Rabu, 13 Desember 2017

V dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Venduniews - suratkabar mingguan, diterbitkan oleh Dominicus di Batavia pada tahun 1775, setelah mendapat lisensi dari Kumpeni. Sebagian besar isinya adalah iklan. Pada tahun 1809 percetakannya dibeli oleh pemerintah Indonesia. (Tim EPI/TS)


Visi Terowongan - Third New International Dictionary-nya Webster merumuskan visi terowongan (tunnel vision) sebagai “suatu bidang pandangan seluas tujuh puluh persen atau kurang dari posisi lurus ke depan, dengan akibat hilangnya bidang pinggiran”. Dalam hal reportase, visi terowongan meliputi kesalahan-kesalahan seperti memberikan bidang atau perpspektif yang kecil dan menyempitkan persepsi seseorang atas sesuatu yang bernilai berita kepada apa yang telah bernilai berita di masa lampau atau apa yang pertama-tama dicari seseorang.
Reporter yang hanya meliput isi peraturan dan bukan potensi dampaknya berarti menderita visi terowongan. Begitu pula halnya penulis olahraga yang hanya mengulas kekuatan tim tuan rumah, dan redaktur percaya bahwa sebuah pusat perbelanjaan yang baru akan menjadi hikmah bagi kota mereka.
Reporter mungkin mengembangkan visi terowongan selama beberapa tahun berhubungan dengan sumber-sumber berita yang sama. Jika begitu, reporter mungkin hanya melihat peristiwa yang bernilai berita semata-mata dari sudut pandang sumber berita, dengan kurang memberi perhatian terhadap pandangan orang-orang lain.
Tentu saja, visi terowongan juga berkaitan dengan prakiraan berita dan membuat berita yang rasional. Dalam puncak krisis pertanian di Iowa, misalnya, seorang petani yang bangkrut menembak dan membunuh bankirnya, dan kemudian bunuh diri -suatu peristiwa yang menandai penderitaan dan kesedihan para petani. Media berita nasional melaporkan gelombang bunuh diri yang meningkat di kalangan petani sebagai bukti dari krisis pertanian. Bukankah ini bermakna? Setelah beberapa bulan, sebuah kantor dinas pemerintahan mengeluarkan suatu laporan, umumnya tak dikenali oleh media berita, bahwa bunuh diri petani di Iowa tak lebih sering terjadi sewaktu periode sulit dibandingkan dengan sewaktu panen besar dan mereka makmur.
Memfokuskan pada penjelasan baru bagi fenomena yang berkelanjutan bukanlah hal yang tak biasa dalam reportase berita. Berbagai peristiwa yang tak berkaitan tetapi serupa tiba-tiba dikelompokkan bersama sebagai bukti dari kecenderungan masyarakat atau sebagai pengukuran bagi pentingnya suatu kisah berita. Ini seringkali terjadi dalam reportase kematian yang berkaitan dengan badai salju. Misalnya, badai salju dikabarkan menyebabkan kematian selusin orang atau lebih di seluruh negara bagian New England, tetapi daftar kematian tersebut seringkali termasuk korban-korban kecelakaan lalu lintas dan serangan jantung yang terjadi bersamaan dengan saat badai tersebut.
Satu kunci untuk memanipulasi media berita ialah sekadar mengetahui apa yang dicari reporter. Jika satu sumber berita memberikan hal ini kepada reporter tersebut, sumber itu mungkin bias membentuk peliputan yang dilakukan oleh sang reporter. Mantan Wakil Presiden Spiro T. Agnew tahu bahwa ia pasti memperoleh liputan yang luas setiap saat ia menggunakan ungkapan dengan bunyi huruf awal yang mirip-mirip untuk mencirikan media berita atau musuh-musuh pemerintahan Nixon pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Ketika Agnew atau para pembantunya merencanakan ungkapan seperti “nattering nabobs of negativism,” maka mereka tahu bahwa reporter akan menangkapnya dan mungkin kurang memperhatikan isu-isu yang mendasar. Penulis politik Jules Witcover mengutip seorang penulis pidato Agnew, “Ini semuanya cukup disadari. Adalah membingungkan, menggairahkan, menarik, memukau untuk memberikan warna kepada penulis dan ‘menggigit’ dalam isi pidato. Itulah caranya supaya Anda bisa memperoleh perhatian. …Kemiripan bunyi huruf pertama dan kata-kata besar menangkap persis apa yang kita kehendaki. Kemudian pers memuatnya. Setelah mereka melakukan hal itu, Anda tinggal membiarkan saja dan melakukan sesuatu yang lain.”
To natter berarti mengobrol atau mengomel. Nabob didefinisikan bermacam-macam seperti seorang yang amat berkuasa, seseorang yang sangat kaya, atau seorang Eropa yang menjadi kaya di India. Negativism ialah jenis sikap yang harus dimiliki oleh reporter, sumber berita, dan khalayak berita terhadap visi terowongan.
Penamaan, naluri kelompok, dan visi terowongan bukanlah bentuk-bentuk perilaku yang khas bagi reporter berita. Tetapi, perilaku seperti itu bersifat kontra-produktif kalau dilakukan oleh reporter, yang memiliki tanggung jawab untuk memberi tahu orang lain mengenai apa yang terjadi di masyarakat. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Reporter dan Sumber Berita, Persekongkolan dalam Mengemas dan Menyesatkan Berita, Herbert Strentz, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993).


Vista TV - majalah panduan televisi. Majalah yang terbit pertama kali tanggal 10 November 1969 dan diterbitkan oleh PT Vista Yama ini, pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1972. Waktu itu tirasnya mencapai 40 ribu eksemplar setiap minggu.
Majalah ini hadir sebagai pemandu sajian hiburan di televisi. Saat itu kebutuhan informasi dunia hiburan dengan segala lika-likunya, mulai dibutuhkan. Suburnya pertumbuhan televisi swasta di negeri ini menjadi peluang yang cukup bagus bagi pengelola Vista-TV.
Jadilah majalah ini khusus menyoroti acara hiburan televisi seperti sinetron, film lepas, musik dan acara televisi lainnya. “Kami sengaja hadir di tengah pemirsa televisi, dengan memberikan latar belakang acara agar mereka dapat memilih program yang mereka senangi. Mesti demikian aspek edukasi juga kami ikutkan. Artinya, pemirsa lebih berkesempatan mengatur jam tayang televisi yang baik.” jelas Achmad Taufik Pemimpin Umum Vista-TV. Pada masanya, Vista-TV adalah satu-satunya majalah hiburan selebritis televisi di Indonesia.
Kepedulian Vista-TV bukan hanya memanjakan pembaca, tapi juga terhadap orang-orang yang profesinya menopang isi majalah ini. Kepedulian itu antara lain diwujudkan dengan memberikan penghargaan pada pekerja seni, khususnya sinematografi dan musik. Majalah ini juga banyak menawarkan bintang-bintang sinetron baru melalui acara Cipta Bintang Sinetron setiap tahun bekerja sama dengan stasiun televisi swasta dan Pantap (panitia tetap) FSI (Festival Sinetron Indonesia).
Dalam pengelolaannya Vista TV dikendalikan oleh Achmad Taufik (Pemimpin Umum), Nadi Yusman, SE (Pemimpin Redaksi), Ir. Laode Budi Utama (Pemimpin Perusahaan), dan Sufriany Sunny (Redaktur Pelaksana). Mereka berkantor Kedoya Center Blok E 1 & 2 Jalan Raya Perjuangan No.1 Kebon Jeruk Jakarta - 11530 Telp. 5326138-39, 5327516-18 Fax: 5326115. (Tim EPI)


Vox-Pop - kependekan dari vox populi dalam istilah Indonesia sebagai “suara masyarakat”. Artinya, suatu program televisi (juga radio dan media cetak) yang mengetengahkan pendapat umum (media polling) tentang suatu masalah. Tujuan dari program ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu vox-pop sebagai program dan vox-pop dalam rangka penelitian.
Vox-pop sebagai program (televisi) mengetengahkan serangkaian pendapat umum mengenai suatu masalah yang sedang dibahas dalam program kepada penonton. Maksudnya agar penonton juga dapat mengetahui bermacam-macam pendapat dari berbagai orang atau grup sehingga dapat dikonfrontir dengan pendapatnya sendiri.
Dengan mengetahui berbagai pendapat itu, penonton diajak untuk berpikir dan mempertimbangkan, atau memilih pendapat mana yang sesuai dengan pendapatnya. Dari pendapat-pendapat itu produser dapat menarik kesimpulan mengenai tanggapan yang sebenarnya dari masyarakat terhadap problem yang dibahas.
Dari segi lain, vox-pop dapat pula dipakai untuk menunjukkan masalah itu sebagai masalah yang penuh dengan kontradiksi, apabila vox-pop tadi mengemukakan pandangan yang berlain-lainan sama sekali antara orang yang satu dan yang lain. Jadi, penonton dapat mendudukkan persoalan pada proporsi yang sebenarnya bahwa masalah yang dibahas itu masalah yang pelik.
Vox-pop dengan tujuan dalam rangka penelitian dapat merupakan umpan balik dalam proses komunikasi mengenai suatu persoalan. Dalam hal ini, “masalah” bukan saja dibahas sendirian oleh produser (broadcaster), melainkan produser juga memperhatikan pula pandangan-pandangan dari berbagai pihak. Dengan demikian, proses komunikasi berjalan secara wajar (dari dua arah).
Meskipun vox-pop dapat merupakan program yang berdiri sendiri, tetapi biasanya program ini menjadi bagian dari program lain, yaitu program feature atau majalah udara (magazine). Sebagai bagian dari program lain, tema dari vox-pop harus menyesuaikan dengan program utama. Apabila dibuat dengan baik, meskipun vox-pop hanya merupakan bagian dari program, tetapi isinya sangat menarik dan memberi aksentuasi yang kuat pada tema.
Penggarapan program vox-pop ini memerlukan perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan editing. Perencanaan antara lain menetapkan tema yang akan dipertanyakan; menetapkan pertanyaan dari tema yang akan ditanyakan kepada masyarakat; mencoba pertanyaan kepada beberapa teman terlebih dahulu dan tanyakan apakah mereka merasa mengerti dengan jelas maksud pertanyaan itu; memilih reporter yang cukup terlatih melaksanakan tugas ini (reporter ini akan membawa kameramen ke lapangan); check-list “pertanyaan” untuk vox-pop; menentukan siapa yang akan diberi pertanyaan; dan menentukan tempat di mana pertanyaan itu diajukan.
Tahap persiapan antara lain melatih dan menghafal pertanyaan yang ditetapkan; berlatih teknik menggunakan kamera perekam video (video recorder) dan mikrofon secara betul dan lancar; mempersiapkan dan meneliti sebaik-baiknya peralatan sebelum berangkat “berburu”.
Dalam editing program vox-pop, ada enam hal yang perlu diperhatikan untuk membuat program ini menjadi menarik:
1. Jangan sampai pendapat seseorang terlalu panjang lebar sehingga terasa mendominasi pendapat-pendapat yang lain. Pendapat yang panjang boleh dipotong asal intinya tidak hilang.
2. Keseimbangan, keserasian dan variasi para penjawab harus diperhatikan.
3. Boleh juga menyusun secara berturut-turut antara pendapat-pendapat yang pro dan kontra.
4. Dua buah pendapat yang isinya sama persis boleh dimasukkan dua-duanya justru untuk mengekspresikan kekuatan dari pendapat itu.
5. Jika terdapat jawaban yang lucu sebaiknya ditempatkan di bagian akhir untuk menetralisasi pendengar dari ketegangan pendapat-pendapat yang pro dan kontra.
6. Program ini jangan dibuat terlampau panjang meskipun diperoleh banyak pendapat. Oleh karena itu, sebaiknya sejak semula ditentukan batas waktu. Untuk program vox-pop durasi tiga menit adalah maksimal. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Teknik Produksi Program Televisi, Fred Wibowo, Penerbit Pinus, Yogyakarta, 2007).