Selasa, 17 Oktober 2017

N dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Narpa Wandawa - majalah bahasa Jawa. Terbit di Solo antara tahun 1920 - 1930-an. Hampir seluruh isi majalah bertuliskan huruf Jawa. Di antara rubrik yang disajikan dengan huruf Latin adalah iklan, risalah hukum, dan perundang-undangan yang menyangkut kepentingan pemerintah kolonial Belanda.
Narpa Wandawa terbit setiap bulan, diprakarsai kerabat Keraton Surakarta. Narpa Wandawa dicetak di percetakan Boedi Oetomo Solo. Salah seorang yang pernah menduduki jabatan pemimpin redaksi, adalah R. Ng. Winarna Jaya.
Peredaran majalah tersebut lebih banyak di kalangan kerabat keraton Surakarta. Format majalah berukuran 15 cm x 20 cm dengan tebal rata-rata 48 halaman per penerbitan.
Sebagian besar isi majalah ini adalah artikel kejawen, pendidikan, seni dan budaya, serta beberapa berita lokal, nasional dan internasional. Pada era ini, sudah ada wartawan-wartawan di lingkungan keraton, antara lain R. Ng. Ronggowarsito, R. Ng. Padmosusatro dan lain-lain. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Nasruddin Hars - wartawan senior. Ketika suratkabar di negeri ini umumnya masih terbit hitam-putih, PRIORITAS, harian yang lahir di Jakarta tahun 1986, yang dipimpin oleh Nasruddin Hars bersama Surya Paloh selaku pemimpin umum, sudah tampil beda dari suratkabar lain. PRIORITAS merupakan koran pertama di Indonesia  yang tampil berwarna. Nasrudin yang biasa dipanggil Pak Nas, sebelumnya adalah wakil pemimpin redaksi harian Angkatan Bersenjata (1983-1986).
Karirnya di bidang kewartawanan berawal ketika Nasruddin bekerja di Mingguan CHAS, sebagai redaktur pelaksana (1969-1973). Setelah mingguan ini  tidak terbit lagi, Nas pindah bekerja di harian Angkatan Bersenjata. Di koran ini, ia mendapatkan kedudukan penting yakni sebagai wakil pemimpin redaksi (1973-1986). Setelah berhasil menggagas dan melahirkan PRIORITAS, Nas menjadi pemimpin redaksi di koran baru yang tampil warna-warni itu.
Usia PRIORITAS ternyata tidak begitu lama, tidak sampai satu tahun. Penyebabnya adalah karena memuat sebuah berita yang dinilai menggangu keamanan dan ketertiban negara, sehingga dilarang terbit. Nasruddin untuk beberapa saat kehilangan kesibukan mengurus suratkabar. Meskipun demikian ia masih aktif di organisasi PWI Cabang DKI Jakarta, sebagai ketua (1983-1987).
Pada periode kepemimpinan Nas inilah, nama PWI Jaya sangat disegani, setidak-tidaknya di mata para anggotanya, karena banyak menyelesaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan kepentingan anggota PWI Jaya saat itu.
Contohnya adalah ketika terjadi pemukulan terhadap S.K. Martha, wartawan film, oleh suami artis Jenny Rachman, karena dituduh menulis sebuah berita yang dianggap merugikan dan mencemarkan nama baik Jenny.
Sebagai tindak lanjut dari persitiwa itu para wartawan film mengadu ke PWI Jaya dan menuntut agar PWI Jaya menyatakan “black out” terhadap pemberitaan-pemberitaan mengenai artis top itu. Setelah mendengar pendapat dari para anggota dan mempertimbangkan berbagai hal, Nasruddin memenuhi tuntutan sebagian anggota organisasi yang dipimpinnya itu.
Kepemimpinan Nasruddin hingga kini masih dikenang oleh rekan-rekannya sesama pengurus PWI Jaya. Nasruddin yang sabar, berpikir luas, dan selalu tepat dalam mengambil keputusan adalah kesan yang hingga masih melekat di dalam ingatan mereka.
Nasruddin sendiri mengatakan, motif utama ia menjadi wartawan, adalah karena adanya keinginan untuk menegakkan kebenaran, khususnya dalam membela kaum yang lemah dan tertindas melalui profesi jurnalistik. Baginya, pengalaman yang paling berkesan dan menyentuh selama berpuluh tahun sebagai wartawan adalah ketika meliput ke daerah-daerah miskin.
“Bertemu, berdiskusi dengan orang-orang besar, merupakan salah satu hal menarik yang saya alami sebagai wartawan,” kata Nasruddin yang pernah mengikuti kursus di Lemhanas. Nasruddin juga sempat aktif di PWI Pusat (1998-2003) sebagai penasehat.
Di luar bidang kewartawananan Nasruddin Hars sempat menyusun buku “Profil Provinsi Republik Indonesia” (28 jilid). Nasruddin Hars, kelahiran Lhok Seumawe, Aceh Darussalam, meninggal dunia dalam tugas ketika memberikan bantuan sosial kepada korban bencana alam Tsunami Aceh. (Tim EPI/KG. Sumber: SSWJ)       


Nationale Commentaren - majalah bulanan. Terbit pertama kali pada 8 Januari 1938. Sam Ratulangie tercatat sebagai direktur dan redakturnya. Majalah ini menjadi bacaan kaum intelektual bumiputera dan kalangan pemerintah. Saat itu kantor redaksinya beralamat di Goentoerlaan 10, Bandung. Kurang dari empat bulan kemudian pindah ke Wayanglaan 22, masih di Bandung. Pada 6 September 1938,  pindah ke Batavia, di Laan Wiechert No 3. Terakhir, menjelang tahun ketiganya, 7 Desember 1940, kantor redaksi Nationale Commentaren menempati sebuah bangunan di Kramatplaan 12, Batavia-Central.
Para pendukung Nationale Commentaren adalah para intelektual dan praktisi nasionalis pribumi, seperti Muhammad Husni Thamrin, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Wiwoho Poerbohadidjojo, Dr. Philip Laoh, Dr. Soeratmo, Soetardjo Kartohadikoesoemo, dan lainnya. Suratkabar ini bertujuan untuk melepaskan rasa minder pribumi dari tekanan kolonialisme.
Da
ya pikat Nationale Commentaren adalah isinya, yang meninjau pelbagai isu internasional dari kacamata bumiputera.
Apresiasi pun berdatangan dan tak hanya dari kaum pribumi, tetapi juga dari kalangan orang-orang kolonial, bahkan para intelektual di Belanda. Sumbangan tulisan dari Eropa berdatangan dan menyemarakkan proses transformasi pengetahuan dan pendidikan bagi kemajuan pribumi. Nationale Commentaren berfungsi meningkatkan pendidikan politik, hak kemerdekaan dan menyadarkan pegawai negeri pribumi agar melepaskan diri dari tekanan supremasi kulit putih.
Pesona Nationale Commentaren terpusat pada rubrik “Block Notes” yang berisi catatan-catatan singkat bernada sindiran terhadap pemerintah. Inilah mata pedang yang membikin badan sensor pemerintah bertambah waspada. Hebatnya, Sam selalu berhasil menghindarkan suratkabarnya dari ancaman pemberangusan.
Tetapi, pedasnya komentar-komentar yang ditulis Sam Ratulangie akhirnya membikin pemerintah kolonial gerah. Ia pun terkena jerat, didakwa berbuat korupsi sehingga merugikan pemerintah. Kasus yang sempat menjadi perdebatan antara pers kolonial melawan pers bumiputera itu akhirnya berakhir dengan jatuhnya vonis hukuman penjara selama empat bulan di rumah penjara Sukamiskin. Kehilangan kepala sekaligus otaknya, Nationale Commentaren pun akhirnya berhenti beredar. (Tim EPI/KG. Sumber: Iswara N Raditya/Indonesia Buku/Jurnas)


Nirom (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij - Bld: Maskapai Siaran Radio Hindia Belanda) - stasiun radio milik pemerintah Hindia Belanda ini setelah kemerdekaan Indonesia diambil alih dan diubah namanya menjadi Radio Republik Indonesia (RRI).
NIROM memulai siarannya pada tahun 1920. Pemancar yang paling terkenal adalah Perhimpunan Radio Batavia (Bataviaasche Radio Vereniging), yang siarannya dilakukan dari Hotel Des Indes. Pada tahun 1928, NIROM didirikan di Amsterdam, yang rencananya menangani pemancar siaran ke seluruh Jawa, dan dalam tiga tahun kemudian ke seluruh Hindia Belanda. Namun karena persiapan-persiapan teknis yang harus dilakukan, baru pada tahun 1934 NIROM mulai dapat memancarkan siarannya.
Mulanya NIROM hanya melakukan siaran dalam bahasa Belanda. Namun sejak 1935, siaran-siarannya juga dilakukan dalam bahasa-bahasa setempat. Penggunaan bahasa-bahasa setempat hampir digunakan untuk seluruh siarannya justru pada akhir masa NIROM.
Pegawai NIROM yang paling terkenal di Belanda adalah Wim Kan, seorang pembawa acara, yang pada 1939 mengunjungi India, dan setelah invasi Jerman ke Belanda memutuskan tinggal di Asia. Penyiar lainnya adalah Bert Garthoff yang setelah penyerbuan Jepang dan menyerahnya pemerintah Hindia Belanda pada 8 Maret 1942, menutup siarannya dengan kata-kata, “Selamat berpisah, hingga waktu yang lebih baik kelak. Hidup Sang Ratu!”
Namun NIROM masih mengadakan siaran yang membuat tercengang para pendengarnya dengan menyiarkan lagu kebangsaan Belanda, “Wilhelmus”. Ketika Jepang mengetahui disiarkannya musik tersebut, tiga pegawai NIROM dihukum mati.(Tim EPI)


Neratja - suratkabar harian. Neratja adalah salah satu di antara banyak suratkabar yang terbit di Batavia atau Jakarta, pada tahun 1917. Penerbitnya adalah, UitgeversMij Evolutie, Batavia, dengan direkturnya Darmakoesoema. Meskipun Neratja merupakan suratkabar harian, namun pada hari Jumat dan Minggu tidak terbit. Kantor redaksinya beralamat di Jalan Senen No. 10, Weltevreden. Pemimpin redaksinya HA Dirdja dan redaktur Djojosoediro.
Suratkabar Neratja dengan semboyan “….Oentoek menjokong dan membantoe segala oesaha dan pergerakan jang menoedjoe kebaikan dan kemadjoean bangsa dan tanah air dengan djalan jang patoet”, juga termasuk suratkabar perjuangan.
Berita-berita dan artikel dalam suratkabar tersebut, kebanyakan terkait dengan perjuangan kemerdekaan. Seperti berita utama pada halaman pertama salah satu edisinya, Neratja memberitakan masalah penguasaan tanah swasta, soal hak-hak perlindungan rakyat di wilayah governement dan lain-lain.
Di samping itu, berbagai berita daerah dan berita-berita ringan, seperti berita olahraga juga mendapat porsi dalam suratkabar tersebut.
Neratja yang dijual dengan harga langganan Rp 2,50 per tiga bulan dan tarif iklan 20 sen per baris, sempat bertahan sampai tahun 1923. (TS/Tim EPI. Sumber: Perpusnas)


Newscasters selain menyajikan berita, juga menjiwai apa yang dibawakannya karena pada dasarnya dia juga seorang reporter.
Fungsi newscasters sama dengan fungsi anchor (lihat juga lema anchor). Perbedaannya, newscasters bersifat formal, sedangkan anchor lebih bersifat nonformal. Bebas tetapi tetap berwibawa. Setiap kata dan informasi yang diucapkan selalu mengandung nilai intelektualitas yang tinggi, dan bukan informasi yang sudah diketahui oleh masyarakat umum.
RRI  dan TVRI banyak menggunakan cara BBC, sedangkan radio dan televisi swasta lebih banyak menggunakan cara-cara yang dikembangkan di Amerika Serikat. Hal ini wajar karena RRI dan TVRI adalah media massa milik pemerintah sehingga harus berpenampilan formal, sedangkan radio dan televisi swasta lebih bersifat bebas.
Menurut Boyd (1990), seorang penyiar berita (newscasters/anchor) harus memiliki otoritas, kredibilitas, kejelasan dan kejernihan suara, komunikatif, kepribadian kuat, profesionalitas yang tinggi, penampilan dan volume suara yang prima.
Di luar negeri, seorang penyaji berita diseleksi dari wartawan cetak atau reporter radio dan televisi, sehingga mereka sudah menguasai dasar dan bahkan sudah mempraktikkan keterampilan jurnalistik. Di Indonesia justru sebaliknya, pertama-tama dipilih dulu para calon penyiar yang memenuhi kriteria intelektual, penampilan, volume suara, dan kepribadian; kemudian setelah diterima baru diberikan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Mana yang ideal? Tentu saja yang biasa dilakukan di luar negeri. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, Askurifai Baksin, Penerbit Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2006)


Newsroom - ruang pemberitaan online, merupakan bagian yang terpisah di sebuah media yang memiliki berbagai divisi penerbitan. Para reporter dan redaktur (editor) melayani pemberitaan yang berbeda dengan rekannya di media cetak.
Wartawan online meliput peristiwa persis wartawan lainnya. Alatnya sama, mencatat fakta, dan melaporkannya dalam berita-berita yang bersifat spot, feature, atau depth. Mereka berkoordinasi dengan wartawan lain, yang berbeda divisi.
Ketika pemberitaan mereka dimasukkan ke ruang pemberitaan online, oleh redaktur ditambah, dipoles, dan dihubungkan dengan berita atau informasi lain. Mereka bisa pula menyiapkan berbagai peta, bagan, gambar, grafik, ilustrasi atau menyertakan artikel lain. Platform tampilan layar komputer tidak seleluasa kerja penempelan peta, gambar atau ilustrasi seperti di media cetak. Pembuatan tampilan di newsroom memerlukan pekerjaan teknologi yang berbeda.(Tim EPI/Wid)


Nias Berita - suratkabar dwimingguan. Gelora perjuangan masyarakat Nias dalam mendukung usaha kemerdekaan Indonesia, dapat disimak dari suratkabar dwimingguan Nias Berita yang terbit di kepulauan itu tahun 1924. Hal itu tampak dari moto suratkabar yang diterbitkan Perusahaan Nias Berita di Goemarang Sitoli tersebut, yakni, “Menghendaki tingkat kemadjoean yang sutji oentoek bangsa dan tanah air.”
Format Nias Berita yang terbit setiap pertengahan bulan dan akhir bulan, lebih kecil dari ukuran tabloid. Setiap kali terbit hanya 8 halaman.  Wilayah peredaran Nias Berita juga terbatas di kawasan Gunung Sitoli. Berita-berita maupun artikelnya banyak mengungkap berbagai kejadian sederhana di Nias, seperti berita tentang perdagangan, pertanian, perikanan, kebiasaan dan tradisi masyarakat setempat, ulasan-ulasan tentang daerah Nias dan sebagainya.
Meskipun Nias Berita termasuk kecil, pada halaman terakhir juga terdapat ruang untuk iklan. Dinamika masyarakat Nias dalam dunia perniagaan tercermin dari porsi iklan yang dimuat dalam Nias Berita. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Nieuws, suratkabar mingguan dengan slogan “in advertentieblad voor het Gouvernment Atjeh en Onderhoorig heden”, ini membidik kalangan usahawan dan aparat pemerintahan Hindia Belanda di Aceh sebagai pangsa pasar. Penerbitnya adalah Atjeh Druk en Boekhandel di Koetaradja.
Suratkabar Nieuws yang berbahasa Belanda dan terbit  4 halaman, termasuk berusia relatif panjang, dari tahun 1904 – 1939. Sebagai suratkabar mingguan yang terbit pada hari Sabtu, Nieuws lebih banyak berisi berita-berita hiburan di banding berita-berita umum. Pada halaman pertama, misalnya, hampir selalu berisi berita tentang perayaan-perayaan dan sambutan berbagai pihak terhadap berbagai acara.
Sejalan dengan slogan suratkabar tersebut, Nieuws memberikan ruang cukup luas untuk halaman iklan, baik iklan berukuran besar maupun kecil. Meskipun suratkabar Nieuws dicetak hitam-putih, kualitas cetakannya termasuk bagus dengan tata-letak iklan dan berita cukup rapi dan indah.
Meskipun suratkabar Nieuws terbit di Aceh, hampir dalam setiap penerbitannya terdapat berita tentang jadwal kegiatan gereja di wilayah tersebut. Berita-berita umum, artikel-artikel dan berita pemerintahan, di antaranya tentang pengangkatan pejabat-pejabat baru, nama-nama pejabat yang dimutasikan dan lain-lain. Selain itu ada berita hiburan, cerita pendek dan cerita bersambung Fieulleton, artikel kewanitaan dan sebagainya.
Nieuws juga memuat jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal untuk memenuhi kebutuhan para usahawan. Bahkan nama-nama penumpang kapal yang datang dan berangkat pun seringkali dimuat sebagai berita. Sedangkan iklan yang dimuat terbanyak adalah mengenai rencana pemberangkatan kapal ke negara-negara Asia dan ke Eropa. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Noorca Marendra Massardi (Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954) - sastrawan, wartawan yang pernah hidup sebagai gelandangan. Sambil belajar di sekolah menengah pertama (SMP), anak kelima dari sebelas bersaudara ini membantu ibunya berjualan pisang dan singkong goreng. Lantas bersama adik- adiknya, ia menjadi penjaja koran, majalah, dan buku.
Tamat SMP, ia belajar sendiri, meminati drama, dan berambisi tenar. Untuk menonton “Menunggu Godot” karya Rendra, dihabiskannya penghasilannya sebulan dari pekerjaannya sebagai penjual es mambo dan penjaga toko kain di Tanah Abang. Ia keluar dari pekerjaannya 1970, lantas menggelandang di Jalan Kiai Haji Wahid Hasyim.
Berpangkal di Gelanggang Remaja Bulungan, Noorca mulai mempublikasikan karyanya Bhagawad Gita (1972), Kertanegara (1973), Perjalanan Kehilangan (1974), Kuda-kuda (1975), dan Terbit Bulan Tenggelam Bulan (1976). Novel/skenario film Sekuntum Duri, dan roman Mereka Berdua, diterbitkan PT Gramedia, Jakarta, 1979 dan 1981. Drama Growong diperbanyaknya sendiri, 1982. Pada tahun itu, Cypress menerbitkan naskah sandiwara anak-anaknya, Tinton, dan Mencari Teman.
Atas permintaan Ny. Roesni Zulharmans, istri Ketua PWI Pusat, Noorca mengajar drama di SMA Negeri VII Jakarta, 1975. Di sini pula ia berkenalan, kemudian berpacaran, dengan Rayni, yang lantas berpisah karena dikirim orangtuanya untuk belajar ke Paris, 1976. Pada tahun itu juga Noorca menyusulnya dan menikah di sana tahun 1977.
Selama di Paris, Noorca sempat belajar di Ecole Superieur Du Journalisme, dan menjadi koresponden majalah Tempo. Ia ditugasi dan berhasil mewawancarai sejumlah tokoh dalam pengasingan, seperti Ayatullah Khomeini, Pangeran Sihanouk, Bani Sadr, dan pemimpin Mujahiddin Masoud Radjawi.
Setahun sesudah kembali ke Indonesia, ia bergabung dengan harian Kompas, 1982. Lepas dari Kompas, ia memimpin Jakarta Jakarta, sejak 1985. Noorca, saudara kembar Yudhistira A.N.M.M. Massardi, ini penggemar kempo yang kini suka berenang, menggenjot sepeda argo, dan boling. (Tim EPI/KG/PDAT)


Nova - suratkabar mingguan berbentuk tabloid. Kemunculan Nova berawal dari perluasan jaringan penerbit suratkabar Kompas. Karena itu, sebagian besar awak Nova berasal dari anggota redaksi yang biasa menangani rubrik perempuan di koran tersebut. Di antaranya adalah Mary Jane Daniel, yang sekarang menjabat sebagai Pemimpin Perusahaan. Di Kompas, ia membidangi rubrik fesyen, dan rubrik yang sama dipegangnya ketika bergabung kali pertama dengan Nova.
Masuk dalam bursa persaingan di jalur media dengan pangsa pasar wanita memang tak mudah. Ceruk ini sudah sedemikian sesak oleh pemain. Jika tak kreatif dan daya endus yang tajam mencium peluang, bisa-bisa gulung tikar cepat. Rupanya tabloid Nova membuktikan diri mampu sukses melewati lebih dari seribu edisi mingguan selama lebih dari 19 tahun malang melintang di kancah media cetak negeri ini.
Konsep Nova adalah layaknya majalah, tetapi disajikan dalam format tabloid. Ini sebagai siasat untuk menekan biaya produksi sehingga bisa diterima oleh pelbagai lapisan masyarakat, khususnya wanita. Nova disodorkan sebagai alternatif bacaan berbobot majalah dengan harga relatif murah. Ini masih ditambah dengan predikat yang dilekatkan sendiri, yaitu sebagai “Mingguan Berita Wanita”. Oleh karena itu, tabloid ini penuh berisi artikel berkualitas, yang dianggap penting dan perlu bagi wanita.
Dengan bekal hukum SIUPP SK MENPEN RI No. 066/SSK/MENPEN/ SIUPP C.1/1986, edisi pertama tabloid ini dilepas di pasaran pada 28 Februari 1988. Namun, sebelumnya diedarkan edisi percobaan pada 7 Januari 1988 yang mendapat sambutan hangat khalayak.
Pada awalnya, Nova terseok-seok menghadapi pelbagai aral dunia pers. Para pemasang iklan ragu-ragu dengan tabloid yang saat itu belum populer dan tidak “seelite” majalah. Namun, Nova terus belajar dari pengalaman dan oplahnya pun kian naik dari waktu ke waktu. Bahkan, jumlah oplah yang tinggi membikin banyak penerbit turut menerbitkan tabloid wanita dengan format yang tak jauh beda dari format Nova. Sehingga, kemudian menjamurlah tabloid yang menjadikan wanita sebagai pasar utamanya.
Kiat khusus Nova untuk menarik minat pembaca adalah dengan menampilkan ulasan lengkap mengenai peristiwa yang menjadi perbincangan ramai dalam masyarakat. Ulasan jenis ini tidak terbatas pada berita yang bertalian dengan selebritas saja, tetapi juga dengan orang biasa seperti tragedi, pembunuhan, hukum, lingkungan, ketenagakerjaan, dan sebagainya.
Sejak edisi percobaan hingga saat ini, halaman muka Nova nyaris selalu memajang gambar para pesohor, mulai dari aktris, presenter, selebritas, dan lainnya. Namun demikian, pada tahun-tahun awalnya bagian sampul tabloid ini dijejali beberapa artikel berita sebagaimana koran. Seiring waktu dan minat pembaca, kini bagian sampul itu dihiasi model cover dan judul-judul artikel serta iklan.
Bak lukisan, Nova kaya warna. Rubrik yang mewarnai Nova adalah rubrik cover story, Selebriti, Peristiwa, Kabar-kabur, Profil, Kisah, Busana, Taktik Cantik, Galeri, Info Praktis, Psikologi, Anda & Anak, Anda & Pasangan, Griya, Kesehatan, pelbagai resep masakan, hingga Astrologi. Rubrik yang menjadi favorit pembaca tentu saja cover story, selain rubrik sedap sekejap dan pelbagai rubrik yang memuat kreasi kerajinan tangan.
Ketika berita hiburan menjadi tren di televisi, Nova menyiasatinya dengan memberikan porsi yang lebih besar untuk berita selebritas. Tapi untuk tak terjebak dalam publisitas heboh belaka, Nova juga menyajikan berita secara berimbang dan kualitas rubrik dijaga ketat. Idealisme untuk menjadi inspirasi wanita Indonesia terutama ditorehkan dalam kolom Profil dan Kisah, yang menuangkan pelbagai pengalaman berliku orang-orang sukses, baik orang terkenal maupun biasa, yang terbukti telah memberikan kontribusi positif pada masyakarat sekitarnya.
Menyapa pembaca setiap minggu, Nova beredar nyaris di seluruh kota penting di Indonesia dan bahkan ke beberapa negara tetangga. Nova mencapai angka tertinggi penjualan ketika menampilkan berita dan ulasan tentang kecelakaan yang menimpa Nike Ardilla, penyanyi yang tenar pada dekade 90-an. Tidak tanggung-tanggung, edisi 26 Maret 1995 menyentuh angka 850.000 eksemplar. Edisi ini diikuti dengan edisi-edisi lain yang menampilkan berita komplet tentang sang penyanyi.
Kini, dengan oplah rata-rata 350.000 eksemplar lebih, Nova mantap bertengger sebagai tabloid wanita yang diperhitungkan. Nova berhasil eksis dalam hampir dua dekade perjalanan panjangnya menapaki jalan jurnalisme bagi perempuan. (Tim EPI/KG. Sumber: Dian Andika Winda/Indonesia Buku/Jurnas)


Nurani - suratkabar mingguan, adalah bacaan keluarga muslim, yang diterbitkan oleh  PT. Nurani Media Teduh, mulai terbit 3 November 2000/1 Ramadhan 1420 H, di Surabaya. Nurani terbit tiap hari Kamis, setebal 40 halaman dengan komposisi 50 warna dan 50 hitam putih. Visi Nurani adalah bahwa kebenaran sejati ada pada hati nurani, namun tak semua manusia mampu berbuat dan bersikap sesuai hati nurani.
Adalah tugas Nurani untuk mengasah kepekaan hati nurani semua pembacanya, agar bisa melihat mendengar dan merasakan segala sesuatu yang telah terjadi. Misi Nurani mendidik masyarakat agar berpikir modern dan islami. Memotivasi masyarakat agar giat memihak pada kebenaran. (Tim EPI/KG. Sumber: Wikipedia)
Nusa Putera - suratkabar harian. Diterbitkan tahun 1964 oleh DPP Partai Syarikat Islam Indonesia atau PSII, yang dipimpin oleh Syekh Marhaban. Sebagai trompet partai, Nusa Putera cukup galak. Berita-beritanya disajikan demikian rupa dengan gaya bahasa yang khas.
Sejumlah tokoh PSII terlibat dalam pengasuhan Nusa Putera, antara lain keluarga besar H.O.S. Tjokroaminoto, seperti Anwar, Harsono, Taufiq, Rusydi, Ahmad Dainuri Tjokroaminoto, H.M. Ch. Ibrahim dan Bustaman.
Jaringan PSII yang kuat ketika itu membuat koran ini mudah memperoleh informasi dini tentang sesuatu permasalahan nasional. Demikian halnya dengan isu politik yang terus bergerak setiap jam.
Semuanya disajikan dengan judul-judul yang berani, sehingga Nusa Putera banyak mendapat perhatian dari kalangan pengambil keputusan.
Usia penerbitan Nusa Putera tidak lama dan harus berakhir setelah terjadi perpecahan di tubuh partai pada tahun 1965, antara kubu Syekh Marhaban dan kubu keluarga besar Tjokroaminoto. Perselisihan kian mendapatkan tempat ketika pemerintah Orde Baru melakukan penyederhanaan partai-partai politik, di mana pemerintah hanya mengakui kepemimpinan Harsono Tjokroaminoto dan bukan H.M. Ch. Ibrahim yang dipilih Muktamar. (Tim EPI/Baidhawi)


Nusa Tenggara - suratkabar harian, terbit pertama kali pada 1967 di Denpasar, Bali di bawah payung hukum Surat Izin Terbit No. 02 k /Pers/SK/Dir PDL.N/SIT/68. Koran pagi ini ingin menapaki jalan “Menunjang Pembangunan untuk Mempertinggi Ketahanan Nasional”.
Nusa Tenggara bernaung di bawah Yayasan Udayana yang menjadi pemrakarsa penerbitannya. G.B. Permana menjabat Pemimpin Umum/Penanggung Jawab, sedangkan Jimmy Z. Boputan menjabat Pemimpin Redaksi dibantu Raka Tedja. Mereka berkantor di Jalan Gadjah Mada 143 Denpasar.
Sebagai suara abdi negara Nusa Tenggara memberitakan pembangunan di Bali dan wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, baik dalam bidang sosial, budaya, pertanian, kriminalitas, pertahanan dan keamanan, kesehatan, maupun olahraga.
Karena milik militer, politik redaksi tak jauh-jauh dari kepentingan pembangunan dan stabilitas. Ketahanan nasional, menurut suratkabar ini, berpangkal dari suatu kesatuan dan persatuan. Koran ini kerap menurunkan artikel berlatar belakang sejarah guna merawat dan membiakkan semangat tersebut.
Namun persoalan yang dihadapi media massa bukan hanya soal peneguhan cita-cita pembangunan, tapi juga kekuatan untuk bersaing dengan pers-pers lokal lainnya. Saingan tangguh Nusa Tenggara memperebutkan pembaca tentu saja Jawa Pos dan Bali Pos.
Sejak didirikan hingga awal tahun ‘90-an kepemilikan modal Nusa Tenggara sudah tujuh kali beralih tangan. Selama dua tahun (1991-1993) manajemen Nusa Tenggara dikelola oleh Grup Surya Persindo milik Surya Paloh. Menyusul kemudian Grup Bakrie.
Saat mulai ditukangi Grup Bakrie, Nusa Tenggara sudah berada di bibir jurang. Jumlah karyawannya membludak sementara oplah hanya 4.700 eksemplar per hari dan terjual 30 persen.
Dengan komposisi saham 30 persen Kodam Udayana, 50 persen Bakrie Media Nusatama, dan 20 persen Karyawan, Nusa Tenggara diubah total. Kata “tenggara” ukurannya agak dikecilkan sehingga kata “Nusa” tampak lebih menonjol.
Nusa juga tampil dengan roh Bali. Untuk mengejar angka penjualan, Nusa menerapkan strategi “menjual” Megawati dan PDI Perjuangan, kultur Bali beserta aspek mistis dan orisinalitas upacaranya, serta Gelora Dewata yang menjadi klub sepak bola kebanggaan masyarakat setempat.
Performa baru tersebut bukan cuma membuat wartawan dan karyawannya lebih percaya diri, tetapi juga, dalam enam bulan, tiras Nusa mampu menembus angka 8 ribu eksemplar dengan inkaso sebesar 70 persen dan hanya kurang dari tujuh persen koran yang retur dari 30 persen jatah konsinyasi. Sejak saat itulah kehadiran Nusa kembali dilirik agen. Saingan-saingan mapannya pun mulai memperhitungkan lagi kehadiran koran ini. (Tim EPI/KG. Sumber: Dian Andika Winda/Indexpress/Jurnas)  


Nyata - suratkabar mingguan. Dikenal publik pers sebagai salah satu media cetak yang menguasai pasar pembaca Tanah Air. Tabloid ini tercatat beroleh Cakram Award 2007 dan menurut sebuah lembaga survei, Nyata dibaca lebih dari satu juta orang dengan latar belakang dan tingkat pendapatan yang beragam.
Kesuksesan Nyata salah satunya bersandar pada penolakannya untuk menjadi tabloid yang semata-mata menyuguhkan berita hiburan dan terjebak menyiarkan hal-ihwal selebritas belaka. Nyata mengedepankan misi sebagai tabloid berita yang mau turut serta berupaya mencerdaskan bangsa.
Tabloid ini meraih kejayaan sesudah melewati jalan yang berliku dan reorganisasi berkali-kali. Semula, Nyata lahir sebagai harian umum dengan nama Dharma Nyata pada 1 Juni 1971 di Solo Jawa Tengah. Harian ini sepenuhnya berbahasa Jawa dan bernaung di bawah Dharma Nyata Press. Penggunaan bahasa Jawa ternyata membatasi ruang edarnya hanya sebatas Solo dan sekitarnya. Meskipun demikian, Dharma Nyata mampu mencapai tiras sekitar 35.000 eksemplar setiap kali terbit.
Suasana adem-ayem sebagai koran daerah hanya bertahan sekitar 4 tahun. Pada 1975, para penyelenggaranya berselisih pandangan dan menyebabkan perpecahan di tubuh harian ini. Salah satu pihak kemudian mendirikan Dharma Kanda, yang juga berbahasa Jawa dan menyajikan pelbagai warta mulai dari berita daerah, nasional hingga internasional. Dharma Nyata sendiri meskipun tidak mengalami kemajuan, terutama dari segi penjualan, tetap eksis khususnya di Solo, sedangkan Dharma Kanda redup pamornya, dan lantas padam total.
Menyadari betapa lemahnya media berbahasa Jawa, pada tahun 1980, di bawah pimpinan N. Sakdani Dharmopamudjo, Dharma Nyata melakukan terobosan dengan terbit dua belas halaman dan menggunakan dwi-bahasa, Jawa dan Indonesia, agar daerah edarnya lebih luas. Sayangnya, strategi ini gagal mendongkrak penjualan.
Enam tahun kemudian, Dharma Nyata merombak seluruh tampilannya dengan mengambil resiko terbit sebagai mingguan dengan format tabloid. Halamannya bertambah menjadi enam belas halaman dan turut menyukseskan program pemerintah Koran Masuk Desa. Desain halaman muka dibikin lebih memikat dengan tampilan berwarna, meski masih sederhana. Terobosan terbesar, bahasa Jawa ditanggalkan dan bahasa Indonesia digunakan secara penuh.
Terobosan ini berhasil. Daerah edar Dharma Nyata meluas hingga keluar Solo, bahkan keluar Jawa. Edisi KMD Dharma Nyata juga mendapat penghargaan Departemen Penerangan (Deppen) sebagai terbitan Koran Masuk Desa terbaik di Ujung Pandang dan Sulawesi Selatan. Penghargaan itu diterima langsung oleh pemimpin Dharma Nyata, N. Sakdani, pada 26 Desember 1990.
Kemajuan pesat tidak membuat Dharma Nyata mau beristirahat, dan malah mau melebarkan sayapnya. Sebuah kebetulan ketika N. Sakdani bertemu dengan Dahlan Iskan, pemimpin Grup Jawa Pos, dalam acara penyerahan penghargaan dari Deppen. Sesudah melewati sejumlah pembicaraan, kedua wartawan kawakan itu merasa cocok. Dharma Nyata membutuhkan dukungan manajemen yang lebih profesional untuk melangkah ke depan sementara Grup Jawa Pos memimpikan memiliki sebuah tabloid.
Kecocokan itu disusul dengan kesepakatan bertemu lagi untuk membahas kemungkinan kerja sama lebih jauh. Di Solo, 29 Desember 1990 pertemuan itu dilangsungkan dan menghasilkan sejumlah keputusan, antara lain Jawa Pos membeli sebagian saham PT Dharma Nyata Press. Konsekuensinya, tabloid ini masuk ke dalam jejaring milik Jawa Pos, Jawa Pos News Network (JPNN).
Sejak itu, semua urusan manajerial Dharma Nyata ditangani kelompok Jawa Pos. Kegiatan redaksi dan perusahaan di Solo pun dipindahkan ke Surabaya untuk memudahkan aktivitas. Edisi KMD tetap dipertahankan, tetapi berubah nama menjadi Medium. Edisi KMD tetap diterbitkan dan dikelola di Solo dengan pengawasan Jawa Pos. Jawa Pos saat itu sudah menjadi harian yang mapan, sehingga mampu mendandani sampul Dharma Nyata penuh warna dan desain serta isinya pun turut dirombak.
Nama “dharma nyata” tetap dipertahankan, tetapi dengan perubahan. Kata “nyata” ditulis besar-besar, sedangkan “dharma“ hanya kecil saja di atas kata “nyata”.  Tabloid ini terbit pertama kali pada 1 Januari 1991 dengan 32 halaman dan dicetak sebanyak 20.000 eksemplar. Dengan manajemen Jawa Pos, Dharma Nyata yang kemudian dikenal dengan nama “nyata” tanpa embel-embel “dharma” maju pesat, baik dari segi isi maupun oplah.
Tabloid Nyata kini mengusung konsep sebagai media hiburan dan keluarga. Tampil cantik setebal 56 halaman, Nyata memajang pelbagai rubrik yang berisi liputan panas tentang selebritas, rubrik peristiwa yang mengupas kasus yang sedang hangat dibicarakan, ulasan acara televisi, resensi film, rubrik kesehatan, fashion, teknologi, Feng Shui, keuangan, keluarga hingga berbagai resep masakan. Ada juga pelbagai rubrik pengetahuan dan tips-tips. Untuk memanjakan pembaca, redaksi membuka pelbagai rubrik interaktif.
Menghadapi membanjirnya media sejenis, Nyata menanggapi dengan sajian tulisan yang tajam dan beragam. Walhasil, berita utama atau cover story-nya tetap menjadi rubrik yang banyak diminati. Nyata pernah berprestasi dengan memiliki oplah tertinggi saat memberitakan Lady Diana dan artis Sukma Ayu hingga 500.000 eksemplar.
Saat mengulas pembuatan buku dan foto-foto istri mantan orang nomor satu RI, Ratna Sari Dewi Soekarno, Nyata bahkan kewalahan menerima membludaknya permintaan pembaca. Karena itu nomor terbitan ini harus dua kali naik cetak.
Jangkauannya pun meluas hingga ke seluruh wilayah Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara, antara lain Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hongkong, Taiwan dan Arab Saudi. Memenuhi keinginan pencintanya dan menjawab tantangan persaingan ketat bisnis penerbitan, tabloid ini tengah menyiapkan edisi on-line yang bisa dinikmati siapa saja.
Kini Tabloid Nyata eksis sebagai salah satu tabloid hiburan di Indonesia, dengan tiras antara 400.000 hingga 450.000 eksemplar setiap cetak. Nyata telah berhasil meraih hati peminat berita hiburan dan keluarga Indonesia, untuk menikmati menu-menu yang disajikan dalam setiap terbitannya. (Tim EPI/KG. Sumber: Dian Andika Winda/Indonesia Buku)