Sabtu, 25 November 2017

TOR Temu Redaktur Kebudayaan dan Festival Wartawan Seni Se-Indonesia

Term Of References (TOR)

 

TEMU REDAKTUR KEBUDAYAAN

SE INDONESIA III/2014

KERJASAMA KEMDIKBUD, PWI PUSAT DAN PEMKAB SIAK-RIAU

Pengantar

Temu Redaktur Kebudayaan I/2012 dan II/2013, yang digelar atas kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI)  dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Jakarta, telah berhasil menata kesadaran di kalangan pers dan birokrat kebudayaan, betapa pentingnya kompetensi pengelola rubrik kebudayaan, agar dapat menghasilkan informasi kebudayaan yang bermutu dan mencerdaskan. Meskipun untuk itu, tidak semudah membalik telapak tangan, karena berbagai problem yang ada di berbagai media masing-masing, dari Sabang sampai Merauke, dari Jakarta sampai Miangas. Yang kita tahu, booming media cetak, televisi, radio dan media sosial, di era reformasi 15 tahun terakhir, belum semuanya memberikan perhatian yang memadai terhadap bidang kebudayaan, khususnya kesenian (tari,musik, seni rupa), bahasa dan sastra (Indonesia, daerah), warisan dan industri budaya, sejarah, permuseuman, hingga kearifan tradisi. Hal-hal tersebut merupakan pilar –pilar penting kebudayaan nasional. Sebaliknya, di era informasi, internasionalisasi dan globalisasi, telah memudahkan media massa tanah air untuk “copy paste”  apa saja informasi dari luar, khususnya  gaya hidup, dan hiburan, yang merupakan ekspresi ideologi budaya tertentu.  Sesungguhnya yang kita inginkan dari forum ini adalah munculnya kesadaran bersama di kalangan para redaktur kebudayaan -- sebagai pemegang kemudi informasi kebudayaan – adalah memberikan sebanyak-banyaknya kepada dunia tentang informasi  kebudayaan Indonesia yang kita punya.

 Dunia pers, memerlukan peta strategi kebudayaan, sebagai penunjuk arah. Seperti bangsa ini membutuhkan Garis Besar Haluan Negara. Strategi Kebudayaan produk Negara, yang telah diharapkan juga oleh berbagai pihak, sebagai pegangan bersama menuju kedepan, entah mengapa belum hadir, pada saat masyarakat butuh pegangan yang kokoh ditengah “badai” globalisasi dan internasionalisasi. Perjalanan kita berbangsa, telah memasuki era demokratisasi yang cenderung liberal, wajah sentralisasi sudah sirna digantikan desentralisasi dimana dengan otonomi daerah, kabupaten /kota menjadi ujung tombak, maka mau tidak mau mempengaruhi politik kebudayaan dan kebudayaan politik kita. Dan pers, pada saat ini, berada didalam pusaran politik kebudayaan dan kebudayaan politik tersebut. Akan tetapi bagaimana idealnya wajah politik kebudayaan dan kebudayaan politik itu, yang bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia kedepan?   

Temu Redaktur Kebudayaan III/2014 yang bertepatan dalam tahun politik, diharapkan dapat membaca dan merumuskan hal itu. Sehingga  dunia pers tanah air, khususnya para redaktur kebudayaan dan wartawan kebudayaan tidak tergilas politik praktis, bahkan sebaliknya dapat memahami gerak langkah  politik kebudayaan dan kebudayaan politik tanah air, agar bisa turut mengambil posisi dan tanggungjawab dalam memajukan kebudayaan nasional, ditengah dunia yang menggobal. Sambil terus mendorong dan mengawal lahirnya Strategi Kebudayaan.

 

 

TEMA

“Pers, Politik Kebudayaan, dan Kebudayaan Politik di Indonesia”.

TOPIK

1.      Kebudayaan lokal, otonomi daerah, dan globalisasi?

2.      Pers di Tengah Arus Politik dan Kebudayaan

3.      Politik kebudayaan dan kebudayaan politik

SASARAN DAN TUJUAN

1.      Agar pers (para redaktur kebudayaan di Indonesia) secara spesifik memahami peran dan sumbangan kebudayaan Siak (utamanya pada masa lalu) pada kebudayaan Indonesia.

2.      Agar pers (para redaktur kebudayaan) menjadi penggerak dan pengawal pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan lokal di era otonomi daerah, agar menjadi aset kebudayaan nasional dan global.

3.      Membekali pers (para redaktur kebudayaan) memahami posisi dan peran media/pers, ditengah arus politik kebudayaan dan kebudayaan politik di Indonesia.

4.      Mendorong Negara dalam pemerintahan yang baru nanti dapat menyusun strategi kebudayaan dan menyosialisasikannya, supaya bangsa Indonesia di tengah globalisasi dan persaingan internasional mempunyai pegangan kultural dan tidak kehilangan arah.

ACARA POKOK

Ceramah dan diskusi

Wisata  budaya Siak

Lomba Penulisan Siak dari sisi budaya *

 

WAKTU DAN TEMPAT

Tanggal 20-22 Mei 2014 di ibukota Kabupaten Siak, Provinsi Riau

Peserta 

Sekitar 100 orang dari seluruh Indonesia, terdiri dari :

1). Redaktur kebudayaan wakil provinsi- 34 

2). Seksi Kebudayaan PWI Provinsi – 34 

3). Redaktur/Wartawan Senior Seni Budaya  – 10

4). Institusi Seni Budaya /Pengamat Media/Pecinta Seni Budaya - 10

5). Kemdikbud - 12

 

 

 

 

 

PENINJAU (dari Siak)

Guru, Dosen, LSM seni budaya, Dinas Kebudayaan Siak, PWI Siak, dll.­ 

pembicara (dalam konfirmasi)

 

Dirjen Kebudayaan.

Politisi/budayawan (Komisi X-DPR)

Bappenas (Prof Dr Sri Edi Swasono)

Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten dan Kota se Indonesia

Dirjen Pembinaan Kesatuan Bangsa Kemendagri

Budayawan Siak

Ir.Hugua, Bupati Wakatobi

Budayawan Riau (Al Azhar)

Dr.Ishadi SK (Trans TV)

Rikard Bagun (Kompas) dan

Para Direktur di bawah Jajaran Ditjenbud

 

MODERATOR

 

Nono Adya Supriyatno (Sekditjenbud)

Hendry Ch.Bangun  ( Sekjen PWI Pusat)

Yusuf Susilo Hartono (Dept Wartawan FKP-PWI Pusat)

Willy Hangguman (Wartawan Senior)

 

PERUMUS

 

Hendry Ch. Bangun  ( Sekjen PWI Pusat)

Yusuf Susilo Hartono ( Dept Wartawan FKP-PWI Pusat)

Willy Hangguman (Wartawan senior)

Ketua PWI Riau

Ditjen Kebudayaan Kemdikbud

 

RANCANGAN SUSUNAN ACARA TEMU REDAKTUR KEBUDAYAAN III/2014

HARI/TGL

No

ACARA

PETUGAS/NARA SUMBER

KETERANGAN

Selasa (20/5)

 

1

Pendaftaran Peserta

Dikbud/PWI

10.00 – 13.00

 

2

Wisata Budaya

Istana Siak dll.

Pemkab Siak

13.00 -  18.00

 

3.

Pembukaan

Siak (tempat menyusul)

19.00 – 21.00

 

 

a.Laporan Penjab

Setditjenbud

 

 

 

b.Sambutan Bupati Siak

Drs.H.Syamsuar, M.Si

 

 

 

c. Sambutan Ketum PWI

H.Margiono

 

 

 

Peresmian TRK dan Feswani 2014*

Mendikbud/Wamenbud/

Dirjen Kebudayaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Feswani sampai pukul 23.00

 

Rabu

4

Sesi I

 

08.00– 10.00

 

(21/5)

 

 

 

Kebudayaan lokal, otonomi daerah, dan globalisasi

1.       Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten dan Kota se Indonesia

 

 

2.       Dirjen Pembinaan Kesatuan Bangsa Kemendagri

 

3.       Budayawan Siak

 

4.       Ir.Hugua, Bupati Wakatobi.

 

 

5

Rehat kopi

 

10.00 – 10.30

 

 

7

ISOMA

 

12.30 – 14.00

 
 

 

8

Sesi III

 

14.00 – 16.00

 

 

 

Politik Kebudayaan dan Kebudayaan Politik

1.      Dirjen Kebudayaan.

 

 

2.      Politisi/budayawan (Komisi X DPR-RI)

 

3.      Bappenas (Prof Dr Sri Edi Swasono)

 

 

 

 

9

Paparan Program Ditjen Kebudayaan 2014

Para Direktur di bawah jajaran Ditjenbud.

16.00 – 18.00

 

 

10

Perumusan TRK III/2014

Tim Perumus

19.00 – 20.00

 

dan Rekomendasi

 

 

 

Kamis

11

Upacara Penutupan

 

09.00-10.00

 

(22/5)

Pembacaan Rumusan

Yusuf Susilo Hartono (PWI)

 

 

Sambutan

Kemdikbud

 

 

Sambutan penutupan

Bupati Siak

 

 

12.

Check Out

Seksi Transportasi

10.00 – 13.00

 

Menuju Pekanbaru

 

 

 

 

 

Pulang ke daerahnya masing-masing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) Festival Wartawan Seni perdana ini diselenggarakan oleh wartawan untuk masyarakat. Acaranya meliputi pembacaan puisi, cerpen, performing art (tari, musik,teater), pameran lukisan, pameran kartun, diskusi dan workshop. Acara berlangsung tanggal 20 – 25 Mei 2014. Diampu oleh PWI bekerjasama dengan Pemkab Siak.

 

*) Lomba Penulisan Siak dari Sisi Budaya, diselenggarakan oleh PWI dan Pemda Siak, dengan para peserta utama para peserta TRK. Pengumuman dan pembagian hadiah di Siak, dilakukan beberapa bulan kemudian. Tujuan utamanyanya untuk promosi Siak.

 

 

 

 

Jakarta, 14 Februari 2014

 

 

 

 

Yusuf Susilo Hartono

Departemen Wartawan

Film,Kebudayaan dan Pariwisata

PWI Pusat