Selasa, 17 Oktober 2017

Y dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Yellow Pages - Bentuk promosi ini cukup populer dan banyak digunakan oleh perusahaan. Kemampuan Yellow Pages menjangkau sasaran merupakan salah satu kelemahan media ini. Tetapi perkembangan yello pages saat ini sedikit demi sedikit dikurangi dengan bantuan teknologi komunikasi. Bentuk pengembangannya yang seiring dengan pengembangan teknologi itu dapat dibandingkan. Sebelumnya yellow pages berbentuk buku direktori yang digabung dengan buku daftar telepon, kini fungsi dan kegunaan yellow pages juga diperoleh pada media lain, yaitu:
1. Specialized directories: Biasanya terdapat di majalah atau buku khusus.
2. Audio text directories: Direktori ini dapat diperoleh melalui TV kabel, dimana teknologi ini memang dimiliki oleh televisi.
3. Interactive directories: Saat ini sudah beredar berbagai direktori yang dikemas dalam bentuk CD interaktif yang dapat diinstal ke dalam komputer pribadi.
4. Internet directories: Media yang telah maju berkembang ini dapat menyimpan miliaran informasi tentang produk dan layanan di seluruh dunia. (Tim EPI/Wid. Sumber: Buku Marketing Communication Taktik & Strategi, John E. Kennedy dan R. Dermawan Soemanagara, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006).


Yellow Papers - koran kuning, adalah suratkabar yang isinya lebih banyak sensasi, rumor, dan hal-hal yang tidak berkaitan dengan upaya pencerdasan manusia dan merupakan sebuah paradigma yang lahir pada zaman industri modern di mana telah ditemukan mesin cetak super canggih yang kemudian diikuti oleh tumbuhnya dunia hiburan. (NH)


Yogya Post - suratkabar harian. Termasuk koran lama yang berdiri pada tahun 1966 di Yogyakarta pada saat situasi politik sedang galau.
Yogya Post awalnya merupakan cabang dari Mertju Suar yang terbit di Jakarta dan diterbitkan di Yogyakarta atas prakarsa dan dukungan kalangan militer dan ummat Islam. Itulah sebabnya pimpinan utama harian ini adalah seorang perwira dari jajaran militer (sekarang Korem 072/Pamungkas). Konon salah seorang yang ikut membidani prakarsa lahirnya Mertju Suar adalah Almarhum Brigjen Katamso.
Mertju Suar cabang Yogyakarta didirikan sebagai salah satu dari sedikit media kekuatan Orde Baru yang diharapkan dapat menumpas paham komunis dan gerakan ekstrim kiri lainnya yang tersisa dari orde lama dengan semangat keislaman. Maka corak dan visi jurnalistik Mertju Suar cabang Yogyakarta ini pun lebih bernafaskan keislaman.
Tahun 1973, Mertju Suar mengalami perubahan sejalan dengan berkembangnya peraturan pemerintah pada bidang penerbitan pers. Namanya berubah menjadi koran Masa Kini, begitu pula dengan sebagian pengelolanya. Pada dekade ini tercatat tiga serangkai pimpinan ummat Islam yang menjadi Penasihat Masa Kini antara lain K.H. Ali Maksum, K.H. AR. Fachrudin dan A.R. Baswedan. Isi yang ditampilkan Masa Kini tetap seperti Mertju Suar, dengan semangat Orde Baru dan bernafaskan keislaman.
Tahun 1989, Masa Kini berganti nama menjadi Yogya Post, yang bernaung di bawah bendera PT. Surya Pesindo (Perioritas/Media Indonesia Group). Kehadirannya cukup mengejutkan karena untuk pertama kalinya sosok media yang memanfaatkan industri modern digelar di daerah, kesannya pun agresif dan kompetitif. Hanya dalam waktu 2 tahun, Yogya Post telah berhasil meraih tiras sebesar 20.000 eksemplar per hari. Tetapi sayang, ini hanya berlangsung selama 2,5 tahun saja, yakni mulai Oktober 1989 sampai habis Pemilu 1992. Konon karena terlalu agresif dalam menerapkan manajemen yang terlalu modern, malah kebablasan. Setelah itu koran ini mengalami istirahat panjang sampai Yahya dan kawan-kawan datang membangunkannya kembali pada tahun 1995, dimulai dari nol lagi.
Pada tahun 1995, Yahya Ombara ditawarkan pengasuh lama untuk menghidupkan kembali Yogya Post. Tepat bulan Mei 1995, di saat harga kertas melambung naik, dan banyak penerbitan pers mengurangi oplah, justru Yahya Ombara bersama kawan-kawan dengan ‘keberaniannya’ menerbitkan kembali Yogya Post. Coraknya dikembalikan ke tampilan semula, yang sebagian isinya bernuansa keislaman plus kekaryaan.
Dua tahun di tangan Yahya, Yogya Post ketika itu sebagai koran pagi berjalan dengan lumayan, meskipun intrik dan gosip melanda koran ini sejak awal terbitnya. Kompetisi keras sesama media cetak sangat terasa pada atmosfer pers di Yogyakarta. Tetapi pembaca fanatik Yogya Post perlahan datang, terlebih lagi dengan gebrakan hadiah 7 ONH bagi pelanggan setianya yang sempat mendongkrak oplah. Hanya sayangnya, manakala gebrakan ONH usai, oplah pun menurun tidak menggembirakan, bahkan cenderung merosot menuju titik henti. Masyarakat Yogyakarta sempat terperanjat, ketika Yogya Post mengumumkan untuk sementara terbit seminggu sekali, karena sedang konsolidasi total.
Adalah bukan Yahya kalau jera dan kapok. Ternyata pengalaman 2 tahun menjadikan dia ‘sangat paham’ tentang belantara bisnis pers. Tepat tanggal 27 April 1997, masyarakat Yogyakarta tersentak. Yogya Post terbit sore hari. Yang menarik adalah pengambilan momentum terbit sore tersebut disamakan dengan dimulainya masa kampanye Pemilu 1997.
Momentum terbit sore yang dilakukan Yogya Post, betul-betul mengagetkan. “Selama konsolidasi, kami bukan saja mengkaji berbagai aspek kendala dan peluang, lebih dari itu kami melakukan suatu kontemplasi vertikal-transendental, dan hasilnya seperti yang kita saksikan bersama...” kata Yahya.
Semua kalangan ternyata menerima kehadiran Yogya Post sore. Bukan saja karena pilihan momentum waktu terbitnya yang berubah, tetapi tekad Yogya Post menjadikan dirinya sebagai pers populer yang independen, tidak berpihak, umum, dan obyektif mulai dirasakan masyarakat dalam visi dan karya jurnalistiknya.
Sejak terbit menjadi koran sore, Yahya Ombara terus melakukan manuver-manuver yang kreatif dan inovatif baik terhadap perwajahan koran maupun isinya. Untuk tata perwajahan yang terbilang baru dalam sejarah pers di Indonesia,Yahya memadukan unsur tabloid ke dalam koran harian. Bahkan kita seperti melihat sosok koran internasional pada Yogya Post. “Ya, Yogya Post diilhami oleh New Straits Times Kualalumpur,” jelas Yahya, “Tetapi pilihan beritanya sebagian mengikuti gaya Pos Kota, Harian Terbit dan koran lainnya yang laku keras,” kata Yahya.
Selain ukuran kertasnya yang memuat 8 kolom juga gaya visualnya, agaknya slogan Yogya Post “Berita Hari Ini, Baca Hari Ini, Mengapa Menunggu Besok Pagi?” bukan sekedar isapan jempol. Ketika Putri Diana dan Dodi Al Fayed mengalami musibah dan akhirnya tewas pada pagi hari itu juga (10.40 WIB) Minggu 31 Agustus 1997, Yogya Post berhasil memberikan laporan kejadian serta sajian berita pendukung lainnya dalam satu halaman penuh berwarna pada sore harinya. Barangkali inilah satu-satunya koran Indonesia yang memuat lengkap satu halaman saat itu juga.
Sejak jadi koran sore, Yahya mengakui kalau oplahnya terus meningkat dan sangat prospektif. Baru 6 bulan sebagai koran sore, Yogya Post telah berani tampil 16 halaman dan berwarna. Minat pemasang iklan terus bertambah, hingga iklan kecil dan kolom yang harus dimuat mencapai satu setengah halaman setiap hari.
Yogya Post mampu melepaskan diri dari jerat 'persaingan' antara koran lokal yang sangat kompetitif di pagi hari. Termasuk ketika 3 koran besar nasional melakukan cetak jarak jauh di Jateng dan DIY.
Jauh sebelum Community Newspaper dicanangkan, Yogya Post telah melakukannya sejak awal. Target market Yogya Post sangat jelas, yaitu 70% untuk memenuhi kebutuhan masayarakat DI Yogyakarta dan sekitarnya yang berpenduduk lebih dari 4 juta jiwa, dan sisanya tersebar di Surakarta, Kedu, Magelang, Banyumas, dan Semarang, serta dalam jumlah tertentu di Jakarta dan Surabaya. Pemasaran Yogya Post dibangun melalui pendekatan primordialisme, karena menurut Yahya, orang Yogya lebih suka membaca berita tentang dirinya melalui koran daerahnya sendiri. Sebagai contoh, berita tentang kasus Udin dan sidang Iwik, orang Yogya lebih percaya mengetahui melalui koran Yogya sendiri ketimbang yang diberitakan koran nasional. “Memperbanyak berita seputar DIY memang menjadi tekad dan kami kondisikan sedemikian rupa, lengkap, akurat dan detail, ketimbang koran lokal lainnya. Ini prinsip dalam konsep manajemen kami menggarap pasar Yogya Post,” kata Yahya. Secara bisnis, lebih baik membangun pasar sendiri dari pada membangun pasar orang lain, yang belum tentu hasilnya. Membangun primordialisme pasar menjadi kiat bisnis Yogya Post.
Dalam pelaksanaan berbagai kegiatannya Yogya Post dikelola oleh Drs. Yahya Ombara (Pemimpin Umum), Dr. Hadidjoyo Nitimihardjo, MSc (Wakil Pemimpin Umum), Drs. Moehadi Sofyan (Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab), Sutirman Eka Ardana (Wakil Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab), Drs. Muhammad Harun (Pemimpin Perusahaan), Ir. Drs. Bugiakso (Wakil Pemimpin Perusahaan), dan sejumlah manajer.
Yogya Post diterbitkan oleh PT. Citra Masa Kini, berdasarkan SIUPP: No. 111/SK/Menpen/SIUPP/A. 71986, tanggal 22 Maret 1986. Perubahan SIUPP No. 16/Ditjen PPG/K/1997 tanggal 5 Pebruari 1997, dan dicetak oleh Percetakan PT. Citra Masakini Jaya/PT. Muria Baru. Kantor Redaksi/Manajemen Plaza Cemara Tujuh Lantai 2, Jalan Kaliurang Km. 5,8 No. 27 Sleman Yogyakarta (55281), telepon (0274) 566991566992, Fax. (0274) 563996-562612. (Tim EPI. Sumber: Wikipedia)


Yoyo Siswaja Adiredja (Banjar/Ciamis, 8 Juni 1955) - saat ini menjabat sebagai Ketua PWI Cabang Jawa Barat untuk Masa Bakti 2007-2011. Di tingkat Pusat, Yoyo juga tercatat sebagai Anggota Pengurus PWI Seksi Olah Raga (SIWO) Masa Bakti 2003-2008. Sebelumnya, Yoyo juga pernah menjabat sebagai Ketua Siwo PWI Jabar (1993-1998), dan Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jabar (1998-2002). Yoyo juga aktif di berbagai organisasi di luar PWI, antara lain Humas KONI jabar (1990-2002), Ketua Alumni Fikom Unpad (2002-2004), Ketua Bidang Media & Promosi KONI Jabar (2002-2006), dan Sekretaris Umum KONI Jabar (2006-2010). Bahkan di Persib pun, Yoyo tercatat sebagai sekretaris umum untuk masa bakti 2003-2007.
Kang Yoyo, demikian panggilan akrabnya, menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Ciamis dan Tasikmalaya. Anak kepala desa ini sudah aktif menulis untuk majalah kampus, setelah lolos seleksi masuk ke Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran, tahun 1974. Hobi olahraganya kuat. Selain cabang sepak bola yang sangat digemarinya, Yoyo juga cukup handal di cabang-cabang olah raga lainnya, antara lain tenis lapangan, bulu tangkis, golf. Hampir semua cabang yang dimainkannya selalu berbuah prestasi yang membanggakan -setelah menjadi wartawan, bukan sekali Yoyo menjuarai turnamen tenis antar wartawan se-Indonesia, sebagai peraih medali emas secara berturut-turut pada Porwanas I (1983), Porwanas II (1985), Porwanas III (1987), dan Porwanas IV (1989). Namun hobinya ini jugalah yang justru menghambat proses kuliahnya, meskipun akhirnya dapat ia selesaikan sesuai waktu yang ditargetkannya.
Mulai bekerja di HU Pikiran Rakyat tahun 1978 sebagai korektor dengan status tanaga honorer. Posisi korektor di Pikiran Rakyat waktu itu merupakan jenjang paling awal sebelum memasuki dunia wartawan yang sebenarnya.  Tahun 1980 Yoyo mulai terjun menjadi wartawan muda. Selama empat tahun ia menjalani perputaran tugas sebagai wartawan peliput bidang pemerintahan, ekonomi, sosial dan kepolisian. Bidang liputan kepolisian merupakan tugas yang paling singkat ia jalani. "Saya tidak merasa cocok di bidang itu," katanya.
Hobi olah raganya mendorong hasrat Yoyo untuk menjadi wartawan olahraga. Namun hal itu baru kesampaian tahun 1984. "Sejak itulah saya berkerja sebagai wartawan secara total. Mungkin karena cocok dengan panggilan jiwa, yang sejak kecil benar-benar hobi dengan olahraga," kenangnya. Perjalanan menjadi wartawan olahraga mengantarkan Yoyo mengunjungi berbagai tempat di dalam dan luar negeri. "Perjalanan ke berbagai tempat membuat kita banyak berkenalan dengan hal-hal baru. Dari situ kita bisa banyak menimba ilmu dan pengalaman orang lain. Dari pergaulan kita menjadi kaya akan "baraya" (saudara)," katanya.
Tahun 1989 Yoyo mendapat kepercayaan untuk memangku tugas sebagai Redaktur Olahraga, dan lima tahun kemudian (1994) menjadi Redaktur Pelaksana. Tahun 1999 ia ditugasi menjadi ketua tim untuk menerbitkan koran lokal anak penerbitan PT Pikiran Rakyat Bandung, yakni seperti Galamedia, Fajar Banten, Priangan, Pakuan dan Mitra Dialog. Puncaknya, sejak tahun 2002 silam Yoyo menjadi Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, setelah tiga sebelumnya (1999-2002) sukses memimpin HU Galamedia.
Semua kepercayaan yang diberikan Pikiran Rakyat kepada Yoyo bukan tanpa dasar. Selain basis pendidikannya yang sejalan dengan jenis usaha penerbitan pers, pengalamannya berorganisasi, serta berbagai pelatihan yang pernah diikutinya, membentuk Yoyo menjadi seorang pemimpin sekaligus manajer yang mampu mengemban semua tugas-tugasnya. Tahun 1997 Yoyo mengikuti Penataran P4 untuk Pimpinan Media Massa; Tahun 1996, 1997, dan 2000, ia mengikuti Kongres IFRA masing-masing di Hongkong, Amsterdam, dan Jerman. Selain itu ia juga berkesempatan mengikuti beberapa latihan dasar kepemimpinan.
Pengalaman liputannya pun tidak sedikit, dan sangat menunjang tugas serta tanggung jawabnya sebagai pemimpin redaksi. Selain meliput berbagai peristiwa olah raga yang berlangsung di berbagai belahan dunia, salah satu yang sangat membanggakannya adalah ketika harus meliput peristiwa meletusnya Gunung Galunggung tahun 1982. "Menjadi wartawan dalam pandangan saya tidak mudah. Banyak syarat yang harus disiapkan. Harus "masagi" (serba tahu dan serba bisa-sunda). Wartawan perlu sadar  bahwa pekerjaannya bisa mempunyai dampak yang luar biasa bagi masyarakat," ungkap Yoyo, yang pada tahun 2006 mendapat penghargaan dari perusahaannya, karena peranannya di balik keberhasilan PT Pikiran Rakyat Bandung melakukan reformat dan redesign produk suratkabarnya. (Tim EPI/KG/Istimewa) .