Sabtu, 23 Februari 2019

Hidayat Arsani Jadi Ketua PWI Babel

Pangkalpinang (ANTARA News) - Hidayat Arsani, terpilih menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Provinsi Bangka Belitung (Babel) periode 2010-2015 dalam Konferensi Cabang (Konfercab) III di Pangkalpinang, Kamis.

Hidayat Harsani berhasil meraih sebanyak 29 suara sedangkan pesaingnya, Yahya Yusuf hanya mampu meraup sebanyak 22 suara dari 51 anggota PWI yang menggunakan hak suaranya.

Hidayat Arsani yang merupakan Pimpinan Umum  Harian Pagi Rakyat Pos dan Yahya Yusuf kandidat dari harian Babel Pos, sudah diprediksi sebelumnya bakal bersaing ketat untuk merebut kursi Ketua PWI Babel.

Sementara Herman, mantan Ketua PWI periode 2005-2010 terpilih menjadi Ketua Dewan Kehormatan Daerah (DKD) dengan perolehan sebanyak 26 suara dari 46 anggota PWI yang menggunakan hak pilih.

Herman mengungguli pesaingnya Amin Soelton dan Ronie Achmad, masing-masing memperoleh 13 dan 7 suara.

"Saya siap membawa perubahan terhadap organisasi profesi ini, terutama pembelaan dan kesejahteraan yang baik bagi wartawan," kata Ketua PWI Babel terpilih, Hidayat Arsani usai pemilihan.

Ia menyatakan, ke depan PWI harus berwibawa dengan terus meningkatkan sumber daya manusia (SDM) sehingga betul-betul pekerja yang cerdas dan profesional.

"Bidang pendidikan menjadi ujung tombak untuk menambah kemampuan para wartawan seperti mengadakan pelatihan, lokakarya dan sebagainya untuk menambah kemampuan di bidang kewartawanan," ujarnya.

Ia juga menyatakan, siap melakukan pembelaan terhadap wartawan yang dirugikan secara hukum terkait profesi yang dijalankan.

"Saya siap berada di garis depan untuk membela wartawan yang dihadapkan kepada persoalan hukum terkait dengan hasil karyanya, karena perlindungan terhadap wartawan itu sudah diatur dalam undang-udangn pers," ujarnya.

Selain itu, kata dia, kesejahteraan wartawan juga harus diperhatikan sehingga tidak terkesan menjadi wartawan "pengemis".

"Saya akan menghidupkan kembali koperasi PWI dan mengasuransikan semua anggota PWi sebagai awal untuk memperhatikan kesejahteraan mereka," katanya.

Menurut dia, anggapan sebagian masyarakat bahwa PWI Babel adalah orgasasi proposal karena harus meminta bantuan ke sejumlah instansi harus dihilangkan.

"Ke depan harus dihilangkan anggapan bawah PWI Babel adalah organisasi yang identik dengan proposal ketika ingin mengadakan kegiatan," ujarnya.

PWI kata dia lembaga profesi independen yang tidak bisa diintervensi oleh pemerintah karena posisinya adalah sejajar.

"PWI adalah mitra pemerintah, bukan bawahannya yang bisa diintervensi sehingga dapat menghilangkan fungsi kontrol sosial," ujarnya. (*)