Kamis, 24 Agustus 2017

Z dari Ensiklopedi Pers Indonesia (EPI)

Zein Effendi, SH (Tuban, Jawa Timur 20 Februari 1924 - Jakarta 4 Februari 1986). Zein mengawali karirnya sebagai wartawan di Harian Buruh, Jogjakarta pada tahun 1946 hingga 1948. Pertengahan tahun 1950 ia bergabung dengan Antara Pusat sebagai redaktur/wartawan luar negeri. Pada bulan Januari 1955 ditempatkan di Amsterdam sebagai redaktur/wartawan. September 1958 Zein kembali ke Jakarta dan bertugas di desk ekonomi dalam negeri.
Selain berkarir di ANTARA, Zein juga sempat menjadi Pemimpin Redaksi/Pemimpin Umum The Jakarta Times, dan menjadi Anggota Pengurus PWI Pusat dan SPS Pusat.
Di luar dunia kewartawanan Zein juga tercatat sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia untuk mata kuliah Hukum dan Komunikasi Massa. Lulusan Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia (1962) ini menikah dengan Juul Soegiarti dan dikaruniai empat anak serta enam cucu. Zein meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 4 Februari 1986). (Tim EPI/KG. Sumber: Buku Wajah Pers Indonesia, 2006)


Zentgraff, HC - salah satu dari tiga besar (di samping Karel Wybrands dan D.W. Berrety) dalam sejarah pers Hindia Belanda. Ia merangkap sebagai militer dan wartawan. Pertama kali datang ke Indonesia sebagai sersan-penulis. Sebagai militer ia pernah ditugaskan hampir ke seluruh Hindia Belanda termasuk ke Aceh dan Bone.
Sebagai wartawan ia bekerja di beberapa suratkabar antara di Surabajaasch Handelsblad dan Java Bode, di mana ia menjadi pemimpin redaksi sampai akhir hayatnya. Jika menulis selalu menggunakan inisial “Z”. Ia dikenal sebagai pribadi yang tidak sabaran dan bisa berubah pendapat setiap saat. Hidup di tengah zaman yang penuh korupsi, ia bahkan menjadi bagian di dalamnya.
Tulisannya sering merupakan fitnah yang tajam. Pandangannya kolot dan reaksioner. Ia mendirikan perkumpulan kaum totok de Vederlandse Dub yang sangat antigerakan nasionalis di Hindia Belanda. Setelah wafat, ia dikenal sebagai bandit yang tidak berperasaan yang bekerja sebagai wartawan. (Tim EPI/ES)


Zulharman Said - wartawan, mantan Ketua PWI Pusat. Tokoh ini banyak diingat sebagai seorang organisator andal. Ia sering duduk dalam berbagai organisasi kewartawanan, perfilman maupun politik seperti PWI, SPS (Serikat Penerbit Suratkabar), direktur PT Industri dan Perbekalan Pers (Inpres), sekretaris Badan Musyawarah Film Nasional dan menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, anggota Badan Pekerja MPR.
Zulharmans tercatat dalam sejarah PWI Jaya sebagai tokoh wartawan yang terlama memimpin  organisasi PWI Jaya. Ia menjadi Ketua PWI Jaya selama tiga kali berturut-turut yakni periode 1968-1970, 1973-1978 dan 1978-1982. Zulharmans kemudian menjadi Ketua Umum PWI Pusat (1983-1988) menggantikan Harmoko yang diangkat menjadi Menteri Penerangan RI. Sesudah itu, ia menjadi Ketua SPS, menyusul penggantiannya oleh Sugeng Wijaya dalam forum kongres PWI di Samarinda, Kalimantan Timur.
Penggantiannya tersebut dinilai “tragis” karena sebelumnya memang didahului oleh merebaknya isu yang cenderung berbau fitnah bahwa Zulharmans “tidak bersih lingkungan.” Padahal, Bang Zul, begitu panggilan akrab Zulharmans, di kalangan wartawan anggota PWI Jaya, sangat dikenal sebagai salah seorang aktivis atau tokoh Angkatan 66. Ia juga bersama Nono Anwar Makarim, Goenawan Muhamad, Ismid Hadad, Christianto Wibisono dan sejumlah aktivis pers mahasiswa lainnya, waktu itu  menjadi salah seorang penggagas dan pendiri koran KAMI. Semua tahu bahwa koran inilah yang sangat gigih dan berpengaruh dalam menyuarakan cita-cita Orde Baru yang diusung oleh berbagai kekuatan elemen kesatuan aksi waktu itu.
Menjadi sangat tidak masuk akal bagi sebagian besar anggota PWI kalau Bang Zul dituding sebagai “tidak bersih lingkungan.” Demikian sebaliknya, menjadi tidak masuk akal juga bahwa tokoh penggantinya ketika itu tergolong masih sangat baru (dalam hitungan belasan hari) sebagai anggota PWI. Sugeng Wijaya, seorang perwira ABRI, seperti diketahui ketika itu baru saja menduduki jabatan sebagai pemimpin redaksi di suratkabar Berita Yudha menggantikan Sunardi DM (perwira tinggi intelijen) yang belum lama meninggal dunia.    
Menghadapi berbagai tekanan seperti itu, di hadapan teman-temannya Bang Zul, yang biasanya selalu tampil senyum, saat itu sempat menitikkan air mata dan merasa sakit hati. Cucuran air mata dan sakit hati, menurut pengakuannya, bukan karena ia kehilangan kursi ketua umum. “Cara-cara mereka merebut kursi kedudukan itu dilakukan dengan sangat tidak beradab, bahkan “fitnah,” ujarnya sedih. Sempat sedikit terhibur, ketika Harmoko, kawan seperjuangannya, menyampaikan sambutan di depan peserta kongres atas nama Menteri Penerangan. Harmoko sempat berusaha membantah keras atas isu-isu negatif yang menimpa kawan akrabnya itu.  
Pengalaman lain yang banyak diingat oleh anggota PWI Jaya yakni ketika Zulharmans (ketua) dan Harmoko (sekretaris) membuat sebuah pernyataan yang dinilainya sangat keras di zaman itu. Pernyataan PWI Jaya tersebut juga ditandatangani bersama oleh Mahbub Djunaedi (Ketua Umum PWI Pusat) dan Zein Effendi (Ketua I) serta Tengku Sjahril (Ketua SPS Pusat) dan M. Sjureich (Sekretaris Umum). Isi pernyataan itu antara lain menegaskan bahwa segenap masyarakat pers tidak sependapat bilamana tindakan pencabutan Surat Izin Terbit (SIT) atau Surat Izin Cetak (SIC) dilakukan berdasarkan penilaian tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan PWI dan SPS.
Zulharmans lahir di Bukittinggi tanggal 14 Desember 1933, sempat menjadi pegawai Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan di Jakarta tahun 1954. Sejak tahun itu juga, dia sudah “nyambi” bekerja di jajaran redaksi majalah Dunia Film. Dari sinilah, ia kemudian sangat tertarik menekuni dan mengembangkan minatnya menggeluti dunia pers dan film. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1960) sampai tingkat Sarjana I (1964). Bang Zul juga menjalani kursus Lemhannas KRA XI tahun 1978.
Ia juga pernah memimpin redaksi mingguan Hari Minggu, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi koran KAMI, Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Empat Lima dan terakhir memimpin koran ekonomi Neraca. Pengalaman pahit yang pernah dihadapi dalam memimpin suratkabar yakni ketika ia harus berhadapan dengan pihak penguasa yang mau membredel korannya. Pertama, ketika koran Hari Minggu yang dipimpinnya harus dibredel oleh penguasa militer, setelah sehari sebelumnya Zul sempat ditahan (2 Juli 1960) untuk diinterograsi soal isi korannya. Ketika itu ia sempat diajukan ke pengadilan dan ternyata dibebaskan oleh hakim.
Pengalaman pahit kedua yakni ketika Kami yang dipimpinnya juga dibredel oleh Pangkopkamtib karena dituduh ikut memanaskan situasi politik menyusul terjadinya peristiwa “Malari” (15 Januari 1974). Pemberitahuan pencabutan surat izin cetak ketika itu diterimanya lewat telepon sekitar pk 17.00 WIB, ketika ia sedang berada di percetakan. Seperti diketahui, akibat peristiwa Malari, selain Kami, tidak kurang dari 12 suratkabar lainnya di seluruh Indonesia ikut dibredel karena tuduhan yang sama.
Peristiwa penutupan suratkabar bagi Zulharmans bukan sebuah akhir dari pergulatannya di dunia jurnalisme. Pada hari-hari pascamusibah pembredelan korannya, ia masih terus berusaha menerbitkan koran baru seperti Empat Lima dan Neraca. Di samping itu, ia tetap berkibar dan aktif memimpin sejumlah organisasi kewartawanan dan perfilman sampai di akhir khayatnya.
Putra keenam dari tujuh bersaudara ini di masa mudanya banyak menulis cerita pendek dan naskah drama ini dikenal tak lepas dari rokok.Namun mengimbanginya dengan rajin berolah raga, lari pagi. Ia juga menggemari sepak bola dan bulu tangkis. “Alhamdulillah, saya tak pernah sakit,” ujar Zulharmans (ini cara Zul yang lain menuliskan namanya). Ia menikah dengan Rusni M.D., dan dikaruniai empat anak.(Tim EPI/ES. Sumber: SSWJ).


Zulkifli Gani Ottoh, SH. (Makassar, 4 Juli 1956) - saat ini aktif sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Seltan. Perjalanan karirnya di dunia pers tidak terungkap namun sepak terjang Zulkifli belakangan ini jelas berada di dalam lingkaran dunia pers yakni sebagai Komisaris Media FAJAR Group  yang membawahi suratkabar Harian Fajar, Berita Kota Makassar, Ujung Pandang Ekspres, TV Fajar, Radio Fajar FM, Pare Pos, Palopo Pos, Tabloid Ibu & Anak, Radar Sulbar, Kendari Ekspres, Kendari Pos, Ambon Ekspres, dan Timor Ekspres. Ia juga tercatat sebagai Presiden Komisaris PT. Hamu Investama Corporindo (HIC), Presiden Komisaris PT. FAJAR Makassar Promotion, dan Presiden Komisaris pada perusahaan Holding Fajar Group (PT. Hamu Investama Corp).
Selain sebagai pengelola sejumlah media komunikasi, penggemar sepak bola dan menulis ini juga aktif sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Makassar - Periode Tahun 2003-2008, Wakil Ketua Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kepala Perwakilan PPPI SulSel, serta terlibat di berbagai organisasi lain seperti Ikatan Alumni (IKA) UMI SulSel, Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) SulSel, DPP Himpunan Masyarakat Sinjai, Sekum Pengda PSSI SulSel, Himpunan Masyarakat Jagung Indonesia, Asosiasi Perusahaan Pameran Seluruh Indonesia (ASPERAPI) SulSel, Kamar Dagang Industri (KADIN) SulSel, dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) SulSel.
Guna menunjang tugas-tugas yang diembannya Zulkifli melengkapi dirinya dengan berbagai pendidikan nonformal antara lain Pendidikan Manajeman Perusahaan Pers (Departemen P & K - Deppen) Jakarta, tahun1977, Pendidikan Serikat Buruh Tingkat Dasar di Ujung Pandang (FBSI) tahun 1979, Pendidikan Kewiraswastaan Modul I (Kadin SulSel) tahun 1979, Kursus Pembinaan Kewiraswastaan/ Manajemen Usaha (Depnakertrans R.I.) tahun 1979, Kursus Pengembangan Motivasi Pengusaha (Depnakertrans R.I.) tahun 1979, Pendidikan Kepemimpinan Serikat Buruh (FBSI) tahun 1980, Pendidikan Salesman Yamaha Musik (PT. Nusantik) Jakarta, tahun 1981, Pendidikan Salesmanship (PT. Toyota Astra Motor-PPM) tahun 1982, Pendidikan Peningkatan Keterampilan Jurnalistik (Unhas Deppen) tahun 1984, Pendidikan Orientasi Kewaspadaan Nasional - ORPADNAS (Kodam Hasannuddin - Deppen) tahun 1985, Pendidikan Siaran Periklanan RRI (RRI Nusantara IV) tahun 1985, Pendidikan Tekhnik Penyusunan dan Perundingan KKB/ CLA (FBSI) tahun 1985, Pendidikan Usaha Grafika Pres. (Deppen) Ciloto - Jawa Barat, tahun 1986, Pendidikan Periklanan Pers (SPS-PPPI) tahun 1990, Kursus Manajemen Keuangan untuk Manager bukan Keuangan (LMS-Jawa Pos) Surabaya, tahun 1991, Pendidikan Kepemimpinan Eksekutif (IMM - Kadin -Universitas Brawijaya) tahun 1994. (Tim EPI/KG/Istimewa)