya cekak aos, bernas, dan ringkas. Halaman mukanya memajang gambar-gambar yang seronok (istilah mereka: lher), misalnya foto artis yang pamer lutut ke atas dan leher ke bawah. Monitor menunjukkan, pangsa pembaca Indonesia kala itu butuh media hiburan dan gosip yang bisa dibaca sambil kaki ongkang-ongkang.
Gebrakan Arswendo ini berbuah manis. Oplah edisi ke-14 Monitor mencapai 500 ribu eksemplar. Oplah Monitor tetap paling top. Keadaan ini tentu saja memudahkan bagian iklan untuk terus bergerilya mengambil ceceran dari belanja iklan nasional. Tren belanja iklan, seperti ditunjukkan Media Scene Indonesia pada edisi yang sama, memperlihatkan kecenderungan yang terus meninggi dari waktu ke waktu. Bila pada 1986, belanja iklan hanya Rp 47 miliar, pada 1987 jumlahnya sudah Rp 55 miliar. Berikutnya, Rp 60 miliar pada 1988 dan Rp72 miliar pada 1989. Dari jumlah itu, Monitor membingkis kue iklan sebesar Rp1,08 miliar pada 1987. Setahun kemudian jumlahnya hampir tiga kali lipat, menjadi Rp 3,17 miliar, dan pada 1989 berlipat lagi jadi Rp 6,32 miliar. Kenaikan seperti itu memang membuat kagum.
Lantaran itu pula Monitor meluncurkan kuis Kagum 5 Juta pada edisi 2 September 1990, untuk menggenjot pendapatan. Kuis itu ditujukan untuk memilih tokoh favorit versi pembaca. Tanggal 15 Oktober 1990, Monitor menyiarkan hasilnya yakni 5.003 orang kagum pada Soeharto, 2.975 orang kagum pada B.J. Habibie, 2.662 memilih Soekarno, 2.431 orang kagum pada Iwan Fals. Arswendo di peringkat ke-10, dengan 797 pengagum, sementara Nabi Muhammad SAW berada di bawahnya.
Dua hari setelah edisi itu terbit, massa menyerbu kantor Monitor dengan satu tuntutan bersama untuk mengadili Arswendo. Mereka menuding sang redaktur melukai umat Muslim. Hasilnya, Monitor Edisi Senin, 22 Oktober 1990, memajang permintaan maaf di halaman 8, bersama dengan biografi Bang Rhoma.
Tanggal 23 Oktober 1990, Menteri Penerangan sekaligus pemilik saham 30 persen Monitor meneken pencabutan SIUPP nomor 194/1984. Pengadilan menjatuhkan vonis terhadap Arswendo selama lima tahun.  (Tim EPI/KG. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indonesia Buku/Jurnas)
MTV Indonesia - stasiun televisi musik. Pertama kali ditayangkan sebagai bagian dari acara-acara di ANTV pada awal 1990-an. MTV Indonesia kemudian pindah siaran ke Global TV pada tahun 2003 dan mengudara selama 24 jam. Setelah Global TV memulai siaran penuh dengan acara-acara sendiri pada tahun akhir 2004, MTV Indonesia ditayangkan selama 12 jam di stasiun televisi tersebut. Dan setelah Global TV makin menambah acara-acara baru, mulai akhir 2006, jam tayang MTV Indonesia makin berkurang.
Namun, tahun 2007 Global TV berencana untuk membenahi MTV Indonesia dengan memproduksi program-program MTV Indonesia lewat in-house production Global TV. Sejak saat itu, beberapa program MTV Indonesia yang dulunya merupakan program taping kini berubah format menjadi siaran langsung dari studio Global TV. Program-program yang kini hadir dalam format live antara lain “MTV Salam Dangdut” dan “MTV Zipper”. Sementara itu, acara-acara besar seperti “Grand Final MTV VJ Hunt”, yang dulunya selalu disiarkan dua minggu setelah acara digelar, kini dapat disiarkan secara langsung oleh Global TV.
Selain bergelut di dunia televisi MTV Indonesia juga menyajikan siaran melalui radio yakni 101.4 MTV Sky, yang mengudara pada pertengahan tahun 2005. Kemudian MRA Media memutuskan untuk melepaskan waralaba MTV Indonesia dan mengudara dengan nama Trax FM pada gelombang yang sama.
MTV Indonesia juga hadir dalam versi cetak yaitu MTV Trax (majalah hiburan). Media ini membahas mengenai musik, film, dan gaya hidup. MTV Trax Indonesia merupakan pelopor majalah MTV di Asia, karena setelah kemunculan pertama majalah ini, Thailand pun menyusul mencetak MTV Trax edisi Thailand dan Singapura dengan tabloid MTV Ink. Namun, nasib MTV Trax pun sama dengan MTV Sky yang melepaskan waralaba MTV dan berubah nama menjadi Trax Magazine.(Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)
Muhammad Noeh Hatumena (Lisabata (Seram Maluku, 1 Agustus 1945). Dia adalah "tokoh" Pers asal Maluku yang menonjol. Karir kewartawanannya dimulai di harian Pelopor Baru Maluku pimpinan Muchsin  Alhabsyi selepas SMA Negeri 1 Ambon, tahun 1965. Pertarna diterima sebagai korektor, dan setahun kemudian menjadi wartawan. Prestasi yang dibanggakannya ketika itu adalah ikut rneliput penyerahan gembong separatis RMS, D. Soumokil, dari pasukan Siliwangi kepada Panglima KDM. Maluku/Irian Barat waktu itu, Brigjen TNI Boesiri.
Setelah rnelanjutkan kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Negeri Pattimura, Ambon, tahun 1966, Noeh bekerja sebagai koresponden harian KAMI Jakarta. Selanjutnya terpilih sebagai Ketua Seksi Wartawan Hankam PWI Caban.g Ambon. Agustus 1972 Noeh bekerja sebagai wartawan ANTARA di Ambon, dan Desember 1978 diangkat sebagai Kepala Cabang LKBN ANTARA Irian Jaya (Irja) di Jayapura. Selama di Jayapura Noeh sangat aktif di organisasi PWI dan dua kali terpilih sebagai Ketua PWI Cabang Irian Jaya.
Di Jayapura Noeh yang populer dipanggil "Pak Hatu" juga aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Dia berteman dengan sejumlah tokoh muda Papua antara lain Barnabas Suebu (Gubernur Papua sekarang) dan Izaac Hindorn (mantan Gubernur Irian Jaya), Simon Patrick Morin (anggota DPR RI) dan Jaap Solossa (almarhum mantan Gubernur Papua).
Di mata masyarakat Pers Papua "Pak Hatu" dikenang karena jasanya membela beberapa wartawan putra asli Papua ditahan dengan tuduhan antek Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dari tangannya lahir wartawan asal Serui, yakni William Yobi yang kini menjadi Kepala LKBN ANTARA Jayapura.
Semasa memimpin PWI di Jayapura, dia meyakinkan Pemerintah Pusat untuk merangkul tokoh Pers Irja asal Sentani, Franzalbert Yoku, yang "nyebrang" ke PNG, dan "menguasai" media massa PNG yang menyerang Indonesia. Franzalbert kemudian membina hubungan baik dengan PWI, dan setiap HUT Kemerdekaan RI selalu diundang ke Jakarta. Karena keberhasilan itu dia kemudian., mendapatkan surat penghargaan dari Kedubes RI di Port Moresby, Papua Nugini.
Setelah 15 tahun 7 bulan. bertugas di Jayapura, Papua, Noeh diangkat sebagai Wakil Kepala Meja Sunting Dalam Negeri LKBN ANTARA, dan beberapa waktu kemudian diangkat lagi menjadi Kepala LKBN ANTARA Australia di Canberra, meliputi seluruh wilayah Pasifik Selatan.
Di Australia Bung Noeh bertugas selama 5 tahun lebih. Selanjutnya dipanggil pulang ke Jakarta dan dipromosikan sebagai Pemimpin Redaksi LKBN ANTAR.A (1994 -1997) dan Direktur Usaha & Pemasaran (1997-2003).
Selama "menggumuli" profesinya sebagai wartawan, Bung Noeh berkesempatan meliput sejumlah peristiwa dunia yang memiliki nilai berita tinggi antara lain Perang Bosnia, Kongres Papua Merdeka di Canberra Australia, Konferensi South Pasifik Forum, dan Konflik Bersenjata antara PNG dan Pemberontak Pulau Bougaiville di Pasifik Selatan. Selain itu, hingga akhir 2003, 27 negara pernah dikunjunginya atas undangan ataupun penugasan kantor.
Ketika mengurusi bidang usaha dan pemasaran LKBN ANTARA, Bung Noeh juga duduk sebagai Direktur Asia-Pulse bekerjasarna dengan kantor Berita AAP Australia. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Muhammad Ridlo 'Eisy (Kudus, 14 Juli 1955) aktif sebagai Ketua Harian Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Pusat, sejak November 2007. la bekerja sebagai Direktur PT Galamedia Bandung Perkasa yang menerbitkan Harian Umum Galamedia. Ia juga menjadi Staf Ahli Direksi PT Pikiran Rakyat Bandung dan anggota Dewan Redaksi Harian Pikiran Rakyat. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Bagian Keuangan PT Pikiran Rakyat Bandung (2002-2005), Kepala Badan Penelitian & Pengembangan Grup Pikiran Rakyat (1993-1999), dan Wakil Redaktur Pelaksana Harian Pikiran Rakyat (1989-1993). Menjadi wartawan Pikiran Rakyat sejak 1982. Pernah belajar di Teknik Geologi ITB dan MBA di Sekolah Tinggi Manajemen Bandung (STMB) Yayasan Telkom.
Aktif dalam gerakan yang memperjuangkan kemerdekaan pers, dan menjadi pendiri Masyarakat Pers & Penyiaran Indonesia. la menulis “Naskah Akademis RUU Pers” dan “Naskah Akademis RUU Penyiaran”, “Peranan Media dalam Masyarakat - Kemerdekaan Pers Fondasi Penegakan Hak Asasi Manusia”, yang  diterbitkan oleh Dewan Pers, tahun 2008.
Selain bekerja di Galamedia dan Pikiran Rakyat, ia menjadi staf pengajar pada Universitas Pasundan dan Universitas Komputer Indonesia di Bandung. Sebelumnya ia pernah mengajar di Magister Manajemen ITB untuk mata kuliah Komunikasi Profesional, dan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Bandung. Antara tahun 1992-1996 menjadi konsultan pengembangan pers daerah di 10 provinsi yang diselenggarakan LP3ES, PWI Pusat, SPS (Serikat Penerbit Suratkabar) Pusat, dan USAID, yaitu Provinsi Bengkulu, Jambi, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Tenggara, Maluku, Irian Jaya, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timur. Tahun 2000 menjadi Direktur Pendidikan SPS Pusat, dan sejak awal tahun 2003 menjadi Direktur Program Manajemen Industri Media Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta.
Mendapat undangan dari USIS Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk berkunjung ke 7 negara bagian di Amerika Serikat pada tahun 1993. International Center For Journalist, Freedom Forum, dan American Society Newspaper Editors (ASNE) mengundangnya mengikuti International Journalism Exchange di Washington, Toledo-Ohio, dan New York pada tahun 1999.
Di samping menjadi wartawan, ia juga seorang penyair, yang pada tahun 1985 menjadi salah seorang utusan Indonesia pada Konferensi Sastrawan Asia Tenggara ke II di Bali, dan menjadi salah seorang utusan Indonesia pada Konferensi Sastrawan Asia Tenggara ke III di Singapura tahun 1987. Pada tahun 1987, International Religion Foundation yang berkedudukan di New York mengundangnya untuk mengikuti Religious Youth Service di Lisboa, Portugal. Antara tahun 1999-2000, ia berpartisipasi dalam Prakarsa Bersama Indonesia Masa Depan sebagai peserta, tim perumus dan tim penulis “Skenario Indonesia 2010”. (Tim EPI/KG/Istimewa)


Multimedia - Melalui berbagai konvergensi (lihat lema Konvergensi) ke depan bisa diharapkan muncul jurnalisme multimedia yang membuka berbagai kemungkinan, melibatkan format teks, audio, dan video. Dari segi alat, yang sudah disiapkan Microsoft misalnya, adalah teknologi perangkat lunak yang akan dipasang pada pesawat TV interaktif.
Beberapa gambaran yang bisa disebut untuk masa depan antara lain,
*  Siaran TV melalui internet, dan wacana   IPTV (Internet Protocol TV) kini terdengar   semakin nyaring.
*  Informasi video yang disiapkan pada hala- man Web (yang sekarang suda jadi hal   umum).
*  Pesawat TV digunakan sebagai peraga, dan  disambung ke internet melalui komputer   dan sambungan telepon.
Berbagai kemungkinan tadi akan disertai dengan bergabungnya media-media konvensional yang sudah ada, seperti koran, radio, dan TV, baik melalui integrasi teknologi maupun secara manajemen/organisasi.
Hal itu tentu saja akan membawa dampak pada cara kerja, dan bahkan juga sistem rekrutmen. Untuk cara kerja, boleh jadi akan ada redaksi (newsroom) yang menghimpun (pool) berita yang diperoleh reporter, dan redaktur akan menetapkan, berita mana cocok untuk segera disiarkan melalui media mana. Dari segi rekrutmen, bisa terjadi calon wartawan direkrut tidak untuk koran, radio, atau TV, tetapi untuk perusahaan multimedia. Di dalam ia akan dipersiapkan untuk menjadi wartawan yang memahami teknik reportase multimedia. Bila Richard Craig menulis panduan reportase, penulisan dan penyuntingan untuk wartawan online dalam Online Journalism (Wadsworth, 2005), Stephen Quinn dan Vincent F. Filak menuliskan teknik penulisan dan produksi lintas media dalam Convergent Journalism (Focal Press-Elsevier, 2005).
Tampak bahwa konvergensi dan multimedia tidak saja akan mengubah lanskap media dan industrinya, tetapi juga akan mengubah tata-cara penyelenggaraan pemberitaan, beserta ruang redaksi (newsroom) dan juga cara kerja wartawan.
Dorongan menuju konvergensi dan multimedia akan semakin mendapat momentum manakala tuntutan efisiensi semakin bergaung ketika keadaan perekonomian tidak kunjung membaik. Sekadar gambaran berikut kiranya bisa sedikit menjadi perbandingan. Di era tanpa konvergensi-multimedia, sering terjadi untuk satu peristiwa yang sama, sebut misalnya gempa di Yogya tanggal 27 Mei 2006, berbagai penerbitan di dalam Kelompok Kompas Gramedia mengirimkan wartawannya masing-masing ke lokasi bencana. Memang setiap penerbitan memiliki fokus dan ciri khas pemberitaan, tetapi dari segi efisiensi praktik tersebut bisa dikatakan boros. Di era konvergensi-multimedia, melalui pengaturan baru, satu berita yang dari awal sudah diperoleh secara terpadu dengan elemen-elemen audio-visual dan tentu saja teks, bisa diolah dan didistribusikan secara pas untuk masing-masing media, apakah itu online, cetak, audio, audiovisual, maupun seluler.
Langkah menuju industri dan jurnalisme multimedia bisa saja diwarnai kendala teknis ataupun psikologis seperti di masa lalu dialami saat Kompas mencoba mengintegrasikan cetak dan online. Tetapi pengalaman Kompas Cyber Media (KCM) sendiri dalam merintis kemitraan dengan Warta Kota (cetak) dan Sonora (elektronik/audio) memperlihatkan bahwa sinergi merupakan satu hal yang visibel. Bahkan akhirnya –setelah delapan tahun—sinergi KCM dan Kompas pun bisa diwujudkan. Ini memberi keyakinan bahwa bila ada kemauan, kendala apa pun dapat diatasi. Atas dasar pengalaman ini, maka satu langkah logis dan natural bila selanjutnya juga dikembangkan sinergi lebih luas, dalam hal ini juga mencakup media audiovisual, setelah sinergi cetak-online-audio bisa dilaksanakan. Mengamati grup media lain yang juga memiliki bisnis cetak, audio dan audiovisual, langkah integrasi menuju konvergensi ini gencar disiapkan.
Tuntutan perubahan gaya hidup masyarakat, perkembangan teknologi, dan tuntutan efisiensi, semuanya terlihat menjadi faktor yang membuat hal ini bersifat imperatif. (Tim/ EPI/Wid. Sumber: suratkabar di Tengah Era Baru Media & Jurnalistik, Ninok Leksono, dalam Buku Kompas, Menulis dari Dalam, Editor St. Sularto, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2007).


Multiperan Jurnalisme dan Media - Dalam menghadapi peristiwa dan meliput suatu bencana yang luar biasa seperti tsunami Aceh akhir 2004 (lihat juga lema Jurnalisme Bencana), peran media dan jurnalisme diharapkan lebih dari sekedar apa yang secara konvensional dilakukan selama ini. Selain peran utama sebagai pencari, pengolah dan penyampai informasi, ternyata media pun diharapkan pula memperluas pelayanan kepada masyarakat di saat-saat begitu banyak orang sedang tak berdaya.
Dalam kasus tsunami Aceh, hal itu telah menjadi kenyataan. Sebagai contoh, Metro TV meyediakan rekaman hasil syutingnya di Aceh untuk dilihat ulang oleh mereka yang ingin mengetahui apakah ada sanak saudara mereka yang termasuk dalam korban bencana gempa bumi dan tsunami. Mereka bisa memutar ulang rekaman tersebut di lobi gedung Metro TV di Jakarta. Sekitar 700 orang berdatangan ke tempat tersebut untuk memastikan apakah ada orang-orang yang terkait hubungan saudara dengan mereka dalam rekaman tersebut. Wajah-wajah yang bingung, muram dan seringkali berlinang air mata, datang dan pergi di tempat tersebut. Masing-masing dengan keinginan yang sama yakni untuk memastikan, bagaimanakah gerangan nasib orang-orang tercinta mereka?
Di Thailand, stasiun televisi, radio dan telepon seluler diharapkan dapat menjadi penyiar cepat peringatan bencana. Sehingga setiap terjadi sesuatu, segera dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas agar berwaspada dan mengambil langkah yang semestinya untuk menyelamatkan diri mereka.
Lalu, bagaimanakah sebaiknya peliputan bencana seperti gempa bumi dan tsunami Aceh yang terjadi akhir 2004 itu? Danny Schechter dalam tulisannya di situs web Mediachannel.org menyarankan perlunya suatu peliputan yang mendalam dan benar-benar mampu menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Kata Schechter, yang dibutuhkan adalah “inside-out” dan bottom up coverage -bukan cuma peliputan dari awan. Dia mengkritik sejumlah laporan pers yang seringkali lebih grafis daripada informatif.
Lebih dari itu, dibutuhkan pula semacam spesialisasi selain seperti ada reporter olahraga, bisnis dan politik, perlu juga ada reporter yang berkemampuan untuk situasi tertentu seperti bencana. Mereka diharapkan mempunyai pemahaman tentang masalah yang dihadapi, tahu apa yang akan ditanyakan atau dikatakan. Dengan begitu khalayak mengerti, bantuan spesifik apa yang sebenarnya tepat untuk disumbangkan.
Selanjutnya, dalam melakukan peliputan lanjutan tsunami, media hendaknya mempertimbangkan berita-berita maupun tulisan mengenai:
1.  Bagaimana komunitas sedang dipulihkan.  Cerita dan foto para survivor dan upaya ko- munitas untuk berbenah dan membangun  kembali, ketimbang foto yang sama saat   bencana baru saja terjadi.
2.  Mereka yang selamat dan keluarga korban  membangun kembali rumah mereka, tetapi  yang lebih penting kehidupan mereka.
3.  Apakah upaya pemulihan benar-benar men- jangkau para korban yang paling membu-  tuhkan atau mengenai biaya administratif  bagi organisasi nonprofit.

Dalam hubungan ini Cote dan Simpson (2000) memberi tip sebaiknya ketika jurnalis tiba di tempat kejadian, langsung mempelajari keadaan sekitar. “Apakah ada yang terluka atau tewas? Seberapa besarkah kerusakan yang timbul? Tatkala mendatangi lokasi suatu bencana, seorang jurnalis juga sudah harus siap penghadapi,
1. Kerumunan orang ramai yang dalam waktu singkat memenuhi tempat kejadian. Gerakan fisik orang banyak yang datang dan pergi di tempat peristiwa dapat menimbulkan rasa chaos.
2. Komunikasi yang bertubi-tubi karena informasi mengenai kejadian tersebut akan berseliweran ditambah dengan kehadiran berbagai perangkat media dan teknologi.
3. Korban trauma dapat berespons terhadap peristiwa traumatik dalam berbagai cara. Ada yang shock, ada yang hiperaktif, atau amat emosional. Ada pula yang menyangkal, tetapi ada yang menghadapinya relatif baik.

Apa pun itu, semua dapat menjadi bahan yang amat berharga untuk dipelajari lebih jauh lagi. (Tim EPI/Wid. Sumber: Jurnalisme Bencana: Sebuah Wacana, Zulkarimein Nasution, dalam Buku Tsunami Aceh Komunikasi di Tengah Bencana, Ibnu Hamad, Penerbit UNESCO Jakarta, 2005).


Museum Pers Nasional - adalah museum yang khusus menyimpan barang-barang bersejarah di dunia pers atau jurnalistik. Awalnya bernama Museum Monumen Pers Nasional (MMPN), namun saat Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional tanggal 9 Februari 1976, kata museum tidak tercantum. Museum ini berada di gedung Monumen Pers Nasional, Jalan Gajah Mada No. 10 Solo, dan merupakan bagian dari Monumen Pers Nasional.
Di Museum Pers Nasional tersimpan berbagai penerbitan pers sejak sebelum kemerdekaan RI, baik berupa koran, majalah dan berbagai penerbitan semasa perjuangan. Pakaian kerja Hendro Subroto yang penuh noda darah akibat tertembak ketika meliput di Timor Timur, foto-foto, mesin ketik kuno yang pernah digunakan wartawan, pemancar radio kuno dari RRI dan berbagai benda bersejarah lain. (Tim EPI/TS)


Muslimin - Sesuai dengan namanya, majalah dwimingguan dengan moto “Majalah  Islam dan pengetahoean oemoem” ini, merupakan suratkabar bernafaskan Islam yang beredar di kalangan umat muslim. Penerbitnya adalah badan penerbit Al Islahil Islamiyah, yang berkedudukan di Kutaraja, Aceh.
Meskipun Muslimin yang terbit tahun 1930 hingga 1933 dan menggunakan teks bahasa Indonesia disebut majalah, setiap kali terbit tebalnya hanya empat halaman . Materi artikel dan berita di dalamnya pada umumnya tentang pendidikan, ilmu pengetahuan  dan agama.
Dalam pemberitaannya, Muslimin terkadang juga memuat kritik-kritik masyarakat terhadap para ulama. Salah satu kritik yang dimuat majalah ini menyangkut para ulama yang mendirikan sekolah tetapi tidak bekerjasama dalam menentukan kurikulum dan aturan-aturannya. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Mustika - stasiun radio. Stasiun radio ini terlahir dengan nama Radio Parahyangan Bandung pada tahun 1967 oleh sekelompok aktivis ORARI di bawah bimbingan AKBP Patah dari Biro Khusus (Birsus) Sudak V Komdak VIII Langlangbuana. Oleh karena itu, studionya beralamat di Birsus Sudak V Jalan Lembong Bandung (sekarang wisma milik Polda Jawa Barat).
Ketika berdiri pertama kali, radio siaran ini dijadikan sebagai studio radio percontohan bagi studio siaran lainnya, yang saat itu berkembang nyaris tidak terkendali dan belum tertata dengan baik, sebagai akibat dari perubahan situasi politik dari Orde Lama ke Orde Baru.
Sebagai radio siaran swasta pertama, Radio Parahyangan dengan cepat dapat merebut pendengar di Bandung sehingga perlu membentuk Parahyangan Fans Dub (PFC), yang dirintis oleh Dedy Damhudi, Didi Yudhaprawira, Neny Yogapranata dkk.
Pada awal tahun ‘70-an Radio Parahyangan sukses menyelenggarakan pentas musik Sarifah dan Mang Ucup yang dibintangi oleh Tati Saleh (almarhumah) dan Sup Yusuf serta sederetan artis lainnya seperti Tetty Kadi dan Anna Mantovani, dengan arahan sutradara Husein Wijaya.
Radio Parahyangan mempunyai acara rutin, bekerja sama dengan perusahaan rekaman Remaco, memilih penyanyi terpopuler pria dan wanita; Pop Singer imitasi dari  penyanyi Tetty Kadi, Anna Mantovani, Erny Johan, Bob Tutupoli, Alpian, dan Deddy Damhudi. Melalui acara Sandiwara Radio melambungkan nama Idris Affandi yang kemudian hijrah ke Sanggar Prativi Jakata.
Menjelang akhir tahun ‘70-an pengelola lama keluar, dan Parahyangan dikelola oleh manajemen baru dengan nama Mustika. Terakhir, manajemen Parahyangan diambil alih oleh Pikiran Rakyat Group menjadi Radio PR dengan nama di udara Radio Mustika, yang bekerja pada FM 107.5 MHz dengan Call Sign PM3FHZ. Mustika mengkhususkan diri sebagai radio wanita, aktif dalam mendukung program pemerintah untuk penanggulangan HIV-AIDS dan traficking sesuai dengan format siaran kata Give Change For A Better Life. (Tim EPI/KG/DAR)