Rabu, 13 Desember 2017

W dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Warmusi - singkatan dari Wartawan Muslim Indonesia adalah organisasi kewartawanan berasas Islam, yang berdiri pada tanggal 29 Januari 1938 dan berkedudukan di Medan. Menurut Anggaran Dasar Warmusi, perikatan ini bertujuan mempertinggi dan mempertahankan derajat persuratkabaran Islam di Indonesia, serta mempertahankan dan menyiarkan Islam. Untuk mencapai tujuan yang pertama, Warmusi berusaha:
1.  Mempertinggi posisi kaum wartawan   Islam dalam kewartawanannya dengan   jalan mengadakan kursus-kursus;    mengadakan taman pembacaan    (menyediakan buku-buku dan surat-surat   kabar); mengadakan konferensi pers; dan   lain-lain.
2.  Menganjurkan perhatian umum akan   sesuatu yang dapat dihayati oleh umat   Islam.
3.  Mengusahakan terbitnya brosur, buletin,   atau selebaran dan lain-lain yang    menyangkut masalah-masalah keislaman.
4.  Menghidupkan perasaan hormat kepada   Islam dari segenap golongan dan lapisan   masyarakat.
5. Mengusahakan kesempatan bagi    penerangan Islam supaya dapat    memasuki segala lapangan dan golongan.
6.  Mengikhtiarkan akan adanya penghargaan  yang sewajarnya dari pemerintah terhadap pers Islam dan wartawannya.

Dalam rapat pendirian Warmusi pada tanggal 29-30 Januari 1938, dibentuk susunan pengurus yang terdiri atas Zainal Abidin Ahmad dan Hamka masing-masing sebagai ketua dan ketua I, serta M. Yunan Nasution sebagai sekretaris dan didukung oleh yang lain hingga kepengurusan itu nampak kuat. Keanggotaannya pun meluas, tidak terbatas pada wartawan yang bekerja di lembaga pers Islam, tetapi juga yang bekerja di lembaga pers umum. Karena itu Parada Harahap dan Adinegoro pun ikut duduk di dalamnya.
Warmusi bukanlah serikat kerja. Akan tetapi organisasi ini semata-mata dilandasi semangat idealisme yang tinggi sehingga tujuannya pun semata-mata agar keluhan dan kehendak rakyat tersalurkan. Mereka harus sanggup menunjukkan kekurangan yang ada, membentangkan jalan yang mesti dilalui, mengemukakan hal-hal yang dirasa memberatkan, mempertahankan suatu tindakan yang mungkin merusak atau merugikan keadaan umum, mengkritisi sesuatu yang dipandang pincang, dan sebagainya. Pendeknya, mereka turut bertanggung jawab di dalam pembentukan suatu masyarakat baru pada masa itu. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalisme Universal, Menelusuri Prinsip-prinsip Da’wah Al-Qalam dalam Al-Quran, Suf Kasman, Penerbit Teraju, Jakarta, 2004).

    
Warta - majalah bulanan, terbit untuk pertama kali di Jakarta pada Maret 1958. Namanya merupakan kependekan dari “wanita dan rumah tangga”.
Warta hadir tatkala sebagian besar perempuan di ceruk-ceruk kawasan Indonesia masih berkutat pada persoalan rumah tangga dan cenderung hanya berperan sebagai konco wingking. Dengan menyajikan agenda yang variatif seperti kursus-kursus juga pameran, Warta ingin memotivasi para pembacanya terutama para ibu untuk mengambil peran lebih. Warta mengajak untuk berbuat dan berkarya guna terangkatnya derajat rumah tangga suatu keluarga dalam arti yang seluas-luasnya.
Pada edisi perdana Warta Maret 1958 bisa ditemui jadwal-jadwal kursus. Di sana, selama enam hari penuh, Senin hingga Sabtu, tertulis lengkap waktu dan siapa yang menjadi pengasuh. Kursus-kursus itu berturut-turut meliputi kursus macrame, memasak, gymnastiek, menggunting dan menjahit pakaian, merias kembang, dan bahasa Inggris. Kursus-kursus tersebut bertarif mulai dari Rp 30, hingga Rp 350 per kursus tiap spesifikasinya. Misalnya untuk biaya kursus memasak yang diasuh oleh Nj. Oei Kong Jang ditarif Rp 350,-. Di edisi no.4 Th. I Djuni 1958, kursus-kursus yang diselenggarakan Warta mengalami penambahan dengan dibukanya kursus bahasa Perancis. Kursus ini dilaksanakan tiap hari Rabu selama 1 jam dengan biaya Rp 50.
Tak ketinggalan juga Warta menyelenggarakan pameran-pameran. Pameran itu menampilkan pelbagai produk dari para anggotanya, selain juga memamerkan kreasi-kreasi hasil kursus yang dilakukan Warta. Pameran itu boleh juga dibilang sebagai ajang kreativitas para pembacanya.
Acara lain yang digelar Warta menyentuh pula dunia anak. Sebut saja dolanan anak, pemutaran film anak, dan kegiatan-kegiatan lain yang berpaut dengan parenting system, khususnya bagaimana menyangkut perlakuan orangtua terhadap anak.
Selain pelibatan langsung para ibu pembaca, Warta tak lupa memberi tips-tips gratis yang dicukil dari buku-buku luar negeri. Baca Warta edisi 11 Djanuari 1959 di halaman 10 yang menampilkan resep yang dikutip dari International Cookery Book, “Put the sugar, butter and fresh milk into a deep pan and heat until the sugar is melted. Add the condensed milk and stiring all the time, cook for at least 20 minutes, or until the mixture stars to fudge aroend the edge of the sail cepan. Add the vanill essence and the walnuts, mix well and pour into well greased shallow tins. When the fudge stars to hardens, mark out squares or diamonds.” 
Majalah ini berprinsip jika para ibu yang berdiam di jutaan rumah tangga Indonesia itu maju, maju pula bangsa ini. Karena di sanalah anak-anak Indonesia menghabiskan 2/3 usia pertamanya. Dan di usia itulah watak dan karakter dibangun. (Tim EPI/KG. Sumber: Sunarno/Indexpress/Jurnas)
    
    
Warta Bandung
- suratkabar harian. Pertama kali beredar pada tahun 1954, dan diterbitkan oleh N.V. Warta Bandung yang beralamat di Jalan Naripan 1 Kotak Pos 192, salah satu sayap Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK). Pada kurun 1950-1980, gedung itu menjadi pangkalan atau persinggahan para budayawan Bandung. Misalnya, seniman teater Jim Liem (Jim Adilimas), Suyatna Anirun dan orang-orang “Studiklub Teater Bandung” (STB), sastrawan Ajip Rosidi, Rustandi Kartakusumah, Rahmatullah Ading Affandi (RAF) dan lain-lain.
Dikelilingi banyak seniman, Sj. Sulaiman selaku Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Warta Bandung tertarik untuk menjadikan korannya sebagai saluran kebudayaan. Walhasil, edisi Sabtu koran itu pun menyiarkan rubrik “Kebudayaan”, tepatnya di halaman 3. Rubrik ini menampung karya-karya dalam bentuk prosa, cerita pendek, drama maupun perkabaran seputar seni dan budaya. Dengan mandor-mandor Dyantinah B, Supeno-Rijono, Pratiko Imam Sudjono, rubrik “Kebudayaan” menjadi jauh berbeda dari lembar kebudayaan yang diusung Harian Rakjat dan Bintang Timur. Rubrik ini dikelola sesuai dengan jargon suratkabar yang dipilih, yaitu Persatuan Nasional Demokrasi.
Ulasan-ulasan “Kebudayaan” tidak didominasi aliran seni tertentu. Meski demikian, di halaman 3 mudah dijumpai karya-karya para seniman Lekra yang kala itu tengah mewabah. Misalnya, puisi “Pradjurit Badja” karya Meliwis/Indriayani dalam konferda Lekra Djateng 3/5-1-58, yang bersanding dengan artikel bertajuk “Konferensi Lekra Djateng ditutup dengan Gemilang”. Ada juga ulasan menyambut konfenda kesetiakawanan rakyat, seni China dan pementasan rombongan Lekra, semisal, drama “Menuju Timur” turut memenuhi ruang “Kebudayaan”. Secara umum, isi rubrik ini tidak baku, tetapi redaksi acap kali memberitahukan isi “Kebudayaan” untuk satu pekan berikutnya. Selain menarik pembaca, pemberitahuan itu diniatkan untuk membantu pembaca masuk dalam konteks bahasan keseluruhan.
Warta Bandung menjalin kerja sama yang manis dengan Bintang Minggu. Berlangganan Warta Bandung bisa satu paket dengan Bintang Minggu, seperti yang diserukan bagian tata usaha: “ Kini dapat berlanggganan Mingguan Bintang Minggu terbitan Djakarta dengan Harga Langganan Rp 6 sebulan. Disatukan dengan Warta Bandung Rp 25 sebulan tambah materai Rp 0,50. Permintaan menjadi langganan dapat dilakukan melalui agen Warta Bandung setempat.” (Warta Bandung, 24 Januari 1958).
Bintang Minggu adalah suratkabar edisi Minggu Bintang Timur, yang berisi dua lembar dengan bacaan ringan seputar hiburan, film, sastra, dan isu-isu budaya. Bintang Minggu adalah cikal bakal “Lentera” yang dipegang Pramoedya Ananta Toer pada 1961 kelak.
Warta Bandung nampaknya memang sangat memerhatikan seni dan budaya. Di lembar lain, sejak 8 Maret 1956 saban Kamis terpacak rubrik “Gelanggang Harapan”. Di bawah asuhan Kak Embun, rubrik ini menjadi ruang anak-anak pecinta sastra. Puisi dan cerpen sesak memenuhi rubrik ini, yang juga menyediakan wadah apreasiasi kesenian anak dengan program “Malam Gembira”. Malam Gembira adalah pementasan seni dari hasil pengalanggan dana anggota “Gelanggang Harapan”. Dengan membidik pelanggan semua usia, maka tak heran Warta Bandung kala itu beroplah hingga 10.000 eksemplar.
Namun, pemberitaan Warta Bandung di bidang lain lebih mirip koran-koran kiri yang terbilang pedas. Misalnya, berita berjudul “Ketua Perang Djabar Kol. Kokasih, Prajurit Allah tidak Merampok, Membunuh, dan Membakar”, “Hatta Ditjela dan Ditolak Pemuda Demokrat; jang tak Sanggup Ikuti Perdjoangan Revolusioener supaja Minggir”, dan “Pertempuran Sengit Di Gunung Keling: 6 Bandit Darul Islam di Tembak Mati”. Ini bisa dimafhumi, karena koran ini acap mecukil berita dari Harian Rakjat, koran organ resmi PKI, yang kelak menyeretnya ke lubang kehancuran. Sejak edisi tanggal 14 Januari 1958, Warta Bandung memuat di halaman mukanya tulisan berjudul “Beberapa Pikiran Tentang Anti Komunisme (Diktatur Kanan atau Kiri) oleh Asmara Hadi, dalam tahun revolusi 1848 dan dalam tahun-tahun sesudahnya 1917, demikianlah pula sesudah perang dunia kedua oleh golongan-golongan juga tak setudju akan perubahan masjarakat jang mengandung makna perubahan pula dalam posisi ekonomi dan kekuasaan mereka, komunisme dikedjar dan diburu, dan kepada rakjat djelata jang belum sanggup memikir dengan kritis apa itu komunisme sesungguhnja dilukiskanlah dalam warna-warna jang djelek, bahwa komunisme itu adalah hantu atau iblis jang akan menjeret djiwa-djiwa jang baik ke dalam neraka djahanam. (...) Jang anehnya, golongan agama dan sebagian daripada golongan nasional itu hanja anti kepada PKI. Padahal, jg menghendaki masjarakat komunis... bukan hanja PKI sadja. Tanjakanlah itu pada anggota-anggota Partai Murba....” (Warta Bandung, 15 Djanuari 1958).
Kedekatannya dengan Bintang Timur dan Harian Rakjat akhirnya menahbiskan koran ini sebagai pengikut barisan “kiri”. Walhasil, ketika Tragedi Nasional 1965 meletus, Warta Bandung turut kolaps. Suparman Amirsyah, Pemimpin Umum Harian Warta Bandung menjelang peristiwa itu, turut runtuh bersama korannya. Warta Bandung, yang memang dinilai cukup dekat dengan kaum kiri, harus bungkam. (Tim EPI/KG. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indonesia Buku/Jurnas)
    

Warta Berita Antara - suratkabar harian berformat buletin. Diterbitkan perdana pada 1 Januari 1965, Warta Berita Antara adalah suratkabar berbentuk buletin, yang dicetakdalam dua edisi, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan nama Antara News Bulettin.
Media ini beredar dengan izin Keputusan Menteri Penerangan RI tertanggal 4 Juli 1963. Pada sampul depannya tertulis, “hanja boleh disiarkan dengan persetudjuan”. Suratkabar ini dicetak dan diterbitkan oleh LKBN Antara, terbit pagi dan sore.
Dewan Pimpinan Antara yang tercantum pada halaman sampulnya antara lain Pandu Kartawiguna (Ketua), Moh. Nahar (Wakil Ketua I dan Pemimpin Bagian Redaksi), Supeno (Wakil Ketua II/Pengusahaan), Subanto Taif (Sekretaris Umum), D. Adinegoro (Research dan Dokumentasi), Mashud Sosrojudho (Hubungan Luar Negeri), Suhandar (Telekomunikasi), Zein Effendi S.M. (Komersil), Suroto (Redaksi Dalam Negeri), Walujo (Pentjarian Berita), serta trio Subakir, R. Moeljono, dan H.I.M. Arifin (Organisasi dan Administrasi). Pada pertengahan 1965 posisi Zein Effendi SM (Komersil) dinyatakan non-aktif.
Sedangkan Presidium Dewan Redaksinya terdiri dari Suroto sebagai Ketua, Moh Nahar Mashud sebagai Wakil Ketua, serta anggota Mashud Sosrojudho dan Walujo. Alamat redaksi Warta Berita Antara Jalan Antara, No 53, 57, dan 159, Jakarta, Kotak Pos 2086.
Edisi-edisi awal buletin harian ini tampil sederhana, diketik manual dan sangat padat tulisan, tanpa ilustrasi gambar maupun foto.
Warta Berita Antara hadir diperuntukkan sebagai lumbung informasi sebagaimana fungsi Antara menjadi penyedia berita yang bisa diakses oleh media massa cetak lainnya. Bagi media cetak yang kekurangan sumber daya wartawan, kehadiran Warta Berita Antara sangat penting artinya. Karena dari sinilah informasi seluruh Indonesia dikelola.
Para wartawan Warta Berita Antara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia memang harus bekerja ekstra keras karena kala terbitnya yang padat dan selalu harus up to date. Apalagi buletin ini tampil dengan 52 halaman. Rubrik utama yang bertajuk “Dalam Negeri” berisi peristiwa-peristiwa aktual, dari politik, pemerintahan hingga sosial kemasyarakatan. Lalu ada ruang “Ekonomi dan Keuangan” yang memuat masalah-masalah ekonomi. Rubrik “Olah Raga dan Krida” menyajikan info-info olahraga di lingkup daerah, nasional, bahkan mancanegara. Sebagai penutup, terdapat rubrik “Luar Negeri”. Di edisi perdananya, Warta Berita Antara sudah menugaskan seorang wartawannya, Saleh B. Bawazyr, di Kairo, Mesir.
Ada kalanya Warta Berita Antara memuat rubrik “Kebudajaan”, yang berisikan segala hal tentang seni, sastra, dan budaya. Pada edisi 30 Juni 1965, misalnya, buletin ini memuat berita ditangkapnya dua pemimpin grup band Koes Bersaudara yang dipersalahkan lantaran menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Diberitakan, “Dirjen RRI, Sukirman, menjatakan betapa tepatnja diambil tindakan drastis dan kalau perlu didjatuhkan vonnis sebagai subsersif kepada mereka jang memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok!”
Seiring dengan waktu dan perubahan teknologi komunikasi, Kantor Berita Antara pun berbenah dengan membuat sistem pelayanan berita super cepat berbasis satelit, VSAT. Sistem ini sudah berdiri sejak 15 tahun silam.
Antara juga membangun web berita Antara News yang diluncurkan pertama kali pada 1996. Dengan sistem teknologi ini Antara mempermudah akses berita mereka secara cepat, kredibel, dan lengkap, baik dari dalam maupun luar negeri. Situs ini tampil dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Inggris. Namun tak semua berita ditampilkan di sini. Hanya 20 persen dari 800 berita setiap harinya yang bisa diakses bebas. Sementara sisanya harus berlangganan.
Walau demikian Warta Berita Antara tetap saja terbit, khusus melayani institusi pers di daerah-daerah terpencil yang kesulitan akses internet dan satelit.  (Tim EPI/KG. Sumber: Iswara N Raditya/Indonesia Buku/Jurnas)


Warta Indonesia - suratkabar harian. Pertama kali beredar di Jakarta pada September 1948. Pada awal kemunculannya Warta Indonesia banyak diduga sebagai kelanjutan dari Harian Fadjar, sebuah harian milik R.V.D. atau Djawatan Penerangan Pemerintah kala itu. Dugaan itu muncul karena beberapa saat sebelum Warta Indonesia terbit perdana, Harian Fadjar dihentikan penerbitannya. Dugaan itu makin nyata ketika R.V.D. juga menjadi penyokong lahirnya Warta Indonesia.
Kelahiran Warta Indonesia dibidani oleh Party Rakjat Indonesia Serikat dan Party Demokrasi Associatif Federal Indonesia setelah keduanya bersepakat menerbitkan sebuah harian dengan R.V.D. sebagai sponsornya. Harian Fadjar yang belum lama dihentikan penerbitannya, oleh R.V.D. hak-hak penerbitannya diserahkan kepada kedua partai itu. Dengan demikian, harian Warta Indonesia merupakan suatu badan partikelir yang mendapat subsidi dari R.V.D.
Setahun Warta Indonesia berjalan dalam rangka memenuhi tugasnya membawa suara rakyat federal-tak dapat menghindari terpaan gelombang perubahan. Pada masa-masa itu dalam dunia perpolitikan Indonesia mencuat kesepahaman antara kaum federal dan kaum republik, membuka tabir kegelapan hubungannya. Fenomena ini berawal setelah sebelumnya terwujud dasar-dasar kesepakatan dalam Konferensi Inter Indonesia di Yogyakarta dan Jakarta.
Pasca kesepakatan itu suasana hubungan kaum republik dan kaum federal menjadi baik. Jurang yang memisahkan antara kedua penganut paham itu hampir-hampir lenyap. Perjuangan kemerdekaan bukan lagi hanya dipunyai oleh pihak republik tetapi juga dipunyai oleh kaum federal. Bersatulah kedua penganut paham itu dalam menghadapi segala permasalahan kenegaraan yang muncul. Terutama dalam menghadapi perundingan antara Indonesia dan Belanda.
Seiring perubahan iklim politik itu, Warta Indonesia merasa perlu untuk turut mengubah dasar, tujuan, dan corak pendiriannya. Tanggal 1 September 1949 menjadi lembaran baru bagi Warta Indonesia. Di edisi ini Warta Indonesia melakukan banyak perubahan. Warta Indonesia tampil menjadi harian pagi yang diharapkan mampu menjangkau lebih dini para pembacanya, terutama pembaca luar kota. Perubahan yang mencolok adalah perombakan pengasuh Warta Indonesia. Dalam kolom “Kata Pengantar” edisi 1 September 1949, Warta Indonesia menulis, “Maka diserahkannjalah seluruh pimpinan dan seluruh redaksi kepada pengasuh dan orang-orang baru jang dipandangnja tjakap untuk melandjutkan perdjuangannja.”
Sejumlah penjelasan dan harapan pun disampaikan pengasuh baru Warta Indonesia di “Kata Pengantar” pada edisi pertama pengasuh baru. Pada saat muncul kesepahaman-fenomena yang terjadi antara kaum federal dan kaum republik-menuju pembentukan Republik Indonesia Serikat, maka “dapatlah kiranja nanti harian Warta Indonesia mendjadi gelanggang jang luas, mendjadi arena jang luas bagi seluruh bangsa Indonesia dengan tanpa mengenal perbedaan aliran, golongan, agama, dan lainnja.”
Fenomena dalam perjalanan Warta Indonesia tak berhenti di situ. Baru genap dua bulan perubahan itu berjalan, Warta Indonesia harus berhenti terbit. Warta Indonesia edisi 30 Oktober 1949 menjadi penutup dari sejumlah perubahan yang barangkali belum bisa dirasakan. Dalam kolom “Berpisah” di edisi 30 Oktober Warta Indonesia menulis, “Kini dengan sekonjong-konjong harian pagi “Warta Indonesia” dihentikan, terpaksa pula menghentikan kundjungannja dihadapan para pembatja.”
Tak disebutkan dengan jelas kenapa Warta Indonesia mesti berhenti terbit setelah baru dua bulan melakukan perubahan yang signifikan. Kolom “Berpisah” dalam Warta Indonesia edisi 31 Oktober 1949 menyiratkan sejumlah pertanyaan saat mengulas hal keberhentiannya, “Sekalipun berita pengumuman dan berita-berita jang disiarkan oleh surat-suratkabar dan kantor-kantor Berita, agak terlalu mendadak dan tidak diduga-duga, tetapi kita pertjaja, bahwa para pembatja, para pemasang adpertensi, dan para peminat harian kita, dapat menerimanja dengan kesabaran dan ketenangan hati, sekalipun banjak sekali berita-berita jang dibuat-buat dan banjak pula jang bertentangan dengan kebenarannja.”
Berita-berita tentang apa yang dikatakan “banjak pula jang bertentangan dengan kebenarannja?” bisa jadi hal ini terkait kerjasamanya dengan R.V.D. yang di awal terbitnya sempat membentuk citra sebagai penerus Harian Fadjar yang merupakan suratkabar milik Djawatan Penerangan Pemerintah kala itu. Karena, di lembar perpisahan itu juga tertulis penjelasan bahwa Warta Indonesia bukan kelanjutan dari Harian Fadjar, bukan milik Djawatan Penerangan Pemerintah. Warta Indonesia adalah suratkabar partikelir yang mendapat subsidi dari R.V.D.
Diberhentikannya Warta Indonesia kala itu pun ditanggapi tenang oleh pengasuhnya. Terkait pemberhentian terbit tersebut Warta Indonesia menulis, “... oleh pengasuh beserta seluruh warganja diterimanja dengan seluruh keichlasan dan ketulusan dengan kejakinan, bahwa tidak ada sesuatu jang kekal dan dapat dipertahankan untuk selama-lamanja.”
Ungkapan dalam tulisan di atas menyiratkan keikhlasan para pengasuh menerima perihal pemberhentian itu. Mereka sadar, pergolakan politik yang belum stabil kala itu akan mampu mengubah apa pun dalam sekejap. Keyakinan itu terbukti, seminggu setelah diberhentikan, pada tanggal 7 November 1949 Warta Indonesia kembali terbit dengan wajah baru dan punggawa baru. Meski demikian, tersirat dari jargon yang juga baru, Pembawa Suara Rakyat Indonesia Merdeka, pendirian Warta Indonesia tetap teguh terjaga. (Tim EPI. Sumber: Sunarno/Indexpress/Jurnas/Tim EPI)
    

Warta Kota - suratkabar harian. Beredar 7 hari seminggu setebal 20 hingga 28 halaman, termsasuk 4 halaman di antaranya dicetak dengan teknik full color. Koran yang diterbitkan oleh P.T. Metrogema Media Nusantara ini mengklaim tiras sebanyak 212.886 (per Februari 2008) yang diaudit oleh Audit Bureau of Circulation (Australia). Untuk melayani pembacanya koran yang mematok harga eceran Rp 1.000,-/eksemplar, dan berlangganan Rp 28.000,-/bulan.
Dalam pengelolaannya Warta Kota dikendalikan oleh H. Dedy Pristiwanto (PU/Pemred/PP), Hendry Ch. Bangun (Wakil Pemred), Sigit Setiono (Redpel), Tatang Suherman (Waredpel), Sugeng Hari Santoso (Manajer Sirkulasi), Christina M.S. Indiarti (Manajer Iklan), dan Johnson Hutabarat (Manajer Promosi). Mereka berkantor di Jalan Hayam Wuruk 122 Jakarta 11180,  Telp. (021) 2600-818, 624-4285, Fax: 21-626-6025, Email: Alamat surel ini dilindungi dari spambots. Anda harus mangaktifkan JavaScript untuk melihatnya.
Pada dalam usianya yang kesembilan Warta Kota telah menempati posisi yang signifikan sebagai koran terbesar di Jabotabek. Dari sisi banyaknya koran yang terjual di pasar Warta Kota termasuk suratkabar terbesar kedua di Jakarta dan Jabotabek, setelah Kompas. Rata-rata cetak bulan Februari 2008 adalah 212.886, naik dari 209.316 di bulan Januari 2008, dan 203.135 di bulan Desember 2007. Dalam data terakhir, koran laku terjual 193.871. Angka-angka di atas merupakan hasil audit yang dilakukan Audit Bureau of Circulation (Australia), sehingga dapat dipercaya. Di Indonesia saat ini hanya tiga suratkabar yang diaudit dan menjadi anggota ABC, dua lainnya adalah Kompas dan The Jakarta Post.
Dari peredarannya, terbesar di wilayah Jakarta (123.163), diikuti dengan Jawa Barat (59.557)  yang membentang dari Cirebon, Bandung, Sukabumi, sampai Bogor, kemudian Banten (28.449) dan Lampung (876). Di Jabar, Bekasi menjadi ajang distribusi terbesar (29.153), diikuti Bogor (11.795), dan Depok (10.541).
Keberadaan Warta Kota di Jakarta dan sekitarnya dapat dilihat di setiap perempatan jalan, lapak-lapak, kios, maupun tempat berjualan media lainnya. Di stasiun kereta api Bekasi, Bogor, Depok, Serpong, yang membawa komuter bekerja ke Jakarta setiap pagi, Warta Kota merupakan raja dan sudah menjadi semacam bacaan wajib.
Setiap hari halaman depan Warta Kota hadir dengan menu berita yang menjangkau beragam segmen, yakni tontonan sepakbola, selebritis, humor, dan peristiwa paling panas hari itu. Hot news itu digarap dengan judul dan bahasa yang mudah dimengerti, disertai foto atau garapan grafis yang apik. Selain itu ditampilkan berita utama yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak, seperti masalah rasa aman, tren harga, kecenderungan bisnis, kerisauan kesehatan, topik pendidikan, problema transportasi, yang sedang ramai dibicarakan.
Tampilan yang bersih, disain yang menarik, paduan warna yang cerah, grafis kronologis yang jelas, menambah daya tarik. Tim disain artistik Warta Kota merupakan salah satu terbaik di Tanah Air saat ini. Khususnya untuk halaman berwarna, dalam hal pemilihan warna dan tata letak, mereka berupaya membuat tampilan dapat senyaman mungkin di mata pembaca. Berita bergrafis di halaman satu Warta Kota sudah mendapatkan pujian bahkan dari luar negeri sehingga pakar dari Amerika Serikat dan Skotlandia menyempatkan diri untuk membuat semacam studi dan menuliskannya di jurnal internasional.
Pencapaian yang diperoleh ini tidaklah didapat dalam sekejap mata.  Hampir lima tahun Warta Kota berjuang untuk mencari identitas, bersaing dengan demikian banyak media yang terbit di Jakarta dengan masing-masing memiliki ciri khas. Ada yang cenderung menjadi koran politik, ada yang berwajah kriminal, ada yang campuran koran lokal-nasional. Warta Kota sendiri pada awalnya ingin murni menjadi koran lokal, koran Jakarta tentang Jakarta. Namun ternyata pilihan itu kurang menarik minat pembaca, pertumbuhan amat lamban. Oleh karena itu di dalam perkembangannya sedikit bergeser ke wilayah Jabotabek, terutama untuk menambah basis pasar pengembangan. Itu sebabnya dalam suatu massa Warta Kota pernah dianggap sebagai Koran Depok, karena besarnya perhatian yang diberikan pada topik-topik wilayah.
Saat ini Warta Kota dapat disebutkan dengan koran umum, dengan tema bebas meskipun basisnya tetap pada berita perkotaan, dengan bahasan pada segala masalah yang terjadi ataupun berkaitan dengan persoalan perkotaan dan segala tingkah polah manusianya. Pilihan menu antara olahraga, selebritas, dan hot topics ini ternyata mendapat sambutan hangat dari pembaca, sehingga Warta Kota bisa tumbuh pesat.
Tahun 1998 terjadi pergeseran kepemimpinan di Indonesia, Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden sehingga jabatan itu jatuh ke tangan BJ Habibie. Dalam kabinet Habibie yang mulai bertugas bulan Mei itu juga, jabatan Menteri Penerangan dipegang oleh Letjen. Yunus Yosfiah, seorang tentara yang berpikiran moderat dan maju. Bagi dunia pers Yunus membawa angin segar karena Departemen Penerangan yang selama ini menjadi momok dengan aksi bredel media massa, memudahkan pembuatan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Tidak perlu lagi ada rekomendasi lembaga tertentu dan screening dari berbagai lembaga terhadap mereka yang akan mengelola pers.
Kelompok Kompas Gramedia (KKG) memanfaatkan kesempatan yang tersedia ini dengan keinginan untuk membentuk sebuah suratkabar yang berorientasi pada pemberitaan di Jakarta dan sekitarnya. Selama ini Kompas yang juga milik KKG hanya memiliki dua halaman—itupun masih diisi iklan—untuk berita-berita di Ibu Kota dan sekitarnya walaupun terbit di Jakarta. Alasannya karena merupakan koran nasional Kompas harus proporsional dalam pemberitaan yang bersifat kedaerahan. Padahal disadari atau tidak, sebagian besar (65 persen) pembaca Kompas adalah warga Jakarta dan sekitarnya.
Secara administratif dibentuklah P.T. Metrogema Media Nusantara (MMN) untuk mengajukan SIUPP dan Departemen Penerangan memberikan SIUPP No. 726/SK/MENPEN/SIUPP/1998 tertanggal 19 November tahun 1998. Setelah itu pimpinan KKG mengkaryakan sejumlah orang untuk membidani kelahiran Warta Kota sekaligus membuat visi, misi, dan jabaran pemberitaannya.
Mereka antara Agung Adiprasetyo (Presiden Direktur Kompas Gramedia) di bidang usaha serta Banu Astono, Trias Kuncahyono (kini Wakil Pemred Harian Kompas), Eko Warjono,  Mohamad Subhan SD, Hendry Ch. Bangun dari redaksi Harian Kompas. Di samping itu sejumlah unsur redaksi dari Kelompok Kompas Gramedia yakni Paulus Sulasdi, Bambang Putranto, Sigit Setiono, Tatang Suherman. Dalam tahap persiapan ini diadakan rekrutmen wartawan baru.
Setelah berbagai kesiapan hal-hal fisik, seperti kantor serta perangkat-perangkatnya dan penyiapan personil, Warta Kota terbit pertama kali pada tanggal 3 Mei 1999, bertepatan dengan saat-saat kampanye Pemilihan Umum 1999.
Sesuai dengan visi dan misinya, Warta Kota dimaksudkan untuk menjadi media khas bagi warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya yang diharapkan dapat menjadi panduan warga dalam melihat dan menjalani hak-hak dan kewajibannya. Dengan demikian Warta Kota sekaligus menjadi jembatan sesama masyarakat, antara masyarakat dengan pemerintah (daerah dan wilayah) serta semua aparat yang memberikan pelayanan. Juga menjadi medium yang mempertemukan masyarakat sebagai konsumen dengan berbagai penyedia jasa pelayanan, perdagangan, industri, hiburan, dan semua kebutuhan mereka.
Untuk mudah disantap pembacanya, berita-berita di Warta Kota dioleh dengan singkat, dalam bahasa yang mudah dimengerti, dan diserta ilustrasi grafis, tabel, dan gambar yang proporsional. Kemudian untuk membedakan dengan koran kota pada umumnya yang mengumbar berita kriminal dan seks secara vulgar,  Harian Warta Kota memakai pendekatan yang santun,  menjunjung etika, dan tidak bombastis, dengan maksud juga agar dapat dinikmati seluruh anggota keluarga. Khusus mengenai berita kriminal yang merupakan ciri khas koran kota, diupayakan terdapat tips, saran, agar masyarakat dapat menghindar dari tindak kejahatan.
Semua persoalan yang menyangkut kehidupan di Jakarta dan sekitarnya mendapat porsi di Warta Kota, meski demikian fokus diberikan pada masalah keamanan (rasa aman), kesehatan, pendidikan,  transportasi, lingkungan, olahraga, hiburan di televisi, ekonomi lokal serta perpolitikan di tingkat wilayah khususnya yang berkaitan langsung dengan kebijakan atau pelayanan publik. Pilihan atas topik-topik berita ini memang membuat Warta Kota tampil beda dengan kebanyakan suratkabar yang terbit di Jakarta, yang umumnya berorientasi pada politik atau kriminalitas.
Lalu siapakah pembaca Warta Kota?
Untuk mendapatkan pemahaman tentang pasar Warta Kota telah bekerjasama dengan lembaga riset yang ada seperti RPC, Mars dan lembaga lainnya. Di samping itu Warta Kota juga rutin setiap tahun membuat kuesioner dan polling bagi pembaca setianya. Dalam survei terakhir   yang diadakan oleh Nielsen di kuartal keempat tahun 2007, pembaca Warta Kota adalah sebagai berikut:
Pembaca wanita 29%, pria 71%. Usia pembaca terbesar adalah 25-35 tahun (36,5%), diikuti 36-45 tahun (23,4%), dan 19-24 tahun (21,9%) serta > 46 tahun (18,1%).
Tingkat pendidikan, terbesar adalah lulusan SLTA (42,2%), diikuti tamatan S-1 (18,0%), tamatan SLTP (14,5%),  tamatan SD (10,1%), dan S-2 (7,1%).
Pengeluaran bulanan, terbesar adalah pembaca kategori B (Rp 2.250.000 s/d Rp 3.000.000) sebesar 36,9%,  kemudian kategori C1 (Rp 1.500.000 s/d Rp 2.250.000) sebesar 28,5%. diikuti kategori A (di atas Rp 3.000.000) sebesar 22,2%, sisanya kategori D (> Rp 1.000.000) sebesar 7,3% dan kategori C (Rp 1.000.000 s/d Rp 1.500.000) sebesar 5,1%. (Tim EPI. Sumber: Hendry Ch. Bangun)


Wartawan (journalist) - istilah ini mungkin saja mengundang pro-kontra. Akan tetapi sebagai sebuah konsep pemikiran, hal itu telah tercantum dalam Buku Panduan Buat Pers Indonesia karangan Drs. Ana Nadhya Abrar, MA (Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995). Ana mengatakan bahwa disadari atau tidak, berita yang ditulis seorang wartawan bisa dianggap sebagai ekspresi dirinya sebagai individu dan sebagai wartawan. Karena itu wartawan yang baik adalah juga individu yang baik. Untuk mencapai tataran individu yang baik, seorang wartawan perlu melaksanakan segala kewajibannya terhadap masyarakat tempat ia berinteraksi sosial. Sedangkan untuk mencapai tingkat wartawan yang baik, seorang wartawan harus mematuhi prinsip umum etika jurnalistik atau Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Kesadaran ini menimbulkan pendapat bahwa wartawan teladan adalah wartawan yang mematuhi kewajibannya terhadap masyarakat dan melaksanakan prinsip umum etika jurnalstik/KEJ secara penuh. Kewajiban terhadap masyarakat tidak ditentukan oleh wartawan, tetapi oleh masyarakat itu sendiri. Kalau dalam sebuah masyarakat berlaku peraturan bahwa wartawan adalah kepercayaan masyarakat di bidang informasi, para wartawan yang hidup di lingkungan masyarakat tersebut perlu mentaati peraturan itu dan memberikan informasi yang sebenarnya kepada mereka. Kalau sebuah masyarakat menggariskan bahwa wartawan adalah salah satu pemimpin mereka, para wartawan yang hidup dalam lingkungan masyarakat tersebut harus menerimanya dan tidak mengkhianati masyarakat. Kendati pelaksanaan peraturan-peraturan yang berlaku dalam sebuah masyarakat merupakan persoalan pribadi wartawan, yang menilai perbuatan tersebut adalah masyarakat.
Hal ini sejalan dengan pelaksanaan prinsip umum etika jurnalistik/KEJ. Meskipun para wartawan sendiri yang memutuskan bahwa perilaku A adalah baik, perilaku B adalah yang jelek, yang menilai perbuatan itu kelak adalah khalayak dan pelaku profesi wartawan lainnya. Dari penilaian ini ditambah dengan penilaian masyarakat tempat para wartawan berinteraksi sosial inilah bisa ditentukan wartawan teladan. Itulah sebabnya tidak mudah mencapai predikat wartawan teladan.
Dalam era globalisasi ini pemberian predikat wartawan teladan tetap relevan. Sebab, predikat itu bisa membuat wartawan waspada terhadap peraturan yang berasal dari masyarakat dan etika jurnalistik. Semakin banyak wartawan yang waspada terhadap peraturan dan etika jurnalistik, semakin terhormat dan berharga profesi wartawan itu di mata masyarakat. Tanpa penghormatan dan penghargaan ini, bukan mustahil para wartawan enggan melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati.
Wartawan  adalah orang-orang yang terlibat dalam pencarian, pengolahan, dan penulisan berita atau opini yang dimuat atau disiarkan di media massa, mulai dari pemimpin redaksi hingga reporter atau koresponden yang terhimpun dalam Bagian Redaksi. UU No. 40/1999 tentang Pers (Pasal 1 poin 4) menyebutkan bahwa wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Dengan demikian tidak semua orang yang bekerja di sebuah perusahaan pers (media massa) adalah wartawan. Manajer pemasaran, iklan, sirkulasi, dan para stafnya bukanlah wartawan. Demikian pula yang bekerja di bagian akuntansi, staf sekretariat, perpustakaan dan dokumentasi, bagian personalia, dan setter (pengetik) naskah, bukanlah wartawan.
Pada umumnya wartawan adalah orang baik yang mencintai pekerjaan atau profesinya. Namun, kadang-kadang wartawan juga melakukan kesalahan, tidak dapat dipercaya, dan tidak dapat menulis dengan baik.
Jam kerja wartawan 24 jam sehari. Ia bekerja sepanjang waktu dan kadang-kadang bekerja di tempat bahaya atau terancam bahaya. Merekalah yang memburu berita (fakta atau kejadian), meliput berbagai peristiwa, dan menuliskannya untuk dikonsumsi orang banyak. Kata M.L. Stein (1993), “Di mana terjadi suatu peristiwa, wartawan akan berada di sana, seperti mata dan telinga para pembaca suatu harian.”
Wartawan adalah suatu profesi yang penuh tanggung jawab dan risiko. Karena itu ia harus memiliki idealisme dan ketangguhan. Wartawan bukanlah dunia bagi orang yang ingin bekerja dari jam sembilan pagi hingga lima sore setiap hari dan libur pada hari Minggu. Tidak ada seorang pun tahu kapan kebakaran atau bencana lain akan terjadi.
Untuk menjadi wartawan, seseorang harus siap mental dan fisik. Coleman Hartwell dalam bukunya, Do You Belong In Journalisme? menulis, “Seseorang yang tidak mengetahui cara untuk mengatasi masalah dan tidak mempunyai keinginan untuk bekerja dengan orang lain, tidak sepantasnya menjadi wartawan. Hanya mereka yang merasa bahwa hidup ini menarik dan mereka yang ingin membantu memajukan kota dan dunia yang patut terjun di bidang jurnalistik.”
Wartawan adalah seorang profesional, seperti halnya dokter atau pengacara. Ia memiliki keahlian tersendiri yang tidak dimiliki profesi lain (memburu, mengolah, dan menulis berita). Ia juga punya tanggung jawab dan kode etik tertentu. Seorang sarjana India, Dr. Lakshamana Rao, menyebutkan empat kriteria untuk menyebutkan mutu pekerjaan sebagai profesi sebagaimana dikutip Dja’far Assegaf (1985):
1. Harus terdapat kebebasan dalam   pekerjaan tadi.
2.  Harus ada panggilan dan keterikatan   dengan pekerjaan itu.
3. Harus ada keahlian (expertise).
4. Harus ada tanggung jawab yang   terikat pada kode etik pekerjaan.

Dalam mengumpulkan bahan berita, wartawan umumnya membawa tape recorder dan/atau buku catatan. Di buku catatan (notes book) mereka kadang-kadang hanya didapati beberapa potong kalimat saja yang memungkinkan mereka mengingat fakta dan data peristiwa yang diliputnya.
Menjadi wartawan berarti memiliki peluang besar untuk berbuat baik:
1. Meningkatkan pengetahuan    masyarakat atas dinamika peradaban  manusia dengan menginformasikan   apa yang terjadi (to inform) secara   aktual, faktual, berimbang, dan   cermat.
2. Mencerdaskan kehidupan bangsa,   meningkatkan wawasan dan    integritas moral masyarakat, dengan   melakukan pendidikan (to educate)   melalui pemberitaan atau opini yang   ditulisnya di media massa.
3.  Membuat masyarakat senang dan   terhindar dari stres dengan menghibur  (to entertaint) lewat medianya.
4.  Melakukan pengawasan sosial (social   control), meluruskan perilaku    masyarakat yang menyimpang dan   mengkritisi kebijakan pemerintah   yang tidak populer. Wartawan dapat   membentuk opini publik ke arah yang  maslahat.

Dalam melaksanakan tugasnya, wartawan memiliki rambu-rambu yang tidak boleh dilanggarnya. Sebagai seorang profesional, ia harus menaati Kode Etik Jurnalistik. Pasal 7 ayat (2) UU No. 40/1999 tentang Pers menyebutkan, wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik.
Manajemen perusahaan penerbitan pers atau perusahaan penyiaran hendaknya menentukan kualifikasi wartawan agar memenuhi standar profesi. Hal ini penting bagi kemajuan perusahaan pers itu karena wartawan merupakan ujung tombak media massa.
Setidaknya ada enam standar profesi wartawan sejati (real journalist):
1. Well selected, maksudnya wartawan   harus terseleksi dengan baik. Menjadi  wartawan semestinya tidak mudah   karena harus memenuhi kriteria profe- sionalisme antara lain keahlian (exper- tise) atau  keterampilan jurnalistik   serta menaati Kode Etik Jurnalistik.
2.  Well educated, artinya terdidik    dengan baik. Wartawan seyogianya   melalui tahap pendidikan kewarta-  wanan, setidaknya melalui pelatihan   jurnalistik yang terpola dan terarah se- cara baik.
3.  Well trained, artinya terlatih dengan   baik. Akibat kurang terlatihnya   wartawan kita, banyak berita muncul   di media yang bukan kurang cermat,   tidak enak dibaca, dan bahkan    menyesatkan.
4.  Well equipped, maksudnya dilengkapi   dengan peralatan memadai. Pekerjaan  wartawan butuh fasilitas sepeprti alat  tulis, alat rekam, kamera, alat    komunikasi, alat transportasi, dan   sebagainya.
5.  Well paid, yakni digaji secara layak.   Jika tidak, jangan harap “budaya   amplop” bisa diberantas. Kasus   pemerasan dan penyalahgunaan   profesi wartawan akan terus muncul   akibat “tuntutan perut”.
6.  Well motivated, artinya memiliki   motivasi yang baik ketika menerjuni   dunia kewartawanan. Motivasi di   sini lebih pada idealisme, bukan ma  teri. Jika motivasinya berlatar uang,   maka tidak bisa diharapkan menjadi   wartawan profesional atau wartawan  sejati.
(Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Jurnalistik Terapan, Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan, Asep Syamsul M. Romli, Penerbit Batic Press, Bandung, 2005). 


Wartawan Amplop - adalah julukan yang diberikan kepada para wartawan yang suka menerima uang dari sumber berita. Biasanya terjadi dalam suatu konferensi pers atau temu-pers yang diselenggarakan oleh suatu instansi. Di antara wartawan yang hadir ada yang mengutamakan uang yang diberikan oleh sumber berita, bukan nilai berita yang muncul dari temu-pers.
Meskipun nilai beritanya tinggi tetapi uang yang diberikan sangat sedikit, berita itu tidak akan ditulis. Sebaliknya, walau tidak ada nilai beritanya namun amplopnya tebal berisi uang yang banyak, pernyataan sumber berita akan ditulis. Di kalangan mereka sudah ada semacam daftar instansi atau perorangan yang memang biasa memberikan amplop (sekarang disebut angpao) kepada para wartawan yang dibungkus dengan istilah “uang transport”.
Untuk menghindari perbuatan negatif itu ada beberapa media massa yang melarang keras wartawannya menerima uang, bahkan ada yang mencantumkan larangan tersebut di medianya.
Jika instansi atau perorangan yang “dermawan” kepada para dermawan itu mengadakan temu-pers, maka yang datang bukan hanya yang diundang melainkan yang tidak diundang pun berduyun-duyun menghadiri temu-pers tersebut, tentunya untuk memperoleh “berkah angpao” itu. Karena berduyun-duyun itu sehingga disebut “wartawan bodrex” –meminjam istilah dari iklan obat sakit kepala (bodrex) di televisi yang menggambarkan berduyun-duyunnya penyakit yang menyerang manusia. Para penyelenggara temu-pers selalu kewalahan mendapatkan serangan wartawan bodrex yang kadang-kadang sampai berjumlah puluhan orang itu, sebab mereka tidak akan beranjak pergi sebelum mendapatkan angpao.
Anggapan negatif kepada wartawan juga memunculkan julukan “wartawan pemeras” atau “wartawan kriminal”. Julukan “pemeras” diberikan kepada wartawan yang suka “menukar” berita penyelewengan yang dilakukan seseorang, misalnya korupsi atau skandal seks dengan uang. Biasanya wartawan menelepon atau mendatangi langsung pelaku korupsi atau skandal seks, kemudian mengancam apabila tidak diberi uang akan menulis berita penyelewengan tersebut. Tindakan negatif ini melahirkan sindiran bahwa wartawan bukan bagian dari “pers” melainkan “peras”.
Julukan “kriminal” sama dengan “pemeras”, namun lebih luas. Kriminalitas yang dilakukan wartawan adalah mereka yang hanya menggunakan kewartawanan sebagai kedok menutup-nutupi kejahatan yang sesungguhnya merupakan pekerjaan utama mereka mulai dari bisnis legal (misalnya: kontraktor) sampai dengan bisnis ilegal (misalnya: bisnis narkoba). Profesi kewartawanan dinodai oleh pelaku kriminalitas.
Anggapan positif-negatif tersebut menjadi “pekerjaan rumah” bagi kalangan wartawan terutama perusahaan media massa dan organisasi-organisasi kewartawanan yang pada era reformasi ini tumbuh bagai cendawan di musim penghujan. Celakanya, ada organisasi kewartawanan yang justru mengorganisasi wartawan “pemeras” dan sejenisnya itu. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Manajemen Berita Antara Idealisme dan Realita, Dr. H. Sam Abede Pareno, MM, Penerbit Papyrus, Surabaya, 2003).


Wartawan Lokal - Pertumbuhan media massa yang bak jamur di musim hujan setelah Indonesia memasuki era reformasi dan desentralisasi atau otonomi daerah, pada gilirannya diikuti dengan semakin banyaknya wartawan yang bekerja di lingkungan suratkabar lokal atau community newspaper baik yang berada di ibukota provinsi, kota/kabupaten maupun kecamatan. Selain itu di daerah-daerah juga terdapat banyak wartawan yang merupakan koresponden suratkabar atau media massa yang kantor pusatnya berada di Jakarta. Para wartawan dimaksud dapat disebut sebagai wartawan lokal.
Seperti halnya pengertian wartawan secara umum sebagaimana tercantum dalam UU No. 40/1999 tentang Pers, maka wartawan lokal pada hakikatnya juga sama yakni orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. Mereka harus memiliki beberapa sifat dasar seperti bersikap kritis, memiliki rasa ingin tahu yang besar (curiosity), berpengetahuan luas, berpikiran terbuka, dan menjadi pekerja keras. Bahkan bagi wartawan lokasi beberapa sifat dasar tersebut belumlah sempurna. Wartawan lokal juga perlu memiliki dan memahami beberapa aspek berikut:
1. Komitmen. Wartawan lokal harus memiliki  komitmen terhadap perbaikan segala segi  kehidupan masyarakat di daerahnya. Tan-  pa komitmen yang kuat, kita tidak akan   menjadi wartawan yang berhasil.
2.  Memahami persoalan masyarakatnya.   Apa jadinya bila kita menulis berita tanpa   mengetahui persoalannya. Karena itu,   wartawan lokal harus memahami berbagai  permasalahan masyarakat yang ada di   daerahnya dari segala aspek. Pemahaman  mengenai berbagai persoalan yang   dihadapi masyarakat desa, pemahaman   tentang harapan-harapan mereka, kendala- kendala yang mereka hadapi, serta  poten-  si-potensi yang mereka miliki akan sangat  membantu kerja jurnalistik kita.
3.  Memahami kebijakan pemerintah.    Pemerintah daerah setempat mulai dari   tingkat kabupaten, kecamatan hingga de-  sa biasanya memiliki kebijakan dan program  pembangunan di wilayahnya untuk jangka  waktu tertentu. Wartawan lokal harus   memahami semua kebijakan itu. Dengan   memahami kebijakan pembangunan di   tingkat lokal, kita bisa mensosialisaskan-  nya kepada masyarakat. Apakah kebijakan  itu sudah tepat atau belum bagi kepen-  tingan masyarakat. Kita juga bisa turut   mengontrol apakah kebijakan tersebut   dilaksanakan atau tidak.
4. Memahami kultur masyarakatnya.    Wartawan lokal harus memahami adat   istiadat, kebiasaan, bahasa, serta lemba-  ga-lembaga yang ada dalam masyarakat di  wilayahnya. Ini penting, sebab wartawan  akan bekerja bersama masyarakat.    Pemahaman terhadap hal-hal itu akan   sangat membantu keberhasilan kerja   wartawan suratkabar lokal.
5. Menggalang hubungan luas. Wartawan   lokal harus mampu menghimpun dan meng- galang hubungan seluas-luasnya dengan   pejabat pemerintahan setempat, tokoh-  tokoh masyarakat dan lebih penting lagi   masyarakat bawah. Mulai dari bupati,   tokoh-tokoh partai lokal, anggota-anggota  DPRD, anggota kepolisian, pedagang besar  hingga pedagang kecil di pinggir jalan, dan  terpenting adalah petani. Dengan menjalin  hubungan di banyak tingkat atau lapisan   masyarakat akan mempermudah kita dalam  mendapatkan informasi.
(Tim EPI/Wid; Sumber: Buku Menjadi Wartawan Lokal, Panduan Meliput, Hanif Suranto dan Dicky Lopulalan serta Atmakusumah (Penyunting), Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, 2002).

Wartawan Tangguh - Setiap reporter tentu bermaksud menjadi wartawan yang tangguh, sedangkan syarat utama menjadi wartawan yang tangguh adalah mengerjakan yang biasa saja dengan cara yang luar biasa (vitalitas). Dengan kata lain, menjadi reporter bukan pertama-tama karena kecantikan dan kegagahan, bukan keluwesan bergaul, bukanlah rasa ingin tahu, bukan juga pengetahuan yang luas dan dalam, melainkan ketekunan, kegigihan, dan vitalitas. Setiap reporter tentu mempunyai rumusan yang berbeda mengenai vitalitas ini. Sekalipun demikian, rumusan vitalitas yang berbeda-beda itu akan diuji dalam seluruh tahap kegiatan reportase. Tahap kegiatan itu dapat dibedakan dalam lima bagian, yaitu menemukan peristiwa dan jalan cerita; cek, ricek, dan tripel cek jalan cerita; memastikan sudut berita; menentukan lead atau intro; dan menulis berita.
James Reston, wartawan kakap dari New York Times, kemudian menjadi kolumnis termasyhur, selalu mengulang-ulang pentingnya hal (vitalitas) ini, seperti yang pernah dikemukakannya dalam ceramahnya di Columbia Graduate School of Journalism, yakni: Sedang-sedang pun kecerdasannya, asal vitalitasnya tinggi, seorang reporter akan bisa menjadi wartawan top.
Vitalitas merupakan faktor penting dalam pekerjaan seorang reporter. Faktor ini meliputi seluruh aspek pekerjaannya, bahkan selama 24 jam vitalitas itu harus bagai macan tidur. Meskipun sedang istirahat, seorang reporter harus siap meloncat setiap saat. Pendek kata, vitalitas adalah syarat utama menjadi reporter. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Vademekum Wartawan Reportase Dasar, Parakitri T. Simbolon, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2006).


Waspada - suratkabar harian. Koran ini pertama kali beredar di Medan hari Sabtu sore tanggal 11 Januari 1947. Menurut pendiri dan pemimpin redaksinya, Mohammad Said, kota Medan yang berpenduduk lebih kurang 300.000 orang, sangat sepi hari itu karena sebagian besar warganya telah mengungsi ke daerah-daerah pinggiran atau pedalaman yang dikuasai pasukan Republik Indonesia.
Kota Medan baru sekitar satu bulan sebelumnya diserahkan kepada komando militer Belanda oleh pasukan pendaratan Inggris/Sekutu. Banyak rumah dan gedung mewah yang tampak menyeramkan karena kosong. Hanya bagian-bagian kota tertentu, terutama yang dihuni penduduk Tionghoa, masih ramai berkat pengamanan serdadu Belanda dan milisia Tionghoa yang bersenjata, Poh An Tui. 
Serah-terima dari tentara Inggris kepada Belanda terjadi di sejumlah daerah Indonesia lainnya sesuai keputusan komando tertinggi Sekutu untuk memulihkan kekuasaan kolonial Belanda setelah Jepang menyerah kalah dalam Perang Dunia II. Pihak Sekutu saat itu tidak mengakui kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan di Jakarta oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945.
Dengan demikian, sampai Belanda melepaskan kekuasaannya pada akhir 1949, Waspada merupakan salah satu koran perjuangan yang terbit di daerah pendudukan militer Belanda. Mohammad Said mengakui, waktu itu korannya berisi berita-berita yang  menguntungkan perjuangan. Tidak ayal lagi, ia menjadi sasaran pemberangusan oleh militer Belanda.
Pembredelan pertama terjadi pada 21 Juli 1947 bertepatan agresi militer pertama Belanda terhadap RI. Tokoh-tokoh RI di Medan, seperti walikota Muhammad Yusuf, Ahmad Bestari, Dr Pirngadi, dll, juga beberapa wartawan, dikenakan tahanan rumah selama beberapa hari. Pembredelan kedua Waspada terjadi 1 Agustus 1947. Berikutnya Waspada dibredel selama 14 hari dari 23 Juli hingga 6 Agustus 1948. Diberangus lagi selama satu bulan antara 20 Agustus hingga 19 September 1948. Saat agresi Belanda kedua 20-26 Desember 1948, Waspada kembali dibredel. Saat itu dua media republiken lainnya di Medan, Mimbar Umum yang dipimpin Arif Lubis dan majalah Waktu yang dipimpin Zahari, juga dilarang terbit. Pembredelan terakhir Waspada oleh Belanda terjadi 2 April 1949 selama satu bulan. Tindakan ini menimbulkan kecaman pers di Belanda dan perdebatan seru dalam Tweede Kamer (parlemen Belanda) sehingga pembredelan Waspada hanya berlaku tiga minggu.
Pada awal pertumbuhannya Waspada memuat laporan-laporan dari sejumlah wartawan yang kemudian terkenal di dunia pers nasional, seperti Sundoro, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis. Tokoh-tokoh pers nasional juga menulis untuk majalah Dunia Wanita yang diterbitkan sejak 1949 oleh Ani Idrus, isteri Said. Tapi, di tengah situasi revolusi, perkembangan penerbitan di Medan tidak mulus. Nomor perdana Waspada hanya seribu lembar. Kelangkaan kertas terkadang membatasi jumlah halaman, bahkan berakibat Waspada tidak terbit. Menurut Ani Idrus, Said pernah membeli kertas ke Semenanjung Malaya, meski hanya cukup untuk beberapa hari penerbitan. Awal 1950, Waspada menerima distribusi kertas dari pemerintah RI, mula-mula 5000 lembar, kemudian 25.000 lembar. Namun, tahun 1955, kembali terjadi krisis kertas. Tahun 1963 dan 1964, Waspada pernah terbit dua halaman dan tiras dikurangi 25%, bahkan sampai 50%. Baru sejak pemerintah Presiden Soeharto masalah kertas dapat ditanggulangi.
Pada bulan Maret 1957 pimpinan Waspada menerbitkan tabloid hiburan Waspada Teruna untuk pasar muda-mudi, di bawah pemimpin umum Tribuana Said, anak tertua suami-isteri Mohammad Said-Ani Idrus. Baik harian Waspada maupun mingguan Waspada Teruna pernah pula diterbitkan di Jakarta. Adapun haluan berita dan opini Waspada tercermin dalam  sikap pimpinannya terhadap perlawanan bersenjata DI/TII di Aceh pada tahun 1953 (menentang) dan PRRI/Permesta tahun 1956 (menentang) serta kelompok media anti-Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membentuk Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS) tahun 1964-1965 (mendukung). Akibat haluan tersebut Waspada sempat dibakar kelompok pemberontak di Aceh dan Tapanuli, dan dibredel Presiden Soekarno pada Februari 1965.
Sebagai pengganti Waspada, Ani Idrus menerbitkan Harian Kesatuan pada 15 Oktober 1965 atas dukungan tiga organisasi masyarakat (ormas) dalam naungan Partai Nasional Indonesia (PNI), sesuai peraturan pemerintah Presiden Soekarno waktu itu. Namun akibat perpecahan dalam tubuh PNI, dukungan itu dicabut dan Harian Kesatuan berhenti terbit pada 29 Desember tahun itu juga.
Setelah penumpasan G30S/PKI, Waspada terbit kembali pada 17 Agustus 1967, tapi perkembangannya memprihantikan. Baru setelah membeli dan menggunakan mesin cetak offset pada 24 November 1972, harian ini mulai menanjak. Tatkala kantor dan percetakan Waspada terbakar pada 13 April 1983 harian ini tetap terbit dan pada 11 Januari 1984 berhasil membeli mesin cetak baru. Menjelang akhir tahun 2007 pimpinan Waspada untuk ketiga kalinya membeli mesin cetak baru.
Mohammad Said menyerahkan jabatan pemimpin redaksi Waspada kepada Tribuana pada bulan September 1964 sampai koran tersebut dibredel Soekarno. Ketika Waspada terbit lagi bulan Agustus 1967 Mohammad Said kembali menjabat pemimpin  redaksi.  Dua tahun kemudian Tribuana diserahi jabatan tersebut, tapi dia akhirnya menetap di Jakarta dan berkerja di harian Merdeka. Selanjutnya, Ani Idrus mengambil alih tugas pimpinan redaksi sampai dia meninggal dunia 9 Januari 1999. Waspada kemudian sepenuhnya dipimpin generasi kedua keluarga Said, yakni Rayati Syafrin sebagai pemimpin umum, Teruna Jasa Said sebagai wakil pemimpin umum dan Prabudi Said sebagai pemimpin redaksi. Mereka adalah masing-masing anak keempat, kelima dan keenam pasangan Mohammad Said-Ani Idrus. Tribuana sendiri kini menjabat komisaris utama PT Penerbitan Waspada (Tim EPI/Encub Subekti)


Wawasan -suratkabar harian. Koran ini lahir pada 17 Maret 1986 dari rahim Suara Merdeka Group dengan bekal hukum SK Menpen RI No. 027/SK/Menpen/SIUPP/A7 tanggal 28 Januari 1986. Teman satu angkatan Wawasan adalah Prioritas yang dikemudikan oleh Surya Paloh, yang kemudian dibredel pemerintah lantaran editorialnya yang tajam dan berita-beritanya yang “tendensius”.
Wawasan adalah sebuah koran sore dengan gaya blak-blakan. Pada kurun waktu 1980-an, terbit koran-koran sore seperti Sinar Harapan (Jakarta) dan Surabaya Post (Surabaya). Namun, Budi Santoso pengusaha pers yang sukses dengan Suara Merdeka menilai, kedua koran itu tidak mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat Jawa Tengah. Apalagi, TVRI pada masa itu baru mulai tayang pada pukul 16.30 WIB. Koran sore Wawasan hadir untuk memenuhi kebutuhan itu.
Mengusung moto “Mengemban Cita-Cita Bangsa” Wawasan melaju di bawah pimpinan Drs. Supriyadi RS (almarhum) sebagai Pemimpin Umum, Dra. Sarsa Winiarsih Santoso sebagai Pemimpin Perusahaan, dan Soetjipto, SH sebagai Pemimpin Redaksi. Wawasan berkantor di sebuah ruko di Pertokoan Simpang Lima Semarang, tepatnya di Blok A No. 10. Personelnya terdiri dari 16 orang redaktur, 13 repoter kota dan 21 koresponden se-Jawa Tengah.
Semula, Wawasan hanya diedarkan di Kotamadya Semarang, lantas melebar ke wilayah sekitarnya seperti Kabupaten Semarang, Kotamadya Salatiga, Kabupaten Grobogan dan Kendal. Kini koran ini telah berkembang lebih jauh lagi hampir ke seluruh wilayah Jawa Tengah dengan oplah terbit per edisi 65.000 eksemplar.
Edisi-edisi awal Wawasan menyapa pembaca dengan 8 halaman. Halaman mukanya berwarna, padahal saat itu koran-koran umumnya masih dicetak hitam-putih. Ketika koran sore lainnya masih terbit enam kali seminggu, Wawasan sudah terbit seminggu penuh, termasuk hari Minggu dengan tebal 12 halaman, hingga kemudian semua edisinya berisi 12 halaman.
Namun, ketika krisis menyerbu Indonesia pada 1990-an, Wawasan harus mengurangi halamannya menjadi 6 halaman, bahkan edisi Minggu sempat dihentikan. Ketika kondisi membaik, Wawasan kembali terbit dengan 16 halaman dan edisi Minggu muncul lagi menyapa pembaca.
Wawasan adalah koran sore yang “berani”. Para redaktur dan wartawannya biasa dipanggil oleh Kapendam (Kepala Penerangan Kodam), atau bahkan langsung oleh Pangdam terkait dengan berita yang dimuat. Misalnya, pada saat isu PKI muncul di Jawa Tengah, Wawasan memacak tokoh kartun Cemeng karya Koesnan Hoesi yang kepalanya dianggap mirip dengan gambar celurit, ilustrasi cerita anak pada edisi Minggu yang melukiskan seorang perempuan dengan rambut terurai yang disinyalir mirip celurit, dan gambar celurit dengan darah menetes. Kapendam IV/Diponegoro Letkol. Susilo Darmoaji memperingatkan redaksi Wawasan, “Sekarang celuritnya, suatu saat nanti pasti muncul palunya.” Wawasan juga sempat dimaki, “Yang menulis berita semacam ini adalah PKI!”
Ketika terjadi kerusuhan yang berbau SARA di Pekalongan, Wawasan memberitakan peristiwa itu meski tidak secara vulgar. Lantaran berita ini, pihak berwenang mengancam, kalau kerusuhan itu sampai di Semarang, Wawasan yang akan dipegang. Pemberitaan Wawasan mengenai kasus penggelapan, yang diduga melibatkan instansi negeri di Salatiga pun mengundang ancaman berupa isu penyerangan Wawasan oleh sekelompok oknum militer, walaupun serangan itu tidak pernah terjadi.
Sejak meninggalnya Drs. Supriyadi RS, MM, Pemimpin Umum Wawasan dijabat oleh H. Soetjipto, SH yang dibantu dua orang Wakil Pemimpin Redaksi yaitu Drs. Sosiawan dan Drs. Budi Santoso. Atas ide Kungkrit Suryo Wicaksono, Managing Director PT Suara Merdeka Press, maka untuk mendinamiskan Wawasan pada 1 Juli 2003 dilakukan perubahan di jajaran pemimpin. Ir. Sriyanto Saputro yang sebelumnya menjabat Kepala Biro Suara Merdeka ditunjuk menggantikan posisi H. Soetjipto, SH sebagai Pemimpin Redaksi. Pemimpin Perusahaan dijabat oleh Dra. Sarsa Winiarsih Santoso dan  dibantu Wakil Pemimpin Perusahaan, Djoko Sutedjo, SH. H., Soetjipto, SH menjabat sebagai Pemimpin Umum dibantu Wakil Pemimpin Umum, Elvin S Ma'arif, SE, MM.
Dengan alasan untuk memantapkan positioning-nya, sejak 1 September 2003 Wawasan mengganti motonya dengan “Suara Jawa Tengah”. Dengan moto itu diharapkan koran ini menjadi media aspirasi dan inspirasi bagi masyarakat Jawa Tengah. Inovasi juga dilakukan dengan membentuk lembaga biro baru Semarang untuk meningkatkan kinerja jajaran di Salatiga, Kabupaten Semarang, Grobogan, Kendal, dan Demak.
Tata letak Wawasan berubah dan muncul rubrik-rubrik baru seperti “Blaik” dengan tokoh sentral Djo Koplak, “Otomotif”, dan “Terkini” yang menjadi andalan dengan memampang berita-berita yang terjadi pada hari itu. Rubrik “Baru”, yang terinspirasi running text di televisi, menyiarkan informasi singkat yang baru esok harinya disajikan secara lengkap. Edisi minggu yang semula bertebal 16 halaman ditambah menjadi 20 halaman, dengan 4 halaman full color.
Tahun 2004, Dewan Pers melakukan penelitian terhadap 28 suratkabar yang terbit di Pulau Jawa. Unit analisis yang digunakan di antaranya factualness, atau derajat faktualitas suatu berita. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2004. Dari penelitian didapat hasil, bahwa berdasarkan information value atau nilai berita, Wawasan berada di-ranking ketiga (skor 24,8) setelah Kompas (skor 17, 69) dan Republika (skor 17,58). Usaha Wawasan untuk menyajikan berita “Pagi Terjadi Sore Tersaji” pun tak sia-sia. (Tim EPI. Sumber: Rhoma Dwi Aria Yuliantri/Indonesia Buku/Jurnas)
What’s On - majalah informasi kota Metropolis Jakarta. Berawal dari penerbitan kecil JLP yang terbatas hanya mengulas jurnal-jurnal intern maupun profil suatu perusahaan dalam bahasa Inggris, mulailah majalah ini melakukan misinya. Memang misi dari Jakarta Program tak lain memberi informasi seluas-luasnya kepada masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di kota Metropolis Jakarta. Kebutuhan informasi beragam kegiatan di ibu kota memang salah satu pertimbangan pengelola majalah ini. Menurut Warsito Wahono, Pemimpin Redaksinya, informasi yang ditampilkan majalahnya tidak melulu terbatas hanya lingkup Jakarta saja, tetapi tetap menyeluruh ke wilayah nusantara atau bahkan dunia.
Kalau dirunut dari awal berdirinya, majalah ini tak lepas dari kegigihan Warsito dalam mengupayakan hadirnya majalah berbahasa Inggris. Karena dianggap tak potensial menggeluti bisnis keagenan dan percetakan, diputuskan tetap menerbitkan majalah ini. Didukung modal awal dari Pak Dwi (Soedwikatmono), majalah ini pelan-pelan mulai terlihat dibaca orang. “Modal pinjaman itu sebagai stimulan saja,” ungkap Warsito.
Setiap terbit, majalah ini akan menginformasikan beberapa kalender kegiatan kota Jakarta tiap bulannya. Informasi paling banyak seputar tempat-tempat untuk disinggahi. Seperti hotel, apartemen, restoran, tempat-tempat hiburan. Selain itu aspek pariwisata pun tak luput dari liputan majalah yang diterbitkan Yayasan Acara Jakarta ini. Mulai dari tempat bersejarah hingga acara tradisi budaya Indonesia.
Isi rubrik Jakarta Program pun bervariatif, dari berita yang bersifat umum, tulisan lepas, peristiwa-peristiwa penting, budaya, gaya hidup maupun informasi seputar tokoh. “Sengaja kami hadirkan dengan penyajian yang cukup ringan dan mudah dicerna,” ujarnya.
Bagi pembaca asing, kehadiran Jakarta Program sangat membantu mereka dalam menentukan acara selama mereka berada di kota tersebut. Pembaca lokal pun tak harus bingung mencerna setiap tulisan ataupun informasi lainnya.
What’s On diterbitkan oleh Yayasan Acara Jakarta, dengan susunan pengelola, Pemimpin Umum Sudwikatmono, Pemimpin Redaksi Warsito Wahono, SE, Pemimpin Perusahaan Tutty Rozana. Mereka berkantor di Jalan Gatot Subroto, Hilton Hotel Inter 12,13,14,15 Bazaar Indonesia Jakarta, Telepon (021) 5703600, 5490666, Fax. (021) 5706873.


Widarti Goenawan - wartawan. Wanita kelahiran di Sukabumi, 28 Februari 1944 ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi dan Wakil Pemimpin Umum Femina. Setiap hari, ia berangkat kerja pukul 6 pagi. Mbak Arti, panggilan akrabnya, tidak langsung menuju kantornya di Kuningan, Jakarta. Dari rumahnya di bilangan Pulo Mas, terlebih dahulu ia meluncur ke Hotel Mandarin untuk berolah raga di health center hotel tersebut. “ Dalam seminggu saya main squash lima kali.” katanya.
Femina terbit atas prakarsa Ny. Mirta Kartohadiprodjo, Ny. Atika Makarim, dan Widarti Goenawan. Mereka bertiga, yang gemar membaca majalah-majalah wanita berbahasa asing, menyadari perlunya majalah semacam itu dalam Bahasa Indonesia.
Modal pertama sebesar Rp 25 juta diperoleh dari keluarga Sutan Takdir Alisjahbana yang salah seorang anggota keluarganya adalah pemrakarsa Femina, yaitu Ny. Mirta Kartohadiprodjo.
Pertama terbit pada tahun 1972, Femina menghasilkan oplah 10 ribu eksemplar. “Sebulan setelah Femina terbit, saya tidak berani keluar rumah. Malu. Habis, kami kan sebenarnya bukan wartawan,” tuturnya. Toh sukses Femina akhirnya menyeret Mbak Arti untuk terlibat lebih dalam.
Pada tahun 1975, wanita keturunan menak Sunda itu terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai staf pengajar Fakultas Sastra UI Jurusan Bahasa Indonesia. Femina, yang semula ‘diterbitkan karena iseng’, pada 1984 sudah beroplah 100 ribu eksemplar lebih.
Widarti menikah dengan Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi Majalah TEMPO. Pasangan ini dikaruniai dua anak. Mengenai hidup berkeluarga sambil berkarir, wanita berkulit putih dengan tinggi 1,60 m dan berat 55 kg ini, menganggap perlu mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. “Sebelum menikah kami masing-masing sudah terbiasa bekerja. Waktu bisa kami atur sebaik-baiknya untuk memperhatikan pendidikan anak-anak.” (Tim EPI/KG. Sumber: PDAT)


Wikrama Iryans Abidin (Jambi,  27 September 1954) - saat ini duduk sebagai Anggota Dewan Pers periode 2006-2009. Meskipun Wikrama berbasis pendidikan ilmu hukum dan sekarang berstatus sebagai notaris, kiprahnya di dunia jurnalistik terbilang luar biasa. Diawali dengan mengikuti  Pendidikan Pers Mahasiswa Dewan Mahasiwa UI, tahun 1975, sepak terjang Wikrama di lingkungan pers kampus terus berkembang hingga sempat menjadi Pemimpin Redaksi  Suratkabar Kampus UI SALEMBA (1978 - 1980). Karena posisinya ini Wikrama sempat diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 1980. Tetapi Wikrama tetap konsisten. Bahkan pada periode 1980-1982 ia didaulat untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia, dan a aktif mengikuti berbagai kegiatan perlawanan terhadap rezim Orde Baru dengan menerbitkan "Mahasiswa Menggugat". April 1977 Wikrama sempat diundang Rektor University of the Phillippines untuk melakukan studi perbandingan pers mahasiswa di Negara itu.
Tahun 1985 menjadi wartawan lepas untuk Majalah SWASEMBADA. Tahun 1988-1991 ia berkarir sebagai wartawan di Pelita dan sempat dipercaya menjadi redaktur pelaksana. Wikrama juga tercatat sebagai salah satu pendiri majalah berita SINAR, dan pada tahun 1997-1999 dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Karena posisinya ini pulalah, sekali lagi Wikarma harus berurusan dengan hukum dan dituntut ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat oleh Pengurus  Pusat Pemuda Pancasila, karena tidak mau menyebutkan sumber berita kasus dugaan Organised Crime, yang ditulis Majalah SINAR.
Pada kurun waktu yang sama Wikrama bekerja rangkap sebagai Senior Correspondent PANA NEWS, Singapore, yang dijalaninya hampir delapan tahun (1995-2003). Kini, meskipun aktif sebagai notaris/PPAT minatnya terhadap dunia pers tak pernah surut. Selain duduk di dalam jajaran Bagian Riset & Dokumentasi Majalah HUKUM DAN PEMBANGUNAN, Fakultas Hukum UI, Wikrama juga disibukkan dengan tugasnya sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Jurnal UANG DAN BANK, sejak Oktober 2005 hingga sekarang.
Pria berputra dua, buah perkawinannya dengan Sri Utami ini seakan tidak pernah berhenti berurusan dengan dunia jurnalistik. Setelah disibukkan oleh berbagai kegiatan di atas ia juga masih menyempatkan diri mengikuti seminar/lokakarya di berbagai instansi, bahkan menjadi pembicara. Semua berkait dengan persoalan pers, khususnya pers dan hukum/etika. 
Tak cukup dengan itu, Wikrama juga sempat mengirimkan buah pikirannya ke sejumlah media nasional, dan menulis buku.(Tim EPI/KG/Istimewa)


Wina Armada Sukardi - (Jakarta 17 Oktober 1959). Lulusan dari Fakultas Hukum UI ini, dikenal sebagai salah seorang pakar di bidang hukum dan etika pers. Karena itu ia sering diminta menjadi saksi ahli baik di pengadilan maupun di tingkat penyidikan. Wina kini menjadi anggota Dewan Pers mewakili dari unsur PWI, dengan posisi Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan. Sedangkan di organisasi PWI Pusat duduk sebagai Sekjen untuk periode 2003-2008. Sebelumnya di PWI Jaya periode 1995-1999 duduk sebagai Ketua Departemen Film dan Kebudayaan dan anggota Biro Hukum.
Wina Armada Sukardi adalah generasi ketiga di keluarganya yang bergerak di bidang kewartawanan. Kakeknya, Didi Sukardi, adalah tokoh perintis kemerdekaan, dan salah seorang seorang tokoh pers, pendiri suratkabar harian Oetoesan Indonesia. Ayahnya, Gandhi Sukardi, juga seorang wartawan. Gandhi Sukardi pernah masuk Muri karena menulis surat pembaca tiga tahun berturut-turut tanpa henti. Wina sendiri bukan orang baru di media cetak ataupun di media elektronika. Profesi jurnalistiknya dimulai ketika menjadi aktivis pers mahasiswa, ketika menjadi reporter suratkabar kampus Salemba, yang kemudian dibredel oleh pemerintah Orde Baru. Bahkan, bakatnya di bidang tulis-menulis ini dimulai ketika masih duduk di bangku SMP. Di SMA, ia merintis majalah dinding (Mading) pelajar
Lulus dari UI, bakat jurnalistiknya disalurkan lewat beberapa media cetak dan elektronik. Wina pernah menjadi redaktur pelaksana harian Prioritas, redaktur pelaksana majalah berita Fokus, reporter radio dan pengasuh acara Ilmu-ilmu Sosial Radio Arief Rachman Hakim (ARH), serta redaktur hukum dan ekonomi Televisi Pendidikan  Indonesia (TPI).
Lulusan Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen IMNI tahun 1992 ini, juga pernah memimpin sejumlah media antara lain sebagai wakil pemimpin redaksi majalah hukum Forum Keadilan, wakil pemimpin redaksi majalah Vista, redaktur majalah ilmiah Hukum dan Pembangunan, dan memimpin majalah Matra.
Suratkabar terakhir yang pernah dipimpinnya adalah harian umum Merdeka. Koran yang sudah berhenti peredarannya ini ia beli dari Herawati Diah, istri B.M. Diah, akhir September 2003, lalu menerbitkannya kembali pada Jumat 27 Februari 2004. Namun, karena berbagai kendala koran ini hanya bisa bertahan sekitar dua tahun. "Diistirahatkan sebentar, untuk kemudian diterbitkan lagi jika kondisi memungkinkan, " katanya Wina, selaku pemilik baru koran tersebut.         
 Wina termasuk produktif menulis buku. Beberapa di antaranya Wajah Hukum Pidana Pers (1989), Menggugat Kebebasan Pers (1993), Close Up Seperempat Abad Pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik (2007).  Selain menjadi editor untuk beberapa buku lainnya, Wina juga banyak menulis artikel yang mengkaji masalah hukum, pers, politik, olahraga, seni, budaya sampai ke masalah puisi dan cerpen. Ia juga dikenal sebagai kritikus seni dan dua kali menjadi juri Film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1998. Sesuai kedudukannya di Dewan Pers maupun Sekjen PWI Pusat, Wina juga sering memberikan pendidikan dan pelatihan di berbagai organisasi dan instansi pemerintah maupun swasta tentang hukum pers dan  kode etik jurnalistik. (Tim EPI/ES)


Wiworo Raja - suratkabar bulanan. Pertama beredar di Surakarta tahun 1932 dan diterbitkan oleh Tjipto Mangunrahardjo yang duduk sebagai pemimpin redaksi, serta redaktur BJ Messchaert dan Abdoel Hadjar.
Selain isinya disajikan dalam bahasa Jawa dan Melayu, koran ini pun disajikan dalam dengan tulisan campuran Jawa dan Latin. Sebagai sebuah suratkabar, Wiworo Raja mempunyai tampilan mirip buku karena sekali terbit mencapai 40 halaman. Rubrik dan artikel yang termuat cukup beragam, menyangkut masalah antara lain hukum, pemerintahan, sosial, budaya, psikologi, filsafat. (Tim EPI/KG/TS. Sumber: Reksa Pustaka)


Wiyata Mandala - suratkabar mingguan berformat tabloid. Terbit perdana pada 20 Mei 1993 atas prakarsa K. Nadha, perintis pers Bali. Media ini merupakan tabloid khusus pendidikan dan remaja di Bali yang secara khusus mengangkat masalah pendidikan dan remaja yang selama ini belum ada. Sementara anak sekolah (SMP dan SMA) serta remaja di Bali saat ini memiliki beragam bahan bacaan yang umumnya berasal dari penerbitan di Jakarta. Sementara potensi remaja Bali sangat luar biasa baik di bidang akademis, fashion, olahraga dan seni serta kegiatan di sekolah.
Kehadiran Wiyata Mandala dianggap sangat penting karena dapat mengangkat prestasi dan profil siswa, sekolah, lembaga pendidikan, opini siswa dan guru, masyarakat (orangtua) dan pemerintah daerah, dalam dunia pendidikan dan remaja. Bahkan Wiyata Mandala kini menjadi bacaan wajib di kalangan guru karena banyak mengangkat tulisan guru untuk uji sertifikasi. Di samping itu peluang bagi guru untuk menjelaskan soal-soal sulit yang diperkirakan muncul di Ujian Nasional.
Wiyata Mandala merupakan bagian dari Kelompok Media Bali Post (KMB). Selama ini dijual dengan harga murah yakni Rp 1.000/eks. Dari harga itu OSIS sekolah setempat diberi diskon Rp 250/eks. Jadi, harga pokok ke siswa hanya Rp 750/eks. Harga ini masih disubsidi oleh KMB dari harga sebenarnya Rp 1.100/eks.
Sebagai sebuah program sosial untuk mendukung dan meningkatkan minat baca dan menulis di kalangan, KMB ingin berbuat sesuatu bagi sumber daya manusia di Bali. Kami ingin remaja Bali memiliki koran/majalah atau tabloid yang menjadi kebanggaannya. Mereka punya tempat berkonsultasi tentang masalah remaja, belajar dan sekolah. Di sini mereka bisa berkomunikasi dengan rekan-rekannya. Semua masalah tersebut diformulasikan ke dalam Wiyata Mandala.
Di Wiyata Mandala tersedia 16 halaman yang semuanya diisi oleh kalangan pelajar. Bahkan ada tim khusus dari pelajar yang menentukan tema yang akan diangkat pada setiap edisi yang akan terbit. Ada halaman siswa bicara, guru bicara, musik, panggung band sekolah, iptek, apa dan siapa, kesehatan dan penemuan baru. Semua itu bernuansa pengetahuan.
Wiyata Mandala juga merupakan ajang pelatihan dan pendidikan bagi siswa yang mempunyai bakat jurnalistik. “Mereka kami gabung dan diarahkan menjadi wartawan media cetak. Hingga Maret 2008, pelanggan Wiyata Mandala mencapai 55.000 eks dan menjadi bacaan wajib siswa dan guru SMP dan SMA/SM di Bali.
Wiyata Mandala yang merupakan tabloid terbitan Kelompok Media Bali Post, sebuah institusi pers terbesar di Bali sejak 16 Agustus 1948. Kelompok Media Bali Post mengelola tujuh media cetak (Bali Post, Denpost, Bisnis Bali, Mingguan Tokoh, Dwi-mingguan Wiyata Mandala, Bali Travel News dan Lintang). Juga media elektronik yakni Radio Global Kini Jani, Radio Swara Widya Besakih, Radio Genta Suara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM serta Bali TV. Semua program acara Wiyata Mandala bersinergi dengan media lain dalam satu kelompok.
Dalam pengelolaannya sehari-hari Wiyata Mandala dikendalikan oleh ABG Satria Naradha (Penanggung Jawab), Nyoman Wirata (Redaktur Pelaksana), dan I Made Sueca  (Pengasuh), dari kantor mereka di Jalan Kepundung 67A Denpasar 80232, Tel.  (0361) 225764 Fax. (3061) 227418, Alamat Surat Kotak Pos 3010 Denpasar 8001, Penerbit PT Bali Post, SIUPP: SK Menpen RI No. 005/SK/MENPEN/SIUPP/A/1985 Tanggal 24 Oktober 1985. Dicetak oleh Percetakan PT Bali Post (Tim EPI/KMB)