Kamis, 24 Agustus 2017

T dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Taher Tjindarboemi, Raden  (Gunung Sugih, Lampung, Sumatra, 28 November 1902- Jakarta, 1983). Tokoh pergerakan dan perintis pers nasional. Pendidikan terakhir Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya, tetapi lebih tertarik kepada pers.
Mula-mula bekerja pada suratkabar Belanda De Indische Courant, lalu pindah ke Soeara Rakjat Indonesia yang kemudian menjadi Soeara Oemoem. Namanya menjadi terkenal ketika ia dihukum di penjara Kalisosok Surabaya dan Sukamiskin Bandung, karena menulis tajuk rencana yang pedas ke alamat penjajah Belanda disertai anjuran agar para pemberontak Indonesia di kapal perang Zeven Provincien diajak berunding. Artikel yang membela para pemberontak kapal perang itu dimuatnya dalam kedudukan sebagai pemimpin redaksi Soeara Oemoem di Surabaya (2-6 Januari 1933).
Taher Tjindarboemi juga terkenal karena tidak mau menyebutkan sumber berita dari surat pembaca yang mengecam suatu peristiwa yang menyinggung perasaan, yang dilakukan seorang isteri bupati (Belregent), ketika ia membiarkan diri disembah di depan khalayak ramai. Untuk menghormati jasa-jasanya Pemerintah RI memberi pengakuan kepada Taher Tjindarboemi sebagai Perintis Kemerdekaan dan gelar Perintis Pers Indonesia (1974).(Tim EPI/KG)


Tajuk Rencana - tulisan yang berisi opini atau pendapat yang ditulis oleh pengelola suratkabar sendiri. Tajuk mencerminkan sikap pengelola media massa terhadap suatu permasalahan. Selain istilah tajuk rencana, beberapa suratkabar, tabloid, atau majalah, menggunakan istilah lain seperti intisari, editorial, tajuk, atau istilah lain yang khas sesuai pilihan medianya sendiri.
Karena tajuk rencana berisi sikap pengelola suratkabar terhadap suatu permasalahan, tajuk menggunakan gaya resmi, baku, dan disajikan secara serius. Bahasa yang digunakan harus memperlihatkan cara berpikir dalam menganalisis permasalahan dan menawarkan jalan keluar. Yang dianalisis umumnya permasalahan yang sedang berkembang atau masalah yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Permasalahan tersebut sudah disajikan dalam berita atau reportase yang dimuat pada hari yang sama, maupun yang sudah diterbitkan beberapa hari sebelumnya.
Subragam tajuk berbeda dengan subragam jurnalistik lainnya. Subragam tajuk cenderung mengajak pembaca untuk merenung dan berpikir. Bentuk penulisannya seperti artikel dengan menonjolkan unsur analisisnya. Materi yang dikupas dalam tajuk recana lebih disempitkan, agar lebih fokus serta dapat mewakili berbagai kepentingan. Kupasan tersebut harus bersifat netral, namun juga menunjukkan kejelasan sikap pengelola media massa yang bersangkutan. (Tim EPI; Sumber: Buku Menjadi Wartawan Handal & Profesional, Panduan Praktis & Teoretis, Ermanto, MHum, Penerbit Cinta Pena, Yogyakarta, 2005).


Talk Show - Dewasa ini talk show merupakan program primadona, baik di radio maupun televisi, karena bisa disiarkan secara langsung/interaktif dan atraktif. Ditambah lagi dengan sifatnya yang menghibur (entertainment). Entertainment di sini maksudnya bukan sekadar berarti menghibur, melainkan dinamis dan hidup. Oleh karena itu peran pemandu/moderator sangat menentukan sukses tidaknya acara ini. Pilihlah pemandu yang tidak emosional, fair, dan rapi dalam menjelaskan fakta atau opini kepada pendengar atau pemirsa.
Metode talk show, menurut Klaus Kastan, instruktur radio dari Munchen Jerman, adalah HARLEY (Harmony, Actual, Responsible, Leading, Entertainment, and Yield). Istilah tersebut dikenal dengan talk show skill, berupa kemampuan pemandu dalam melakukan beberapa tindakan yang meliputi (1) mengambil keputusan, (2) menyusun topik dan pertanyaan dengan cepat, (3) memotong pembicaraan narasumber yang melenceng, (4) kemampuan melakukan kompromi dan meyakinkan narasumber, dan (5) memadukan kemasan program secara interaktif.
Perbedaan paling penting antara talk show dan wawancara berita adalah talk show bersifat dinamis, tidak terpaku pada aktualitas topik perbincangan, dan jam tayangnya fleksibel. Talk show dapat dimasukkan ke dalam kategori program spesial atau program wawancara sebagai acara. Bahkan ada yang menyebut setiap siaran kata adalah talk show, karena mengacu pada arti katanya sendiri yaitu talk (obrolan) dan show (gelaran). Dua komponen yang selalu ada dalam program talk show adalah obrolan dan musik yang berfungsi sebagai selingan.
Persiapan yang harus dilakukan sebelum menyelenggarakan talk show adalah:
1.  Menentukan topik tujuan.
2. Narasumber dianjurkan lebih dari satu   orang. Hadirnya dua narasumber yang   saling berbeda sikap/pendapat, bukan   saja untuk memenuhi prinsip keberimbang- an, tetapi juga menciptakan harmoni sekali- gus kontroversi, sehingga talk show men-  jadi hidup.
3.  Menentukan lokasi, kemasan acara, dan   durasi penyiaran.

Urutan acaranya adalah:
1.  Pembukaan, berisi pengenalan acara,   pemandu, narasumber, dan topik yang   akan diperbincangkan. Bisa pula diuraikan  latar belakang mengapa topik itu dipilih.
2.  Diskusi utama, berisi (a) pertanyaan   awal, biasanya bersifat terbuka    (membutuhkan penjelasan), (b) tanggapan  dari narasumber atau pendengar, dan (c)   pengembangan pertanyaan lanjut atas   tanggapan-tanggapan itu.
3.  Penutup, berisi kesimpulan, ucapan teri  ma kasih, dan salam penutup, termasuk   informasi program berikutnya.

Kesimpulan tidak mutlak bersifat resume perbincangan, bisa juga sekadar analisis singkat dan pertanyaan terbuka untuk memancing permenungan pendengar/pemirsa. Seluruh struktur perbincangan, diselingi ilustrasi musik, yang dipilih sesuai karakter perbincangan dan selera pendengar radio setempat.
Sementara itu, program wicara di televisi atau biasa disebut the talk program, meliputi banyak format antara lain vox-pop, kuis, interview (wawancara) baik di dalam studio maupun di luar studio dan diskusi panel di televisi. Semua memang dapat disebut program wicara (the talk program).
Program ini tampil dalam sajian yang mengetengahkan pembicaraan seseorang atau lebih mengenai sesuatu yang menarik, sedang hangat dibicarakan masyarakat, atau tanya-jawab persoalan dengan hadiah yang disebut kuis. Apabila pembicaraan dilakukan oleh satu orang, program itu dinamakan program uraian pendek atau pernyataan (the talk program). Wawancara dilakukan oleh dua orang dan diskusi oleh lebih dari dua orang. Sementara program kuis oleh seorang master kuis dan peserta kuis. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalistik Radio, Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar, Masduki, Penerbit LkiS, Yogyakarta, 2001; dan Buku Teknik Produksi Program Televisi, Fred Wibowo, Penerbit Pinus, Yogyakarta, 2007).


Tarman Azzam - wartawan senior, Ketua PWI Pusat. Mantan Ketua PWI Jaya ini memang sudah suka berorganisasi sejak masa remaja. Masa itu, ia aktif dalam organisasi Pelajar Islam (PII) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU. Sekitar 1966, ia juga aktif dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), kemudian ketika menjadi mahasiswa aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tarman Azzam memasuki profesi wartawan karena panggilan jiwa untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Kedengarannya klise. Tapi itulah yang tak akan berhenti ia ucapkan setiap kali ditanya mengapa menjadi wartawan.
Karirnya sebagai wartawan diawali ketika ia lulus diterima menjadi anggota Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) cabang Jakarta. Setiap anggota IPMI, dengan sendirinya dapat diterima menjadi wartawan KAMI, sebuah koran yang dipimpin dan dikelola oleh sebagian besar para aktivis mahasiswa anggota KAMI. Koran inilah pula pada awalnya yang berhasil mendidik dan melatih keterampilan profesi jurnalistiknya, sehingga ia menjadi wartawan seperti sekarang.
Setelah KAMI dibredel bersama 12 suratkabar lain di Indonesia karena peristiwa 15 Januari 1974 (Malari), Tarman dan beberapa wartawan senasib lainnya terpaksa mencari tempat penyaluran untuk dapat meneruskan profesinya sebagai wartawan. Berbeda dari teman-temannya yang lain, ketika itu ia lebih suka memilih Radio Arif Rakhman Hakim (ARH) sebagai tempat untuk penyaluran profesinya. Bekerja di radio ARH sebagai reporter memang tidak terlalu lama, sebab,  satu tahun kemudian (tahun 1975), ia dapat bersatu kembali dengan teman-temannya, para mantan wartawan KAMI  yang lebih dulu diminta oleh Harmoko untuk memperkuat jajaran redaksi Pos Sore, kini menjadi Terbit.
Ketika menjalani karir wartawan, ia menjadi Anggota PWI hingga menjadi Ketua PWI Jaya dan Ketua Umum PWI Pusat. Posisi yang terakhir ini dijabat Tarman selama dua periode kepengurusan, 1998-2003 dan 2003-2008. Di samping itu, sebagai pengurus PWI ia juga pernah menjadi anggota MPR, anggota DPRD DKI Jakarta dan Majelis Pakar Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
Tarman Azzam menjadi Ketua PWI Jaya dalam kurun 1993-1995 dalam rangka pergantian antar waktu, meneruskan masa jabatan Masdun Pranoto (Angkatan Bersenjata) yang pindah ke Kalimantan Barat. Sebelumnya, Tarman menjabat wakil sekretaris. Kemudian ia dipercaya melanjutkan tugas sebagai ketua untuk kepengurusan PWI Jaya peridoe 1995-1999.
Ketika menjadi Ketua PWI Jaya, ia pernah berpesan bahwa Kota Jakarta bagi jurnalis merupakan tempat yang sangat tepat untuk berkompetisi. “Di sini memang ladang pers, tersedia banyak fasilitas kemudahan arus informasi, nara sumber, berbagai peristiwa, segala macam masalah dan sebagainya. Maklum, Ibu Kota memang pusat politik, pemerintahan, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Karena itulah, di Jakarta juga habitat perburuhan berita informasi paling tepat dan mengasyikkan.”
Di samping hal-hal di atas, masih menurut mantan Ketua PWI Jaya, di Jakarta juga tempat beroperasi ribuan wartawan dari segala macam media massa yang ada di muka bumi ini, mulai dari yang tradisional sampai ke super modern. Terbesar dari mereka adalah anak-anak muda. Mereka bersemangat menggebu-gebu dalam memburu nara sumber dan menyajikan berita, namun tidak jarang  membuat kekeliruan, dalam produk liputannya. Tidak sedikit dari mereka ini menganggap wartawan harus bebas, sebebas-bebasnya.
Dalam posisinya sebagai Ketua PWI, tentu saja ia termasuk yang berpendapat bahwa kebebasan pers itu harus tunduk pada etika profesi dan wartawan harus jelas memposisikan dirinya tunduk pada etika. Semua wartawan anggota PWI diminta harus tunduk dan melaksanakan kode etik jurnalistik PWI. Demikian juga bagi mereka yang menjadi anggota organisasi wartawan lain, maka harus juga melaksanakan ketaatan pada kode etiknya baru bisa disebut wartawan yang bermartabat. 
Salah satu karya PWI Jaya di bawa kepemimpinannya yakni untuk pertama kali diterbitkan sebuah buku mengenai sejarah dan perjuangan PWI Jaya berjudul PWI Jaya di Arena Massa yang disusun oleh Soebagio I.N., seorang sejarawan pers Indonesia, pensiunan Kantor Berita ANTARA tahun 1998. Di samping itu, di era kepemimpinan Tarman juga, PWI Jaya terhitung sejak 1995 telah mengabadikan nama Mohammad Hoesni Thamrin, tokoh pers nasional dan pejuang kemerdekaan asal Betawi, sebagai bentuk sebuah penghargaan tertingga  atas karya jurnalistik terbaik para anggota PWI Jaya. Anugerah ini merupakan pengganti Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang diadakan PWI Jaya sejak 1974, tapi sejak 1995 program itu telah ditingkatkan menjadi program PWI Pusat.(Tim EPI/ES/SSJW) 


Teknologi Produksi Media - Pada sisi teknis, media punya banyak persamaan. Media massa menurut definisi menyangkut penyiaran (broadcast) dari sajian yang sama dari satu atau sejumlah kecil pusat ke banyak anggota khalayak, yang diselenggarakan seperti jari-jari roda. Sebaliknya, penyiaran yang terbatas untuk khalayak tertentu seperti televisi kabel (narrowcast) melibatkan komunikasi pesan dua arah, dari satu titik ke titik lainnya yang unik seperti pada jaringan telepon. Berbagi sajian (content sharing) di antara banyak anggota khalayak media massa itulah yang menimbulkan skala ekonomi.
Kapasitas produksi media massa bisa diukur dengan banyak cara. Kebanyakan media punya satu saluran atau lebih, yang bisa dipasarkan secara individual atau dalam bundel oleh satu entitas ekonomi. Masing-masing saluran punya identitas khas yang oleh konsumen mungkin diasosiasikan dengan jenis dan kualitas sajian tertentu sebagaimana nama dan merek dagang. Saluran menawarkan sajian secara terus-menerus atau secara berkala, dan berusaha menciptakan kesetiaan pelanggan. Suratkabar, majalah, stasiun televisi dan radio masing-masing bisa dianggap saluran komunikasi massa. Sebagaimana dibahas sebelumnya, total jumlah saluran yang bersaing dan jumlah saluran yang dikontrol masing-masing entitas ekonomi menentukan keragaman sajian. Sementara teknologi berkembang, jumlah saluran yang dikuasai bersama cenderung berkembang, seperti tampak pada kontras antara broadcaster lokal dan sistem televisi kabel lokal. Semakin tampak struktur media melibatkan persaingan di antara penyedia multisaluran, seperti ketika broadcaster satelit langsung ke rumah bersaing dengan sistem televisi kabel. Suratkabar dengan berbagai rubriknya yang disusun menurut topiknya bisa juga dianggap sebagai media multisaluran.
Kapasitas fisik saluran tertentu dapat diukur dari kemampuannya dalam mentransfer informasi per satuan waktu. Untuk media elektronik hal ini menyangkut bandwidth (untuk saluran analog) atau bit per detik (untuk saluran digital). Media cetak punya ukuran fisik analog, tetapi kebanyakan media cetak saat ini menggunakan transmisi elektronik pada titik tertentu dalam produksinya. Namun, daya tarik estetis dan sajian substantif dalam pesan media massa tidak ada hubungannya dengan ukuran atau kapasitas fisik. Misalnya, kesediaan konsumen untuk membayar maupun menangkap secara kritis pesan yang disiarkan atau dicetak dalam hitam-putih bisa melampaui pesan berwarna yang membutuhkan lebih banyak bit informasi. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Hak Memberitakan: Peran Pers dalam Pembangunan Ekonomi, Seri Studi Pembangunan World Bank Institute, Penerbit Pusat Data dan Analisa Tempo, Jakarta, 2006).


Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) - stasiun televisi yang lahir didorong semangat luhur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan hak semua warga negara untuk mendapatkan pengajaran. Pada 21 Januari 1991 TPI secara resmi mulai mengudara menemani pemirsa di seluruh penjuru tanah air. “TPI berangkat dart idealisme pemilik dan pengelolanya, berperan aktif dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Sesuai dengan misi yang dianutnya,” demikian papar Drs. Ishadi S.K., Direktur Operasional TPI ketika itu.
Seiring dengan roda bisnis yang berputar terus, TPI melaju terus. Bermula dari siaran pagi sampai siang hari yang menggunakan frekuensi TVRI (saluran VHF), TPI kini hadir menyapa pemirsa sejak dini hari hingga larut malam dengan menggunakan saluran tersendiri yakni saluran UHF. Program acara yang disiarkan oleh TPI sebagian besar ditargetkan untuk kelas menengah ke bawah, yang merupakan lapisan terbesar dari masyarakat Indonesia. TPI telah menjadi teman bagi ibu-ibu rumah tangga di Indonesia. Siapa yang tak memungkiri betapa besar kaum ibu dalam belanja rumah tangga? Tak pelak lagi, TPI menjadi tempat yang jitu bagi para produsen untuk mengiklankan produknya. Pendek kata, siaran TPI sesuai dengan motonya, Televisi Keluarga Anda. TPI merupakan satu-satunya stasiun televisi swasta yang dapat menjangkau 27 provinsi, menjangkau seluruh area sub urban dan rural.
Acara-acara hiburan yang ditayangkannya pun beragam. Mulai dari film-film Barat yang bermutu, film India yang mampu menyedot penonton sampai sinetron karya anak negeri. TPI dapat digolongkan sebagai televisi yang paling gencar mengangkat tayangan lokal untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dalam jangka panjang TPI ditargetkan menayangkan 100% siaran lokal.
“Kita berharap dalam jangka waktu yang tidak lama lagi, TPI akan mampu menayangkan tayangan lokal, sesuai dengan UU Penyiaran yang sedang digodok oleh pemerintah,” kata Ishadi yang pernah menjabat menjadi Direktur TVRI.
Kendati gencar menggenjot acara menarik yang memuaskan dahaga pemirsa akan hiburan dan informasi, misi pendidikan tidak menjadi anak tiri. Justru, survei yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memberikan hasil yang menggembirakan. Survei yang digelar pada tahun lalu, dengan menggunakan metode wawancara langsung dan pengisian kuisioner. Hasilnya, 95,4% siswa dan guru tingkat SLTP dan SMU mengikuti program Titian Ilmu yang ditayangkan oleh TPI.
Pada usia yang keenam kini TPI terus melakukan pembenahan. Mulai Januari 1996 yang lalu, siaran TPI di kawasan pemasaran potensial seperti Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi bisa diterima lebih jernih dengan kualitas gambar yang tinggi.
Ini semua berkat selesainya menara pemancar yang baru setinggi 175 meter dengan kapasitas 80 KW di kawasan Joglo, Jakarta Barat. (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)

 

Tempo - majalan berita mingguan, pertama kali terbit pada 1 Maret 1971 dalam wujud edisi percontohan, dan secara resmi beredar lima hari kemudian, tepatnya tanggal 6 Maret 1971. Tempo diselenggarakan oleh Eric FH. Samola SH sebagai direktur dan Goenawan Mohamad sebagai pemimpin umum (PU), Fikri Djufri sebagai wakil PU, Usamah sebagai Redaktur Pelaksana, dan Christianto Wibisono, Fikri Djufri, Toeti Kakiailatu, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, Sju'bah Asa, Zen Umar Purba, Putu Widjaja, dan Isma Sawitri sebagai anggota dewan redaksi. Sedangkan jajaran reporter terdiri dari  Musawa, Martin Aleida, Sjahir Wahab, dan Salim Said (reporter Tempo angkatan I).
Awak Tempo pada awalnya memang terdiri dari para seniman Indonesia, maka tak bisa dimungkiri bahwa bahasa yang mereka pergunakan berbau sastra. Jadilah jurnalisme Tempo, jurnarnalisme yang berpadu dengan sastra.
Tapi pada awal terbit itu pula, Goenawan kalang-kabut mengelola manajerial. Ia dihadapkan pada masalah pengelolaan redaksi hingga penyusunan anggaran. Untuk menyelesaikan masalah tersebut ia, bahkan, sampai ikut Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. (Andai Saya Wartawan Tempo, 1996:3)
“Waktu mendirikan Tempo dulu, kami sama sekali tidak mengerti bagaimana organisasi redaksi diatur. Rapat saja tidak tahu,” katanya. Baru pada tahun 1980-an, Goenawan berkunjung ke Time dan belajar menata organisasi redaksi di sana. Alhasil, Goenawan berkesimpulan, bagi pemimpin redaksi, katanya, kerja yang paling utama bukanlah mengurus berita, tapi mengurus orang-orang.
Khusus mengurus orang-orang ini Tempo pernah diuji saat usianya 16 tahun, ketika sekira 45 karyawan dan wartawannya hengkang. Eksodus yang diarsiteki Saur Hutabarat, Syu’bah Asa, Eddy Herwanto, dan Marah Sakti itu akibat ketakpuasan terhadap manajemen. “Saya sudah muak dengan manajemen Tempo,” kata Saur. “Tak ada lagi open management di Tempo,” tambah Syu’bah.
Goenawan mengaku sedih dengan eksodus orang-orang kepercayaannya itu. Tapi Goenawan sadar betul “kegemukan” Tempo di mana jumlah karyawan mulai berlebih. “Saya sadar, Tempo tak ingin berilusi telah mendapatkan manajemen yang sempurna. Sistem pengelolaan yang ada harus terus diperbaiki, dan itu perlu waktu,” katanya dalam jumpa pers pada 18 Juli 1987.
Tempo lolos ujian untuk kedua kalinya setelah yang pertama tersandung larangan terbit pada April 1982. Majalah baru dari warga Tempo yang eksodus itu pun terbit dengan nama Editor. Keduanya bersaing di jalur mingguan berita. Tempo tetap pada kerangka pemberitaan yang sudah menjadi khasnya; berita yang disisir mendalam dan disajikan layaknya potongan-potongan cerita pendek yang padat, bahasa yang cair, dan tak lupa unsur kejut. Investigasi adalah salah satu cara Tempo menyusuri lekukan informasi di tubuh-tubuh politik dan birokrasi Indonesia.
Tapi karena investigasi pula Tempo mesti diinterograsi. Gara-gara kapal bekas, Tempo pun kena pukulan telak. Laporan Tempo mengenai pembelian kapal bekas dari Jerman Timur menyebabkan mereka dibredel pada 26 Juni 1994. Uniknya, Tempo mati berbareng dengan Editor (juga tabloid DeTIK), yang merupakan anak yang lahir dari peristiwa eksodus 1987.
Presiden Soeharto melalui Menteri Penerangan, Harmoko, menjatuhkan vonis mencabut izin terbit Tempo. Maka Surat Izin Terbit Keputusan Menpen RI NO. 01028/SK/Dir. PP/ST/1970 Tgl. 31 Desember 1970 dan 1 Surat Ijin Cetak, Laksus Pangkopkamtibda Djaja No. Kep. 004 PC/I/1971 12 Djanuari 1971 tak berlaku lagi.
Waktu berlanjut, sampai pada 1996, PT Tempo Inti Media Tbk. didirikan. Menurut situs resmi Bursa Efek Jakarta, pada 1998 perseroan ini memperoleh SIUPP No. 354/SK/Menpen/SNPP/1998 sebagai perusahaan yang bergerak dalam penerbitan pers. Sementara ISSN-nya berkode 0126-4273.
Pada tahun 2002 Goenawan duduk sebagai Direksi Tempo Inti Media Tbk. Sementara untuk pencetaknya dipilih PT Temprint, Jakarta, anak perusahaan Tempo Inti Media Tbk. Tempo semakin sehat setelah diberi asupan saham. Dari situs resmi bursa efek di Jakarta, saham Tempo sampai dengan 31 Januari 2007 adalah 21% milik PT Grafiti Pers, 25% milik Yayasan 21 Juni, 25% punya Yayasan Jaya Raya, dan 12% dimiliki Yayasan Karyawan Tempo.
Yang juga perlu dicatat pada kebangkitan kedua Tempo pada 26 Oktober 1998 adalah perubahan pada lembaga penerbitnya. Pada mulanya Tempo diterbitkan Badan Usaha Jaya Press Jajasan Raya yang dipimpin Eric FH. Samola SH dan Christianto Wibisono sebagai Wakil Direktur II. Percetakan di Pentjetak P.T. Dian Rakjat. Pada kebangkitan kedua ini Tempo diterbitkan PT Tempo Inti Media Tbk.
Tempo memang tak bermasalah dengan saham. Namun investigasinya kembali diuji di lapangan. Tepatnya di Tanah Abang Jakarta. Majalah ini digugat Tomy Winata karena secarik “cerita pendek” di edisi 3 Maret 2003 yang berjudul: “Ada Tomy di Tenabang”. Gara-gara itu Bambang Harymurti harus menghadapi “persdelict”. Pencemaran nama baik, kata pihak penggugat. Tapi Tempo lepas dari jerat.
Dan investigasi juga yang kembali nyaris menjungkat Tempo dalam irama rantai pengadilan. Delapan halaman iklan advertorial, yang isinya membantah artikel investigasi soal pendirian kota baru Bandar Kemayoran yang dimuat di edisi sebelumnya (18-23 April 2006), ternyata menjadi bagian dari majalah Tempo edisi 24-30 April 2006. Karena memang ditampilkan sangat mirip dengan rubrikasi dan tak ada “pagar api” sama sekali di sana. Isinya pun masih relevan dengan investigasi pekan sebelumnya.
Penerbit Tempo pun bertindak cepat dan mengumumkan di Koran Tempo edisi 1 Mei 2006 soal “Suplemen sisipan” itu. Pernyataan berjudul “Kami Keliru” itu menegaskan bahwa prosedur investigasi yang mereka lakukan sudah memenuhi seluruh kaidah jurnalistik dan menolak sepeser pun dana dari pemasangnya. Lantaran advertorial itu menabrak etika dunia periklanan, Tempo pun menjatuhkan hukuman kepada kru-nya yang terlibat dalam soal ini.
Penerbit Tempo meminta maaf dengan bobolnya prosedur baku pemasangan iklan di majalah mereka. Cara itu barangkali merupakan sebuah penghormatan pada patok yang telah dipacangkan pertama kali di edisi perdananya, “Djurnalisme madjalah ini karena itu bukanlah djurnalisme untuk memaki atau menjibirkan bibir; djuga tidak dimaksudkan untuk mendjilat atau menghamba. Jang memberinya komando bukanlah kekuasaan atau uang, tetapi niat baik, sikap adil dan akal sehat.” (Tim EPI. Sumber: Agung Dwi Hartanto/Indonesia Buku/Jurnas)
     Tiara - majalah dwimingguan.  Media tentang tren dan informasi perilaku terbit sejak 27 Mei 1990 ini beredar di pasaran setiap Rabu. Diterbitkan PT Rama Prakasa Media yang didirikan R. Risman Hafil tahun 1989. Tiara merupakan reinkarnasi majalah hiburan Ultra. Sebelumnya pernah terbit dalam bentuk digest (ringkasan) seperti Intisari (1982) atau buku saku. Lalu menjadi majalah populer bulanan (1985). Baru pada 1990 terbit sebagai majalah tren dan informasi perilaku.
Pada awalnya Tiara pernah mengejutkan pembaca dengan penelitian penyelewengan seksual, seperti ‘The Other Man’ dan ‘The “Other Woman’. Sehingga majalah ini berkesan sebagai majalah hiburan yang mengutamakan soal seks. Namun citra seperti itu dihindari pengelola Tiara. “Kita tidak ingin mengungkapkan seks secara vulgar. Harus kita akui bahwa seks penting dibicarakan,” jelas Kurniawan.
Ada keunikan tersendiri dari majalah dwimingguan ini. Yaitu menawarkan solusi atau saran dan jalan keluar pada pembacanya. Antara lain pada setiap edisinya dimunculkan rubrik ‘Solusi Suami Istri’. Sebagai majalah tren dan informasi perilaku, Tiara juga menyajikan kecenderungan gaya hidup.
Dari segi oplah sempat mencapai perkembangan yang cukup pesat. Pada 1990 baru beroplah 15.000 eksemplar, namun tahun 1995 mencapai 40.000 eksemplar.
Saat ini Tiara dipimpin oleh Elma Gusni (Pemimpin Umum), Isman Santoso (Pemimpin Redaksi), Adrian Herlambang (Pemimpin Perusahaan). (Tim EPI/PDAT)
  

Threes Nio (Banjar Negara, 23 Oktober 1939 - New York, 14 Desember 1990) - wartawati, lahir sebagai anak tertua dari lima bersaudara. Ia dibesarkan di Semarang hingga menyelesaikan pendidikan sekolah menengah (1959). Kemudian Threes pindah ke Yogyakarta karena kuliah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan/Universitas Sanata Dharma, Jurusan Sastra Inggris, dan lulus tahun 1965.
Tahun 1962 hingga 1965 Threes menjadi guru SMA Stella Duce Yogyakarta, dan sejak Februari 1966 bergabung dengan Kompas. Tahun 1972 hingga 1973 Threes sempat mengundurkan diri dari Kompas untuk melanglangbuana ke Eropa dan bekerja di Radio Jerman Deutsche Welle. Namun sekembalinya dari petualangannya Threes kembali bergabung dengan Kompas. Pada tahun 1978 hingga 1979 Threes mengikuti kuliah di Princenton University, AS. Sejak Mei 1982 Threes ditempatkan sebagai wartawan Kompas di New York.
Threes adalah wartawan yang cepat jadi. Lingkungan pendidikannya sangat mendukung yang memberinya iklim dan latihan berpikir kritis dan logis. Di lingkungan pendidikannya itu Threes juga menjadi terlatih memiliki sikap dan orientasi untuk peduli terhadap orang lain dan lingkungannya.
Sebagai wartawan Threes tergolong ngotot, tidak mudah menyerah begitu saja, tidak asal-asalan, dan tuntas. Threes juga termasuk orang yang selalu mempersoalkan dan tidak menerima begitu saja apapun yang dilihat dan didengarnya.
Pada tahun-tahun pertama kewartawanannya, Threes ditugaskan sebagai wartawan Istana dan Bina Graha. Penugasan ini mempengaruhi minat Threes terhadap masalah ekonomi dan pembangunan pada umumnya, sekaligus mengenalkan Threes dengan para pembantu Presiden, perumus, dan pelaksana kebijakan ekonomi waktu itu.
Penugasan dan perjalanannya ke daerah dan tempat-tempat berbahaya di dalam dan di luar negeri, seperti Vietnam dan Uganda, menghapus kesan bahwa Threes seorang wartawan yang hanya bisa bekerja di lingkungan elit seperti istana. Penugasan ini secara tidak langsung melengkapi sikap dan pribadinya sebagai wartawan.
Gaya tulisan Threes lugas, tanpa hiperbola, tapi tetap menarik. Pilihan katanya tepat dan susunan kalimatnya sangat terpilih.
Sebagai wartawan Threes memiliki pengalaman batin yang sangat luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari pengalamannya mewawancarai sejumlah tokoh nasional maupun internasional. Dr. Sumitro, Presiden Soeharto, Dr. Hatta, Pangeran Bernhard, Sri Paus, Pangeran Sihanouk, Nguyen Co Thach, Ronald Reagan, Raul Manglapus, dan Dr. Mahathir bin Mohamad, adalah deretan nama-nama tokoh terkenal yang pernah ia wawancarai.
Di mata para narasumbernya Threes adalah wartawan yang gigih, yang menempatkan tugas di atas segala-galanya. Dedikasinya terhadap pekerjaan, integritasnya, serta kecermatannya dalam melaporkan berita atau wawancara membuat narasumbernya menghormati Threes. Hampir semua narasumbernya sepakat bahwa Threes sangat pantas dijadikan role model dan panutan wartawan Indonesia.
Sebagai wartawan Threes juga bukan sekadar meliput sebuah kejadian, tetapi memberi masukan kepada narasumbernya. Prof. Emil Salim, misalnya, menceritakan bagaimana Threes mencari tahu sikap dan melobi negara-negara lain kemudian memberi informasi yang sangat berharga kepada para menteri yang berperan dalam konferensi atau perundingan-perundingan antarbangsa yang diliputnya.
Begitu juga pendapat Saodah BA Syahruddin MA, Direktur Kerjasama Ekonomi Negara-negara Berkembang. Menurut Saodah, antara dia dan Threes terdapat hubungan saling membutuhkan yang sangat kuat. Threes butuh dirinya guna memperoleh informasi dari dalam. Sebaliknya, Saodah juga membutuhkan Threes karena ia dapat memperoleh banyak informasi dari sidang-sidang yang tidak bisa ia hadiri.
Threes meninggal dunia di New York, beberapa hari setelah meliput konferensi GATT di Brussel. Ia dimakamkan di tanah kelahirannya di Banjarnegara. (Tim EPI/KG. Sumber: Biografi Threes Nio, Laporan dari Lapangan, 1995)


Tinta Cetak Suratkabar - Tinta cetak pertama kali dipergunakan oleh bangsa Cina setelah mereka menemukan kertas antara tahun 100 - 200 Masehi. Unsur-unsur dasarnya adalah serbuk karbon dilarutkan di dalam campuran lem dan minyak. Tinta Gutenberg (1440 Masehi) sedikit berbeda dalam unsur utamanya yakni terdiri dari minyak biji rami (70%), vernis lithografi, karbon dari minyak, serbuk tulang dari unsur tumbuh-tumbuhan (30%).
Tinta modern unsur-unsurnya terdiri dari ramuan (sebagian atau keseluruhannya) yaitu  zat warna (pigment), bahan pengikat (vehicle), pencair (thinner), pengering (drier) dan pengubah (modifier).

Zat warna (pigment)
Zat warna adalah unsur dalam tinta yang dapat dilihat sebagai warna yaitu hitam, putih atau kelabu. Zat warna terutama adalah unsur anorganik dan organik. Zat warna anorganik adalah zat warna yang diperoleh secara alami atau warna-warna tanah. Karena sulitnya dikerjakan, dewasa ini sedikit sekali dipakai zat-zat warna alami. 
William Perking (1856), seorang mahasiswa jurusan kimia, menemukan bahan pewarna sintetis yang pertama. Zat warna organik ini diperkenalkan dan kini banyak dipakai secara meluas dalam pabrik-pabrik tinta cetak. Zat warna ini kebanyakan dihasilkan dari bahan-bahan kimia ekstrak dari cairan kental batubara, hasil sampingan dalam pabrik kokas dan gas bakar dari batu bara.
Kebanyakan warna dari sprektrum yang dapat dilihat dapat ditiru dengan zat pewarna dari zat warna ini.     
Bahan pengikat (vehicle)

 Bahan pengikat adalah minyak biji rami yang dikerjakan dalam keadaan panas dan membentuk ujud atau jenang tinta. Bahan ini memuat zat warna dan mengikatnya dengan bahan-bahan cetak. Bahan pengikat ini biasanya menentukan penyediaan, penyebaran, pemindahan dan daya penutupan daripada tinta, juga merupakan penentu cara/kecepatan pengeringnya. Pada tahun-tahun terakhir ini damar sintetis telah menggantikan minyak pengering.
Untuk fotogravur dipakai suatu bahan pengikat khusus, yaitu menggunakan alkohol atau aseton, yang menyebabkan tinta mongering sebagian karena penyerapan dan sebagian karena penguapan. Tinta fotogravur cepat menguap, namun kilauannya kurang dan lagi berbahaya bagi kesehatan serta merupakan uap yang mudah menimbulkan bahaya kebakaran. Uap obat pelarut harus disalurkan pergi dalam tabung penampung.

Pencair
Pencair ini membantu kerjanya pada mesin. Pencair ini biasanya dipisahkan dari bahan pengikatnya dan mempengaruhi ketahanan, peresapan, penggilapan, pengeringan dan pelekatan tinta.

Pengering (drier)
Bahan pengering ini ditambahkan kepada tinta cetak untuk membantu pengeringan secara oksidasi. Kebanyakan bahan pengering berunsur cobalt (bahan keputih-putihan terdapat pada besi dan nikel), mangan dan timah, yang dapat larut ke dalam berbagai bahan pengikat.
Bahan pengering meningkat kerjanya sejajar dengan peningkatan suhu, maka dengan begitu tinta lebih cepat mongering pada suhu yang panas daripada pada suhu yang dingin. Kelembaban pada tingkat tertentu mempengaruhi waktu pengeringan daripada zat warna cetak. Suatu kelembaban yang cukup tinggi akan meningkatkan kesulitan pengeringan.
Pengubah (modifier)
Pengubah, seperti malam dan minyak, mengontrol pengeringan, kekenyalan ketahanan, kekilapan dan kemampuan bertahan terhadap gesekan.
Kalau bahan pembungkus mentega, daging, buah, sayur-sayur dan sebagainya dicetak, maka pengubah ini bahkan mengatur bau dari pada tinta.

Proses pembuatan tinta
Semua bahan untuk pembuatan tinta diperiksa, dites dan diproses untuk mencapai mutu tertentu. Untuk setiap batch (jumlah produksi tertentu) yang akan diramu, sejumlah bahan keperluan yang sudah dikontrol ditimbang dan dikirim ke bagian peramu, yang mengaduk bahan-bahan itu menjadi satu. Setelah pengadukan tinta itu dilewatkan ke penggilingan tinta (ink mill) di mana beberapa rol baja yang halus menggilas ramua itu sampai mencapai suatu kehalusan tertentu.

Pencampuran warna pada tinta
Pencampuran warna pada tinta berarti mengolahnya untuk memperoleh suatu warna yang lain, atau untuk memperoleh suatu tingkatan warna yang lebih muda atau yang lebih tua daripada warna yang tersedia.
Suatu persediaan warna kuning, jingga (oranye), merah, hijau, biru, lila, putih dan hitam memungkinkan untuk membuat campuran warna yang biasanya dibutuhkan. Pada umumnya, warna “yang lebih kuat” harus dituangkan sedikit-sedikit kepada warna”yang lebih lemah” dan kemudian diaduk baik-baik supaya merata pencampurannya, sampai dicapai tingkatan warna yang diingini.
Untuk memperoleh jumlah tinta warna yang banyak, sebaiknya menggunakan persediaan tinta dalam berbagai warna atau memesan suatu campuran khusus kepada perusahaan tinta.
Istilah-istilah berikut ini menjelaskan berbagai sifat tinta cetak.

Kekentalan
Adalah daya alir kalau tinta secara mudah mengalir dikatakan berkekentalan rendah kalau tidak mudah mengalir, ia berkekentalan tinggi. Tinta offset biasanya berkekentalan tinggi.

Daya rekat
Daya rekat adalah mudah tidaknya melekat. Terlalu rekat berarti kurang daya lenturnya dan karenay juga keefektifannya. Bialamana kerekatan tinta lebih besar daripada kekuatan yang menahan kertas maka kertas akan melekat pada klise/plat/rol karet, dan akibatnya kertas akan lepas dari pegangannya.

Daya memanjang
Tinta dapat panjang atau pendek, yang dapat dites dengan menuangkan tinta sedemikian sekedar untuk memperoleh lidah tinta yang panjang. Ini dikerjakan dengan bantuan sudut pisau tinta.

Kepekatan
Adalah kemampuan tinta menutupi atau menyembunyikan. Suatu warna yang kelam kalau dicetakkan di atas warna lain yang sebelumnya dicetakkan pada sehelai kertas, akan menutupinya sama sekali, apabila tinta itu punya kekelaman yang tinggi; dan hanya setengah menutupinya kalau kekelaman itu hanya setengah saja.

Transparasi/sifat tembus cahaya
Suatu warna yang transparan tidak memiliki kemampuan menutupi warna yang lain, ia masih akan menampakkan warna yang ditutupinya dengan cukup jelas.

Sifat tahan lama
Sifat tahan lama adalah ketetapan warna terhadap pengaruh radiasi cahaya matahari, untuk jangka waktu yang lama. Tinta yang punya sifat kuat, tidak mudah berubah, baik sekali untuk mencetak poster-poster.

Daya tahan
Tinta yang tahan adalah tinta yang punya ketahanan terhadap pengaruh gas, zat kimia, panas, kelembaban dan lain sebaginya. Misalnya, tinta yang tidak terpengaruh oleh vernis.

Tinta hitam biasa
Adalah tinta hitam yang dipakai untuk mencetak kebutuhan sehari-hari yang umum, seperti harian-harian, majalah-majalah, buku-buku dan sebagainya.
Tinta hitam nada lengkap
Adalah tinta yang halus, yang sangat cocok untuk mencetak reproduksi dari gambar halftone yang raster halus.

Tinta berwarna kuat
Adalah tinta yang berwarna kuat dengan konsentrasi tinggi.

Tinta metalik
Adalah tinta-tinta yang berasal dari serbuk alumunium atau perunggu yang dicampurkan dengan bahan pengantar yang sesuai. Beberapa warna dapat saja dicampurkan dengan tinta ini. Namun tinta metalik sangat sukar untuk dicetakkan.

Tinta offset
Tinta offset dibuat khusus untuk keperluan cetak offset. Jangan sekali-kali menggunakan tinta cetak tinggi pada mesin cetak offset. Tinta offset sebaliknya bisa dipakai pada mesin cetak tinggi.
Tinta offset harus dapat tahan terhadap reaksi air yang dihadapinya pada plat offset yang dibasahi. Tinta itu tidak boleh menyerap suatupun dari air itu (tidak boleh beremulsi); tapi juga tintanya tidak boleh rusak dan bercampur dengan air pada bagian plat yang terang/kosong pada waktu pencetakan. Kedua keadaan itu cenderung untuk merusakkan bahan pengantar tinta, warna atau kualitas kekeringannya, memperlemah tulisan/gambar pada plat cetak atau menyebabkan pengotoran tinta pada bidang-bidang yang terang pada plat cetak dan lembaran cetak.

Sifat Tinta
Selain itu sifat sifat yang dimiliki tinta antara lain:
- Viscositas, yaitu sifat kekentalan tinta yang dinyatakan dalam cP (Centipoise), dan diukur dengan Viscometer. Besar kecilnya nilai viscositas dipengaruhi oleh jenis kertas dan mesin cetak yang dipakai (shetfed atau web).
- Flow adalah daya alir tinta agar dapat turun dengan baik mulai dari bak tinta sampai ke kertas.
- Tacknessl kelengketan adalah sifat daya tarik internal dan external tinta terhadap permukaan kertas sampai terjadi perpindahan tinta ke permukaan kertas dengan sempurna. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kelengketan tinta dikenal dengan Inkometer. Tackness suatu tinta disesuaikan dengan kecepatan mesin dan jenis kertas yang dipakai.
- Thixotrophy yaitu sifat tinta akan mengalir bila kena gerakan dan akan diam kembali apabila gerakan tersebut dihentikan.
- Drying time yaitu sifat pengeringan tinta sampai dengan ke pori-pori kertas.
Dengan sifat-sifat inilah maka pada waktu proses cetak berlangsung tinta lebih mudah berubah bentuk, mudah menyesuaikan diri dengan bahan cetak, dan dapat diatur oleh pencetak untuk mendapatkan mutu cetak yang diinginkan.
Namun demikian masing-masing produsen tinta mempunyai ciri khas pada formulanya, dalam hal ini menyebabkan perbedaan kualitas. Untuk mendapatkan persyaratan-persyaratan dan mutu tinta cetak dari masing-masing produsen tidaklah sesederhana dan semudah seperti halnya pada kertas.
Sampai dengan saat ini, SNI (Standard Nasional Indonesia) belum menetapkan data/nilai yang pasti dalam penentuan mutu tinta cetak. Oleh karena itu pembahasan terhadap persyaratan- persyaratan mutu tinta cetak hanya dapat dijelaskan secara umum berdasarkan kebutuhan terhadap proses cetaknya. Berdasarkan kekentalan, tinta cetak dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu:
1) Jenis tinta kental, seperti tinta offset, letterpress, dan tinta koran; dan
2) Jenis tinta encer, seperti tinta rotogravu re, fleksografi, dan tinta sablon atau tinta cetak saring.(Tim EPI/KG. Sumber: Buku Perihal Cetak Mencetak, 1977; Buku Digital Workflow dalam Industri Grafika)


Tiras - majalah berita mingguan. Terbit tanggal 24 Juni 1994. Ia hadir setelah sejumlah wartawan majalah Editor mendirikan PT Indepenindo Bangun Media, menyusul dibatalkannya SIUPP Majalah Editor. Saham seluruhnya dipegang PT Adidaya Visi Selaras yang didirikan 24 wartawan Editor pada 1993. Menurut Pemimpin Umum Tiras, Eddy Herwanto, persaingan yang ada cukup ketat. Misalnya persaingan antara mingguan Gatra, Sinar, Tiras dan Warta Ekonomi, sedangkan yang dwimingguan ada Forum Keadilan.
“Persaingan ini sehat buat konsumen, karena mereka akan mendapat sajian yang lebih baik. Berarti timbul tantangan bagi media yang sejenis, apalagi dengan adanya televisi yang menyajikan berita sama. Oleh karena itu, media yang membawa suara golongan seharusnya ditinggalkan karena hanya mementingkan kepentingan sendiri,” jelas Eddy Herwanto.
Oplah majalah ini tahun 1995 sekitar 60.000 eksemplar, lalu naik hingga mencapai 75.000 eksemplar. Kini penerbitan majalah ini berada di bawah naungan Yayasan Sosial Tani Membangun, dan dipimpin oleh Drs. Bambang Ismawan (Pemimpin Umum), Slamet Soeseno (Pemimpin Redaksi), Drs. Koeswandi (Pemimpin Perusahaan), dan F. Rahardi (Wakil Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi). Alamat redaksi/iklan  Jalan Gunung Sahari 111/7 Jakarta Pusat. Telepon (021) 4204402.(Tim EPI)


Tirto Adhi Soerjo -Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880 - Jakarta/Batavia 1918) adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S.
Tirto menerbitkan suratkabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji dikenal sebagai suratkabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.
Tirto adalah orang pribumi pertama yang menggunakan suratkabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa, dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.
Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah (tetralogi Buru) dan Sang Pemula. Pada tahun 1973, pemerintah mengukuhkan namanya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI No. 85/TK/2006.
Takashi Shiraishi lewat buku Zaman Bergerak menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa melalui bahasanya lewat Medan Prijaji. Tirto Adi Soerjo juga mendapat tempat yang banyak dalam laporan-laporan pejabat Hindia Belanda, terutama laporan Dr. Rinkes. Ini disebabkan karena Tirto memegang peranan pula dalam pembentukan Sarekat Dagang Islam di Surakarta bersama Haji Samanhudi, yang merupakan asal mula Sarikat Islam yang kemudian berkembang ke seluruh Indonesia. Anggaran Dasar Sarikat Islam yang pertama mendapat persetujuan Tirto Adi Soerjo sebagai ketua Sarikat Islam di Bogor dan sebagai redaktur suratkabar Medan Prijaji di Bandung.
Ketika menulis buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, Ki Hajar Dewantara menulis, “Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang. Yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirto Adi Soerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Beliau boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik.”
Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Suratkabar (1958) menggambarkan Tirto Adi Soerjo sebagai seorang pemberani. “Dialah wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan suratkabar sebagai pembentuk pendapat umum, dengan berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pihak kekuasaan dan menentang paham-paham kolot. Kecaman hebat yang pernah ia lontarkan terhadap tindakan-tindakan seorang kontrolir, menyebabkan Tirto Adi Soerjo disingkirkan dari Jawa, dibuang ke Pulau Bacan”, tulis Tjokrosisworo.(Tim EPI)
       

Titie Said Sadikun (Bojonegoro, 11 Juli 1937), wartawati, sastrawati, Ketua Badan Sensor Film. Dalam masa 20 tahun karirnya sebagai penulis, Titie Said Sadikun mampu meraih sukses di dua bidang sekaligus. “Ladang saya adalah pers, langit saya adalah sastra,” ujarnya. Maksudnya, keperluan sehari-hari diraih dari profesi kewartawanannya, sedangkan kebutuhan batiniah diisi kepengarangannya.
Sekitar 13 novel yang diciptakan pengarang kelahiran Desa Kauman, Bojonegoro, Jawa Timur, itu berhasil menjadi ‘ladang-ladang’ yang subur. Apalagi, lima di antaranya telah difilmkan yakni Jangan Ambil Nyawaku, Lembah Duka, Bukan Sandiwara, Fatima, dan Bayang-bayang Kehidupan.
Lahir dengan nama Sitti Raya, ia pernah diramalkan seorang gurunya di SMA Malang, “Kamu besok jadi pengarang.” Tetapi, aktivitas jurnalistik lebih serius dilakukannya ketika belajar arkeologi--sampai tingkat sarjana muda--pada Fakultas Sastra UI. Ia kemudian bergabung dengan majalah Wanita, dan menjadi pemimpin redaksinya. Namanya tambah dikenal saat menjadi managing editor majalah Kartini, 1973--1980. Berhenti dari Kartini, Titie memimpin majalah Famili.
Titie mengaku berangkat dari pengarang ke wartawan, dan berdasarkan kewartawanan ia mengarang. Karena itu, sejak tahun 1970-an, ia menggarap novel-novelnya berdasarkan yang ia lihat, dengar, dan rasakan. “Fakta mendorong nurani saya mengarang. Kalau dulu, imajinasi yang mendorong saya.”
Menulis tanpa riset sempat membuat Titie malu hati terhadap novel Pertempuran dan Hati Perempuan, l958, yang mengambil setting Bali. Padahal. ketika menuliskannya, ia belum pernah ke Bali. Tetapi. ketika kemudian bermukim di sana mengikuti suaminya, Kolonel (Pol) Drs. H. Sadikun Sugihwaras, ia melihat kenyataan yang berbeda. “Ternyata, Bali yang saya lihat berbeda dengan yang saya ceritakan di novel. Benar-benar blunder, “ ujar Titie, yang pernah menjadi anggota DPRD Bali itu.
Titie mampu merampungkan tiga novel pada kurun waktu yang sama. Caranya, ia menyediakan tiga mesin tulis di rumahnya di jalan Raya Pejaten, Jakarta Selatan. Tiap mesin tulis untuk satu novel, yang ‘digilirinya’ sesuai dengan suasana hatinya. 
Ada yang menilai novel-novel Titie sering merangsang. Ibu lima anak itu tertawa ketika dimintai tanggapannya. “Saya menulis kisah manusia yang utuh. Manusia penuh dengan berbagai pengalaman, juga pengalaman seks,” jawab Titie, yang rajin salat dan berdzikir, dan pernah dihadiahi seuntai tasbih oleh Ibu Tien Soeharto.
Tetap berpenampilan sederhana, Titie Said yang sudah hajjah ini bertekad mengarang sampai tua. “Sampai saya berhenti bernapas,” ujarnya mantap. (Tim EPI/PDAT)


Tjahaja Siang - suratkabar harian. Nomor perkenalan (proefnummer) suratkabar ini muncul pada September 1868. Namun edisi pertamanya baru beredar lima bulan kemudian, tepatnya pada 20 Januari 1869 dengan bunyi slogan: “Kertas Chabar Minahasa”. Nicolaas Graafland adalah orang berperan besar di balik penerbitannya. Sejak itu, Minahasa benar-benar jadi embrio utama berkembangnya Tjahaja Siang dan ajaran-ajaran Kristen Protestan di daerah Sulawesi Utara.
Jika di Jawa pada 1855 ada Bromartani dalam bahasa Jawa dan di Batavia pada 1858 ada Soerat Chabar Betawie dalam bahasa Melayu, maka di Sulawesi Utara pada 1869 ada Tjahaja Siang yang memakai percampuran bahasa Melayu-Belanda. Tjahaja Siang adalah suratkabar yang diusahakan oleh Zending (dalam bahasa Belanda berarti pengutusan, yang umumnya dipakai untuk kalangan Kristen Protestan untuk penyebaran agama Kristen melalui kabar keselamatan yang diberikan Allah kepada seluruh dunia).
Puluhan tahun lamanya Tjahaja Siang menjadi penerang satu-satunya di Sulawesi Utara dan sekaligus suratkabar pertama di Sulawesi Utara. Baru pada dasawarsa kedua abad ke-20, suratkabar lain bermunculan di daerah ini.
Sebagai sebuah majalah tertua di Sulawesi Utara tentu saja Tjahaja Siang telah mengalami pelbagai perubahan. Perubahan yang lazim terjadi seiring jiwa zaman yang melekat masa itu. Metamorfosis yang terjadi dalam perjalanan Tjahaja Siang tak hanya mengubah struktur redaksi semata. Lebih jauh dari itu, perubahan ini mengubah hampir semua tujuan yang telah digariskan sejak mula awal suratkabar ini terbit.
Sejak terjadinya rotasi redaksi sekira 1920, isi dan haluan Tjahaja Siang berubah. Berita-berita mengenai penduduk Minahasa dan daerah lain banyak terekspos. Pejabat-pejabat pemerintah Hindia mulai menjadi konsumsi publik. Harga beras yang mahal, penduduk yang kelaparan, pejabat yang bertindak semena-mena kian sering terlihat dalam lembaran-lembaran koran. Pertemuan-pertemuan masyarakat adat, akrivitas perhimpunan Minahasa, dan dunia pergerakan kebangsaan tampil di muka halaman, yang sesekali bersanding dengan bahasan ayat-ayat Alkitab yang tak lagi mendominasi halaman Tjahaja Siang.
Tahun 1920 itu juga menjadi titik awal perubahan Tjahaja Siang. Apalagi pada 1921 terjadi pergantian kemudi, dan tokoh boemipoetera setempat kembali memimpin barisan redaksi. Sebab pergantian itu ialah terjadi kekosongan di kursi pemimpin redaksi. Pada 11 Mei 1921 H.W. Soemoelang, yang juga pemimpin KPM di Amoerang, meninggal dunia di usia 48 tahun. Seorang yang telah dikenal reputasinya di barisan redaksi dan pembantu administratie untuk daerah Menado naik menggantikan posisinya. Dia adalah A.A. Maramis.
Perubahan kedua terjadi dalam perusahaan percetakannya. Pertama kali suratkabar dicetak di Tanawangko yang dipimpin H. Bettink. Perusahaan yang bernama “Penara & Pengeluar Tjahaja Siang” ini yang memegang tampuk tanggung jawab terbitan. Lalu pada 1899, perusahaan ini berpindah tangan kepada Cvd Roest Jr. di Menado sebelum kemudian pada 1919 diraih Liem Oei Tiong. Di dalam boks redaksi Liem duduk sebagai kepala drukker, Handeldrukkerij Liem Oei Tiong & Co di Menado. Selain itu Liem juga menjadi Vertegenwoordiger dan Administratie buat biro Manado.
Peranan Tjahaja Siang tak hanya terletak pada pembinaan pendapat umum semata. Lebih jauh dari itu, Tjahaja Siang mampu menempatkan diri sebagai trend-setter dalam pemakaian bahasa Indonesia (Melayu) dan sebagai katalisator penerimaan nilai-nilai baru yang berisisian dengan nilai-nilai tradisional.
Bahasa Melayu yang mulai dipopulerkan dalam suratkabar ini sedikit banyak berpengaruh pada budaya berbahasa masyarakat pembacanya. Selain itu Tjahaja Siang juga mampu menjadi salah satu pewarta berpengaruh di Sulawesi Utara walau tak dapat dikatakan seradikal koran kebangsaan yang lahir di kemudian hari.
Metamorfosis bahasa yang dipakai Tjahaja Siang muncul sebagai campuran antara bahasa Belanda dan Melayu. Bahasa Melayu di suratkabar ini lain dari umumnya, karena ditulis oleh orang Belanda yang belum lama tinggal di Hindia. Meski mereka mulai mempelajarinya, mereka tampak kaku dan terbatas kosakata maupun gaya Melayunya.
Suratkabar ini pun tercatat dalam kanon sejarah pers sebagai penerbitan yang sehat dan kuat bisnis ekonominya. Sebuah koran yang hidupnya sangat lama, sejak terbit 1868, pembaca di Minahasa dan daerah Hindia Belanda masih menerima Tjahaja Siang pada 1927. Bahkan dalam buku Beberapa Segi Perkembangan Pers Di Indonesia, koran ini disebut dalam judul “Tjahaja Siang Di Tengah-Tengah Pers Sulawesi Utara (1869-1942)”.
Padahal jika ditilik sejarah Tjahaja Siang, awal kali terbit di bawah payung misionaris Gereja Kristen. Nicolaas Graafland yang dikenal sebagai ahli pedagogi Belanda adalah peletak visi dasar pertama. Di tangan Graafland Tjahaja Siang lahir sebagai pembawa kabar-kabar injil dan motor penyebaran ajaran Kristen Protestan di Sulawesi Utara.
Ajaran-ajaran Kristen, berita-berita di seputar aktivitas Gereja mulai terlihat 1 bulan setelah nomor pertama keluar pada Februari 1869. Teks-teks kotbah, bahasan ayat-ayat Alkitab, artikel-artikel mengenai kegerejaan, atau kabar-kabar keagamaan diterbitkan di Tjahaja Siang dalam halaman ekstra atau nomor tambahan.
Di tempat itu Graafland juga bekerja menyiapkan sekolah-sekolah dan tenaga-tenaga ahli di dunia pendidikan. Sekira 1909, orang-orang yang telah dipersiapkan itu mulai berdatangan. Selain ahli injil dan pengajar, mereka pun masuk ke barisan redaksi Tjahaja Siang. Di antaranya, H.J. Tendeloo, H.C. Kruyt, J. Louwerier,E.W.G. Graflaand, putra dari Nicolaas Graflaand, dan J. Ten Hove. Kedatangan orang-orang ini mengembuskan angin perubahan. Kabar-kabar Alkitab atau peristiwa di seputar keagamaan tak lagi dibuatkan nomor tersendiri, nomor khusus, bisa jadi bukti nyata dari perubahan di tubuh Tjahaja Siang.
Sekira 1920 kepemimpinan redaksi Tjahaja Siang sudah berpindah ke tangan putra Minahasa dari Amoerang, yakni H.W. Soemoelang. Dan sejak saat itulah, “Penginjil” ini berubah menjadi “Sekuler Progresif”. (Tim EPI. Sumber: Tunggul Tauladan/Indexpress/Jurnas)
Tjamboet - suratkabar. Beredar di Padang, Sumatera Barat, pada tahun 1933-1934, dan terbit dua kali seminggu dengan nama Tjamboet. Suratkabar berbahasa Indonesia tersebut mempunyai moto “Haluan untuk menjaga segala perbuatan yang tidak disukai dalam pergaulan umum”.
Setiap kali terbit, Tjamboet dicetak delapan halaman dengan format broadsheet, di percetakan Electrische Drukkerij “Sumatera”. Biasanya, Tjamboet yang beralamat di Jalan  Djatilaan, Padang, terbit pada hari Rabu dan Sabtu dan dijual dengan harga eceran Rp 0,05.
Tjamboet dipimpin oelh  Tjemeti (pemred), dan Soetan Noerdin (pemimpin administrasi. Isi suratkabar lebih banyak mengangkat berita-berita daerah Sumatera Barat, seperti masalah kependudukan dan aktivitas warga, di samping berita dan artikel tentang politik, kriminal, kebudayaan dan lain-lain. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)
       

Tjeritera - suratkabar bulanan. Suratkabar ini diterbitkan khusus untuk konsumsi anak-anak yang terbit tahun 1930. Penerbitnya lembaga pendidikan Taman Siswa Jakarta,  yang sejak masa penjajahan Belanda sangat peduli dengan pendidikan bagi anak-anak. Suratkabar tersebut menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Belanda.
Format Tjeritera yang menggunakan slogan “Koran anak-anak untuk penyokong pendidikan kebangsaan.”, adalah tabloid empat halaman. Isinya berupa artikel-artikel, seperti cerita-cerita, teka-teki, seluk-beluk kepanduan dan juga berita.
Pemimpin redaksi suratkabar tersebut, yakni S. Mangunsarkoro dan pimpinan bagian administrasi  dipegang Pamoedji. Alamat Tjeritera adalah di Jalan Kemayoran no. 57 Weltevreden, dengan harga langganan Rp 0,25 per bulan dan tarif iklan sebesar Rp 1,50 per setengah halaman. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)
       

Tjhoen Tjhioe - suratkabar harian. Terbit pertama kali tahun 1918. Koran harian yang beredar di Surabaya ini dimiliki seorang Tionghoa, bernama Tjhoen Tjhioe, dan diterbitkan oleh badan penerbit Tesser yang dipimpin oleh Tjiook See Tjioe (pemimpin redaksi) dan Yap Kong Hwat (redaktur).
Suratkabar berbahasa Indonesia dan dicetak di atas kertas berukuran broadsheet sebanyak 4 halaman.
Sejalan dengan motonya, “suratkabar dagang bahasa Melayu yang muat rupa-rupa kabar penting bagi bangsa Tionghoa”, peredaran Tjhoen Tjhioe hampir seluruhnya di kalangan warga etnis Tionghoa.
Peredaran Tjhoen Tjhioe cukup luas, dengan agen di kota-kota Kediri, Besuki, Probolinggo, Semarang, Solo dan Jakarta. Isinya sebagian besar adalah tentang masalah ekonomi dan perdagangan. Harga langganan per tiga bulan Rp 5,-. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)
       

Tjin Po - suratkabar harian. Diterbitkan dan dicetak oleh Boch en Handeldrukkerij Tjon Po, Jalan Pekongstraat No. 43, Medan. Direktur nya adalah K .Th. Tjia, pemimpin redaksi Kwee Kheng Liong, dan redaktur Tjio Peng Hong dan Tjie Eng Koan.
Tjin Po yang terbit tahun 1923 dan menggunakan bahasa Indonesia ini dapat dikategorikan sebagai koran nasionalis. Berita-berita dan artikel yang dimuat koran tersebut, juga menyuarakan gerakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Melalui rubrik “Hindia Olanda”, Tjin Po mengulas masalah kolonisasi dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam penerbitan edisi 29 Januari 1923, Tjin Po memberitakan soal gerakan politik terhadap pemerintah kolonial. Berita lain yang menentang kolonialisme terdapat di halaman satu dengan judul, “Bahaya Besar di Barat.”
Suratkabar asal Sumatera Utara itu bertahan sampai sekira tahun 1930-an. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Tjoe Bou San (Jakarta, 1891-Jakarta,1925) - wartawan dan tokoh masyarakat Tionghoa di Pulau Jawa sebelum Perang Dunia II. Pernah menjadi pemimpin redaksi Hoa Tok Po, sebuah mingguan Melayu-Tionghoa di Jakarta yang berafiliasi dengan Soe Po Sia, sebuah organisasi revolusioner yang mendukung Dr. Sun Yat Sen. Kemudian Tjoe pindah ke Surabaya dan memimpin majalah Tjhoen Tjhioe hingga 1917. Setelah itu pergi ke daratan Tiongkok sebagai koresponden Sin Po. 1919 kembali ke Jakarta dan menjadi pemimpin redaksi harian Sin Po.
Setahun kemudian ia merangkap jabatan direksi harian tersebut. Sin Po dipimpinnya sehingga menjadi juru bicara kelompok nasionalis Tionghoa di Jawa. Ia pernah mengadakan Kampanye Memberantas Undang-Indang Kekaulaan Belanda dalam 1919 dan berhasil mengumpulkan  sejumlah 30.000 tanda tangan orang Tionghoa yang tidak mau jadi kaula Belanda. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Tjokroaminoto, HOS - Pendiri perkumpulan Syarikat Islam ini, juga dikenal sebagai pelopor pers nasional. Sejak tahun  1916 hingga 1919, HOS Tjokroaminoto adalah pemimpin umum dan pemimpin redaksi Oetoesan Hindia (OH). Ia dikenal sebagai wartawan dan penulis tajuk rencana yang tajam. Suratkabar yang dipimpinnya ini mencapai puncaknya ketika sejumlah tokoh terlibat dalam penulisan, antara lain H. Agus Salim, Dr. Tjiptomangunkusumo, Abdul Muis, Ki Hadjar Dewantara dan banyak lagi.
Di suratkabar yang dipimpinnya ada seorang penulis muda yang menggunakan nama Bima. Tulisannya sangat tajam dan diniIai sangat berani. Di kemudian hari diketahui bahwa nama tersebut adalah nama samaran dari Soekarno. Tulisannya mengenai pemberontakan di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya di Jambi, Toli Toli, Sulawesi Tengah dan Garut. Akibatnya Pak Tjokro selaku pimpinan redaksi ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman satu tahun penjara.
Pada tahun 1915 di Surabaya terdapat suratkabar lain yaitu Mingguan Java Herald, namun koran ini hanya bertahan satu tahun. Pak Tjokro walau dari balik terali besi masih mengelola OH walau terbitnya dua hari sekali, hingga akhirnya terpaksa menghentikan penerbitannya. Pada tahun 1918 terbit majalah bulanan OIBA yang dipimpin oleh M. Oerip, pada penerbitan itu HOS Tjokroamnioto ikut sebagai staf. (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Toengkat - suratkabar dwimingguan. Terbit tahun 1925-1926, dan lebih banyak dikenal di Kota Cirebon. Suratkabar delapan halaman dengan format tabloid yang diterbitkan Badan Penerbit Boerhan, dengan bahasa Indonesia. Muatannya lebih banyak berupa artikel agama, pendidikan dan kebudayaan.
Dengan slogan “Menyokong hakekat ilmu adab yang sah lahir batin dalam segala derajad di bawah bendera Islam”, Toengkat memang membidik pasar di kalangan umat Islam. Harga langganan suratkabar tersebut sebesar Rp 0,40 per bulan.
Toengkat yang beralamat di Jalan Pengampon No. 13, Cirebon, ditangani pemimpin redaksi H.D.R. Boerhan dan redaktur SD Alwi al Alaydroes. Pemimpin redaksi Toengkat adalah pemilik percetakan Drukkerij Boerhan Cirebon, tempat suratkabar tersebut dicetak. Sedangkan pimpinan bagian administrasinya adalah R. Soemintakoesoema. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Tokoh - koran mingguan, terbit perdana 9 November 1998. Semula koran mingguan ini berkantor di Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta. Diterbitkan oleh PT Tarukan Media Dharma dan dicetak di Percetakan Gramedia Jakarta, sempat dicetak dengan menggunakan teknologi Cetak Jarak Jauh selama setahun, yakni dicetak bersamaan di Gramedia Jakarta dan di Percetakan Bali Post di Denpasar.
Komisaris Utama PT Tarukan Media Dharma Satria Naradha, Direktur IDK Suantara. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tokoh, Widminarko. Ia adalah wartawan senior yang tetap aktif menjalankan tugas jurnalistik terus-menerus hingga kini; menjadi wartawan Bali Post sejak tahun 1965, dan menjabat wakil pemimpin redaksi/wakil penanggung jawab Bali Post 1 Mei 1968 hingga 31 Desember 2000.
Sebutannya saat pertama terbit, “Tabloid Berita Mingguan Khas Tokoh” dengan moto “Mengungkap Langsung dari Sumbernya”.  Wilayah peredarannya, Jakarta dan sekitarnya, Bali, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan daerah provinsi lainnya. Kehadirannya pada awal gerakan reformasi, diawali dan diikuti ratusan tabloid lain di Jakarta, yang sama-sama menempatkan ulasan seputar kegiatan di bidang politik sebagai sajian utamanya.
Dalam menghadapi persaingan tajam, pengelola Tokoh mengantisipasinya dengan mengubah formatnya, tabloid menjadi koran, dengan moto “Tokoh Koran Wanita Bacaan Keluarga” sejak 1 Januari 2002.
Dalam perjalanannya, tabloid politik di Jakarta yang umumnya terbit mingguan, kalah hangat, kalah cepat, kalah bersaing, daripada pemberitaan dan ulasan koran harian dan televisi. Sebagian besar tabloid politik gulung tikar.
Tokoh banting setir. Segmen pasar wanita digarap. Angket disebar. Dari hasil angket diketahui, persentase wanita yang gemar membaca, sangat kecil. Kenyataan inilah yang melahirkan inovasi baru, memperluas segmen pasar, dengan mengubah motonya, dari “Tokoh Koran Wanita Bacaan Keluarga” menjadi “Tokoh Bacaan Wanita dan Keluarga” sejak tahun 2004. Tempat cetaknya dipindahkan; sepenuhnya dicetak di Percetakan Bali Post di Denpasar.
Pembenahan di lingkungan internal dilakukan terus-menerus sejalan dengan upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Yang tidak efisien dipangkas, sambil menyiram dan memupuk benih-benih produktivitas. Pelatihan sumber daya manusia diintensifkan, mekanisme kerja yang standar di tiap unit kerjanya dibakukan. Perusahaan Tokoh sejak lahir menerapkan prinsip-prinsip dasar sistem manajemen Total Quality Control (Pengendalian Mutu Terpadu).
Itu semua dilakukan guna merealisasikan filosofi Tokoh yakni Bebas, Independen, dan Profesional, serta misinya yakni, Mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya mencerdaskan kehidupan wanita dan memberdayakan perannya, dan melaksanakan fungsi pers sebagai media informatif, edukatif, kritis, dan menghibur, secara profesional dan proporsional.
Tokoh yang semula beredar tiap Selasa, diubah menjadi tiap Minggu, dalam satu paket dengan Bali Post. Pelanggan Bali Post di seluruh Indonesia sekaligus pelanggan Tokoh. Tahun 2004 dijajaki pemindahan peran Denpasar sebagai pusat kegiatan menggantikan Jakarta. Maka, sejak Januari 2005, peran Denpasar sebagai pusat pengelolaan Tokoh, terwujud efektif.
Penampilan Tokoh berangkat dari konsep tiga aspek pengelolaan secara seimbang, yakni aspek idealisme, aspek materialisme (bisnis), dan aspek profesionalisme. Sajiannya beragam, namun senantiasa mengacu pada prinsip aktualitas, komprehensivitas, eksklusivitas, dan materinya mengutamakan persoalan dan kebutuhan wanita dan keluarga umumnya. Jika dalam penyajiannya sangat tinggi komitmennya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dalam materinya Tokoh berupaya mengutamakan wanita sebagai narasumber maupun sebagai pelaku peristiwa, tanpa mengesampingkan narasumber dan pelaku dari kalangan kaum pria. Tokoh adalah koran yang menjadikan wartawannya sekaligus sebagai staf pemasaran dan penjualan, dan menjadikan staf pemasaran dan penjualannya memahami dan terampil melaksanakan tugas-tugas jurnalistik.
 Pada dasarnya, perjalanan panjang Tokoh yang tak pernah absen terbit tiap minggu sejak terbit perdana, adalah perjalanan awak koran yang senantiasa berupaya kreatif dan inovatif dalam menatap dan menaklukkan tiap permasalahan yang timbul, perkembangan yang terjadi, dan tantangan yang menghadang. (Tim EPI. Sumber: Wikipedia) 

   
Tong Pao - suratkabar dwimingguan. Diterbitkan badan penerbit Tong Pao Koran dan ditangani warga China di Kota Manado. Pemimpin redaksinya Tjia Tjun Teng, dan tim redaktur Loe Tjien Hong, Que Boen Tyen, Oeij Tjong Kie dan Anti Brothers.
Meskipun penerbit maupun redakturnya warga etnis China, Tong Pao yang bermoto “Soerat Chabar Boeat segala Bangsa” juga beredar luas di Sulawesi. suratkabar yang beralamat di Toeapekongstraat No. 31, Manado dan dicetak di percetakan Druk Liem & Co tersebut, setiap minggu terbit empat halaman dengan format broadsheet.
Dengan harga langganan Rp 1, per tiga bulan, Tong Pao menyajikan berbagai informasi, berita dan artikel dari masalah sosial, politik, kebudayaan, perekonomian, perdagangan dan lain-lain. (Tim EPI/TS. Sumber: Perpusnas)


Trans7 - stasiun televisi, mulai menghisasi layar kaca di ruang keluarga pemirsa Indonesia pada tanggal 4 Agustus 2006. Berawal dari kerjasama strategis antara Para Group dan Kelompok Kompas Gramedia, Trans7 lahir sebagai sebuah stasiun swasta yang menyajikan tayangan yang mengutamakan kecerdasan, ketajaman, kehangatan penuh hiburan serta kepribadian bangsa yang membumi.
Trans7 yang semula bernama TV7 berdiri 25 November 2001 dengan ijin dari Departemen Perdagangan dan Perindustrian Jakarta Pusat dengan Nomor 809/BH.09.05/III/2000. Pada tanggal 22 Maret 2000 keberadaan TV7 telah diumumkan dalam Berita Negara Nomor 8687 sebagai PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh. Dengan dilakukannya re-launch pada tanggal 15 Desember 2006, tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Trans7.
Di bawah naungan PT TRANS CORPORA yang merupakan bagian dari manajemen Para Group, dengan Komisaris Utama Chairul Tanjung, Komisaris Agung Adiprasetyo, Ishadi SK, dan Asih Winanti, serta Direktur Utama Wishnutama, Wakil Direktur Utama Atiek Nur Wahyuni, serta Direktur Keuangan dan Sumber Daya Ch. Suswati Handayani, Trans7 diharapkan dapat menjadi televisi yang maju, dengan program-program in-house productions yang bersifat informatif,  kreatif, dan inovatif
Logo Trans7 membentuk empat sisi persegi panjang yang merefleksikan ketegasan, karakter yang kuat, kepribadian bersahaja yang akrab dan mudah beradaptasi. Birunya yang hangat tetapi bersinar kuat melambangkan keindahan batu safir yang tak lekang oleh waktu, serta menempatkannya pada posisi terhormat di antara batu-batu berlian lainnya. Perpaduan nama yang apik dan mudah diingat, diharapkan membawa Trans7 ke tengah masyarakat dan pemirsa setianya.
Pada akhir semester kedua 2006 sampai dengan semester awal tahun 2007, Trans7 memiliki target 60% sampai dengan 80 % untuk in house production. Dan sisanya 40% sampai dengan 20 % adalah program local dan international acquisition. Prosentase program luar negeri berjumlah 43% dan program produksi local berjumlah 57%. Trans7 mengedepankan program Informasi dan hiburan meliputi berita sebesar 29%, Olahraga 5% dan program yang di produksi oleh Trans7 sebesar 17%. Dan sisanya sebesar 49% adalah program Internasional dan production house lokal.
Trans7 berkomitmen untuk menyajikan yang terbaik bagi pemirsanya, dengan menyajikan program Informasi seperti Redaksi Pagi, Redaksi Siang, Redaksi Sore dan Redaksi Malam. Dikemas secara apik dan dinamis, update dan informatif. Trans7 juga menghadirkan program berita lainnya seperti Selamat Pagi, TKP, Kupas Tuntas, Lacak, Fenomena yang memberikan wawasan bagi pemirsa.
Tidak kalah Informatif, program Informasi untuk wanita seperti Asal Usul, Kajian Silaturahim, Wanita dalam Berita, Infotainment Pagi, Infotainment Siang, Infotainment weekend dan Cipika-Cipiki semakin lengkap menambah cakrawala diruang keluarga. Tidak hanya menyajikan program Informasi saja, program hiburan seperti Plesetan Misteri,Wisata Belanja, Kisah selebriti, Rumpi dan yang paling dinantikan yaitu program Empat Mata bersama Tukul Arwana.

Program Sport Trans7 yang selalu dinanti oleh para pecinta olahraga. Moto GP 2007, merupakan ajang balap motor yang menarik untuk diikuti. Trans7 juga menyajikan tayangan olahraga setiap hari dilayar pemirsa seperti program Sport 7 serta up date olah raga dunia di One Stop Football, Highlight Moto GP, Highlight Otomotif, serta plesetan dan tips dunia olah raga yang menarik dikemas dalam program Sportawa.
Dunia anak tidak pernah lepas dari program Trans7. Hadir bersama Si Bolang dan Laptop Si Unyil, Trans7 memberikan pengetahuan dan hiburan untuk anak-anak. Program Si Bolang merupakan program dokumenter petualangan yang menghadirkan anak-anak diseluruh penjuru Indonesia. Lain halnya dengan program Laptop Si Unyil, program ini memberikan ilmu pengetahuan umum yang mendasar bagi si kecil.
Dilengkapi dengan sajian film-film berkualitas, Theater7, Theater Malam dan Theater fajar hadir setiap hari mengisi layar kaca anda. Maka jangan pernah lewatkan sajian kami, dikemas secara cerdas, tajam, menghibur dan membumi hanya di Trans7. 
Trans7 saat ini memiliki 26 stasiun transmisi yang mampu menjangkau lebih dari 133 juta penonton televisi di Indonesia. Jakarta 49 UHF, Bandung 44 UHF, Semarang 41 UHF, Yogyakarta/Solo 46 UHF, Surabaya 56 UHF, Madiun 40 UHF, Kediri 45 UHF, Malang 60 UHF, Denpasar 45 UHF, Medan 41 UHF, Palembang 22 UHF, Lampung 22 UHF, Pekanbaru 30 UHF, Makassar 41 UHF, Manado 32 UHF, Pontianak 31 UHF, Samarinda 49 UHF, Banjarmasin 22 UHF, Purwokerto 22 UHF, Tegal 53 UHF, Cirebon 47 UHF, Garut 32 UHF, Jayapura 22 UHF, Kupang 36 UHF, Balikpapan 22 UHF, Padang 23 UHF.
Saat ini Trans7 melaksanakan berbagai aktivitasnya dari Menara Bank Mega Lt. 20, Jalan Kapt. P. Tendean Kav. 12-14A Jakarta 12790.  (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Trans TV - (PT Televisi Transformasi Indonesia) adalah sebuah stasiun televisi swasta ke delapan yang memperoleh ijin mengudara secara nasional di Indonesia. Usahanya berada di bawah kepemilikan Para Group (PT Para Inti Investindo).
Trans TV memperoleh ijin siaran pada bulan Oktober 1998 setelah dinyatakan lulus dari uji kelayakan yang dilakukan tim antar departemen pemerintah, maka sejak tanggal 15 Desember 2001, Trans TV memulai siaran secara resmi.
Trans TV atau Televisi Transformasi Indonesia dimiliki oleh konglomerat Chairul Tanjung dengan grup Para-nya, dan merupakan anak perusahaan PT Trans Corpora. Stasiun ini melakukan siaran pertama kali dari Studio TransTV, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan,
Logo Trans TV berbentuk berlian, yang menandakan keindahan dan keabadian. Kilauannya mereflesikan kehidupan dan adat istiadat dari berbagai pelosok daerah di Indonesia sebagai simbol pantulan kehidupan serta budaya masyarakat Indonesia. Huruf dari jenis serif, yang mencerminkan karakter abadi, klasik, namun akrab dan mudah dikenali.
Dengan moto “Milik Kita Bersama”, konsep tayang stasiun ini tidak banyak berbeda dengan stasiun swasta lainnya. Trans TV memiliki visi untuk menjadi televisi terbaik di Indonesia maupun ASEAN, memberikan hasil usaha yang positif bagi stakeholders, menyampaikan program-program berkualitas, berperilaku berdasarkan nilai-nilai moral budaya kerja yang dapat diterima oleh stakeholders serta mitra kerja, dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan serta kecerdasan masyarakat.
Sedangkan misi Trans TV adalah menjadi wadah gagasan dan aspirasi masyarakat untuk mencerdaskan serta menyejahterakan bangsa, memperkuat persatuan dan menumbuhkan nilai-nilai demokrasi.
Sepanjang kehadirannya Trans TV pernah mendapat berbagai penghargaan antara lain Kategori Best Reality Program (Dunia Lain - Lawang Sewu) dan Nominasi Best Music Programme (Diva Dangdut Nirwana) pada ajang ASIAN TELEVISION AWARD 2004, Kategori Media Elektronik Peduli Narkoba, Oktober 2004 pada ajang FOR ALL NATION (FAN) CAMPUS, Kategori Televisi Terbaik dari dari CAKRAM, Anugrah Syiar Ramadhan 1424H dan Kategori Siaran Menjelang Buka Puasa (Penghargaan III) dari MAJELIS ULAMA INDONESIA. (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)

 

 

 Persatuan Wartawan Indonesia Tribuana Said -wartawan, lahir di Medan pada tanggal 6 Agustus 1940. Ia adalah seorang wartawan yang menjalani pendidikan di Internasionale Institut Fuer Journalismus, Berlin Barat (1972), dan menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana di Michigan Journalism Fellow, University of Michigan, Ann Arbor, Michigan, USA pada tahun 1973-1974.
Kemudian pada tahun 1979 mengambil diploma Pasca-Sarjana Hubungan Internasional dan Pembangunan, setelah itu mengambil gelar Master Studi Pembangunan (MDS) pada tahun 1981 di Institute of Social Studies, Den Haag, Nederland dan Piagam Khusus Reguler Angkatan XVII dan Anggota Lembaga Pertahanan Nasional tahun 1984 di Jakarta.
Ia memiliki banyak pengalaman kerja, diantaranya mendirikan Mingguan Waspada Teruna (1957), koresponden Waspada, Medan di Eropa Barat yang berkedudukan di London (1958-1964),  Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Waspada Medan , pada tahun 1964-1965 (Waspada diberangus oleh Pemerintah Soekarno pada 23 Maret 1965, dan diterbitkan kembali pada 17 Agustus 1966), wartawan Merdeka, Indonesian Observer, mingguan Topik, Keluarga Jakarta (1966), Pemimpin Redaksi Merdeka Jakarta pada tahun 1975-1979 dan 1995-2000 (Merdeka diberangus oleh Pemerintah Soeharto pada 20 Januari 1978, dan diterbitkan kembali dua minggu kemudian), Anggota Dewan Pers selama dua periode yaitu tahun 1993-1999, Anggota Badan Sensor Film dalam dua periode yaitu tahun 1984 - 1989, Anggota Dewan Siaran Nasional tahun 1989 - 1991, Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia Pusat tahun 1983 – 1988, selanjutnya menjadi Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri merangkap Direktur Program Pendidikan PWI tahun 1988 -1998. Pernah juga menjabat Ketua Bidang Manajemen, Serikat Penerbit Suratkabar Pusat tahun 1974-1979, Direktur dan selanjutnya Sekretaris Tetap Konfederasi Wartawan ASEAN tahun 1989 - 1993. Selain itu beliau juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum Mingguan Waspada Teruna, Medan tahun 1957 - 1965, pada tahun 1967-1979 sebagai penanggung jawab dan selanjutnya Pemimpin Redaksi The Indonesian Observer Jakarta, Pemimpin Redaksi Majalah Mingguan Berita TOPIK Jakarta tahun 1972 -1979, Wakil Pemimpin Umum Majalah Bulanan Keluarga Jakarta tahun 1981, dan Pemimpin Redaksi, Harian The Indonesia Times, Jakarta tahun 1990 - 1995.
Sejak Juli 2001 ia menjabat sebagai Wakil Pemimpin Umum Majalah Triwulan Krakatau Jakarta, Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia Pusat dari tahun 1998 dan Anggota Komite Kebebasan Pers dan Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia sejak tahun 1998.
Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif, Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta sejak September 2002, beliau juga menjadi Komisaris Utama PT Harian Waspada, Medan, sekaligus sebagai penerbit Harian Waspada, Medan. Selain itu beberapa jabatan penting disandangnya yaitu Ketua Yayasan Pendidikan Ani Idrus, pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Pembangunan Medan, sejak tahun 1994 menjabat sebagai Direktur National Development Information Office, Jakarta, Komisaris PT Indonesia Raya Audisi, pendiri Indra TV Newsagency, Jakarta.
Berbagai aktivitasnya dalam organisasi diantaranya, menjadi Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris (1960), Ketua Badan Pendukung Soekarnoisme, Medan, (1964), Bendahara Persatuan Wartawan Indonesia Pusat (1973-1978), Ketua Bidang Management Serikat Penerbit Suratkabar/SPS (1974-1979).(Tim EPI)


Tribun Timur - suratkabar harian. Terbit untuk pertama kali di Sulawesi Selatan tanggal 9 Februari 2004. Tribun Timur adalah satu dari sembilan koran daerah yang dikelola PT Indopersda Primamedia, divisi koran daerah Kelompok Kompas Gramedia (KKG), bekerja sama dengan Bosowa Group.
Sebelum terbit, muncul keraguan mengenai bagaimana Tribun Timur bisa bertahan untuk sekadar hidup di ‘kandang macan’, karena di Makassar, telah ada koran yang sudah terbit hampir tiga dekade dengan merek yang begitu kuat, dan dengan produk yang begitu beragam pula.
Tiga tahun kemudian, semua keraguan itu terjawab. Tribun Timur, yang hadir dengan konsep liputan dan gaya penyajian yang khas, ternyata mampu melakukan penetrasi pasar dengan cepat, bahkan lebih cepat dari perkiraan para pengelolanya sendiri.
Menurut survei terpercaya, pada tujuh kuartal berturut-turut sejak 2005 sampai kuartal ketiga 2006 menunjukkan, readership Tribun tumbuh 180 persen, angka pencapaian yang jarang dicapai koran-koran lain di Indonesia.
Di Makassar, tumbuh suatu kelompok masyarakat yang jumlahnya sangat besar. Kelompok masyarakat itu diberi nama civil society oleh para ahli sosiologi, sedangkan kalangan bisnis menyebutnya kaum profesional. Ciri utama kelompok ini adalah well educated, memiliki daya beli tinggi, memiliki skill yang tinggi, gaya hidupnya metropolis, tinggal di kota, dan sebagian dari mereka membangun keluarga muda. Keluarga-keluarga muda itu tumbuh karena keberhasilan melakukan mobilisasi vertikal dengan bekal pendidikan yang baik dan mereka umumnya bergerak di sektor modern.
Tentu saja, kelompok masyarakat baru ini tidak bisa lagi dilayani dengan cara-cara kerja jurnalisme jaman dulu. Kaum profesional menikmati isi berita yang berbeda, juga mengharapkan cara penyajian yang berbeda.
Mereka juga ingin diakui, didengar suaranya secara politik, karena merekalah pembayar pajak yang tinggi. Dengan pajak yang mereka bayar, politisi dan pejabat pemerintah menikmati gaji. Karena itu, civil society membutuhkan pemerintah untuk mengelola masyarakat dengan baik. Itulah yang disebut dengan public services.
Tribun Timur membuka satu halaman public services. Inilah salah satu rubrik paling sukses di Tribun. Lebih 100 SMS setiap hari masuk ke nomor hotline koran ini, semuanya berkaitan dengan tema-tema yang akrab dengan masyarakat professional, yaitu selular, kesehatan, perbankan, pelayanan listrik, telepon, air bersih, dan seterusnya.
Pendekatan ini ternyata mampu mendorong Tribun melewati tahap-tahapan paling krusial dari perkembangan suratkabar dengan mulus dan cepat, dari awal diminati pembaca, dibeli secara eceran, lalu berlangganan. Lebih dari 60 persen pembaca Tribun Timur saat ini adalah pelanggan. Mereka adalah keluarga metropolis dengan ciri yang kuat sebagai kaum profesional.
Dengan melayani masyarakat kaum professional, Tribun Timur mendorong kota Makassar tumbuh menjadi kota modern. Karena, itulah harapan kaum profesional dan keluarga metropolis, mereka menginginkan kota yang nyaman, aman, lengkap dengan fasilitas leisur, dan iklim bisnis yang kondusif.
Itulah yang menjelaskan, mengapa Tribun mendorong pembangunan ikon kota seperti peremajaan Pantai Losari. Pembangunan pedestrian. Penggunaan lajur kiri bagi kendaraan bermotor.
Koran ini sudah melewati tahapan menarik perhatian pembaca, dibeli secara eceran, dan berlangganan. Lebih dari itu, Tribun telah mampu memerankan diri sebagai salah satu pemimpin baru, yang memimpin opini dan pengaruh, dalam masyarakat.
Suratkabar adalah institusi bisnis. Tapi dia sukses tidak semata karena bisnis, dia sukses justru karena suratkabar memiliki pengaruh. Karena itu, suratkabar sesungguhnya adalah pabrik yang menjual pengaruh.
Dengan bekal itu, Tribun tumbuh secara cepat di bidang bisnis maupun kepemimpinan di bidang jurnalistik maupun public opinion.
Grafis Tribun, gaya pemberitaannya, model layoutnya, diikuti. Itulah kepemimpinan baru di bidang jurnalistik, yang tidak pernah ada sebelumnya.
Tribun hadir memaksa pemain lain di bisnis suratkabar untuk mengubah strategi bisnis secara mendasar. Bisnis suratkabar adalah bisnis di panggung terbuka. Seperti halnya model rambut artis yang bisa ditiru secara bebas, demikian juga suratkabar.
Itulah sisi lain suratkabar. Dia butuh kesuksesan di bidang bisnis untuk menjalankan idealisme, tapi dia juga butuh pengaruh yang kuat, kepemimpinan yang kuat, untuk memperbaiki masyarakat.
Sebagaimana fungsi pers sebagai kekuatan keempat demokrasi di luar partai politik, parlemen, dan pemerintah, Tribun ikut mewarnai, bahkan terkadang memberi arah, terhadap pembentukan public opinion.
Suratkabar membawakan peranannya sebagai penyalur pendapat publik. Kekuatan pendapatan publik itulah yang mempengaruhi pengambilan keputusan politik. Suratkabar membantu rakyat mewujudkan mimpinya dalam demokrasi.
Salah satu kasus yang menunjukkan pengaruh isi Tribun Timur terhadap keputusan DPRD setempat yaitu pernah ada rencana pengadaan 75 laptop bagi anggota dewan senilai Rp 975 juta, juga rencana pengadaan mobil Kijang Innova senilai Rp 14,2 miliar. Semua itu dibatalkan karena masyarakat menyampaikan isi hatinya melalui berita dan hotline Public Services Tribun. Dan akhirnya, mereka menang.
Itu adalah kemenangan masyarakat yang percaya kepada Tribun sebagai kekuatan sosial baru yang tidak mengharapkan pamrih politik. Mereka percaya bahwa Tribun adalah kekuatan moral yang dibangun kaum profesional, civilized people.
Pengaruh dan kepemimpinan pers dibangun bukan dengan tekanan, apalagi intimidasi. Pengaruh dan kepemimpinan pers dibangun berdasarkan kepercayaan pembaca. (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Tridah Bangun (Batukarang, 30 Agustus 1933 - Bandung, 28 Oktober 2006) - Dengan hanya berbekal ijazah SMP, pada tahun 1953 Tridah memulai karirnya sebagai wartawan di Harian Waspada Medan, dan hingga tahun 1957 ditempatkan di Rantau Parapat, Kabupaten Labuhan Batu. Pada saat yang sama dia memimpin majalah berbahasa Karo, Terlong dari tahun 1955 hingga 1959.
Pada tahun1958 hingga 1960 ia menjadi pegawai sipil di Kodam II Bukit Barisan untuk mengerjakan mingguan Barisan. Lalu tahun 1961 hingga 1968 memimpin majalah Tugas, Medan. Di saat yang sama, antara Januari 1961 hingga 1971 menjadi Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab harian Patriot Medan, yang pada November 1965 berganti nama menjadi Suluh Indonesia, dan setahun kemudian menjadi Suluh Marhaen edisi Sumatra Utara.
Tahun 1968 hingga 1971 Tridah Bangun menjadi wartawan Suluh Marhaen edisi Nasional, dan tahun 1968 hingga 1974 menjadi koresponden harian Republik di Semarang yang sebelumnya bernama Suluh Marhaen edisi Jawa Tengah.
Dunia jurnalistik sempat ia lepaskan ketika sibuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Sekretariat Jenderal MPR RI, dengan tugas menjadi Sekretaris Wakil Ketua MPR RI Moh. Isnaeni, lalu Hardjanto Sumodisastro.
Tridah juga lama aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat menjadi mahasiswa di Medan dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Di tubuh partai ini ia pernah menjabat Staf Departemen Penerangan Propinsi DPP PNI, Sekretaris Pribadi Ketua DPP PNI Osa Maliki, Hadi Subeno, dan menjadi Press Officer DPP PNI 1971-1973 ketika PNI berfusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia pada 10 Januari 1973. Puncak pengabdiannya di organisasi PWI saat menjabat Ketua I PWI Cabang Medan 1963-1967, yaitu saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Dia termasuk seorang yang ulet. Sambil bekerja ia terus belajar sehingga meraih gelar sarjana komunikasi dari Universitas Prof Dr Moestopo Jakarta tahun 1974. Di sela-sela kesibukannya ia seringkali mengisi waktu dengan menyusun buku yang umumnya berkaitan dengan masalah etnis Karo, sejarah, dan biografi.
Setelah pensiun tahun 1988 Tridah mulai aktif lagi menulis, khususnya di media di Sumatera Utara. Dan terakhir hingga akhir hayatnya Tridah menjadi kolomnis majalah Sibayak Post yang terbit di Berastagi.
Tridah memiliki tiga anak yang meneruskan jejaknya di dunia jurnalistik, yakni Hendry Ch. Bangun (Harian Kompas/Warta Kota Jakarta), Rimnasari Bangun (Tribun Batam, Batam), dan Fredy Bangun (Trans7, koresponden Bandung). (Tim EPI. Sumber: Hendry Ch. Bangun)


Trubus - majalah pertanian. Sebelumnya Trubus meruakan buletin pertanian bernama Tani Membangun. Media sederhana yang terbit pada 1969 itu benar-benar sederhana, dicetak stensilan, ukurannya kecil, dan jangkauannya pun lokal.
Semua itu untuk mengobati rasa haus Yayasan Sosial Tani Membangun(YSTM) terhadap media khusus pertanian. Indonesia yang agraris kala itu nyaris tak menyediakan satu pun media yang khusus membahas perkara pertanian.
Buletin Tani Membangun benar-benar “trubus” yang artinya dalam bahasa Jawa “tumbuh daun muda”. Bagaimana pun, nama ini mengandaikan sesuatu yang hidup dan tanda-tanda kehidupan itu muncul sejak Desember 1969. Inilah pertama kali Trubus diterbitkan. Cetakannya memakai teknik offset, bukan lagi stensilan. Ukurunnya 15 x 21 cm dengan tebal 32 halaman.
Trubus muda mulai menghijau, tumbuh subur tatkala memperoleh surat izin terbit pada 30 Agustus 1969. Jargonnya, “Majalah Pembangunan Pertanian dan Pedesaan”, terasa pas dengan kondisi pertanian Indonesia. Desa merupakan basis pertanian Republik ini.
Sejak 1975, formatnya berubah menjadi format majalah. Sekira Januari 1980, Trubus mulai dikenal masyarakat. Trubus diakui sebagai majalah pembangunan dan pertanian serta menjadi majalah penyuluh pertanian rakyat pedesaan. Sampai 1983, Trubus konsisten dengan rubrikasi pengembangan pedesaan, pertanian, usaha kecil di masyarakat seperti membatik, batako press, dan lainnya.
Perubahan terpenting terjadi pada Januari 1984. Trubus melebarkan sayap dengan menyentuh masyarakat perkotaan. Pada Januari 1987, pertama kalinya Trubus tampil dengan seluruh halaman berwarna dengan jenis kertas HVS. Dalam kurun 1987-1991, pelbagai perubahan dilakukan dan kian meningkatkan oplah hingga menjadi 57.000 eksemplar pada 1992.
Namun, Trubus pernah terserang hama, yaitu krisis ekonomi 1998. Majalah-majalah baru album satwa dan tanaman hias lain juga bermunculan. Akibatnya, oplahnya menurun dari 57.000 terjun hingga 20.000 eksemplar. Kualitas tulisan pun ikut menurun dan 56 karyawannya dipecat.
Untunglah, Trubus yang sedang sakit mendapatkan obat, yakni dilakukannya rasionalisasi dan perubahan kebijakan redaksional yang mengarah pada “Agribisnis” dengan sasaran perkotaan.
Visi Trubus pun diubah menjadi perusahaan penerbitan majalah pertanian nomor satu di Indonesia. Dengan obat itu mujarab, oplah Trubus kembali menembus angka 54.000 eksemplar pada Desember 2001.
Pada 2002 YSTM dibubarkan dan dibentuk PT Trubus Swadaya. Menyusul kemudian perubahan redaksional dan jangkauan Trubus tak semata merambah agribisnis, tapi juga menjamah trend di masyarakat.
Sebagai media pertanian, Trubus mengembangkan produknya melalui penulisan buku, pelatihan, pameran, pembuatan cd/vcd, pembuatan info-kit. Maka, terbangunlah citra Trubus sebagai pusat informasi pertanian yang ada di banyak segmen usaha. Prestasi Trubus terhebat barangkali ingin menjadi panduan dan panutan untuk komoditas pertanian sekaligus memengaruhi kebijakan pemerintah.
Cita-cita itu tinggal selangkah lagi. Sebab telah tertidentifikasi, pembaca Trubus dari kalangan keluarga muda dengan 2-3 anak usia sekolah SD-SMP dengan status sosial ekonomi menengah ke atas. Ini adalah kelas yang secara sosial mampu melakukan perubahan pada masyarakat. Apalagi tiras pada akhir 2006 mencapai 724.150 eksemplar. Ini menandakan bahwa informasi pertanian itu telah beredar secara massif.
Kesuksesan Trubus tak lepas dari peran Bambang Ismawan dan kawan-kawan yang merintis Trubus. Bambang Ismawan pun sampai kini masih mengasuh Trubus dengan menjadi pemimpin umum, dibantu Koswandi yang menjadi wakilnya. Sedangkan pemimpin redaksi diserahkan kepada Onny Untung. Sementara yang bertindak sebagai redaktur pelaksana adalah Karjono dan Utami Kartika Putri.
Di bawah kibaran bendera PT Trubus Swadaya, Trubus bertata-cita membangun Indonesia dengan swadaya. Apalagi Bina Swadaya yang menjadi akar majalah ini hingga kini bercita-cita meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin dan terpinggirkan berdasarkan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, solidaritas, subsidiaritas, multikulturalisme, dan ramah lingkungan.
Cita-cita dari Bina Swadaya ini ditunjang dengan misi mereka, yaitu (1) memberdayakan rakyat miskin dan terpinggirkan dalam aspek sumber daya manusia (SDM), kelembagaan, permodalan dan usaha; (2) memperjuangkan kebijakan pembangunan yang memihak rakyat miskin dan terpinggirkan; (3) menjembatani kesenjangan sosial ekonomi untuk mencapai struktur masyarakat yang berkeadilan; (4) mengembangkan kemandirian, keunggulan dan keberlanjutan lembaga.
Sebuah cita-cita dan misi mulia diemban Trubus bersama Bina Swadaya. Keduanya terbukti sukses dalam dunia pertanian dengan menjadi majalah dan lembaga swadaya yang turut membangun dunia pertanian Indonesia. Kemandirian masyarakat dalam sektor pertanian yang kerap didengungkan Bina Swadaya lewat tangan panjang Trubus inilah yang patut dicatat. (Tim EPI. Sumber: M Agung Dwi Hartanto/Indonesia Buku/Jurnas)


tvOne (sebelumnya bernama Lativi) adalah stasiun televisi swasta Indonesia. Stasiun televisi ini didirikan pada tahun 2001 oleh pengusaha Abdul Latief. Konsep penyusunan acaranya adalah banyak menonjolkan masalah yang berbau klenik, erotisme, berita kriminalitas dan beberapa hiburan ringan lainnya. Sejak tahun 2006, sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Grup Bakrie yang juga memiliki antv.
Pada 14 Februari 2008, Lativi secara resmi berganti nama menjadi tvOne, dengan komposisi 70 persen berita, sisanya gabungan program olahraga dan hiburan. Abdul Latief tidak lagi berada dalam kepemilikan saham tvOne. Komposisi kepemilikan saham tvOne terdiri dari PT Visi Media Asia sebesar 49%, PT Redal Semesta 31%, Good Response Ltd 10%, dan Promise Result Ltd 10%. (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Televisi Republik Indonesia (TVRI) adalah stasiun televisi pertama di Indonesia, yang mengudara sejak tahun 1962 di Jakarta. Siaran perdananya menayangkan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 dari Istana Negara Jakarta. Siarannya masih hitam putih. TVRI kemudian meliput Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta.
Dahulu TVRI pernah menayangkan iklan, kemudian pada tahun 80-an dan 90-an TVRI tidak menayangkan iklan, dan akhirnya TVRI kembali menayangkan iklan. Status TVRI saat ini adalah Lembaga Penyiaran Publik. Sebagian biaya operasional TVRI masih ditanggung oleh negara.
TVRI memonopoli siaran televisi di Indonesia hingga tahun 1989 ketika didirikan televisi swasta pertama RCTI di Jakarta, dan SCTV pada tahun 1990 di Surabaya.

Latar belakang
Pada tahun 1961, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memasukkan proyek media massa televisi ke dalam proyek pembangunan Asian Games IV di bawah koordinasi urusan proyek Asian Games IV.
Pada 25 Juli 1961, Menteri Penerangan mengeluarkan SK Menpen No. 20/SK/M/1961 tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T).
Pada 23 Oktober 1961, Presiden Soekarno yang sedang berada di Wina mengirimkan teleks kepada Menteri Penerangan saat itu, Maladi, untuk segera menyiapkan proyek televisi (saat itu waktu persiapan hanya tinggal 10 bulan) dengan jadwal sebagai berikut:
1. Membangun studio di bangunan bekas Akademi Penerangan (Akpen) di Senayan (TVRI sekarang).
2. Membangun dua pemancar 100 watt dan 10 Kw dengan tower 80 meter.
3. Mempersiapkan software (program dan tenaga).

Pada 17 Agustus 1962, TVRI mulai mengadakan siaran percobaan dengan acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia XVII dari halaman Istana Merdeka Jakarta, dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. Kemudian pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno.
Pada 20 Oktober 1963, dikeluarkan Keppres No. 215/1963 tentang pembentukan Yayasan TVRI dengan Pimpinan Umum Presiden RI. Pada tahun 1964 mulai dirintis pembangunan Stasiun Penyiaran Daerah dimulai dengan TVRI Stasiun Yogyakarta, yang secara berturut-turut diikuti dengan Stasiun Medan, Surabaya, Ujungpandang (Makassar), Manado, Denpasar dan Balikpapan (bantuan Pertamina),

Pembangunan Stasiun Produksi Keliling
Mulai tahun 1977, secara bertahap di beberapa ibu kota Provinsi dibentuk stasiun-stasiun Produksi Keliling atau SPK, yang berfungsi sebagai perwakilan atau koresponden TVRI di daerah, yang terdiri dari:
1.  SPK Jayapura
2.  SPK Ambon
3.  SPK Kupang
4.  SPK Malang (Tahun 1982 diintegrasikan   dengan TVRI Stasiun Surabaya)
5.  SPK Semarang
6.  SPK Bandung
7.  SPK Banjarmasin
8.  SPK Pontianak
9.  SPK Banda Aceh
10. SPK Jambi
11. SPK Padang
12. SPK Lampung

Status TVRI pada Era Orde Baru
Tahun 1974, TVRI diubah menjadi salah satu bagian dari organisasi dan tatakerja Departemen Penerangan, yang diberi status Direktorat, langsung bertanggung-jawab kepada Direktur Jenderal Radio, TV, dan Film, Departemen Penerangan Republik Indonesia.
Sebagai alat komunikasi Pemerintah, tugas TVRI adalah menyampaikan informasi tentang kebijakan Pemerintah kepada rakyat dan pada waktu yang bersamaan menciptakan two-way traffic (lalu lintas dua jalur) dari rakyat untuk pemerintah selama tidak mendiskreditkan usaha-usaha Pemerintah.
Pada garis besarnya tujuan kebijakan Pemerintah dan program-programnya adalah untuk membangun bangsa dan negara Indonesia yang modern dengan masyarakat yang aman, adil, tertib dan sejahtera, di mana tiap warga Indonesia mengenyam kesejahteraan lahiriah dan mental spiritual. Semua kebijaksanaan Pemerintah beserta programnya harus dapat diterjemahkan melalui siaran-siaran dari studio-studio TVRI yang berkedudukan di Ibukota maupun daerah dengan cepat, tepat dan baik.
Semua pelaksanaan TVRI baik di ibu kota maupun di daerah harus meletakkan tekanan kerjanya terhadap integrasi, supaya TVRI menjadi suatu well-integrated mass media (media massa yang terintegrasikan dengan baik) Pemerintah.
Tahun 1975, dikeluarkan SK Menpen No. 55 Bahan siaran/KEP/Menpen/1975, TVRI memiliki status ganda yaitu selain sebagai Yayasan Televisi RI juga sebagai Direktorat Televisi, sedang manajemen yang diterapkan yaitu manajemen perkantoran/birokrasi.

TVRI pada Era Reformasi
Bulan Juni 2000, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2000 tentang perubahan status TVRI menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), yang secara kelembagaan berada di bawah pembinaan dan bertanggung jawab kepada Departemen Keuangan RI.
Bulan Oktober 2001, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 64 tahun 2001 tentang pembinaan Perjan TVRI di bawah kantor Menteri Negara BUMN untuk urusan organisasi dan Departemen Keuangan Republik Indonesia Departemen Keuangan RI untuk urusan keuangan.
Tanggal 17 April 2002, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 2002, status TVRI diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) TVRI di bawah pengawasan Departemen Keuangan RI dan Kantor Menteri Negara BUMN.
Selanjutnya melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, TVRI ditetapkan sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara. Semangat yang mendasari lahirnya TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik adalah untuk melayani informasi untuk kepentingan publik, bersifat netral, mandiri dan tidak komersial. Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2005 menetapkan bahwa tugas TVRI adalah memberikan pelayanan informasi, pendidikan dan hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan penyiaran televisi yang menjangkau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan stasiun televisi tertua di Indonesia dan satu-satunya televisi yang jangkauannya mencapai seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah penonton sekitar 82 persen penduduk Indonesia. Saat ini TVRI memiliki 27 stasiun Daerah dan 1 Stasiun Pusat dengan didukung oleh 376 satuan transmisi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Keduapuluhtujuh TVRI Stasiun Daerah tersebut adalah TVRI Stasiun DKI Jakarta,  TVRI Stasiun Nanggroe Aceh Darussalam , TVRI Stasiun Sumatera Utara, TVRI Stasiun Sumatera Selatan, TVRI Stasiun Jawa Barat dan Banten, TVRI Stasiun Jawa Tengah, TVRI Stasiun Jogyakarta, TVRI Stasiun Jawa Timur, TVRI Stasiun Bali, TVRI Stasiun Sulawesi Selatan, TVRI Stasiun Kalimantan Timur, TVRI Stasiun Sumatera Barat, TVRI Stasiun Jambi, TVRI Stasiun Riau, TVRI Stasiun Kalimantan Barat, TVRI Stasiun Kalimantan Selatan, TVRI Stasiun Kalimantan Tengah, TVRI Stasiun Papua, TVRI Stasiun Bengkulu, TVRI Stasiun Lampung, TVRI Stasiun Maluku dan Maluku Utara, TVRI Stasiun Nusa Tenggara Timur, TVRI Stasiun Nusa Tenggara Barat, TVRI Stasiun Gorontalo, TVRI Stasiun Sulawesi Utara, TVRI Stasiun Sulawesi Tengah, TVRI Stasiun Sulawesi Tenggara.
Karyawan TVRI pada Tahun Anggaran 2007 berjumlah 6.099, terdiri atas 5.085 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 1.014 orang Tenaga Honor/Kontrak yang tersebar di seluruh Indonesia dan sekitar 1.600 orang di antaranya adalah karyawan Kantor Pusat dan TVRI Stasiun Pusat Jakarta.
TVRI bersiaran dengan menggunakan dua sistem yaitu VHF dan UHF, setelah selesainya dibangun stasiun pemancar Gunung Tela Bogor pada 18 Mei 2002 dengan kekuatan 80 Kw. Kota-kota yang telah menggunakan UHF yaitu Jakarta, Bandung dan Medan, selain beberapa kota kecil seperti di Kalimantan dan Jawa Timur.
TVRI Pusat Jakarta setiap hari melakukan siaran selama 19 jam, mulai pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB dengan substansi acara bersifat informatif, edukatif dan entertaint.

TVRI dewasa ini
Dengan perubahan status TVRI dari Perusahaan Jawatan ke TV Publik sesuai dengan Undang Undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, maka TVRI diberi masa transisi selama 3 tahun dengan mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 2002 di mana disebutkan TVRI berbentuk Persero atau PT.
Melalui Persero ini Pemerintah mengharapkan Direksi TVRI dapat melakukan pembenahan-pembenahan baik di bidang Manajemen, Struktur Organisasi, SDM dan Keuangan. Sehubungan dengan itu Direksi TVRI tengah melakukan konsolidasi, melalui restrukturisasi, pembenahan di bidang Marketing dan Programing, mengingat sikap mental karyawan dan hampir semua acara TVRI masih mengacu pada status Perjan yang kurang memiliki nilai jual.
Khusus mengenai karyawan, Direksi TVRI melalui restrukturisasi akan diketahui jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan, berdasarkan kemampuan masing-masing individu karyawan untuk mengisi fungsi-fungsi yang ada dalam struktur organisasi sesuai dengan keahlian dan profesi masing-masing, dengan kualifikasi yang jelas.
Melalui restrukturisasi tersebut akan diketahui apakah untuk mengisi fungsi tersebut di atas dapat diketahui, dan apakah perlu dicari tenaga profesional dari luar atau dapat memanfaatkan sumberdaya TVRI yang tersedia.
Dalam bentuk PERSERO selama masa transisi ini, TVRI benar-benar diuji untuk belajar mandiri dengan menggali dana dari berbagai sumber antara lain dalam bentuk kerjasama dengan pihak luar baik swasta maupun sesama BUMN serta meningkatkan profesionalisme karyawan.
Dengan adanya masa transisi selama 3 tahun ini, diharapkan TVRI akan dapat memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh Undang Undang penyiaran yaitu sebagai TV publik dengan sasaran khalayak yang jelas.
Bertepatan dengan peringatan hari kebangkitan nasional tanggal 20 Mei 2003 yang lalu, TVRI mengoperasikan kembali seluruh pemancar stasiun relay TVRI sebanyak 376 buah, yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sebagai stasiun televisi pertama di negeri ini, TVRI telah melalui perjalanan panjang dan mempunyai peran strategis dalam perjuangan dan perjalanan kehidupan bangsa. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-44 (24 Agustus 2006), TVRI resmi menjadi Lembaga Penyiaran Publik.

Programa 2
TVRI juga memiliki Programa 2 Jakarta, pada saluran/channel 8 VHF. Programa 2 mulai mengudara pada 1 Januari 1983 dengan acara tunggal siaran berita bahasa Inggris dengan nama “Six Thirty Report” selama setengah jam pukul 18.30 WIB, di bawah tanggung jawab Bagian Pemberitaan.
Pada perkembangannya rubrik tersebut berubah nama menjadi “English News Service” (ENS). Programa 2 TVRI kini mengudara mulai pukul 17.30 - 21.00 WIB dengan berbagai jenis acara berita dan hiburan.
Sekarang ini tengah dilakukan negosiasi dengan pihak swasta untuk bekerjasama di bidang manajemen produksi dan siaran programa 2 TVRI Jakarta dan sekitarnya, dengan adanya rencana perubahan frekuensi dari VHF ke UHF. Di bidang isi siaran akan lebih ditekankan kepada paket-paket jadi (can product) dengan materi siaran untuk konsumsi masyarakat metropolitan Jakarta.
Stasiun
Stasiun Pusat TVRI berada di Jakarta, dan TVRI memiliki stasiun relay pada sejumlah kota di Indonesia. Selain TVRI Stasiun Pusat Jakarta, juga terdapat TVRI Stasiun Daerah pada beberapa ibukota provinsi di Indonesia. TVRI Stasiun Daerah selain me-relay TVRI Jakarta, juga memiliki acara yang bersifat lokal (termasuk Berita Daerah) pada jam-jam tertentu. TVRI Stasiun Daerah pada umumnya juga di-relay oleh stasiun relay di wilayah provinsi tersebut. Berikut adalah daftar TVRI Stasiun Daerah:

Sumatera:
o TVRI Aceh (Banda Aceh)
o TVRI Jambi (Jambi)
o TVRI Sumatera Barat (Padang)
o TVRI Sumatera Selatan (Palembang)
o TVRI Riau (Pekanbaru)
o TVRI Lampung (Bandar Lampung)
Jawa:
o TVRI Jawa Barat (Bandung)
o TVRI Jawa Tengah (Semarang)
o TVRI Jawa Timur (Surabaya)
o TVRI Yogyakarta (Yogyakarta)

Bali dan Nusatenggara:
o TVRI Bali (Denpasar)
o TVRI Nusa Tenggara Timur (Kupang)

Kalimantan:
o TVRI Kalimantan Timur (Balikpapan)
o TVRI Kalimantan Selatan (Banjarmasin)
o TVRI Kalimantan Barat (Pontianak)
Sulawesi:
o TVRI Sulawesi Utara (Manado)
o TVRI Sulawesi Selatan (Makassar)

Maluku dan Papua:
o TVRI Maluku (Ambon)
o TVRI Papua (Jayapura)
 
Moto TVRI pada awalnya adalah “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”, dan pada tahun 2000, motonya diubah menjadi “Makin Dekat di Hati”.(Tim EPI, Sumber: Wikipedia)

 

Televisi Republik Indonesia Jawa Timur - stasiun televisi, mulai mengudara pada 3 Maret 1978, tiga belas tahun setelah TVRI mengudara. Dan semenjak tahun 2007 TVRI Stasiun Surabaya berubah sebutan menjadi TVRI Jawa Timur.
TVRI Stasiun Surabaya berlokasi di Jalan Mayjen Sungkono 124, Surabaya, menempati areal seluas 30.156 meter persegi. Pada 2007, karyawan TVRI Stasiun Jawa Timur  berjumlah 413 orang. Jangkauan siaran TVRI Stasiun Jawa Timur mencapai 38.409 km persegi atau setara 80,15% luas provinsi tersebut, dengan kekuatan transmisi  antara 1 s.d. 10.000 watt. Dengan stasiun transmisi yang tersebar di berbagai lokasi, TVRI Stasiun Jawa Timur mampu menjangkau 29.461.159 jiwa penduduk Jawa Timur atau sama dengan 85,38 % dari total penduduk.(Tim EPI)